2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggigil di Belantara Gunung Batukaru

Jaswanto by Jaswanto
January 19, 2024
in Tualang
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru

Rachman di puncak Batukaru | Foto: Jaswanto

ALKISAH, setelah membuat gempar masyarakat Bali Utara dengan teknologi bernama sepeda pada kisaran 1904,  seniman Belanda itu berkunjung ke dataran tinggi di Tabanan. Di sana, di dataran setinggi 650 mdpl yang dia kunjungi pada tahun 1918 itu, berdiri warisan budaya bernama Pura Luhur Batukaru. Tak hanya dia, si Belanda Nieuwenkamp itu, seorang filolog Belanda Hoykaas juga pernah mengunjungi pura yang terletak di pinggang Gunung Batukaru itu.

Pria Belanda lainnya, seorang arkeolog yang pernah diberi hukuman pidana pedofilia, Dr. R. Goris, pernah mengadakan penelitian di pura tesebut pada tahun 1928. Di sana Goris banyak menjumpai patung yang jenisnya serupa dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah di Bedulu, Gianyar, yaitu patung yang mengeluarkan pancuran air dari pusarnya. Bedanya, kata Goris, patung yang terdapat di Goa Gajah dalam posisi berdiri, sedangkan patung di Pura Batukaru dalam posisi duduk bersila.

Tapi tulisan ini bukan tentang kunjungan orang-orang kolonial itu ke Pura Luhur Batukaru atau patung yang bisa mengeluarkan air dari pusarnya, ini tentang bagaimana saya terjebak hujan di belantara antah-brantah Gunung Batukaru dua tahun silam—walaupun mungkin akan menyerepet sedikit ke arah sana.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Batukaru / Foto: Dok. Jaswanto

“Ini musim hujan. Sebenarnya terlalu berisiko. Tapi karena sudah sampai di sini, apa boleh buat,” kata petugas parkir di pelataran Pura Malen sembari dengan cepat menjambret uang dari tangan saya. Tampaknya dia sangat terlatih melakukan itu. “Yang penting kalian bawa peralatan lengkap. Jangan mengkhawatirkan kami,” sambungnya sambil menulis nama-nama yang disebutkan si empunya.

Meninggalkan tukang parkir yang ketus, kami mulai mendaki. Matahari masih tinggi. Tapi udara di Pujungan tetap saja dingin seperti mesin penyejuk ruangan. Bedanya, ini tidak bisa diatur. Hutan, perkampungan, perkebunan, semua berselimut kabut. Tampaknya hujan baru saja reda. Jejaknya tertinggal di mana-mana. Di daun-daun talas, di tanah berlubang, di jalan somplak dan rompal menuju Pura Malen, di atap-atap rumah, di semak-semak yang namanya tak tercantum dalam buku pelajaran biologi.

Batukaru merupakan gunung tertinggi kedua di Bali setelah Gunung Agung. Merujuk pada sumber-sumber arkeologi dan vulkanologi, Batukaru dinyatakan sudah tidak aktif sebagai gunung berapi. Di sekitar tempatnya berdiri, terdapat banyak peninggalan masa lalu—yang oleh arkeolog disebut sebagai situs megalitikum. Hal tersebut dibuktikan atas penemuan benda-benda purba yang cukup banyak di sana. Nama-nama asing seperti  Kempers, Goris, Dronkers, percaya bahwa Batukaru merupakan kawasan suci di zaman megalitikum.

Di pinggang selatan Gunung Batukaru, berdiri kokoh Pura Luhur Batukaru yang dipercaya sudah ada sebelum Majapahit melakukan ekspansi ke Bali. Di pura purba tersebut, Kempers menemukan peninggalan megalitik berupa menhir—batu kuno tempat pemujaan roh leluhur. Goris dan Dronkers percaya bahwa Pura Luhur Batukaru adalah salah satu dari sekian banyak pura di Bali yang asal muasalnya bukan dari India.

Hujan lebat mengguyur Batukaru / Foto: Jaswanto

Rasanya belum dua kilo kami mendaki, tapi kaki sudah terasa lumpuh. Dan sial, seperti sebuah kutukan, apa yang dikatakan tukang parkir itu benar adanya. Tanpa permisi hujan mengguyur Batukaru, seperti peluru yang dilesatkan serdadu amatir dengan membabi-buta. Tak ada tempat berlindung. Tak sempat jas hujan keluar dari tempatnya. Kami kuyup dan pasrah seperti pohon-pohon, semak, dan perdu.

Seekor pacet gunung sebesar lidi menggeliat di balik daun pakis. Badannya molor seperti karet yang ditarik. Binatang pengisap darah itu tampaknya mencium kehadiran segerombolan pemuda ceroboh yang nekat mendaki Batukaru di musim penghujan. Dan benar, seperti diutus roh-roh penunggu hutan untuk memberi pelajaran, tanpa terasa, binatang yang berjalan seperti ulat jengkol ini, telah puas mengisap darah saya. Ia sangat nyaman mengenyot betis saya hingga badannya kembung seperti balon berisi air. Darah segar merembes di sekitar mulutnya.

Ini adalah pendakian pertama kami ke Batukaru. Dalam standar pendakian, sebenarnya sangat dianjurkan untuk menyewa guide atau paling tidak mengajak mereka yang pernah mendaki ke sana. Tapi dasar orang ceroboh dan berkepala batu, tanpa pengetahuan apa pun tentang medan, vegetasi, mata air, dan sebagainya, kami menerabas melalui pintu belakang. Padahal, gunung, bagaimanapun, selain mengandung juga mengundang bahaya. Itu pengetahuan dasar pecinta alam. Maka, tanpa pengetahuan, mendaki gunung adalah aktivitas orang-orang nekat—untuk tidak mengatakan bodoh.

Rachman saat perjalanan turun dari puncak Batukaru / Foto: Jaswanto

Jalur Batukaru sangat melelahkan, jika tidak menyebalkan. Selain tanjakan panjang, licin seperti tak berujung, pohon besar berlumut yang berbaring-melintang seenaknya di setapak, juga pacet yang berserak di sembarang tempat. Meski ada seutas tambang yang dipersiapkan pengelola sebagai alat bantu para pendaki, tapi tidak dengan garam untuk mengusir pacet dari kulit.

“Bukankah surga memang tak mudah untuk dituju?” ucap saya berusaha menenangkan kawan-kawan. “Tapi di surga mungkin tak ada hujan dan tak ada pacet,” seorang kawan menumpangi argumen saya sembari menarik makhluk kecil buas itu dari lengan kirinya. Kami tertawa, sejenak melupakan gigil dan tulang yang terasa ngilu. Apakah Kempers dan Goris pernah merasakannya? Hujan kian lebat. Setapak berubah menjadi parit-parit kecil. Kaki makin sulit untuk melangkah.

Di tanah sempit di leher Batukaru, akhirnya kami memutuskan mendirikan tenda darurat. Mumpung hujan sedikit reda, ujar seorang kawan. Dengan tangan gemetar tiga tenda berhasil dipacak. Setelah menyampirkan pakaian basah di semak-ranting, kami menikmati mi instan dengan brutal.

Beberapa bawaan selamat dari basah, tapi rokok kami, ya Tuhan… Tapi inilah yang membedakan kami dengan seekor pacet. Rokok basah yang pucat-pasi itu, kami sangrai di panas parafin. Jadilah kami mengisap tembakau yang, tidak hanya dibakar, tapi juga disangarai. Ternyata rasanya tidak lebih buruk dari yang kami bayangkan.

Dziky sedang menyangrai rokok / Foto: Jaswanto

Tanpa ampun langit Batukaru kembali menghukum kami dengan guyur yang lebih lebat, nyaris membobol pertahanan flysheet yang kami pasang. Pohon-pohon tinggi seperti cemara pandak, rejasa, dan cempaka kuning yang bergoyang diterpa angin, menebalkan kekhawatiran kami. Sekelebat bayangan batang menimpa tempat kami bernaung. Tapi beruntung, sampai hujan menyisakan rintik dan benar-benar lenyap, tak selengan pun kayu itu jatuh.

Sepertinya meneer Henri Hubert van Kol waktu pelesiran ke Bali pada 1902—yang disebut-sebut sebagai turis pertama yang berkunjung ke Bali untuk tujuan pariwisata—tidak merasakan gigil di belantara Batukaru. Atau mungkin pernah? Saya tidak tahu. Saya tidak membaca catatan perjalanannya yang gemuk—setebal 826 halaman—yang berjudul Uit onze koloniën (From Our Colonies) itu—yang konon agak “kepleset”, penuh stereotip, dalam mendeskripsikan masyarakat yang ditemuinya.

Tapi untuk apa, misalnya, seorang kolonial sosialis seperti van Kol mendaki Gunung Batukaru? Saya pikir ia terlalu sibuk mengurus irigasi Pakalen Sampean di Situbondo, Jawa Timur, daripada merelakan darah Belanda-nya diisap pacet-paceh Batukaru, sebagaimana ia sebenarnya juga tak rela tanah kelahirannya mengisap darah rakyat Hindia Belanda. Bukan begitu, Tuan Meneer?[T]

Gunung Batur yang Kesekian Kalinya
Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana
Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Tags: baliGunung BatukaruMendaki Gunungtabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prasasti Blanjong Berusia 1.110 Tahun, Ini Kekayaan Sejarah Kota Denpasar

Next Post

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co