2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
May 5, 2024
in Cerpen
Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

UNTUK makan malam nanti, seorang ibu memasak sesuatu di dapur. Ia sangat sibuk. Sedang hujan baru saja turun saat hari menjelang sore. Dua bocah kecil, anaknya, bermain di luar rumah saat hujan baru saja tiba. Tentu menambah kerepotan dirinya—membuatnya khawatir.

Khawatir mereka akan demam. Batuk, pilek. Khawatir anaknya akan dibuat celaka oleh hujan.

Tapi dua bocah itu tak mau tahu ibunya akan sekhawatir apa, mereka menyelinap keluar rumah secara diam-diam, seolah memeragakan diri mereka sebagai bandit kecil. Mereka terus bermain berburu ikan-ikan kecil di parit. Bersama seekor anjing peliharaan, mereka tetap bermain dengan seru.

Ini musim hujan. Kota yang kering. Parit kecil atau dua bocah itu menyebutnya juga sungai kecil. Air melimpah tidak seperti biasanya. Tapi tidak ada ikan di sana. Hanya ada sampah yang sesekali tersangkut di jaring mereka.

Setelah satu jam berburu, satu anak paling besar berdiri dengan gagah. Ia melemparkan jaring penuh plastik ke hadapan adiknya. Si adik marah. Ia membuka celananya kemudian—mengeluarkan burung kecilnya di dalam celana. Mata sang kakak berburu seperti elang mendelik tajam, memastikan apakah sudah ada ikan mabuk setelah si adik kencing di sana.

Tidak ada ikan di parit. Hanya ada kondom, bungkus plastik mie instan dan sabun. Sang adik mengeluarkan itu semua dari jaring. “Kita dapat balon seperti punya ayah, Kak!” Si Adik menunjuk ke kondom di dalam jaring.

“Wah, iyah. Itu balon seperti punya ayah!”

“Mengapa tidak ada ikan di sungai kecil ini, Kak?

“Mungkin mereka tidak ada di sini. Coba kita ke sana!”

Sepuluh meter mereka bergeser. Di sana pun mereka tidak mendapat apapun selain sampah plastik dan ranting-ranting kayu. “Di sini juga sama saja tidak ada ikan, Kak.”

“Iya. Coba nanti kita tanya Ayah, mengapa di sungai kecil tidak ada ikan?!”

Langit kian mendung dan hujan semakin deras. Sore sebentar lagi lenyap. Petir mengkilat-kilat meneror mereka. Terburu-buru seorang perempuan membawa gayung keluar rumah. Mencari anaknya tak ada di kamar mandi. Dan ia menemukan mereka sedang asik bermain hujan.

Kilat-kilat bertambah meneror mereka. Langit menjadi gelap terang, menjadikan suasana antara hidup dan mati kepada dua bandit kecil itu seketika.

“Kakaaaaa…. hujan!” teriak sang ibu di depan pagar. “Ayo cepat masuk! Ajak adik masuk! Cepetaaaan…”

“Iya, Mamah, sebentar lagi,” balas anak paling besar. “Ayo, Dek, bawa jaringnya!” suruhnya sang kakak kepada si adik.

Mereka pun lekas berlari menuju rumah. Sedangkan Pator, sang anjing kesayangan mereka, menggonggong kencang kepada wanita yang berteriak seperti penyihir itu. Walau hanya seekor anjing—tampaknya ia lebih mengerti perasaan dua bocah itu yang masih ingin bermain lebih lama.

Tapi apa boleh buat. Mereka bertiga juga sama takutnya hingga berlari ke dalam rumah saling menyalip. Anjing itu berhenti di beranda, dan berhenti menggongngong—merasa takut dirinya ketika melihat dua bandit kecil itu tertangkap dan digeplak… plakk… plakk… plakkk….  

“Ampun Mah! Ampun Mah!” teriak dua bocah itu keras.

***

Untuk anak-anaknya, seorang ibu seakan memiliki jam kerja sampai 24 jam. Tak ada kata bersantai untuk seorang ibu. Bahkan, pula tak ada hari libur. Apalagi memiliki dua anak yang masih kecil itu, seperti dirasakannya memiliki dua monster besar. Tentu. Jika tidak dibuat repot karena tingkah, paling tidak ia akan dibuat repot karena anak-anaknya sakit.

Sebab musim hujan, musim dimana penyakit sangat rentan terjadi kepada kanak-kanak. Bahkan kepada orang dewasa sekalipun. Sebab itu ia mengkilir mungil telinga kedua anaknya. Tanda kekesalannya, tanda kasih sayangnya barangkali.

Untuk keluarganya, sang ibu juga memiliki waktu yang lebih. Sebagaimana memasak mesti tiga kali dalam sehari. Tak boleh kurang. Dan menu mesti berbeda agar suami tak bosan. Agar anak tak bosan. Pula dalam seminggu sekali, kamar mandi seperti kuil kecil yang harus ia jumpai dalam keadaan bersih. Menyucikan pakaian dirinya, anak-anaknya dan suaminya tentu saja. Walaupun panas sudah jarang muncul untuk menjemur, tapi ia tetap mencuci dengan suka cita.

Sebab itulah kemudian, barangkali, mengapa seorang ibu dianggap makhluk istimewa oleh kebanyakan orang. Dan dianggap layak untuk diperingati setahun sekali di “Hari Ibu”. Walau sebenarnya kita tidak pernah tahu—siapa yang mengutuknya bekerja begitu berat di dalam rumah jika musim hujan sudah tiba?

Dari luar. Angin masih ribut. Hujan turun masih sangat deras sampai jam 8 malam. Kilat-kilat masih meneror di luar sana. Seorang lelaki, suaminya, baru saja datang mengetuk pintu sepulang bekerja. Karena terhalang suara hujan dan guntur, suara ketuk pintunya nyaris tak terdengar sampai ke dalam rumah.

Basah kuyup tubuhnya dan menggigil. Ia terus mengetuk pintu memanggil sang istri di dalam kamar. Pator sang anjing pun terkejut. Ia terbangun dari sudut tembok sebelah timur ruang keluarga, dan menggonggong seolah memberi tahu bahwa seseorang telah datang dan mengetuk pintu lebih dari enam kali.

Perempuan itu kemudian menyaut, dan lekas berjalan menuju suara anjing itu dan lelaki yang memanggilnya keras di depan pintu. “Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!” katanya tegas kepada dua bandit kecil itu.

“Iya, Mamah.” jawab mereka sambil memegang telinga dan pantatnya yang memerah.

Perkara kebengalan suaminya tak mau mendengar pesan sang istri untuk membawa mantel saat pergi bekerja menjadi perkara besar. Lantas pertengkaran pun terjadi di antara istri dan suami di depan pintu.

Si istri seakan merasa sia-sia bila harus mempertegas berkali-kali, bahwa mantel adalah benda sakral di musim penghujan yang wajib dibawanya ke mana saja.

“Anak sama ayah sama saja!” sungut sang istri. Lekas ia pergi ke dapur menyiapkan makan malam tanpa senyum.

Sedang lelaki itu hanya terdiam menahan tubuhnya menggigil di balik pintu. Tidak lama kemudian, ia pun pergi ke kamar mandi tanpa senyum.

***

“Aku lupa tadi pagi membawa mantel.” ucap lelaki itu sudah rapi.

Sang istri hanya terdiam. Terus terdiam sampai waktu makan malam selesai. Ia sama sekali tidak menanggapi ajakan mengobrol suaminya. Ia bersikap dingin. Ia memilih pergi ke kamar tidur setelah makan malam tandas di ceruk piring.

“Selesai makan minta Ayah antar kalian ke kamar untuk tidur!” kata si ibu kepada dua bocah itu lalu pergi ke kamar.

“Iyah, Mah.”

Kemudian satu bocah berbisik kepada ayahnya, “Mamah sedang marah. Karena tadi kami main hujan di luar,” bisiknya pelan.

“Ayah juga sih tidak membawa mantel,” tegur si kakak dengan suara agak keras.

“Kalian juga salah. Hujan-hujanan,” balas ayahnya. “Ayo habiskan. Biar cepat kita bisa tidur. Ayah sudah mengantuk!”

Sang anak mengangguk. Makanan cepat dihabiskannya. Suasana malam yang cukup tegang itu membuat mereka melupakan cerita dan pertanyaan tadi sore: mengapa kondom dan sampah plastik lebih banyak hidup di sungai kecil dari pada ikan-ikan? Pertanyaan itu terlupa begitu saja. Raib di dalam kepala mereka.

Sekembalinya mengantar dua bandit kecil itu untuk tidur, si ayah duduk di kursi sambil merokok. Lelaki itu membayangkan bagaimana sang istri repot mengurus rumah sendiri. Tiba-tiba ia merasa bersalah telah meninggalkan istrinya mengurus dua anak sendirian, dan satu ekor anjing di musim hujan.  Ia melamun hingga tengah malam. Ia merokok banyak sekali.

Di luar sana. Hujan masih belum berhenti. Angin masih terus bertengkar dengan pohon, dengan apa saja yang ia terpa. Satu pohon tumbang dan satu pohon lagi terkena petir, lima ratus meter dari rumah mereka. Sedang lelaki itu masih tetap melamun dan baru berhenti di jam 01.30.

Ia pergi dari meja makan menghampiri sang istri kemudian. Sangat pelan dirinya ketika membuka–menutup pintu kamar. Ia rebahkan tubuhnya ke ranjang yang sama juga pelan-pelan.

Tapi sang istri justru menghindar. Membelakangi suaminya. Ia masih tak peduli. Ia tak benar-benar sudah tidur dari tadi. Ia justru baru saja selesai menangis. Air mukanya layu dan matanya lembab berair di balik selimut.

“Maafkan Ayah, ya, Mah,” ucap laki-laki itu menyesali. “Besok ayah tidak jadi pergi ke toko. Libur beberapa hari tak apa. Biar bisa kita urus anak. Biar bisa kita urus rumah sama-sama.”

Sesekali tangan laki-laki itu memeluk istrinya. Tapi sang istri masih tetap bersikap dingin. Ia hanya menjawab dengan menggeserkan badannya. Menghindar dari badan suaminya ketika sang suami mendekat dan memeluk.

Laki-laki itu semakin terpukul rasa bersalah. Tak ada kehangatan baginya selain ranjang yang beku.

“Kita bikin anak satu lagi, yah, Mah?!” bisik lelaki itu masih merayu. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpencerpen tentang ibu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Raudal Tanjung Banua | Nyanyian Panjang Talang Sungai Parit

Next Post

Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co