24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Wahyudi Prasancika by Wahyudi Prasancika
January 20, 2024
in Cerpen
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Ilustrasi tatkala.co

Sin!

Kalo misal aku udah siap dengan setiap kemungkinan terburuk saat confess ke dia, menurutmu gimana?

Mending aku jujur atau yaudah temenan aja?

Setelah berpikir cukup lama akhirnya pesan-pesan ini aku kirimkan lewat WA ke Sintya. Dia adalah teman yang aku kenal sejak kuliah. Kami dekat karena banyak waktu yang kami habiskan dulu, sampai akhirnya tidak banyak bertemu karena sudah sama-sama bekerja. Komunikasi masih terjalin baik sampai hari ini. Ya walaupun komunikasi itu terjadi saat kami saling membalas cerita di sosial media.

Akhirnya ya, hahahaha!

Hem gimana ya, aku gak tau sih dari pihak laki-laki gimana?

Balasan ini akhirnya muncul setelah 3 menit lalu aku mengirimkan pesan sebelumnya. Sepertinya Sintya memang menunggu momen ini datang. Dia merasa cukup paham dengan kondisi yang aku alami. Soal buruknya ceritaku tentang cinta. Sebagai teman yang baik, dia selalu membalas setiap cerita galauku yang akan diakhiri dengan kata semangat.

Hahahahaha, tapi lucu juga ya. Masak urusan gini masih nanya dulu

Ya sebenernya takut juga bakal jadi aneh nanti. Tapi kalo gak diomongin kayak ada yang ganggu gitu gak sih rasanya

Dua pesan ini kembali aku kirim.

Aku memang sering khawatir dengan setiap kemungkinan yang akan terjadi. Kadang terasa berlebihan. Kedekatan dengan orang yang aku suka seringkali gagal di saat akan serius.  Maka keputusan untuk hanya berteman tanpa peresmian adalah pilihan berikutnya. Tidak ada kata putus. Tidak ada rasa canggung. Tapi selalu penuh dengan kecemburuan. Dalam hal semacam ini, aku memang tidak tau harus bersikap seperti apa. Bisa dikatakan aku memang payah dalam percintaan. Rasanya sangat dilema jika harus memutuskan seperti apa langkah yang diambil ketika aku mulai jatuh cinta dengan seseorang.

Memang pengakuan akan menjadi pisau bermata dua. Bisa membuat hubungan lebih baik atau lebih buruk. Sialnya, aku pernah mengalami dua hal yang cukup menyesakkan. Aku pernah gagal karena dianggap menyatakan cinta terlalu cepat. Dia tidak yakin bahwa aku benar-benar cinta. Ujungnya tentu sudah sangat jelas.

Berikutnya, aku pernah gagal karena dia tiba-tiba mengunggah foto bersama pasangannya. Pembelaannya adalah aku yang terlalu lama, padahal dia juga suka awalnya. Ujungnya tentu juga sama, begitu sesak rasanya.

Tapi kesialan semacam ini tidak hanya terjadi dua kali. Namun setidaknya dua hal ini mengaburkan standar waktu yang seharusnya aku pahami. Aku tidak pernah tau kapan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan cinta. Bahkan sampai saat ini, masih tetap sama.

Jika ada pengelompokan orang dalam hal percintaan, rasanya aku akan masuk pada kelas terbawah. Ini bukan tanpa alasan. Hal-hal yang terjadi sebelumnya jelas mengatakan bahwa aku adalah orang yang tidak mau berkompromi dengan resiko. Ujungnya pun hampir selalu sama, tidak menjadi apa-apa. Layaknya menulis, aku sudah menyerah lebih dulu karena takut hasilnya akan jelek.

Akhirnya aku menyerah sebelum menyelesaikan kalimat pertama. Secara pengalaman, aku hanya pernah berpacaran 3 kali. Tidak pernah ada anniversary dan yang terakhir sekitar 9 tahun lalu. Untuk lelaki berumur 24 tahun, rasanya kalian akan sepakat dengan apa yang aku sampaikan di awal.

Sintya kembali membalas pesanku.

Gimana ya

Gak tau Wah. Jujur aja

Hahahaha

Iya kayaknya kamu udah lama banget kayak gini

Aku membalas:

Hahahaha bingung

Dia balas:

Selegamu aja si Wah

Aku balas:

Kayak aku udah ngeyakinin diri buat siap, tapi apa iya ya?

Oh ya, sorry. Kamu emangnya gak lagi sibuk? Ntar terganggu lagi gara-gara ngeladenin aku

Hahahaha

Aku mencoba memastikan bahwa Sintya memang sedang tidak bekerja. Secara pribadi aku sudah cukup banyak masalah. Aku juga sadar bahwa Sintya pun punya masalahnya sendiri. Jadi rasanya cukup bijak untuk memastikan bahwa masalah ini tidak akan menambah masalah bagi Sintya nantinya.

Tapi Sintya membalas:

Gak sih Wah

Cuma ya gitu, mungkin aku tidak cukup membantu

Hahahaha

Lama jeda. Beberapa menit kemudian pesan Sintya kembali masuk.

Tapi kayak gimana ya. Aku juga bingung

Aku balas:

Hahahaha maaf nih, kamu malah jadi ikutan bingung

Sintya balas:

Aku kayak takut gitu loh ngasi saran. Kayaknya kamu memikirkan ini lama banget. Jadi aku kan harus hati-hati juga ya buat ngasi saran.Tapi aku juga bingung nih harus ngasi sarannya gimana

Sebetulnya aku suka dengan Sintya. Sudah sejak lama. Entah dia sadar atau tidak. Bahkan rasa ini tetap ada saat dia bersama yang lainnya. Di titik itu, aku hanya mencoba membatasi diri saja dan tetap menjadi selalu ada di waktu-waktu tertentu. Tidak ada yang aneh buatnya karena kami memang dekat secara pertemanan. Beberapa waktu lalu aku tau bahwa Sintya sudah tidak berpacaran lagi. Aku mulai berpikir bisa jadi ini adalah waktu yang tepat. Tapi resikonya terlalu besar. Pertemanan. Rasanya malam ini tanganku bergerak sendiri.

Kalo orang yang aku suka itu kamu, gimana?

Setelah pesan ini terkirim, aku menjauhkan handphone. Aku mencoba meyakinkan diri untuk siap dengan setiap kemungkinan terburuk yang terjadi. Toh juga sudah terbiasa patah hati.

Beberapa menit kemudian kulihat pesan Sintya masuk. Aku masih diam. Setelah cukup siap, barulah kubuka balasan darinya.

Kalo aku di posisi orang yang kamu suka, gimana ya. Aku gak tau juga. Kalo kamu gak keberatan, coba ceritain kalian itu kayak gimana. Jadi aku ada gambaran juga

Misal kalian interaksinya gimana. Terus responnya dia gimana. Mungkin dari situ aku jadi kepikiran

Sial. Sintya salah menangkap pesanku sebelumnya.

Iya, aku sukanya kamu Sin!

Tentu setelah pesan ini, aku yakin balasan Sintya berikutnya adalah jawaban sebenarnya. Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa aku siap dengan apapun balasannya.

Berselang 14 menit, sebuah notifikasi muncul. Iya, itu adalah pesan dari Sintya.

Waduh, hahahahaha

Memang tidak spesifik seperti dugaanku. Tapi jawaban ini tentu masih membingungkan,

Aneh ya? Hahahaha

Aku mencoba memperjelas maksud dari pesan yang dia kirimkan. Tentu aku tidak benar sedang tertawa. Tidak mungkin kondisi seperti ini aku masih tertawa. Ini hanya sedikit usaha agar situasinya tidak menjadi lebih buruk dan agar dia tidak merasa tertekan untuk menyampaikan perasaan yang sebenarnya.

Setelah pertimbangan yang panjang, aku memutuskan untuk menyampaikan perasaanku. Aku sudah siap dengan kemungkinan terburuk yang terjadi saat pengakuan ini akhirnya terkirim. Setidaknya ada kelegaan yang akan terasa.

Wah, kalo ke pacaran itu aku gak Wah. Aku seneng kita temenan

Setelah membaca pesan ini, ternyata salah satu kemungkinan yang aku bayangkan benar. Tinggal menunggu kebenaran kemungkinan-kemungkinan berikutnya. Aku kemudian berdiri dan mematikan AC yang ada di kantor. Tidak ada keringat, hanya malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan
Tags: Cerpencerpen tentang cinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggigil di Belantara Gunung Batukaru

Next Post

Puisi-puisi Irman Hermawan | Bunga yang Ditanam Tanganmu

Wahyudi Prasancika

Wahyudi Prasancika

Mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika di Undiksha, pemain teater, sedang belajar menulis

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Irman Hermawan | Bunga yang Ditanam Tanganmu

Puisi-puisi Irman Hermawan | Bunga yang Ditanam Tanganmu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co