2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggigil di Belantara Gunung Batukaru

Jaswanto by Jaswanto
January 19, 2024
in Tualang
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru

Rachman di puncak Batukaru | Foto: Jaswanto

ALKISAH, setelah membuat gempar masyarakat Bali Utara dengan teknologi bernama sepeda pada kisaran 1904,  seniman Belanda itu berkunjung ke dataran tinggi di Tabanan. Di sana, di dataran setinggi 650 mdpl yang dia kunjungi pada tahun 1918 itu, berdiri warisan budaya bernama Pura Luhur Batukaru. Tak hanya dia, si Belanda Nieuwenkamp itu, seorang filolog Belanda Hoykaas juga pernah mengunjungi pura yang terletak di pinggang Gunung Batukaru itu.

Pria Belanda lainnya, seorang arkeolog yang pernah diberi hukuman pidana pedofilia, Dr. R. Goris, pernah mengadakan penelitian di pura tesebut pada tahun 1928. Di sana Goris banyak menjumpai patung yang jenisnya serupa dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah di Bedulu, Gianyar, yaitu patung yang mengeluarkan pancuran air dari pusarnya. Bedanya, kata Goris, patung yang terdapat di Goa Gajah dalam posisi berdiri, sedangkan patung di Pura Batukaru dalam posisi duduk bersila.

Tapi tulisan ini bukan tentang kunjungan orang-orang kolonial itu ke Pura Luhur Batukaru atau patung yang bisa mengeluarkan air dari pusarnya, ini tentang bagaimana saya terjebak hujan di belantara antah-brantah Gunung Batukaru dua tahun silam—walaupun mungkin akan menyerepet sedikit ke arah sana.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Batukaru / Foto: Dok. Jaswanto

“Ini musim hujan. Sebenarnya terlalu berisiko. Tapi karena sudah sampai di sini, apa boleh buat,” kata petugas parkir di pelataran Pura Malen sembari dengan cepat menjambret uang dari tangan saya. Tampaknya dia sangat terlatih melakukan itu. “Yang penting kalian bawa peralatan lengkap. Jangan mengkhawatirkan kami,” sambungnya sambil menulis nama-nama yang disebutkan si empunya.

Meninggalkan tukang parkir yang ketus, kami mulai mendaki. Matahari masih tinggi. Tapi udara di Pujungan tetap saja dingin seperti mesin penyejuk ruangan. Bedanya, ini tidak bisa diatur. Hutan, perkampungan, perkebunan, semua berselimut kabut. Tampaknya hujan baru saja reda. Jejaknya tertinggal di mana-mana. Di daun-daun talas, di tanah berlubang, di jalan somplak dan rompal menuju Pura Malen, di atap-atap rumah, di semak-semak yang namanya tak tercantum dalam buku pelajaran biologi.

Batukaru merupakan gunung tertinggi kedua di Bali setelah Gunung Agung. Merujuk pada sumber-sumber arkeologi dan vulkanologi, Batukaru dinyatakan sudah tidak aktif sebagai gunung berapi. Di sekitar tempatnya berdiri, terdapat banyak peninggalan masa lalu—yang oleh arkeolog disebut sebagai situs megalitikum. Hal tersebut dibuktikan atas penemuan benda-benda purba yang cukup banyak di sana. Nama-nama asing seperti  Kempers, Goris, Dronkers, percaya bahwa Batukaru merupakan kawasan suci di zaman megalitikum.

Di pinggang selatan Gunung Batukaru, berdiri kokoh Pura Luhur Batukaru yang dipercaya sudah ada sebelum Majapahit melakukan ekspansi ke Bali. Di pura purba tersebut, Kempers menemukan peninggalan megalitik berupa menhir—batu kuno tempat pemujaan roh leluhur. Goris dan Dronkers percaya bahwa Pura Luhur Batukaru adalah salah satu dari sekian banyak pura di Bali yang asal muasalnya bukan dari India.

Hujan lebat mengguyur Batukaru / Foto: Jaswanto

Rasanya belum dua kilo kami mendaki, tapi kaki sudah terasa lumpuh. Dan sial, seperti sebuah kutukan, apa yang dikatakan tukang parkir itu benar adanya. Tanpa permisi hujan mengguyur Batukaru, seperti peluru yang dilesatkan serdadu amatir dengan membabi-buta. Tak ada tempat berlindung. Tak sempat jas hujan keluar dari tempatnya. Kami kuyup dan pasrah seperti pohon-pohon, semak, dan perdu.

Seekor pacet gunung sebesar lidi menggeliat di balik daun pakis. Badannya molor seperti karet yang ditarik. Binatang pengisap darah itu tampaknya mencium kehadiran segerombolan pemuda ceroboh yang nekat mendaki Batukaru di musim penghujan. Dan benar, seperti diutus roh-roh penunggu hutan untuk memberi pelajaran, tanpa terasa, binatang yang berjalan seperti ulat jengkol ini, telah puas mengisap darah saya. Ia sangat nyaman mengenyot betis saya hingga badannya kembung seperti balon berisi air. Darah segar merembes di sekitar mulutnya.

Ini adalah pendakian pertama kami ke Batukaru. Dalam standar pendakian, sebenarnya sangat dianjurkan untuk menyewa guide atau paling tidak mengajak mereka yang pernah mendaki ke sana. Tapi dasar orang ceroboh dan berkepala batu, tanpa pengetahuan apa pun tentang medan, vegetasi, mata air, dan sebagainya, kami menerabas melalui pintu belakang. Padahal, gunung, bagaimanapun, selain mengandung juga mengundang bahaya. Itu pengetahuan dasar pecinta alam. Maka, tanpa pengetahuan, mendaki gunung adalah aktivitas orang-orang nekat—untuk tidak mengatakan bodoh.

Rachman saat perjalanan turun dari puncak Batukaru / Foto: Jaswanto

Jalur Batukaru sangat melelahkan, jika tidak menyebalkan. Selain tanjakan panjang, licin seperti tak berujung, pohon besar berlumut yang berbaring-melintang seenaknya di setapak, juga pacet yang berserak di sembarang tempat. Meski ada seutas tambang yang dipersiapkan pengelola sebagai alat bantu para pendaki, tapi tidak dengan garam untuk mengusir pacet dari kulit.

“Bukankah surga memang tak mudah untuk dituju?” ucap saya berusaha menenangkan kawan-kawan. “Tapi di surga mungkin tak ada hujan dan tak ada pacet,” seorang kawan menumpangi argumen saya sembari menarik makhluk kecil buas itu dari lengan kirinya. Kami tertawa, sejenak melupakan gigil dan tulang yang terasa ngilu. Apakah Kempers dan Goris pernah merasakannya? Hujan kian lebat. Setapak berubah menjadi parit-parit kecil. Kaki makin sulit untuk melangkah.

Di tanah sempit di leher Batukaru, akhirnya kami memutuskan mendirikan tenda darurat. Mumpung hujan sedikit reda, ujar seorang kawan. Dengan tangan gemetar tiga tenda berhasil dipacak. Setelah menyampirkan pakaian basah di semak-ranting, kami menikmati mi instan dengan brutal.

Beberapa bawaan selamat dari basah, tapi rokok kami, ya Tuhan… Tapi inilah yang membedakan kami dengan seekor pacet. Rokok basah yang pucat-pasi itu, kami sangrai di panas parafin. Jadilah kami mengisap tembakau yang, tidak hanya dibakar, tapi juga disangarai. Ternyata rasanya tidak lebih buruk dari yang kami bayangkan.

Dziky sedang menyangrai rokok / Foto: Jaswanto

Tanpa ampun langit Batukaru kembali menghukum kami dengan guyur yang lebih lebat, nyaris membobol pertahanan flysheet yang kami pasang. Pohon-pohon tinggi seperti cemara pandak, rejasa, dan cempaka kuning yang bergoyang diterpa angin, menebalkan kekhawatiran kami. Sekelebat bayangan batang menimpa tempat kami bernaung. Tapi beruntung, sampai hujan menyisakan rintik dan benar-benar lenyap, tak selengan pun kayu itu jatuh.

Sepertinya meneer Henri Hubert van Kol waktu pelesiran ke Bali pada 1902—yang disebut-sebut sebagai turis pertama yang berkunjung ke Bali untuk tujuan pariwisata—tidak merasakan gigil di belantara Batukaru. Atau mungkin pernah? Saya tidak tahu. Saya tidak membaca catatan perjalanannya yang gemuk—setebal 826 halaman—yang berjudul Uit onze koloniën (From Our Colonies) itu—yang konon agak “kepleset”, penuh stereotip, dalam mendeskripsikan masyarakat yang ditemuinya.

Tapi untuk apa, misalnya, seorang kolonial sosialis seperti van Kol mendaki Gunung Batukaru? Saya pikir ia terlalu sibuk mengurus irigasi Pakalen Sampean di Situbondo, Jawa Timur, daripada merelakan darah Belanda-nya diisap pacet-paceh Batukaru, sebagaimana ia sebenarnya juga tak rela tanah kelahirannya mengisap darah rakyat Hindia Belanda. Bukan begitu, Tuan Meneer?[T]

Gunung Batur yang Kesekian Kalinya
Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana
Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Tags: baliGunung BatukaruMendaki Gunungtabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prasasti Blanjong Berusia 1.110 Tahun, Ini Kekayaan Sejarah Kota Denpasar

Next Post

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co