21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 24, 2024
in Cerpen
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

MASALAH, seperti bisul atau jerawat, sewaktu-waktu akan meledak. Aku bukanlah pendusta, maka percayalah: semua orang memiliki kusir nakal yang kelak akan mengantar kita pada alamat sesat; kusir yang kelak membacakan sihir paling ampuh untuk membuat kita luluh pada keinginannya. Aku ingin mengutuk—bila benar kita lahir karena kehendak para Dewa—Dewa-Dewa. Para Dewa menitip makhluk asing penghasut itu dalam kepala kita. Keparat! Keparat besar!

Cerita tak pernah menyenangkan bila dikisahkan seperti laju kendaraan di jalur bebas hambatan! Lagi pula, kau adalah salah satu orang yang mau tahu ceritaku. Mungkin aku akan sedikit berbelit-belit. Bukanlah hal yang mudah bagiku untuk menceritakan semua petaka ini. Ya… kuharap kau memahamiku. Kita baru saja berkenalan. Tapi, aku tak akan menanyakan umurmu. Bagi beberapa orang, umur adalah angka keramat, sakral, tentu sebaiknya tak ditanyakan. Maka aku akan mengingatkanmu tanpa menanyakan umurmu. Jadi, jika kau belum pernah memimpikan seseorang yang membuat celanamu basah pada pagi hari, maka segeralah tutup halaman ini, percakapan kita cukupkan sampai di sini!

Aku pun tak akan menyesali pendapatmu. Aku hanya ingin bercerita. Aku hanya ingin mengeluarkan kebusukan Si Kusir. Aku tahu, kau juga mengenalnya. Mulai sekarang, kuharap kau lebih berhati-hati padanya.

***

Ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, guru memanggilku, menyuruhku duduk di sofa tua ruangan mereka. Aku ingat, ruangan itu penuh aroma keringat, parfum murahan, dan aroma kertas-kertas tua. Tentu saja aku paham, aku adalah pesakitan bagi mereka. Maksudku, mereka membuatku merasa begitu. Aku kelas tiga waktu itu. Aku ingat betul, dipanggil karena seorang gadis yang posturnya lebih tinggi dariku. Monik bukanlah gadis tercantik di kelas, tapi dia satu-satunya gadis yang memiliki sesuatu yang mendesak bajunya. Benda itu mengingatkanku pada ibu, meskipun dia tak mirip ibu—tentu ibuku lebih cantik daripada dia. Aku ingin memuji, tapi ia berteriak, menangis, dan tentu saja, dengan senang hati, teman-teman kelas melaporkan tingkahku pada guru karena telah menyentuh dada gadis itu.

Salah seorang guru duduk di sebelahku. Mungkin ia bermaksud baik, tapi aku merasa sesuatu telah menekan dadaku, tepat ketika guru itu meletakkan segelas air putih di atas meja. Ia menatapku, dan guru-guru lain sibuk di mejanya masing-masing, sesekali melirik ke arah kami. Guru olah raga yang mendekatiku ini dikenal sebagai makhluk paling galak di sekolah dan aku menunduk ketika ia bicara tapi ia membenci caraku. Aku tahu, ada sesuatu yang sedang menggodaku, sebab ketika aku menatap wajahnya, sebuah gambar muncul dalam kepalaku: kuambil gelas yang ada di atas meja, lalu kulempar air ke wajah guru yang tulang pipinya menonjol seperti tanduk bayi sapi itu. Tentu aku akan mendapat masalah lain. Aku tahu, tapi dadaku terasa semakin berat, dan air mataku mengalir.

Keluar dari ruang guru, teman-teman mengataiku alien mesum. Begitulah mereka menyebutku karena kepalaku yang tampak lebih besar daripada kepala mereka, dan tentu saja mereka menerjemahkan tingkahku pada Monik. Waktu itu, aku begitu lugu dan tak tahu banyak tentang kepala dan isinya. Aku merasa sesuatu menusuk dadaku setiap mereka mengataiku demikian, lalu air mengalir di mataku, dan mereka akan semakin semangat, lalu mereka mengataiku alien banci sambil tertawa-tawa. Sialan. Begitu mudah bagi para pembenci memberi kita nama. Jika saja saat ini mereka mengataiku demikian, aku ingin mengatakan kata-kata paling busuk, lalu meludahi mulut mereka satu-satu.

“Siapa pun akan menjerit bila gunungnya kau sentuh,” kata ibu lembut.

“Bulan! Benda itu seperti bulan, Bu,” kataku. Aku hanya seorang bocah umur empat belas, tentu aku tak berpikir untuk berkata yang tidak sebenarnya. Tapi ibu tetap diam, tersenyum, lalu menyulut rokoknya. Ia tetap lembut, seperti kepulan asap yang keluar dari mulutnya. “Sesuatu berbisik di kepalaku, mengatakan benda yang ada di dadanya sama dengan milikmu,” balasku menunduk. 

Ibu tak akan marah padaku. Aku tahu itu. Tapi setiap ibu memberiku pertanyaan bertubi-tubi, duduk di hadapanku dengan cara apa pun, lalu tersenyum tanpa sedikit pun berpaling, kepalaku selalu terasa berat. Mungkin ketika kita memikirkan banyak hal, sesuatu masuk dalam kepala sehingga menjadi berat. 

“Semua orang memiliki kusir di kepalanya. Jika dia ingin kau melakukan sesuatu, kau harus memilih yang baik,” kata ibu sambil mengembuskan asap ke wajahku, lalu memelukku. “Bulan tak ada di dada wanita mana pun. Bulan ada pada mata mereka.”

Mungkin kusir yang dimaksud ibu memang ingin aku memuji wajah Monik, sebab orang yang memiliki wajah bulat tentu tidak terlalu baik. Tak satu pun lelaki di kelasku memuji kecantikan Monik. Tapi, aku suka bentuk wajah itu, lebih-lebih dadanya yang sempurna seperti purnama. Seperti kata ibu, Dewi Bulan punya wajah bulat, bercahaya, tapi mungkin ibu lupa jika Dewi Bulan juga punya dada bulat yang sempurna. Aku tahu itu dari salah satu teman ibu. Lelaki itu terlalu banyak bicara, tapi aku lupa namanya karena ibu punya beberapa teman lelaki yang senang datang ke rumah. 

“Semua orang dewasa tahu tentang Dewi Bulan. Dia cantik,” katanya padaku ketika kutanya tentang cerita ibu. 

“Apa dia seperti ibu?” balasku.

“Mungkin. Wajahnya, dadanya. Ah…” balasnya.

“Juga bulat? Mirip gantungan kunci ini?” tanyaku sambil mengangkat kunci mobil lelaki itu.

Teman ibu memang baik. Ia melepas gantungan kunci bulat berwarna emas yang buram itu, lalu memberikan benda itu padaku. Sampai kapan pun, gantungan kunci ini akan tetap kugantung di kamar. Dan gantungan kunci emas dengan sesuatu yang menonjol di tengah ini akan membuatku ingat pada Dewi Bulan. Dewi Bulan pastilah orang baik yang bisa membuat semua orang luluh setiap dimarah guru, seperti ibu, dan dada ibu yang selalu membuatku lupa pada hal-hal menyebalkan. 

Ibu tak pernah melarangku menyusu. Tapi, ia berkata, jika ayah masih hidup, ayah pasti marah karena aku menyusu di umur remaja. Aku tak mengenal ayah. Kata ibu, ayah meninggal karena tidak kuat menahan sakit yang selalu menyerang kepalanya. Tapi aku tak berharap mengenal ayah jika tugasnya hanya melarangku menyusu. 

Pesan ibu selalu kuingat ketika Si Kusir keparat berbisik. Tapi, semakin lama, sakit yang luar biasa menyerang kepalaku jika tidak mengikuti pesan Si Kusir. Sialnya, jika aku mengikuti keinginannya, bola lembut akan mendorong-dorong bagian bawah perut, dan rasanya selalu sama: ingin buang air kecil. “Jika dia menyuruhku melakukan hal buruk, aku harus menolak,” gumamku. Tapi, dia kusir tangguh yang bisa memecutku seperti kuda untuk berjalan ke arah yang dia inginkan. Karena itu, berkali-kali, guru memanggilku. 

Sekolah adalah tempat yang menyeramkan. Teman kelas kerap meludah di wajahku. Jika aku ingin ketemu teman kecil untuk meludahi mereka, maka aku ingin ketemu teman sekolah untuk menggantung lehernya di batang pohon kamboja lapangan sekolah—tempat mereka mengikatku lalu meludah hingga bajuku basah seperti tikus yang tenggelam di selokan. Kadang, kusir nakal memperlihatkan gambar-gambar itu padaku.

Satu pagi, setelah jam olahraga selesai, guru menyuruhku meletakkan kembali bola basket ke ruang penyimpanan. Bola-bola berserak di lapangan kering berdebu—jika aku yang bertugas, maka teman-teman lain akan menjauh. Sialnya, setiap mengambil bola, dadaku mulai berdebar, tenggorokanku rasanya tiba-tiba kering meski baru saja minum air. Ini bukan karena lelah. Aku tahu bedanya. 

Ruang penyimpanan begitu gelap dan sunyi. Debu tak setebal di lapangan. Anak-anak nakal tentu tak akan datang ke tempat ini, karena ruangan penyimpanan berimpit dengan ruang guru. Pintu pelahan kututup. Segaris cahaya masuk memberi arah jalan. Aku bersimpuh di balik lipatan meja tenis. Aku yakin, tubuhku tak akan terlihat meski seseorang tiba-tiba masuk. Aku menoleh sekali lagi ke arah celah pintu, mengeluarkan sebuah bola basket dari jaring, melorotkan celana, lalu memijit-mijit bola itu. 

Aku merasa benar-benar nyaman. Aha, jika pesan kusir kuikuti, ia akan mengantarku pada perasaan seperti itu, pikirku. Ya, betul-betul nyaman. Aku mengingat dada ibu, Monik, dan wajahnya yang bulat. Semua tampak seperti mimpi dan aku senang memijat-mijat bola itu sambil memijat-mijat penisku yang mengeras. Berkali-kali dan berulang-ulang. Seolah-olah, aku tak ingin kehilangan perasaan itu. Dan, keluarlah yang mestinya keluar. Celana dalamku basah. Tak ada cara lain, aku hanya bisa membiarkannya seperti itu, dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Lagi pula, warna celana olahraga yang gelap pasti menyamarkannya.

Kusir telah kalah, pikirku. Rasanya, ia benar-benar menghilang, seperti ketika aku menyusu pada ibu setiap mendapat masalah. Sialnya, teman-temanku masih menggunakan pakaian olahraga basah mereka, jingkrak-jingkrak di atas meja kelas, kejar-kejaran, dan serempak mengerubungiku begitu aku masuk kelas. Waktu itu, hanya laki-laki yang ada di sana. Mereka mengelilingiku sambil memulai teriakan aneh. Aku tahu, mereka akan berlaku buruk. Tapi aku yakin, itu bukan karena urusanku dengan Si Kusir dan bola-bola. Tiba-tiba, mereka memegang kuat tanganku, mengangkat tubuhku, lalu menarik celanaku hingga penisku terlihat. 

Orang-orang sialan itu tertawa-tawa! Mereka tertawa-tawa sambil menyentil penisku! Salah seorang dari mereka menyentuh cairan lengket itu, lalu dengan menyebalkan melempar celanaku ke luar kelas. Seolah punya ide cemerlang, seorang yang lain lari mengambil celanaku, kemudian memasangnya di kepalaku. 

Sejak itu, aku mendapat julukan lain: Alien Lendir! Sepulang sekolah, mereka menungguku di parkir, menyeretku ke kamboja, mengikatku, dan meludah. Mereka berkata bahwa lendir harus dibalas lendir. Tapi itu busuk, dadaku semakin sakit. Rasanya air mata tak bisa kutahan lagi. Mereka pun pergi.

***

Beberapa kali, sekuat tenaga, aku membenturkan kepala ke tembok kamar; berharap Kusir liar itu benar-benar hilang atau mati di sana. Tapi cara ini tak pernah bekerja dengan baik. Ketika aku menempuh cara itu, justru dunia ini berputar kencang, telinga mendengung. Kupikir, semua itu karena ulah si Kusir yang akan benar-benar kalah. Tapi ujung-ujungnya, yang keluar hanyalah cairan merah kental, dan dengan tingkah berlebihan, ibu memanggil tetangga, membawaku ke rumah sakit. Ibu adalah satu-satunya orang baik di dunia ini. 

Ketika aku masuk rumah sakit para petugas yang membongkar batok kepalaku telah berdusta. Mataku begitu berat. Sama halnya dengan mulutku. Tapi pelahan, aku mendengar pembicaraan mereka, persis seperti gerombolan lebah yang terusik sarangnya. Aroma alkohol menguar dan cahaya berlebih muncul dari langit-langit ruangan. Aku mulai bisa bicara meski sama samarnya dengan pendengaranku. Kukatakan pada mereka, “Keluarkan kusir itu dari kepalaku. Dia penghasut!” Aku tahu mereka tersenyum, tapi hanya orang jahat tersenyum ketika seseorang di depannya diganggu benda asing, bukan? Dan aku tahu, mereka membiarkan Kusir bersarang di kepalaku.

Sayangnya, kusir keparat itu tampaknya semakin tangguh, semakin paham cara memperdayaku. Seharusnya, siapa pun punya hak untuk saling tawar, tapi lama-lama, kusir ini seperti penyihir yang terus menerus mengutukku. Kini aku mulai sadar, Kusir keparat tak ada bedanya dengan karet celana dalam, semakin sering kau pakai, ia akan semakin longgar, seolah benda itu diciptakan untuk tubuh yang selalu tumbuh. 

Mungkin ia sedang hibernasi atau meditasi panjang. Ia mulai jarang muncul. Baru kali ini ia muncul dengan cambuk yang lebih kuat. Sialan! Terkutuklah kusir keparat! Ia tumbuh semakin kuat, semakin menyebalkan!

Maaf. Ini bagian yang paling sulit untuk diceritakan. Kau tahu, rasanya seluruh ingatanku tiba-tiba berbaur dengan perasaan buruk lainnya. Maaf. Bisa kau ambilkan segelas air untukku? Ah, keparat! Keparat bangsat! Dadaku berdebar. Tenggorokanku semakin kering. Jangan tatap aku dengan bola mata sempurnamu itu! [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama
Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama
Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Next Post

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co