14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Raudal Tanjung Banua | Nyanyian Panjang Talang Sungai Parit

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
May 5, 2024
in Puisi
Puisi Raudal Tanjung Banua | Nyanyian Panjang Talang Sungai Parit

Raudal; Tanjung Banua | Foto diambil dari facebook

NYANYIAN PANJANG TALANG SUNGAI PARIT

1.
Talang Sungai Parit, luak warisan
Benua Awan (kini tetap tegak
Dijaga roh-roh keramat pilihan,
hanya tak nampak
dalam pandangan).

Di sini kami tinggal, membangun rumah
Membuka huma. Begawai, badukun, babalian, menugal tanah
Menabur benih. Panen suka cita. Beranak-pinak. Dan yang pergi
Kami lepas dengan upacara naik tambak atau tepung tawar
Tanpa banyak pinta pun ratapan (kami tahu, ajal tak bisa ditawar
tapi kasih abadi bagai titik air di pipi awan
Mendung yang menyimpan tempias angin
dan sejuk hujan)

Kami telah bergeser dari tepian sungai besar, Indragiri atau Kuantan,
Masuk lebih dalam ke hutan tanah ulayat
Bagai memasuki daulat Patih Besi
dalam pagar makam tuha tak terkunci (dan mika merestui,
lewat isyarat kayangan yang dimengerti batin dan kumantan)

2.
Lama kami melambas, makin jauh kami menerabas
Memaron ranting-ranting pohon dalam perapian
sambil memohon abu kesuburan
Hingga telah kami lewati Pasir Bongkal,
meninggalkan makam Patih Besi, leluhur agung kami
nun di tepian arus Indragiri
di bawah batang sialang lebat daun

Rohnya bersemayam di pucuk
ubun-ubun sialang lengang
yang terus meninggi memantau huma dan hunian
Memulun lebah dan manisan,
Menggusah burung-burung pemangsa
dan jembalang mata hitam
Mengasuh inang dan bunian
di tiap jengkal lahan Cindawati, sang pewaris sah
yang kami cintai. Hingga kami tak mengenal lapar,
perang dan penyakit menular

Begitulah kami susuri hulu dan alur sungai-sungai kecil
yang mengalir ke Indragiri jua,
menyepuh menyapa makam keramat patih juga
Sungai-sungai kecil itu bagai sungai suratan nasib
di garis telapak tangan kami
yang mengalir berdenyut ke urat nadi
Dan sesekali bergolak dalam kepalan jari
Rindu menunggu atau geram mencari
hulu dan kuala, mata air dan air mata.

Hingga kami sadar, tak ada yang benar-benar tertinggal,
Tak ada yang betul-betul terlupa, abai atau alpa,
Sepanjang kami tegakkan adat dan ritual
Menjaga pantangan dan larangan
Merentang benang silsilah, mengikat makna upacara
Mengeratkan yang lalu dan akan datang
Membentang pula benang kasih
antara yang tiba dan yang pergi
antara yang hidup dan yang mati.

3.
Sebenarnya kami lebih suka merentang tangan
Bersalaman, bagi siapa pun yang datang, menyusul atau bersisian
Apalagi bagi saudara-saudara kami, sedarah sesilsilah
Sebatin sekumantan, turunan Patih Nang Sabatang:
anak cucu Patih Besi, Patih Bunga, Patih Kelopak
Itulah kami, orang-orang Talang Mamak,
cucu-cicit Patih Nang Batiga (mulialah namanya!)

Di Talang Sungai Parit, Talang Sungai Limau atau Talang Gedabu
kami berjaga. Di Talang Perigi, Talang Tujuh Tangga,
Talang Durian Cacar atau Talang Sukamaju (yang baru mekar)
beserta puluhan luak harapan
kami tegakkan marwah leluhur

Di hamparan tanah warisan
dari tepian Indragiri hingga ke Bukit Tiga Puluh
dari Kelayang hingga Rakit Kulim
dari Rengat Barat ke Batang Gangsal
dari Batang Cendaku hingga ke Semerintihan, Suo-Suo,
Bendera adat tegakkan

Begitulah kami memutuskan bergeser menjauh
ke hutan-hutan nenek moyang
bergeser bukan berarti kalah
Maju tak mencari musuh
Mundur tak menangisi masa lalu
Lalu apa lagi yang kalian minta?

4.
Setelah sungai-sungai mati berganti parit-parit sawit
Rawa-rawa mengering, gambut kurus susut
Bagai rambut amai-amai kami yang kusut oleh derita
Dan huma ladang sepi tanpa perapian
(“Dilarang membakar lahan”, begitu pengumuman
menyamaratakan lahan kami dengan lahan perusahaan)

Maka lihatlah, tunggul-tunggul kayu di huma
diam menunggu. Bagai kata bersilang dalam tungku
Alasan dan pembelaan kami untuk sekadar bertanam padi
kalian abaikan. Ibarat abah kami duduk hikmat di balai-balai
Tanpa rokok dan tembakau, masih tak kau tahu
tiada siksa sekejam itu?

Tapi kau, juru bicara mereka yang datang,
Berkata setenang tawaran harga komoditi saat gemilang,
”Lihatlah, parit sawit ini, bagai selat atau lautan
akan melayarkan tandan-tandan buah segar
ke pasar-pasar dunia…”

Ah, sebelum berlayar kami telah lebih dulu remuk
tertimpa janji lapuk dan beban sejarah yang membusuk
Sebab parit-parit ini tak cukup mampu menyeberangkan kami
ke masa lain, bersalin rupa atas hari-hari buruk
Lamur dan kemaruk! Parit-parit tak berhulu tak berkuala
Bagaimana mungkin memulangkan kami ke masa lalu
Atau menyeberangkan kami melintasi masa?

Kami terkatung antara masa silam dan masa depan
Tergantung tak bertali antara langit kelabu dan bumi yang rata
Tak ada pohonan tempat bersandar, tiada akar
tempat menyelam. Alam semata kelam
di tangan para pesulap kakap, tega dan kalap!

Jelas ini bukan lautan pantai timur,
Bukan pula selat Malaka yang pernah diarungi leluhur
dengan rakit kulim Bukit Kairndaan
Menjemput Raja Narasinga untuk didudukkan
di atas tahta Rengat Lama
Karena yakin, mika Raja adil raja disembah
Maka kami persembahkan buah-buah hutan;
jerenang, rotan dan madu lebah
Buah-buah huma dan belukar rimba;
cempedak, talas, gintan dan padi ladang
kami antar ke istana tiap Lebaran tiba
Daulat dan titah menyatu
menjadi bayang-bayang sepanjang badan
mengukur tanah tempat bermukim

(Sedang dengan kalian
kami enggan berbagi!)

5.
Tapi kini kalian duduk sendiri, tak mau di tepi-tepi
Berkata tiada merendah, berjanji setinggi-tingginya.
Kalian bangun tahta sendiri
di atas tanah yang bukan kalian pemiliknya

Dan pasar-pasar dunia justru masuk ke jagad keramat kami
Membawa bibit sawit dan deru mesin-mesin
Di tanah-tanah hutan ulayat
Udara kami bagai mengandung bibit penyakit
yang bersipongang tiada obat
Bahkan kalian paksa kami melepas lahan yang tinggal
Seluas sehampar telapak tangan nasib ini
sejengkal sudah dekat kematian

O, jangan! Jangan mati setampang benih
yang kami genggam. Sebab akan kami tanam di ladang-ladang
Itulah nafas kami yang sejati. Jangan rebut milik kami
yang memberi sisa harapan
Biarkan kami menjaga huma, menugal dan terus menanam
Apa yang layak kami tanam (seperti terang susut cahaya,
Kami pun paham makna niscaya)

Dan ketahuilah, pangkal tugal kami erat dalam genggaman
Ujung runcingnya setajam paruh secerlang mata elang
Kilaunya adalah seberkas cahaya maut di mata pedang
Tinggal menunggu jerit olang, elang keramat roh moyang
Kelak, dalam sehembus angin jelatang, mungkin
Kami menugal di jantung kalian, o, para pecundang!

Simaklah nyanyian kami, nyanyian orang-orang Talang Mamak
Di tepi zaman. Luka dan dendam dapat kami simpan
Tapi marwah tak ‘kan kami abaikan. Catatlah baik-baik
bait-bait sakit ini. Kami menulisnya dengan runcing ujung tugal
Seperti pena anak-anak kami yang tak majal
menuliskan kata-katanya sendiri
bagi masa depan mereka yang kekal….

/Talang Sungai Parit-Yogya, Maret 2024

  1. Luak artinya kampung atau tempat mukim yang sudah diikat oleh aturan-aturan dan kesepakatan adat.
  2. Benua Awan, pemukiman awal masyarakat Talang Mamak yang kemudian berkembang menjadi Desa Talang Sungai Parit sekarang.
  3. Begawai, badukun, babalian, Sejumlah upacara masyarakat adat Talang Mamak; begawai (ritual pernikahan), badukun (pengobatan), Babalian (pengobatan, penyembuhan)
  4. Naik tambak, upacara kematian bagi batin, dukun, kumantan atau orang yang meninggal karena suatu tragedi, misal karena mati dibunuh. Bagi warga yang meninggal biasa dilepas dengan upacara naik tanah.
  5. Tepung tawar, rangkaian upacara kematian, pungkasan melepas roh setelah sebulan atau empat puluh hari peristiwa kematian. Kadang disebut juga pelis tawar karena menggunakan buah jelai/pelis sebagai aksesoris yang menghiasi rumah-rumahan tempat roh diyakini bersemayam.
  6. Tuha, tua. Orang Talang Mamak disebut juga suku tuha, suku tua.
  7. Mika, dia
  8. Batin, pimpinan adat masyarakat Talang Mamak.
  9. Kumantan, pimpinan ritual dalam masyarakat Talang Mamak.
  10. Malambas, pemberitahuan kepada petala guru bahwa hutan yang dibuka akan dijadikan ladang.
  11. Memaron, mengumpulkan dan memilih kayu untuk dibakar.
  12. Amai, panggilan untuk ibu; amai-amai sama dengan ibu-ibu.
  13. Olang, sebutan untuk elang yang dianggap sebagai burung bertuah.
  14. Talang Mamak di Tepi Zaman, judul buku Syafrizaldi JPG (2023) tentang masyarakat adat Talang Mamak.
  • KLIK [] BACA puisi-puisi lain
Puisi-puisi Budhi Setyawan | Mendengar Lagu Blues dan Teringat Chairil Anwar
Puisi-Puisi Muhammad Daffa | Dari Sungai Kepada Batu
Noorca M. Massardi | 7 Puisi Sapta dan 5 Puisi Panca
Puisi-puisi Ketut Yuliarsa | Air Danau Gunung
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Next Post

Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Dua Bandit Kecil dan Seorang Ibu yang Dihujani Banyak Masalah | Cerpen Sonhaji Abdullah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co