7 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
May 5, 2024
in Cerpen
Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

UNTUK makan malam nanti, seorang ibu memasak sesuatu di dapur. Ia sangat sibuk. Sedang hujan baru saja turun saat hari menjelang sore. Dua bocah kecil, anaknya, bermain di luar rumah saat hujan baru saja tiba. Tentu menambah kerepotan dirinya—membuatnya khawatir.

Khawatir mereka akan demam. Batuk, pilek. Khawatir anaknya akan dibuat celaka oleh hujan.

Tapi dua bocah itu tak mau tahu ibunya akan sekhawatir apa, mereka menyelinap keluar rumah secara diam-diam, seolah memeragakan diri mereka sebagai bandit kecil. Mereka terus bermain berburu ikan-ikan kecil di parit. Bersama seekor anjing peliharaan, mereka tetap bermain dengan seru.

Ini musim hujan. Kota yang kering. Parit kecil atau dua bocah itu menyebutnya juga sungai kecil. Air melimpah tidak seperti biasanya. Tapi tidak ada ikan di sana. Hanya ada sampah yang sesekali tersangkut di jaring mereka.

Setelah satu jam berburu, satu anak paling besar berdiri dengan gagah. Ia melemparkan jaring penuh plastik ke hadapan adiknya. Si adik marah. Ia membuka celananya kemudian—mengeluarkan burung kecilnya di dalam celana. Mata sang kakak berburu seperti elang mendelik tajam, memastikan apakah sudah ada ikan mabuk setelah si adik kencing di sana.

Tidak ada ikan di parit. Hanya ada kondom, bungkus plastik mie instan dan sabun. Sang adik mengeluarkan itu semua dari jaring. “Kita dapat balon seperti punya ayah, Kak!” Si Adik menunjuk ke kondom di dalam jaring.

“Wah, iyah. Itu balon seperti punya ayah!”

“Mengapa tidak ada ikan di sungai kecil ini, Kak?

“Mungkin mereka tidak ada di sini. Coba kita ke sana!”

Sepuluh meter mereka bergeser. Di sana pun mereka tidak mendapat apapun selain sampah plastik dan ranting-ranting kayu. “Di sini juga sama saja tidak ada ikan, Kak.”

“Iya. Coba nanti kita tanya Ayah, mengapa di sungai kecil tidak ada ikan?!”

Langit kian mendung dan hujan semakin deras. Sore sebentar lagi lenyap. Petir mengkilat-kilat meneror mereka. Terburu-buru seorang perempuan membawa gayung keluar rumah. Mencari anaknya tak ada di kamar mandi. Dan ia menemukan mereka sedang asik bermain hujan.

Kilat-kilat bertambah meneror mereka. Langit menjadi gelap terang, menjadikan suasana antara hidup dan mati kepada dua bandit kecil itu seketika.

“Kakaaaaa…. hujan!” teriak sang ibu di depan pagar. “Ayo cepat masuk! Ajak adik masuk! Cepetaaaan…”

“Iya, Mamah, sebentar lagi,” balas anak paling besar. “Ayo, Dek, bawa jaringnya!” suruhnya sang kakak kepada si adik.

Mereka pun lekas berlari menuju rumah. Sedangkan Pator, sang anjing kesayangan mereka, menggonggong kencang kepada wanita yang berteriak seperti penyihir itu. Walau hanya seekor anjing—tampaknya ia lebih mengerti perasaan dua bocah itu yang masih ingin bermain lebih lama.

Tapi apa boleh buat. Mereka bertiga juga sama takutnya hingga berlari ke dalam rumah saling menyalip. Anjing itu berhenti di beranda, dan berhenti menggongngong—merasa takut dirinya ketika melihat dua bandit kecil itu tertangkap dan digeplak… plakk… plakk… plakkk….  

“Ampun Mah! Ampun Mah!” teriak dua bocah itu keras.

***

Untuk anak-anaknya, seorang ibu seakan memiliki jam kerja sampai 24 jam. Tak ada kata bersantai untuk seorang ibu. Bahkan, pula tak ada hari libur. Apalagi memiliki dua anak yang masih kecil itu, seperti dirasakannya memiliki dua monster besar. Tentu. Jika tidak dibuat repot karena tingkah, paling tidak ia akan dibuat repot karena anak-anaknya sakit.

Sebab musim hujan, musim dimana penyakit sangat rentan terjadi kepada kanak-kanak. Bahkan kepada orang dewasa sekalipun. Sebab itu ia mengkilir mungil telinga kedua anaknya. Tanda kekesalannya, tanda kasih sayangnya barangkali.

Untuk keluarganya, sang ibu juga memiliki waktu yang lebih. Sebagaimana memasak mesti tiga kali dalam sehari. Tak boleh kurang. Dan menu mesti berbeda agar suami tak bosan. Agar anak tak bosan. Pula dalam seminggu sekali, kamar mandi seperti kuil kecil yang harus ia jumpai dalam keadaan bersih. Menyucikan pakaian dirinya, anak-anaknya dan suaminya tentu saja. Walaupun panas sudah jarang muncul untuk menjemur, tapi ia tetap mencuci dengan suka cita.

Sebab itulah kemudian, barangkali, mengapa seorang ibu dianggap makhluk istimewa oleh kebanyakan orang. Dan dianggap layak untuk diperingati setahun sekali di “Hari Ibu”. Walau sebenarnya kita tidak pernah tahu—siapa yang mengutuknya bekerja begitu berat di dalam rumah jika musim hujan sudah tiba?

Dari luar. Angin masih ribut. Hujan turun masih sangat deras sampai jam 8 malam. Kilat-kilat masih meneror di luar sana. Seorang lelaki, suaminya, baru saja datang mengetuk pintu sepulang bekerja. Karena terhalang suara hujan dan guntur, suara ketuk pintunya nyaris tak terdengar sampai ke dalam rumah.

Basah kuyup tubuhnya dan menggigil. Ia terus mengetuk pintu memanggil sang istri di dalam kamar. Pator sang anjing pun terkejut. Ia terbangun dari sudut tembok sebelah timur ruang keluarga, dan menggonggong seolah memberi tahu bahwa seseorang telah datang dan mengetuk pintu lebih dari enam kali.

Perempuan itu kemudian menyaut, dan lekas berjalan menuju suara anjing itu dan lelaki yang memanggilnya keras di depan pintu. “Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!” katanya tegas kepada dua bandit kecil itu.

“Iya, Mamah.” jawab mereka sambil memegang telinga dan pantatnya yang memerah.

Perkara kebengalan suaminya tak mau mendengar pesan sang istri untuk membawa mantel saat pergi bekerja menjadi perkara besar. Lantas pertengkaran pun terjadi di antara istri dan suami di depan pintu.

Si istri seakan merasa sia-sia bila harus mempertegas berkali-kali, bahwa mantel adalah benda sakral di musim penghujan yang wajib dibawanya ke mana saja.

“Anak sama ayah sama saja!” sungut sang istri. Lekas ia pergi ke dapur menyiapkan makan malam tanpa senyum.

Sedang lelaki itu hanya terdiam menahan tubuhnya menggigil di balik pintu. Tidak lama kemudian, ia pun pergi ke kamar mandi tanpa senyum.

***

“Aku lupa tadi pagi membawa mantel.” ucap lelaki itu sudah rapi.

Sang istri hanya terdiam. Terus terdiam sampai waktu makan malam selesai. Ia sama sekali tidak menanggapi ajakan mengobrol suaminya. Ia bersikap dingin. Ia memilih pergi ke kamar tidur setelah makan malam tandas di ceruk piring.

“Selesai makan minta Ayah antar kalian ke kamar untuk tidur!” kata si ibu kepada dua bocah itu lalu pergi ke kamar.

“Iyah, Mah.”

Kemudian satu bocah berbisik kepada ayahnya, “Mamah sedang marah. Karena tadi kami main hujan di luar,” bisiknya pelan.

“Ayah juga sih tidak membawa mantel,” tegur si kakak dengan suara agak keras.

“Kalian juga salah. Hujan-hujanan,” balas ayahnya. “Ayo habiskan. Biar cepat kita bisa tidur. Ayah sudah mengantuk!”

Sang anak mengangguk. Makanan cepat dihabiskannya. Suasana malam yang cukup tegang itu membuat mereka melupakan cerita dan pertanyaan tadi sore: mengapa kondom dan sampah plastik lebih banyak hidup di sungai kecil dari pada ikan-ikan? Pertanyaan itu terlupa begitu saja. Raib di dalam kepala mereka.

Sekembalinya mengantar dua bandit kecil itu untuk tidur, si ayah duduk di kursi sambil merokok. Lelaki itu membayangkan bagaimana sang istri repot mengurus rumah sendiri. Tiba-tiba ia merasa bersalah telah meninggalkan istrinya mengurus dua anak sendirian, dan satu ekor anjing di musim hujan.  Ia melamun hingga tengah malam. Ia merokok banyak sekali.

Di luar sana. Hujan masih belum berhenti. Angin masih terus bertengkar dengan pohon, dengan apa saja yang ia terpa. Satu pohon tumbang dan satu pohon lagi terkena petir, lima ratus meter dari rumah mereka. Sedang lelaki itu masih tetap melamun dan baru berhenti di jam 01.30.

Ia pergi dari meja makan menghampiri sang istri kemudian. Sangat pelan dirinya ketika membuka–menutup pintu kamar. Ia rebahkan tubuhnya ke ranjang yang sama juga pelan-pelan.

Tapi sang istri justru menghindar. Membelakangi suaminya. Ia masih tak peduli. Ia tak benar-benar sudah tidur dari tadi. Ia justru baru saja selesai menangis. Air mukanya layu dan matanya lembab berair di balik selimut.

“Maafkan Ayah, ya, Mah,” ucap laki-laki itu menyesali. “Besok ayah tidak jadi pergi ke toko. Libur beberapa hari tak apa. Biar bisa kita urus anak. Biar bisa kita urus rumah sama-sama.”

Sesekali tangan laki-laki itu memeluk istrinya. Tapi sang istri masih tetap bersikap dingin. Ia hanya menjawab dengan menggeserkan badannya. Menghindar dari badan suaminya ketika sang suami mendekat dan memeluk.

Laki-laki itu semakin terpukul rasa bersalah. Tak ada kehangatan baginya selain ranjang yang beku.

“Kita bikin anak satu lagi, yah, Mah?!” bisik lelaki itu masih merayu. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpencerpen tentang ibu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Raudal Tanjung Banua | Nyanyian Panjang Talang Sungai Parit

Next Post

Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Tiga Musisi Optimis Menyongsong Fajar Musik Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co