25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Satria Aditya by Satria Aditya
March 15, 2023
in Ulas Pentas
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Pentas Monolog dari Teater Orok di Komnuitas Mahima Singaraja

SEDARI PAGI, Teater Orok sudah menyiapkan set panggung di Komunitas Mahima. Mulai dari menyiapkan kain hitam untuk latar panggung, topeng-topeng yang disiapkan untuk kebutuhan pementasan, sound system, lampu juga sudah terpasang di setiap sudut panggung.

Artistik pementasan saat itu sudah sangat siap. Aktor-aktor sempat mencoba panggung sebentar, penonton juga sudah siap untuk menonton pementasan Jejak Orok 2023 kala itu.

Hari itu, Sabtu, 4 Februari 2023. Teater Orok dari Universitas Udayana, memulai jejaknya di tahun 2023. Jejak itu dimulai di Buleleng, tepatnya di Singaraja, tepatnya lagi di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Dari penuturan Ketua UKM Tetaer Orok, Gung Anom, diketahui bahwa Jejak Orok tahun ini memilih empat lokasi sebagai tempat singgah Jejak Orok untuk melakukan pergerakan kreatifnya. Setelah di Singaraja, Teater Orok akan menjejak di Klungkung, Tabanan dan terakhir di Jembrana.

Jejak Orok adalah sebuah program pementasan yang menjadi bagian dari proses kreatif tahunan Tetaer Orok. Dalam program itu mereka membawa tiga materi pementasan, yakni monolog, musikalisasi puisi, dan pentas teater.        

Monolog dengan judul Tokoh digawangi setidaknya tiga orang, yakni Ananta sebagai pimpinan produksi. Bulan selaku sutradara, dan Khausiki sebagai pemain.

Untuk pementasan drama realias dengan judul Orang Asing, Teater Orok melibatkan sejumlah anggota yang mengorganisasi pementasan dengan cukup rapi. Ananta bertindak sebagai pimpinan produksi dengan sutradara Caca dan sisten sutradara  Sidni.

Pementasan Orang Asing oleh Teater Orok di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: Teater Orok

Para Pemainnya adalah Darrel memerankan Orang Asing, Reza sebagai Ayah, Sisyl sebagai Ibu, Nala sebagai Sinah, Pande sebagai Anak Muda, Patra sebagai penjaga warung, dan Semaya sebagai adik tukang warung.

Untuk pementasan musikalisasi puisi, pimpinan produksinya tetap Ananta, sutradara Haynd, asisten sutradara Arya, dengan para pemian Bestari, Arya, Haynd, Ananta dan Timothy.

Di Komunitas Mahima, Jejak Orok dibuka dengan pementasan molonog dengan judul Tokoh. Khausiki sebagai pemain terlihat sebagai aktor yang kuat. Dengan kekuatannya itu, Khausiki bisa menahan pandangan penonton untuk tetap tertuju ke atas panggung, meski durasi pementasan itu berlangsung cukup lama.

Kadek Sonia Piscayanti, founder Komunitas Mahima, dalam sesi diskusi bahkan memuji Kahusiki sebagai aktor masa depan dalam dunia teater di Bali, bahkan Indonesia. “Saya memuji secara khusus pentas monolog ini, aktornya kuat, dan mampu mengontrol tempo permainan tahap demi tahap,” kata Sonia.

***

Secara umum banyak hal yang bisa dipelajari dari Teater Orok yang notabene adalah teater mahasiswa ini ketika menjejakkan pementasan mereka di Singaraja. Dari sekian banyak UKM teater di kampus-kampus besar di Bali, Teater Orok barangkali salah satu UKM teater yang memiliki, dan sekaligus dengan disiplin, menerapkan manajemen perteateran yang sesungguhnya, sebagaimana manajemen yang dimiliki kelompok teater semi professional maupun professional.

Seluruh unsur dalam proses penyelenggaraan sebuah pementasan dikelola oleh Teater Orok dengan sistem cukup baik. Penata panggung atau penata artistik, penata musik, sutradara, pemain, termasuk petugas urusan konsumsi dan petugas yang mengatur penonton, menjalankan tugas dengan kadar disiplin yang sama.

Mereka seakan menunjukkan sebuah prinsip, bahwa sutradara tidak lebih penting dari petugas seksi konsumsi dalam sebuah event perteateran. Pemain tidak lebih penting dari petugas seksi perlengkapan, penata musik tidak lebih penting dari penata lampu. Semua bekerja dengan kadar yang sama, sehingga sebuah proses berjalan dengan sempurna. 

Pentas musikalisasi puisi Teater Orok di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: Teater Orok

Penata panggung bahkan terdiri dari satu pasukan yang selalu sigap mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi di atas panggung, sebelum pementasan, saat pementasan maupun pasca pementasan.     

Jadi, acara Jejak Orok bukan hanya tentang pentas di atas panggung, melainkan juga tentang pentas kehidupan di mana semua kru adalah pemain. Mereka belajar bekerjasama, belajar saling memahami, belajar mempertemukan persepsi, belajar menurunkan ego personal, karena begitulah memang hakikat dari kelompok teater.

***

Catatan-catatan ringan tentang pementasan itu perlu juga disampaikan, syukur-syukur bisa menjadi evaluasi untuk pentas berikutnya.

Dalam pementasan monolog, Khausiki memang memainkan sejumlah peran memang cukup kuat. Ia juga beberapa kali melakukan improvisasi, dan beberapa kali juga cukup berhasil.

Ada inprovinasi yang kadang ia lupa. Di Rumah Belajar Komunitas Mahima, jarak panggung dan tempat penonton cukup jauh. Panggung dan penonton  dibatasi dengan halaman kecil yang membuat aktor dan penonton seperti punya jarak. Untuk itu, sesekali seharusnya, untuk adegan-adegan tertentu, aktor mendekat ke penonton, melakukan  interaksi seakan-akan si aktor sedang ngobrol dengan penonton.

Mendekat ke penonton pada situasi tertentu dan pada kondisi panggung tertentu, bisa menjadi siasat untuk mengontrol tempo pementasan agar tetap pada peforma yang kuat, tidak kedodoran. Apalagi durasi pementasan cukup lama dan pada banyak adegan si pemain tampak kelelahan menghapal dialog dan mengingat-ingat bloking.

Sejumlah adegan tampak terlalu cepat temponya sehingga tampak terburu-buru. Suatu kali, penting untuk mengatur emosi, sehingga tempo tetap lambat tapi terkontrol, agar penonton pun bisa menarik napas dan mendengar monolog dengan lebih jelas.

Saya sempat mengobrol langsung dengan Khausiki, aktor monolog dari Teater Orok ini tentang proses kreatif yang ia jalani. Ia juga menuturkan bahwa proses kreatif yang ia jalani belum full sebulan, mulai dari latihan, menemukan peranan naskah sebenarnya dan panggung yang menurutnya lumayan kecil dan harus mengubah beberapa gerakan.

“Apalagi saat ini aku tidak ditemani sutradara langsung, jadinya ada beberapa yang aku improvisasi sendiri jadinya,” katanya.

Terkait pementasan teater realis berjudul Orang Asing, penampilan Teater Orok bisa dibilang menakjubkan, meski perlu ada catatan perbaikan di sana-sini.

Orang asing adalah naskah karya Rupert Brook dengan judul asli Lituania. Di Indonesia naskah ini disadur oleh D. Djajakusuma. Naskah saduran ini memang sering menjadi pilihan kelompok-kelompok teater pemula yang ingin belajar memainkan teater yang benar-benar realis.

Kisahnya tak jauh-jauh dari persoalan yang kerap terjajdi di Indonesia, yakni tentang kemiskinan dan keinginan untuk secepatnya bisa kaya dengan memanfaatkan kesempatan yang ada.

Para pemain Tetaer Orok paham benar bahwa naskah ini memang gampang-gampang sulit untuk dimainkan. Kisahnya sederhana, namun jika pemain tak mampu memainkan karakter para tokoh-tokohnya dengan baik, maka kisah yang sederhana itu bisa terkesan mentah.

Ada sejumlah catatan dalam pementasan Orang Asing ini. Pada sejumlah adegan, pemantasan Orang Asing terkesan tak tergarap dengan kuat, misalnya adegan ketika tokoh orang asing datang ke rumah tokoh ibu. Saat itu, tokoh ibu dan anaknya, Sinah, tampak seperti menyambut orang yang sudah mereka kenal.

Padahal pada adegan itulah kunci untuk mengalirkan cerita hingga ke bagian akhir, bagian yang diharapkan akan mengejutkan penonton. Orang asing, semestinya diperlakukan benar-benar sebagai orang asing, sehingga kejutan di akhir cerita benar-benar terasa.

Teater realis memang memiliki tantangan sendiri. Karena cerita menjadi hal yang amat penting. Cerita harus mengalir dengan baik, agar penonton paham jalan cerita itu tahap demi tahap sampai penenton merasa tertipu atau merasa lega sebagaimana yang dihadapkan oleh cerita itu sendiri.

Dan, adegan-adegan yang dimainkan Tetaer Orok dalam drama realis itu sebagian besar sukses. Para pemain larut dalam peran dan kesan yang disampaikan kepada penonton secara umum bisa sampai dengan baik. Jadi, selamat untuk Tetaer Orok. [T]

Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia
Monolog “Aku, Istri Munir”: Dari Ingatan Keluarga ke Ingatan Kolektif Bangsa
Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Tags: Komunitas MahimaTeaterTeater Orok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya

Next Post

Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co