26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
December 19, 2022
in Tualang
Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung

Candi Gumuk Kancil di Dusun Wonoasih, Glenmore, Banyuwangi

PERJALANAN SAYA menuju lereng Gunung Rawung, Jawa Timur, pada tanggal 8 Desember 2022 bersama rombongan preti sentana Dalem Tarukan sebenarnya bukanlah perjalanan yang pertama. Di tahun-tahun sebelumnya perjalanan yang serupa sudah pernah saya lakukan bersama rombongan yang sama, namun kali ini menyisakan suatu pengalaman yang berbeda dari sebelumnya.

Awalnya, saya pahami di sana ada petilasan Rsi Markandeya, ada kolam pembersihan atau beji, terdapat Candi Gumuk Kancil, ada Goa Gantung yang kesemuanya akan bisa memberikan pengalaman spiritual yang unik dari setiap pemedek yang tangkil.

Magnit spiritual yang tersimpan di areal ini bisa dirasakan karena letaknya jauh dari hiruk pikuk kebisingan. Desiran angin yang menyejukkan, gemericik air pancuran di beji yang tumpah di beberapa kolam bukan hanya indah didengar ibarat suara dentingan gitar yang bersautan dari satu kolam ke kolam lainnya, namun kesejukan airnya mampu mengirim kesegaran yang luar biasa dan dipercaya khasiatnya dapat mengobati berbagai penyakit.

Di tahun sebelumnya pemahaman seperti itu menjadi hal dominan bagi saya. Tiba-tiba saja, perhatian saya saat piodalan yang jatuh pada, Umanis Purnama Kenem, 9 Desember 2022, telah memberi wawasan baru dalam membangun cara pandang tentang keberadaan Pura Gumuk Kancil di kawasan lereng Gunung Rawung.

Keberadaan candi ini bukan begitu saja ada, namun melalui proses yang sangat panjang. Candi ini terletak di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Letaknya sekitar 80 Km dari kota Banyuwangi. Waktu yang diperlukan menuju Pura Gumuk Kancil dari Kota Denpasar, Bali kurang lebih 8 jam.

Di tengah kerindangan pepohonan dan perkebunan yang merupakan hutan milik KPH (Kesatuan Pemangku Hutan) Perhutai Banyuwangi Barat berdiri tegak dan anggun Candi Gumuk Kancil, yang bentuknya mirip dengan Candi Prambanan di Jawa Tengah.

Candi Gumuk Kancil di Dusun Wonoasih, Glenmore, Banyuwangi | Dokumentasi; Made Jaya Senastri, Desember 2022

Candi Gumuk Kancil yang saat ini dikelola oleh Yayasan Nusantara Jaya dibangun sejak tahun 2001 dan diresmikan 11 Agustus 2002. Keberadaannya selalu dikaitkan dengan Maha Rhsi Agung Markandeya–seorang tokoh spiritual Hindu yang sangat terkenal pada Abad ke 7.

Ulasan-ulasan tentang candi ini yang tersiar media sosial, tidak bisa lepas dari pemberitaan Sang Rshi. Misalnya tentang:

Petilasan sejarah masuknya ajaran hindu di tanah Blambangan: http://www.semangatbanyuwangi.id/2020/08/petilasan-sejarah-masuknya-ajaran-hindu.html; Candi Agung Gumuk Kancil  https://www.babadbali.com/pura/plan/gumuk-kancil.htm;

Candi Agung Gumuk Kancil, Jejak Pasraman Maharesi Markandeya; https://balibercerita.com/candi-agung-gumuk-kancil-jejak-pasraman-maharesi-markandeya/

Ulasan tentang keberadaannya memberi pemahaman kepada kita bahwa di lokasi berdirinya Candi Gumuk Kancil dipercaya sebagai petilasan Rshi Markandeya — seorang Rhsi yang berasal dari India berdasarkan Lontar Markandeya Purana.

Lontar ini menceritakan tentang asal usul sang Maha Rsi dan perjalanan beliau dalam berdharmayatra. Dikisahkan perjalanan suci beliau dari India menuju tanah Jawadwipa dan sempat beryoga semadi di Gunung Demulung, kemudian lanjut ke pegunungan Dieng. Diperkirakan karena adanya bencana alam (gunung meletus) perjalanan beliau diteruskan menuju ke arah timur — ke Gunung Rawung, Banyuwangi.

Di sinilah beliau beserta pengikutnya membangun pasraman, yang saat ini menjadi lokasi didirikannya Candi Gumuk Kancil. Masyarakatpun sangat percaya bahwa wilayah di Rawung selatan merupakan pasraman yang ditempati masyarakat Jawa Aga (sebutan untuk masyarakat yang tinggal di lereng selatan Gunung Rawung).

Pasramannya dikenal dengan sebutan Diwang Ukir Damalung membentang dari Banyuwangi hingga Besuki, Situbondo. Komunitas Hindu di lereng Raung tersebar di dua dusun, Sugihwaras dan Wono Asih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore. Dua dusun terpencil ini berlokasi di lereng selatan Rawung.

Berdasarkan peninggalan sejarah yang ditemukan di lokasi ini berupa arca Siwa, genta dari kuningan, dan alat-alat upacara lainnya seperti uang kepeng, tempat tirta, kendi dan alat-alat rumah tangga dan masih adanya pemukiman penduduk  yang saat ini masih bertempat tinggal di lereng Rawung Selatan secara turun temurun yang warganya beragama Hindu (Dusun Sugihwaras dan Wono Asih) menjadi penguat bahwa tempat ini merupakan jejak sejarah yang terkait dengan akivitas ritual yang bercorak Hindu.

Di pasraman di lereng Selatan Gunung Rawung, Sang Rhsi Markandeya melakukan tapa semedi, dan dari sanalah beliau mendapatkan wangsit yang mengharuskan beliau melanjutkan perjalanan sucinya ke tanah Bali.

Perjalanan pertama ke Bali beliau ditemani oleh sekitar 800 pengikutnya menuju pegunungan Toh Langkir, Besakih, Karangasem. Hanya saja, di perjalanan pertama ini, pengikut Sang Rshi banyak yang diserang penyakit yang berakibat pada kematian sebagian besar pengikutnya.

Melalui tapa semedi, Rhsi mendapat pentunjuk untuk kembali ke Gunung Rawung, dan keajaiban terjadi ketika para pengikut yang sakit mandi di lereng Gunung Rawung menjadi sembuh. Dan tempat tersebut saat ini disebut dengan Sugihwaras. Perjalanan kedua kalinya beserta rombongan yang berjumlah sekitar 400 orang akhirnya berhasil dengan membawa lima jenis logam yang dikenal dengan sebutan panca datu merupakan tonggak awal Bali mengenal ritual bercorak Hindu.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Rshi Markandeya atas jasa beliau menyebarkan agama Hindu dari Pulau Jawa ke Bali, dibangunlah Candi Gumuk Kancil. Misi utama dari pendiriannya yang pembangunannya diketuai oleh Bapak Ketut Wiryana beserta timnya (Jaya Prana dan Prof. Dr. I Wayan Runa, M.Si) dimaksudkan untuk membangun tonggak persatuan warga Jawa-Bali.

Niat mulia inipun diwujudkan dengan pembangunan candi yang menggunakan bahan batu andesit yang berasal dari Gunung Merapi (mewakili Jawa) dan batu dari Gunung Agung (mewakili Bali). Kaki dan badan candi menggunakan batu yang berasal dari Gunung Merapi, sedangkan puncak candi menggunkan batu yang berasal dari Gunung Agung yang dilengkapi dengan kersi yang b erlapis emas dan sekaligus berfungsi sebagai penangkal petir.

Sangatlah logis bahwa pembangunannya bukan hanya sekadar sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok Rshi Markandeya, namun lebih jauh dari itu sebagai tindakan simbolik yang diharapkan mampu dijadikan wahana untuk merawat kesadaran sejarah yang nantinya diyakini akan menghasilkan kesadaran tentang arti penting menjaga keseimbangan lahiriah dan batiniah.

Aura magis yang terpancar di kawasan Candi Gumuk Kancil kiranya akan bisa mengantarkan umat Hindu yang tangkil untuk mendapatkan kejernihan pikiran. Terlebih keberadaannya dikelilingi dengan tempat suci lainnya yakni Pura Puncak Raung, Goa Gantung dan Beji. Tahapan persembahyangan yang diawali dengan pembersihan diri di Beji, dilanjutkan dengan persembayangan di Pura Puncak Raung dan selanjutnya di Candi Gumuk Kancil merupakan tahapan spritual yang akan mampu menyisakan pemahaman tentang arti pembersihan dan kesucian.

10 Pancuran di Beji: Tempat Penglukatan | Dokumentasi: Sendratari, Desember 2022

Pemberitaan dan pembacaan tentang Candi Gumuk Kancil yang dilengkapi dengan aura religius magisnya dengan pelahan namun pasti dari sejak pendiriannya telah menambah lintas cakrawala umat Hindu di Bali yang dulunya hanya melintas di Pura Blambangan, Banyuwangi, namun kini telah menjadikan Candi Gumuk Kancil sebagai lintasan yang melengkapi perlawatan spiritual dari historis dikenalnya agama Hindu ke Bali.

Hasil perlawatan saya saat sampai di Candi Gumuk Kancil pada piodalan yang jatuh pada Jumat 9 Desember 2022, Umanis Purnama, Wuku Kajeng bukan hanya menguatkan pemahaman tentang sejarah pendiriannya, tahapan persembahyangannya, emosi keagamannya namun ada hal yang mampu menarik perhatian saya tentang simbol-simbol yang dihadirkan di depan candi.

Perhatian saya tentang simbol-simbol yang menyedot perhatian bukan hanya dimaksudkan untuk mengasah daya kritis, namun ternyata telah mampu membawa saya ke ruang pemikiran tentang permainan oposisi biner yang terpaut dengan mekanisme penguatan tentang makna keseimbangan. Dalam konteks inilah perjalanan kali ini menjadi berbeda dari perjalanan sebelumnya saat menuju tempat yang sama.

Simbol-simbol Pada Candi Gumuk Kancil | Dokumentasi: Made Jaya Senastri, Desember 2022

Pertama, di ruang candi diletakkan lingga dan yoni. Di dalam pemahaman lingga yoni yang selama ini ada diartikan sebagai simbol penciptaan manusia. Lingga diartikan sebagai organ maskulin, sedangkan yoni mewakili organ feminin. Penyatuan keduanya akan menghasilkan kehidupan. Dalam penyatuan lingga dan yoni terdapat pemaknaan bahwa penyatuan keduanya akan menghasilkan energi penciptaan kehidupan.

Jika dilihat dari perspektif agama Hindu, pemujaan atas penyatuan keduanya akan menghasilkan kekuatan tertinggi, bahkan penyatuan keduanya diartikan sebagai lambang kesuburan, sehingga pemujaan terhadap simbol ini sebagai pengharapan untuk mendapatkan kesuburan alam semesta.

Pemaknaan tentangya, kiranya dapat diperluas bahwa kehadiran lingga-yoni di Candi Gumuk Kancil dari pembacaan semiotika dapat menyiratkan suatu pesan moral yang hidden di mana simbolisasi yang hadir disitu bisa melatihkan cara berpikir dan bertindak kita tentang purusa (laki-laki) dan predana (perempuan) yang diartikan sebagai dua kekuatan yang bisa saling mengisi, saling melengkapi.

Jika sudah sampai pada pemahaman di tingkat ini, maka sikap yang terbangun dalam kehidupan sosial adalah sikap yang saling mengasihi dan bukan sebaliknya sikap yang saling melukai. Kiranya pembacaan yang semacam ini bukan semata sebagai tafsir yang dilandasi sikap feminis, namun dilandasi pula dengan hasil pembacaan dari simbol lainnya yang tersedia di Candi Gumuk Kancil, yakni pemakaian warna merah dan putih di areal candi.

Kedua, pemakaian warna merah dan putih dalam bentuk tedung/payung, bendera dan umbul-umbul ternyata bukanlah hanya sebagai pajangan. Kehadirannya ternyata menguatkan pandangan bahwa manusia adalah makhluk simbolik (homo simbolicum). Pembacaan tentang simbol, diperoleh dari Romo Cokro, atau yang lebih populer dipanggil dengan sebutan Romo Eko.

Romo diartikan sebagai orang yang dimuliakan. Romo Eko berasal dari kawasan Dieng, hadir pada saat piodalan di Candi Gumuk Kancil. Beliau memberikan pembacaan atas hadirnya warna merah dan putih di candi seperti berikut ini.

“Merah -Putih itu adalah simbol bhuwana agung dan bhuwana alit, merah itu simbol bumi/pertiwi dan putih adalah simbol angkasa. Sama juga artinya dengan simbol purusa dan pradana. Putih itu adalah lingga, sedangkan merah adalah yoni. Dalam kehidupan kita sebagai manusia kedua warna ini selalu hadir untuk menyadarkan kita bahwa keduanya sangat diperlukan untuk memberi arti pada kehidupan kita. Simbol angkasa dan pertiwi akan mengajarkan kita bahwa keduanya sangat berarti untuk mendapatkan kualitas hidup. Kita tidak bisa hidup tanpa bumi dan angkasa”

Romo Eko Saat Menjelaskan Makna Simbol di Candi Gumuk Kancil | Dokumentasi Made Jaya Senastri, Desember 2022

Pandangan dari Romo Eko dapat membantu kita bahwa simbol merah putih yang dihadirkan di Candi Gumuk Kancil seharusnya bisa memberi pelajaran hidup kepada kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan baik dalam artian saling menghormati antara pursa dan pradana, namun juga pentingnya penghormatan kita terhadap bumi dengan segala isinya karena, di bumilah sumber kehidupan.

Menurut Romo Eko keberadaan simbol di candi sesungguhnya memberikan pesan kepada manusia agar selalu eling untuk menjaga bumi, karena bumi sudah berjasa memberi kehidupan kepada manusia. Pandangan ini sesuai dengan prinsip ekofeminisme yakni sifat feminis yang berpegang pada prinsip perawatan terhadap bumi. Kesadaran akan pentingnya bumi dalam kehidupan manusia ditunjukkan melalui pembuatan gunungan hasil bumi saat piodalan di Candi Gumuk Kancil sebagai cerminan persembahan kepada Hyang Maha Kuasa.

Gunung adalah sumber kehidupan, karena dari sanalah berbagai hasil bumi diperoleh, dan sumber air pun kita peroleh dari gunung, sehingga manusia wajib berucap syukur. Demikian penjelasan Romo Eko tentang makna tersembunyi dibalik persembahan hasil bumi.

Menariknya lagi prinsip perawatan terhadap bumi dan cara unik umat Hindu melakukan persembahan tampak dari bahan sesajen yang sepenuhnya diambil dari hasil bumi setempat., tidak mengandalkan bahan dari luar desa. Wadah sesajen dibuat dari irisan bambu dan berisi pisang dan kelapa. Tidak bisa ditutupi kesan sederhana tentang cara umat Hindu di lereng Gunung Raung melaksanakan ritual. Potret ini bisa menjadi bahan ajar yang memperkaya pemahaman umat Hindu tentang arti perbedaan.

Isian Sesajen untuk Persembahan di Candi Gumuk Kancil | Dokumentasi : Sendratari, Desember 2022

Menapak jejak purusa dan predana di Candi Gumuk Kancil akan mengajarkan kita arti pentingnya kerjasama antara purusa dan predana yang diperkuat melalui  warna merah dan putih sebagai simbolisasi langit dan bumi yang memberi kehidupan kepada umat manusia.

Ternyata pembacaan terhadap simbol telah mampu memupus anggapan bahwa perjalanan spiritual yang melintas batas wilayah hanyalah pemuas gaya hidup, namun telah mampu mengirim cakrawala baru yang penuh kesan. [T]

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’
Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Panji Semirang: Tokoh Imajiner dalam Merajut Manusia Androgyni
Tags: banyuwangiGunung RawunghinduHindu JawaHindu NusantaraJawa Timur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Undisputed Poetry Surabaya : Kita Mewujud Puisi

Next Post

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Teater Sebagai Produksi Memori  | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co