22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!

Jaswanto by Jaswanto
July 12, 2023
in Tualang
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!

Penulis berpose di puncak Gunung Abang | Foto: Dok. Jaswanto

PADA JUMAT, 17 Januari 2020, saat hendak berangkat ke masjid, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Bang Jamal—arsitek muda dari Lampung itu—mengajak saya mendaki gunung. Dia bilang sebenarnya sudah lama sekali ingin mendaki, hanya saja belum ada kesempatan. Dan hari itu, keinginannya sudah tidak bisa dibendung lagi, katanya.

Saya mengiyakan—walaupun sebenarnya waktu itu tubuh saya tidak sedang dalam kondisi baik. Ya, saya ingat sekali, beberapa hari saya terserang flu dan batuk, sampai lama. Tapi apa boleh buat, mendaki gunung itu sangat menyenangkan. Dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Akhirnya saya menghubungi sahabat saya—yang tidak pernah menolak untuk saya ajak mendaki—yang saat itu dia masih menjadi mahasiswa akhir di Singaraja—sekarang dia sudah menjadi wartawan muda di JTV. Dia mau. Dan seperti biasa, dia telah mempersiapkan semuanya.

Setelah makan siang, saya mengajak Bang Jamal berangkat ke kontrakan saya dan sahabat saya, Dziky, di Jl. Bisma, Singaraja, belakang gedung perpustakaan Universitas Panji Sakti—kami sepakat untuk berkumpul di sana. Dan di kontrakan yang kami sebut “Republik Cidro” itu, sudah ada dua pemuda yang akan ikut serta. Yang satu masih SMA, yang satunya lagi mahasiswa tingkat 5 dari UNS, Solo—“Liburan semester, Bang,” katanya.

Terkait penyebutan kontrakan Republik Cidro ini bukan tanpa alasan. Kami sepakat menyebutnya begitu sebab kami, para penghuninya, memang termasuk dalam golongan orang-orang “cidro”—kata yang dipopulerkan oleh alm Didi Kempot (1966-2020), yang kini dikenal sebagai The Godfather of Broken Heart. Ya, waktu itu, kami semua adalah mahasiswa “tuna asmara”. Kadar ketertolakan kami (patah hati) lebih besar daripada cinta kami yang diterima. Setiap kami jatuh cinta, perasaan kami nyaris berakhir cidro.

Setelah ngobrol dan menikmati tembakau Aceh Gayo yang dibawa Rahman—yang saat ini sudah menjadi alumni UNS itu—, mengakrabkan diri satu sama lain dan menyanyikan satu-dua buah lagu Didi Kempot dan Nosstress, akhirnya kami berlima sepakat untuk mendaki Gunung Abang, gunung tertinggi ketiga di Bali setelah Gunung Agung dan Gunung Batukaru.

***

Gunung Abang terletak di Desa Abangsongan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Gunung ini menjadi daratan tertinggi di kawasan tepi kaldera Gunung Batur—Gunung Abang dan Gunung Batur memang terletak di lokasi yang sama. Posisinya sendiri nyaris berhadap-hadapan; Gunung Abang di sebelah timur, sedangkan Gunung Batur di sebelah barat.

Menurut buku catata saya, kami berlima berangkat dari Singaraja pukul 17.27 WITA. Dari Singaraja ke Gunung Abang membutuhkan waktu 1 jam 47 menit (sekitar 62 km). Dan kami sampai di basecamp (atau tempat registrasi) Gunung Abang pukul 20.20 WITA.

Pemandangan Danau dan kaldera Batur dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Sampai di sana kami disambut hangat oleh bapak penjaganya. Laki-laki paruh baya itu sangat baik. Selain membikinkan api unggun, dia juga telah memasak air panas dan menyediakan kopi, juga telah menyiapkan ubi rebus untuk kami santap bersama.

Saya tidak peduli motif keramah-tamahan seperti itu apakah hanya sekadar formalitas atau memang benar-benar ketulusan atau justru keprihatinan karena wajah kami memang pantas untuk dikasihani. Yang jelas, menyeruput kopi panas, merokok dan melahap ubi rebus di tengah suhu dingin khas pegunungan sambil mengobrol banyak hal dan sesekali gelak tawa, membuat kami merasa seperti kerabat jauh yang sudah lama tak berjumpa dan malam itu saling menumpahkan kerinduan sambari bersiap untuk kembali melepaskan kepergian.

Kami cukup lama di basecamp. Beberapa pendaki, setelah registrasi dan membayar tiket, langsung jalan ke parkiran kendaraan—kecuali kami. Sepertinya, kami pendaki yang paling santai di antara pendaki lainnya. Toh, buat apa buru-buru?

Pukul sembilan lebih, hampir jam sepuluh malam, setelah membayar tiket, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke parkiran kendaraan. Dan pukul sepuluh lewat sedikit, setelah berdoa bersama, kami mulai pendakian. Malam itu, sepertinya kami adalah pendaki terakhir.

***

Meski berdekatan, jalur Gunung Abang dan Gunung Batur sangat jauh berbeda. Jika jalur Gunung Batur dipenuhi batu dan pasir dan menanjak terus dari bawah sampai puncak, jalur Gunung Abang justru tak ada batu, semuanya tanah licin dan berlubang. Dan, di Abang banyak pohon tumbang dan semak belukar—jangan harap kau menemukan ini di Batur, kecuali kau memilih jalur hutan pinus.

Mendaki Gunung Abang harus menyediakan banyak air minum, sebab di sana tak ada mata air. Dan siap-siap sedikit sesak napas jika memilih mendaki malam hari. Ya, seperti yang sudah saya katakan, di jalur Gunung Abang, sejauh mata memandang, kau hanya akan melihat pohon-pohon besar dan semak belukar—dalam hal ini guru-guru SD sudah memberi kita pengetahuan bahwa pada malam hari semua tumbuhan menyerap Oksigen (O2) dan menghasilkan Karbondioksida (CO2), walau jumlahnya tak seberapa.

Pemandangan Danau dan kaldera Batur dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Estimasi pendakian dari parkiran sampai puncak Gunung Abang sekitar 3 jam. Di gunung ini terdapat dua pos, yakni pos 1, pos 2, dan puncak. Kata penjaga basecamp, kabarnya ada jalur yang menghubungan Gunung Abang dan Bukit Trunyan (untuk pendakian bukit ini kapan-kapan saya ceritakan), tapi masih belum jelas, apakah dibuka untuk publik atau hanya jalur yang dilalui tentara—jalur ini kabarnya dibuka TNI.

Dari start point (parkiran) menuju pos 1 jalur cenderung masih mudah walau ada sedikit jalur berlubang yang cukup dalam. Kami membutuhkan 40 menit untuk sampai di pos 1, tempat pendaki biasanya mendirikan tenda, setelah melewati jalur sempit yang hanya cukup untuk satu orang dan berhenti entah berapa kali. Didi, anak SMA itu, terlihat kelelahan dengan napas tersengal. “Ini pengalaman pertama saya, Mas. Sebelumnya tidak pernah mendaki gunung,” katanya sambil tetap mengisap rokok walau napasnya sudah satu-satu.

Istirahat saat perjalanan turun dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Ya, bagi orang yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, jalur Gunung Abang rasanya memang menjadi momok menakutkan. Dari parkiran sampai pos 1 saja, nyaris tak ada jalur yang landai. Setelah melewati satu tanjakan, di depan, tanjakan lain—dan kadang terlihat lebih sulit dilewati—sudah menunggu.

Mendaki gunung memang tak semudah dibayangkan. Dan tentu tak hanya soal-soal yang indah-indah saja seperti yang sering disampaikan vloger-vloger. Saat mendaki gunung, kakimu akan terasa lumpuh, kulitmu seakan mati rasa, pundak terasa berat, napasmu sesak, ego memuncak. Walau sebenarnya itu adalah kenikmatan lain yang ditawarkan alam kepadamu, agar kau merasakan bahwa sejatinya, jika ingin meraih sesuatu yang menurutmu indah, tentu rasa-rasa yang tidak menyenangkan itu akan hadir sebagai bumbu-bumbu penyedap. Dan anggaplah itu sebagai proses belajar untuk menaklukkan dan berdamai dengan diri sendiri.

Kami berhenti sebentar di pos 1. Dari pos 1 kau bisa melihat sedikit pemandangan Gunung Batur, kaldera dan danau batur. Saya memperhatikan Bang Jamal, wajahnya tampak berbinar dalam kegelapan.

***

Kawanku, meski kakimu terasa lumpuh, mendaki gunung—sekali lagi—sangat menyenangkan. Saat perjalanan mendaki menembus kegelapan malam di jalan setapak yang terjal, berpasir, berdebu, licin, berlubang, menanjak, seolah tak berujung telah terlewati, kau akan merasakan sensasi yang hebat.

Dan saat sampai di puncak tertinggi, memotret atau berfoto dengan latar belakang sunrise yang indah, yang tak akan bisa kau lihat di tempat lain, menyatu dengan alam, seperti tak berjarak, di sebuah area yang berdinding kehampaan, merasa kecil, melebur, menggigil di dalam semak di sebuah cekungan lembah, di bawah naungan pohon-pohon cemara dan bintang-gemintang, di antara batu-batu dan rumput-rumput yang basah, dan jauh dari keramaian tentu saja, kau akan merakan sebuah perasaan yang belum ternamakan sebelumnya—atau mungkin itulah yang disebut: ketenangan.

Kami sampai di puncak Gunung Abang setelah hampir 2 jam lebih mendaki dari pos 1. Itu jalur tersulit dari Gunung Abang. Tipe tanah yang lembut dan mudah amblas, sering menghambat perjalanan kami.

Di jalur sepanjang pos 2 sampai puncak, kau akan menemui banyak lubang besar dan gap yang cukup terjal dengan tanjakan, hutan rimbun juga terowongan yang cukup dalam dan satu tanjakan yang mengharuskan kami berpegangan pada tali yang mungkin sudah disiapkan pihak pengelola. Dan ya, siapkan mantelmu, sebab dari pos 2 sampai puncak hujan sering datang tanpa permisi.

Berpose di jalur dengan pohon tumbang dan penampakan tanjakan menuju puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Dan saya sarankan, jika kau sudah lelah dan berniat untuk melanjutkan pendakian pada esok hari, dirikankanlah tenda di pos 2, sebab camping ground di sana cukup luas dan datar. Tapi kau harus tetap waspada dan hati-hati kalau tidak mau berbagi roti dengan tikus yang cukup aktif.

Puncak Gunung Abang tak terlalu luas. Di sana ada pelinggih, semacam pura kecil umat Hindu, dan plang penanda—seperti pada umumnya gunung yang sering didaki—bertuliskan: MT. Abang 2.151 MDPL. Dari puncak gunung ini kau dapat menikmati Gunung Batur, danau, Gunung Agung, dan jika cuaca cerah, Gunung Rinjani di Lombok terlihat begitu mengagumkan.

Sebelum hujan benar-benar turun, setelah mendirikan tenda dan membuat perapian—di puncak angin berembus kencang dan itu membuat kami mati-matian menyalakan bara—kami berbaring sejenak di atas debu, di bawah langit yang terlihat begitu rendah dengan hiasan bintang di atas wajah. Bang Jamal dan Didi—yang notabene sama-sama baru pertama kali mendaki gunung—baru saja merasakan perasaan takjub pada bumi. Saya percaya, mereka akan selalu mengingat sensasi itu setelah kembali ke rumah masing-masing. Dan akan menjadi cerita menarik suatu saat nanti.

Hujan turun. Kami masuk tenda dan tertidur.

Pagi hari, seingat saya, saat membuka mata, saya hanya mendapati Dziky yang masih lelap di samping saya. Rahman, Bang Jamal, dan Didi, rupanya sudah sibuk membuat sarapan dan menikmati pemandangan yang tak akan mereka lupakan. Danau dan Gunung Batur, Gunung Agung, pohon pinus, ilalang, sunrise yang indah, dan itu, ya Tuhan, di balik awan putih itu, puncak Gunung Rinjani benar-benar terlihat.

Melinting tembakau di puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Saya tersenyum saat melihat mereka antusias mengabadikan momen tersebut. Seketika saya teringat kata-kata Soe Hok Gie, “Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur”. Dan benar, pemuda idealis itu tidur dalam keabadian di Gunung Semeru. Atau Christopher McCandless, seorang petualang muda asal Amerika Serikat itu ditemukan meninggal di Alaska setelah melakukan perjalanan panjang. Ah, ternyata dulu saya pernah begitu naif.

Penampakan puncak Gunung Rinjani dari puncak Gunung Abang / Foto: Dok. Jaswanto

Namun, saya sepakat, sekali-dua kali orang mesti tinggalkan rumah, kampung halaman dan melongok ke sana kemari. Lamartin benar ketika ia berkata, “Orang tidak bakal jadi manusia utuh, jika tak pernah melancong dan mengubah gaya hidupnya”. Atau seperti kata Mahbub Djunaidi, “Dengar-dengar saja tentu kurang memadai”. Dan bukankah ada kearifan Tiongkok lama yang berbunyi: melihat sekali lebih baik daripada mendengar 1000 kali? Saya pikir begitu.

Saya bergabung bersama Rahman, Didi, dan Bang Jamal, meninggalkan Dziky yang masih terlelap.[T]

Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja
Menuju Kawah Ijen, Memandang Langit, Bersama Taxi Ijen
Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo
Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Tags: baliBangliGunung AbangKintamaniperjalananpetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seniman dari Lima Negara Pada Nungkalik International Festival

Next Post

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co