5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 24, 2024
in Cerpen
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

MASALAH, seperti bisul atau jerawat, sewaktu-waktu akan meledak. Aku bukanlah pendusta, maka percayalah: semua orang memiliki kusir nakal yang kelak akan mengantar kita pada alamat sesat; kusir yang kelak membacakan sihir paling ampuh untuk membuat kita luluh pada keinginannya. Aku ingin mengutuk—bila benar kita lahir karena kehendak para Dewa—Dewa-Dewa. Para Dewa menitip makhluk asing penghasut itu dalam kepala kita. Keparat! Keparat besar!

Cerita tak pernah menyenangkan bila dikisahkan seperti laju kendaraan di jalur bebas hambatan! Lagi pula, kau adalah salah satu orang yang mau tahu ceritaku. Mungkin aku akan sedikit berbelit-belit. Bukanlah hal yang mudah bagiku untuk menceritakan semua petaka ini. Ya… kuharap kau memahamiku. Kita baru saja berkenalan. Tapi, aku tak akan menanyakan umurmu. Bagi beberapa orang, umur adalah angka keramat, sakral, tentu sebaiknya tak ditanyakan. Maka aku akan mengingatkanmu tanpa menanyakan umurmu. Jadi, jika kau belum pernah memimpikan seseorang yang membuat celanamu basah pada pagi hari, maka segeralah tutup halaman ini, percakapan kita cukupkan sampai di sini!

Aku pun tak akan menyesali pendapatmu. Aku hanya ingin bercerita. Aku hanya ingin mengeluarkan kebusukan Si Kusir. Aku tahu, kau juga mengenalnya. Mulai sekarang, kuharap kau lebih berhati-hati padanya.

***

Ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, guru memanggilku, menyuruhku duduk di sofa tua ruangan mereka. Aku ingat, ruangan itu penuh aroma keringat, parfum murahan, dan aroma kertas-kertas tua. Tentu saja aku paham, aku adalah pesakitan bagi mereka. Maksudku, mereka membuatku merasa begitu. Aku kelas tiga waktu itu. Aku ingat betul, dipanggil karena seorang gadis yang posturnya lebih tinggi dariku. Monik bukanlah gadis tercantik di kelas, tapi dia satu-satunya gadis yang memiliki sesuatu yang mendesak bajunya. Benda itu mengingatkanku pada ibu, meskipun dia tak mirip ibu—tentu ibuku lebih cantik daripada dia. Aku ingin memuji, tapi ia berteriak, menangis, dan tentu saja, dengan senang hati, teman-teman kelas melaporkan tingkahku pada guru karena telah menyentuh dada gadis itu.

Salah seorang guru duduk di sebelahku. Mungkin ia bermaksud baik, tapi aku merasa sesuatu telah menekan dadaku, tepat ketika guru itu meletakkan segelas air putih di atas meja. Ia menatapku, dan guru-guru lain sibuk di mejanya masing-masing, sesekali melirik ke arah kami. Guru olah raga yang mendekatiku ini dikenal sebagai makhluk paling galak di sekolah dan aku menunduk ketika ia bicara tapi ia membenci caraku. Aku tahu, ada sesuatu yang sedang menggodaku, sebab ketika aku menatap wajahnya, sebuah gambar muncul dalam kepalaku: kuambil gelas yang ada di atas meja, lalu kulempar air ke wajah guru yang tulang pipinya menonjol seperti tanduk bayi sapi itu. Tentu aku akan mendapat masalah lain. Aku tahu, tapi dadaku terasa semakin berat, dan air mataku mengalir.

Keluar dari ruang guru, teman-teman mengataiku alien mesum. Begitulah mereka menyebutku karena kepalaku yang tampak lebih besar daripada kepala mereka, dan tentu saja mereka menerjemahkan tingkahku pada Monik. Waktu itu, aku begitu lugu dan tak tahu banyak tentang kepala dan isinya. Aku merasa sesuatu menusuk dadaku setiap mereka mengataiku demikian, lalu air mengalir di mataku, dan mereka akan semakin semangat, lalu mereka mengataiku alien banci sambil tertawa-tawa. Sialan. Begitu mudah bagi para pembenci memberi kita nama. Jika saja saat ini mereka mengataiku demikian, aku ingin mengatakan kata-kata paling busuk, lalu meludahi mulut mereka satu-satu.

“Siapa pun akan menjerit bila gunungnya kau sentuh,” kata ibu lembut.

“Bulan! Benda itu seperti bulan, Bu,” kataku. Aku hanya seorang bocah umur empat belas, tentu aku tak berpikir untuk berkata yang tidak sebenarnya. Tapi ibu tetap diam, tersenyum, lalu menyulut rokoknya. Ia tetap lembut, seperti kepulan asap yang keluar dari mulutnya. “Sesuatu berbisik di kepalaku, mengatakan benda yang ada di dadanya sama dengan milikmu,” balasku menunduk. 

Ibu tak akan marah padaku. Aku tahu itu. Tapi setiap ibu memberiku pertanyaan bertubi-tubi, duduk di hadapanku dengan cara apa pun, lalu tersenyum tanpa sedikit pun berpaling, kepalaku selalu terasa berat. Mungkin ketika kita memikirkan banyak hal, sesuatu masuk dalam kepala sehingga menjadi berat. 

“Semua orang memiliki kusir di kepalanya. Jika dia ingin kau melakukan sesuatu, kau harus memilih yang baik,” kata ibu sambil mengembuskan asap ke wajahku, lalu memelukku. “Bulan tak ada di dada wanita mana pun. Bulan ada pada mata mereka.”

Mungkin kusir yang dimaksud ibu memang ingin aku memuji wajah Monik, sebab orang yang memiliki wajah bulat tentu tidak terlalu baik. Tak satu pun lelaki di kelasku memuji kecantikan Monik. Tapi, aku suka bentuk wajah itu, lebih-lebih dadanya yang sempurna seperti purnama. Seperti kata ibu, Dewi Bulan punya wajah bulat, bercahaya, tapi mungkin ibu lupa jika Dewi Bulan juga punya dada bulat yang sempurna. Aku tahu itu dari salah satu teman ibu. Lelaki itu terlalu banyak bicara, tapi aku lupa namanya karena ibu punya beberapa teman lelaki yang senang datang ke rumah. 

“Semua orang dewasa tahu tentang Dewi Bulan. Dia cantik,” katanya padaku ketika kutanya tentang cerita ibu. 

“Apa dia seperti ibu?” balasku.

“Mungkin. Wajahnya, dadanya. Ah…” balasnya.

“Juga bulat? Mirip gantungan kunci ini?” tanyaku sambil mengangkat kunci mobil lelaki itu.

Teman ibu memang baik. Ia melepas gantungan kunci bulat berwarna emas yang buram itu, lalu memberikan benda itu padaku. Sampai kapan pun, gantungan kunci ini akan tetap kugantung di kamar. Dan gantungan kunci emas dengan sesuatu yang menonjol di tengah ini akan membuatku ingat pada Dewi Bulan. Dewi Bulan pastilah orang baik yang bisa membuat semua orang luluh setiap dimarah guru, seperti ibu, dan dada ibu yang selalu membuatku lupa pada hal-hal menyebalkan. 

Ibu tak pernah melarangku menyusu. Tapi, ia berkata, jika ayah masih hidup, ayah pasti marah karena aku menyusu di umur remaja. Aku tak mengenal ayah. Kata ibu, ayah meninggal karena tidak kuat menahan sakit yang selalu menyerang kepalanya. Tapi aku tak berharap mengenal ayah jika tugasnya hanya melarangku menyusu. 

Pesan ibu selalu kuingat ketika Si Kusir keparat berbisik. Tapi, semakin lama, sakit yang luar biasa menyerang kepalaku jika tidak mengikuti pesan Si Kusir. Sialnya, jika aku mengikuti keinginannya, bola lembut akan mendorong-dorong bagian bawah perut, dan rasanya selalu sama: ingin buang air kecil. “Jika dia menyuruhku melakukan hal buruk, aku harus menolak,” gumamku. Tapi, dia kusir tangguh yang bisa memecutku seperti kuda untuk berjalan ke arah yang dia inginkan. Karena itu, berkali-kali, guru memanggilku. 

Sekolah adalah tempat yang menyeramkan. Teman kelas kerap meludah di wajahku. Jika aku ingin ketemu teman kecil untuk meludahi mereka, maka aku ingin ketemu teman sekolah untuk menggantung lehernya di batang pohon kamboja lapangan sekolah—tempat mereka mengikatku lalu meludah hingga bajuku basah seperti tikus yang tenggelam di selokan. Kadang, kusir nakal memperlihatkan gambar-gambar itu padaku.

Satu pagi, setelah jam olahraga selesai, guru menyuruhku meletakkan kembali bola basket ke ruang penyimpanan. Bola-bola berserak di lapangan kering berdebu—jika aku yang bertugas, maka teman-teman lain akan menjauh. Sialnya, setiap mengambil bola, dadaku mulai berdebar, tenggorokanku rasanya tiba-tiba kering meski baru saja minum air. Ini bukan karena lelah. Aku tahu bedanya. 

Ruang penyimpanan begitu gelap dan sunyi. Debu tak setebal di lapangan. Anak-anak nakal tentu tak akan datang ke tempat ini, karena ruangan penyimpanan berimpit dengan ruang guru. Pintu pelahan kututup. Segaris cahaya masuk memberi arah jalan. Aku bersimpuh di balik lipatan meja tenis. Aku yakin, tubuhku tak akan terlihat meski seseorang tiba-tiba masuk. Aku menoleh sekali lagi ke arah celah pintu, mengeluarkan sebuah bola basket dari jaring, melorotkan celana, lalu memijit-mijit bola itu. 

Aku merasa benar-benar nyaman. Aha, jika pesan kusir kuikuti, ia akan mengantarku pada perasaan seperti itu, pikirku. Ya, betul-betul nyaman. Aku mengingat dada ibu, Monik, dan wajahnya yang bulat. Semua tampak seperti mimpi dan aku senang memijat-mijat bola itu sambil memijat-mijat penisku yang mengeras. Berkali-kali dan berulang-ulang. Seolah-olah, aku tak ingin kehilangan perasaan itu. Dan, keluarlah yang mestinya keluar. Celana dalamku basah. Tak ada cara lain, aku hanya bisa membiarkannya seperti itu, dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Lagi pula, warna celana olahraga yang gelap pasti menyamarkannya.

Kusir telah kalah, pikirku. Rasanya, ia benar-benar menghilang, seperti ketika aku menyusu pada ibu setiap mendapat masalah. Sialnya, teman-temanku masih menggunakan pakaian olahraga basah mereka, jingkrak-jingkrak di atas meja kelas, kejar-kejaran, dan serempak mengerubungiku begitu aku masuk kelas. Waktu itu, hanya laki-laki yang ada di sana. Mereka mengelilingiku sambil memulai teriakan aneh. Aku tahu, mereka akan berlaku buruk. Tapi aku yakin, itu bukan karena urusanku dengan Si Kusir dan bola-bola. Tiba-tiba, mereka memegang kuat tanganku, mengangkat tubuhku, lalu menarik celanaku hingga penisku terlihat. 

Orang-orang sialan itu tertawa-tawa! Mereka tertawa-tawa sambil menyentil penisku! Salah seorang dari mereka menyentuh cairan lengket itu, lalu dengan menyebalkan melempar celanaku ke luar kelas. Seolah punya ide cemerlang, seorang yang lain lari mengambil celanaku, kemudian memasangnya di kepalaku. 

Sejak itu, aku mendapat julukan lain: Alien Lendir! Sepulang sekolah, mereka menungguku di parkir, menyeretku ke kamboja, mengikatku, dan meludah. Mereka berkata bahwa lendir harus dibalas lendir. Tapi itu busuk, dadaku semakin sakit. Rasanya air mata tak bisa kutahan lagi. Mereka pun pergi.

***

Beberapa kali, sekuat tenaga, aku membenturkan kepala ke tembok kamar; berharap Kusir liar itu benar-benar hilang atau mati di sana. Tapi cara ini tak pernah bekerja dengan baik. Ketika aku menempuh cara itu, justru dunia ini berputar kencang, telinga mendengung. Kupikir, semua itu karena ulah si Kusir yang akan benar-benar kalah. Tapi ujung-ujungnya, yang keluar hanyalah cairan merah kental, dan dengan tingkah berlebihan, ibu memanggil tetangga, membawaku ke rumah sakit. Ibu adalah satu-satunya orang baik di dunia ini. 

Ketika aku masuk rumah sakit para petugas yang membongkar batok kepalaku telah berdusta. Mataku begitu berat. Sama halnya dengan mulutku. Tapi pelahan, aku mendengar pembicaraan mereka, persis seperti gerombolan lebah yang terusik sarangnya. Aroma alkohol menguar dan cahaya berlebih muncul dari langit-langit ruangan. Aku mulai bisa bicara meski sama samarnya dengan pendengaranku. Kukatakan pada mereka, “Keluarkan kusir itu dari kepalaku. Dia penghasut!” Aku tahu mereka tersenyum, tapi hanya orang jahat tersenyum ketika seseorang di depannya diganggu benda asing, bukan? Dan aku tahu, mereka membiarkan Kusir bersarang di kepalaku.

Sayangnya, kusir keparat itu tampaknya semakin tangguh, semakin paham cara memperdayaku. Seharusnya, siapa pun punya hak untuk saling tawar, tapi lama-lama, kusir ini seperti penyihir yang terus menerus mengutukku. Kini aku mulai sadar, Kusir keparat tak ada bedanya dengan karet celana dalam, semakin sering kau pakai, ia akan semakin longgar, seolah benda itu diciptakan untuk tubuh yang selalu tumbuh. 

Mungkin ia sedang hibernasi atau meditasi panjang. Ia mulai jarang muncul. Baru kali ini ia muncul dengan cambuk yang lebih kuat. Sialan! Terkutuklah kusir keparat! Ia tumbuh semakin kuat, semakin menyebalkan!

Maaf. Ini bagian yang paling sulit untuk diceritakan. Kau tahu, rasanya seluruh ingatanku tiba-tiba berbaur dengan perasaan buruk lainnya. Maaf. Bisa kau ambilkan segelas air untukku? Ah, keparat! Keparat bangsat! Dadaku berdebar. Tenggorokanku semakin kering. Jangan tatap aku dengan bola mata sempurnamu itu! [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama
Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama
Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Next Post

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co