3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Wahyudi Prasancika by Wahyudi Prasancika
January 20, 2024
in Cerpen
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Ilustrasi tatkala.co

Sin!

Kalo misal aku udah siap dengan setiap kemungkinan terburuk saat confess ke dia, menurutmu gimana?

Mending aku jujur atau yaudah temenan aja?

Setelah berpikir cukup lama akhirnya pesan-pesan ini aku kirimkan lewat WA ke Sintya. Dia adalah teman yang aku kenal sejak kuliah. Kami dekat karena banyak waktu yang kami habiskan dulu, sampai akhirnya tidak banyak bertemu karena sudah sama-sama bekerja. Komunikasi masih terjalin baik sampai hari ini. Ya walaupun komunikasi itu terjadi saat kami saling membalas cerita di sosial media.

Akhirnya ya, hahahaha!

Hem gimana ya, aku gak tau sih dari pihak laki-laki gimana?

Balasan ini akhirnya muncul setelah 3 menit lalu aku mengirimkan pesan sebelumnya. Sepertinya Sintya memang menunggu momen ini datang. Dia merasa cukup paham dengan kondisi yang aku alami. Soal buruknya ceritaku tentang cinta. Sebagai teman yang baik, dia selalu membalas setiap cerita galauku yang akan diakhiri dengan kata semangat.

Hahahahaha, tapi lucu juga ya. Masak urusan gini masih nanya dulu

Ya sebenernya takut juga bakal jadi aneh nanti. Tapi kalo gak diomongin kayak ada yang ganggu gitu gak sih rasanya

Dua pesan ini kembali aku kirim.

Aku memang sering khawatir dengan setiap kemungkinan yang akan terjadi. Kadang terasa berlebihan. Kedekatan dengan orang yang aku suka seringkali gagal di saat akan serius.  Maka keputusan untuk hanya berteman tanpa peresmian adalah pilihan berikutnya. Tidak ada kata putus. Tidak ada rasa canggung. Tapi selalu penuh dengan kecemburuan. Dalam hal semacam ini, aku memang tidak tau harus bersikap seperti apa. Bisa dikatakan aku memang payah dalam percintaan. Rasanya sangat dilema jika harus memutuskan seperti apa langkah yang diambil ketika aku mulai jatuh cinta dengan seseorang.

Memang pengakuan akan menjadi pisau bermata dua. Bisa membuat hubungan lebih baik atau lebih buruk. Sialnya, aku pernah mengalami dua hal yang cukup menyesakkan. Aku pernah gagal karena dianggap menyatakan cinta terlalu cepat. Dia tidak yakin bahwa aku benar-benar cinta. Ujungnya tentu sudah sangat jelas.

Berikutnya, aku pernah gagal karena dia tiba-tiba mengunggah foto bersama pasangannya. Pembelaannya adalah aku yang terlalu lama, padahal dia juga suka awalnya. Ujungnya tentu juga sama, begitu sesak rasanya.

Tapi kesialan semacam ini tidak hanya terjadi dua kali. Namun setidaknya dua hal ini mengaburkan standar waktu yang seharusnya aku pahami. Aku tidak pernah tau kapan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan cinta. Bahkan sampai saat ini, masih tetap sama.

Jika ada pengelompokan orang dalam hal percintaan, rasanya aku akan masuk pada kelas terbawah. Ini bukan tanpa alasan. Hal-hal yang terjadi sebelumnya jelas mengatakan bahwa aku adalah orang yang tidak mau berkompromi dengan resiko. Ujungnya pun hampir selalu sama, tidak menjadi apa-apa. Layaknya menulis, aku sudah menyerah lebih dulu karena takut hasilnya akan jelek.

Akhirnya aku menyerah sebelum menyelesaikan kalimat pertama. Secara pengalaman, aku hanya pernah berpacaran 3 kali. Tidak pernah ada anniversary dan yang terakhir sekitar 9 tahun lalu. Untuk lelaki berumur 24 tahun, rasanya kalian akan sepakat dengan apa yang aku sampaikan di awal.

Sintya kembali membalas pesanku.

Gimana ya

Gak tau Wah. Jujur aja

Hahahaha

Iya kayaknya kamu udah lama banget kayak gini

Aku membalas:

Hahahaha bingung

Dia balas:

Selegamu aja si Wah

Aku balas:

Kayak aku udah ngeyakinin diri buat siap, tapi apa iya ya?

Oh ya, sorry. Kamu emangnya gak lagi sibuk? Ntar terganggu lagi gara-gara ngeladenin aku

Hahahaha

Aku mencoba memastikan bahwa Sintya memang sedang tidak bekerja. Secara pribadi aku sudah cukup banyak masalah. Aku juga sadar bahwa Sintya pun punya masalahnya sendiri. Jadi rasanya cukup bijak untuk memastikan bahwa masalah ini tidak akan menambah masalah bagi Sintya nantinya.

Tapi Sintya membalas:

Gak sih Wah

Cuma ya gitu, mungkin aku tidak cukup membantu

Hahahaha

Lama jeda. Beberapa menit kemudian pesan Sintya kembali masuk.

Tapi kayak gimana ya. Aku juga bingung

Aku balas:

Hahahaha maaf nih, kamu malah jadi ikutan bingung

Sintya balas:

Aku kayak takut gitu loh ngasi saran. Kayaknya kamu memikirkan ini lama banget. Jadi aku kan harus hati-hati juga ya buat ngasi saran.Tapi aku juga bingung nih harus ngasi sarannya gimana

Sebetulnya aku suka dengan Sintya. Sudah sejak lama. Entah dia sadar atau tidak. Bahkan rasa ini tetap ada saat dia bersama yang lainnya. Di titik itu, aku hanya mencoba membatasi diri saja dan tetap menjadi selalu ada di waktu-waktu tertentu. Tidak ada yang aneh buatnya karena kami memang dekat secara pertemanan. Beberapa waktu lalu aku tau bahwa Sintya sudah tidak berpacaran lagi. Aku mulai berpikir bisa jadi ini adalah waktu yang tepat. Tapi resikonya terlalu besar. Pertemanan. Rasanya malam ini tanganku bergerak sendiri.

Kalo orang yang aku suka itu kamu, gimana?

Setelah pesan ini terkirim, aku menjauhkan handphone. Aku mencoba meyakinkan diri untuk siap dengan setiap kemungkinan terburuk yang terjadi. Toh juga sudah terbiasa patah hati.

Beberapa menit kemudian kulihat pesan Sintya masuk. Aku masih diam. Setelah cukup siap, barulah kubuka balasan darinya.

Kalo aku di posisi orang yang kamu suka, gimana ya. Aku gak tau juga. Kalo kamu gak keberatan, coba ceritain kalian itu kayak gimana. Jadi aku ada gambaran juga

Misal kalian interaksinya gimana. Terus responnya dia gimana. Mungkin dari situ aku jadi kepikiran

Sial. Sintya salah menangkap pesanku sebelumnya.

Iya, aku sukanya kamu Sin!

Tentu setelah pesan ini, aku yakin balasan Sintya berikutnya adalah jawaban sebenarnya. Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa aku siap dengan apapun balasannya.

Berselang 14 menit, sebuah notifikasi muncul. Iya, itu adalah pesan dari Sintya.

Waduh, hahahahaha

Memang tidak spesifik seperti dugaanku. Tapi jawaban ini tentu masih membingungkan,

Aneh ya? Hahahaha

Aku mencoba memperjelas maksud dari pesan yang dia kirimkan. Tentu aku tidak benar sedang tertawa. Tidak mungkin kondisi seperti ini aku masih tertawa. Ini hanya sedikit usaha agar situasinya tidak menjadi lebih buruk dan agar dia tidak merasa tertekan untuk menyampaikan perasaan yang sebenarnya.

Setelah pertimbangan yang panjang, aku memutuskan untuk menyampaikan perasaanku. Aku sudah siap dengan kemungkinan terburuk yang terjadi saat pengakuan ini akhirnya terkirim. Setidaknya ada kelegaan yang akan terasa.

Wah, kalo ke pacaran itu aku gak Wah. Aku seneng kita temenan

Setelah membaca pesan ini, ternyata salah satu kemungkinan yang aku bayangkan benar. Tinggal menunggu kebenaran kemungkinan-kemungkinan berikutnya. Aku kemudian berdiri dan mematikan AC yang ada di kantor. Tidak ada keringat, hanya malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan
Tags: Cerpencerpen tentang cinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggigil di Belantara Gunung Batukaru

Next Post

Puisi-puisi Irman Hermawan | Bunga yang Ditanam Tanganmu

Wahyudi Prasancika

Wahyudi Prasancika

Mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika di Undiksha, pemain teater, sedang belajar menulis

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Irman Hermawan | Bunga yang Ditanam Tanganmu

Puisi-puisi Irman Hermawan | Bunga yang Ditanam Tanganmu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co