25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
August 14, 2021
in Cerpen
Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Seorang bayi telentang di kamar Elvis, kaki mungilnya menendang-nendang udara seolah-olah ingin melompat lalu lari dari ranjang. Tangisannya semakin nyaring di tengah malam, tangannya mengais-ngais, dan lampu kuning memperlihatkan wajah bayi itu: bercak hitam menempel pada pipinya. Elvis mengangkat bayi itu, mengelap bercak hitam, memperhatikan tahi lalat yang seperti kutu pada ujung hidung bayi. Elvis mengenal bayi itu: bayi laki-laki yang belum sempat ia beri nama.

Mulut bayi itu seperti karet: tiba-tiba terlihat lebar, diikuti suaranya yang melengking, seakan ingin membangunkan semua orang. Tapi, Elvis tak ingin seseorang pun mendengar tangisan bayi itu. Ia tak ingin mengganggu tidur tetangga, atau membuat mereka berpikir bahwa Elvis telah menculik bayi. Kejutan itu cukup membuat dadanya terasa berat. Ia tak dapat membayangkan bagaimana caranya bayi itu bisa di sana. Rumah Elvis memang sepi, tapi jendela dan pintu telah terkunci. Meskipun Mareta yang datang, ia mestinya tak akan bisa masuk.

Tiba-tiba sesuatu memecut kepalanya, Elvis meletakkan kembali bayi itu di ranjang. Ia tak lagi peduli pada tangisan bayi. Lalu, ia menyalakan semua lampu. “Jalang! Perempuan jalang!” gumam Elvis dengan gigi gemeretak, memang tak ada yang lebih sial ketimbang menerima kejutan sehabis kerja. Lalu, ia menggeledah seluruh ruangan. Rumah itu tiba-tiba riuh. Suara pantofel memukul lantai kayu seperti suara para tukang sedang bekerja. Dan, seluruh tempat tersembunyi: lemari, meja, kolong ranjang ia periksa. Rumah itu terasa menyimpan ancaman yang tak sepantasnya dilakukan oleh seorang istri.

Tapi, tak ada hal yang mencurigakan. Pintu masih utuh. Jendela masih terkunci. Elvis menuju ruang belakang. Di ruangan itu terdapat sebuah pintu mungil—sesungguhnya untuk anjing peliharaan. Pikirannya mulai menduga-duga, membayangkan istrinya diam-diam masuk melalui lubang itu, lalu meletakkan bayinya di kamar. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu terbentur. Elvis bergegas ke sana.

“Tak salah lagi!” katanya.

Ia mendapati pintu mungil bergoyang-goyang. Tapi, Anjingnya di sana mengibaskan ekor, menjulurkan lidah. Elvis mematung lalu menghela napas panjang.

“Bodoh!” kata Elvis.

Tentu saja anjing itu tak menunjukkan sesuatu. Anjing itu telah akrab dengan Mareta. Tetapi, sebuah sepatu tergeletak di depan anjing cokelat itu. Bercak lumpur menempel di tepi sepatu putih dengan ukuran kaki perempuan, kaki yang mungil, dan Elvis tahu ukuran kaki Mareta.

“Tak ada gunanya,” pikir Elvis.

Perasaan Elvis mulai mereda, sebab bila saja Mareta telah pergi, suatu waktu pasti akan kembali, itu pun kalau yang datang memang betul Mareta. Sementara itu, bayinya masih merengek; tapi Elvis tak punya pengalaman mengurus bayi, dan tak ada susu di rumahnya. Lagi pula, bayi itu pasti merindukan puting ibunya.

Pakaian kerja belum tanggal, pistol masih menempel pada pinggangnya. Ketika meraba benda itu Elvis berkata, “Kepala perempuan itu lebih baik disarangi peluru.” Tapi, Elvis akan bertemu masalah baru bila menarik pelatuk untuk sebuah kepala. Sejak istrinya mulai mengandung, Elvis ingin mencengkram leher perempuan itu. Leher panjang itu tentu akan tampak mengerikan bila dicengkeram, padahal leher itulah yang Elvis sukai, yang ia pikir tak dimiliki oleh perempuan mana pun: leher yang putih, cukup panjang untuk perempuan mungil.

Perempuan itu terlalu berlebihan, setiap malam ia berkata bahwa bayi dalam perutnya menendang-nendang. Mareta terganggu karena itu: ia muntah setiap kaki dalam perutnya menyepak, dan semakin buruk setelah perutnya membesar. Dari caranya muntah, Mareta seolah ingin mengeluarkan janin itu dengan cara apa saja. Bila memungkinkan, barangkali ia akan mengeluarkannya bersama muntahan.

Elvis hampir kehilangan bayinya suatu malam. Ketika itu ia masih bekerja, tapi ia pulang mendahului teman-temannya: Elvis merasa murung, suara-suara mendengung di telinganya, tapi matanya terasa sangat lelah. Ketika teman-temannya melihat Elvis begitu lemas, mereka memaksa Elvis untuk pulang. Tapi, Elvis berkata ia tak apa-apa, karena memang tak ada alasan semua itu terjadi. “Mungkin kau sakit,” kata temannya.

Akhirnya, Elvis pulang lebih dulu. Dan, ia menjumpai rumahnya dalam keadaan gelap. Pintu terkunci. Tak ada yang menjawab panggilannya. Pintu pun didobrak. Ia dapati darah menggenang di lantai. Dan, Mareta telah terkapar. Berkali-kali, dengan berbagai cara, Mareta mencoba mengeluarkan daging yang mengembang di perutnya itu. Karena itu, Elvis mengajak ibu mertuanya tinggal di sana untuk mengawasi Mareta dan kandungannya.

Bayi itu selamat. Elvis sempat melihat bayi itu di ruang bersalin rumah sakit. Elvis berkata dalam hati, “Betapa menyesalnya bayiku tinggal dalam perut perempuan yang ingin membunuhnya, lahir dari rahim seorang yang selalu mengumpatnya.” Tapi, bayi itu betul-betul mirip Mareta, hanya tahi lalat di ujung hidung yang Elvis wariskan. Matanya seperti mata kucing, alis dan rambut yang tebal, dan leher yang mirip leher ibunya: semua itu milik Mareta.

“Perempuan memang menyebalkan,” pikir Elvis. Ia tiba-tiba terkenang masa perempuan itu mengandung.

Gadis itu berbaring, selimut tergumpal di kakinya, ia memunggungi Elvis. Rambut panjangnya terburai pada punggung, melingkar seperti sarang burung dari bunga rumput. Perempuan itu lebih sulit ditaklukkan, lebih lincah daripada tupai di pelepah kelapa bagi pemburu. Menaklukkan perempuan itu layaknya masuk pada sebuah lorong melingkar dengan ribuan celah yang gelap. Bisik-bisik, perempuan itu menyampaikan maksudnya pada Elvis. Tentu, Elvis akan memenuhi apa pun keinginan istrinya, apalagi bila Mareta berkata, “Anakmu yang menginginkannya.”

“Kau keterlaluan!” kata ibu Mareta.

“Bayi ini menginginkannya,” jawab Mareta.

“Tak semestinya perempuan hamil meminta suaminya berburu!”

“Bukan salahku.”

“Semoga ia selamat.”

“Lelaki tangkas mesti selamat.”

“Juga bayimu!”

“Tentu saja.”

Elvis berjalan bersama anjingnya, sambil bersiul meniru suara burung, berharap hatinya tenang. Ia berdusta pada dirinya—cara seperti itu tak pernah ampuh menaklukkan cemas. Jalanan lenggang, tak ada seorang pun di sana. Sebagaimana biasanya, trotoar hanya hiasan kota. Senapan angin digantung pada punggungnya, sepatu botnya masih bersih, senter sesekali mengintip burung di balik cabang pohon perindang jalan. Dan tatapannya tiba-tiba terpaku pada sebuah rumah.

Anjingnya tiba-tiba menuju pagar rumah itu—pagar yang menjulang dengan sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat hampir mirip dengan bukit. Elvis tahu rumah tua itu. Maka sembari anjingnya mengangkat sebelah kaki belakang, Elvis memastikan tak ada orang yang melihatnya. Jalanan memang sepi, tapi ia khawatir bila seseorang tiba-tiba menegurnya. Rumah itu cukup besar untuk dihuni tapi terlalu gelap untuk seseorang tinggal di sana. Orang-orang membicarakan rumah itu layaknya rumah penyihir yang harus dijauhi. Elvis mengisap rokoknya, tapi menyapu tatap ke sekeliling, tapi anjingnya terasa terlalu lama di sana.

“Ah… aku mulai gila, suara burung dara kini mendengung di telingaku,” keluhnya dalam hati.

Namun, suara burung itu tetap nyaring. Elvis memejam mata memastikan kebenaran suara burung itu. Telinganya yang mulai memudar membuatnya harus berhati-hati mencari sumber suara burung itu. Tiba-tiba pikiran Elvis berubah, ia memberanikan diri memanjat pagar, untuk memastikan pendengarannya. Ia mendongakkan kepala, dan matanya membesar, dan mulutnya terbuka perlahan: sepanjang halaman rumah itu dipenuhi burung dara. Elvis menggelengkan kepalanya seperti anjing mengibaskan bulunya yang basah.

“Kau memang gila seperti istrimu!” kata ibu Mareta setelah mendengar cerita Elvis.

“Ia tak memberi pilihan lain,” jawab Elvis.

“Seharusnya kau beritahu aku sebelum masakan itu ia makan.”

“Aku tahu apa yang akan kau lakukan.”

“Kuharap kalian baik-baik saja.”

“Tak akan ada orang yang membuatku tak baik-baik saja.”

“Kau tak tahu apa-apa.”

“Apa yang perlu kutahu?”

“Tak ada.”

“Tentu tak ada.”

“Kita sudah basah dan hanya bisa berharap,” jawab ibu Mareta.

Sejak itu, perut Mareta yang buncit tak pernah baik-baik saja. Ia sering merasa mual: mual yang berlebihan. Tak ada kutukan seperti yang diceritakan ibunya, tapi perangai Mareta menjadi menyebalkan. Mulutnya mulai lancang melempar sumpah atau kutukan pada bayi dalam perutnya. Dan ia berkata pada Elvis bahwa ia menyesali makhluk yang tiba-tiba bersarang dan bertambah besar di sana.

Elvis selalu berpegang pada kata-kata mertuanya: “Setiap perempuan hamil memang menyebalkan. Kau harus paham!”

Ah… seharusnya perempuan atau bayi itu tak perlu kembali. Mereka hanya akan membawa Elvis pada hal-hal yang sudah ia lupakan dengan payah. Kini, bayi itu datang diam-diam, dan diam-diam pula membawa Elvis pada masa lalu itu: pertama kali Elvis melihat pipi anaknya yang seperti roti mekar merah.

“Ia mestinya masih di sini,” kata Elvis tiba-tiba.

Kini, Elvis menggendong bayi itu, menggoyang-goyangkannya agar lebih tenang. Ia keliling rumah. Perasaan itu muncul lagi. Mungkin Mareta ingin menemuinya, hanya saja, ia tak punya nyali untuk minta maaf. Elvis menuju beranda rumah. Lampu jalanan begitu terang tapi semak-semak di seberang jalan nampak tetap gelap. Mata Elvis seperti kamera yang membidik gambar, memperhatikan sekeliling, lalu menuju tempat itu.

“Suara itu lagi,” kata Elvis. “Mareta mungkin telah menjadi gila,” lanjutnya. “Atau mungkin ini caranya minta maaf.”

Elvis tak lagi berhasrat mengejar. Mareta tahu betul posisi kamar, dan dia pasti paham cara kabur dari rumah itu. Karena itu, Elvis memutuskan keluar, ke seberang jalan, berdiri di depan semak-semak, di bawah pohon perindang jalan. Lampu jalanan yang terang tetap tak bisa menyinari Elvis dan bayinya. Beruntung, Elvis berhasil membuat bayi itu tidur, atau mungkin karena lelah sehingga bayi itu menyerah lalu diam.

Elvis leluasa melihat rumahnya. Dan, lampu kamarnya masih menyala, gorden telah disingkap, jendela terbuka. Tiba-tiba ia melihat bayangan orang bertopi di dalam kamar itu, tampaknya orang itu bingung. “Tepat, itu pasti Mareta,” kata Elvis. Ia segera lari ke sana, memperhatikan bayangan yang nampaknya sedang mencari sesuatu. Elvis berusaha membuat langkahnya tak bersuara. Tapi, satu kesalahannya adalah tidak melepas pantofel. Ketika menyentuh lantai kamar, suara sepatunya didengar oleh orang itu, sehingga orang itu tampak panik, beberapa benda berjatuhan di sana. Elvis mempercepat langkahnya. Tapi terdengar suara jendela terbentur. Lalu Elvis menuju beranda.

“Dia tidak terlalu cepat,” kata Elvis. Tetanaman di dekat jendela bergerak-gerak. Bergegas tangan kanan Elvis mengeluarkan pistol. Semak itu masih bergoyang-goyang, “Ia di sana,” kata Elvis dalam hati. Moncong pistol mengarah ke semak-semak itu. Perlahan-lahan ia mendekat. Lalu Elvis menyibak semak itu. “Sial. Tak selambat yang kubayangkan!” kata Elvis.

Yang ia jumpai hanya anjingnya yang kini sibuk mengoyak bangkai burung dara. “Tentu saja ini ide Mareta. Perempuan jadah!” ucap Elvis sekali lagi. “Hal yang sama ia lakukan ketika kabur dari ruang bersalin! Ah, perempuan itu memang gila!” [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tombak Bermata Tiga

Next Post

Flores The Singing Island Festival: Memperkenalkan Flores Sebagai Pulau Bernyanyi

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Flores The Singing Island Festival: Memperkenalkan Flores Sebagai Pulau Bernyanyi

Flores The Singing Island Festival: Memperkenalkan Flores Sebagai Pulau Bernyanyi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co