24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
December 19, 2021
in Cerpen
Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama

Salah satu karya dalam pameran seni rupa Seru-Seruan di Undiksha Singaraja, Mei 2018

Sebelum matahari menyeringai, saat malam belum tanggal, Banaru menguji ketabahan istrinya. Pintu kamarnya terbuka. Dari celah pintu terlihat istrinya masih menggunakan pakaian tidur—tentu telat bila saat itu ia mendorong gagang pintu—perempuan itu mencuri pandang ke kamarnya. Banaru berpikir, sebentar lagi istrinya akan masuk. Dan benar, ketika mata Banaru berkijap-kijap, istrinya kesal bukan kepalang sehingga mendorong pintu kamarnya dengan tenaga kerbau.

Banaru merengkuk tubuhnya dalam selimut, mengintip perangai istrinya dari celah kecil. Cahaya laptop di atas meja menerangi wajah istrinya; wajah bengis yang membuat Banaru tak ingin keluar dari sana. Tak ada pilihan. Mareta akan tahu Banaru tidak minum obat tidur. Tapi, bagaimana ia menyadari bahwa itu bukan karena ia memang tak ingin tidur, atau apakah Mareta akan melakukan sesuatu untuk membujuknya minum obat itu? Kalau Mareta memaksa, “lebih baik aku tidur selamanya,” kata Banaru dalam hati. “Atau sebaiknya meloncat, lalu memelas pada kucing betina itu agar tak mengganggu pekerjaanku?” lanjutnya dengan perasaan bimbang.

“Mestinya kau bangun siang nanti,” kata Mareta.

Banaru diam saja, tetap sembunyi, tetapi tak lagi mengintip istrinya dari lubang kecil lipatan selimut. Perempuan itu menarik selimut yang menutupi Banaru, kemudian melempar selimut itu ke lantai dan menyalakan lampu. Barulah jelas wajah lelaki itu. Banaru tampak seperti manusia gua, rambutnya panjang saling lilit, kaos putih masih saja dipakai sejak beberapa hari lalu, dan celana jeans bulukan itu belum juga ia ganti. Dan, mata Banaru kini lebih menjengkelkan dari sebelumnya, seperti mata anjing ketakutan, dan tubuhnya yang kurus tetap meringkuk.

“Maafkan aku. Manusia gua punya bahasa yang berbeda,” lanjut Mareta, lalu duduk di depan meja kerja Banaru.

Lupa menutup pintu adalah kebodohan pertama laki-laki itu, semetara kebodohan keduanya: Banaru tak menyembunyikan obat tidur yang diletakkan istrinya di atas meja kerja.

“Apa kau mulai bicara dengan obat tidur ini?” kata perempuan itu.

“Tidak,” jawab Banaru.

“Jawaban ‘tidak’ hanya untuk anak-anak yang disodori obat.”

“Tentu.”

“Kuharap kau tak lupa cara bicara.”

Perempuan itu lalu pergi meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti makhluk terkutuk yang dihukum dewa-dewa dalam kubang neraka.

Mereka pisah ranjang sejak tiga hari lalu; awalnya, perempuan itu meraba isi celana suaminya ketika ia pikir Banaru telah tidur. Jika Banaru telah tidur, biasanya perempuan itu akan memberi kejutan, dan pelahan mereka akan menjadi binatang malam seperti pengantin baru. Tapi Banaru tak menunjukkan perubahan, ia hanya menggulingkan tubuhnya ke arah istrinya, memperlihatkan wajah yang pucat dan matanya yang bengkak dengan urat yang merah.

Akhirnya, mereka memutuskan pisah ranjang. Pagi itu, Banaru seperti penderita tipes, tapi ia mengatakan dirinya baik-baik saja—tubuhnya tentu menunjukkan ihwal sebaliknya. Istrinya bertanya alasan mengapa matanya menjengkelkan, dan Banaru berkata entah, tapi istrinya tak menerima jawaban entah, lalu Banaru berkata: Tulisanku belum rampung.

Penerbit terus mengejar Banaru dan kontrak menjadi setan di kepalanya. Karena itu, Mareta berbaik hati, menyarankan Banaru tidur di kamar sebelah, kamar anak-anaknya yang tak lagi tinggal bersama mereka. Mareta membiarkan lelaki itu bekerja sendiri, dan berjanji tak akan mengganggu. Tapi, dalam waktu seminggu, Banaru harus menunaikan tugasnya sebagai kucing jantan.

Diam-diam, Mareta meletakkan obat tidur di meja kerja Banaru, entah kapan ia menyelinap—ia berbakat dalam hal itu. Tapi, Banaru tak meminum obat tidur itu. Tampaknya, Banaru menikmati pikirannya. Ia membayangkan tulisan-tulisan yang mesti selesai, dan tentunya kata-kata editor yang berputar-putar di kepalanya. Padahal, Banaru biasa mendengar ucapan semacam itu, tetapi begadang membuat pikirannya memanggil semua percakapan itu dan membuat jawaban yang lebih buruk muncul di sana.

“Sejak kapan kau membuat adegan picisan?” kata editor penerbitan setelah membaca naskahnya.

“Aku bisa menyelesaikan novel dalam seminggu dengan adegan picisan. Tapi, perlu waktu dua tahun untuk menyelesaikan naskah yang kau pegang.”

“Tak ada bedanya.”

“Dugaan seseorang kadang keliru. Kau perlu membaca lebih jeli.”

Tetapi tiba-tiba, penerbit yang sama menghubunginya, memberi masukan terhadap novelnya, dan berjanji akan menerbitkan naskah itu. Banaru paham, tak ada penulis yang mau menerima proyek dua minggu untuk sebuah novel. Pertama, waktu singkat itu hanya akan menghasilkan tulisan buruk, kedua hibah pemerintah telah tumpah, dan selalu begitu di akhir tahun. Meski beberapa penulis telah menyimpan naskah, mereka pasti enggan berurusan dengan pemerintah, dan mereka pasti menghindar bila di belakang atau di sampul depan bukunya harus ditempeli logo norak itu. Tapi di umurnya yang semakin miring, Banaru tak punya pilihan lain.

Tinggal beberapa hari lagi, tapi naskah belum seperti yang diminta editor. Banaru memang lugu dalam hal itu. Mareta nampaknya lebih paham masalah-masalah itu. Malam itu, konsentrasi Banaru tak lebih kekar dari roti bakar. Istrinya menyelinap dan Banaru tetap melamun dan istrinya mengambil obat tidur, tapi Banaru diam saja. Lalu, jari Mareta dengan cekatan menyumpal hidung Banaru. Ketika itu, barulah lelaki itu berontak, kepalanya ia tarik dari cengkraman tangan Mareta. Sialnya, ketika kepala lelaki itu berhasil lepas, obat tidur telah masuk ke mulutnya.

“Tak ada cara halus bagi istri yang baik,” kata Mareta.

Untuk pertama kalinya, mereka tidur bersama lagi. Tetapi, dalam hitungan detik, Banaru tidur dengan suara seperti babi disembelih. Dengkurannya membuat telinga siapa saja di sampingnya akan berdesing beberapa lama. Tapi mata Mareta ikut layu. Saatnya tidur. Tetapi, suara Banaru harus dihentikan lebih dulu. Sebab, ketika hendak masuk dalam mimpi, lagi-lagi dengkuran itu membangunkan Mareta dan begitu berulang-ulang.

Dengan kasar, perempuan itu mengais-ngais tisu yang ada di atas meja. Rupanya, Banaru melenguh mendengar keributan kecil itu, lalu ia berguling, dan kini liurnya mengalir lagi ke arah lain. Dengkuran itu mereda. Mareta tetap bertindak, dibuatnya bola sekepal tangan dari tisu. Lalu, ia menggulingkan tubuh Banaru agar tengadah. Mareta melihat gigi suaminya yang beberapa telah hilang, dan liurnya telah mengering dan menempel pada sebagian pipi kiri.

Mareta duduk termenung. “Tak perlu lagi menunda,” pikirnya. Ia memang mesti tidur kembali, sementara telinga perempuan itu terlalu cekatan menangkap dengkuran. Pandangan perempuan itu jatuh pada kantong plastik di samping tisu. Perempuan itu beranjak lagi mengambil plastik. “Tepat sekali,” pikirnya.  Jika tisu dimasukkan dalam kantong kresek, maka akan aman: bila tertelan, setidaknya tidak akan menyulitkan dokter untuk mencari benda sebesar itu dalam perut kurusnya. Tapi, meski mulutnya lebar, tak akan sanggup ia menelan benda ini.

“Bila bangun, mungkin ia akan menecekikku…. Akan kukatakan ia bangun seperti mumi, dan aku mengigil di balik selimut, dan aku mengintipnya memasukkan tisu pada kresek, lalu memakannya sambil tidur.” Bahagia betul Mareta bisa memikirkan itu. Cerita yang masuk akal. Gemilang! Dalam sekejap saja ia bisa mencari solusi untuk tidurnya malam itu. Bahkan tidur untuk dua orang sekaligus. Banaru tentu saja tak punya otak secair istrinya. Lelaki itu pasti percaya pada cerita Mareta.

Hanya saja, bagaimana cara Mareta mengarang cerita tentang naskah Banaru? Naskah novel telah dikirim Mareta ke penerbit. Pesan itu tak bisa ditarik lagi. Dan, barangkali cerita buruk itu tak akan dipermasalahkan. Banaru akan punya buku, tapi semua orang akan tahu isi kepala lelaki itu, dan cerita-ceritanya yang tak pernah lebih baik sejak semula ia menulis. Sementara itu, Mareta tentu telah bahagia. Besok pagi, bilapun lelaki itu marah-marah, setidaknya ia telah memiliki tenaga yang cukup untuk menjadi kucing jantan. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sulis Gingsul AS | Arloji Berlian, Tujuh Gelinding Awan

Next Post

Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021

Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co