23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!

Jaswanto by Jaswanto
July 12, 2023
in Tualang
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!

Penulis berpose di puncak Gunung Abang | Foto: Dok. Jaswanto

PADA JUMAT, 17 Januari 2020, saat hendak berangkat ke masjid, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Bang Jamal—arsitek muda dari Lampung itu—mengajak saya mendaki gunung. Dia bilang sebenarnya sudah lama sekali ingin mendaki, hanya saja belum ada kesempatan. Dan hari itu, keinginannya sudah tidak bisa dibendung lagi, katanya.

Saya mengiyakan—walaupun sebenarnya waktu itu tubuh saya tidak sedang dalam kondisi baik. Ya, saya ingat sekali, beberapa hari saya terserang flu dan batuk, sampai lama. Tapi apa boleh buat, mendaki gunung itu sangat menyenangkan. Dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Akhirnya saya menghubungi sahabat saya—yang tidak pernah menolak untuk saya ajak mendaki—yang saat itu dia masih menjadi mahasiswa akhir di Singaraja—sekarang dia sudah menjadi wartawan muda di JTV. Dia mau. Dan seperti biasa, dia telah mempersiapkan semuanya.

Setelah makan siang, saya mengajak Bang Jamal berangkat ke kontrakan saya dan sahabat saya, Dziky, di Jl. Bisma, Singaraja, belakang gedung perpustakaan Universitas Panji Sakti—kami sepakat untuk berkumpul di sana. Dan di kontrakan yang kami sebut “Republik Cidro” itu, sudah ada dua pemuda yang akan ikut serta. Yang satu masih SMA, yang satunya lagi mahasiswa tingkat 5 dari UNS, Solo—“Liburan semester, Bang,” katanya.

Terkait penyebutan kontrakan Republik Cidro ini bukan tanpa alasan. Kami sepakat menyebutnya begitu sebab kami, para penghuninya, memang termasuk dalam golongan orang-orang “cidro”—kata yang dipopulerkan oleh alm Didi Kempot (1966-2020), yang kini dikenal sebagai The Godfather of Broken Heart. Ya, waktu itu, kami semua adalah mahasiswa “tuna asmara”. Kadar ketertolakan kami (patah hati) lebih besar daripada cinta kami yang diterima. Setiap kami jatuh cinta, perasaan kami nyaris berakhir cidro.

Setelah ngobrol dan menikmati tembakau Aceh Gayo yang dibawa Rahman—yang saat ini sudah menjadi alumni UNS itu—, mengakrabkan diri satu sama lain dan menyanyikan satu-dua buah lagu Didi Kempot dan Nosstress, akhirnya kami berlima sepakat untuk mendaki Gunung Abang, gunung tertinggi ketiga di Bali setelah Gunung Agung dan Gunung Batukaru.

***

Gunung Abang terletak di Desa Abangsongan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Gunung ini menjadi daratan tertinggi di kawasan tepi kaldera Gunung Batur—Gunung Abang dan Gunung Batur memang terletak di lokasi yang sama. Posisinya sendiri nyaris berhadap-hadapan; Gunung Abang di sebelah timur, sedangkan Gunung Batur di sebelah barat.

Menurut buku catata saya, kami berlima berangkat dari Singaraja pukul 17.27 WITA. Dari Singaraja ke Gunung Abang membutuhkan waktu 1 jam 47 menit (sekitar 62 km). Dan kami sampai di basecamp (atau tempat registrasi) Gunung Abang pukul 20.20 WITA.

Pemandangan Danau dan kaldera Batur dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Sampai di sana kami disambut hangat oleh bapak penjaganya. Laki-laki paruh baya itu sangat baik. Selain membikinkan api unggun, dia juga telah memasak air panas dan menyediakan kopi, juga telah menyiapkan ubi rebus untuk kami santap bersama.

Saya tidak peduli motif keramah-tamahan seperti itu apakah hanya sekadar formalitas atau memang benar-benar ketulusan atau justru keprihatinan karena wajah kami memang pantas untuk dikasihani. Yang jelas, menyeruput kopi panas, merokok dan melahap ubi rebus di tengah suhu dingin khas pegunungan sambil mengobrol banyak hal dan sesekali gelak tawa, membuat kami merasa seperti kerabat jauh yang sudah lama tak berjumpa dan malam itu saling menumpahkan kerinduan sambari bersiap untuk kembali melepaskan kepergian.

Kami cukup lama di basecamp. Beberapa pendaki, setelah registrasi dan membayar tiket, langsung jalan ke parkiran kendaraan—kecuali kami. Sepertinya, kami pendaki yang paling santai di antara pendaki lainnya. Toh, buat apa buru-buru?

Pukul sembilan lebih, hampir jam sepuluh malam, setelah membayar tiket, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke parkiran kendaraan. Dan pukul sepuluh lewat sedikit, setelah berdoa bersama, kami mulai pendakian. Malam itu, sepertinya kami adalah pendaki terakhir.

***

Meski berdekatan, jalur Gunung Abang dan Gunung Batur sangat jauh berbeda. Jika jalur Gunung Batur dipenuhi batu dan pasir dan menanjak terus dari bawah sampai puncak, jalur Gunung Abang justru tak ada batu, semuanya tanah licin dan berlubang. Dan, di Abang banyak pohon tumbang dan semak belukar—jangan harap kau menemukan ini di Batur, kecuali kau memilih jalur hutan pinus.

Mendaki Gunung Abang harus menyediakan banyak air minum, sebab di sana tak ada mata air. Dan siap-siap sedikit sesak napas jika memilih mendaki malam hari. Ya, seperti yang sudah saya katakan, di jalur Gunung Abang, sejauh mata memandang, kau hanya akan melihat pohon-pohon besar dan semak belukar—dalam hal ini guru-guru SD sudah memberi kita pengetahuan bahwa pada malam hari semua tumbuhan menyerap Oksigen (O2) dan menghasilkan Karbondioksida (CO2), walau jumlahnya tak seberapa.

Pemandangan Danau dan kaldera Batur dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Estimasi pendakian dari parkiran sampai puncak Gunung Abang sekitar 3 jam. Di gunung ini terdapat dua pos, yakni pos 1, pos 2, dan puncak. Kata penjaga basecamp, kabarnya ada jalur yang menghubungan Gunung Abang dan Bukit Trunyan (untuk pendakian bukit ini kapan-kapan saya ceritakan), tapi masih belum jelas, apakah dibuka untuk publik atau hanya jalur yang dilalui tentara—jalur ini kabarnya dibuka TNI.

Dari start point (parkiran) menuju pos 1 jalur cenderung masih mudah walau ada sedikit jalur berlubang yang cukup dalam. Kami membutuhkan 40 menit untuk sampai di pos 1, tempat pendaki biasanya mendirikan tenda, setelah melewati jalur sempit yang hanya cukup untuk satu orang dan berhenti entah berapa kali. Didi, anak SMA itu, terlihat kelelahan dengan napas tersengal. “Ini pengalaman pertama saya, Mas. Sebelumnya tidak pernah mendaki gunung,” katanya sambil tetap mengisap rokok walau napasnya sudah satu-satu.

Istirahat saat perjalanan turun dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Ya, bagi orang yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, jalur Gunung Abang rasanya memang menjadi momok menakutkan. Dari parkiran sampai pos 1 saja, nyaris tak ada jalur yang landai. Setelah melewati satu tanjakan, di depan, tanjakan lain—dan kadang terlihat lebih sulit dilewati—sudah menunggu.

Mendaki gunung memang tak semudah dibayangkan. Dan tentu tak hanya soal-soal yang indah-indah saja seperti yang sering disampaikan vloger-vloger. Saat mendaki gunung, kakimu akan terasa lumpuh, kulitmu seakan mati rasa, pundak terasa berat, napasmu sesak, ego memuncak. Walau sebenarnya itu adalah kenikmatan lain yang ditawarkan alam kepadamu, agar kau merasakan bahwa sejatinya, jika ingin meraih sesuatu yang menurutmu indah, tentu rasa-rasa yang tidak menyenangkan itu akan hadir sebagai bumbu-bumbu penyedap. Dan anggaplah itu sebagai proses belajar untuk menaklukkan dan berdamai dengan diri sendiri.

Kami berhenti sebentar di pos 1. Dari pos 1 kau bisa melihat sedikit pemandangan Gunung Batur, kaldera dan danau batur. Saya memperhatikan Bang Jamal, wajahnya tampak berbinar dalam kegelapan.

***

Kawanku, meski kakimu terasa lumpuh, mendaki gunung—sekali lagi—sangat menyenangkan. Saat perjalanan mendaki menembus kegelapan malam di jalan setapak yang terjal, berpasir, berdebu, licin, berlubang, menanjak, seolah tak berujung telah terlewati, kau akan merasakan sensasi yang hebat.

Dan saat sampai di puncak tertinggi, memotret atau berfoto dengan latar belakang sunrise yang indah, yang tak akan bisa kau lihat di tempat lain, menyatu dengan alam, seperti tak berjarak, di sebuah area yang berdinding kehampaan, merasa kecil, melebur, menggigil di dalam semak di sebuah cekungan lembah, di bawah naungan pohon-pohon cemara dan bintang-gemintang, di antara batu-batu dan rumput-rumput yang basah, dan jauh dari keramaian tentu saja, kau akan merakan sebuah perasaan yang belum ternamakan sebelumnya—atau mungkin itulah yang disebut: ketenangan.

Kami sampai di puncak Gunung Abang setelah hampir 2 jam lebih mendaki dari pos 1. Itu jalur tersulit dari Gunung Abang. Tipe tanah yang lembut dan mudah amblas, sering menghambat perjalanan kami.

Di jalur sepanjang pos 2 sampai puncak, kau akan menemui banyak lubang besar dan gap yang cukup terjal dengan tanjakan, hutan rimbun juga terowongan yang cukup dalam dan satu tanjakan yang mengharuskan kami berpegangan pada tali yang mungkin sudah disiapkan pihak pengelola. Dan ya, siapkan mantelmu, sebab dari pos 2 sampai puncak hujan sering datang tanpa permisi.

Berpose di jalur dengan pohon tumbang dan penampakan tanjakan menuju puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Dan saya sarankan, jika kau sudah lelah dan berniat untuk melanjutkan pendakian pada esok hari, dirikankanlah tenda di pos 2, sebab camping ground di sana cukup luas dan datar. Tapi kau harus tetap waspada dan hati-hati kalau tidak mau berbagi roti dengan tikus yang cukup aktif.

Puncak Gunung Abang tak terlalu luas. Di sana ada pelinggih, semacam pura kecil umat Hindu, dan plang penanda—seperti pada umumnya gunung yang sering didaki—bertuliskan: MT. Abang 2.151 MDPL. Dari puncak gunung ini kau dapat menikmati Gunung Batur, danau, Gunung Agung, dan jika cuaca cerah, Gunung Rinjani di Lombok terlihat begitu mengagumkan.

Sebelum hujan benar-benar turun, setelah mendirikan tenda dan membuat perapian—di puncak angin berembus kencang dan itu membuat kami mati-matian menyalakan bara—kami berbaring sejenak di atas debu, di bawah langit yang terlihat begitu rendah dengan hiasan bintang di atas wajah. Bang Jamal dan Didi—yang notabene sama-sama baru pertama kali mendaki gunung—baru saja merasakan perasaan takjub pada bumi. Saya percaya, mereka akan selalu mengingat sensasi itu setelah kembali ke rumah masing-masing. Dan akan menjadi cerita menarik suatu saat nanti.

Hujan turun. Kami masuk tenda dan tertidur.

Pagi hari, seingat saya, saat membuka mata, saya hanya mendapati Dziky yang masih lelap di samping saya. Rahman, Bang Jamal, dan Didi, rupanya sudah sibuk membuat sarapan dan menikmati pemandangan yang tak akan mereka lupakan. Danau dan Gunung Batur, Gunung Agung, pohon pinus, ilalang, sunrise yang indah, dan itu, ya Tuhan, di balik awan putih itu, puncak Gunung Rinjani benar-benar terlihat.

Melinting tembakau di puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Saya tersenyum saat melihat mereka antusias mengabadikan momen tersebut. Seketika saya teringat kata-kata Soe Hok Gie, “Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur”. Dan benar, pemuda idealis itu tidur dalam keabadian di Gunung Semeru. Atau Christopher McCandless, seorang petualang muda asal Amerika Serikat itu ditemukan meninggal di Alaska setelah melakukan perjalanan panjang. Ah, ternyata dulu saya pernah begitu naif.

Penampakan puncak Gunung Rinjani dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Namun, saya sepakat, sekali-dua kali orang mesti tinggalkan rumah, kampung halaman dan melongok ke sana kemari. Lamartin benar ketika ia berkata, “Orang tidak bakal jadi manusia utuh, jika tak pernah melancong dan mengubah gaya hidupnya”. Atau seperti kata Mahbub Djunaidi, “Dengar-dengar saja tentu kurang memadai”. Dan bukankah ada kearifan Tiongkok lama yang berbunyi: melihat sekali lebih baik daripada mendengar 1000 kali? Saya pikir begitu.

Saya bergabung bersama Rahman, Didi, dan Bang Jamal, meninggalkan Dziky yang masih terlelap.[T]

Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Menuju Kawah Ijen, Memandang Langit, Bersama Taxi Ijen
Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo
Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Tags: baliBangliGunung AbangKintamaniperjalananpetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seniman dari Lima Negara Pada Nungkalik International Festival

Next Post

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co