24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita

Devy Gita by Devy Gita
October 16, 2022
in Cerpen
Menua Bersama Ayah | Cerpen Devy Gita

tatkala.co | Wiradinata

Saat menikmati segelas susu kental manis coklat di teras, ketika hujan dengan riangnya bergurau bersama tanah, aku teringat padamu. Kulitmu yang kecoklatan dan senyum manismu.

Uap panas dari gelasku menggeliat manja. Menyeruak wangi menggoda ingin segera diteguk. Tentangmu bagai susu kental manis hangat. Menggiurkan untuk selalu bermain dalam sketsa hitam putih pikiranku. Menghangatkan.

Bait-bait indah terlantun dari Banda Neira, duo favorit kita lewat earphone yang kupasang ketat di telingaku. Hujan membuat suara mereka semakin merdu.  Kau menyukai sajak, aku pun begitu. Kita bisa berlama-lama saling terdiam menikmati sajak hati kita masing masing. Saling mengungkap rindu dalam diam.

Kuaman ada bersamamu..
Selamanya…
Sampai kita tua
Sampai jadi debu

“Sampai Jadi Debu” mengalun sayup. Kau sedang tak bersamaku. Aku hanya ditemani representasimu, segelas susu kental manis coklat yang hangat. Akankah kita menua bersama? Bersamamu aku seperti menemukan sosok yang hilang dalam hidupku. Sosok ayah.

Seseorang menarik earphone di telingaku. Ayah berdiri di sebelahku. Laki-laki 50 tahunan, berbadan tegap. Teman-temanku memujinya. Kata mereka ayahku mirip artis Tio Pakusadewo. Ayah menatapku dingin Ini bukan kali pertama, karena aku bukan anak gadis manis seperti kakakku yang selalu dia banggakan. Tatapan dingin hampir setiap hari kudapat.

“Mandi dan bantu kakakmu menyiapkan makan malam. Sebentar lagi keluarga Bapak Kusuma akan datang,” katanya datar.

Aku mengernyit.

“Siapa mereka? Apa keuntungan untukku jika mereka datang?” tanyaku sembari memasang kembali sumbat telinga yang mengalunkan lagu dari Efek Rumah Kaca.

Tidak ada jawaban yang kuterima. Ayah dengan tenang masuk ke dalam rumah meninggalkanku dan wajah tidak peduliku.

Tepat pukul 7 malam, keluarga Bapak Kusuma akan datang. Ini masih pukul 6 sore, Ajeng sudah siap dengan gaun terbaiknya dan berdandan lebih menor dari biasanya, menurutku. Ajeng berwajah sendu, lembut meneduhkan. Namun, kali ini wajahnya gusar dan menegang. Berkali-kali dia tampak menghela napas berat, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak mampu. Dia memang seperti itu, anak gadis manis yang penurut selalu menjadi kebanggaan ayah.

“Aku ingin menjadi sepertimu, Sekar,” ucapnya tiba-tiba di sela helaan napas tertahan.

Aku menoleh padanya tak percaya. “Kau mengigau?”

Ajeng menggeleng, dia mendekatkan kepalanya ke bahuku. Menangis. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan kecuali membiarkannya menangis dan menyodorkan tisu padanya.

“Kenapa kau tidak menolak saja?” tanyaku akhirnya. Ajeng menggeleng lemah.

“Kau tahu bagaimana ayah. Aku tidak pernah bisa membantah apa perintah ayah. Kau tahu itu,” ucapnya lirih

Ajeng akan dijodohkan dengan anak laki-laki Pak Kusuma. Perjodohan demi kelangsungan silaturahmi keluarga, dalih ayah. Begitulah ayah, menganggap kami tak bernyawa, hanya boneka. Ajeng tidak pernah membantah. Aku mengira, Ajeng melakukan dengan sukacita semua yang ayah inginkan. Sebagian besar mungkin iya, namun tidak kali ini.

Ajeng merasa sesak, ingin meledak namun tak sanggup. Ajeng ingin sepertiku. Dia ingin bebas seperti adiknya. Menjadi penurut melelahkan, apalagi untuk urusan cinta. Ajeng telah jatuh hati pada laki-laki lain. Seseorang yang dikenalnya di sebuah yayasan penyandang disabilitas. Mereka sesama relawan, saling bertukar cerita dan jatuh cinta. Ayah sudah mengetahui hal itu, namun ia tidak menyetujui hubungan Ajeng.

Ayah selalu lebih peduli pada Ajeng. Sedangkan aku? Bagi ayah, aku seperti tidak ada. Segala urusan tentangku dilimpahkan kepada Ajeng. Kakakku mengurusku seperti seorang ibu. Sosok ibu memang kudapatkan darinya. Ibu kami meninggal saat melahirkanku. Kata orang, ibu bersikeras mempertahankanku di saat seharusnya aku tidak dilahirkan. Kondisi kesehatannya kala itu tidak memungkinkan untuk melahirkan lagi. Benar saja, beliau meninggal dan aku lahir. Kelahiran yang tidak diharapkan oleh ayah.

Ayah selalu tertawa dan tersenyum saat bersama Ajeng. Cahaya berpendar di matanya. Aku tidak pernah melihat hal itu jika dia sedang bersamaku. Tawa tak lepas dari bibirnya. Ayah hanya milik kakak yang penurut. Tidak ada ayah bagiku seberapa pun aku berusaha membuatnya senang. Apalagi aku penyebab ibu kehabisan darah saat memaksaku melihat dunia

Saat aku kecil, aku mengira dengan belajar giat dan meraih peringkat pertama di kelas akan membuatnya bangga. Ternyata tidak. Semua tentangku tidak membawa pengaruh apapun pada ayah. Aku berhenti menarik simpati ayah dengan menjadi juara kelas dan berprestasi di sekolah. Kuputuskan melakukan apapun yang aku inginkan.

Aku bolos sekolah, pulang larut malam demi mendapatkan sedikit saja rasa peduli darinya. Sampai-sampai aku juga abai akan perasaan Ajeng. Hingga saat ini, ketika dia melepaskan tangisnya di pundakku. Aku baru menyadari. Ajeng juga seorang manusia. Bukan boneka ayah. Ia selalu mengubur keinginannya sendiri demi kebahagiaan dan tawa ayah. Termasuk perihal perjodohan yang tidak ia inginkan.

Sepanjang pertemuan dengan keluarga Kusuma, Ajeng hanya terdiam. Tidak banyak yang dia ucapkan, hanya senyum-senyum kecil sekenanya yang dia tunjukkan untuk sekadar menjaga kesopanan dan nama baik ayah. Tampaknya ayah maupun keluarga Kusuma tidak menyadari sikap diam Ajeng. Mereka tertawa dan memutuskan tanggal pernikahan. Ajeng menerima tanpa membantah.

Ajeng kembali ke kamar dan mengunci diri. Aku membiarkan dia sendiri menenangkan perang batin yang sedang berlangsung sengit dalam hati dan kepalanya. Sedangkan suasana hati ayah tampak begitu riang. Dia bersenandung dan memutar musik kesukaannya di dalam kamar. Aku memilih membenamkan tubuhku di bawah selimut. Sambil mengingatmu. Lelaki susu kental manis hangatku.

Aku terbangun dengan perasaan tak menentu. Aku bermimpi buruk. Aku bermimpi tentang Ajeng yang tertunduk sedih di atas sebuah batu besar. Wajahnya pucat dan lusuh. Aku bergegas meninggalkan kamarku dan berlari ke dapur. Biasanya Ajeng akan sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Tapi Ajeng tak di sana. Dapur masih kosong. Aku berjalan menuju kamar Ajeng, ayah sudah ada di depan kamar sambil mengetuk pintu. Tak ada jawaban.

Raut wajah ayah terlihat panik. Dia mengetuk dengan keras dan memanggil nama Ajeng. Tidak juga ada jawaban. Kesabarannya hilang, dengan keras ia mendobrak pintu kamar Ajeng. Pintu terbuka, mata ayah membelalak mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Apa yag dia lihat membuat sarafnya berhenti bekerja.

Aku menerobos masuk. Di pinggir ranjang Ajeng terduduk menunduk. Menggenggam sepucuk surat yang sebagian telah berwarna merah di tangan kanannya. Aku menghampiri tubuhnya. Tubuh kakakku yang hanya tinggal tubuh tanpa jiwa. Darah tergenang dari pergelangan tangan kirinya.

Aku bukan lagi gadis ayah yang penurut. Aku ingin duniaku sendiri. Aku ingin memilih sesuai kehendakku. aku bahkan iri pada burung-burung yang terbang dengan bebasnya. Aku iri pada Sekar yang memilih untuk membebaskan dirinya. Aku sudah memilih, memilih cinta untukku sendiri. Memilih lelaki milik wanita lain dan anaknya. Pilihanku salah, pada kali pertama aku mencoba membuat pilihan sendiri. Pilihan yang aku tahu tidak akan ayah setujui. Sekarang bolehkah aku membuat pilihanku lagi? Wal….

Surat terakhir Ajeng juga yang belum terselesaikan. Goresan terakhir begitu panjang. Dia belum sempat menyudahi kata-katanya saat ajal menarik paksa. Sesuai keinginannya, dia akhirnya menentukan jalannya sendiri. Kenangan–kenangan bersama Ajeng berputar di kepalaku. Caranya menyelipkan sisa rambut ikalnya di belakang telinga, mengerjapkan bulu matanya yang lentik, tertawanya yang tak terdengar bahkan caranya mendiamkanku jika sedang marah.

Jingga menyelimuti langit sore, gundukan tanah d ihadapanku masih basah. Ajeng tertidur dengan bangga di dalam sana. Bangga pada akhirnya dia menentukan nasibnya sendiri. Dia tidak akan pernah menua. Sepertimu juga lelaki susu kental manis coklat hangat, takkan pernah menua. Akupun tak kan pernah bisa menua bersamamu. Kau terkapar bersama jarum suntik dan cairan pembawa maut itu. Terbang bersama mereka tanpa sayap. Aku akan menua bersama romantisme sesaat kita. Aku memilih menua bersama ayahku. Ayah yang masih tidak peduli padaku. Ayah yang hanya bisa mengerjapkan mata, tidak bicara dan hanya membunyikan lonceng kecil yang aku letakkan di sisi ranjangnya.

Kita kan pulang dengan waktu yang terbuang
Dan kenangan yang berjalan bersama

– Barasuara; Api dan Lentera

[][][]

BACA cerpen lain

Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Pohon Pedang Kayu | Cerpen Made Adnyana Ole
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog ”Drupadi”, Gugatan Perempuan, Kekuatan Panggung dan Citraan Visual

Next Post

Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co