12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Isaac Mengerti, Mereka Perempuan Tanpa Rahim dan Air Susu | Cerpen Krisnaldo Triguswinri

Krisnaldo Triguswinri by Krisnaldo Triguswinri
May 18, 2024
in Cerpen
Isaac Mengerti, Mereka Perempuan Tanpa Rahim dan Air Susu | Cerpen Krisnaldo Triguswinri

Ilustrasi tatkala.co

DI bilangan selatan Jakarta, mereka duduk berpandangan. Adam dengan Caramel Macchiato dan Isaac dengan Green Tea Latte. Di antara riuh rendah suara dan derai tawa, mencuat pula musik Frank Sinatra, My Way, kala mereka khusyuk menyelami dasar kesunyian masing-masing. Sebab, di dunia mereka, kehidupan adalah sesuatu yang lain. Hasrat lain. Cinta lain. Kesedihan lain. Kebebasan lain. Maka, mendengar musik jenis ini, sontak mengiris-ngiris kesedihan.

Mendengar Frank Sinatra merontokkan derita yang mengutui kepala. Mendengar Frank Sinatra sama dengan mengundang duka panjang yang celaka. Seperti koor, mereka sambil lalu mengikuti nyanyian: My friend, I’ll say it clear. I’ll state my case, of which I’m certain…

“Isaac.”

“Ya, Adam?”

“Aku pernah mencuri dengar pertengkaran Bapak dan Ibu. Bapak menyesali Ibu mengandung-melahirkanku. Tersendat-sendat Bapak berucap: Itu anak iblis dan iblis bisa mewujud sosok banci…”

“Lalu, Adam?”

“Lalu ia menyeretku dari kamar. Dipaksanya aku masuk ke mobil. Ia membawaku ke dokter spesialis. Ibu hanya menangis. Di jalan, tak hentinya ia memakiku banci. Dan…”

“Dan, apa?”

“Saat berhenti makan di warung tepi Kebun Jeruk, seorang pengamen waria datang bernyanyi menghibur kami. Aku girang bukan main. Bapakku berang setengah mati. Ia menyumpahi, meludahi, dan memaki. Ia menendang tulang kering waria itu, lalu mengusirnya.”

Isaac terdiam. Mendengar kisah itu membuat hatinya nyeri. Ia juga terkenang mendiang ayahnya yang––karena laporan warga komplek dan guru sekolah––pernah menggunduli kepalanya. Orang-orang komplek melaporkan karakter Isaac yang seperti perempuan. Guru-guru di sekolah melaporkan kesehariannya yang bermain bersama perempuan. Dengan membotaki, ayahnya berharap Isaac terlihat sangar dan maskulin. Tetapi wajahnya yang manis, jarinya yang panjang dan lentik, dagunya yang berbelah, serta kulitnya yang putih, membuatnya lebih menyerupai seorang perempuan yang mengidap alopecia areata. 

“Bencong setan! Pergi sana, memalukan!” Terngiang pula suara mendiang ayahnya tertambat di kepala. Suara makian yang sering kali diiringi tonjokkan, jambakan, atau terjangan ke perutnya. Tonjokan itu membuat hidungnya berdarah. Jambakan itu menggugurkan berhelai rambut dari kepala. Terjangan itu membilurkan tulang rusuknya. Seperti biasa, ibunya hanya menangis, lalu datang memeluknya, sambil gemetar menyeka sudut-sudut matanya yang basah.

Tapi apalah artinya menangis, yang menurut Isaac, tak bisa mengubah apa-apa. Apalah artinya perempuan, yang menurut ayahnya, tak dapat berbuat apa-apa. Ayahnya sering kali membentak Ibu kala melindungi Isaac dari pukulan: “Ini urusan laki-laki, kau diam sajalah!” atau “Ini salahmu. Gagal mendidik anak!” atau “Rahimmu kotor. Melahirkan bencong sampah!” Bekas yang patut Isaac lupakan. Tetapi goresnya terlalu dalam, meluka panjang, membuatnya sukar terlupakan.

Pernah suatu ketika, saat berbelanja ke mall, Isaac dan mendiang ayahnya berbarengan ke toilet. Ayahnya kencing berdiri di urinoar, sedang ia masuk ke bilik toilet. Di luar toilet, Ayahnya mendelik, dan berujar, lelaki sejati itu kencing berdiri…

Semenjak itu Isaac mencemasi toilet. Ia hanya mampu menguntai harap. Bahwa kelak saat tumbuh dewasa penisnya mengkerut menjadi grapefruit, belahan jeruk berdaging merah. Payudaranya membesar menyerupai buah pir. 

“Isaac.”

“Ya, Adam?”

“Kenapa, ya? Saat duduk berhadapan cermin, aku selalu menyaksikan seorang gadis yang, sekali waktu rambutnya tergerai dan lain waktu disanggul, membayang cantik di situ. Kakinya singsat seperti pandai merawat diri. Itu jugalah alasan mengapa aku suka mengoleksi boneka barbie, ketimbang hot wheels. Lebih suka bermain lompat tali, ketimbang bola kaki.”

“Itu gejala narsisme, Adam.”

“Apa itu narsisme?”

“Kau mencintai bayanganmu dan bayangan itu kembali mencintaimu.”

“Sekiranya aku mengalami kelahiran kedua, Isaac. Aku pastilah anak perempuan yang cantik. Anak perempuan yang memberi kegembiraan bagi semua. Sialnya tak ada kelahiran kedua. Di dalam kehidupan yang rapuh ini, aku hanya dikutuk mati berkali-kali.”

Isaac mendengus, menyungging senyum haru. Matanya jatuh iba, berkaca-kaca, seperti menahan tangis di tenggorokan. Isaac mengerti, bahwa mereka adalah perempuan lain tanpa rahim dan air susu. Tak hadir dari tanah liat dan tulang rusuk. Bukan tamar, ular dan cadar. Sementara di Taman, tak ada pohon pengetahuan buat mereka. Tapi mereka adalah Mur. Mencari cahaya demi Cahaya, kasih demi Kasih. Memurnikan duka abadi yang kelak akan kalian pahami.

“Eh, Isaac, kau pernah mendengar waria yang dibakar oleh laki-laki di Jakarta?”

“Aku tahu, Adam. Aku tahu. Aku membacanya di Jakarta Post. Mengetahui itu membuatku dirundung ketakutan tak berkesudahan.”

“Aku benci kota ini. Aku membenci laki-laki di kota ini. Aku ingin mengencingi Jakarta dan laki-laki Jakarta!”

“Mengapa pula membenci laki-laki Jakarta, Adam?”

“Mereka, bajingan-bajingan ibukota, hanya ingin memorotiku. Pernah aku mencintai seseorang. Saking cintanya, aku berbakti melayani semua permainannya. Aku menjilati jejak keberandalan pada lubang terkotor kehidupannya. Aku jugalah yang mencecap seluruh kesengsaraannya yang muncrat sepat di tenggorokan.”

“Kau harus belajar melupakannya, Adam. Belajar memaafkannya.”

“Kota ini juga kejam, Isaac. Kota yang dibangun dengan susunan api dan darah, kekerasan dan amarah, tak akan mengenali keragaman. Tidak hanya gedung-gedung dibakar, etnis minoritas pun diperkosa, minoritas agama dipukuli. Sementara minoritas seksual: dibakar, diperkosa, dan dipukuli. Bayangkan, Isaac, bayangkan. Bila seseorang sepertiku beretnis minoritas dan beragama minoritas, ditambah miskin dan berkulit hitam, apa pulalah penderitaan yang mereka alami.”

Isaac tak menyahut. Hanya bergidik mengangkat bahu. Hidungnya kembang kempis.

“Mengapa ya, Isaac, mereka tak mengerti. Banyak orang tak mengerti. Bahwa sebagian orang terlahir tidak merdeka dan karena itu harus berjuang memerdekakan dirinya?”

“Tak tahulah, Adam. Tak tahulah.”

“Tak ada ruang aman di sini, Isaac. Orang-orang tetap akan mencibirku. Bapakku tetap akan menghambur sesal, menghujaniku dengan pukulan. Ibu hanya bisa menangis. Dan untuk kesekian kali, kota tetap akan menebar teror, menebar ketakutan.”

“Adam yang baik. Tak perlulah gusar. Bila kau lelah, beristirahatlah. Bila kau berapi-api, percayalah, kau tak akan terbakar sendiri.”

Kian sore Starbucks kian pelik. Di sudut jauh, sepasang kekasih duduk bersampingan. Bicara dalam dan saling menggenggam. Sepasang yang lain, duduk berhadapan. Berbicara dalam dan tak saling menggenggam. Ditatapnya muka Isaac dan Isaac menatapnya pula. Adam menundukkan kepalanya sebentar. Hanya sebentar. Lalu kembali mendongak.

“Kalau tak salah ingat, di Utrecht, kau menulis riset tentang pengalaman kebertubuhan kan, Isaac?”

“Betul, Adam. Kenapa?”

“Apa temuanmu?”

“Tubuh adalah cakrawala kehidupan yang memaknai dunia, Adam. Ia lebih banyak tahu dari kesadaran. Tubuh juga lokasi paling berdaulat milik manusia.”

“Tapi, Isaac. Di sini, di negeri ini, mengapa pengalaman berketubuhan menjadi objek pengaturan kebudayaan?”

“Maksudmu, mengapa negara mengendalikan tubuh, gitu?”

“Iya, Isaac. Soalnya aku menyaksikan dari dekat bagaimana negara dan masyarakat meringkus tubuh minoritas seksual dan menjebloskannya ke dalam penjara moral. Memenjarakan tubuh mereka dengan hukum dan kitab suci. Seolah mereka adalah ahli langit dan bumi.”

“Begitulah, Adam, bila kesolehan negara mengangkangi kehidupan privat setiap orang. Itu pulalah alasan mengapa minoritas seksual dianggap menyimpang dan berdosa, bahkan bukan warga negara sekaligus warga agama yang baik.”

“Semua mereka beranggapan bahwa ini sekadar urusan jepong, sepong, dan tempong, Isaac. Seolah penderitaan ini hanya urusan selangkangang semata. Omong-omong, di Belanda bagaimana?”

“Pemerintah dan masyarakatnya menghargai keragaman seksual, Adam.”

“Terus, Isaac?”

“Kebebasan individu menjadi prinsip dasar perlindungan hak asasi manusia. Tak ada seorang pun melecehkan martabat manusia dengan mengganggu keyakinan privatnya.”

Isaac kembali mencermati wajah Adam. Tatapannya lembut. Lekat-lekat ia pandangi bibir tipis Adam yang, sekalipun tampak samar, seperti dibalut merah lipstik. Sementara di bawah rambutnya yang berponi, terlihat betapa matanya sayu dan mati dan tak memancarkan apapun.

Merasa ditatap tajam dan dalam, Adam mendeham. Mendeham pelan sekali. Isaac lalu meraih rokok, membakarnya, menyesap, mengempas gugusan asapnya ke udara, dan sambil lalu mengikuti nyanyi Frank Sinatra: And more, much more than this, I did it my way…

“Isaac.”

“Ya, Adam?”

“Kau punya bokin? Atau apalah, semacam join misalnya? Atau barangkali, seseorang yang sedang kau cintai?”

Isaac termenung. Termenung dalam sekali. Direngkuhnya tangan Adam dan Adam merengkuh tangannya pula. Dan dengan nada rendah yang sengaja dipelankan, Isaac menjawab: “Aku akan menikah dengan lelaki Belanda, Adam.”

Di luar Starbucks cuaca mendung. Awan hitam sehitam logam bergerak. Angin santer. Musim hujan tak lagi menyenangkan di Jakarta. Hampir setiap hari turun hujan. Hampir tiap hari pula turun air mata.  Tubuh Adam basah oleh keduanya. [T]

Maret, 2024.

  • BACA CERPEN LAIN DI TATKALA.CO
Seorang Dokter yang Tak Pernah Pulang | Cerpen Putu Arya Nugraha
Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah
Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Alit S.Rini | Mantra Disko dari Pub Dekat Kuburan

Next Post

Tak Benjol Dihantam Pinjol

Krisnaldo Triguswinri

Krisnaldo Triguswinri

Dosen, lahir 24 Oktober 1996. Menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Universitas Diponegoro. Bukunya yang telah terbit adalah Jazz untuk Nada (Puisi; 2016) Tidak Ada Pagi Revolusi, Sementara Ada Pagi Jatuh Cinta (Esai; 2021) dan Hari-Hari Berbagi Api: Gerakan Sosial, Wacana Alternatif dan Kritik Kapitalisme (Esai; 2022). Instagram: Krisnaldotriguswinri_

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Tak Benjol Dihantam Pinjol

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co