25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Satria Aditya by Satria Aditya
March 15, 2023
in Ulas Pentas
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Pentas Monolog dari Teater Orok di Komnuitas Mahima Singaraja

SEDARI PAGI, Teater Orok sudah menyiapkan set panggung di Komunitas Mahima. Mulai dari menyiapkan kain hitam untuk latar panggung, topeng-topeng yang disiapkan untuk kebutuhan pementasan, sound system, lampu juga sudah terpasang di setiap sudut panggung.

Artistik pementasan saat itu sudah sangat siap. Aktor-aktor sempat mencoba panggung sebentar, penonton juga sudah siap untuk menonton pementasan Jejak Orok 2023 kala itu.

Hari itu, Sabtu, 4 Februari 2023. Teater Orok dari Universitas Udayana, memulai jejaknya di tahun 2023. Jejak itu dimulai di Buleleng, tepatnya di Singaraja, tepatnya lagi di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Dari penuturan Ketua UKM Tetaer Orok, Gung Anom, diketahui bahwa Jejak Orok tahun ini memilih empat lokasi sebagai tempat singgah Jejak Orok untuk melakukan pergerakan kreatifnya. Setelah di Singaraja, Teater Orok akan menjejak di Klungkung, Tabanan dan terakhir di Jembrana.

Jejak Orok adalah sebuah program pementasan yang menjadi bagian dari proses kreatif tahunan Tetaer Orok. Dalam program itu mereka membawa tiga materi pementasan, yakni monolog, musikalisasi puisi, dan pentas teater.        

Monolog dengan judul Tokoh digawangi setidaknya tiga orang, yakni Ananta sebagai pimpinan produksi. Bulan selaku sutradara, dan Khausiki sebagai pemain.

Untuk pementasan drama realias dengan judul Orang Asing, Teater Orok melibatkan sejumlah anggota yang mengorganisasi pementasan dengan cukup rapi. Ananta bertindak sebagai pimpinan produksi dengan sutradara Caca dan sisten sutradara  Sidni.

Pementasan Orang Asing oleh Teater Orok di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: Teater Orok

Para Pemainnya adalah Darrel memerankan Orang Asing, Reza sebagai Ayah, Sisyl sebagai Ibu, Nala sebagai Sinah, Pande sebagai Anak Muda, Patra sebagai penjaga warung, dan Semaya sebagai adik tukang warung.

Untuk pementasan musikalisasi puisi, pimpinan produksinya tetap Ananta, sutradara Haynd, asisten sutradara Arya, dengan para pemian Bestari, Arya, Haynd, Ananta dan Timothy.

Di Komunitas Mahima, Jejak Orok dibuka dengan pementasan molonog dengan judul Tokoh. Khausiki sebagai pemain terlihat sebagai aktor yang kuat. Dengan kekuatannya itu, Khausiki bisa menahan pandangan penonton untuk tetap tertuju ke atas panggung, meski durasi pementasan itu berlangsung cukup lama.

Kadek Sonia Piscayanti, founder Komunitas Mahima, dalam sesi diskusi bahkan memuji Kahusiki sebagai aktor masa depan dalam dunia teater di Bali, bahkan Indonesia. “Saya memuji secara khusus pentas monolog ini, aktornya kuat, dan mampu mengontrol tempo permainan tahap demi tahap,” kata Sonia.

***

Secara umum banyak hal yang bisa dipelajari dari Teater Orok yang notabene adalah teater mahasiswa ini ketika menjejakkan pementasan mereka di Singaraja. Dari sekian banyak UKM teater di kampus-kampus besar di Bali, Teater Orok barangkali salah satu UKM teater yang memiliki, dan sekaligus dengan disiplin, menerapkan manajemen perteateran yang sesungguhnya, sebagaimana manajemen yang dimiliki kelompok teater semi professional maupun professional.

Seluruh unsur dalam proses penyelenggaraan sebuah pementasan dikelola oleh Teater Orok dengan sistem cukup baik. Penata panggung atau penata artistik, penata musik, sutradara, pemain, termasuk petugas urusan konsumsi dan petugas yang mengatur penonton, menjalankan tugas dengan kadar disiplin yang sama.

Mereka seakan menunjukkan sebuah prinsip, bahwa sutradara tidak lebih penting dari petugas seksi konsumsi dalam sebuah event perteateran. Pemain tidak lebih penting dari petugas seksi perlengkapan, penata musik tidak lebih penting dari penata lampu. Semua bekerja dengan kadar yang sama, sehingga sebuah proses berjalan dengan sempurna. 

Pentas musikalisasi puisi Teater Orok di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: Teater Orok

Penata panggung bahkan terdiri dari satu pasukan yang selalu sigap mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi di atas panggung, sebelum pementasan, saat pementasan maupun pasca pementasan.     

Jadi, acara Jejak Orok bukan hanya tentang pentas di atas panggung, melainkan juga tentang pentas kehidupan di mana semua kru adalah pemain. Mereka belajar bekerjasama, belajar saling memahami, belajar mempertemukan persepsi, belajar menurunkan ego personal, karena begitulah memang hakikat dari kelompok teater.

***

Catatan-catatan ringan tentang pementasan itu perlu juga disampaikan, syukur-syukur bisa menjadi evaluasi untuk pentas berikutnya.

Dalam pementasan monolog, Khausiki memang memainkan sejumlah peran memang cukup kuat. Ia juga beberapa kali melakukan improvisasi, dan beberapa kali juga cukup berhasil.

Ada inprovinasi yang kadang ia lupa. Di Rumah Belajar Komunitas Mahima, jarak panggung dan tempat penonton cukup jauh. Panggung dan penonton  dibatasi dengan halaman kecil yang membuat aktor dan penonton seperti punya jarak. Untuk itu, sesekali seharusnya, untuk adegan-adegan tertentu, aktor mendekat ke penonton, melakukan  interaksi seakan-akan si aktor sedang ngobrol dengan penonton.

Mendekat ke penonton pada situasi tertentu dan pada kondisi panggung tertentu, bisa menjadi siasat untuk mengontrol tempo pementasan agar tetap pada peforma yang kuat, tidak kedodoran. Apalagi durasi pementasan cukup lama dan pada banyak adegan si pemain tampak kelelahan menghapal dialog dan mengingat-ingat bloking.

Sejumlah adegan tampak terlalu cepat temponya sehingga tampak terburu-buru. Suatu kali, penting untuk mengatur emosi, sehingga tempo tetap lambat tapi terkontrol, agar penonton pun bisa menarik napas dan mendengar monolog dengan lebih jelas.

Saya sempat mengobrol langsung dengan Khausiki, aktor monolog dari Teater Orok ini tentang proses kreatif yang ia jalani. Ia juga menuturkan bahwa proses kreatif yang ia jalani belum full sebulan, mulai dari latihan, menemukan peranan naskah sebenarnya dan panggung yang menurutnya lumayan kecil dan harus mengubah beberapa gerakan.

“Apalagi saat ini aku tidak ditemani sutradara langsung, jadinya ada beberapa yang aku improvisasi sendiri jadinya,” katanya.

Terkait pementasan teater realis berjudul Orang Asing, penampilan Teater Orok bisa dibilang menakjubkan, meski perlu ada catatan perbaikan di sana-sini.

Orang asing adalah naskah karya Rupert Brook dengan judul asli Lituania. Di Indonesia naskah ini disadur oleh D. Djajakusuma. Naskah saduran ini memang sering menjadi pilihan kelompok-kelompok teater pemula yang ingin belajar memainkan teater yang benar-benar realis.

Kisahnya tak jauh-jauh dari persoalan yang kerap terjajdi di Indonesia, yakni tentang kemiskinan dan keinginan untuk secepatnya bisa kaya dengan memanfaatkan kesempatan yang ada.

Para pemain Tetaer Orok paham benar bahwa naskah ini memang gampang-gampang sulit untuk dimainkan. Kisahnya sederhana, namun jika pemain tak mampu memainkan karakter para tokoh-tokohnya dengan baik, maka kisah yang sederhana itu bisa terkesan mentah.

Ada sejumlah catatan dalam pementasan Orang Asing ini. Pada sejumlah adegan, pemantasan Orang Asing terkesan tak tergarap dengan kuat, misalnya adegan ketika tokoh orang asing datang ke rumah tokoh ibu. Saat itu, tokoh ibu dan anaknya, Sinah, tampak seperti menyambut orang yang sudah mereka kenal.

Padahal pada adegan itulah kunci untuk mengalirkan cerita hingga ke bagian akhir, bagian yang diharapkan akan mengejutkan penonton. Orang asing, semestinya diperlakukan benar-benar sebagai orang asing, sehingga kejutan di akhir cerita benar-benar terasa.

Teater realis memang memiliki tantangan sendiri. Karena cerita menjadi hal yang amat penting. Cerita harus mengalir dengan baik, agar penonton paham jalan cerita itu tahap demi tahap sampai penenton merasa tertipu atau merasa lega sebagaimana yang dihadapkan oleh cerita itu sendiri.

Dan, adegan-adegan yang dimainkan Tetaer Orok dalam drama realis itu sebagian besar sukses. Para pemain larut dalam peran dan kesan yang disampaikan kepada penonton secara umum bisa sampai dengan baik. Jadi, selamat untuk Tetaer Orok. [T]

Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia
Monolog “Aku, Istri Munir”: Dari Ingatan Keluarga ke Ingatan Kolektif Bangsa
Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Tags: Komunitas MahimaTeaterTeater Orok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya

Next Post

Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Khas

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Khas

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co