3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
May 5, 2024
in Cerpen
Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

UNTUK makan malam nanti, seorang ibu memasak sesuatu di dapur. Ia sangat sibuk. Sedang hujan baru saja turun saat hari menjelang sore. Dua bocah kecil, anaknya, bermain di luar rumah saat hujan baru saja tiba. Tentu menambah kerepotan dirinya—membuatnya khawatir.

Khawatir mereka akan demam. Batuk, pilek. Khawatir anaknya akan dibuat celaka oleh hujan.

Tapi dua bocah itu tak mau tahu ibunya akan sekhawatir apa, mereka menyelinap keluar rumah secara diam-diam, seolah memeragakan diri mereka sebagai bandit kecil. Mereka terus bermain berburu ikan-ikan kecil di parit. Bersama seekor anjing peliharaan, mereka tetap bermain dengan seru.

Ini musim hujan. Kota yang kering. Parit kecil atau dua bocah itu menyebutnya juga sungai kecil. Air melimpah tidak seperti biasanya. Tapi tidak ada ikan di sana. Hanya ada sampah yang sesekali tersangkut di jaring mereka.

Setelah satu jam berburu, satu anak paling besar berdiri dengan gagah. Ia melemparkan jaring penuh plastik ke hadapan adiknya. Si adik marah. Ia membuka celananya kemudian—mengeluarkan burung kecilnya di dalam celana. Mata sang kakak berburu seperti elang mendelik tajam, memastikan apakah sudah ada ikan mabuk setelah si adik kencing di sana.

Tidak ada ikan di parit. Hanya ada kondom, bungkus plastik mie instan dan sabun. Sang adik mengeluarkan itu semua dari jaring. “Kita dapat balon seperti punya ayah, Kak!” Si Adik menunjuk ke kondom di dalam jaring.

“Wah, iyah. Itu balon seperti punya ayah!”

“Mengapa tidak ada ikan di sungai kecil ini, Kak?

“Mungkin mereka tidak ada di sini. Coba kita ke sana!”

Sepuluh meter mereka bergeser. Di sana pun mereka tidak mendapat apapun selain sampah plastik dan ranting-ranting kayu. “Di sini juga sama saja tidak ada ikan, Kak.”

“Iya. Coba nanti kita tanya Ayah, mengapa di sungai kecil tidak ada ikan?!”

Langit kian mendung dan hujan semakin deras. Sore sebentar lagi lenyap. Petir mengkilat-kilat meneror mereka. Terburu-buru seorang perempuan membawa gayung keluar rumah. Mencari anaknya tak ada di kamar mandi. Dan ia menemukan mereka sedang asik bermain hujan.

Kilat-kilat bertambah meneror mereka. Langit menjadi gelap terang, menjadikan suasana antara hidup dan mati kepada dua bandit kecil itu seketika.

“Kakaaaaa…. hujan!” teriak sang ibu di depan pagar. “Ayo cepat masuk! Ajak adik masuk! Cepetaaaan…”

“Iya, Mamah, sebentar lagi,” balas anak paling besar. “Ayo, Dek, bawa jaringnya!” suruhnya sang kakak kepada si adik.

Mereka pun lekas berlari menuju rumah. Sedangkan Pator, sang anjing kesayangan mereka, menggonggong kencang kepada wanita yang berteriak seperti penyihir itu. Walau hanya seekor anjing—tampaknya ia lebih mengerti perasaan dua bocah itu yang masih ingin bermain lebih lama.

Tapi apa boleh buat. Mereka bertiga juga sama takutnya hingga berlari ke dalam rumah saling menyalip. Anjing itu berhenti di beranda, dan berhenti menggongngong—merasa takut dirinya ketika melihat dua bandit kecil itu tertangkap dan digeplak… plakk… plakk… plakkk….  

“Ampun Mah! Ampun Mah!” teriak dua bocah itu keras.

***

Untuk anak-anaknya, seorang ibu seakan memiliki jam kerja sampai 24 jam. Tak ada kata bersantai untuk seorang ibu. Bahkan, pula tak ada hari libur. Apalagi memiliki dua anak yang masih kecil itu, seperti dirasakannya memiliki dua monster besar. Tentu. Jika tidak dibuat repot karena tingkah, paling tidak ia akan dibuat repot karena anak-anaknya sakit.

Sebab musim hujan, musim dimana penyakit sangat rentan terjadi kepada kanak-kanak. Bahkan kepada orang dewasa sekalipun. Sebab itu ia mengkilir mungil telinga kedua anaknya. Tanda kekesalannya, tanda kasih sayangnya barangkali.

Untuk keluarganya, sang ibu juga memiliki waktu yang lebih. Sebagaimana memasak mesti tiga kali dalam sehari. Tak boleh kurang. Dan menu mesti berbeda agar suami tak bosan. Agar anak tak bosan. Pula dalam seminggu sekali, kamar mandi seperti kuil kecil yang harus ia jumpai dalam keadaan bersih. Menyucikan pakaian dirinya, anak-anaknya dan suaminya tentu saja. Walaupun panas sudah jarang muncul untuk menjemur, tapi ia tetap mencuci dengan suka cita.

Sebab itulah kemudian, barangkali, mengapa seorang ibu dianggap makhluk istimewa oleh kebanyakan orang. Dan dianggap layak untuk diperingati setahun sekali di “Hari Ibu”. Walau sebenarnya kita tidak pernah tahu—siapa yang mengutuknya bekerja begitu berat di dalam rumah jika musim hujan sudah tiba?

Dari luar. Angin masih ribut. Hujan turun masih sangat deras sampai jam 8 malam. Kilat-kilat masih meneror di luar sana. Seorang lelaki, suaminya, baru saja datang mengetuk pintu sepulang bekerja. Karena terhalang suara hujan dan guntur, suara ketuk pintunya nyaris tak terdengar sampai ke dalam rumah.

Basah kuyup tubuhnya dan menggigil. Ia terus mengetuk pintu memanggil sang istri di dalam kamar. Pator sang anjing pun terkejut. Ia terbangun dari sudut tembok sebelah timur ruang keluarga, dan menggonggong seolah memberi tahu bahwa seseorang telah datang dan mengetuk pintu lebih dari enam kali.

Perempuan itu kemudian menyaut, dan lekas berjalan menuju suara anjing itu dan lelaki yang memanggilnya keras di depan pintu. “Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!” katanya tegas kepada dua bandit kecil itu.

“Iya, Mamah.” jawab mereka sambil memegang telinga dan pantatnya yang memerah.

Perkara kebengalan suaminya tak mau mendengar pesan sang istri untuk membawa mantel saat pergi bekerja menjadi perkara besar. Lantas pertengkaran pun terjadi di antara istri dan suami di depan pintu.

Si istri seakan merasa sia-sia bila harus mempertegas berkali-kali, bahwa mantel adalah benda sakral di musim penghujan yang wajib dibawanya ke mana saja.

“Anak sama ayah sama saja!” sungut sang istri. Lekas ia pergi ke dapur menyiapkan makan malam tanpa senyum.

Sedang lelaki itu hanya terdiam menahan tubuhnya menggigil di balik pintu. Tidak lama kemudian, ia pun pergi ke kamar mandi tanpa senyum.

***

“Aku lupa tadi pagi membawa mantel.” ucap lelaki itu sudah rapi.

Sang istri hanya terdiam. Terus terdiam sampai waktu makan malam selesai. Ia sama sekali tidak menanggapi ajakan mengobrol suaminya. Ia bersikap dingin. Ia memilih pergi ke kamar tidur setelah makan malam tandas di ceruk piring.

“Selesai makan minta Ayah antar kalian ke kamar untuk tidur!” kata si ibu kepada dua bocah itu lalu pergi ke kamar.

“Iyah, Mah.”

Kemudian satu bocah berbisik kepada ayahnya, “Mamah sedang marah. Karena tadi kami main hujan di luar,” bisiknya pelan.

“Ayah juga sih tidak membawa mantel,” tegur si kakak dengan suara agak keras.

“Kalian juga salah. Hujan-hujanan,” balas ayahnya. “Ayo habiskan. Biar cepat kita bisa tidur. Ayah sudah mengantuk!”

Sang anak mengangguk. Makanan cepat dihabiskannya. Suasana malam yang cukup tegang itu membuat mereka melupakan cerita dan pertanyaan tadi sore: mengapa kondom dan sampah plastik lebih banyak hidup di sungai kecil dari pada ikan-ikan? Pertanyaan itu terlupa begitu saja. Raib di dalam kepala mereka.

Sekembalinya mengantar dua bandit kecil itu untuk tidur, si ayah duduk di kursi sambil merokok. Lelaki itu membayangkan bagaimana sang istri repot mengurus rumah sendiri. Tiba-tiba ia merasa bersalah telah meninggalkan istrinya mengurus dua anak sendirian, dan satu ekor anjing di musim hujan.  Ia melamun hingga tengah malam. Ia merokok banyak sekali.

Di luar sana. Hujan masih belum berhenti. Angin masih terus bertengkar dengan pohon, dengan apa saja yang ia terpa. Satu pohon tumbang dan satu pohon lagi terkena petir, lima ratus meter dari rumah mereka. Sedang lelaki itu masih tetap melamun dan baru berhenti di jam 01.30.

Ia pergi dari meja makan menghampiri sang istri kemudian. Sangat pelan dirinya ketika membuka–menutup pintu kamar. Ia rebahkan tubuhnya ke ranjang yang sama juga pelan-pelan.

Tapi sang istri justru menghindar. Membelakangi suaminya. Ia masih tak peduli. Ia tak benar-benar sudah tidur dari tadi. Ia justru baru saja selesai menangis. Air mukanya layu dan matanya lembab berair di balik selimut.

“Maafkan Ayah, ya, Mah,” ucap laki-laki itu menyesali. “Besok ayah tidak jadi pergi ke toko. Libur beberapa hari tak apa. Biar bisa kita urus anak. Biar bisa kita urus rumah sama-sama.”

Sesekali tangan laki-laki itu memeluk istrinya. Tapi sang istri masih tetap bersikap dingin. Ia hanya menjawab dengan menggeserkan badannya. Menghindar dari badan suaminya ketika sang suami mendekat dan memeluk.

Laki-laki itu semakin terpukul rasa bersalah. Tak ada kehangatan baginya selain ranjang yang beku.

“Kita bikin anak satu lagi, yah, Mah?!” bisik lelaki itu masih merayu. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpencerpen tentang ibu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Raudal Tanjung Banua | Nyanyian Panjang Talang Sungai Parit

Next Post

Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co