2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
December 19, 2021
in Khas
Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021

Mr. Botax dan Undagi Gusta saat diskusi layang-layang di Wantilan Desa Adat Renon, Denpasar

Sebelum memulai tulisan ini, saya harus mengatakan bahwa saya ini hanya penikmat layangan, bukan pembuat. Menikmatinya pun ketika ada festival, atau melihat sekumpulan layang-layang mengindang, apalagi ditambah dengan suara guwang yang bising, saya semakin suka.

Tapi dalam pikiran, saya mengaitkan aktifitas layang-layang sangat erat dengan gairah struktural masyarakat Bali. Di beberapa pengarsipan saya membaca layang-layang dan rare angon berhubungan dengan panen raya, waktu sebagian besar penduduk Bali ini bekerja di bidang pertanian.

Logika pikir saya seperti ini, apapun kegiatan atau suatu produk jika ia memiliki nilai erat pada suatu kebudayaan atau aktifitas masyarakat pasti bersifat langgeng. Kemudian budaya agraris menghilang, setidaknya di Denpasar, sawah-sawah seiring waktu berkurang. Layang-layang bagaimana? Ia diselamatkan dengan adanya festival-festival layang-layang? Apakah itu saja ?

Berbekal pemikiran di atas, saya beranjak ke Wantilan Desa Adat Renon, pada Jumat, 18 Desember 2021,  untuk mengikuti sesi berbagi mengenai layang-layang serangkaian Denpasar Festival (Denpest) 2021 . Narasumbernya undagi I Gede Agus Suprapta, atau biasa dipanggil Gusta, yang dimoderatori oleh Lanang Mr. Botax. Keduanya memang penggiat layang-layang, bahkan keduanya sempat berkolaborasi untuk membuat satu komunitas layangan.

Undagi Gusta menceritakan layang-layang buatannya

Undagi Gusta banyak mengisahkan pengalamannya dalam pembuatan layangan, yang ia lakukan secara otodidak. Dari SD hingga sekarang. Pun sejumlah juara dalam beberapa festival pernah ia raih, dari pengalaman panjang tersebut Gusta mulai merumuskan gegulakan / sikut / ukuran layangan yang sesuai dengan seleranya sendiri. Tentu rumus ini tidak serta merta langsung jadi, melainkan melewati berbagai macam percobaan, ketidakseimbangan, ketidakcocokan, alhasil menemulah Gusta dengan ukuran yang pas.

“Tiang sering mencoba, mengganti-ganti ukuran dengan bagian tertentu, untuk ngecek kengken jadinya layangannya” Ujar Gusta pendiri kelompok Undagi Matre ini.

Dulu sebelum menjual layangan, ia menjual guwang sejak tahun 1992. Kemudian atas dorongan Mr. Botak kawan karibnya, sejak tahun 1997 ia mulai menjual layangan versi gegulakan Gusta. Ia yang dulunya bekerja sebagai dagang nasi jinggo selama 10 tahun, sekarang bekerja fulltime sebagai undagi layangan. Bahkan ketika pandemi sekalipun ia masih mendapatkan orderan dari sejumlah kawan-kawan pencinta layangan.

Saya sendiri tidak menyangka ada bentuk bisnis semacam ini di Denpasar, yang jika ditelisik lebih mendalam Gusta tengah mengembangkan satu bentuk layangan berdasarkan ukuran-ukurannya sendiri, sama seperti bagaimana orang Bali membangun rumah dan membuat perkakas pertaniannya. Orang Bali kerap menggunakan ukuran tubuhnya untuk menentukan ukuran, semisal jendela, tinggi pintu, lebar pintu, pegangan cangkul, pegangan arit dan lain sebagainya. Gusta juga sedang melakukan itu, dalam alam bawah sadarnya ia tengah menerjemahkan ukuran tubuhnya sendiri ke dimensi ukuran layang-layang buatannya.

Mengenai ukuran tubuh ini, ada satu tarian yang saya suka berjudul Sikut Awak garapan Krisna Satya di Helatari Salihara 2021, Krisna sebagai koreografer hendak menerjemahkan bangunan-bangunan ke dalam wilayah tubuhnya. Bangunan – sebut saja arsitektur yang ia gunakan kelindan dari ruang dulu dan sekarang, dalam tarian itu ia mencoba membaca tubuh orang Bali pada ruang aktifitasnya.

Ia pun memakai tubuh perempuan dan tubuh laki-laki untuk membandingkan ukuran-ukuran tersebut, sebab jika dilihat dari perkembangan tubuh, keduanya memiliki fase yang berbeda, seperti dalam pendistribusian lemak, serta ukuran tulang, sungguh sangat berbeda karena berkaitan dengan metabolisme tubuh keduanya.

Barangkali Gusta sedang melakukan autokritik terhadap tubuhnya sendiri, barang kali lo ya. Saya melihat saat ia berdiri, sangat ideal, dengan tinggi dan ukuran tubuhnya saya rasa ia memiliki ukuran kepangusan. Terus terang waktu diskusi, saya ingin mengukur tubuh Gusta, semisal jengkal, ukuran dari kepala ke kaki, lebar kaki, dan lain sebagainya, mungkin saja ada kaitan dengan gegulakan  yang ia rumuskan.

Undagi Gusta menceritakan proses pembuatan layang-layanya

Kemudian diskusi mengarah pada elokan layang ketika mengudara. Mr. Botak selalu menanyakan bagaimana mencapai bentuk elokan yang ideal. Sebelumnya Gusta menjelaskan bahwa elokan yang menurutnya paling ideal ialah ketika layangan bergerak diawali dengan kepala terlebih dahulu, badan, pinggul, barulah ekor. Yang ia jelaskan ialah anatomi layangan bebean sebagai contoh.

Ia pun membagi video dokumentasi tentang elokan ideal. Hal ini ternyata ada hubungan dengan gegulakan yang ia  rumuskan, kaitannya terhadap panjang bambu, ketebalan bambu, serta kerangka tambahan yang berguna untuk menahan sekaligus mengeluarkan angin.

Teknik Gusta secara terang-terangan ia buka, untuk memberi stimulus kepada kawan-kawan pemuda yang hadir saat itu. Ia pun menjelaskan ukuran ini boleh jadi miliknya sendiri, namun tidak menutup kemungkinan bagi kawan-kawan untuk mengembangkan ukuran sendiri atau merumuskan hal yang dianggap penting dalam konteks wilayah selera masing-masing.

Mengenai ukuran wilayah masing-masing, ada layer perkembangan pengetahuan yang menarik bagi saya. Kata Mr. Botak pun diakui oleh Gusta, dulu sebelum ada gegulakan kekinian, setiap layangan memiliki ciri khasnya masing-masing. Jadi kalau festival atau perlombaan mereka biasa mengidentifikasi ukuran layangan berdasarkan wilayah. Setiap daerah memiliki ciri khasnya, betapa variatifnya.

“Tapi sekarang hampir semua layangan sama (memiliki ukuran sama) susah dibedakan, karena ada Gegulakan kekinian,” ujar Mr. Botak

Bagi Gusta sah-sah saja ukuran itu, tapi yang lebih penting adalah melakukan eksperimen sendiri dalam rangka menemukan mengembangkan kreatifitas untuk menciptakan ukuran sendiri. Awalnya mungkin saja melihat dulu yang ada, lalu dikembangkan lagi.

Saya setuju dengan statemen Gusta itu, dalam kesenian sering terjadi, untuk melihat kelompok lain berkembang atau melihat yang dianggap bagus. Jika sampai disitu, berbahaya. Harus dikritik, harus ditanyakan ulang, harus dimodifikasi baik secara pemikiran atau bentuk.

Diskusi hangat hari itu selesai,  waktu yang disediakan oleh panitia mepet dengan pertunjukan berikutnya. Saya diam-diam menyapa Gusta, untuk berterimakasih atas ilmu yang telah dibaginya secara cuma-cuma.

“Kanggiang nggih, tiang tumben niki, pertama kali, jadi narasumber. Bukannya grogi, mungkin ada saya salah ucap atau salah kata, ampura nggih,” kata Gusta.

Sampai tulisan ini selesai, saya masih ingin mengukur tubuh Gusta. Mungkin di lain kesempatan. [T]

_____

BACA JUGA:

17 Tahun Perjalanan “10 Fine Art” | Pamerkan Lukisan dan Patung di Gedung DNA Denpasar
17 Tahun Perjalanan “10 Fine Art” | Pamerkan Lukisan dan Patung di Gedung DNA Denpasar
Tags: denpasardenpasar festivallayang-layang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama

Next Post

Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali

Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co