2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita

Devy Gita by Devy Gita
October 16, 2022
in Cerpen
Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita

tatkala.co | Wiradinata

Saat menikmati segelas susu kental manis coklat di teras, ketika hujan dengan riangnya bergurau bersama tanah, aku teringat padamu. Kulitmu yang kecoklatan dan senyum manismu.

Uap panas dari gelasku menggeliat manja. Menyeruak wangi menggoda ingin segera diteguk. Tentangmu bagai susu kental manis hangat. Menggiurkan untuk selalu bermain dalam sketsa hitam putih pikiranku. Menghangatkan.

Bait-bait indah terlantun dari Banda Neira, duo favorit kita lewat earphone yang kupasang ketat di telingaku. Hujan membuat suara mereka semakin merdu.  Kau menyukai sajak, aku pun begitu. Kita bisa berlama-lama saling terdiam menikmati sajak hati kita masing masing. Saling mengungkap rindu dalam diam.

Kuaman ada bersamamu..
Selamanya…
Sampai kita tua
Sampai jadi debu

“Sampai Jadi Debu” mengalun sayup. Kau sedang tak bersamaku. Aku hanya ditemani representasimu, segelas susu kental manis coklat yang hangat. Akankah kita menua bersama? Bersamamu aku seperti menemukan sosok yang hilang dalam hidupku. Sosok ayah.

Seseorang menarik earphone di telingaku. Ayah berdiri di sebelahku. Laki-laki 50 tahunan, berbadan tegap. Teman-temanku memujinya. Kata mereka ayahku mirip artis Tio Pakusadewo. Ayah menatapku dingin Ini bukan kali pertama, karena aku bukan anak gadis manis seperti kakakku yang selalu dia banggakan. Tatapan dingin hampir setiap hari kudapat.

“Mandi dan bantu kakakmu menyiapkan makan malam. Sebentar lagi keluarga Bapak Kusuma akan datang,” katanya datar.

Aku mengernyit.

“Siapa mereka? Apa keuntungan untukku jika mereka datang?” tanyaku sembari memasang kembali sumbat telinga yang mengalunkan lagu dari Efek Rumah Kaca.

Tidak ada jawaban yang kuterima. Ayah dengan tenang masuk ke dalam rumah meninggalkanku dan wajah tidak peduliku.

Tepat pukul 7 malam, keluarga Bapak Kusuma akan datang. Ini masih pukul 6 sore, Ajeng sudah siap dengan gaun terbaiknya dan berdandan lebih menor dari biasanya, menurutku. Ajeng berwajah sendu, lembut meneduhkan. Namun, kali ini wajahnya gusar dan menegang. Berkali-kali dia tampak menghela napas berat, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak mampu. Dia memang seperti itu, anak gadis manis yang penurut selalu menjadi kebanggaan ayah.

“Aku ingin menjadi sepertimu, Sekar,” ucapnya tiba-tiba di sela helaan napas tertahan.

Aku menoleh padanya tak percaya. “Kau mengigau?”

Ajeng menggeleng, dia mendekatkan kepalanya ke bahuku. Menangis. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan kecuali membiarkannya menangis dan menyodorkan tisu padanya.

“Kenapa kau tidak menolak saja?” tanyaku akhirnya. Ajeng menggeleng lemah.

“Kau tahu bagaimana ayah. Aku tidak pernah bisa membantah apa perintah ayah. Kau tahu itu,” ucapnya lirih

Ajeng akan dijodohkan dengan anak laki-laki Pak Kusuma. Perjodohan demi kelangsungan silaturahmi keluarga, dalih ayah. Begitulah ayah, menganggap kami tak bernyawa, hanya boneka. Ajeng tidak pernah membantah. Aku mengira, Ajeng melakukan dengan sukacita semua yang ayah inginkan. Sebagian besar mungkin iya, namun tidak kali ini.

Ajeng merasa sesak, ingin meledak namun tak sanggup. Ajeng ingin sepertiku. Dia ingin bebas seperti adiknya. Menjadi penurut melelahkan, apalagi untuk urusan cinta. Ajeng telah jatuh hati pada laki-laki lain. Seseorang yang dikenalnya di sebuah yayasan penyandang disabilitas. Mereka sesama relawan, saling bertukar cerita dan jatuh cinta. Ayah sudah mengetahui hal itu, namun ia tidak menyetujui hubungan Ajeng.

Ayah selalu lebih peduli pada Ajeng. Sedangkan aku? Bagi ayah, aku seperti tidak ada. Segala urusan tentangku dilimpahkan kepada Ajeng. Kakakku mengurusku seperti seorang ibu. Sosok ibu memang kudapatkan darinya. Ibu kami meninggal saat melahirkanku. Kata orang, ibu bersikeras mempertahankanku di saat seharusnya aku tidak dilahirkan. Kondisi kesehatannya kala itu tidak memungkinkan untuk melahirkan lagi. Benar saja, beliau meninggal dan aku lahir. Kelahiran yang tidak diharapkan oleh ayah.

Ayah selalu tertawa dan tersenyum saat bersama Ajeng. Cahaya berpendar di matanya. Aku tidak pernah melihat hal itu jika dia sedang bersamaku. Tawa tak lepas dari bibirnya. Ayah hanya milik kakak yang penurut. Tidak ada ayah bagiku seberapa pun aku berusaha membuatnya senang. Apalagi aku penyebab ibu kehabisan darah saat memaksaku melihat dunia

Saat aku kecil, aku mengira dengan belajar giat dan meraih peringkat pertama di kelas akan membuatnya bangga. Ternyata tidak. Semua tentangku tidak membawa pengaruh apapun pada ayah. Aku berhenti menarik simpati ayah dengan menjadi juara kelas dan berprestasi di sekolah. Kuputuskan melakukan apapun yang aku inginkan.

Aku bolos sekolah, pulang larut malam demi mendapatkan sedikit saja rasa peduli darinya. Sampai-sampai aku juga abai akan perasaan Ajeng. Hingga saat ini, ketika dia melepaskan tangisnya di pundakku. Aku baru menyadari. Ajeng juga seorang manusia. Bukan boneka ayah. Ia selalu mengubur keinginannya sendiri demi kebahagiaan dan tawa ayah. Termasuk perihal perjodohan yang tidak ia inginkan.

Sepanjang pertemuan dengan keluarga Kusuma, Ajeng hanya terdiam. Tidak banyak yang dia ucapkan, hanya senyum-senyum kecil sekenanya yang dia tunjukkan untuk sekadar menjaga kesopanan dan nama baik ayah. Tampaknya ayah maupun keluarga Kusuma tidak menyadari sikap diam Ajeng. Mereka tertawa dan memutuskan tanggal pernikahan. Ajeng menerima tanpa membantah.

Ajeng kembali ke kamar dan mengunci diri. Aku membiarkan dia sendiri menenangkan perang batin yang sedang berlangsung sengit dalam hati dan kepalanya. Sedangkan suasana hati ayah tampak begitu riang. Dia bersenandung dan memutar musik kesukaannya di dalam kamar. Aku memilih membenamkan tubuhku di bawah selimut. Sambil mengingatmu. Lelaki susu kental manis hangatku.

Aku terbangun dengan perasaan tak menentu. Aku bermimpi buruk. Aku bermimpi tentang Ajeng yang tertunduk sedih di atas sebuah batu besar. Wajahnya pucat dan lusuh. Aku bergegas meninggalkan kamarku dan berlari ke dapur. Biasanya Ajeng akan sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Tapi Ajeng tak di sana. Dapur masih kosong. Aku berjalan menuju kamar Ajeng, ayah sudah ada di depan kamar sambil mengetuk pintu. Tak ada jawaban.

Raut wajah ayah terlihat panik. Dia mengetuk dengan keras dan memanggil nama Ajeng. Tidak juga ada jawaban. Kesabarannya hilang, dengan keras ia mendobrak pintu kamar Ajeng. Pintu terbuka, mata ayah membelalak mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Apa yag dia lihat membuat sarafnya berhenti bekerja.

Aku menerobos masuk. Di pinggir ranjang Ajeng terduduk menunduk. Menggenggam sepucuk surat yang sebagian telah berwarna merah di tangan kanannya. Aku menghampiri tubuhnya. Tubuh kakakku yang hanya tinggal tubuh tanpa jiwa. Darah tergenang dari pergelangan tangan kirinya.

Aku bukan lagi gadis ayah yang penurut. Aku ingin duniaku sendiri. Aku ingin memilih sesuai kehendakku. aku bahkan iri pada burung-burung yang terbang dengan bebasnya. Aku iri pada Sekar yang memilih untuk membebaskan dirinya. Aku sudah memilih, memilih cinta untukku sendiri. Memilih lelaki milik wanita lain dan anaknya. Pilihanku salah, pada kali pertama aku mencoba membuat pilihan sendiri. Pilihan yang aku tahu tidak akan ayah setujui. Sekarang bolehkah aku membuat pilihanku lagi? Wal….

Surat terakhir Ajeng juga yang belum terselesaikan. Goresan terakhir begitu panjang. Dia belum sempat menyudahi kata-katanya saat ajal menarik paksa. Sesuai keinginannya, dia akhirnya menentukan jalannya sendiri. Kenangan–kenangan bersama Ajeng berputar di kepalaku. Caranya menyelipkan sisa rambut ikalnya di belakang telinga, mengerjapkan bulu matanya yang lentik, tertawanya yang tak terdengar bahkan caranya mendiamkanku jika sedang marah.

Jingga menyelimuti langit sore, gundukan tanah d ihadapanku masih basah. Ajeng tertidur dengan bangga di dalam sana. Bangga pada akhirnya dia menentukan nasibnya sendiri. Dia tidak akan pernah menua. Sepertimu juga lelaki susu kental manis coklat hangat, takkan pernah menua. Akupun tak kan pernah bisa menua bersamamu. Kau terkapar bersama jarum suntik dan cairan pembawa maut itu. Terbang bersama mereka tanpa sayap. Aku akan menua bersama romantisme sesaat kita. Aku memilih menua bersama ayahku. Ayah yang masih tidak peduli padaku. Ayah yang hanya bisa mengerjapkan mata, tidak bicara dan hanya membunyikan lonceng kecil yang aku letakkan di sisi ranjangnya.

Kita kan pulang dengan waktu yang terbuang
Dan kenangan yang berjalan bersama

– Barasuara; Api dan Lentera

[][][]

BACA cerpen lain

Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Pohon Pedang Kayu | Cerpen Made Adnyana Ole
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog ”Drupadi”, Gugatan Perempuan, Kekuatan Panggung dan Citraan Visual

Next Post

Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co