3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’

Sugi Lanus by Sugi Lanus
June 7, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

Umumnya masyarakat Bali sangat samar-samar dalam memahami Wariga atau kalender Bali. Wariga semata-mata diikuti lebih sebagai warisan leluhur yang memang dirasa wajib untuk dilanjutkan, bukan karena pemahaman mendalam. 

Sayangnya, pengetahuan wariga tidak diajarkan secara memadai di bangku sekolah, padahal kalender Bali masih menjadi pedoman ritual dan upakara, dari pernikahan, upakara di semua pura, menanam dan memetik hasil panen panen, sampai hari baik untuk pindah rumah, bahkan ada pula hari baik memotong rambut, dstnya.

Hanya orang Bali yang paham tabel dan rumusan ‘Lanus’ (Lelanusan) yang bisa memahami logika atau matematika di balik kalender Bali atau Wariga.

Rumusan ‘Lanus’ (Lelanusan) adalah kisi-kisi memahami Wariga, sementara muasal dari ilmu Wariga atau kalender yang terwariskan di Bali adalah saripati dari ilmu pengetahuan kuno yang berbasis sains terapan berupa konstelasi bintang atau rasi yang dipakai dasar acuan dalam pelayaran, atau navigasi pelaut kuno, menjadi acuan para petani dalam menghitung musim tanam, curah hujan, pertimbangan hama, damuh lengis, angin baret, dstnya. 

Lontar Lelanusan Wuku — rumusan dan tabel untuk menentukan baik buruk hari dalam Wariga atau kalender Bali.

Wariga yang dulunya adalah sains terapan, kini tidak banyak dipahami dengan baik, menjadi gugun tuwon yang seolah tidak ada logikanya.

BAGAIMANA CARA MENGETAHUI HARI ITU BAIK ATAU BURUK BERDASAR TABEL LANUS?

Tabel atau perhitungan Lanus, dalam bahasa Bali disebut sebagai Lelanusan (perhitungan mencari baik buruk hari berdasarkan rumusan dan tabel Lanus), adalah rumusan mengenal atau memahami apakah hari ini atau besok itu baik atau buruk.

Sebelum menuju ke Lelanusan, jika ingin memahami kalender Bali, maka seseorang harus:

1. Memahami perhitungan wara (Wewaran) 
2. Memahami perhitungan wuku (Pawukon)
3. Memahami perhitungan purnama-tilem.

TABEL WARA & LANUS

Setiap wewaran atau hari ada potensi LANUS dan BASAH.

— Lanus artinya baik, utama, kedewataan, tumbuh subur, tiada halangan.
— Basah artinya kurang baik, kurang beruntung, tidak cocok untuk urusan kedewataan, terhambat tumbuh, berpotensi mendapat halangan.

Dwiwara: 

§ Menga = Basah
§ Pepet = Lanus.

Triwara:

§ Dora/Pasah = Basah.
§ Wara/Beteng = Lanus.
§ Byantara/Kajeng = Lanus.

Umum orang Bali tahu kalau Pasah itu tidak ke dukun, ke pura atau tidak melakukan kegiatan spiritual lainnya, atau tidak memilih hari yang terhitung Pasah = Basah.

Caturwara:

§ Sri = Lanus.
§ Laba = Basah.
§ Jaya = Lanus.
§ Menala = Lanus.

Pancawara:

§ Umanis = Lanus.
§ Paing = Lanus.
§ Pon = Lanus.
§ Wage = Lanus.
§ Kliwon = Lanus.

Semuanya sama-sama Lanus

Sadwara:

§ Tunglen = Basah.
§ Ariyang = Basah.
§ Urukung = Madya.
§ Paniron = Lanus.
§ Was = Basah.
§ Maulu = Lanus.

Saptawara:

§ Redite = Lanus.
§ Soma = Lanus.
§ Anggara = Basah.
§ Buda = Lanus.
§ Wrespati = Lanus.
§ Sukra = Basah.
§ Saniscara = Basah.

Astawara:

§ Sri, lndra, Guru = Lanus.
§ Yama, Rudra, Brahma = Basah.
§ Kala, Uma = Lanus.

Sanggawara:

§ Dangu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan, Erangan, Urungan = Basah.
§ Tutus dadi = Lanus.

Dasawara:

§ Pandhita =Lanus.
§ Pati = Basah.
§ Suka = Lanus.
§ Duka = Basah.
§ Sri = Lanus.
§ Manuh = Basah.
§ Manusa = Lanus.
§ Raja/Rajah = Basah.
§ Dewa = Lanus.
§ Raksasa = Basah.

Ekawara berputar tidak menentu Basah dan Lanusnya.

§ Gni Rawana Merta masa = Lanus.
§ Rupa gelangan = Basah.
§ Merta Dewa = Lanus.
§ Prok Tawuk = Basah.
§ Dewa Satata = Lanus. 
§ Papedan = Basah, 
§ Sedana Yoga = Lanus 
§ Dadi Grena = Basah, 
§ Dewa Anglayang = Lanus, 
§ Pati Pata = Basah, 
§ Wyakaya = Lanus 
§ Pamacekan = Basah, 
§ Wage Pandakan = Lanus, 
§ Kalabur Rau = Basah, 

§ Ada juga Lanus dan Basah dalam masa Kresnapaksa dan Suklapaksa = Lanus dan Basah

§ Kala = Basah.
§ Dewa = Lanus.

PERHITUNGAN LANUS

Apabila akan menjalankan Padewasan (perhitungan wariga), perhatikan Basah dan Lanusnya. 

§ Apabila Lanus = baik = teman. 
§ Kalau Basah = musuh / buruk. 

Inilah kesimpulanya: 

§ Apabila Lanus maka diwasa Ayu namanya, 
§ Kalau Basah maka diwasa Ala namanya, 
§ Kalau sama dan tidak ada sisa, itu sedang sedang Namanya, dan harus
diingat agar dicocokkan kembali dengan Triwara.

KUNCI TRIWARA

§ Apabila Dora Kadoran lagi pasah, sangat Basahnya, 
§ Kala Waya Kawayan, sangat Lanusnya, 
§ Kalau Byantate ke Byantaran nuju Kajeng sangat Lanusnya, 
§ kalau Waya ke Byantara nuju Pasah madya Lanusnya, 
§ Kalau Dora Kadoran nuju Kajeng / Waya sangat buruk dan tidak baik untuk dilaksanakan untuk Padewasan.

Semua di atas adalah rumusan LE-LANUS-AN dalam LONTAR LELANUSAN WUKU. 

Dalam lontar LELANUSAN disebutkan dalam setiap Wariga haruslah terus diperhatikan sebab banyak hal yang tidak kita kita ketahui disembunyikan oleh Sang Hyang Licin dan dianjurkan jangan melanggar aturan ini sebab semua mengenai Saptawara dan Triwara sudah ada perhitungannya masing-masing. 

Berikut harus dipahami:

Waya Kawaya, Byanta ke Byantara. Waye Kawaya namanya: Soma menuju Waya, Waya Kawayana dari Sukra menuju Waye, Tulus Lanus itu adalah yang terbaik. Buda menuju Byantara, Soma menuju Byantara maka Alang Tengen namanya, menjadi Lanus Ayu, dan apabila Byantara ke Byantara dan Wrespati menuju Dora itu bernama Dora Kadoran, maka Basah itu (Ala), dan tidak diperkenankan mengadakan upacara Ayu.

Bila Redite nemu yang namanya Byantara ke Byantaran, dan jika tilem katilem ke Saniscara Kliwon = Wara Jenar namanya, Tilem Katilem = Basah itu Ala (buruk). Purnama Kapurnaman = Saniscara Kliwon wara uku Krulut = Purnama Kapurnaman, ini disebut Lanus. 

Ini TUTUR SUNDUK bagian dari Lelanusan. Yang dimaksud dengan sunduk = petunjuk secara turun temurun.

Jika telah memahami dengan baik perhitungan wara (Wewaran), perhitungan wuku (Pawukon), dan perhitungan purnama-tilem, akan menjadi jelas Tutur Sunduk ini. Jika paham ketiganya dengan baik akan membuat seseorang memahami rumusan Lanus atau Lelanusan.

SANG HYANG ETA-ETO SUMBER TABEL LE-LANUS-AN WUKU?

Inilah kisah dari Lontar Kanci Bumi:

Alkisah alam semesta belum tercipta. Belum ada akasa, belum juga ada kosong. Kosongpun tidak terbayang — tidak pasti apakah itu sebagai gelap gulita atau benderang yang membutakan.

Belum ada bentang ruang antarika, belum ada bulan, matahari dan juga bintang, belum ada manusia, dan belum ada segala-galanya.

Tidak ada pertengahan, awal maupun akhir. Tidak ada utara, timur selatan, maupun barat. 

Barat laut timur laut dan segalanya belum ada, tidak ada Pertiwi, juga Akasa / angkasa. Tidak ada siang tidak ada malam, tidak ada angin api, air
dan Samudra.

Tidak ada Dewa ataupun Batara.

Dewa Hyang Parasi Ambara, Jagat ini anarawang anarawung (kosong-hampa tiada terperi), segalanya tidak ada, sepi gigil dunia ini disebut bernama SANG ETA ETO.

SANG ETA ETO beliau tidak berwujud dan tidak berbadan, sunyi senyap tiada terbayang keberadaanNya, Maha Suci Juga Maha Langgeng.

Beliau tidak ada yang menciptakan, sebab Dia tidak berawal dan tidak berahir.

Beryogalah SANG ETA ETO sebab ingin menciptakan alam ini. Munculah Sang Hyang Neraweyawe. Dititahkanlah kepada Sang Hyang Neraweyawe untuk menjalankan yoga, oleh Sang Hyang Eta Eto.

Maka lahirlah Sang Mohana, Dia selanjutnya beryoga sehingga terciptalah Sang Grebewisesa. 

Sang Grebewisesa adalah pengayom dan pelindung Jagat atau dunia, yang menentukan baik atau buruk. Beliau menjadi parameter kebajikan yang pertama. Kebaikan atau kebenaran dan juga kesalahan yang yang ditetapkan di dalam alam ini itulah yang harus diikuti dan dijalankan oleh manusia semuanya. Beliau menegakkan prinsip pertama, causa prima, yang menjadi prisip kebenaran alam semesta, baik grafitasi, listrik, magnet, atom, dstnya, termasuk prinsip kekalan energi, karmapala, perjalanan dan siklus purnarbawa atau penjelmaan semua makhlum di dunia. Itulah tiang kebenaran yang ditegakkan oleh Sang Grebewisesa untuk menyangga kelangsungan alam semesta. Tanpa tiang Sang Grebewisesa, alam semesta akan ambruk saling bertabrakan dan terhirup masuk kembali ke dalam pemusnahan alam semesta.

Maka hendaklah diketahui dari sekarang dan selanjutnya, oleh siapapun yang ingin melaksanakan atuu menjalankan, juga mendalami Wreastra, yaitu ilmu yang dipengaruhi tentang adanya hari bahwa ada prinsip pertama kebenaran yang menjadi pengatur di balik semua hari, bulan, langit, bulan, bumi dan planet-planet.

Setelah terjadi alam semesta, ada Dewata terbang di angkasa, yaitu satunya-satunya Guru, yang bernama Sang Hyang Licin, beliau yang Maha Suci, bermacam-macam wujudnya sangat sempurna, Maha Sempurna. 

Maka berwujudlah beliau sebagai Sang Hyang Tuduh, tiada lain adalah Sang Hyang Licin, sebagai Brahman (Pusat Pujaan Paling Utama), tidak ada yang menciptakan ataupun melahirkanya.

Beryogalah Sang Hyang Licin, lahirlah Bhagawan Bergu. 

Kelahiran Bhagawan Bergu menyebabkan adanya dua hal yaitu: Prinsip baik dan buruk, Dewa dan juga Kala. Rau dan Ketu / bulan dan matahari, siang dan juga malam.

Adapun keterangannya: 

Sang Hyang Rau menciptakan Sarwakala, Sang Hyang Ketu menciptakan semua para Dewa. Ada Jagat Niskala dan juga suci Nirmala bernama Sunya Windu, menjadi Adi Kala, sebagai kesaktian Sang Hyang Licin, menjadi semua Kala, wujud-rupa dan tingah laku-perbuatannya, lain tempat-keberadaannya, beragam dan berpencar dalam berbagai dimensi dan perangai, akan tetapi pada hakekatnya semua adalah satu ikatan, yaitu yang bernama kesejatian Eka Wara, maka terciptalah Sang Hyang Uku, yaitu Sinta dan juga Sungsang

Setelah Ekawara, muncul Dwi Wara: Menga-Pepet. Menga adalah tempat keberadaan Sang Hyang Licin, adapun Pepet adalah tempat Sang Hyang Ketu. Itulah yang menyebabkan adanya baik dan buruk, juga siang dan malam.

Tercipta WUKU TAMBIR ada juga Tri Wara Dora, Wara Biyantara, yang sesungguhnya adalah Dewa, Kala, dan manusia. 

Tercipta WUKU KULAU, dari Kulau maka ada mucul Catur Wara: Sri, Laba, Jaya Menala, adalah sebenarnya tak lain dari Sang Hyang Gangga, Sang Hyang Purusa Wisesa, Sang Hyang Kancana juga Sang Hyang Widi.

Tercipta WUKU WARIGA, maka ada Pancawara, yaitu: Umanis, Paing, Pon, Wage dan juga Kliwon, sebenarnya yang menempati dan menjiwai adalah, Sang Hyang Iswara, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Maha Dewa, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Siwa.

Tercipta WUKU PAANG, maka ada Sadwara: Tungleh, Ariang, Urukung, Paniron, Was, Maulu, yang sesungguhnya adalah Sad Buta: Pada Buta, Mlenca Buta, Mastaka Buta, dan juga Gangga
Buta.

Tercipta WUKU BALA maka ada Saptawara, yaitu Radite, Soma, Anggara, Buda, Wrespati, Sukra, Saniscara, yang sesungguhnya adalah: Banyu, Candra, Menggala, Metri, Kaga, Bregu, Sori. sesungguhnya Wedyadara Wedyadari.

Tercipta WUKU LANGKIR maka ada Astawaraya itu: Sri, Indra, Yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma, yang sebenarnya adalah, Bhatara Giri Putri, Hyang Indra, Hyang Guru, Hyang Yama, Hyang Ludra, Hyang Brahma, Hyang Kala, Hyang Mretyu. 

Sesungguhnya semua Dewa ada pada UKU LANGKIR, ada Sanggawara: Dengu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan, Erangan, Urungan, Tulus; yang sesungguhnya akan menjadi, Buta Ulu, Buta Jingkrak, Buta Petak, Buta Jambu. Buta Menge, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Darma. 

Tercipta WUKU UYE, ada juga Dasa Wara, yaitu: Pandita, Pati Suka, Duka, Sri, Manuh, Manusa, Raja, Dewa, Raksasa, yang sesungguhnya adalah Surya sesungguhnya Pandita, Pati adalah kesusahan, Dewanya adalah Sang Hyang Ksama, bernama Kala adalah Sang Hyang Tangis, sedangkan loba-kopa (kesrakahan dan ketamakan) adalah perwujudan dani Raksasa.

Tercipta WUKU Landep, Ukir, Taulu, Gumbreg, Wariga, Julungwangi, Dunggulan, Kuningan, Medangsiya, Pujut, Krulut, Merakih, Matal, Uyeh, Menail, Prangbakat, Ugu, Wayang, Dukut, juga Watugunung, itu WUKU PULUH DASA Namanya; Yaitu Tri Windu menjadi satu, menjadi sepuluh dengan penggalihan sebagai berikut: 6. 7, 8. 9. 10. Dua menjadi satu, menjadi dua, menjadi Jesta Asada, yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan sasih. Menjadi 3 menjadi 4, dan dijadikan satu menjadi satu bulan, sama dengan asasih (satu bulan perhitungan purnama-tilem) menjadi tiga puluh hari, pada saat tilem, yaitu 340 hari sebagai pergantian satu tahunnya. 

Kembali ke lagi Eka Wara, yaitu Urip Windu bertempat di Jagat Sunya, ada pun Dwi Wara, Pati Urip (hidup-matinya) hari namanya, siang dan malam tempatnya, adapun tempatnya berada di tengah, Triwara tempat hidupnya di selatan, Caturwara hidupnya air, tempat keberadaanya berada di barat laut. Sadwara hidupnya gana tempatnya Gana di barat daya tempatnya, Saptawara tempatnya Pandita, barat tempatnya. Astawara hidupnya tempatnya gajah, brahmana, naga, Kaja Kangin adalah tempatnya. Dasawara bertempat pada Tutur Kamoksan, yaitu dalam Antariksa tempatnya. Sang Hyang Tuduh dan Sang Hyang Titahlah yang menjadi poros, kendali segala sesuatu yang baik dan yang buruk. 

Adapun yang bernama Wreasta Wariga adalah sebagai pelindung dunia, sebagai pusat dani semua ilmu agama, dan semua ajaran Weda, dan semua yang berhubungan dengan mantra-mantra.

Wariga namanya sesungguhnya semuanya tidak nyata terlihat, tetapi pada saat semua Kala Kala, keluarlah semua Dewa dari dalam badan: 

— Sang Hyang Adi Kala ada di gigi, yaitu keluar dari caling sebelah kiri, Kaledang Angel, menjadi dasar Sekar Striya namanya. 
— Keluar dari caling kanan Kala Seribu. 
— Keluar dari dalam “buku” yaitu Kalantaka, yang keluar dari seluruh persendian. 
— Kala Uku keluar dari dalam perut-usus.
— Kala Agung keluar dari dalam tangkah (dada). 
— Kala Geger keluar dari dalam kedipan mata 
— Kala Lumut keluar dari mulut. 
— Kala Grehe keluar dari dalamtelinga, 
— Kala Jabung keluar dari dalam hati, 
— Kala Brahma keluar dari dalam mulut, 
— Kala Dasa Muka keluar dari urung gading (urat tulang belakang), 
— Kala Naga keluar dari telapakan suku telapak kaki, 
— Kala Tampak keluar dari muka-pipi, 
— Kala Tampel keluar dari gigi, 
— Kala Lugilut Kala Kaet keluar dari pinggang, 
— Kala Ngadeg keluar dari nafsu, 
— Kala Gruda keluar dari dada, 
— Kala Depat keluar dari pikiran, 
— Kala Sangga Mati keluar dari Ademit. 
— Kala Wariga keluar dari Wat, 
— Kala Caplokan keluar dari mata, 
— Kala Cakre keluar dari dalam sifat, 
— Kala Angin keluar dari pantat, 
— Kala Uler keluar dari Danitiadi pada. 
— Kala Wisesa keluar dari kemaluan, 
— Kala Dasa Bumi keluar dari dalam rambut, 
— Kala Wande keluar dari otak, 
— Kala Atat keluar dari Guagala, 
— Kala Lowar keluar dari telapak tangan, 
— Kala Tuwek keluar dari lambung, 
— Kala Sudukan keluar dari lubang mata, 
— Kala Kilang Kilung keluar dari pundak, 
— Kala Dudutan keluar dari hati / pikiran, 
— Kala Mertyu keluar dari hidung, 
— Kala Mong keluar dari jriji (jari) 
— Kala Kuuk keluar dari Bayu, 
— Kala Bancaran keluar dari mata kiri, 
— Kala Ulat Muang, Kala Soba, Kala Kutila, Kala Gumarang, Kala Empas, Kala Sedakan, Kala Pegat, Kala munggeng, Kala Pacekan, Kala menge, Kala Ijal, Kala Kundang Kasih, semua itu keluar dari dalam kepala.

Diperintahkan: Harus selalu diperhatikan akan dampak baik buruknya pada Wariga, harus selalu diperhatikan dan jangan sampai lupa, sebab ada kehidupan didalam sebuah Wariga. 

Kala Idup dengan wewaran dari Sang Hyang Rau, dan Sang Hyang Ketu sama-sama memperebutkan sebuah tempat, dan semuanya sama-sama sakti, mereka saling bertempur, maka matilah Sang Kala dan dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Rawu, setelah dihidupkan kembali maka berperanglah lagi hingga mati sampai tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, tujuh kali, delapan kali, sembilan kali, maka tetap dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Ketu.

Demikianlah wewaran, penjabaran dan penjelasannya, kehidupannya seperti kisah di atas.

Kemudian ada lagi Kala sedang berperang, maka tampak kelihatan dari Niskala Sang Kaniya Dewa, tetapi bukan Sang Kala, maka marahlah, dan kemarahanya itu tak ada habis-habisnya, maka matilah ia, dan dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Eka Jala Rsi namanya, apabila tidak ada Dewasa yaitu baik dan buruk yang ada di Wariga, maka akan salah tempat dan tidak akan bisa menentukan arah, itulah tempat Eka Jala Rsi namanya, sunya nama tempatnya, itulah yang harus diketahui dan selalu diingat oleh mereka yang ingin mencapai Siddhi-mandi, dan jangan melupakan tentang Wariga, dan harus selalu dipelajari agar bisa menyatu dengan kebenaran dan kesucian.

Angin menyatu dengan api, Gni Rawana namanya, angina menyatu dengan air menjadi mendung tebal, angin menyatu dengan kotoran menjadi lumpur busuk namanya, angin puting beliung menyatu dengan api, pepedan namanya, angina menyatu dengan suara jadi grehe-kerug, angin menyatu dengan andus menjadi patipata, angin menyatu dengan air, api, menjadi pamecekan lanang wadon (penjelmaan dari laki-laki dan perempuan) maka mengenai tentang sebuah kebaikan dan keburukan harus dilihat-dicari pada Wariga. Apabila ingin pandai Siddhi-mandi dan tidak boleh sembarangan, sebab itu patut diketahui kebenarannya.

Selanjutnya ada ketentuan badan dengan penyambut Atma, Pretiti namanya, yaitu Pretiti Jati, Jara Mrana, Wedana, Nama Rupa, Upedana, Sdarsa, Bawa, Sadaye, Stana, Kresna, Widnyana Saskara, Awidnya, itulah yang mengikuti tentang baik buruknya sebuah kehidupan pada manusia, sebagaimana halnya dalam perhitungan Wariga yang harus diperhatikan adalah baik dan buruknya hari.

Semua karakter turunan baik/ayu/utama/luwih dari SANG ETA-ETO disebut Lanus. Sebaliknya, yang tidak baik atau seberangannya disebut Basah. 

Demikianlah semua karakter alam semesta yang bersumber dari keheningan tidak terbayangkan itu, SANG ETA-ETO, kekuatan mayanya. Seperti pelangi lengkung membentangkan berbagai warna, ketika hujan ditimpa sinar matahari, yang sesungguhnya pertemuan sinar dan percik air yang membentangnya manjadi warna. Warna-warna itu tidak ada dan baru ada dalam pertemuan sinar dan ciprat air di jagat raya. [T]

Catatan Harian, Sugi Lanus, 7 Juni 2020.

Tags: balihindulontar
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Terbentuk, Paguyuban Sameton PMI Desa Adat Kubu, Bangli – [Hikmah di Balik Wabah Covid-19]

Next Post

Demam Berdarah, Perang Lain yang Tak Pernah Usai

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Demam Berdarah, Perang Lain yang Tak Pernah Usai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co