23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
March 23, 2024
in Cerpen
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co

AKU memeluknya seperti boneka kecil, lalu mencium keningnya lembut. Semprotan air  yang terus ke luar dari shower  menerpa tubuh kami sengaja ia matikan pelan-pelan. Kemudian ia berbisik di telingaku, kata-katanya meruntuhkan ketulusanku.

“Jika kau perlakukan aku seperti ini, aku teringat pada Mas Refli, kau dan dia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing dalam bercinta!”

Bayangkan sehancur apa hatiku. Aku tidak suka dibanding-bandingkan dengan siapapun, walaupun aku yang dimenangkan. Dengan segera aku melepas pelukan itu. Ketika aku dan istriku bercinta, malah ia mengingat lelaki lain, walaupun itu mantan suaminya yang sudah meninggal, tetap aku merasa cemburu.

Waktu kami pacaran dulu, ia sering membuat status yang menunjukkan ia belum bisa melupakan masa lalu itu. Membuat kegundahan tumbuh di hatiku, karena perasaan rindunya yang masih membuncah-buncah pada almarhum suami, dan aku bisa memaklumi, karena suaminya meninggal baru beberapa bulan waktu itu.

Contoh statusnya yang panjang dan menggunakan foto yang pernah dipostingnya  seperti ini:   

Malam ini akusengaja duduk di halte, sembari menunggu ojek online. Aku melihat begitu banyak orang yang berlalu lalang di depanku, tetapi aku menyadari satu hal, dari sekian banyak orang tersebut, ternyata aku tidak akan bisa melihatmu lagi.

Awalnya aku diam, tapi lama-lama aku tak tahan, kecemburuan dalam jiwaku terus memberontak, dan akhirnya membuatku tersakiti sendiri. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya melampiaskan kekesalanku lewat ketikan, dan kukirimkan untuknya pesan itu.

Pesan yang ditulis Resti untuk almarhum suaminya membuatku marah, sampai-sampai berniat meninggalkannya waktu itu. Dan dia membalasku yang kesal dengan kata-kata yang lembut pada pertemuan kami di rumah seseorang.

 “Sayang, tadi aku ulang lagi baca pesan kamu, dan ternyata di sini aku yang tidak menjaga perasaan kamu. Aku tidak bermaksud seperti itu, dan aku minta maaf. Sekarang aku tidak mau membahas hal yang berlalu. Intinya sekarang cukup aku dan kamu, dan cerita kita ke depannya. Aku ingin kita membahas tentang kita saja, dan aku janji hal seperti ini tidak terjadi lagi. Aku tidak mau kamu merasa masih ada hal lain di pikiran aku. Aku ke depannya hanya fokus ke kamu, karena kamulah yang ada di hidup aku sekarang, seperti yang pernah kubilang sebelumnya, Tuhan  mengambil sesuatu dari aku, tapi Tuhan juga menggantikan sesuatu itu dengan kehadiran kamu. Aku merasa memang kamulah teman hidup aku ke depannya. Aku harap seperti itu ya. Jadi jangan memikirkan apa-apa lagi. Kita fokus saja dengan cerita kita dan kehidupan kita. Tidak usah mengingat masa lalu yang telah usai!”

Ucapannya begitu santai dengan keyakinan penuh. Ia mampu menyihirku, dan memang ia berhasil membuatku terpesona.

Ternyata kata-katanya omong kosong belaka, dan tidak seharusnya aku percayai waktu itu. Kenyataannya ia menyimpan seseorang dalam hati. Apa benar kata-kata teman perempuanku dulu, rahasia perempuan yang sulit terungkap, ia bisa mencintai dua lelaki sekaligus dalam waktu bersamaan, dan yang buaya itu bukan saja lelaki macamnya. Aku merasakan itu sekarang, aku yang tulus mencintainya ia sia-siakan, dan aku sadar, cinta tak bisa dipaksakan. Aku sering melihat sinaran cinta di matanya, aku bahagia sekali. Tapi setelah aku tahu itu bukan untukku, aku pun remuk seperti sepotong kue yang digenggam, kemudian diperas sekuat-kuatnya, lalu dicampakkan.

Apa aku harus membalas keperihan yang di lemparnya untukku? Apa perlu aku bercerita tentang kisahku ketika aku berpacaran dengan perempuan Eropa itu? Lalu aku menyebut-menyebut nama perempuan itu  dengan lembut di depan istriku menunjukkan kerinduanku, biar dia cemburu seperti yang aku rasakan.

Dulu semasih pacaran, aku tidak berhak marah berlebihan, karena ia belum resmi jadi milikku. Sekarang dia istriku, dan aku ingin ia mencintaiku seorang saja, tidak boleh ada orang lain dalam pikirannya.

“Aku sudah bilang padamu dulu, aku seorang janda, dan tentu punya masa lalu. Bukan saja dengan almarhum, tapi juga dengan keluarganya!”

Aku yang berharap ia bisa menyingkirkan nama itu dariku setelah aku jadi suaminya, ternyata gagal. Masih sering nama itu disebut. Aku ingin, jika ia masih mengingatnya terus-terusan, cukup dalam kesendiriannya, jangan di dekatku. Apalagi sampai ia menyeret-nyeretku untuk bicara tentang itu, tapi ia tak pernah mengerti aku.

 “Makanya seseorang yang menikah dengan janda, adalah seorang yang harus bisa berlapang dada. Dan bisa jadi nanti kau mengalami hal yang lebih sulit dari ini. Misalnya kau dibanding-bandingkan nanti dengan almarhum suamiku oleh keluarganya, lalu mereka memburukkanmu!”

Ia terus memukulku, dan aku semakin tak tahan. Aku teringat pada gadis Eropa itu, kulitnya yang putih membuatku ingin memeluknya terus tanpa lepas. Tapi aku terpaksa menyuruh ia pulang, setelah ia mengakui ketulusan cintanya padaku. Ia mau mencopot keyakinannya lalu pindah agamaku. Tapi orang-orang di kampungku bilang, itu pasti bertahan sebentar, apalagi orang tuaku tak merestui walaupun perempuan Eropa itu sudah menyatakan mau tinggal di Indonesia bersamaku. Akhirnya ia pergi ke negaranya dengan perasaan hampa, dan aku memilih hidup bersama Resti.

 “Apa yang ingin kau katakan, katakan saja meskipun kau yakin itu membuatku marah!”

Istriku tahu, aku menyimpan sesuatu dalam pikiranku.

 “Kalau kau pernah punya pacar sebelum menikah denganku, itu hal yang wajar bagi seorang laki-laki, dan aku tidak kecewa karena itu!”

Sepertinya ia tahu apa isi dalam kepalaku. Perempuan Eropa belum hilang dalam ingatanku. Aku melihat ia ada di sini menyaksikan perseteruanku dengan istriku, dan ia tersenyum, lalu berkata singkat, Johan, itulah hukuman bagi laki-laki yang telah menyingkirkan ketulusan seorang perempuan, lalu kau terhempas pada pelukan yang salah. Aku merasakan rindu yang tak terbendung pada perempuan Eropa itu secara tiba-tiba setelah perang dengan istriku.

 “Aku sedang memikirkan perempuan Eropa itu!” Walaupun sekilas, ia memang tahu tentang perempuan itu.

 “Kenapa kau belum bisa melupakan dia? Kan sudah ada aku di sisimu.” Ia begitu egois. Semakin kuat keinginanku untuk menyakiti hati istriku.

 “Sama sepertimu, yang belum bisa melupakan Refli!”

Mendengar jawabanku, ia memalingkan wajah.

 “Selama kalian pacaran, apa kau pernah ke negaranya? Maksudku ke rumahnya langsung, bertemu dengan orang tuanya?” Ia menatapku kembali.

Aku mengangguk, membuat ia semakin kesal. Aku yang sengaja memanas-manasinya ingin tahu, bagaimana reaksinya menanggapi masa laluku dengan perempuan Eropa itu.

 “Itu sih masa lalumu, yang mungkin bisa terulang lagi, beda denganku. Walaupun aku cerita semesra apa tentang suamiku, itu tidak akan bisa terulang lagi, karena dia sudah mati!”

Ia menunjukkan sikapnya yang tak mau kalah, dan yang tak mengerti aku yang cemburu pada yang sudah mati itu, dan aku harus melawan pendapatnya.

 “Bisa saja kisahmu terulang di surga nanti!”

Mendengar ucapanku ia tertawa.

 “Pikiranmu terlalu jauh, lagian belum tentu aku dan Refli masuk surga!”

Ia tetap dalam pendiriannya, tak ada niat mengubah sikap agar ia jangan membuatku cemburu lagi. Saatnya aku beraksi untuk membuat ia benar-benar sakit hati.

 “Kalau ada reski dan kesempatan aku ingin ke Belanda untuk beberapa hari menemui perempuan Eropa itu, aku sangat merindukannya,” ucapku tegas.

Ia menggigit bibir, lalu meludah di atas lantai, kemudian ia keluar dari kamar mandi sambil membanting pintu.

Konflik yang terjadi antara aku dan dia, semakin hari membesar. Berhari-hari aku tak pernah menyentuhnya.

         ***

Istriku mendatangiku yang lagi duduk di teras rumah sambil baca buku, ia menangis dan meminta maaf. Tapi entah kenapa, aku pun tak tahu apa yang terjadi pada diriku, yang jelas hatiku masih keras. Menurutku tak pantas diberi ampun kesalahan istriku. Karena istri yang terus mengingat lelaki lain yang sudah mati, itu adalah bentuk perselingkuhan yang halus, dan apapun bentuk perselingkuhan tidak bisa diberi ampun.

 “Kau tidak salah apa-apa Resti. Kau boleh mengingatnya terus, dan juga mencintainya. Jejak hati pada seseorang yang sudah bisa membuat kita nyaman dalam kenangan, tidak akan bisa dihapus oleh orang lain!”

Airmatanya masih titik, ia belum berhenti menangis.  

 “Maafkan aku sayang, tolong maafkan aku.”

Aku sudah berpikir matang dalam beberapa hari ini. Kelakuannya yang menyebut-nyebut kemesraan dengan suaminya tak akan pernah ia tinggalkan. Jalan terbaik aku harus menceraikannya. Aku berusaha untuk tidak membencinya. Aku mengambil keputusan bulat ini, karena ingin menyelamatkan diriku dari perempuan yang mencintai dua orang laki-laki dalam waktu bersamaan. Aku tidak mau dicintai perempuan yang juga memikirkan lelaki lain, aplagi ia sudah mati. Bersaing dengan dia yang telah mati saja aku kalah, apalagi kalau ia hidup kembali, semakin tercecerlah aku yang tercela ini dibuatnya.  

 “Dalam bulan ini aku ke Belanda bertemu Aleid.” 

 “Terus bagaimana denganku?”

 “Aku tidak bisa mencintai perempuan yang isi kepalanya juga memikirkan lelaki lain.”

***

Bayangkanlah kemudian, aku sudah tiba di Belanda bertemu dengan Aleid yang sudah punya suami.

 “Percuma kau datang. Dulu kau mencampakkanku di Indonesia, sekarang aku yang menyuruhmu pergi dari negaraku. Lelaki yang tidak punya perasaan sepertimu, tidak pantas menginjakkan kaki di negeriku!” Akhirnya aku pulang membawa luka. [T]

BACA cerpen lain di rubrik CERPEN

Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hakim Adalah Manusia Biasa

Next Post

Puisi-puisi Winar Ramelan | Nyepi Untuk Pulang ke Diri

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Winar Ramelan | Nyepi Untuk Pulang ke Diri

Puisi-puisi Winar Ramelan | Nyepi Untuk Pulang ke Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co