2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cupak Tanah, Representasi Penguasa di Negara Kita | Ulasan Pementasan Teater Sepit Tiying pada Malam Gelar Seni Gelora Sastra 2023

Musti Ariantini by Musti Ariantini
May 3, 2023
in Ulas Pentas
Cupak Tanah, Representasi Penguasa di Negara Kita | Ulasan Pementasan Teater Sepit Tiying pada Malam Gelar Seni Gelora Sastra 2023

Teater Sepit Tiying STAHN Mpu Kuturan Singaraja mementaskan naskah Cupak Tanah

KETIKA SANDIKALA telah tergeser malam pada hari Minggu di penghujung bulan April 2023, sepasang pembawa acara menyerukan penampilan drama yang berjudul Cupak Tanah, yang dipersembahkan oleh Sekolah Tinggi STAH N Mpu Kuturan Singaraja, tepatnya UKM Teater Sepit Tiying, pada acara Malam Gelar Seni Gelora Sastra UKM Teater Seribu Jendela Undiksha 2023 bertempat Auditorium Sekolah Lab Undiksha, Singaraja. 

Ruang Auditorium Widyastana Sekolah Lab Undiksha yang telah disulap begitu megah, tampak senyap, tak ada bisik, tak ada gerak. Hanya setitik cahaya lampu yang bercahaya di atas panggung.

Selang beberapa menit, ruang senyap tersebut berganti menjadi riuh, orang-orang berbalut kain sembari memegang pelepah pisang, datang dari segala penjuru ruang, sambil berteriak, memaki dan menyentak.

Terdengar bisik-bisik dari kursi penonton, “Inilah saatnya tokoh-tokoh tersebut beradu peran di atas panggung.”

Adegan di atas panggung

Balai kecil ditengah-tengah panggung, ditiduri oleh sosok besar, perut buncit dan kumis tebal yang memerankan tokoh Cupak, terlihat sangar, garang dan rakus. Di sekelilingnya terdapat tokoh-tokoh lain yang membentuk formasi, satu persatu mereka menyampaikan pemikirannya, dengan menggebu, merutuk, mendamprat bahkan mencaci.

Seorang pejabat desa mengumandangkan pidato, dengan kalimat-kalimat penuh pemujaan kepada Cupak, menjanjikan tanah-tanah rakyat untuk memuaskan cupak dan sibuk menjilat Cupak. Diikuti oleh tokoh-tokoh lain, kecuali seorang pemuda.

Seorang pemuda, terus berteriak mendamprat pejabat dan tokoh-tokoh yang sibuk menjilati Cupak. Ucapannya menggebu-gebu menentang keras tindakan menjilat penguasa untuk mendapatkan keinginan pribadi dan mengorbankan orang lain (rakyat). Namun, tak lama pemuda tersebut pun mengikuti tingkah pejabat desa, menjilati setiap inci tubuh cupak.

Penonton dibuat geram dengan pemuda tersebut, entah karena ucapannya yang tidak sesuai dengan tindakannya, atau mungkin tokoh pemuda tersebut merepresentasikan sifat-sifat penonton, yang hanya koar-koar menentang penjilatan penguasa namun diam-diam ikut melakukannya.

Segala kemauan Cupak dipenuhi, bahkan pejabat dan tokoh-tokoh tersebut rela melucuti pakaian (harga diri) hingga setengah bugil diatas panggung untuk memuaskan nafsu cupak.

Adegan Cupak meminta tanah kepada para Pejabat Desa

Saling menindas satu sama lain untuk memenuhi keinginan Cupak (penguasa), mengambil semua hak rakyat untuk dipersembahkan kepada cupak.

Tanah-tanah habis dipersembahkan, tanah pemukiman, tanah sawah, tanah perkebunan, tanah kota, bahkan setiap sudut tanah dimakan oleh Cupak—dalam dunia nyata bisa dikatakan penguasa.

Pejabat berlomba-lomba menyenangkan Cupak, dengan harapan mendapatkan imbalan baik jabatan, kekuasaan, maupun uang.

Di atas panggung, cupak terus memakan tanah yang diberikan oleh pejabat desa, tokoh Cupak (Putu Ade Oka Wijaya) sangat totalitas dan professional. Dia benar-benar memakan tanah yang digunakan sebagai properti, wajah dan tubuhnya terbalut tanah-tanah kering yang menempel pada tubuhnya yang basah akan keringat.

Adegan saat Cupak memakan berbagai jenis tanah

Banyak bisik-bisik penonton yang menyerukan kalimat tanya, “Apakah dia benar-benar makan tanah?” atau “Apakah itu tanah sungguhan?”. Ade Oka Wijaya benar-benar mampu membawakan tokoh Cupak, memberikan gambaran bahwa inilah Cupak, orang yang sangar dan rakus.

Lakon terus berlanjut di atas panggung, hingga sampai pada adegan Cupak buang air besar, lalu semua tokoh yang berada di atas panggung, baik pemuda hingga Pejabat Desa, menunggu keluarnya “tai” Cupak. Setelah “tai” tersebut keluar, mereka berebut untuk memakannya.

Ketika adegan tersebut, riuh suara penonton yang berseru jijik dengan ekspresi-ekspresi ingin muntah. Properti “tai” yang digunakan sangat mirip dengan tai-tai yang biasanya dikeluarkan oleh manusia, hitam besar dan bertekstur.

Pemuda, Pejabat Desa dan tokoh figuran lainnya memakan “tai” tersebut dengan lahap, bak anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tai manusia.

Lalu keluarlah seseorang yang bertopeng, bernyanyi sedih ketika melihat pemandangan tersebut, dengan lirik menyayat hati. Lagu tersebut seolah mengatakan penguasa setan yang bertopeng suci, mencuri segala hak rakyat untuk memperkaya diri dan menindas rakyat.

Adegan berubah lagi, menjadi setting Cupak yang meinta tanah terus-menerus, hingga Pejabat Desa kesulitan memenuhi keinginnya, bahkan tanah kuburan tak luput menjadi santapan Cupak.

Lalu adegan berganti menjadi keributan dan kerusuhan, banyak masyarakat yang berdemo tidak terima dengan sikap Cupak yang semena-mena, memakan tanah-tanah masyarakat, hingga muncul sosok bertopeng yang menjadi Gerantang (adik cupak yang dikira sudah meninggal).

Mereka bertengkar hingga Cupak mengalah dan memberikan kekuasaannya pada Gerantang. Namun, ketika dibuka topeng tersebut malah memunculkan wajah Cupak dengan sifat yang sama—rakus dan semena-mena.

Ending tersebut memunculkan penafsiran ganda, entah memang sedari awal sosok tersebut adalah Cupak dan sosok Gerantang tidak pernah ada. Atau mungkin sosok itu adalah sosok Gerantang yang sudah termakan kursi kekuasaan sehingga sifatnya berubah menyerupai sifat Cupak.

Representasi penguasa di negeri ini

Dari pementasan tersebut bisa kita temukan gambaran-gambaran pemegang kekuasaan di negeri ini. Orang-orang yang sudah menduduki kursi kekuasaan akan melupakan segala tujuan dan berbuat semena-mena menindas rakyat.

Para penguasa mengambil semua hak rakyat. Tanah-tanah rakyat digusur untuk kepentingan pribadi, suap menyuap sudah menjadi hal biasa, perilaku menjilat atasan dan prilaku penguasa yang menyalahkan pejabat, sedangkan pejabat menyalahkan bawahan hingga bawahan menyalahkan dan menindas rakyat. Rakyat yang diam dan bisu semakin tersingkirkan.

Perlu diketahui, naskah Cupak Tanah adalah karya dari Putu Satria Kusuma, seorang sastrawan Bali. Naskah tersebut telah diterbitkan oleh Mahima pada tahun 2015 bersama naskah-naskah lain karya beliau di antaranya naskah Bayangan Didepan Bulan, Di Ruang Tunggu, Menunggu Tikus, Subak dan Naskah Sukreni.

Lakon Cupak Tanah telah dipentaskan pada ruang-ruang bergengsi pada tahun 2007 seperti CCL Bandung, ISI Jogyakarta, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Gedung Kesenian Jakarta, Bentara Budaya Jakarta dan Mimbar Teater Indonesia di Solo.[T]

Monolog “Emak Gugat”: Sebuah Ekspresi Patologi Sosial
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  
Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia
Tags: memotret pentas teaterpanggungseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja

Next Post

Bali Rockin Blues Festival 2023: Panggung Para Pelaku Industri Musik di Bali

Musti Ariantini

Musti Ariantini

Admin tatkala.co

Related Posts

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails
Next Post
Bali Rockin Blues Festival 2023: Panggung Para Pelaku Industri Musik di Bali

Bali Rockin Blues Festival 2023: Panggung Para Pelaku Industri Musik di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co