13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
May 5, 2024
in Cerpen
Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

UNTUK makan malam nanti, seorang ibu memasak sesuatu di dapur. Ia sangat sibuk. Sedang hujan baru saja turun saat hari menjelang sore. Dua bocah kecil, anaknya, bermain di luar rumah saat hujan baru saja tiba. Tentu menambah kerepotan dirinya—membuatnya khawatir.

Khawatir mereka akan demam. Batuk, pilek. Khawatir anaknya akan dibuat celaka oleh hujan.

Tapi dua bocah itu tak mau tahu ibunya akan sekhawatir apa, mereka menyelinap keluar rumah secara diam-diam, seolah memeragakan diri mereka sebagai bandit kecil. Mereka terus bermain berburu ikan-ikan kecil di parit. Bersama seekor anjing peliharaan, mereka tetap bermain dengan seru.

Ini musim hujan. Kota yang kering. Parit kecil atau dua bocah itu menyebutnya juga sungai kecil. Air melimpah tidak seperti biasanya. Tapi tidak ada ikan di sana. Hanya ada sampah yang sesekali tersangkut di jaring mereka.

Setelah satu jam berburu, satu anak paling besar berdiri dengan gagah. Ia melemparkan jaring penuh plastik ke hadapan adiknya. Si adik marah. Ia membuka celananya kemudian—mengeluarkan burung kecilnya di dalam celana. Mata sang kakak berburu seperti elang mendelik tajam, memastikan apakah sudah ada ikan mabuk setelah si adik kencing di sana.

Tidak ada ikan di parit. Hanya ada kondom, bungkus plastik mie instan dan sabun. Sang adik mengeluarkan itu semua dari jaring. “Kita dapat balon seperti punya ayah, Kak!” Si Adik menunjuk ke kondom di dalam jaring.

“Wah, iyah. Itu balon seperti punya ayah!”

“Mengapa tidak ada ikan di sungai kecil ini, Kak?

“Mungkin mereka tidak ada di sini. Coba kita ke sana!”

Sepuluh meter mereka bergeser. Di sana pun mereka tidak mendapat apapun selain sampah plastik dan ranting-ranting kayu. “Di sini juga sama saja tidak ada ikan, Kak.”

“Iya. Coba nanti kita tanya Ayah, mengapa di sungai kecil tidak ada ikan?!”

Langit kian mendung dan hujan semakin deras. Sore sebentar lagi lenyap. Petir mengkilat-kilat meneror mereka. Terburu-buru seorang perempuan membawa gayung keluar rumah. Mencari anaknya tak ada di kamar mandi. Dan ia menemukan mereka sedang asik bermain hujan.

Kilat-kilat bertambah meneror mereka. Langit menjadi gelap terang, menjadikan suasana antara hidup dan mati kepada dua bandit kecil itu seketika.

“Kakaaaaa…. hujan!” teriak sang ibu di depan pagar. “Ayo cepat masuk! Ajak adik masuk! Cepetaaaan…”

“Iya, Mamah, sebentar lagi,” balas anak paling besar. “Ayo, Dek, bawa jaringnya!” suruhnya sang kakak kepada si adik.

Mereka pun lekas berlari menuju rumah. Sedangkan Pator, sang anjing kesayangan mereka, menggonggong kencang kepada wanita yang berteriak seperti penyihir itu. Walau hanya seekor anjing—tampaknya ia lebih mengerti perasaan dua bocah itu yang masih ingin bermain lebih lama.

Tapi apa boleh buat. Mereka bertiga juga sama takutnya hingga berlari ke dalam rumah saling menyalip. Anjing itu berhenti di beranda, dan berhenti menggongngong—merasa takut dirinya ketika melihat dua bandit kecil itu tertangkap dan digeplak… plakk… plakk… plakkk….  

“Ampun Mah! Ampun Mah!” teriak dua bocah itu keras.

***

Untuk anak-anaknya, seorang ibu seakan memiliki jam kerja sampai 24 jam. Tak ada kata bersantai untuk seorang ibu. Bahkan, pula tak ada hari libur. Apalagi memiliki dua anak yang masih kecil itu, seperti dirasakannya memiliki dua monster besar. Tentu. Jika tidak dibuat repot karena tingkah, paling tidak ia akan dibuat repot karena anak-anaknya sakit.

Sebab musim hujan, musim dimana penyakit sangat rentan terjadi kepada kanak-kanak. Bahkan kepada orang dewasa sekalipun. Sebab itu ia mengkilir mungil telinga kedua anaknya. Tanda kekesalannya, tanda kasih sayangnya barangkali.

Untuk keluarganya, sang ibu juga memiliki waktu yang lebih. Sebagaimana memasak mesti tiga kali dalam sehari. Tak boleh kurang. Dan menu mesti berbeda agar suami tak bosan. Agar anak tak bosan. Pula dalam seminggu sekali, kamar mandi seperti kuil kecil yang harus ia jumpai dalam keadaan bersih. Menyucikan pakaian dirinya, anak-anaknya dan suaminya tentu saja. Walaupun panas sudah jarang muncul untuk menjemur, tapi ia tetap mencuci dengan suka cita.

Sebab itulah kemudian, barangkali, mengapa seorang ibu dianggap makhluk istimewa oleh kebanyakan orang. Dan dianggap layak untuk diperingati setahun sekali di “Hari Ibu”. Walau sebenarnya kita tidak pernah tahu—siapa yang mengutuknya bekerja begitu berat di dalam rumah jika musim hujan sudah tiba?

Dari luar. Angin masih ribut. Hujan turun masih sangat deras sampai jam 8 malam. Kilat-kilat masih meneror di luar sana. Seorang lelaki, suaminya, baru saja datang mengetuk pintu sepulang bekerja. Karena terhalang suara hujan dan guntur, suara ketuk pintunya nyaris tak terdengar sampai ke dalam rumah.

Basah kuyup tubuhnya dan menggigil. Ia terus mengetuk pintu memanggil sang istri di dalam kamar. Pator sang anjing pun terkejut. Ia terbangun dari sudut tembok sebelah timur ruang keluarga, dan menggonggong seolah memberi tahu bahwa seseorang telah datang dan mengetuk pintu lebih dari enam kali.

Perempuan itu kemudian menyaut, dan lekas berjalan menuju suara anjing itu dan lelaki yang memanggilnya keras di depan pintu. “Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!” katanya tegas kepada dua bandit kecil itu.

“Iya, Mamah.” jawab mereka sambil memegang telinga dan pantatnya yang memerah.

Perkara kebengalan suaminya tak mau mendengar pesan sang istri untuk membawa mantel saat pergi bekerja menjadi perkara besar. Lantas pertengkaran pun terjadi di antara istri dan suami di depan pintu.

Si istri seakan merasa sia-sia bila harus mempertegas berkali-kali, bahwa mantel adalah benda sakral di musim penghujan yang wajib dibawanya ke mana saja.

“Anak sama ayah sama saja!” sungut sang istri. Lekas ia pergi ke dapur menyiapkan makan malam tanpa senyum.

Sedang lelaki itu hanya terdiam menahan tubuhnya menggigil di balik pintu. Tidak lama kemudian, ia pun pergi ke kamar mandi tanpa senyum.

***

“Aku lupa tadi pagi membawa mantel.” ucap lelaki itu sudah rapi.

Sang istri hanya terdiam. Terus terdiam sampai waktu makan malam selesai. Ia sama sekali tidak menanggapi ajakan mengobrol suaminya. Ia bersikap dingin. Ia memilih pergi ke kamar tidur setelah makan malam tandas di ceruk piring.

“Selesai makan minta Ayah antar kalian ke kamar untuk tidur!” kata si ibu kepada dua bocah itu lalu pergi ke kamar.

“Iyah, Mah.”

Kemudian satu bocah berbisik kepada ayahnya, “Mamah sedang marah. Karena tadi kami main hujan di luar,” bisiknya pelan.

“Ayah juga sih tidak membawa mantel,” tegur si kakak dengan suara agak keras.

“Kalian juga salah. Hujan-hujanan,” balas ayahnya. “Ayo habiskan. Biar cepat kita bisa tidur. Ayah sudah mengantuk!”

Sang anak mengangguk. Makanan cepat dihabiskannya. Suasana malam yang cukup tegang itu membuat mereka melupakan cerita dan pertanyaan tadi sore: mengapa kondom dan sampah plastik lebih banyak hidup di sungai kecil dari pada ikan-ikan? Pertanyaan itu terlupa begitu saja. Raib di dalam kepala mereka.

Sekembalinya mengantar dua bandit kecil itu untuk tidur, si ayah duduk di kursi sambil merokok. Lelaki itu membayangkan bagaimana sang istri repot mengurus rumah sendiri. Tiba-tiba ia merasa bersalah telah meninggalkan istrinya mengurus dua anak sendirian, dan satu ekor anjing di musim hujan.  Ia melamun hingga tengah malam. Ia merokok banyak sekali.

Di luar sana. Hujan masih belum berhenti. Angin masih terus bertengkar dengan pohon, dengan apa saja yang ia terpa. Satu pohon tumbang dan satu pohon lagi terkena petir, lima ratus meter dari rumah mereka. Sedang lelaki itu masih tetap melamun dan baru berhenti di jam 01.30.

Ia pergi dari meja makan menghampiri sang istri kemudian. Sangat pelan dirinya ketika membuka–menutup pintu kamar. Ia rebahkan tubuhnya ke ranjang yang sama juga pelan-pelan.

Tapi sang istri justru menghindar. Membelakangi suaminya. Ia masih tak peduli. Ia tak benar-benar sudah tidur dari tadi. Ia justru baru saja selesai menangis. Air mukanya layu dan matanya lembab berair di balik selimut.

“Maafkan Ayah, ya, Mah,” ucap laki-laki itu menyesali. “Besok ayah tidak jadi pergi ke toko. Libur beberapa hari tak apa. Biar bisa kita urus anak. Biar bisa kita urus rumah sama-sama.”

Sesekali tangan laki-laki itu memeluk istrinya. Tapi sang istri masih tetap bersikap dingin. Ia hanya menjawab dengan menggeserkan badannya. Menghindar dari badan suaminya ketika sang suami mendekat dan memeluk.

Laki-laki itu semakin terpukul rasa bersalah. Tak ada kehangatan baginya selain ranjang yang beku.

“Kita bikin anak satu lagi, yah, Mah?!” bisik lelaki itu masih merayu. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpencerpen tentang ibu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Raudal Tanjung Banua | Nyanyian Panjang Talang Sungai Parit

Next Post

Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co