16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 24, 2024
in Cerpen
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

MASALAH, seperti bisul atau jerawat, sewaktu-waktu akan meledak. Aku bukanlah pendusta, maka percayalah: semua orang memiliki kusir nakal yang kelak akan mengantar kita pada alamat sesat; kusir yang kelak membacakan sihir paling ampuh untuk membuat kita luluh pada keinginannya. Aku ingin mengutuk—bila benar kita lahir karena kehendak para Dewa—Dewa-Dewa. Para Dewa menitip makhluk asing penghasut itu dalam kepala kita. Keparat! Keparat besar!

Cerita tak pernah menyenangkan bila dikisahkan seperti laju kendaraan di jalur bebas hambatan! Lagi pula, kau adalah salah satu orang yang mau tahu ceritaku. Mungkin aku akan sedikit berbelit-belit. Bukanlah hal yang mudah bagiku untuk menceritakan semua petaka ini. Ya… kuharap kau memahamiku. Kita baru saja berkenalan. Tapi, aku tak akan menanyakan umurmu. Bagi beberapa orang, umur adalah angka keramat, sakral, tentu sebaiknya tak ditanyakan. Maka aku akan mengingatkanmu tanpa menanyakan umurmu. Jadi, jika kau belum pernah memimpikan seseorang yang membuat celanamu basah pada pagi hari, maka segeralah tutup halaman ini, percakapan kita cukupkan sampai di sini!

Aku pun tak akan menyesali pendapatmu. Aku hanya ingin bercerita. Aku hanya ingin mengeluarkan kebusukan Si Kusir. Aku tahu, kau juga mengenalnya. Mulai sekarang, kuharap kau lebih berhati-hati padanya.

***

Ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, guru memanggilku, menyuruhku duduk di sofa tua ruangan mereka. Aku ingat, ruangan itu penuh aroma keringat, parfum murahan, dan aroma kertas-kertas tua. Tentu saja aku paham, aku adalah pesakitan bagi mereka. Maksudku, mereka membuatku merasa begitu. Aku kelas tiga waktu itu. Aku ingat betul, dipanggil karena seorang gadis yang posturnya lebih tinggi dariku. Monik bukanlah gadis tercantik di kelas, tapi dia satu-satunya gadis yang memiliki sesuatu yang mendesak bajunya. Benda itu mengingatkanku pada ibu, meskipun dia tak mirip ibu—tentu ibuku lebih cantik daripada dia. Aku ingin memuji, tapi ia berteriak, menangis, dan tentu saja, dengan senang hati, teman-teman kelas melaporkan tingkahku pada guru karena telah menyentuh dada gadis itu.

Salah seorang guru duduk di sebelahku. Mungkin ia bermaksud baik, tapi aku merasa sesuatu telah menekan dadaku, tepat ketika guru itu meletakkan segelas air putih di atas meja. Ia menatapku, dan guru-guru lain sibuk di mejanya masing-masing, sesekali melirik ke arah kami. Guru olah raga yang mendekatiku ini dikenal sebagai makhluk paling galak di sekolah dan aku menunduk ketika ia bicara tapi ia membenci caraku. Aku tahu, ada sesuatu yang sedang menggodaku, sebab ketika aku menatap wajahnya, sebuah gambar muncul dalam kepalaku: kuambil gelas yang ada di atas meja, lalu kulempar air ke wajah guru yang tulang pipinya menonjol seperti tanduk bayi sapi itu. Tentu aku akan mendapat masalah lain. Aku tahu, tapi dadaku terasa semakin berat, dan air mataku mengalir.

Keluar dari ruang guru, teman-teman mengataiku alien mesum. Begitulah mereka menyebutku karena kepalaku yang tampak lebih besar daripada kepala mereka, dan tentu saja mereka menerjemahkan tingkahku pada Monik. Waktu itu, aku begitu lugu dan tak tahu banyak tentang kepala dan isinya. Aku merasa sesuatu menusuk dadaku setiap mereka mengataiku demikian, lalu air mengalir di mataku, dan mereka akan semakin semangat, lalu mereka mengataiku alien banci sambil tertawa-tawa. Sialan. Begitu mudah bagi para pembenci memberi kita nama. Jika saja saat ini mereka mengataiku demikian, aku ingin mengatakan kata-kata paling busuk, lalu meludahi mulut mereka satu-satu.

“Siapa pun akan menjerit bila gunungnya kau sentuh,” kata ibu lembut.

“Bulan! Benda itu seperti bulan, Bu,” kataku. Aku hanya seorang bocah umur empat belas, tentu aku tak berpikir untuk berkata yang tidak sebenarnya. Tapi ibu tetap diam, tersenyum, lalu menyulut rokoknya. Ia tetap lembut, seperti kepulan asap yang keluar dari mulutnya. “Sesuatu berbisik di kepalaku, mengatakan benda yang ada di dadanya sama dengan milikmu,” balasku menunduk. 

Ibu tak akan marah padaku. Aku tahu itu. Tapi setiap ibu memberiku pertanyaan bertubi-tubi, duduk di hadapanku dengan cara apa pun, lalu tersenyum tanpa sedikit pun berpaling, kepalaku selalu terasa berat. Mungkin ketika kita memikirkan banyak hal, sesuatu masuk dalam kepala sehingga menjadi berat. 

“Semua orang memiliki kusir di kepalanya. Jika dia ingin kau melakukan sesuatu, kau harus memilih yang baik,” kata ibu sambil mengembuskan asap ke wajahku, lalu memelukku. “Bulan tak ada di dada wanita mana pun. Bulan ada pada mata mereka.”

Mungkin kusir yang dimaksud ibu memang ingin aku memuji wajah Monik, sebab orang yang memiliki wajah bulat tentu tidak terlalu baik. Tak satu pun lelaki di kelasku memuji kecantikan Monik. Tapi, aku suka bentuk wajah itu, lebih-lebih dadanya yang sempurna seperti purnama. Seperti kata ibu, Dewi Bulan punya wajah bulat, bercahaya, tapi mungkin ibu lupa jika Dewi Bulan juga punya dada bulat yang sempurna. Aku tahu itu dari salah satu teman ibu. Lelaki itu terlalu banyak bicara, tapi aku lupa namanya karena ibu punya beberapa teman lelaki yang senang datang ke rumah. 

“Semua orang dewasa tahu tentang Dewi Bulan. Dia cantik,” katanya padaku ketika kutanya tentang cerita ibu. 

“Apa dia seperti ibu?” balasku.

“Mungkin. Wajahnya, dadanya. Ah…” balasnya.

“Juga bulat? Mirip gantungan kunci ini?” tanyaku sambil mengangkat kunci mobil lelaki itu.

Teman ibu memang baik. Ia melepas gantungan kunci bulat berwarna emas yang buram itu, lalu memberikan benda itu padaku. Sampai kapan pun, gantungan kunci ini akan tetap kugantung di kamar. Dan gantungan kunci emas dengan sesuatu yang menonjol di tengah ini akan membuatku ingat pada Dewi Bulan. Dewi Bulan pastilah orang baik yang bisa membuat semua orang luluh setiap dimarah guru, seperti ibu, dan dada ibu yang selalu membuatku lupa pada hal-hal menyebalkan. 

Ibu tak pernah melarangku menyusu. Tapi, ia berkata, jika ayah masih hidup, ayah pasti marah karena aku menyusu di umur remaja. Aku tak mengenal ayah. Kata ibu, ayah meninggal karena tidak kuat menahan sakit yang selalu menyerang kepalanya. Tapi aku tak berharap mengenal ayah jika tugasnya hanya melarangku menyusu. 

Pesan ibu selalu kuingat ketika Si Kusir keparat berbisik. Tapi, semakin lama, sakit yang luar biasa menyerang kepalaku jika tidak mengikuti pesan Si Kusir. Sialnya, jika aku mengikuti keinginannya, bola lembut akan mendorong-dorong bagian bawah perut, dan rasanya selalu sama: ingin buang air kecil. “Jika dia menyuruhku melakukan hal buruk, aku harus menolak,” gumamku. Tapi, dia kusir tangguh yang bisa memecutku seperti kuda untuk berjalan ke arah yang dia inginkan. Karena itu, berkali-kali, guru memanggilku. 

Sekolah adalah tempat yang menyeramkan. Teman kelas kerap meludah di wajahku. Jika aku ingin ketemu teman kecil untuk meludahi mereka, maka aku ingin ketemu teman sekolah untuk menggantung lehernya di batang pohon kamboja lapangan sekolah—tempat mereka mengikatku lalu meludah hingga bajuku basah seperti tikus yang tenggelam di selokan. Kadang, kusir nakal memperlihatkan gambar-gambar itu padaku.

Satu pagi, setelah jam olahraga selesai, guru menyuruhku meletakkan kembali bola basket ke ruang penyimpanan. Bola-bola berserak di lapangan kering berdebu—jika aku yang bertugas, maka teman-teman lain akan menjauh. Sialnya, setiap mengambil bola, dadaku mulai berdebar, tenggorokanku rasanya tiba-tiba kering meski baru saja minum air. Ini bukan karena lelah. Aku tahu bedanya. 

Ruang penyimpanan begitu gelap dan sunyi. Debu tak setebal di lapangan. Anak-anak nakal tentu tak akan datang ke tempat ini, karena ruangan penyimpanan berimpit dengan ruang guru. Pintu pelahan kututup. Segaris cahaya masuk memberi arah jalan. Aku bersimpuh di balik lipatan meja tenis. Aku yakin, tubuhku tak akan terlihat meski seseorang tiba-tiba masuk. Aku menoleh sekali lagi ke arah celah pintu, mengeluarkan sebuah bola basket dari jaring, melorotkan celana, lalu memijit-mijit bola itu. 

Aku merasa benar-benar nyaman. Aha, jika pesan kusir kuikuti, ia akan mengantarku pada perasaan seperti itu, pikirku. Ya, betul-betul nyaman. Aku mengingat dada ibu, Monik, dan wajahnya yang bulat. Semua tampak seperti mimpi dan aku senang memijat-mijat bola itu sambil memijat-mijat penisku yang mengeras. Berkali-kali dan berulang-ulang. Seolah-olah, aku tak ingin kehilangan perasaan itu. Dan, keluarlah yang mestinya keluar. Celana dalamku basah. Tak ada cara lain, aku hanya bisa membiarkannya seperti itu, dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Lagi pula, warna celana olahraga yang gelap pasti menyamarkannya.

Kusir telah kalah, pikirku. Rasanya, ia benar-benar menghilang, seperti ketika aku menyusu pada ibu setiap mendapat masalah. Sialnya, teman-temanku masih menggunakan pakaian olahraga basah mereka, jingkrak-jingkrak di atas meja kelas, kejar-kejaran, dan serempak mengerubungiku begitu aku masuk kelas. Waktu itu, hanya laki-laki yang ada di sana. Mereka mengelilingiku sambil memulai teriakan aneh. Aku tahu, mereka akan berlaku buruk. Tapi aku yakin, itu bukan karena urusanku dengan Si Kusir dan bola-bola. Tiba-tiba, mereka memegang kuat tanganku, mengangkat tubuhku, lalu menarik celanaku hingga penisku terlihat. 

Orang-orang sialan itu tertawa-tawa! Mereka tertawa-tawa sambil menyentil penisku! Salah seorang dari mereka menyentuh cairan lengket itu, lalu dengan menyebalkan melempar celanaku ke luar kelas. Seolah punya ide cemerlang, seorang yang lain lari mengambil celanaku, kemudian memasangnya di kepalaku. 

Sejak itu, aku mendapat julukan lain: Alien Lendir! Sepulang sekolah, mereka menungguku di parkir, menyeretku ke kamboja, mengikatku, dan meludah. Mereka berkata bahwa lendir harus dibalas lendir. Tapi itu busuk, dadaku semakin sakit. Rasanya air mata tak bisa kutahan lagi. Mereka pun pergi.

***

Beberapa kali, sekuat tenaga, aku membenturkan kepala ke tembok kamar; berharap Kusir liar itu benar-benar hilang atau mati di sana. Tapi cara ini tak pernah bekerja dengan baik. Ketika aku menempuh cara itu, justru dunia ini berputar kencang, telinga mendengung. Kupikir, semua itu karena ulah si Kusir yang akan benar-benar kalah. Tapi ujung-ujungnya, yang keluar hanyalah cairan merah kental, dan dengan tingkah berlebihan, ibu memanggil tetangga, membawaku ke rumah sakit. Ibu adalah satu-satunya orang baik di dunia ini. 

Ketika aku masuk rumah sakit para petugas yang membongkar batok kepalaku telah berdusta. Mataku begitu berat. Sama halnya dengan mulutku. Tapi pelahan, aku mendengar pembicaraan mereka, persis seperti gerombolan lebah yang terusik sarangnya. Aroma alkohol menguar dan cahaya berlebih muncul dari langit-langit ruangan. Aku mulai bisa bicara meski sama samarnya dengan pendengaranku. Kukatakan pada mereka, “Keluarkan kusir itu dari kepalaku. Dia penghasut!” Aku tahu mereka tersenyum, tapi hanya orang jahat tersenyum ketika seseorang di depannya diganggu benda asing, bukan? Dan aku tahu, mereka membiarkan Kusir bersarang di kepalaku.

Sayangnya, kusir keparat itu tampaknya semakin tangguh, semakin paham cara memperdayaku. Seharusnya, siapa pun punya hak untuk saling tawar, tapi lama-lama, kusir ini seperti penyihir yang terus menerus mengutukku. Kini aku mulai sadar, Kusir keparat tak ada bedanya dengan karet celana dalam, semakin sering kau pakai, ia akan semakin longgar, seolah benda itu diciptakan untuk tubuh yang selalu tumbuh. 

Mungkin ia sedang hibernasi atau meditasi panjang. Ia mulai jarang muncul. Baru kali ini ia muncul dengan cambuk yang lebih kuat. Sialan! Terkutuklah kusir keparat! Ia tumbuh semakin kuat, semakin menyebalkan!

Maaf. Ini bagian yang paling sulit untuk diceritakan. Kau tahu, rasanya seluruh ingatanku tiba-tiba berbaur dengan perasaan buruk lainnya. Maaf. Bisa kau ambilkan segelas air untukku? Ah, keparat! Keparat bangsat! Dadaku berdebar. Tenggorokanku semakin kering. Jangan tatap aku dengan bola mata sempurnamu itu! [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama
Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama
Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Next Post

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co