24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras

Arnata Pakangraras by Arnata Pakangraras
October 23, 2022
in Cerpen
Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Sudah setengah jam hujan. Got sempit di kiri kanan jalan Dewi Sri sedikit lagi meluap. Genangan mulai terlihat di beberapa titik badan jalan. Angin merontokkan bunga-bunga jepun di halaman. Riuh benturan hujan dari atap seng rumah tetangga menyempurnakan ketidaknyamanan suasana.

Hujan belum reda. Jam dinding di kamar I Gede Sudibya : pukul sebelas malam. Beralas dua bantal, ia bersandar pada kepala dipan. Sebuah buku tentang bonsai, dibacanya kembali. Halaman demi halaman dicermati. Sesekali memperbaiki posisi kaca mata yang melorot ke ujung hidung.

….Seni bonsai, pertama kali muncul di daratan China pada masa pemerintahan dinasti Tsin (265 – 420). Penjing, sebutan waktu itu, digemari oleh para pejabat kerajaan. Pada masa dinasti Yuan (1280 – 1368) biksu Jepang yang belajar agama Buddha di China pulang ke negerinya membawa miniatur tanaman sebagai cinderamata. Mereka mengagumi keunikan pohon kerdil tersebut. Mereka pun tertarik mempelajari bahkan menciptakan kreasi baru, mengadaptasi lingkungan dan budaya Jepang. Seni bonsai terus berkembang, menyebar ke seantero dunia. Istilah bonsai sendiri merujuk kepada  bahasa Jepang. Bon artinya wadah atau pot dan sai artinya tanaman….

“Aaahem…” Sudibya refleks menutup mulutnya dengan buku ketika tiba-tiba menguap. Lebih dari sekali ia melakukannya. Awalnya bertahan tapi kantuk terus menyerang. Buku di taruh sembarang, menimpa kamus tebal Indonesia-Perancis.

Pagi, matahari terhalang awan. Dari atas dak rumah, bertelanjang dada, Sudibya memandang sawah sekitar. Hanya beberapa petak tersisa dari kepungan perumahan. Seorang petani sedang menyabit rumput liar. Membersihkan gulma, merapikan sisi pematang. Dekat pohon pandan, seorang petani lain mencuci kaki di sungai dangkal. Airnya keruh.

Plak! Seekor nyamuk mati seketika. Darah segar membekas pada sisik ular dengan semburan api dari mulutnya. Tatto naga yang dibuatnya di Kuta tahun lalu itu, hanya menyisakan sedikit ruang di dadanya yang bidang.  Dengungan nyamuk lain pun senyap bersamaan dengan bunyi tepokan di pipi kanan. Sudibya bergegas turun.

Ketika tersiar virus corona berjangkit di Wuhan, China, Sudibya tak menggubris sama sekali. Berita biasa, pikirnya. Ia yakin tak melebihi flu burung sebelumnya. Kalau pun ada yang terkejut pasti hanya sesasat dan hilang seiring waktu. Tergeser berita kenaikan harga sembako, demo mahasiswa, kecelakaan tol, kebakaran pemukiman padat, penggusuran rumah liar, isu politik, kasus narkoba atau pejabat apes yang tertangkap tangan KPK.

Wuhan, ribuan kilometer jauhnya, mustahil sampai ke Indonesia. Apalagi berkembang opini bahwa virus itu tak bertahan di wilayah beriklim tropis. Plonglah hatinya. Tak ada yang perlu dicemaskan. Sampai suatu hari, bapak Presiden atas nama pemerintah, mengkonfirmasi pertama kali adanya dua orang warga Depok, positif terjangkit. Sudibya tak sepenuhnya percaya.

Kemudian, waktu berjalan lambat sementara kecemasan berkembang biak dengan cepat. Situasi mulai runyam. Pertemuan bisnis dijadwal ulang. Transaksi ekonomi tersendat. Interaksi sosial tersekat. Aktivitas adat, seni budaya rehat. Atas nama protokol kesehatan, social distancing diberlakukan. Pemakaian masker diwajibkan. Orang-orang menjauhi ruang publik.

Ambulans lalu lalang. Raungan sirene seperti rintihan panjang ketidakberdayaan. Wisma atlet di ibu kota, kapasitas ribuan kamar, dialihfungsikan menjadi ruang isolasi. Beberapa rumah sakit rujukan tak mencukupi. Ruang IGD sesak, pasien mengular hingga gerbang depan. Paramedis berjibaku, berhari-hari terpisah keluarga demi kemanusiaan. Namun terlalu banyak harapan pasien kandas, berakhir sia-sia. Tak sedikit pula paramedis gugur dalam tugas.

Kabar duka susul menyusul mengguncang batin. Sekarang teman sekolah, besok teman kerja, lusa mungkin kerabat atau tetangga dekat menjadi korban. Ratusan ribu bahkan jutaan orang berbaris dalam antrian panjang menunggu dijemput maut. Duh, elegi ini sungguh tak terbendung!

Koran maupun media daring intens mewartakan tragedi lintas negara ini dengan segala problematikanya. Medsos simpang siur. Tak jelas batasan antara informasi valid dan opini. Silang pendapat ahli virologi di layar televisi kadang menimbulkan persepsi keliru di masyarakat. Perlu tidaknya lock down menjadi isu penting dan perdebatan panjang.

Di sisi lain, pembaharuan data Satgas Covid-19 tentang jumlah korban, meningkat drastis dalam hitungan jam. Breaking News sebuah televisi berita nasional ini, memaksa Sudibya menarik napas lebih panjang.Keraguannya lesap tak berbekas. Bulu tengkuknya meremang.

Tiupan suling bambu dari komposisi musik etnik Morning Happines-nya Gus Teja terdengar rancak. Volume suara dibesarkan lagi sebelum Sudibya menyisir rambut bergelombangnya di depan cermin. Merapikan krah kemeja batik warna biru berlogo perusahaan tour and travel. Parfum maskulin, pemberian seorang turis wanita, disemprotkan ke leher dan dada.

Sebagai pemandu wisata, khusus turis Eropa, Sudibya adalah sosok friendly. Menjunjung tinggi etos kerja. Tak pernah sekali pun ia mendapat teguran dari atasan kantor atau komplain langsung dari turis. Sebuah rumah bergaya minimalis di Batubulan-Gianyar adalah buah ketekunan yang telah dipetiknya.

Pandemi menjadi-jadi. Mutasi virus memunculkan varian baru lebih ganas. Kegentingan ini memaksa pemerintah menutup Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk rute mancanegara. Dampaknya, begitu banyak jadwal perjalanan harus dicoret. Grafik kunjungan wisatawan ke Bali menurun tajam bahkan ke titik nadir. Denyut nadi pariwisata di pulau berjuluk seribu pura ini melemah. Mati suri.

Gebyar live music dari bar tepi pantai tak lagi menyaingi gemuruh ombak. Irama blues dari tiupan saksofon lenyap dalam sepinya malam.  Hunian hotel berbintang, kelas melati hingga penginapan nihil. Galeri besar kolaps. Deretan art shops dan pasar seni sepi pembeli. Mereka menyerah, tak sanggup memperpanjang kontrak apalagi menggaji karyawan. Debu-debu jalanan semakin tebal menutupi plang toko mereka.

Pagi lenggang di kawasan Nusa Dua. Sudibya menuruni anak tangga sambil melirik meja-meja kosong. Beberapa perangkat komputer teronggok di pojokan. Di atas dispenser posisi galon air mineral miring, kosong. Hatinya gamang. Kecemasan terbaca jelas di wajahnya. Masa bakti lima belas tahun, ternyata tak cukup mumpuni untuk membela ketika manajemen merumahkan dirinya. Predikat karyawan teladan yang pernah disandang tak sanggup menyelamatkan karir dan masa depan. Getir. Ia meninggalkan gedung berlantai tiga itu tanpa menoleh lagi.

Enam bulan awal, berstatus pengangguran. Kebutuhan sehari-hari Sudibya : makan, listrik, air dan pulsa masih terpenuhi. Tentu saja dengan menguras saldo rekening. Sedikit demi sedikit hingga sisa sedikit. “Naskeleng covid! Hantu sialan!” sumpah serapah Sudibya sambil membanting remote control televisi ke lantai. Baru saja tersiar adanya kelangkaan oksigen tabung dan negosiasi alot pembelian vaksin oleh pemerintah.

Jenuh. Sudibya menyibukan diri bertanam bonsai. Asam Jawa adalah pohon pertama yang dimiliki. Pohon  berlingkar batang sepuluh sentimeter dan tinggi empat puluh sentimeter itu, dibelinya dengan harga miring dari seorang teman di Denpasar. Anting putri ukuran mame, serut dan waru menambah jumlah tanamannya. Ia mulai memberanikan diri melakukan pengawatan sekaligus penekukan, membentuk gerak dasar. Daun dipruning terlebih dahulu agar alur batang dan cabang terlihat jelas. Memilih cabang pertama, kedua, ketiga dan kemungkinan letak mahkota dengan memotong cabang-cabang mubazir. Sebagai pemula, ia memerlukan waktu agak lama untuk menyelesaikan waru bergaya informal ; tegak berliku.

Menikmati hobi baru, sebuah laptop ia relakan berpindah tangan demi menambah koleksi. Beberapa bahan bonsai kembali dibeli : cemara sinensis, amplas, sancang, santigi, lohansung, hokiantea. Jenis beringin kimeng, elegan, dan iprik berjejer rapi di dak terbuka atas rumah.

Gunting pruning mulai lincah di tangannya. Sedikit membungkuk dipungutnya serekan daun sekaligus merapikan permukaan media tanam. Kadang memperbaiki arah tekukan cabang yang dianggapnya kurang pas.

Menyeruput kopi, ia duduk di tumpukan batako. Asap rokok mengepul dari mulut membentuk bulatan-bulatan kecil di udara. Pandangannya kini fokus pada sebuah pohon dalam pot keramik segi empat. Ia bangkit, mendekat.  

Iprik pucuk merah! Setiap memandangi, ingatan Sudibya terbawa ke dalam hutan tandus di kaki Gunung Agung, di mana perburuan dimulai. Waktu itu dari desa Dukuh, Karangasem, tanah kelahirannya, ia menyusur jalan berpasir di antara deretan jati putih. Sendiri.

Matahari persis di atas kepala. Sebatang iprik yang tumbuh di  bebatuan menghentikan langkahnya. Tinggi pohon kurang dari satu meter, akar gantung menjuntai. Batangnya, meski tak besar tapi karakter tuanya sudah muncul. Sudibya tertarik. Dan, ia memutuskan untuk mendongkel.

Lelah. Sambil istirahat disantapnya bekal di ransel : buah lontar. Satu hal yang tak mungkin ia lewatkan setiap pulang. Isi buah bertekstur lunak, warna putih pucat mirip kolang-kaling, memang kegemarannya sejak kecil. Dulu, sering menikmati bersama teman-teman. Bersenda gurau di bawah pohonnya.  Air buahnya manis. Kenangannya pun manis.

Sandikala. Sebelum pamit, kembali ke Batubulan, Sudibya kusuk bersila di pelataran Sanggah(1) ditemani ibunya. Wanita sepuh yang selalu bersyukur. Tak lelah memohon agar luput dari gering agung(2). Astungkara(3) hingga saat ini, anaknya terbebas dari paparan virus mematikan itu. Panca sembah(4) berakhir dengan parama santi(5). Sudibya mengusap titik air yang meleleh di sudut matanya. Percikan tirta(6) dari ibunya diminum tiga kali. Percikan berikutnya dibasuhkan merata ke wajah. Kesejukan menjalar ke pori-pori kulit. Harum cendana terus menguar dari dupa yang terbakar.

Langit Batubulan mendung. Angin meniup kencang garis polisi yang baru saja terpasang, melingkari jejeran bonsai. Kelihan banjar(7) dan beberapa pecalang(8) di halaman, bicara setengah berbisik. Mereka saling pandang tak mengerti.  “Rumah adalah penjara”, demikian status terakhir yang dibaca polisi di akun facebook Sudibya. Polisi menemukan handphone hitam itu di atas serakan pupuk penyubur daun. Di dekat tumpukan batako, seorang petugas Inafis mengendus bibir gelas. Agak ragu, diulanginya lagi lalu manggut-manggut. Gelas beserta ampas kopi buru-buru dimasukkan ke kantong plastik dan diberi kode. Di pinggir jalan, ambulans parkir dengan kondisi mesin menyala. ***

Keterangan :

  1. Sanggah = tempat persembahyangan keluarga.
  2. Gering agung = wabah penyakit yang berdampak luas dan susah obatnya.
  3. Astungkara = puji syukur.
  4. Panca sembah = tahapan persembahyangan.
  5. Parama santi = doa penutup.
  6. Tirta = air yang telah melalui proses penyucian dengan doa.
  7. Kelihan banjar = kepala lingkungan.
  8. Pecalang = petugas keamanan adat.
Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme

Next Post

Mengenal Penyakit Gagal Ginjal

Arnata Pakangraras

Arnata Pakangraras

Lahir di Gianyar 24 Februari 1967. Saat SMA puisi-puisinya tersebar di halaman apresiasi sekaligus ikut “kompetisi puisi” yang disuh Umbu Landu Paranggi di Bali Post Minggu. Kini tinggal di Jakarta

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

Mengenal Penyakit Gagal Ginjal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co