13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung

Raihan Robby by Raihan Robby
December 19, 2022
in Ulas Pentas
Teater Sebagai Produksi Memori  | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung

Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung | Foto Raihan Robby

Catatan mengalami peristiwa kenangan bersama Teater Satu Lampung dalam pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku”

Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung | Foto: Raihan Robby

Apa yang tersisa dari masa lalu, selain, mungkin bagian dari diri yang sengaja ‘dilupakan’, ‘dipendam’ atau berharap tak pernah dialami. Tetapi, sesekali, memori-memori itu berkelebatan. Sekali kita tangkap kelebat memori itu, maka ia akan membantun kita ke dalam masa silam. Masa yang telah lampau dan pernah terjadi, masa yang membuat kita merasa terasing dan bertanya, “inikah kenanganku?”.

Memori tentang masa lalu, selalu menyimpan hal-hal traumatis, menyenangkan, hingga sesuatu yang kita tak merasa pernah menjalaninya. Kita di masa kini, sedang mencetak masa lalu untuk masa depan. Namun, kita di hari ini, adalah kita yang sebagai pasca-traumatis diri. Jika, kita menganggap (dan telah sembuh) bahwa memori hanya menyimpan hal yang menyakitkan.

Sehingga apa yang kita lakukan adalah mengalami nostalgia. Ada bagian dari diri kita yang masih ada di masa lalu, bagian yang tetap berada di sana dan memanggil kita untuk mengunjunginya. Bagian itu berupa banyak bentuk, ia bisa berupa diri kita saat duduk di bangku sekolah, ia bisa berupa dongeng yang dibacakan ibu ketika menjelang tidur, ia bisa berupa harum hujan di pagi hari, ia bisa menjadi suara kelam dari banyak kekerasan yang hendak kita lupakan, ia bisa berupa kota, jalan, setangkai mawar, atau segigil tubuh yang merasa asing pada diri sendiri.

Nostalgia menyisakan banyak hal melalui imaji-imaji buram (jika menggunakan kenangan sebagai satu-satunya medium menuju masa lalu, katakanlah). Imaji-imaji itu, terkadang mencuat keluar dalam setangkap bayang, sepintas harum, sesentuh rasa, dan penginderaan sementara, namun tetap membekas, sebab kita pernah mengalaminya.

Lantas, bagaimana jika justru masa silamlah yang datang mengunjungi kita? Mampukah kita menghindarinya? Akankah kita terus menciptakan ilusi masa lalu dalam nostalgia hal-hal yang indah dan telah lewat itu? Kembali ke pertanyaan awal, adakah yang tersisa dari masa lalu?

Tanjungkarang dan hal-hal yang karam dalam ingatan

Dengan gegap akan perubahan yang cepat, perpindahan kultur masyarakat pedesaan menjadi perkotaan, monumen-monumen urban yang menghilangkan sawah, kebun, dan sungai itu. Teater Satu Lampung membuka pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengujungiku” ini dengan narasi yang pahit.

Pertunjukan ini berangkat dari puisi panjang karya Iswadi Pratama yang juga sutradara pertunjukan ini. Ia semula menulis naskah “Nostalgia Sebuah Kota” pada tahun 2004 dan dipentaskan di berbagai kota di Indonesia, seperti Makassar, Bandung dan Jakarta) serta Jerman pada tahun 2010 yang diperankan oleh para aktor dari berbagai negara. Pada tahun yang sama, naskah itu mengalami transformasi menjadi “Kisah-Kisah yang Mengingatkan” dan dipentaskan di Jakarta, naskah tersebut terus tumbuh menjadi “Dongeng Nala” hasil kerjasama dengan Monash University (belum dipentaskan), hingga pertumbuhan itu, kini menjadi “Semalam Masa Silam Mengunjungiku: Nikmati Tehmu” yang dipentaskan pada tiga kota: Lampung (gedung teater tertutup, Taman Budaya Lampung), Jakarta (Komunitas Salihara), dan Yogyakarta (auditorium teater ISI Yogyakarta).

Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung | Foto: Raihan Robby

Di awal pertunjukan, panggung telah penuh dan dihidupi oleh para tokoh. Tiga tokoh dengan payung di bagian belakang, lelaki tua yang menggigil di kursi panjang, sepasang kekasih menggenggam muka jendela berenda merah, dan hujan. Mereka berjalan, bergerak, menciptakan dimensi dengan ritmis. Suatu pembuka pertunjukan yang memorable. Awal pertunjukan yang puitik dan indah, namun juga getir dan sakit.

Lalu terdengar pembacaan puisi “Bluebird” karya Charles Bukowski, penyair yang kental dengan dirty realism atau realisme najisnya itu. Pembacaan puisi tersebut menjadi serpihan yang bertabrakan dengan banyak hal di atas panggung, gerak para aktor yang serupa aluran ombak, video proyektor menampilkan potongan-potongan ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Indera penonton seakan dijejali oleh banyak keindahan itu. Keindahan gerak, suara, visual, keselarasan yang cepat berganti dan berloncatan.

Seluruh peristiwa itu, ingin menceritakan bagaimana Tanjungkarang, bukan hanya sekadar tempat yang dekat dengan Teater Satu Lampung, tetapi juga sebagai rumah bagi para manusianya, rumah bagi kenangan yang terus tumbuh. Tanjungkarang yang telah tergerus oleh urbanisme, oleh modernitas dan budaya kapital.

Maka, sepanjang pertunjukan yang hampir selama dua jam ini, energi yang dibawa oleh Teater Satu Lampung begitu dahsyat, penonton diajak turut memasuki Silam (sebagai tokoh) dan Tanjungkarang sebagai rumah kenangan yang berubah itu.

Iswadi Pratama dengan cemerlang menampar kita para penonton, ia seakan ingin berbicara pada penonton bahwa kota-kota telah merenggut apa yang kita punya, dan tak ayal kita adalah pasien dari rumah sakit, yang sekarat dan terluka. Sebab kota perlahan mengaramkan kita menjadi tiada. Manusia menjadi robot yang fungsional dan kaku, yang tak berperasaan dan tak dapat lagi menari dengan makna.

Melalui medium sejarah itu, Teater Satu Lampung benar-benar menyadarkan kita. Di tengah derasnya arus sejarah yang objektif dan akademistik, dan melupakan unsur masyarakat sebagai pelaku dari sejarah. Yang dilakukan Iswadi Pratama menjadi sangat dekat dengan kita, ia menggunakan sudut pandang pesejarahan secara subjektif dan kenangan yang sangat personal.

Pertunjukan ini setidaknya, mengingatkan saya akan buku Urban Plimpsests and the Politics of Memory, karya Andreas Huyssen. Hubungannya dengan Teater Satu Lampung adalah mereka tidak terjatuh pada romantisme yang mengikat kita untuk mengunjungi masa lalu dengan penuh melankolia. Melainkan, masa silam yang mengunjungi kita. Sehingga, masa silam itu menjadi representasi dan lebih dekat dalam masa kini. Ia menjadi gambaran bagaimana seharusnya kita menjalani masa depan.

Salah satu contoh dari politisasi sejarah, yang paling dekat dengan Yogyakarta semisal. Adalah revitalisasi tembok-tembok dari benteng baluwerti keraton. Proyek revitalisasi itu setidaknya memakan banyak hal, di samping biaya, ada pula penggusuran rumah hingga pertokoan kepunyaan warga. Fungsi dari revitalisasi itu pun untuk membangkitkan nilai historis sebagai benteng pertahanan keraton saat melawan penjajahan dulu.

Yang menarik, dengan proses pemugaran itu, mengganti tembok benteng dengan warna yang baru, dan unsur-unsur pembangunannya yang baru pula. Akankah nilai historis itu tumbuh? Atau bentuk sejarah ini menjadi lambang dari kuasa keraton di Yogyakarta dalam konteks masa kini? Yang tentu bentuk kuasa tersebut akan semakin langgeng dan kuat selama sistem kerajaan masih mengakar pada masyarakatnya.

Pandangan kritis inilah yang digunakan Teater Satu Lampung dalam memandang Tanjungkarang, mereka mungkin mengalami nostalgia, tetapi tak dalam nada-nada sesal atau sedih, namun dengan sudut pandang yang tajam, yang memikir dan membedah kembali makna Tanjungkarang yang bukan sekadar nama tempat, melainkan sebagai produksi dari kenangan itu.

Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung | Foto: Raihan Robby

Transformasi puisi menuju panggung puitik

Bagaimana Iswadi Pratama bersama Teater Satu Lampung dapat membuat jalinan spektrum tentang Tanjungkarang menjadi luas dan bercabang, saling bersinggungan dan menyentuh. Membuat kompleksitas Tanjungkarang sebagai tempat, memori, dengan para manusia, bangunan dan kenangan-kenangan. Seperti yang telah dijelaskan di awal, bahwa naskah ini pun tumbuh dengan organik dan seakan tak pernah selesai, barangkali dengan cara puitik dan karena Iswadi Pratama juga seorang penyair itulah ia mampu menumbuhkan naskah ini.

Sebab, ia adalah penyair yang resah, terlihat jelas dari caranya menangkap hal-hal yang menyelusup dalam dirinya, pun di luar dirinya. Memaknai segala kesepian itu. Bagaimana jalinannya sebagai manusia dengan kenangan, dengan kota yang berubah cepat, dengan zaman yang menawarkan banyak informasi, tanpa adanya jalinan manusia di dalamnya. Ia sebagai penyair, menjadikan puisi, bukan hanya sebagai medium penyampaian keresahannya. Melainkan, meminjam istilah Wislawa Szymborska, menjadikan puisi sebagai garis hidupnya, sebagai takdir yang ia jalani. Puisi adalah hidupnya.

Melihat transformasi teks, dan tumbuh kembangnya kemungkinan-kemungkinan yang hadir seiring berjalannya waktu, menandakan bagaimana Iswadi Pratama, mempunyai ingatan yang baik dan kuat, serta keterbukaannya pada gagasan yang terus tumbuh. Singkatnya pertunjukan (dan teks) itu menjadi hidup. Tak hanya hidup di atas panggung, tapi juga hidup di dalam benak para aktornya, pengusung artistik, hingga penonton, terus terbawa hingga keluar gedung pertunjukan. Pertunjukan dan teks itu menjadi kenangan yang tumbuh diam-diam.

Pertunjukan ini, meminjam istilah semiotika Riffaterre, mempunyai indirection signs atau ketidaklangsungan ekspresi yang biasa ditemukan di dalam puisi. Kita akan menemukan penggantian, penyimpangan dan penciptaan arti. Bukan hanya melalui medium bahasa puisi, melainkan juga menggunakan medium tubuh. Itulah sebabnya metafora-metafora bahasa yang hadir di dalam puisi, yang mana seringkali penyair seolah memberikan makna pada metafora itu.

Di pertunjukan ini, metafora itu mencuat dan memberikan pemaknaan pada dirinya sendiri, maka metaforaisasi seperti hujan yang menari secara perlahan dan ritmis, seutas jalan, payung-payung yang memenuhi kota, jendela dengan renda merah, para perempuan, hingga Aku Lirik benar dihadirkan sebagai tokoh yang menyuarakan keresahannya sendiri akan memori yang mereka punya.

Saya membayangkan bagaimana Iswadi Pratama, melakukan migrasi kenangan itu di benak para aktornya, sebelum para aktor itu menjadi tokoh. Migrasi kenangan tentang Tanjungkarang, tentang kesepian dan kesakitan menjadi tua, tentang desa dan kota urban, bahkan tentang kenangan itu sendiri. Hal ini menjadi lentur dan seolah berangkat dari diri aktor sendiri saat berhasil memerankan tokoh-tokoh yang sepenuhnya adalah metafora bahasa di dalam puisi Iswadi.

Penonton seakan membaca pertunjukan, bukan lagi menonton. Dengan banyaknya lalu lintas disiplin yang ditunjukkan Teater Satu Lampung, seperti tari, lukisan, visual art, musikhingga seni peran itu sendiri saling berpangku menciptakan keutuhan metafora sesungguhnya di dalam pertunjukan. Penonton seakan dapat memilih bagian mana yang dapat menjadi fokus mereka di dalam pertunjukan. Di tengah tegangan dan tarikan itu, para aktor tak jarang “membatalkan” lakuannya. Menjadi humor yang segar.

Seolah para penonton diajak untuk merenungi tentang masa lalu dan seakan-akan ada yang menepak tubuh kita, lantas kita menyadari realitas masa kini. Pertunjukan SMSM, dengan cemerlang menciptakan itu semua. Hingga penonton merasa samar, mana yang kenangan, mana yang realita, apakah kenangan itu juga bagian dari realitas masa kini?

Apa yang dilakukan Teater Satu Lampung, setidaknya membuktikan dua hal kemungkinan: bahwa, teater dapat menjadi produksi memori yang memberikan pandangan kritis terhadap perubahan zaman, dan kemungkinan pertumbuhan memori itu menjadi memori kolektif.

Ya, ketika bangsa Indonesia dapat bertumbuh dari memori kolektif yang sama, maka kita tak akan lagi dipolitisasi dan disekatkan dengan konstruksi sejarah yang ditulis oleh penguasa. Jika memori kolektif ini terbentuk, maka akan ada perasaan yang sama yang membentuk identitas kolektif bangsa. Di samping itu, selayaknya metafora yang menyembul keluar di pertunjukan itu, sudah seharusnya kita meraih makna kita sendiri akan hidup ini, dan memberikan pandangan yang kritis terhadap kota dan memori di dalamnya. [T]

Yogyakarta, 2022

Sejarah Indonesia Modern Sekali Klik — Catatan Mengalami Peristiwa Hal-19: Wajah Pecah Sejarah Indonesia Modern oleh Kalanari Theatre Movement
Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement
“Help!” dari Teater Tanah Air: Mari Bantu Anak-anak Menyelamatkan Bulan
Tags: kenanganseni pertunjukanTeaterTeater Satu LampungYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung

Next Post

Mari Berikan Standing Applause Buat “The Atlas Lions”

Raihan Robby

Raihan Robby

Lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Mari Berikan Standing Applause Buat “The Atlas Lions”

Mari Berikan Standing Applause Buat “The Atlas Lions”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co