4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Satria Aditya by Satria Aditya
March 15, 2023
in Ulas Pentas
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Pentas Monolog dari Teater Orok di Komnuitas Mahima Singaraja

SEDARI PAGI, Teater Orok sudah menyiapkan set panggung di Komunitas Mahima. Mulai dari menyiapkan kain hitam untuk latar panggung, topeng-topeng yang disiapkan untuk kebutuhan pementasan, sound system, lampu juga sudah terpasang di setiap sudut panggung.

Artistik pementasan saat itu sudah sangat siap. Aktor-aktor sempat mencoba panggung sebentar, penonton juga sudah siap untuk menonton pementasan Jejak Orok 2023 kala itu.

Hari itu, Sabtu, 4 Februari 2023. Teater Orok dari Universitas Udayana, memulai jejaknya di tahun 2023. Jejak itu dimulai di Buleleng, tepatnya di Singaraja, tepatnya lagi di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Dari penuturan Ketua UKM Tetaer Orok, Gung Anom, diketahui bahwa Jejak Orok tahun ini memilih empat lokasi sebagai tempat singgah Jejak Orok untuk melakukan pergerakan kreatifnya. Setelah di Singaraja, Teater Orok akan menjejak di Klungkung, Tabanan dan terakhir di Jembrana.

Jejak Orok adalah sebuah program pementasan yang menjadi bagian dari proses kreatif tahunan Tetaer Orok. Dalam program itu mereka membawa tiga materi pementasan, yakni monolog, musikalisasi puisi, dan pentas teater.        

Monolog dengan judul Tokoh digawangi setidaknya tiga orang, yakni Ananta sebagai pimpinan produksi. Bulan selaku sutradara, dan Khausiki sebagai pemain.

Untuk pementasan drama realias dengan judul Orang Asing, Teater Orok melibatkan sejumlah anggota yang mengorganisasi pementasan dengan cukup rapi. Ananta bertindak sebagai pimpinan produksi dengan sutradara Caca dan sisten sutradara  Sidni.

Pementasan Orang Asing oleh Teater Orok di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: Teater Orok

Para Pemainnya adalah Darrel memerankan Orang Asing, Reza sebagai Ayah, Sisyl sebagai Ibu, Nala sebagai Sinah, Pande sebagai Anak Muda, Patra sebagai penjaga warung, dan Semaya sebagai adik tukang warung.

Untuk pementasan musikalisasi puisi, pimpinan produksinya tetap Ananta, sutradara Haynd, asisten sutradara Arya, dengan para pemian Bestari, Arya, Haynd, Ananta dan Timothy.

Di Komunitas Mahima, Jejak Orok dibuka dengan pementasan molonog dengan judul Tokoh. Khausiki sebagai pemain terlihat sebagai aktor yang kuat. Dengan kekuatannya itu, Khausiki bisa menahan pandangan penonton untuk tetap tertuju ke atas panggung, meski durasi pementasan itu berlangsung cukup lama.

Kadek Sonia Piscayanti, founder Komunitas Mahima, dalam sesi diskusi bahkan memuji Kahusiki sebagai aktor masa depan dalam dunia teater di Bali, bahkan Indonesia. “Saya memuji secara khusus pentas monolog ini, aktornya kuat, dan mampu mengontrol tempo permainan tahap demi tahap,” kata Sonia.

***

Secara umum banyak hal yang bisa dipelajari dari Teater Orok yang notabene adalah teater mahasiswa ini ketika menjejakkan pementasan mereka di Singaraja. Dari sekian banyak UKM teater di kampus-kampus besar di Bali, Teater Orok barangkali salah satu UKM teater yang memiliki, dan sekaligus dengan disiplin, menerapkan manajemen perteateran yang sesungguhnya, sebagaimana manajemen yang dimiliki kelompok teater semi professional maupun professional.

Seluruh unsur dalam proses penyelenggaraan sebuah pementasan dikelola oleh Teater Orok dengan sistem cukup baik. Penata panggung atau penata artistik, penata musik, sutradara, pemain, termasuk petugas urusan konsumsi dan petugas yang mengatur penonton, menjalankan tugas dengan kadar disiplin yang sama.

Mereka seakan menunjukkan sebuah prinsip, bahwa sutradara tidak lebih penting dari petugas seksi konsumsi dalam sebuah event perteateran. Pemain tidak lebih penting dari petugas seksi perlengkapan, penata musik tidak lebih penting dari penata lampu. Semua bekerja dengan kadar yang sama, sehingga sebuah proses berjalan dengan sempurna. 

Pentas musikalisasi puisi Teater Orok di Komunitas Mahima Singaraja | Foto: Teater Orok

Penata panggung bahkan terdiri dari satu pasukan yang selalu sigap mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi di atas panggung, sebelum pementasan, saat pementasan maupun pasca pementasan.     

Jadi, acara Jejak Orok bukan hanya tentang pentas di atas panggung, melainkan juga tentang pentas kehidupan di mana semua kru adalah pemain. Mereka belajar bekerjasama, belajar saling memahami, belajar mempertemukan persepsi, belajar menurunkan ego personal, karena begitulah memang hakikat dari kelompok teater.

***

Catatan-catatan ringan tentang pementasan itu perlu juga disampaikan, syukur-syukur bisa menjadi evaluasi untuk pentas berikutnya.

Dalam pementasan monolog, Khausiki memang memainkan sejumlah peran memang cukup kuat. Ia juga beberapa kali melakukan improvisasi, dan beberapa kali juga cukup berhasil.

Ada inprovinasi yang kadang ia lupa. Di Rumah Belajar Komunitas Mahima, jarak panggung dan tempat penonton cukup jauh. Panggung dan penonton  dibatasi dengan halaman kecil yang membuat aktor dan penonton seperti punya jarak. Untuk itu, sesekali seharusnya, untuk adegan-adegan tertentu, aktor mendekat ke penonton, melakukan  interaksi seakan-akan si aktor sedang ngobrol dengan penonton.

Mendekat ke penonton pada situasi tertentu dan pada kondisi panggung tertentu, bisa menjadi siasat untuk mengontrol tempo pementasan agar tetap pada peforma yang kuat, tidak kedodoran. Apalagi durasi pementasan cukup lama dan pada banyak adegan si pemain tampak kelelahan menghapal dialog dan mengingat-ingat bloking.

Sejumlah adegan tampak terlalu cepat temponya sehingga tampak terburu-buru. Suatu kali, penting untuk mengatur emosi, sehingga tempo tetap lambat tapi terkontrol, agar penonton pun bisa menarik napas dan mendengar monolog dengan lebih jelas.

Saya sempat mengobrol langsung dengan Khausiki, aktor monolog dari Teater Orok ini tentang proses kreatif yang ia jalani. Ia juga menuturkan bahwa proses kreatif yang ia jalani belum full sebulan, mulai dari latihan, menemukan peranan naskah sebenarnya dan panggung yang menurutnya lumayan kecil dan harus mengubah beberapa gerakan.

“Apalagi saat ini aku tidak ditemani sutradara langsung, jadinya ada beberapa yang aku improvisasi sendiri jadinya,” katanya.

Terkait pementasan teater realis berjudul Orang Asing, penampilan Teater Orok bisa dibilang menakjubkan, meski perlu ada catatan perbaikan di sana-sini.

Orang asing adalah naskah karya Rupert Brook dengan judul asli Lituania. Di Indonesia naskah ini disadur oleh D. Djajakusuma. Naskah saduran ini memang sering menjadi pilihan kelompok-kelompok teater pemula yang ingin belajar memainkan teater yang benar-benar realis.

Kisahnya tak jauh-jauh dari persoalan yang kerap terjajdi di Indonesia, yakni tentang kemiskinan dan keinginan untuk secepatnya bisa kaya dengan memanfaatkan kesempatan yang ada.

Para pemain Tetaer Orok paham benar bahwa naskah ini memang gampang-gampang sulit untuk dimainkan. Kisahnya sederhana, namun jika pemain tak mampu memainkan karakter para tokoh-tokohnya dengan baik, maka kisah yang sederhana itu bisa terkesan mentah.

Ada sejumlah catatan dalam pementasan Orang Asing ini. Pada sejumlah adegan, pemantasan Orang Asing terkesan tak tergarap dengan kuat, misalnya adegan ketika tokoh orang asing datang ke rumah tokoh ibu. Saat itu, tokoh ibu dan anaknya, Sinah, tampak seperti menyambut orang yang sudah mereka kenal.

Padahal pada adegan itulah kunci untuk mengalirkan cerita hingga ke bagian akhir, bagian yang diharapkan akan mengejutkan penonton. Orang asing, semestinya diperlakukan benar-benar sebagai orang asing, sehingga kejutan di akhir cerita benar-benar terasa.

Teater realis memang memiliki tantangan sendiri. Karena cerita menjadi hal yang amat penting. Cerita harus mengalir dengan baik, agar penonton paham jalan cerita itu tahap demi tahap sampai penenton merasa tertipu atau merasa lega sebagaimana yang dihadapkan oleh cerita itu sendiri.

Dan, adegan-adegan yang dimainkan Tetaer Orok dalam drama realis itu sebagian besar sukses. Para pemain larut dalam peran dan kesan yang disampaikan kepada penonton secara umum bisa sampai dengan baik. Jadi, selamat untuk Tetaer Orok. [T]

Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia
Monolog “Aku, Istri Munir”: Dari Ingatan Keluarga ke Ingatan Kolektif Bangsa
Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Tags: Komunitas MahimaTeaterTeater Orok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya

Next Post

Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co