3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!

Jaswanto by Jaswanto
July 12, 2023
in Tualang
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!

Penulis berpose di puncak Gunung Abang | Foto: Dok. Jaswanto

PADA JUMAT, 17 Januari 2020, saat hendak berangkat ke masjid, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Bang Jamal—arsitek muda dari Lampung itu—mengajak saya mendaki gunung. Dia bilang sebenarnya sudah lama sekali ingin mendaki, hanya saja belum ada kesempatan. Dan hari itu, keinginannya sudah tidak bisa dibendung lagi, katanya.

Saya mengiyakan—walaupun sebenarnya waktu itu tubuh saya tidak sedang dalam kondisi baik. Ya, saya ingat sekali, beberapa hari saya terserang flu dan batuk, sampai lama. Tapi apa boleh buat, mendaki gunung itu sangat menyenangkan. Dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Akhirnya saya menghubungi sahabat saya—yang tidak pernah menolak untuk saya ajak mendaki—yang saat itu dia masih menjadi mahasiswa akhir di Singaraja—sekarang dia sudah menjadi wartawan muda di JTV. Dia mau. Dan seperti biasa, dia telah mempersiapkan semuanya.

Setelah makan siang, saya mengajak Bang Jamal berangkat ke kontrakan saya dan sahabat saya, Dziky, di Jl. Bisma, Singaraja, belakang gedung perpustakaan Universitas Panji Sakti—kami sepakat untuk berkumpul di sana. Dan di kontrakan yang kami sebut “Republik Cidro” itu, sudah ada dua pemuda yang akan ikut serta. Yang satu masih SMA, yang satunya lagi mahasiswa tingkat 5 dari UNS, Solo—“Liburan semester, Bang,” katanya.

Terkait penyebutan kontrakan Republik Cidro ini bukan tanpa alasan. Kami sepakat menyebutnya begitu sebab kami, para penghuninya, memang termasuk dalam golongan orang-orang “cidro”—kata yang dipopulerkan oleh alm Didi Kempot (1966-2020), yang kini dikenal sebagai The Godfather of Broken Heart. Ya, waktu itu, kami semua adalah mahasiswa “tuna asmara”. Kadar ketertolakan kami (patah hati) lebih besar daripada cinta kami yang diterima. Setiap kami jatuh cinta, perasaan kami nyaris berakhir cidro.

Setelah ngobrol dan menikmati tembakau Aceh Gayo yang dibawa Rahman—yang saat ini sudah menjadi alumni UNS itu—, mengakrabkan diri satu sama lain dan menyanyikan satu-dua buah lagu Didi Kempot dan Nosstress, akhirnya kami berlima sepakat untuk mendaki Gunung Abang, gunung tertinggi ketiga di Bali setelah Gunung Agung dan Gunung Batukaru.

***

Gunung Abang terletak di Desa Abangsongan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Gunung ini menjadi daratan tertinggi di kawasan tepi kaldera Gunung Batur—Gunung Abang dan Gunung Batur memang terletak di lokasi yang sama. Posisinya sendiri nyaris berhadap-hadapan; Gunung Abang di sebelah timur, sedangkan Gunung Batur di sebelah barat.

Menurut buku catata saya, kami berlima berangkat dari Singaraja pukul 17.27 WITA. Dari Singaraja ke Gunung Abang membutuhkan waktu 1 jam 47 menit (sekitar 62 km). Dan kami sampai di basecamp (atau tempat registrasi) Gunung Abang pukul 20.20 WITA.

Pemandangan Danau dan kaldera Batur dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Sampai di sana kami disambut hangat oleh bapak penjaganya. Laki-laki paruh baya itu sangat baik. Selain membikinkan api unggun, dia juga telah memasak air panas dan menyediakan kopi, juga telah menyiapkan ubi rebus untuk kami santap bersama.

Saya tidak peduli motif keramah-tamahan seperti itu apakah hanya sekadar formalitas atau memang benar-benar ketulusan atau justru keprihatinan karena wajah kami memang pantas untuk dikasihani. Yang jelas, menyeruput kopi panas, merokok dan melahap ubi rebus di tengah suhu dingin khas pegunungan sambil mengobrol banyak hal dan sesekali gelak tawa, membuat kami merasa seperti kerabat jauh yang sudah lama tak berjumpa dan malam itu saling menumpahkan kerinduan sambari bersiap untuk kembali melepaskan kepergian.

Kami cukup lama di basecamp. Beberapa pendaki, setelah registrasi dan membayar tiket, langsung jalan ke parkiran kendaraan—kecuali kami. Sepertinya, kami pendaki yang paling santai di antara pendaki lainnya. Toh, buat apa buru-buru?

Pukul sembilan lebih, hampir jam sepuluh malam, setelah membayar tiket, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke parkiran kendaraan. Dan pukul sepuluh lewat sedikit, setelah berdoa bersama, kami mulai pendakian. Malam itu, sepertinya kami adalah pendaki terakhir.

***

Meski berdekatan, jalur Gunung Abang dan Gunung Batur sangat jauh berbeda. Jika jalur Gunung Batur dipenuhi batu dan pasir dan menanjak terus dari bawah sampai puncak, jalur Gunung Abang justru tak ada batu, semuanya tanah licin dan berlubang. Dan, di Abang banyak pohon tumbang dan semak belukar—jangan harap kau menemukan ini di Batur, kecuali kau memilih jalur hutan pinus.

Mendaki Gunung Abang harus menyediakan banyak air minum, sebab di sana tak ada mata air. Dan siap-siap sedikit sesak napas jika memilih mendaki malam hari. Ya, seperti yang sudah saya katakan, di jalur Gunung Abang, sejauh mata memandang, kau hanya akan melihat pohon-pohon besar dan semak belukar—dalam hal ini guru-guru SD sudah memberi kita pengetahuan bahwa pada malam hari semua tumbuhan menyerap Oksigen (O2) dan menghasilkan Karbondioksida (CO2), walau jumlahnya tak seberapa.

Pemandangan Danau dan kaldera Batur dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Estimasi pendakian dari parkiran sampai puncak Gunung Abang sekitar 3 jam. Di gunung ini terdapat dua pos, yakni pos 1, pos 2, dan puncak. Kata penjaga basecamp, kabarnya ada jalur yang menghubungan Gunung Abang dan Bukit Trunyan (untuk pendakian bukit ini kapan-kapan saya ceritakan), tapi masih belum jelas, apakah dibuka untuk publik atau hanya jalur yang dilalui tentara—jalur ini kabarnya dibuka TNI.

Dari start point (parkiran) menuju pos 1 jalur cenderung masih mudah walau ada sedikit jalur berlubang yang cukup dalam. Kami membutuhkan 40 menit untuk sampai di pos 1, tempat pendaki biasanya mendirikan tenda, setelah melewati jalur sempit yang hanya cukup untuk satu orang dan berhenti entah berapa kali. Didi, anak SMA itu, terlihat kelelahan dengan napas tersengal. “Ini pengalaman pertama saya, Mas. Sebelumnya tidak pernah mendaki gunung,” katanya sambil tetap mengisap rokok walau napasnya sudah satu-satu.

Istirahat saat perjalanan turun dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Ya, bagi orang yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, jalur Gunung Abang rasanya memang menjadi momok menakutkan. Dari parkiran sampai pos 1 saja, nyaris tak ada jalur yang landai. Setelah melewati satu tanjakan, di depan, tanjakan lain—dan kadang terlihat lebih sulit dilewati—sudah menunggu.

Mendaki gunung memang tak semudah dibayangkan. Dan tentu tak hanya soal-soal yang indah-indah saja seperti yang sering disampaikan vloger-vloger. Saat mendaki gunung, kakimu akan terasa lumpuh, kulitmu seakan mati rasa, pundak terasa berat, napasmu sesak, ego memuncak. Walau sebenarnya itu adalah kenikmatan lain yang ditawarkan alam kepadamu, agar kau merasakan bahwa sejatinya, jika ingin meraih sesuatu yang menurutmu indah, tentu rasa-rasa yang tidak menyenangkan itu akan hadir sebagai bumbu-bumbu penyedap. Dan anggaplah itu sebagai proses belajar untuk menaklukkan dan berdamai dengan diri sendiri.

Kami berhenti sebentar di pos 1. Dari pos 1 kau bisa melihat sedikit pemandangan Gunung Batur, kaldera dan danau batur. Saya memperhatikan Bang Jamal, wajahnya tampak berbinar dalam kegelapan.

***

Kawanku, meski kakimu terasa lumpuh, mendaki gunung—sekali lagi—sangat menyenangkan. Saat perjalanan mendaki menembus kegelapan malam di jalan setapak yang terjal, berpasir, berdebu, licin, berlubang, menanjak, seolah tak berujung telah terlewati, kau akan merasakan sensasi yang hebat.

Dan saat sampai di puncak tertinggi, memotret atau berfoto dengan latar belakang sunrise yang indah, yang tak akan bisa kau lihat di tempat lain, menyatu dengan alam, seperti tak berjarak, di sebuah area yang berdinding kehampaan, merasa kecil, melebur, menggigil di dalam semak di sebuah cekungan lembah, di bawah naungan pohon-pohon cemara dan bintang-gemintang, di antara batu-batu dan rumput-rumput yang basah, dan jauh dari keramaian tentu saja, kau akan merakan sebuah perasaan yang belum ternamakan sebelumnya—atau mungkin itulah yang disebut: ketenangan.

Kami sampai di puncak Gunung Abang setelah hampir 2 jam lebih mendaki dari pos 1. Itu jalur tersulit dari Gunung Abang. Tipe tanah yang lembut dan mudah amblas, sering menghambat perjalanan kami.

Di jalur sepanjang pos 2 sampai puncak, kau akan menemui banyak lubang besar dan gap yang cukup terjal dengan tanjakan, hutan rimbun juga terowongan yang cukup dalam dan satu tanjakan yang mengharuskan kami berpegangan pada tali yang mungkin sudah disiapkan pihak pengelola. Dan ya, siapkan mantelmu, sebab dari pos 2 sampai puncak hujan sering datang tanpa permisi.

Berpose di jalur dengan pohon tumbang dan penampakan tanjakan menuju puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Dan saya sarankan, jika kau sudah lelah dan berniat untuk melanjutkan pendakian pada esok hari, dirikankanlah tenda di pos 2, sebab camping ground di sana cukup luas dan datar. Tapi kau harus tetap waspada dan hati-hati kalau tidak mau berbagi roti dengan tikus yang cukup aktif.

Puncak Gunung Abang tak terlalu luas. Di sana ada pelinggih, semacam pura kecil umat Hindu, dan plang penanda—seperti pada umumnya gunung yang sering didaki—bertuliskan: MT. Abang 2.151 MDPL. Dari puncak gunung ini kau dapat menikmati Gunung Batur, danau, Gunung Agung, dan jika cuaca cerah, Gunung Rinjani di Lombok terlihat begitu mengagumkan.

Sebelum hujan benar-benar turun, setelah mendirikan tenda dan membuat perapian—di puncak angin berembus kencang dan itu membuat kami mati-matian menyalakan bara—kami berbaring sejenak di atas debu, di bawah langit yang terlihat begitu rendah dengan hiasan bintang di atas wajah. Bang Jamal dan Didi—yang notabene sama-sama baru pertama kali mendaki gunung—baru saja merasakan perasaan takjub pada bumi. Saya percaya, mereka akan selalu mengingat sensasi itu setelah kembali ke rumah masing-masing. Dan akan menjadi cerita menarik suatu saat nanti.

Hujan turun. Kami masuk tenda dan tertidur.

Pagi hari, seingat saya, saat membuka mata, saya hanya mendapati Dziky yang masih lelap di samping saya. Rahman, Bang Jamal, dan Didi, rupanya sudah sibuk membuat sarapan dan menikmati pemandangan yang tak akan mereka lupakan. Danau dan Gunung Batur, Gunung Agung, pohon pinus, ilalang, sunrise yang indah, dan itu, ya Tuhan, di balik awan putih itu, puncak Gunung Rinjani benar-benar terlihat.

Melinting tembakau di puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Saya tersenyum saat melihat mereka antusias mengabadikan momen tersebut. Seketika saya teringat kata-kata Soe Hok Gie, “Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur”. Dan benar, pemuda idealis itu tidur dalam keabadian di Gunung Semeru. Atau Christopher McCandless, seorang petualang muda asal Amerika Serikat itu ditemukan meninggal di Alaska setelah melakukan perjalanan panjang. Ah, ternyata dulu saya pernah begitu naif.

Penampakan puncak Gunung Rinjani dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Namun, saya sepakat, sekali-dua kali orang mesti tinggalkan rumah, kampung halaman dan melongok ke sana kemari. Lamartin benar ketika ia berkata, “Orang tidak bakal jadi manusia utuh, jika tak pernah melancong dan mengubah gaya hidupnya”. Atau seperti kata Mahbub Djunaidi, “Dengar-dengar saja tentu kurang memadai”. Dan bukankah ada kearifan Tiongkok lama yang berbunyi: melihat sekali lebih baik daripada mendengar 1000 kali? Saya pikir begitu.

Saya bergabung bersama Rahman, Didi, dan Bang Jamal, meninggalkan Dziky yang masih terlelap.[T]

Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Menuju Kawah Ijen, Memandang Langit, Bersama Taxi Ijen
Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo
Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Tags: baliBangliGunung AbangKintamaniperjalananpetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seniman dari Lima Negara Pada Nungkalik International Festival

Next Post

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co