2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cupak Tanah, Representasi Penguasa di Negara Kita | Ulasan Pementasan Teater Sepit Tiying pada Malam Gelar Seni Gelora Sastra 2023

Musti Ariantini by Musti Ariantini
May 3, 2023
in Ulas Pentas
Cupak Tanah, Representasi Penguasa di Negara Kita | Ulasan Pementasan Teater Sepit Tiying pada Malam Gelar Seni Gelora Sastra 2023

Teater Sepit Tiying STAHN Mpu Kuturan Singaraja mementaskan naskah Cupak Tanah

KETIKA SANDIKALA telah tergeser malam pada hari Minggu di penghujung bulan April 2023, sepasang pembawa acara menyerukan penampilan drama yang berjudul Cupak Tanah, yang dipersembahkan oleh Sekolah Tinggi STAH N Mpu Kuturan Singaraja, tepatnya UKM Teater Sepit Tiying, pada acara Malam Gelar Seni Gelora Sastra UKM Teater Seribu Jendela Undiksha 2023 bertempat Auditorium Sekolah Lab Undiksha, Singaraja. 

Ruang Auditorium Widyastana Sekolah Lab Undiksha yang telah disulap begitu megah, tampak senyap, tak ada bisik, tak ada gerak. Hanya setitik cahaya lampu yang bercahaya di atas panggung.

Selang beberapa menit, ruang senyap tersebut berganti menjadi riuh, orang-orang berbalut kain sembari memegang pelepah pisang, datang dari segala penjuru ruang, sambil berteriak, memaki dan menyentak.

Terdengar bisik-bisik dari kursi penonton, “Inilah saatnya tokoh-tokoh tersebut beradu peran di atas panggung.”

Adegan di atas panggung

Balai kecil ditengah-tengah panggung, ditiduri oleh sosok besar, perut buncit dan kumis tebal yang memerankan tokoh Cupak, terlihat sangar, garang dan rakus. Di sekelilingnya terdapat tokoh-tokoh lain yang membentuk formasi, satu persatu mereka menyampaikan pemikirannya, dengan menggebu, merutuk, mendamprat bahkan mencaci.

Seorang pejabat desa mengumandangkan pidato, dengan kalimat-kalimat penuh pemujaan kepada Cupak, menjanjikan tanah-tanah rakyat untuk memuaskan cupak dan sibuk menjilat Cupak. Diikuti oleh tokoh-tokoh lain, kecuali seorang pemuda.

Seorang pemuda, terus berteriak mendamprat pejabat dan tokoh-tokoh yang sibuk menjilati Cupak. Ucapannya menggebu-gebu menentang keras tindakan menjilat penguasa untuk mendapatkan keinginan pribadi dan mengorbankan orang lain (rakyat). Namun, tak lama pemuda tersebut pun mengikuti tingkah pejabat desa, menjilati setiap inci tubuh cupak.

Penonton dibuat geram dengan pemuda tersebut, entah karena ucapannya yang tidak sesuai dengan tindakannya, atau mungkin tokoh pemuda tersebut merepresentasikan sifat-sifat penonton, yang hanya koar-koar menentang penjilatan penguasa namun diam-diam ikut melakukannya.

Segala kemauan Cupak dipenuhi, bahkan pejabat dan tokoh-tokoh tersebut rela melucuti pakaian (harga diri) hingga setengah bugil diatas panggung untuk memuaskan nafsu cupak.

Adegan Cupak meminta tanah kepada para Pejabat Desa

Saling menindas satu sama lain untuk memenuhi keinginan Cupak (penguasa), mengambil semua hak rakyat untuk dipersembahkan kepada cupak.

Tanah-tanah habis dipersembahkan, tanah pemukiman, tanah sawah, tanah perkebunan, tanah kota, bahkan setiap sudut tanah dimakan oleh Cupak—dalam dunia nyata bisa dikatakan penguasa.

Pejabat berlomba-lomba menyenangkan Cupak, dengan harapan mendapatkan imbalan baik jabatan, kekuasaan, maupun uang.

Di atas panggung, cupak terus memakan tanah yang diberikan oleh pejabat desa, tokoh Cupak (Putu Ade Oka Wijaya) sangat totalitas dan professional. Dia benar-benar memakan tanah yang digunakan sebagai properti, wajah dan tubuhnya terbalut tanah-tanah kering yang menempel pada tubuhnya yang basah akan keringat.

Adegan saat Cupak memakan berbagai jenis tanah

Banyak bisik-bisik penonton yang menyerukan kalimat tanya, “Apakah dia benar-benar makan tanah?” atau “Apakah itu tanah sungguhan?”. Ade Oka Wijaya benar-benar mampu membawakan tokoh Cupak, memberikan gambaran bahwa inilah Cupak, orang yang sangar dan rakus.

Lakon terus berlanjut di atas panggung, hingga sampai pada adegan Cupak buang air besar, lalu semua tokoh yang berada di atas panggung, baik pemuda hingga Pejabat Desa, menunggu keluarnya “tai” Cupak. Setelah “tai” tersebut keluar, mereka berebut untuk memakannya.

Ketika adegan tersebut, riuh suara penonton yang berseru jijik dengan ekspresi-ekspresi ingin muntah. Properti “tai” yang digunakan sangat mirip dengan tai-tai yang biasanya dikeluarkan oleh manusia, hitam besar dan bertekstur.

Pemuda, Pejabat Desa dan tokoh figuran lainnya memakan “tai” tersebut dengan lahap, bak anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tai manusia.

Lalu keluarlah seseorang yang bertopeng, bernyanyi sedih ketika melihat pemandangan tersebut, dengan lirik menyayat hati. Lagu tersebut seolah mengatakan penguasa setan yang bertopeng suci, mencuri segala hak rakyat untuk memperkaya diri dan menindas rakyat.

Adegan berubah lagi, menjadi setting Cupak yang meinta tanah terus-menerus, hingga Pejabat Desa kesulitan memenuhi keinginnya, bahkan tanah kuburan tak luput menjadi santapan Cupak.

Lalu adegan berganti menjadi keributan dan kerusuhan, banyak masyarakat yang berdemo tidak terima dengan sikap Cupak yang semena-mena, memakan tanah-tanah masyarakat, hingga muncul sosok bertopeng yang menjadi Gerantang (adik cupak yang dikira sudah meninggal).

Mereka bertengkar hingga Cupak mengalah dan memberikan kekuasaannya pada Gerantang. Namun, ketika dibuka topeng tersebut malah memunculkan wajah Cupak dengan sifat yang sama—rakus dan semena-mena.

Ending tersebut memunculkan penafsiran ganda, entah memang sedari awal sosok tersebut adalah Cupak dan sosok Gerantang tidak pernah ada. Atau mungkin sosok itu adalah sosok Gerantang yang sudah termakan kursi kekuasaan sehingga sifatnya berubah menyerupai sifat Cupak.

Representasi penguasa di negeri ini

Dari pementasan tersebut bisa kita temukan gambaran-gambaran pemegang kekuasaan di negeri ini. Orang-orang yang sudah menduduki kursi kekuasaan akan melupakan segala tujuan dan berbuat semena-mena menindas rakyat.

Para penguasa mengambil semua hak rakyat. Tanah-tanah rakyat digusur untuk kepentingan pribadi, suap menyuap sudah menjadi hal biasa, perilaku menjilat atasan dan prilaku penguasa yang menyalahkan pejabat, sedangkan pejabat menyalahkan bawahan hingga bawahan menyalahkan dan menindas rakyat. Rakyat yang diam dan bisu semakin tersingkirkan.

Perlu diketahui, naskah Cupak Tanah adalah karya dari Putu Satria Kusuma, seorang sastrawan Bali. Naskah tersebut telah diterbitkan oleh Mahima pada tahun 2015 bersama naskah-naskah lain karya beliau di antaranya naskah Bayangan Didepan Bulan, Di Ruang Tunggu, Menunggu Tikus, Subak dan Naskah Sukreni.

Lakon Cupak Tanah telah dipentaskan pada ruang-ruang bergengsi pada tahun 2007 seperti CCL Bandung, ISI Jogyakarta, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Gedung Kesenian Jakarta, Bentara Budaya Jakarta dan Mimbar Teater Indonesia di Solo.[T]

Monolog “Emak Gugat”: Sebuah Ekspresi Patologi Sosial
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  
Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia
Tags: memotret pentas teaterpanggungseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menemukan Cerita Toleransi di Puncak Gunung Tapak | Catatan Pendakian Sispala SMAN 1 Singaraja

Next Post

Bali Rockin Blues Festival 2023: Panggung Para Pelaku Industri Musik di Bali

Musti Ariantini

Musti Ariantini

Admin tatkala.co

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Bali Rockin Blues Festival 2023: Panggung Para Pelaku Industri Musik di Bali

Bali Rockin Blues Festival 2023: Panggung Para Pelaku Industri Musik di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co