14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
August 14, 2021
in Cerpen
Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Seorang bayi telentang di kamar Elvis, kaki mungilnya menendang-nendang udara seolah-olah ingin melompat lalu lari dari ranjang. Tangisannya semakin nyaring di tengah malam, tangannya mengais-ngais, dan lampu kuning memperlihatkan wajah bayi itu: bercak hitam menempel pada pipinya. Elvis mengangkat bayi itu, mengelap bercak hitam, memperhatikan tahi lalat yang seperti kutu pada ujung hidung bayi. Elvis mengenal bayi itu: bayi laki-laki yang belum sempat ia beri nama.

Mulut bayi itu seperti karet: tiba-tiba terlihat lebar, diikuti suaranya yang melengking, seakan ingin membangunkan semua orang. Tapi, Elvis tak ingin seseorang pun mendengar tangisan bayi itu. Ia tak ingin mengganggu tidur tetangga, atau membuat mereka berpikir bahwa Elvis telah menculik bayi. Kejutan itu cukup membuat dadanya terasa berat. Ia tak dapat membayangkan bagaimana caranya bayi itu bisa di sana. Rumah Elvis memang sepi, tapi jendela dan pintu telah terkunci. Meskipun Mareta yang datang, ia mestinya tak akan bisa masuk.

Tiba-tiba sesuatu memecut kepalanya, Elvis meletakkan kembali bayi itu di ranjang. Ia tak lagi peduli pada tangisan bayi. Lalu, ia menyalakan semua lampu. “Jalang! Perempuan jalang!” gumam Elvis dengan gigi gemeretak, memang tak ada yang lebih sial ketimbang menerima kejutan sehabis kerja. Lalu, ia menggeledah seluruh ruangan. Rumah itu tiba-tiba riuh. Suara pantofel memukul lantai kayu seperti suara para tukang sedang bekerja. Dan, seluruh tempat tersembunyi: lemari, meja, kolong ranjang ia periksa. Rumah itu terasa menyimpan ancaman yang tak sepantasnya dilakukan oleh seorang istri.

Tapi, tak ada hal yang mencurigakan. Pintu masih utuh. Jendela masih terkunci. Elvis menuju ruang belakang. Di ruangan itu terdapat sebuah pintu mungil—sesungguhnya untuk anjing peliharaan. Pikirannya mulai menduga-duga, membayangkan istrinya diam-diam masuk melalui lubang itu, lalu meletakkan bayinya di kamar. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu terbentur. Elvis bergegas ke sana.

“Tak salah lagi!” katanya.

Ia mendapati pintu mungil bergoyang-goyang. Tapi, Anjingnya di sana mengibaskan ekor, menjulurkan lidah. Elvis mematung lalu menghela napas panjang.

“Bodoh!” kata Elvis.

Tentu saja anjing itu tak menunjukkan sesuatu. Anjing itu telah akrab dengan Mareta. Tetapi, sebuah sepatu tergeletak di depan anjing cokelat itu. Bercak lumpur menempel di tepi sepatu putih dengan ukuran kaki perempuan, kaki yang mungil, dan Elvis tahu ukuran kaki Mareta.

“Tak ada gunanya,” pikir Elvis.

Perasaan Elvis mulai mereda, sebab bila saja Mareta telah pergi, suatu waktu pasti akan kembali, itu pun kalau yang datang memang betul Mareta. Sementara itu, bayinya masih merengek; tapi Elvis tak punya pengalaman mengurus bayi, dan tak ada susu di rumahnya. Lagi pula, bayi itu pasti merindukan puting ibunya.

Pakaian kerja belum tanggal, pistol masih menempel pada pinggangnya. Ketika meraba benda itu Elvis berkata, “Kepala perempuan itu lebih baik disarangi peluru.” Tapi, Elvis akan bertemu masalah baru bila menarik pelatuk untuk sebuah kepala. Sejak istrinya mulai mengandung, Elvis ingin mencengkram leher perempuan itu. Leher panjang itu tentu akan tampak mengerikan bila dicengkeram, padahal leher itulah yang Elvis sukai, yang ia pikir tak dimiliki oleh perempuan mana pun: leher yang putih, cukup panjang untuk perempuan mungil.

Perempuan itu terlalu berlebihan, setiap malam ia berkata bahwa bayi dalam perutnya menendang-nendang. Mareta terganggu karena itu: ia muntah setiap kaki dalam perutnya menyepak, dan semakin buruk setelah perutnya membesar. Dari caranya muntah, Mareta seolah ingin mengeluarkan janin itu dengan cara apa saja. Bila memungkinkan, barangkali ia akan mengeluarkannya bersama muntahan.

Elvis hampir kehilangan bayinya suatu malam. Ketika itu ia masih bekerja, tapi ia pulang mendahului teman-temannya: Elvis merasa murung, suara-suara mendengung di telinganya, tapi matanya terasa sangat lelah. Ketika teman-temannya melihat Elvis begitu lemas, mereka memaksa Elvis untuk pulang. Tapi, Elvis berkata ia tak apa-apa, karena memang tak ada alasan semua itu terjadi. “Mungkin kau sakit,” kata temannya.

Akhirnya, Elvis pulang lebih dulu. Dan, ia menjumpai rumahnya dalam keadaan gelap. Pintu terkunci. Tak ada yang menjawab panggilannya. Pintu pun didobrak. Ia dapati darah menggenang di lantai. Dan, Mareta telah terkapar. Berkali-kali, dengan berbagai cara, Mareta mencoba mengeluarkan daging yang mengembang di perutnya itu. Karena itu, Elvis mengajak ibu mertuanya tinggal di sana untuk mengawasi Mareta dan kandungannya.

Bayi itu selamat. Elvis sempat melihat bayi itu di ruang bersalin rumah sakit. Elvis berkata dalam hati, “Betapa menyesalnya bayiku tinggal dalam perut perempuan yang ingin membunuhnya, lahir dari rahim seorang yang selalu mengumpatnya.” Tapi, bayi itu betul-betul mirip Mareta, hanya tahi lalat di ujung hidung yang Elvis wariskan. Matanya seperti mata kucing, alis dan rambut yang tebal, dan leher yang mirip leher ibunya: semua itu milik Mareta.

“Perempuan memang menyebalkan,” pikir Elvis. Ia tiba-tiba terkenang masa perempuan itu mengandung.

Gadis itu berbaring, selimut tergumpal di kakinya, ia memunggungi Elvis. Rambut panjangnya terburai pada punggung, melingkar seperti sarang burung dari bunga rumput. Perempuan itu lebih sulit ditaklukkan, lebih lincah daripada tupai di pelepah kelapa bagi pemburu. Menaklukkan perempuan itu layaknya masuk pada sebuah lorong melingkar dengan ribuan celah yang gelap. Bisik-bisik, perempuan itu menyampaikan maksudnya pada Elvis. Tentu, Elvis akan memenuhi apa pun keinginan istrinya, apalagi bila Mareta berkata, “Anakmu yang menginginkannya.”

“Kau keterlaluan!” kata ibu Mareta.

“Bayi ini menginginkannya,” jawab Mareta.

“Tak semestinya perempuan hamil meminta suaminya berburu!”

“Bukan salahku.”

“Semoga ia selamat.”

“Lelaki tangkas mesti selamat.”

“Juga bayimu!”

“Tentu saja.”

Elvis berjalan bersama anjingnya, sambil bersiul meniru suara burung, berharap hatinya tenang. Ia berdusta pada dirinya—cara seperti itu tak pernah ampuh menaklukkan cemas. Jalanan lenggang, tak ada seorang pun di sana. Sebagaimana biasanya, trotoar hanya hiasan kota. Senapan angin digantung pada punggungnya, sepatu botnya masih bersih, senter sesekali mengintip burung di balik cabang pohon perindang jalan. Dan tatapannya tiba-tiba terpaku pada sebuah rumah.

Anjingnya tiba-tiba menuju pagar rumah itu—pagar yang menjulang dengan sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat hampir mirip dengan bukit. Elvis tahu rumah tua itu. Maka sembari anjingnya mengangkat sebelah kaki belakang, Elvis memastikan tak ada orang yang melihatnya. Jalanan memang sepi, tapi ia khawatir bila seseorang tiba-tiba menegurnya. Rumah itu cukup besar untuk dihuni tapi terlalu gelap untuk seseorang tinggal di sana. Orang-orang membicarakan rumah itu layaknya rumah penyihir yang harus dijauhi. Elvis mengisap rokoknya, tapi menyapu tatap ke sekeliling, tapi anjingnya terasa terlalu lama di sana.

“Ah… aku mulai gila, suara burung dara kini mendengung di telingaku,” keluhnya dalam hati.

Namun, suara burung itu tetap nyaring. Elvis memejam mata memastikan kebenaran suara burung itu. Telinganya yang mulai memudar membuatnya harus berhati-hati mencari sumber suara burung itu. Tiba-tiba pikiran Elvis berubah, ia memberanikan diri memanjat pagar, untuk memastikan pendengarannya. Ia mendongakkan kepala, dan matanya membesar, dan mulutnya terbuka perlahan: sepanjang halaman rumah itu dipenuhi burung dara. Elvis menggelengkan kepalanya seperti anjing mengibaskan bulunya yang basah.

“Kau memang gila seperti istrimu!” kata ibu Mareta setelah mendengar cerita Elvis.

“Ia tak memberi pilihan lain,” jawab Elvis.

“Seharusnya kau beritahu aku sebelum masakan itu ia makan.”

“Aku tahu apa yang akan kau lakukan.”

“Kuharap kalian baik-baik saja.”

“Tak akan ada orang yang membuatku tak baik-baik saja.”

“Kau tak tahu apa-apa.”

“Apa yang perlu kutahu?”

“Tak ada.”

“Tentu tak ada.”

“Kita sudah basah dan hanya bisa berharap,” jawab ibu Mareta.

Sejak itu, perut Mareta yang buncit tak pernah baik-baik saja. Ia sering merasa mual: mual yang berlebihan. Tak ada kutukan seperti yang diceritakan ibunya, tapi perangai Mareta menjadi menyebalkan. Mulutnya mulai lancang melempar sumpah atau kutukan pada bayi dalam perutnya. Dan ia berkata pada Elvis bahwa ia menyesali makhluk yang tiba-tiba bersarang dan bertambah besar di sana.

Elvis selalu berpegang pada kata-kata mertuanya: “Setiap perempuan hamil memang menyebalkan. Kau harus paham!”

Ah… seharusnya perempuan atau bayi itu tak perlu kembali. Mereka hanya akan membawa Elvis pada hal-hal yang sudah ia lupakan dengan payah. Kini, bayi itu datang diam-diam, dan diam-diam pula membawa Elvis pada masa lalu itu: pertama kali Elvis melihat pipi anaknya yang seperti roti mekar merah.

“Ia mestinya masih di sini,” kata Elvis tiba-tiba.

Kini, Elvis menggendong bayi itu, menggoyang-goyangkannya agar lebih tenang. Ia keliling rumah. Perasaan itu muncul lagi. Mungkin Mareta ingin menemuinya, hanya saja, ia tak punya nyali untuk minta maaf. Elvis menuju beranda rumah. Lampu jalanan begitu terang tapi semak-semak di seberang jalan nampak tetap gelap. Mata Elvis seperti kamera yang membidik gambar, memperhatikan sekeliling, lalu menuju tempat itu.

“Suara itu lagi,” kata Elvis. “Mareta mungkin telah menjadi gila,” lanjutnya. “Atau mungkin ini caranya minta maaf.”

Elvis tak lagi berhasrat mengejar. Mareta tahu betul posisi kamar, dan dia pasti paham cara kabur dari rumah itu. Karena itu, Elvis memutuskan keluar, ke seberang jalan, berdiri di depan semak-semak, di bawah pohon perindang jalan. Lampu jalanan yang terang tetap tak bisa menyinari Elvis dan bayinya. Beruntung, Elvis berhasil membuat bayi itu tidur, atau mungkin karena lelah sehingga bayi itu menyerah lalu diam.

Elvis leluasa melihat rumahnya. Dan, lampu kamarnya masih menyala, gorden telah disingkap, jendela terbuka. Tiba-tiba ia melihat bayangan orang bertopi di dalam kamar itu, tampaknya orang itu bingung. “Tepat, itu pasti Mareta,” kata Elvis. Ia segera lari ke sana, memperhatikan bayangan yang nampaknya sedang mencari sesuatu. Elvis berusaha membuat langkahnya tak bersuara. Tapi, satu kesalahannya adalah tidak melepas pantofel. Ketika menyentuh lantai kamar, suara sepatunya didengar oleh orang itu, sehingga orang itu tampak panik, beberapa benda berjatuhan di sana. Elvis mempercepat langkahnya. Tapi terdengar suara jendela terbentur. Lalu Elvis menuju beranda.

“Dia tidak terlalu cepat,” kata Elvis. Tetanaman di dekat jendela bergerak-gerak. Bergegas tangan kanan Elvis mengeluarkan pistol. Semak itu masih bergoyang-goyang, “Ia di sana,” kata Elvis dalam hati. Moncong pistol mengarah ke semak-semak itu. Perlahan-lahan ia mendekat. Lalu Elvis menyibak semak itu. “Sial. Tak selambat yang kubayangkan!” kata Elvis.

Yang ia jumpai hanya anjingnya yang kini sibuk mengoyak bangkai burung dara. “Tentu saja ini ide Mareta. Perempuan jadah!” ucap Elvis sekali lagi. “Hal yang sama ia lakukan ketika kabur dari ruang bersalin! Ah, perempuan itu memang gila!” [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tombak Bermata Tiga

Next Post

Flores The Singing Island Festival: Memperkenalkan Flores Sebagai Pulau Bernyanyi

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Flores The Singing Island Festival: Memperkenalkan Flores Sebagai Pulau Bernyanyi

Flores The Singing Island Festival: Memperkenalkan Flores Sebagai Pulau Bernyanyi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co