3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 3, 2022
in Opini, Pilihan Editor
Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Cikal Bakal Kota

Kiprah perempuan di Singaraja dari masa ke masa telah menyisakan kisah heroik tentang Jro Jempiring. Tokoh ini mulai dikenal ketika pecah Perang Puputan Jagaraga di pertengahan abad ke 19 (1848-1849).

Keberanian membuat keputusan untuk mengambil alih perjuangan I Gusti Ketut Jelantik yang tercatat sebagai suaminya dalam perang melawan Belanda membuat popularitas tokoh ini menjadi sebanding dengan popularitas I Gusti Patih Jelantik dalam konteks Perang Jagaraga.

Perang ini muncul sebagai akibat mempertahankan hak tawan karang yang hendak dihapus oleh Belanda. Akibat kelicikan strategi Belanda yang mengirim mata-mata untuk menemukan titik kelemahan pertahanan supit urang atau Makara Wyuhana pasukan Jro Jempiring di benteng Jagaraga, akhirnya benteng Jagaraga dapat dilumpuhkan lewat gempuran tembakan meriam.

Walaupun dalam fakta sejarah tercatat adanya kekalahan pasukan Jro Jempiring, namun memory kolektif masyarakat Buleleng tentang perilaku heroik pasukan Jagaraga di bawah kepemimpinan Jro Jempring tetap menyimpan pesona historis dari sisi isu gender.

Perilaku heroik dari ketokohan I Gusti Ketut Jelantik menjadi dasar pendirian kota Singaraja yang ditopang oleh pasukan goak. Atas perintah beliau di tahun Candrasangkala 6251 atau tahun caka 1526 atau 1604 Masehi tepatnya 30 Maret 1604 dimulailah cikal bakal pendirian kota dengan membabat padang alang-alang, dan saat itu ditemui adanya orang menanam tanaman buleleng, istana baru mulai didirikan dan diberi nama Buleleng. Sementara nama Singaraja dikaitkan dengan penamaan istana yang didirikan d ibawah keperwiraan pendirinya ibarat singa.

Sejarah Wanita Kota

Masih di seputaran aksi-aksi yang tergolong keluar dari batas gender perempuan, Sukiada dkk (2021) telah berhasil menyusun pemetaan tentang adanya keterlibatan perempuan-perempuan di wilayah kota Singaraja pada saat munculnya gejolak revolusi pasca kemerdekaan tahun 1945.

Muncul nama perempuan muda bernama Analis karyawan Kantor Pos Singaraja yang berperan sebagai motivator perempuan kota Singaraja untuk mendukung perjuangan para pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan. Pada saat itu telah ada perempuan yang ikut serta organisasi di antaranya Wayan Gunung Sukarti (Djero Wilaja), Luh Sudarmi, Gusti Ayu Sukesi, Luh Parmi, Wirasni, Nariasih, Luh Taman. Tugas mereka sebagai juru penerang yang menyiarkan berita kemerdekaan ke masyarakat.

Dari arah kota mereka membagi diri, ada yang  bergerak ke Buleleng Timur (Sangsit, Bungkulan, Kubutambahan, Tejakula) sebagian ada yang ke wilayah Barat (Banjar, Bubunan, Seririt).

Hadirnya perempuan dalam kancah perjuangan sebenarnya bukanlah hal yang asing di berbagai daerah di Indonesia. Hanya saja, ketika mengacu pada pemikiran sejarawan Amerika Serikat – Joan W Scot yang diacu oleh  Pradadimara (2019) menuliskan dengan jernih historiografi yang bergerak dari penulisan sejarah perempuan ke penulisan sejarah yang menggunakan perspektif gender.

Secara umum dia membagi penulisan sejarah dengan perspektif gender ini dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama disebutnya sebagai penulisan yang bersifat deskriptif, sedang yang kelompok kedua disebutnya sebagai penulisan sejarah yang mencari hubungan kausal.

Penggarama Sukiada (2021) yang mendapatkan data tentang keterlibatan perempuan dalam organisasi modern di wilayah perkotaan pada pertengahan abad ke 20 masuk dalam katagori penulisan sejarah yang bersifat deskriptif yang dicirikan dengan tidak membedakan antara perempuan dan gender dan tergolong penulisan sejarah kaum elite kota.

Penulisan sejarah wanita yang tergolong kaum elite di Indonesia ditulis sangat marak di era orde baru. Penulisan tokoh sejarah perempuan membawa dentuman literasi sejarah bangsa tentang telah hadirnya elite perempuan yang telah mengukir tinta emasnya dalam dunia pendidikan untuk perempuan sebagai kls marginal.

Munculnya penulisan tentang Kartini, Dewi Sartika, Roehana Kudus – tokoh elite perempuan yang sangat populis dalam perjuangan meningkatkan martabat kaum wanita di bidang pendidikan. Penulisan tentang mereka belum mampu menjawab kebutuhan akan hadirnya perempuan secara komprehensif dalam panggung sejarah. Pemenuhannya bisa dilakukan dengan menulis sejarah kausal tentang potret perempuan di kehidupan perkotaan, yang akan memberikan gambaran kompleksitas keterlibatan perempuan dalam denyut nadi kehidupan kota yang disertai pendekatan teoritik yang melatabelakanginya.

Contoh menarik yang bisa dijadikan rujukan adalah Buku Locher-Scholten Women and The Colonial State. Essays on Gender and Modernity in the Netherlands Indies 1900-1942 yang terbit tahun 2000 adalah kumpulan tulisan-tulisan lepas yang menaruh perhatian terhadap berbagai topik-topik tentang perempuan kelas bawah di perkotaan, misalnya buruh perempuan di Jawa, tentang pembantu rumah tangga (laki-laki dan, terutama, perempuan), tentang gaya hidup wanita Eropa di koloni, tentang perjuangan untuk memperoleh hak memilih dan dipilih (suffrage), dan tentang perdebatan mengenai monogami di tahun 1937 yang semuanya bercorak kekotaan.

Secara historis predikat Singaraja sebagai kota pelabuhan dirintis dari jaman kerajaan pada abad ke 17 (Saat Raja I Gusti Anglurah Panji Sakti – 1660-1697), dilanjutkan jaman pemerintah kolonial (1846 M); dan jaman kemerdekaan. Citra sebagai kota pelabuhan yang dipancangkan dari jaman kerjaaan menjadikan Singaraja menjadi wilayah yang sangat terbuka dan menampilkan wajah kota yang plural.

Saat pelaut Bugis datang ke kawasan ini di abad ke 17 kemudian susul menyusul hadir pelaut malaka, jawa etnis Cina. Kehidupan dengan corak pelabuhan semakin semarak saat hadirnya berbagai etnis. Lalu lalang barang dan manusia di abad ke 18 dan pertengahan abad ke 19 membuat kota Singaraja yang saat itu kental dengan kultur pelabuhan tampil sebagai kota yang sangat sibuk. Ditambah lagi posisi prestisius yang pernah diemban Singaraja yakni sebagai ibukota Sunda Kecil di bawah kepemimpinan Mr. I Gusti Ketut Pudja selaku Gubernur.

Berdasarkan pertimbangan politik, geografis dan faktor ekonomi dipindahkanlah ibukota propinsi Bali yang semula di Singaraja dipindahkan ke Denpasar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 23 Juni 1960, No. 52/2/36-B6, yang berdasarkan resolusi DPRD Tingkat I Bali memutuskan Kota Denpasar sebagai ibukota Provinsi Daerah Tingkat I, maka resmilah ibukota Provinsi Daerah Tingkat I (Provinsi Bali) dipindahkan dari Singaraja ke Denpasar (Agung, 1986).

Perpindahan ibukota akhirnya menyisakan romantisme tentang kebesaran kota pelabuhan yang pernah berjaya dengan kompleksitas kehidupan di dalamnya. Penggambaran warga kota yang menopang denyut nadi kota di era lalu telah  mengantarkan pemahaman kearah wajah plural Singaraja.

Konsep pluralisme mengarah pada pengertian masyarakat yang terdiri dari beragam suku, etnis, agama serta pandangan politik. Pluralisme dapat diartikan sebagai “menerima perbedaan” atau “menerima perbedaan yang banyak”. Prinsip pluralitas adalah rekognisi yang tulus atas berbagai elemen 

Adakah Urusan Gender dalam Merajut Sisi Pluralitas Kota Singaraja?

Jawabannya, ada. Sesungguhnya gender bukanlah hanya perkara konsep yang terpahami dalam urusan sesuatu yang pantas dan tidak pantas untuk perempuan dan laki-laki. Namun, lebih jauh dari itu membangun kesetaraan gender merupakan hal yang prinsipiil di tengah-tengah eksisnya kultur patriarki.

Apa pentingnya bicara gendert di perkotaan? Tujuan menaruh perhatian tentang gender di perkotaan akan mendorong munculnya gerakan responsif gender yakni perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap perbedaan laki-laki dan perempuan sehingga muncul upaya menghapus hambatan-hambatan struktural dan kultural.

Membangun kota Singaraja yang dari awal telah bernafaskan masyarakat plural, sepatutnya menjadi pionir yang kelak menjadi tolehan masyarakat lain yang notabene berwajah plural. Ketika konsep plural didudukkan sebagai konsep tentang menerima perbedaan maka sangatlah jelas kaitannya dengan konsep gender yang juga bicara prihal perbedaan laki-laki dan perempuan secara budaya. Berbeda namun gayut dengan langkah kesetaraan itulah wajah kota yang seharusnya dibangun. tidak ada kekerasan fisik maupun simbolik.

Sebagai kota yang memiliki karakter sangat terbuka dari sejak didirikan, sesungguhnya membuka ruang untuk merajut iklim dialogis yang berkesetaraan antar etnis maupun antar agama. Dalam konteks kesetaraan, tidak ada diskriminatif, adanya keseimbangan antar feminin dan maskulin. Landasan keseimbangan feminin dan maskulin dapat berupa cinta kasih dan harmonisasi yang diperlukan dalam membangun kota Singaraja.

Singaraja sebagai kota yang umurnya sudah sangat tua, yang mana tahun ini – 2022 dirayakan kelahirannya berumur 418. Tidak berlebihan kiranya dalam umur yang ada kisaran 4 abad di eja terus menerus dalam bingaki keseimbangan feminin dan maskulin. Tidak bisa dibantah bahwa kota ini dibangun dengan spirit maskulin dengan simbol singa bersayap.

Narasi keperkasaan singa pernah digambarkan sangat apik oleh novelis perempuan-asal Singaraja – Kadek Sonia Piscayanti melalui Novel Perempuan Tanpa Nama (2015). Jelas sekali penggambarannya tentang singa bersayap menjadi penguat bahwa karakteristik maskulin pada singa diharapkan menjiwai pembangunan kota. Belum lagi ketika teringat pada spirit pasukan goak Ki Barak Panji Sakti dengan semangat membara sebagai benteng pertahanan adalah fakta-fakta sejarah yang tak terbantahkan.

Tekad kuat pendirian kota diselimuti spirit maskulinitas kiranya dalam tumbuh kembangnya perlu dieja dengan memberi ruang hidup pada jejak pluralitas kota Singaraja. Pengakuan atas pluralitas dengan membuka ruang kreatifivitas tanpa sekat agama maupun etnis adalah salah satu wujud dalam mengimplentasikan wajah kota dengan memberi ruang feminin yang identik dengan saling mengasihi satu sama lain.

Mengeja kota Singaraja dari sudut pandang gender dalam mendudukkan sisi pluralitasnya dapat dilakukan dengan banyak cara. Di antaranya,

  • Mengisis kekosongan sejarah wanita kota dengan potret hiterogenitas lintas etnit dan agama perlu digiatkan;
  • Menunjukkan rasa sayang terhadap kota dengan memperhitungkan ruang-ruang feminin adalah dengan cara merencanakan, merealisasi dan tentu melakukan pengawasan lewat program penghijauan kota. Munculnya pengelolaan kebun organik di sudut-sudut kota Singaraja adalah contoh yang perlu ditingkatkan untuk mengimbangi predikat “kota panas” bagi Singaraja. Cuaca Singaraja memang nyata panas, namun secara kultural sesungguhnya predikat yang lebih tepat adalah predikat kota yang “hangat”. Secara semiotik hangat bisa diartikan terbuka, supel dan memang seperti uraian sebelumnya fakta historis memang mendukung kota ini sudah terbukti hangat menerima kehadiran orang yang berbeda, bahkan telah meninggalkan jejak yang paling fenomenal yakni adanya Pura Gambur Anglanyang di Kubutambahan yang mewakili potret terjalinnya hubungan harmonis antar etnis dan agama masa lalu di Bali Utara.
  • Melakukan pengkajian ulang predikat kota Singaraja sebagai kota pendidikan. Klaim bahwa Singaraja sebagai kota pendidikan terpampang jelas di pintu     gerbang selatan dan barat kota. Ternyata, predikat ini tidak luput dari kritik yang tersiar di media yang intinya bertanya tentang indikator yang dijadikan dasar mengklaim. Jika dieja dan dicerna dari sudut pandang feminitas tidak ada yang salah dengan wacana tersebut karena urusan pendidikan dari filosofis gender itu berkaitan erat dengan urusan feminitas. Hanya saja, langkah-langkah lanjutan perlu dipastikan melalui program yang menjurus ke pemenuhan indikator yang mampu menjawab Singaraja layak mendapat predikat kota pendidikan. Dari teman-teman sastrawan mungkin akan berteriak giatkan aktivitas sastra karena banyak sastrawan yang lahir di bumi Bali Utara dari Anak Agung Panji Tisna sampai Putu Wijaya. Teman-teman  dari pembela UMKM bisa jadi akan berseru giatkan ekonomi kreatif Buleleng yang spesifik Buleleng agar sesuai dengan jargon sobean sebagai identitas Buleleng. Teman-teman budayawan kemungkinan akan berbisik hidupkan kesenian berbasis lintas etnis yang ada di Buleleng – Barong Sai, Burdah, pencak silat dan berbagai bentuk kesenian yang pernah tumbuh dan hidup di Buleleng. Kota adalah wadah untuk menghidupkan jiwa berkesenian. Para sejarawan bisa jadi akan mengusulkan penting ada rancangan yang tepat tentang wisata sejarah di kota Singaraja.

Semua gagasan ini menjadi relevan dalam konteks mengeja gender untuk kota Singaraja dengan bingkai kasih sayang. [T]

Tags: feminismeGenderKota SingarajaPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sineas Indonesia Berjaya di BaliMakãrya Film Festival 2022

Next Post

Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails
Next Post
Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras

Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co