23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggigil di Belantara Gunung Batukaru

Jaswanto by Jaswanto
January 19, 2024
in Tualang
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru

Rachman di puncak Batukaru | Foto: Jaswanto

ALKISAH, setelah membuat gempar masyarakat Bali Utara dengan teknologi bernama sepeda pada kisaran 1904,  seniman Belanda itu berkunjung ke dataran tinggi di Tabanan. Di sana, di dataran setinggi 650 mdpl yang dia kunjungi pada tahun 1918 itu, berdiri warisan budaya bernama Pura Luhur Batukaru. Tak hanya dia, si Belanda Nieuwenkamp itu, seorang filolog Belanda Hoykaas juga pernah mengunjungi pura yang terletak di pinggang Gunung Batukaru itu.

Pria Belanda lainnya, seorang arkeolog yang pernah diberi hukuman pidana pedofilia, Dr. R. Goris, pernah mengadakan penelitian di pura tesebut pada tahun 1928. Di sana Goris banyak menjumpai patung yang jenisnya serupa dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah di Bedulu, Gianyar, yaitu patung yang mengeluarkan pancuran air dari pusarnya. Bedanya, kata Goris, patung yang terdapat di Goa Gajah dalam posisi berdiri, sedangkan patung di Pura Batukaru dalam posisi duduk bersila.

Tapi tulisan ini bukan tentang kunjungan orang-orang kolonial itu ke Pura Luhur Batukaru atau patung yang bisa mengeluarkan air dari pusarnya, ini tentang bagaimana saya terjebak hujan di belantara antah-brantah Gunung Batukaru dua tahun silam—walaupun mungkin akan menyerepet sedikit ke arah sana.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Batukaru / Foto: Dok. Jaswanto

“Ini musim hujan. Sebenarnya terlalu berisiko. Tapi karena sudah sampai di sini, apa boleh buat,” kata petugas parkir di pelataran Pura Malen sembari dengan cepat menjambret uang dari tangan saya. Tampaknya dia sangat terlatih melakukan itu. “Yang penting kalian bawa peralatan lengkap. Jangan mengkhawatirkan kami,” sambungnya sambil menulis nama-nama yang disebutkan si empunya.

Meninggalkan tukang parkir yang ketus, kami mulai mendaki. Matahari masih tinggi. Tapi udara di Pujungan tetap saja dingin seperti mesin penyejuk ruangan. Bedanya, ini tidak bisa diatur. Hutan, perkampungan, perkebunan, semua berselimut kabut. Tampaknya hujan baru saja reda. Jejaknya tertinggal di mana-mana. Di daun-daun talas, di tanah berlubang, di jalan somplak dan rompal menuju Pura Malen, di atap-atap rumah, di semak-semak yang namanya tak tercantum dalam buku pelajaran biologi.

Batukaru merupakan gunung tertinggi kedua di Bali setelah Gunung Agung. Merujuk pada sumber-sumber arkeologi dan vulkanologi, Batukaru dinyatakan sudah tidak aktif sebagai gunung berapi. Di sekitar tempatnya berdiri, terdapat banyak peninggalan masa lalu—yang oleh arkeolog disebut sebagai situs megalitikum. Hal tersebut dibuktikan atas penemuan benda-benda purba yang cukup banyak di sana. Nama-nama asing seperti  Kempers, Goris, Dronkers, percaya bahwa Batukaru merupakan kawasan suci di zaman megalitikum.

Di pinggang selatan Gunung Batukaru, berdiri kokoh Pura Luhur Batukaru yang dipercaya sudah ada sebelum Majapahit melakukan ekspansi ke Bali. Di pura purba tersebut, Kempers menemukan peninggalan megalitik berupa menhir—batu kuno tempat pemujaan roh leluhur. Goris dan Dronkers percaya bahwa Pura Luhur Batukaru adalah salah satu dari sekian banyak pura di Bali yang asal muasalnya bukan dari India.

Hujan lebat mengguyur Batukaru / Foto: Jaswanto

Rasanya belum dua kilo kami mendaki, tapi kaki sudah terasa lumpuh. Dan sial, seperti sebuah kutukan, apa yang dikatakan tukang parkir itu benar adanya. Tanpa permisi hujan mengguyur Batukaru, seperti peluru yang dilesatkan serdadu amatir dengan membabi-buta. Tak ada tempat berlindung. Tak sempat jas hujan keluar dari tempatnya. Kami kuyup dan pasrah seperti pohon-pohon, semak, dan perdu.

Seekor pacet gunung sebesar lidi menggeliat di balik daun pakis. Badannya molor seperti karet yang ditarik. Binatang pengisap darah itu tampaknya mencium kehadiran segerombolan pemuda ceroboh yang nekat mendaki Batukaru di musim penghujan. Dan benar, seperti diutus roh-roh penunggu hutan untuk memberi pelajaran, tanpa terasa, binatang yang berjalan seperti ulat jengkol ini, telah puas mengisap darah saya. Ia sangat nyaman mengenyot betis saya hingga badannya kembung seperti balon berisi air. Darah segar merembes di sekitar mulutnya.

Ini adalah pendakian pertama kami ke Batukaru. Dalam standar pendakian, sebenarnya sangat dianjurkan untuk menyewa guide atau paling tidak mengajak mereka yang pernah mendaki ke sana. Tapi dasar orang ceroboh dan berkepala batu, tanpa pengetahuan apa pun tentang medan, vegetasi, mata air, dan sebagainya, kami menerabas melalui pintu belakang. Padahal, gunung, bagaimanapun, selain mengandung juga mengundang bahaya. Itu pengetahuan dasar pecinta alam. Maka, tanpa pengetahuan, mendaki gunung adalah aktivitas orang-orang nekat—untuk tidak mengatakan bodoh.

Rachman saat perjalanan turun dari puncak Batukaru / Foto: Jaswanto

Jalur Batukaru sangat melelahkan, jika tidak menyebalkan. Selain tanjakan panjang, licin seperti tak berujung, pohon besar berlumut yang berbaring-melintang seenaknya di setapak, juga pacet yang berserak di sembarang tempat. Meski ada seutas tambang yang dipersiapkan pengelola sebagai alat bantu para pendaki, tapi tidak dengan garam untuk mengusir pacet dari kulit.

“Bukankah surga memang tak mudah untuk dituju?” ucap saya berusaha menenangkan kawan-kawan. “Tapi di surga mungkin tak ada hujan dan tak ada pacet,” seorang kawan menumpangi argumen saya sembari menarik makhluk kecil buas itu dari lengan kirinya. Kami tertawa, sejenak melupakan gigil dan tulang yang terasa ngilu. Apakah Kempers dan Goris pernah merasakannya? Hujan kian lebat. Setapak berubah menjadi parit-parit kecil. Kaki makin sulit untuk melangkah.

Di tanah sempit di leher Batukaru, akhirnya kami memutuskan mendirikan tenda darurat. Mumpung hujan sedikit reda, ujar seorang kawan. Dengan tangan gemetar tiga tenda berhasil dipacak. Setelah menyampirkan pakaian basah di semak-ranting, kami menikmati mi instan dengan brutal.

Beberapa bawaan selamat dari basah, tapi rokok kami, ya Tuhan… Tapi inilah yang membedakan kami dengan seekor pacet. Rokok basah yang pucat-pasi itu, kami sangrai di panas parafin. Jadilah kami mengisap tembakau yang, tidak hanya dibakar, tapi juga disangarai. Ternyata rasanya tidak lebih buruk dari yang kami bayangkan.

Dziky sedang menyangrai rokok / Foto: Jaswanto

Tanpa ampun langit Batukaru kembali menghukum kami dengan guyur yang lebih lebat, nyaris membobol pertahanan flysheet yang kami pasang. Pohon-pohon tinggi seperti cemara pandak, rejasa, dan cempaka kuning yang bergoyang diterpa angin, menebalkan kekhawatiran kami. Sekelebat bayangan batang menimpa tempat kami bernaung. Tapi beruntung, sampai hujan menyisakan rintik dan benar-benar lenyap, tak selengan pun kayu itu jatuh.

Sepertinya meneer Henri Hubert van Kol waktu pelesiran ke Bali pada 1902—yang disebut-sebut sebagai turis pertama yang berkunjung ke Bali untuk tujuan pariwisata—tidak merasakan gigil di belantara Batukaru. Atau mungkin pernah? Saya tidak tahu. Saya tidak membaca catatan perjalanannya yang gemuk—setebal 826 halaman—yang berjudul Uit onze koloniën (From Our Colonies) itu—yang konon agak “kepleset”, penuh stereotip, dalam mendeskripsikan masyarakat yang ditemuinya.

Tapi untuk apa, misalnya, seorang kolonial sosialis seperti van Kol mendaki Gunung Batukaru? Saya pikir ia terlalu sibuk mengurus irigasi Pakalen Sampean di Situbondo, Jawa Timur, daripada merelakan darah Belanda-nya diisap pacet-paceh Batukaru, sebagaimana ia sebenarnya juga tak rela tanah kelahirannya mengisap darah rakyat Hindia Belanda. Bukan begitu, Tuan Meneer?[T]

Gunung Batur yang Kesekian Kalinya
Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana
Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Tags: baliGunung BatukaruMendaki Gunungtabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prasasti Blanjong Berusia 1.110 Tahun, Ini Kekayaan Sejarah Kota Denpasar

Next Post

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co