12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
December 19, 2021
in Cerpen
Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama

Salah satu karya dalam pameran seni rupa Seru-Seruan di Undiksha Singaraja, Mei 2018

Sebelum matahari menyeringai, saat malam belum tanggal, Banaru menguji ketabahan istrinya. Pintu kamarnya terbuka. Dari celah pintu terlihat istrinya masih menggunakan pakaian tidur—tentu telat bila saat itu ia mendorong gagang pintu—perempuan itu mencuri pandang ke kamarnya. Banaru berpikir, sebentar lagi istrinya akan masuk. Dan benar, ketika mata Banaru berkijap-kijap, istrinya kesal bukan kepalang sehingga mendorong pintu kamarnya dengan tenaga kerbau.

Banaru merengkuk tubuhnya dalam selimut, mengintip perangai istrinya dari celah kecil. Cahaya laptop di atas meja menerangi wajah istrinya; wajah bengis yang membuat Banaru tak ingin keluar dari sana. Tak ada pilihan. Mareta akan tahu Banaru tidak minum obat tidur. Tapi, bagaimana ia menyadari bahwa itu bukan karena ia memang tak ingin tidur, atau apakah Mareta akan melakukan sesuatu untuk membujuknya minum obat itu? Kalau Mareta memaksa, “lebih baik aku tidur selamanya,” kata Banaru dalam hati. “Atau sebaiknya meloncat, lalu memelas pada kucing betina itu agar tak mengganggu pekerjaanku?” lanjutnya dengan perasaan bimbang.

“Mestinya kau bangun siang nanti,” kata Mareta.

Banaru diam saja, tetap sembunyi, tetapi tak lagi mengintip istrinya dari lubang kecil lipatan selimut. Perempuan itu menarik selimut yang menutupi Banaru, kemudian melempar selimut itu ke lantai dan menyalakan lampu. Barulah jelas wajah lelaki itu. Banaru tampak seperti manusia gua, rambutnya panjang saling lilit, kaos putih masih saja dipakai sejak beberapa hari lalu, dan celana jeans bulukan itu belum juga ia ganti. Dan, mata Banaru kini lebih menjengkelkan dari sebelumnya, seperti mata anjing ketakutan, dan tubuhnya yang kurus tetap meringkuk.

“Maafkan aku. Manusia gua punya bahasa yang berbeda,” lanjut Mareta, lalu duduk di depan meja kerja Banaru.

Lupa menutup pintu adalah kebodohan pertama laki-laki itu, semetara kebodohan keduanya: Banaru tak menyembunyikan obat tidur yang diletakkan istrinya di atas meja kerja.

“Apa kau mulai bicara dengan obat tidur ini?” kata perempuan itu.

“Tidak,” jawab Banaru.

“Jawaban ‘tidak’ hanya untuk anak-anak yang disodori obat.”

“Tentu.”

“Kuharap kau tak lupa cara bicara.”

Perempuan itu lalu pergi meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti makhluk terkutuk yang dihukum dewa-dewa dalam kubang neraka.

Mereka pisah ranjang sejak tiga hari lalu; awalnya, perempuan itu meraba isi celana suaminya ketika ia pikir Banaru telah tidur. Jika Banaru telah tidur, biasanya perempuan itu akan memberi kejutan, dan pelahan mereka akan menjadi binatang malam seperti pengantin baru. Tapi Banaru tak menunjukkan perubahan, ia hanya menggulingkan tubuhnya ke arah istrinya, memperlihatkan wajah yang pucat dan matanya yang bengkak dengan urat yang merah.

Akhirnya, mereka memutuskan pisah ranjang. Pagi itu, Banaru seperti penderita tipes, tapi ia mengatakan dirinya baik-baik saja—tubuhnya tentu menunjukkan ihwal sebaliknya. Istrinya bertanya alasan mengapa matanya menjengkelkan, dan Banaru berkata entah, tapi istrinya tak menerima jawaban entah, lalu Banaru berkata: Tulisanku belum rampung.

Penerbit terus mengejar Banaru dan kontrak menjadi setan di kepalanya. Karena itu, Mareta berbaik hati, menyarankan Banaru tidur di kamar sebelah, kamar anak-anaknya yang tak lagi tinggal bersama mereka. Mareta membiarkan lelaki itu bekerja sendiri, dan berjanji tak akan mengganggu. Tapi, dalam waktu seminggu, Banaru harus menunaikan tugasnya sebagai kucing jantan.

Diam-diam, Mareta meletakkan obat tidur di meja kerja Banaru, entah kapan ia menyelinap—ia berbakat dalam hal itu. Tapi, Banaru tak meminum obat tidur itu. Tampaknya, Banaru menikmati pikirannya. Ia membayangkan tulisan-tulisan yang mesti selesai, dan tentunya kata-kata editor yang berputar-putar di kepalanya. Padahal, Banaru biasa mendengar ucapan semacam itu, tetapi begadang membuat pikirannya memanggil semua percakapan itu dan membuat jawaban yang lebih buruk muncul di sana.

“Sejak kapan kau membuat adegan picisan?” kata editor penerbitan setelah membaca naskahnya.

“Aku bisa menyelesaikan novel dalam seminggu dengan adegan picisan. Tapi, perlu waktu dua tahun untuk menyelesaikan naskah yang kau pegang.”

“Tak ada bedanya.”

“Dugaan seseorang kadang keliru. Kau perlu membaca lebih jeli.”

Tetapi tiba-tiba, penerbit yang sama menghubunginya, memberi masukan terhadap novelnya, dan berjanji akan menerbitkan naskah itu. Banaru paham, tak ada penulis yang mau menerima proyek dua minggu untuk sebuah novel. Pertama, waktu singkat itu hanya akan menghasilkan tulisan buruk, kedua hibah pemerintah telah tumpah, dan selalu begitu di akhir tahun. Meski beberapa penulis telah menyimpan naskah, mereka pasti enggan berurusan dengan pemerintah, dan mereka pasti menghindar bila di belakang atau di sampul depan bukunya harus ditempeli logo norak itu. Tapi di umurnya yang semakin miring, Banaru tak punya pilihan lain.

Tinggal beberapa hari lagi, tapi naskah belum seperti yang diminta editor. Banaru memang lugu dalam hal itu. Mareta nampaknya lebih paham masalah-masalah itu. Malam itu, konsentrasi Banaru tak lebih kekar dari roti bakar. Istrinya menyelinap dan Banaru tetap melamun dan istrinya mengambil obat tidur, tapi Banaru diam saja. Lalu, jari Mareta dengan cekatan menyumpal hidung Banaru. Ketika itu, barulah lelaki itu berontak, kepalanya ia tarik dari cengkraman tangan Mareta. Sialnya, ketika kepala lelaki itu berhasil lepas, obat tidur telah masuk ke mulutnya.

“Tak ada cara halus bagi istri yang baik,” kata Mareta.

Untuk pertama kalinya, mereka tidur bersama lagi. Tetapi, dalam hitungan detik, Banaru tidur dengan suara seperti babi disembelih. Dengkurannya membuat telinga siapa saja di sampingnya akan berdesing beberapa lama. Tapi mata Mareta ikut layu. Saatnya tidur. Tetapi, suara Banaru harus dihentikan lebih dulu. Sebab, ketika hendak masuk dalam mimpi, lagi-lagi dengkuran itu membangunkan Mareta dan begitu berulang-ulang.

Dengan kasar, perempuan itu mengais-ngais tisu yang ada di atas meja. Rupanya, Banaru melenguh mendengar keributan kecil itu, lalu ia berguling, dan kini liurnya mengalir lagi ke arah lain. Dengkuran itu mereda. Mareta tetap bertindak, dibuatnya bola sekepal tangan dari tisu. Lalu, ia menggulingkan tubuh Banaru agar tengadah. Mareta melihat gigi suaminya yang beberapa telah hilang, dan liurnya telah mengering dan menempel pada sebagian pipi kiri.

Mareta duduk termenung. “Tak perlu lagi menunda,” pikirnya. Ia memang mesti tidur kembali, sementara telinga perempuan itu terlalu cekatan menangkap dengkuran. Pandangan perempuan itu jatuh pada kantong plastik di samping tisu. Perempuan itu beranjak lagi mengambil plastik. “Tepat sekali,” pikirnya.  Jika tisu dimasukkan dalam kantong kresek, maka akan aman: bila tertelan, setidaknya tidak akan menyulitkan dokter untuk mencari benda sebesar itu dalam perut kurusnya. Tapi, meski mulutnya lebar, tak akan sanggup ia menelan benda ini.

“Bila bangun, mungkin ia akan menecekikku…. Akan kukatakan ia bangun seperti mumi, dan aku mengigil di balik selimut, dan aku mengintipnya memasukkan tisu pada kresek, lalu memakannya sambil tidur.” Bahagia betul Mareta bisa memikirkan itu. Cerita yang masuk akal. Gemilang! Dalam sekejap saja ia bisa mencari solusi untuk tidurnya malam itu. Bahkan tidur untuk dua orang sekaligus. Banaru tentu saja tak punya otak secair istrinya. Lelaki itu pasti percaya pada cerita Mareta.

Hanya saja, bagaimana cara Mareta mengarang cerita tentang naskah Banaru? Naskah novel telah dikirim Mareta ke penerbit. Pesan itu tak bisa ditarik lagi. Dan, barangkali cerita buruk itu tak akan dipermasalahkan. Banaru akan punya buku, tapi semua orang akan tahu isi kepala lelaki itu, dan cerita-ceritanya yang tak pernah lebih baik sejak semula ia menulis. Sementara itu, Mareta tentu telah bahagia. Besok pagi, bilapun lelaki itu marah-marah, setidaknya ia telah memiliki tenaga yang cukup untuk menjadi kucing jantan. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sulis Gingsul AS | Arloji Berlian, Tujuh Gelinding Awan

Next Post

Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021

Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co