2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’

Sugi Lanus by Sugi Lanus
June 7, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

Umumnya masyarakat Bali sangat samar-samar dalam memahami Wariga atau kalender Bali. Wariga semata-mata diikuti lebih sebagai warisan leluhur yang memang dirasa wajib untuk dilanjutkan, bukan karena pemahaman mendalam. 

Sayangnya, pengetahuan wariga tidak diajarkan secara memadai di bangku sekolah, padahal kalender Bali masih menjadi pedoman ritual dan upakara, dari pernikahan, upakara di semua pura, menanam dan memetik hasil panen panen, sampai hari baik untuk pindah rumah, bahkan ada pula hari baik memotong rambut, dstnya.

Hanya orang Bali yang paham tabel dan rumusan ‘Lanus’ (Lelanusan) yang bisa memahami logika atau matematika di balik kalender Bali atau Wariga.

Rumusan ‘Lanus’ (Lelanusan) adalah kisi-kisi memahami Wariga, sementara muasal dari ilmu Wariga atau kalender yang terwariskan di Bali adalah saripati dari ilmu pengetahuan kuno yang berbasis sains terapan berupa konstelasi bintang atau rasi yang dipakai dasar acuan dalam pelayaran, atau navigasi pelaut kuno, menjadi acuan para petani dalam menghitung musim tanam, curah hujan, pertimbangan hama, damuh lengis, angin baret, dstnya. 

Lontar Lelanusan Wuku — rumusan dan tabel untuk menentukan baik buruk hari dalam Wariga atau kalender Bali.

Wariga yang dulunya adalah sains terapan, kini tidak banyak dipahami dengan baik, menjadi gugun tuwon yang seolah tidak ada logikanya.

BAGAIMANA CARA MENGETAHUI HARI ITU BAIK ATAU BURUK BERDASAR TABEL LANUS?

Tabel atau perhitungan Lanus, dalam bahasa Bali disebut sebagai Lelanusan (perhitungan mencari baik buruk hari berdasarkan rumusan dan tabel Lanus), adalah rumusan mengenal atau memahami apakah hari ini atau besok itu baik atau buruk.

Sebelum menuju ke Lelanusan, jika ingin memahami kalender Bali, maka seseorang harus:

1. Memahami perhitungan wara (Wewaran) 
2. Memahami perhitungan wuku (Pawukon)
3. Memahami perhitungan purnama-tilem.

TABEL WARA & LANUS

Setiap wewaran atau hari ada potensi LANUS dan BASAH.

— Lanus artinya baik, utama, kedewataan, tumbuh subur, tiada halangan.
— Basah artinya kurang baik, kurang beruntung, tidak cocok untuk urusan kedewataan, terhambat tumbuh, berpotensi mendapat halangan.

Dwiwara: 

§ Menga = Basah
§ Pepet = Lanus.

Triwara:

§ Dora/Pasah = Basah.
§ Wara/Beteng = Lanus.
§ Byantara/Kajeng = Lanus.

Umum orang Bali tahu kalau Pasah itu tidak ke dukun, ke pura atau tidak melakukan kegiatan spiritual lainnya, atau tidak memilih hari yang terhitung Pasah = Basah.

Caturwara:

§ Sri = Lanus.
§ Laba = Basah.
§ Jaya = Lanus.
§ Menala = Lanus.

Pancawara:

§ Umanis = Lanus.
§ Paing = Lanus.
§ Pon = Lanus.
§ Wage = Lanus.
§ Kliwon = Lanus.

Semuanya sama-sama Lanus

Sadwara:

§ Tunglen = Basah.
§ Ariyang = Basah.
§ Urukung = Madya.
§ Paniron = Lanus.
§ Was = Basah.
§ Maulu = Lanus.

Saptawara:

§ Redite = Lanus.
§ Soma = Lanus.
§ Anggara = Basah.
§ Buda = Lanus.
§ Wrespati = Lanus.
§ Sukra = Basah.
§ Saniscara = Basah.

Astawara:

§ Sri, lndra, Guru = Lanus.
§ Yama, Rudra, Brahma = Basah.
§ Kala, Uma = Lanus.

Sanggawara:

§ Dangu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan, Erangan, Urungan = Basah.
§ Tutus dadi = Lanus.

Dasawara:

§ Pandhita =Lanus.
§ Pati = Basah.
§ Suka = Lanus.
§ Duka = Basah.
§ Sri = Lanus.
§ Manuh = Basah.
§ Manusa = Lanus.
§ Raja/Rajah = Basah.
§ Dewa = Lanus.
§ Raksasa = Basah.

Ekawara berputar tidak menentu Basah dan Lanusnya.

§ Gni Rawana Merta masa = Lanus.
§ Rupa gelangan = Basah.
§ Merta Dewa = Lanus.
§ Prok Tawuk = Basah.
§ Dewa Satata = Lanus. 
§ Papedan = Basah, 
§ Sedana Yoga = Lanus 
§ Dadi Grena = Basah, 
§ Dewa Anglayang = Lanus, 
§ Pati Pata = Basah, 
§ Wyakaya = Lanus 
§ Pamacekan = Basah, 
§ Wage Pandakan = Lanus, 
§ Kalabur Rau = Basah, 

§ Ada juga Lanus dan Basah dalam masa Kresnapaksa dan Suklapaksa = Lanus dan Basah

§ Kala = Basah.
§ Dewa = Lanus.

PERHITUNGAN LANUS

Apabila akan menjalankan Padewasan (perhitungan wariga), perhatikan Basah dan Lanusnya. 

§ Apabila Lanus = baik = teman. 
§ Kalau Basah = musuh / buruk. 

Inilah kesimpulanya: 

§ Apabila Lanus maka diwasa Ayu namanya, 
§ Kalau Basah maka diwasa Ala namanya, 
§ Kalau sama dan tidak ada sisa, itu sedang sedang Namanya, dan harus
diingat agar dicocokkan kembali dengan Triwara.

KUNCI TRIWARA

§ Apabila Dora Kadoran lagi pasah, sangat Basahnya, 
§ Kala Waya Kawayan, sangat Lanusnya, 
§ Kalau Byantate ke Byantaran nuju Kajeng sangat Lanusnya, 
§ kalau Waya ke Byantara nuju Pasah madya Lanusnya, 
§ Kalau Dora Kadoran nuju Kajeng / Waya sangat buruk dan tidak baik untuk dilaksanakan untuk Padewasan.

Semua di atas adalah rumusan LE-LANUS-AN dalam LONTAR LELANUSAN WUKU. 

Dalam lontar LELANUSAN disebutkan dalam setiap Wariga haruslah terus diperhatikan sebab banyak hal yang tidak kita kita ketahui disembunyikan oleh Sang Hyang Licin dan dianjurkan jangan melanggar aturan ini sebab semua mengenai Saptawara dan Triwara sudah ada perhitungannya masing-masing. 

Berikut harus dipahami:

Waya Kawaya, Byanta ke Byantara. Waye Kawaya namanya: Soma menuju Waya, Waya Kawayana dari Sukra menuju Waye, Tulus Lanus itu adalah yang terbaik. Buda menuju Byantara, Soma menuju Byantara maka Alang Tengen namanya, menjadi Lanus Ayu, dan apabila Byantara ke Byantara dan Wrespati menuju Dora itu bernama Dora Kadoran, maka Basah itu (Ala), dan tidak diperkenankan mengadakan upacara Ayu.

Bila Redite nemu yang namanya Byantara ke Byantaran, dan jika tilem katilem ke Saniscara Kliwon = Wara Jenar namanya, Tilem Katilem = Basah itu Ala (buruk). Purnama Kapurnaman = Saniscara Kliwon wara uku Krulut = Purnama Kapurnaman, ini disebut Lanus. 

Ini TUTUR SUNDUK bagian dari Lelanusan. Yang dimaksud dengan sunduk = petunjuk secara turun temurun.

Jika telah memahami dengan baik perhitungan wara (Wewaran), perhitungan wuku (Pawukon), dan perhitungan purnama-tilem, akan menjadi jelas Tutur Sunduk ini. Jika paham ketiganya dengan baik akan membuat seseorang memahami rumusan Lanus atau Lelanusan.

SANG HYANG ETA-ETO SUMBER TABEL LE-LANUS-AN WUKU?

Inilah kisah dari Lontar Kanci Bumi:

Alkisah alam semesta belum tercipta. Belum ada akasa, belum juga ada kosong. Kosongpun tidak terbayang — tidak pasti apakah itu sebagai gelap gulita atau benderang yang membutakan.

Belum ada bentang ruang antarika, belum ada bulan, matahari dan juga bintang, belum ada manusia, dan belum ada segala-galanya.

Tidak ada pertengahan, awal maupun akhir. Tidak ada utara, timur selatan, maupun barat. 

Barat laut timur laut dan segalanya belum ada, tidak ada Pertiwi, juga Akasa / angkasa. Tidak ada siang tidak ada malam, tidak ada angin api, air
dan Samudra.

Tidak ada Dewa ataupun Batara.

Dewa Hyang Parasi Ambara, Jagat ini anarawang anarawung (kosong-hampa tiada terperi), segalanya tidak ada, sepi gigil dunia ini disebut bernama SANG ETA ETO.

SANG ETA ETO beliau tidak berwujud dan tidak berbadan, sunyi senyap tiada terbayang keberadaanNya, Maha Suci Juga Maha Langgeng.

Beliau tidak ada yang menciptakan, sebab Dia tidak berawal dan tidak berahir.

Beryogalah SANG ETA ETO sebab ingin menciptakan alam ini. Munculah Sang Hyang Neraweyawe. Dititahkanlah kepada Sang Hyang Neraweyawe untuk menjalankan yoga, oleh Sang Hyang Eta Eto.

Maka lahirlah Sang Mohana, Dia selanjutnya beryoga sehingga terciptalah Sang Grebewisesa. 

Sang Grebewisesa adalah pengayom dan pelindung Jagat atau dunia, yang menentukan baik atau buruk. Beliau menjadi parameter kebajikan yang pertama. Kebaikan atau kebenaran dan juga kesalahan yang yang ditetapkan di dalam alam ini itulah yang harus diikuti dan dijalankan oleh manusia semuanya. Beliau menegakkan prinsip pertama, causa prima, yang menjadi prisip kebenaran alam semesta, baik grafitasi, listrik, magnet, atom, dstnya, termasuk prinsip kekalan energi, karmapala, perjalanan dan siklus purnarbawa atau penjelmaan semua makhlum di dunia. Itulah tiang kebenaran yang ditegakkan oleh Sang Grebewisesa untuk menyangga kelangsungan alam semesta. Tanpa tiang Sang Grebewisesa, alam semesta akan ambruk saling bertabrakan dan terhirup masuk kembali ke dalam pemusnahan alam semesta.

Maka hendaklah diketahui dari sekarang dan selanjutnya, oleh siapapun yang ingin melaksanakan atuu menjalankan, juga mendalami Wreastra, yaitu ilmu yang dipengaruhi tentang adanya hari bahwa ada prinsip pertama kebenaran yang menjadi pengatur di balik semua hari, bulan, langit, bulan, bumi dan planet-planet.

Setelah terjadi alam semesta, ada Dewata terbang di angkasa, yaitu satunya-satunya Guru, yang bernama Sang Hyang Licin, beliau yang Maha Suci, bermacam-macam wujudnya sangat sempurna, Maha Sempurna. 

Maka berwujudlah beliau sebagai Sang Hyang Tuduh, tiada lain adalah Sang Hyang Licin, sebagai Brahman (Pusat Pujaan Paling Utama), tidak ada yang menciptakan ataupun melahirkanya.

Beryogalah Sang Hyang Licin, lahirlah Bhagawan Bergu. 

Kelahiran Bhagawan Bergu menyebabkan adanya dua hal yaitu: Prinsip baik dan buruk, Dewa dan juga Kala. Rau dan Ketu / bulan dan matahari, siang dan juga malam.

Adapun keterangannya: 

Sang Hyang Rau menciptakan Sarwakala, Sang Hyang Ketu menciptakan semua para Dewa. Ada Jagat Niskala dan juga suci Nirmala bernama Sunya Windu, menjadi Adi Kala, sebagai kesaktian Sang Hyang Licin, menjadi semua Kala, wujud-rupa dan tingah laku-perbuatannya, lain tempat-keberadaannya, beragam dan berpencar dalam berbagai dimensi dan perangai, akan tetapi pada hakekatnya semua adalah satu ikatan, yaitu yang bernama kesejatian Eka Wara, maka terciptalah Sang Hyang Uku, yaitu Sinta dan juga Sungsang

Setelah Ekawara, muncul Dwi Wara: Menga-Pepet. Menga adalah tempat keberadaan Sang Hyang Licin, adapun Pepet adalah tempat Sang Hyang Ketu. Itulah yang menyebabkan adanya baik dan buruk, juga siang dan malam.

Tercipta WUKU TAMBIR ada juga Tri Wara Dora, Wara Biyantara, yang sesungguhnya adalah Dewa, Kala, dan manusia. 

Tercipta WUKU KULAU, dari Kulau maka ada mucul Catur Wara: Sri, Laba, Jaya Menala, adalah sebenarnya tak lain dari Sang Hyang Gangga, Sang Hyang Purusa Wisesa, Sang Hyang Kancana juga Sang Hyang Widi.

Tercipta WUKU WARIGA, maka ada Pancawara, yaitu: Umanis, Paing, Pon, Wage dan juga Kliwon, sebenarnya yang menempati dan menjiwai adalah, Sang Hyang Iswara, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Maha Dewa, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Siwa.

Tercipta WUKU PAANG, maka ada Sadwara: Tungleh, Ariang, Urukung, Paniron, Was, Maulu, yang sesungguhnya adalah Sad Buta: Pada Buta, Mlenca Buta, Mastaka Buta, dan juga Gangga
Buta.

Tercipta WUKU BALA maka ada Saptawara, yaitu Radite, Soma, Anggara, Buda, Wrespati, Sukra, Saniscara, yang sesungguhnya adalah: Banyu, Candra, Menggala, Metri, Kaga, Bregu, Sori. sesungguhnya Wedyadara Wedyadari.

Tercipta WUKU LANGKIR maka ada Astawaraya itu: Sri, Indra, Yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma, yang sebenarnya adalah, Bhatara Giri Putri, Hyang Indra, Hyang Guru, Hyang Yama, Hyang Ludra, Hyang Brahma, Hyang Kala, Hyang Mretyu. 

Sesungguhnya semua Dewa ada pada UKU LANGKIR, ada Sanggawara: Dengu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan, Erangan, Urungan, Tulus; yang sesungguhnya akan menjadi, Buta Ulu, Buta Jingkrak, Buta Petak, Buta Jambu. Buta Menge, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Darma. 

Tercipta WUKU UYE, ada juga Dasa Wara, yaitu: Pandita, Pati Suka, Duka, Sri, Manuh, Manusa, Raja, Dewa, Raksasa, yang sesungguhnya adalah Surya sesungguhnya Pandita, Pati adalah kesusahan, Dewanya adalah Sang Hyang Ksama, bernama Kala adalah Sang Hyang Tangis, sedangkan loba-kopa (kesrakahan dan ketamakan) adalah perwujudan dani Raksasa.

Tercipta WUKU Landep, Ukir, Taulu, Gumbreg, Wariga, Julungwangi, Dunggulan, Kuningan, Medangsiya, Pujut, Krulut, Merakih, Matal, Uyeh, Menail, Prangbakat, Ugu, Wayang, Dukut, juga Watugunung, itu WUKU PULUH DASA Namanya; Yaitu Tri Windu menjadi satu, menjadi sepuluh dengan penggalihan sebagai berikut: 6. 7, 8. 9. 10. Dua menjadi satu, menjadi dua, menjadi Jesta Asada, yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan sasih. Menjadi 3 menjadi 4, dan dijadikan satu menjadi satu bulan, sama dengan asasih (satu bulan perhitungan purnama-tilem) menjadi tiga puluh hari, pada saat tilem, yaitu 340 hari sebagai pergantian satu tahunnya. 

Kembali ke lagi Eka Wara, yaitu Urip Windu bertempat di Jagat Sunya, ada pun Dwi Wara, Pati Urip (hidup-matinya) hari namanya, siang dan malam tempatnya, adapun tempatnya berada di tengah, Triwara tempat hidupnya di selatan, Caturwara hidupnya air, tempat keberadaanya berada di barat laut. Sadwara hidupnya gana tempatnya Gana di barat daya tempatnya, Saptawara tempatnya Pandita, barat tempatnya. Astawara hidupnya tempatnya gajah, brahmana, naga, Kaja Kangin adalah tempatnya. Dasawara bertempat pada Tutur Kamoksan, yaitu dalam Antariksa tempatnya. Sang Hyang Tuduh dan Sang Hyang Titahlah yang menjadi poros, kendali segala sesuatu yang baik dan yang buruk. 

Adapun yang bernama Wreasta Wariga adalah sebagai pelindung dunia, sebagai pusat dani semua ilmu agama, dan semua ajaran Weda, dan semua yang berhubungan dengan mantra-mantra.

Wariga namanya sesungguhnya semuanya tidak nyata terlihat, tetapi pada saat semua Kala Kala, keluarlah semua Dewa dari dalam badan: 

— Sang Hyang Adi Kala ada di gigi, yaitu keluar dari caling sebelah kiri, Kaledang Angel, menjadi dasar Sekar Striya namanya. 
— Keluar dari caling kanan Kala Seribu. 
— Keluar dari dalam “buku” yaitu Kalantaka, yang keluar dari seluruh persendian. 
— Kala Uku keluar dari dalam perut-usus.
— Kala Agung keluar dari dalam tangkah (dada). 
— Kala Geger keluar dari dalam kedipan mata 
— Kala Lumut keluar dari mulut. 
— Kala Grehe keluar dari dalamtelinga, 
— Kala Jabung keluar dari dalam hati, 
— Kala Brahma keluar dari dalam mulut, 
— Kala Dasa Muka keluar dari urung gading (urat tulang belakang), 
— Kala Naga keluar dari telapakan suku telapak kaki, 
— Kala Tampak keluar dari muka-pipi, 
— Kala Tampel keluar dari gigi, 
— Kala Lugilut Kala Kaet keluar dari pinggang, 
— Kala Ngadeg keluar dari nafsu, 
— Kala Gruda keluar dari dada, 
— Kala Depat keluar dari pikiran, 
— Kala Sangga Mati keluar dari Ademit. 
— Kala Wariga keluar dari Wat, 
— Kala Caplokan keluar dari mata, 
— Kala Cakre keluar dari dalam sifat, 
— Kala Angin keluar dari pantat, 
— Kala Uler keluar dari Danitiadi pada. 
— Kala Wisesa keluar dari kemaluan, 
— Kala Dasa Bumi keluar dari dalam rambut, 
— Kala Wande keluar dari otak, 
— Kala Atat keluar dari Guagala, 
— Kala Lowar keluar dari telapak tangan, 
— Kala Tuwek keluar dari lambung, 
— Kala Sudukan keluar dari lubang mata, 
— Kala Kilang Kilung keluar dari pundak, 
— Kala Dudutan keluar dari hati / pikiran, 
— Kala Mertyu keluar dari hidung, 
— Kala Mong keluar dari jriji (jari) 
— Kala Kuuk keluar dari Bayu, 
— Kala Bancaran keluar dari mata kiri, 
— Kala Ulat Muang, Kala Soba, Kala Kutila, Kala Gumarang, Kala Empas, Kala Sedakan, Kala Pegat, Kala munggeng, Kala Pacekan, Kala menge, Kala Ijal, Kala Kundang Kasih, semua itu keluar dari dalam kepala.

Diperintahkan: Harus selalu diperhatikan akan dampak baik buruknya pada Wariga, harus selalu diperhatikan dan jangan sampai lupa, sebab ada kehidupan didalam sebuah Wariga. 

Kala Idup dengan wewaran dari Sang Hyang Rau, dan Sang Hyang Ketu sama-sama memperebutkan sebuah tempat, dan semuanya sama-sama sakti, mereka saling bertempur, maka matilah Sang Kala dan dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Rawu, setelah dihidupkan kembali maka berperanglah lagi hingga mati sampai tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, tujuh kali, delapan kali, sembilan kali, maka tetap dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Ketu.

Demikianlah wewaran, penjabaran dan penjelasannya, kehidupannya seperti kisah di atas.

Kemudian ada lagi Kala sedang berperang, maka tampak kelihatan dari Niskala Sang Kaniya Dewa, tetapi bukan Sang Kala, maka marahlah, dan kemarahanya itu tak ada habis-habisnya, maka matilah ia, dan dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Eka Jala Rsi namanya, apabila tidak ada Dewasa yaitu baik dan buruk yang ada di Wariga, maka akan salah tempat dan tidak akan bisa menentukan arah, itulah tempat Eka Jala Rsi namanya, sunya nama tempatnya, itulah yang harus diketahui dan selalu diingat oleh mereka yang ingin mencapai Siddhi-mandi, dan jangan melupakan tentang Wariga, dan harus selalu dipelajari agar bisa menyatu dengan kebenaran dan kesucian.

Angin menyatu dengan api, Gni Rawana namanya, angina menyatu dengan air menjadi mendung tebal, angin menyatu dengan kotoran menjadi lumpur busuk namanya, angin puting beliung menyatu dengan api, pepedan namanya, angina menyatu dengan suara jadi grehe-kerug, angin menyatu dengan andus menjadi patipata, angin menyatu dengan air, api, menjadi pamecekan lanang wadon (penjelmaan dari laki-laki dan perempuan) maka mengenai tentang sebuah kebaikan dan keburukan harus dilihat-dicari pada Wariga. Apabila ingin pandai Siddhi-mandi dan tidak boleh sembarangan, sebab itu patut diketahui kebenarannya.

Selanjutnya ada ketentuan badan dengan penyambut Atma, Pretiti namanya, yaitu Pretiti Jati, Jara Mrana, Wedana, Nama Rupa, Upedana, Sdarsa, Bawa, Sadaye, Stana, Kresna, Widnyana Saskara, Awidnya, itulah yang mengikuti tentang baik buruknya sebuah kehidupan pada manusia, sebagaimana halnya dalam perhitungan Wariga yang harus diperhatikan adalah baik dan buruknya hari.

Semua karakter turunan baik/ayu/utama/luwih dari SANG ETA-ETO disebut Lanus. Sebaliknya, yang tidak baik atau seberangannya disebut Basah. 

Demikianlah semua karakter alam semesta yang bersumber dari keheningan tidak terbayangkan itu, SANG ETA-ETO, kekuatan mayanya. Seperti pelangi lengkung membentangkan berbagai warna, ketika hujan ditimpa sinar matahari, yang sesungguhnya pertemuan sinar dan percik air yang membentangnya manjadi warna. Warna-warna itu tidak ada dan baru ada dalam pertemuan sinar dan ciprat air di jagat raya. [T]

Catatan Harian, Sugi Lanus, 7 Juni 2020.

Tags: balihindulontar
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Terbentuk, Paguyuban Sameton PMI Desa Adat Kubu, Bangli – [Hikmah di Balik Wabah Covid-19]

Next Post

Demam Berdarah, Perang Lain yang Tak Pernah Usai

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Demam Berdarah, Perang Lain yang Tak Pernah Usai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co