24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja

Putu Oka Suyasa by Putu Oka Suyasa
May 3, 2023
in Tualang
Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja

Pendakian di Gunung Tapak bersama Sispala SMAN 1 Singaraja | Foto: Istimewa

PERJALANAN AKU MULAI DARI DENPASAR. Sekitar pukul 6 pagi, kendaraanku sudah melaju di Jalan Raya Kapal menuju Bedugul di wilayah Baturiti, Kabupaten Tabanan.

Aku berangkat bersama Fatin yang aku bonceng dengan motor. Pada boncengan bagian depan ada tambahan  alat perlengkapan seadanya. Barang yang aku bawa hanya untuk bekal perjalanan tracking, mengingat pendakian yang aku tuju adalah Gunung Tapak.

Perjalanan untuk mendaki ini dapat ditempuh dengan konsep Pergi-Pulang (PP), tanpa kemah. Konsep ini biasanya aku sebut dengan istilah kebut siang, yaitu pendakian start pada pagi hari dan turun sore harinya.

‌Perjalanan dari Denpasar hingga tiba di perempatan Patung Jagung  Desa Candikuning, di Bedugul, kurang lebih menggilas waktu sekitar 1,5 jam. Perjalanan dimulai dari kemacetan di kota, sampai udara dingin menerpa kulit. Dingin terasa agak menusuk begitu melewati jalan naik dari Baturiti menuju Bedugul. Walaupun sudah menggunakan jaket hitam yang sering aku gunakan untuk mendaki namun dingin sungguh amat terasa.

Namun dingin, dalan bahasaku, biasa disebut sejuk. Dan, sejuk serta sedikit kabut itulah yang menemani perjalananku menuju titik kumpul. Kali ini pendakian memang aku rencanakan bersama anak-anak Siswa Pecinta Alam (Sispala) SMA 1 Singaraja. Saya sendiri sebagai pembina Sispala itu. Total yang ikut pendakian sebanyak 20 orang.

Pendakian ini memang salah satu dari program kerja yang dirancang anak-anak Sispala. Yaitu, mendaki 7 puncak gunung di Bali.  Mereka sebut program itu dengan nama Sapta Agra. Sapta artinya 7, agra artinya puncak atau paling tinggi.

‌Program Sapta Agra sebenarnya upayaku  mempengaruhi mereka, anak Sispala itu, untuk melakukan sebuah chalange organisasi agar bisa mendaki puncak-puncak gunung yang ada di Bali. Entah itu namanya seven submit atau apalahlah nanti, aku berikan mereka menentukan namanya.

Pada akhirnya lahir ide nama Sapta Agra yang artinya tujuh puncak. Rencana kegiatan itu akan diisi dengan pendakian dan pembersihan di puncak gunung dengan konsep mendakian “Gunung Bukan Tempat Sampah”. Yaa makin menariklah untuk dilaksanakan.

‌Barang-barang perlengkapan yang aku bawa sebenarnya hanya seadanya saja. Barang itu cukup untuk perjalanan tracking sampai sore. Kompor kecil, nesting sebagai pengganti panci, gas portable, kopi dan beberapa snack wajib aku bawa setiap pendakian maupun camping.

Makan siang aku putuskan dengan memasak mie di puncak agar lebih praktis. Oh ya, ditambah lontong yang sudah aku persiapkan sebagai campuran mie instan.

Barang yang tidak boleh aku lupakan tentu saja jas hujan mengingat daerah Bedugul, terutama Gunung Tapak, sangat identik dengan hujan.

***

Sampailah kami pada titik kumpul  yang sudah disepakati. Titik kumpul itu tepat di salah satu toko modern di depan Patung Jagung Candikuning. Anak-anak Sispala SMAN 1 Singaraja tampak sudah berada di tempat. Mereka berangkat dari Singaraja, sementara aku yang datang dari Denpasar sedikit terlambat tiba, padahal motor sudah kupercepat.

Basa-basi sebentar, proses pendakian pun dimulai. Kali ini total 20 orang yang akan naik Gunung Tapak. Sebelum kami berangkat menuju pos Kelompok Petani hutan (KPH) Wanasari, aku sempatkan untuk membeli beberapa tambahan snack,  termasuk air. Itu sudah menjadi kebiasaan, aku membeli air di warung atau toko terakhir menuju start pendakian. Hal ini dilakukan agar tas yang kubawa tidak terlalu berat.

KPH Wanasari di Desa Candikuning adalah titik awal sebagai start pendakian. Kami menuju ke tempat itu.

Dari titik kumpul di Patung Jagung, kami melewati jalan raya ke arah selatan,  jalan itu biasanya dilalui untuk menuju ke Tabanan, Marga, dan Air Panas Angseri.  Beberapa meter sebelum  tempat wisata De Silas, kami belok  ke kanan melewati jalan nampak yang mulai rusak dan menanjak.

Sispala SMAN 1 Singaraja | Foto: Istimewa

Motor yang kami bawa bergejolak. Untungnya semua bisa diatasi, semua naik. Sepanjang jalan kami melewati beberapa rumah warga dan kebun sayur kol, wertel, selandri dan strawberry. Pemendangan itu membuat jalan tanjakan nampak seperti jalan datar. Sesekali aku berhenti sambil menunggu teman yang lain, memastikan mereka bisa melewati tanjakan-tanjakan yang ada.

‌Tibalah kami di pos KPH Wanasari. Setelah registrasi dengan  Bapak Komang Tomi, sekretaris KPH Wanasari. Kami membayar registrasi 10 ribu dikali 20 orang. Setelah itu, kami memulai pendakian yang sebenarnya. Jam menunjukkan pukul 8.00.

“Ayok kita kumpul dulu sebelum berangkat naik,” kataku sambil membentuk lingkara. Hal ini sering kami lakukan sebelum melakukan pendakian.

Dengan mengecek barang terutama kunci motor, memastikan helm barang yang dibawa, dan yang terakhir adalah doa bersama.

“Ini tos kita seperti apa?” tanyaku sambil mengururkan tangan untuk tos.

“Sapta Agra, Suskses!” jawab Alya, yang juga mengulurkan tangan bersamaan dengan teman teman lainnya.

“Sapta agraa,,,,,,,,, Sukses!” Tos kami bersamaan sambil bertepuk tangan.

***

Pendakian dimulai. Para pendaki biasa menyebut jalur yang kamim lalui ini dengan sebutan Geotermal Bedugul. Aku sendiri belum pernah lewat jalur ini ke Gunung Tapak. Tanpa tahu jalur kami tetap melanjutkan perjalanan dengan modal mental, skill dan fisik. Aku yang sudah jarang olahraga mencoba menempatkan  mental di atas skill dan fisik. “Kan yang penting gas dulu!?”

‌Dalam perjalan kami awali dengan menyusuri jalan setapak, kurang lebih setengah jam sampai di bekas proyek geotermal. Sampainya di areal bekas proyek yang sempat jadi polemic di Bali itu, saya melihat tempat yang sangat luas dengan pemandangan Gunung Tapak. Pemandangan itu membuatku berhenti sejenak, melihat sekeliling.

Tak lupa kami bersembahyang di beberapa pelinggih yang ada, memohon izin melakukan pendakian agar selamat, dan semoga pendakian ini memiliki makna untuk kami.

Sebuah lorong besi besar tepat di sebelah jalan menjadi spot foto yang bagus, dan lorong itu seperti penanda start pendakian dimulai dari tempat itu. Beberapa teman berfoto ria, seolah besi berkaarat itu menjadi benda yang exotis untuk backround foto.

Usai berfoto kami melanjutkan perjalanan menapaki jalan tanah yang dikelilingi rimbunnya hutan. Sekeliling kiri dan kanan hanya terdapat semak dan pohon-pohon yang sudah berlumut. Kicaun burung yang terus mengiringi kami dalam perjalanan membuat hatiku menjadi tenang, tentu berbeda dengan suara kendaraan yang tiap hari aku dengar di kota saat berangkat menuju kantor.

***

Perjalanan dengan iringan kicau burung dan suara dari daun yang bergesekan membuat susana hati menjadi sejuk walaupun kelelahan terus menghampiri.

‌”Lanang, apa benar ini jalannya, kok terus menanjak?” tanyaku kepada Lanang yang berada di depan barisan. Aku, Genta dan Bowo berada di belakang menjadi sweeper, memantau teman teman agar tidak tertinggal. Tapi nyatanya kami  yang menjadi sweeper terus tertinggal.

“Benar, Kak, di beberapa vidio gampang kok jalannya tapi ini kok agak lebat ya? Apa karena sudah jarang yang lewat sini?” kata Lanang sambil menghampiriku yang berada di belakang.

‌”Sebentar. Ini sepertinya bukan jalur ke Gunung Tapak, ini peta terakhir yang terekam di mapku mengarah ke Gunung Lesung, bukan ke Tapak,” jawabku sambil menunjukkan GPS yang ada di HP, walaupun tidak ada sinyal tapi sudah aku antisipasi dengan GPS yang dapat berfungsi walaupun tidak ada signal.

Kami pun berhenti sebentar berdiskusi mengenai jalan.

“Ini sih, kalau Gunung Tapak itu kan gunung yang sudah sering didaki, otomatis ada beberapa tanda, seperti sampah kecil, jejak kaki, puntung rokok. Nah, tapi kok jalurnya ini masih bersih?!” jelasku pada Lanang.

Beberapa teman lain dengan wajah yang bingung beristirahat sebentar sembari meneguk air minum dan makan cemilan yang dibawa.

‌”Sudah. Begini saja, Nang. Kita balik saja. Aku tak yakin dengan jalur ini. Masih sangat bersih tanpa adanya tanda-tanda jalur, memang bisa kita terobos tapi kita ngajak 20 orang dan tanpa persiapan untuk perjalanan malam!”

Pendakian di Gunung Tapak | Foto: Istimewa

Aku pun mengatakan hal itu pada teman yang lain agar kami balik dulu sampai ada jalur setapak yang benar-benar jelas. Dari awal menanjak sebenarnya aku sudah curiga dengan jalurnya. Untuk mengantisipasinya aku mematahkan beberapa daun pakis untuk menandakan jalan.

Kemudian karena jalur semakin tidak jelas, aku mencoba merobek beberapa plastik merah untuk dijadikan tanda di beberapa pohon. Hal tersebut aku lakukan bersama Genta dan Bowok yang ada di belakang.

‌Kami pun memutuskan untuk turun sampai di awal mulai tanjakan. Keluhan dan pertanyaan beberapa teman mulai terdengar. “Kita balik lagi ni, Kak? Tersesat ini, Kak” tanya beberapa teman..

“Tidak tersesat. Kita balik. Tadi sepertinya aku lihat jalur setapak ke kanan, mungkin itu jalurnya, coba kita balik dulu sampai di sana,” ajakku sembari menenangkan mereka.

‌Setelah jalan turun, kurang lebih 30 menit sambil mencabut beberapa tanda plastik merah yang aku ikat di pohon tadi, kami tiba di pertigaan jalan setapak yang aku katakana tadi.

“Nah, coba ini kayaknya jalurnya. Sebentar aku cek!”

***

Aku berjalan dan meminta teman untuk istirahat dulu sembari aku mengecek jalur setapak itu. Ternyata setelah beberapa meter aku berjalan, ada pita merah yang terikat. Kemudian aku berjalan lagi dan ada lagi pita merah. Aku berkesimpulan inilah jalurnya, karena juga terdapat jejak kaki dan beberapa sampah kecil. Aku bergegas balik memberitahukan yang lain.

‌”Ini  jalurnya. Yook, gas lagi,” ajakku. Sekarang aku berada di depan barisan dan aku minta Genta dan Bowok tetap berada di belakang. Untuk memantau teman yang kelelahan dan melihat barang-barang yang mungkin terjatuh.

‌Setelah beberapa menit jalurpun semakin terlihat jelas dan aku yakin dengan jalur ini, karena pernah aku lewati menuju Gunung Tapak di pendakian sebelumnya. Akupun menunggu Genta dan Bowok yang ada di belakang sambil istirahat mengambil minum yang ada di dalam tasku dan snack coklat yang aku beli di toko modern tadi.

Aku minta teman lain untuk melanjutkan perjalanan. Sambil aku beristirahat.

‌Aku, Genta dan Bowo, kembali berjalan di belakang agar obrolan kami bisa dilanjutkan, karena sempat terpotong. Kami berbasa-basi dengan berjalan santai mengenai beberapa rencana  bisnis kecil-kecilan yang pasti sulit untuk terlaksana.

‌Jam menunjukkan pukul sebelas. Perut sudah mulai keroncongan. Kami menggenjot perjalanan agar bisa  makan di puncak. Sudah tidak sabar memasak mie dan minum kopi.  Kami terus berjalan. Tak ada rasa ragu lagi dalam berjalan di jalur tersebut, karena jalur dan arah ke puncak Gunung Tapak memang sudah benar.

***

‌Pukul 11.30 kami tiba di puncak Gunung Tapak. Gunung dengan tinggi 1909 mdpl dan  termasuk gunung tertinggi ke- 7  di Bali, menjadi saksi pertama pendakian Sapta Agra. Udara yang sangat sejuk menghilangkan rasa lelah kami. Puncak yang tak ramai. Hanya ada orang yang berzikir, membuat suasana asri dengan toleranai yang kental di Gunung Tapak. Aku ambil perbekalan di ransel, bongkar perlengkapan masak untuk masak air panas dan persiapkan mie instan yang kubawa.

‌Canda tawa saat di puncak Gunung Tapak | Foto: Istimewa

Canda tawa kami mengiringi sambil menikmati kesejukan Puncak Tapak. Di puncak Gunung Tapak sendiri terdapat dua tempat ibadah  yaitu untuk umat Hindu berupa Padmasana dan beberapa pelinggih, dan ada juga makam Sali Pitu dan tempat beribadah umat muslim. Tempat yang bersebelahan tersebut menggambarkan toleransi ada di puncak Gunung Tapak.

Tak selang berapa lama makanan pun jadi kopi dan mie instan siap aku santap. Namun saat kami makan tiba hujan turun dengan deras. 

“Wah hujan, pindah tempat, yook masuk ke pondok saja,” kataku sambil bergegas mengangkat barang yang tadinya aku gelar di luar.

Pondok yang cukup 20 orang itu membuat kami semakin sadar akan kebersaaman dalam pendakian itu. Makan bersama-sama di dalam pondok itu walaupun hanya sekedar mie instan dan kopi, cukup mengganjal perutku yang kosong. Cerita cerita kecil dan sedikit ejekan mewarnai pondok tersebut.

Rencananya kami akan sembahyang, namun hujan cukup lama, sampai bekal makan dan snack yang kami bawa sudah mulai habis. Sambil bercengkrama membahas perjalanan, tiba-tiba turun kabut dan hujan yang belum reda membuat badanku terasa dingin dan segera aku mengambil jaket di dalam tas.

**

‌Pukul 2 siang. Lanang dan Holy bertanya, “Men gini, gimana, Kak? Kita terobos saja hujannya, apa kita tunggu reda, kami bawa sih jas hujan, Kak,” kata beberapa dari mereka..  Sambil berharap hujan reda aku sedikit memberikan opsi. “Begini saja, kita kan tak siap untuk perjalanan malam, nah perjalanan turun itu sekitar  satu setengah jam. Sampai jam 3 kita tunggu dulu. Kalau belum reda terpaksa kita terobos, kan hitunganya kita maksimal sampai di bawah jam 5. Jadi tidak kena malam!”  kataku.

Memang kami tidak mempersiapkan diri untuk perjalanan malam seperti perlengkapan cahaya, selimut dan tenda.

‌Sambil menunggu jam 3, hujan pun nampak reda, namun masih gerimis. Kami pun bersiap siap untuk turun. Sebelum turun kami bersembahyang sesuai dengan agama yang kami peluk dan kepercayaan masing masing.

Walaupun gerimis dan hujan kami tetap berusaha untuk membersihkan puncak Gunung Tapak. Tak banyak sampah yang kami temukan di puncak Gunung Tapak. “Yang jelas, ingat ambil, dan bawa turun sampah plastik dari sini agar tidak membuat tempat ini kotor!” ajakku ke semua teman-teman yang ikut.

‌Dalam perjalanan pun kami terus mengambil sampah yang ada di jalur. Jalur tampak becek karena hujan yang turun. Licin. Terpeleset kerap kami alami. Baju kotor dan pacet yang menempel di kaki tak kami rasakan lagi. Tetap saling menjaga antar pendaki membuat solidaritas dan toleranai kami terjaga. Serasa perjalanan turun mengajarkan kami untuk tetap tolerasi terhadap teman teman.

‌Sambil saling bercerita mengenai pendakian bersama teman-teman lain, menambah perjalanan kami semakin berisi. Sepatu yang sudah basah dan kulit kaki yang mengembang sudah tak kami hiraukan juga.

Perjalanan turun yang hampirsatu setengah jam, menghatarkan kami ke areal Goetermal Bedugul, tempat awal kami lalui. Tidak banyak ambil foto, kami langsung menuju KPH Wanasari dengan kembali menyusuri jalan aspal yang membuat kami lebih mudah dalam berjalan. Kondisi sepatu kami sudah basah dan licin.

***

Pukul 5 kami tiba di KPH Wanasari. Sampah yang kami kumpulkan di perjalanan kurang lebih satu trush bag kemudian kami kumpulkan di tempat sampah base camp KPH Wanasari.

‌Kami membersihkan kaki karena lumpur dan celana yang sudah tak karuan bentuknya.

Kami bertemu dengan Bapak Tomi selaku sekretaris KPH Wanasari. kami beberapa kali berbincang bincang dengannya.

‌”Gimana pendakiannya? Hujan tadi di atas, apa ada tersesat atau salah jalan?” tanyanya kepadaku.

“Iya, Pak. Tadi kami salah jalan. Ada ke arah kiri dekat sini, kami naik dan itu salah. Tapi habis itu kami balik, untungnya ketemu jalurnya. Sampai di puncak saja kami kehujanan, Pak  dan cukup deras. Ohh ya, Pak di atas ada makam dan Padmasana ya?” kataku.

Pak Tomi menjelaskan kalau memang di puncak Gunung Tapak itu ada makam Wali Pitu, jadi itu menggambarkan toleranai kami umat Hindu dengan umat muslim. Selain di puncak, ia juga menjelaskan kalau masyarakat juga saling hidup rukun di sini.

“Kadang kalau kami di sini misalnya hari raya Nyepi,  kami dibantu oleh umat muslim, waktu pengarakan ogoh-ogoh. Itu kami saling membantu pemuda sana dan pecalang sama-sama menjaga ketertiban pengerupukan. Begitu juga waktu mereka ada acara seperti Lebaran kemarin, pecalang juga hadir. Jadi tidak hanya di puncak saja toleransinya di bawah pun toleranai masih terjaga,” jelasnya.

Perjalanan yang memberikan pelajaran kami tentang toleransi membuat keyakinan kami bahwa toleranai itu bisa diterapkan di mana saja.

Tak lama setelah kami melepas lelah dan bersih-bersih, berganti pakaian, kami pun  bergantiang pamitan untuk menuju rumah masing-masing. [T]

Deru Angin Dini Hari di Puncak Gunung Abang
Mendaki Malam Menemu Pagi di Pucak Mangu, Gunung Catur, Badung…
Tualang Banyuwangi (1) – Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen
Tags: BedugulDesa CandikuningGunung Tapakpecinta alampendakianSMAN 1 Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Program Film Pendek | Cerita Dari Enam Kota Indonesia Raja 2023

Next Post

Cupak Tanah, Representasi Penguasa di Negara Kita | Ulasan Pementasan Teater Sepit Tiying pada Malam Gelar Seni Gelora Sastra 2023

Putu Oka Suyasa

Putu Oka Suyasa

Pecinta alam. Biasa dipanggil Oka Patung. Lahir di Batur, kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Cupak Tanah, Representasi Penguasa di Negara Kita | Ulasan Pementasan Teater Sepit Tiying pada Malam Gelar Seni Gelora Sastra 2023

Cupak Tanah, Representasi Penguasa di Negara Kita | Ulasan Pementasan Teater Sepit Tiying pada Malam Gelar Seni Gelora Sastra 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co