22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog “Aku, Istri Munir”: Dari Ingatan Keluarga ke Ingatan Kolektif Bangsa

Raihan Robby by Raihan Robby
December 21, 2022
in Ulas Pentas
Monolog “Aku, Istri Munir”: Dari Ingatan Keluarga ke Ingatan Kolektif Bangsa

Pertunjukan “Aku, Istri Munir” di YouTube Titimangsa

SEBAGAI manusia Indonesia, ingatan kita akan sejarah bangsa ini telah dipecah-belah, dikotak-kotakkan, dan dijauhkan dari pelaku sejarah yang dalam hal ini adalah masyarakat kita sendiri. Dengan dalih objektivitas, sejarah yang dikonstruksi bangsa ini ditulis oleh para pemenang (baca: negara).

Yang terjadi, ingatan-ingatan masyarakat kita bersifat terlalu akademistik. Seakan produksi sejarah yang memiliki muatan subjektif, tak mendapatkan tempat dalam konstruksi yang dibangun oleh para pemenang itu. Adapun jika mendapatkan tempat, maka mereka menyebutnya sebagai sejarah alternatif. Sejarah yang tak ditulis di menara gading ingatan bangsa Indonesia.

Contohnya adalah kita mengenal Munir sebagai aktivis hak asasi manusia dengan keberaniannya menangani berbagai macam kasus pelanggaran dan kekerasan HAM berat di Indonesia, kasus-kasus seperti: pembantaian Talang Sari 1989, penghilangan paksa dan penculikan aktivis 1998, penembakan Tragedi Semanggi 1998, referendrum Timor Timur, dan masih banyak lagi kasus-kasus HAM yang dikawal oleh Munir.

Tentu, kita tidak akan menemukan nama Munir Said Thalib, beserta sederet kasus-kasus HAM berat dalam sejarah bangsa ini di bangku sekolah. Banyak terjadi pemburaman sejarah yang gencar dilakukan sejak dini, dan menekan generasi agar tercerabut dari tradisi sejarah yang diproduksi oleh masyarakat.

Munir dari kacamata Suciwati

Dengan menghadirkan ingatan yang paling intim tentang Munir, dan sebagai usaha untuk memberikan sejarah yang berupa fakta sosial, Titimangsa menggelar pertunjukan monolog yang bertajuk “Aku, Istri Munir”.

Pertunjukan ini memberikan penawaran sejarah tentang Munir Said Thalib, melalui kacamata Suciwati yang diperankan oleh Happy Salma, sebuah usaha untuk menciptakan sosok Munir yang dekat dan humanis. Yang rapuh sekaligus kuat; sebagai aktivis HAM dan seorang suami juga bapak.

Sumber foto: Instagram @infotitimangsa

Monolog yang berdurasi sekitar tiga puluh menit itu, pertama kali dipentaskan secara daring pada tanggal 10 Oktober 2020. Naskah pertunjukan ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma yang dalam prolog Marhsa Timoty, semula naskah itu dikhususkan dalam acara peringatan 11 tahun Munir (tahun 2015).

Kini, sudah 18 tahun sejak kematian Munir dan hingga saat masih belum menunjukan titik terang atas keadilan kasus ini. Dalam momentum hari HAM sedunia yang diperingati setiap tanggal 10 Desember, Titimangsa kembali menampilkan pertunjukan monolog itu melalui akun YouTube mereka.

Di awal pertunjukan, dalam keadaan lampu yang remang, penonton dapat melihat dengan samar bagaimana Suciwati tengah duduk merenungi sesuatu, mungkin penyesalan, mungkin pula perasaan berat melepaskan. Ketermenungan itu didukung dengan latar bunyi yang liris dari biola dan piano. Sebelum pada akhirnya Suciwati memecah ketermenungan itu, dengan monolog pertanyaan tentang burung malam yang masih terdengar suaranya.

Penonton kini dapat melihat Suciwati dengan lebih jelas, ia mengenakan jaket dan baju abu-abu dengan rambut pendeknya. Di belakang ia, terdapat sebuah rak dengan foto Munir, foto Alif dan Diva, anak-anak mereka. Serta beberapa buku yang tersusun rapih. Suciwati mengalusikan peristiwa para pembunuh Munir selaku burung malam yang memangsa ia dan keluarganya sebagai korban buruan.

Setelah selesai bergumam, keresahan Suciwati tampak menghilang. Ia bernostalgia dengan bahagia, di saat dahulu mereka bertemu di Lembaga Bantuan Hukum, di kota Malang. Suciwati dan Munir sama-sama menjadi aktivis HAM yang tengah mengadvokasi masyarakat.

Mereka berdua seakan tak dapat menolak takdir untuk menikah. Meski ketakutan tetap berdasar pada hati mereka, apa yang dapat terjadi ketika dua aktivis HAM tinggal dalam satu rumah tangga yang sama?

Namun, cintalah yang menguatkan mereka berdua, bertambah tegar dengan hadirnya Alif dan Diva, anak-anak mereka. Sepanjang pertunjukan ini, Suciwati menarik-ulur ingatan personalnya akan peristiwa sebelum dan sesudah terbunuhnya Munir, bagaimana ia begitu gigih memperjuangkan dan membela hak-hak asasi manusia, betapa tubuhnya menjadi ringkih dan letih sehabis bekerja, tetapi tetap pulang ke rumah sebagai seorang suami dan bapak yang hangat bagi keluarga.

Di dalam hati Suciwati, ia telah memberikan ruang untuk Munir; ruang untuk terus mengingat kenangan-kenangan indah saat mereka bersama, dan ruang di mana Suciwati dapat mengomeli Munir selayaknya seorang istri kepada suaminya.

Sososk Munir tak hanya menjadi sebatas inspirasi, simbol dan lambang perjuangan hak asasi manusia di Indonesia, yang terwujud melalui lagu, mural, buku hingga pertunjukan teater. Munir telah tumbuh menjadi ingatan kolektif bangsa Indonesia, ia menjadi pemersatu lingkaran yang berlipat ganda untuk terus melawan ketidakadilan hak asasi manusia di negeri ini.

Di titik inilah teater, di samping sebagai seni pertunjukan, ia menjadi medium pembentuk ingatan kolektif bangsa itu. Yang terus menggugat arus deras sejarah utama, dengan hal yang tak dimiliki oleh negara: ingatan dari sebuah keluarga yang berjalin menjadi ingatan kolektif bangsa. [T]

13 Desember, Yogyakarta, 2022

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Sejarah Indonesia Modern Sekali Klik — Catatan Mengalami Peristiwa Hal-19: Wajah Pecah Sejarah Indonesia Modern oleh Kalanari Theatre Movement
Tags: Happy SalmaMonologMunirSeno GuSeno Gumira AjidarmaTeaterTitimangsa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Bonsai dari Vietnam pada Kontes dan Pameran Bonsai Nasional di Denpasar

Next Post

Dilema Masa Lalu dan Masa Depan Dalam “Langit Dibelah Dua” Karya Gde Aryantha Soethama

Raihan Robby

Raihan Robby

Lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Dilema Masa Lalu dan Masa Depan Dalam “Langit Dibelah Dua” Karya Gde Aryantha Soethama

Dilema Masa Lalu dan Masa Depan Dalam “Langit Dibelah Dua” Karya Gde Aryantha Soethama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co