3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Pedang Kayu | Cerpen Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
September 24, 2022
in Cerpen, Pilihan Editor
Pohon Pedang Kayu | Cerpen Made Adnyana Ole

Ilustrasi tatkala.co

Dalam sebuah perang yang penuh ragu
Persahabatan kadang muncul tak terduga
dan abadi…

SELAIN mewariskan puisi pendek tentang perang dan persahabatan, Kakek juga mewariskan sebuah pot bunga kepada Ayah, sebelum akhirnya lelaki renta itu menghabiskan napasnya dengan sangat rela. Sebuah pot keramik merah pudar, bentuknya mirip cangkir teh kuno, hanya ukurannya agak besar, tanpa gagang, tanpa lukisan bunga di sisi luarnya. Pada sisi pot yang agak cekung hanya samar-samar terlihat bekas gambar seekor naga, warnanya mungkin keemasan. Kepala naga itu meringkuk, seperti bersembunyi pada cekungan dinding pot, namun ekornya yang panjang melingkar, meliuk-liuk sedemikian hidup dan membelit pinggang pot dengan anggun.

“Awas, pot itu tak boleh pecah. Di dalamnya tersimpan seribu kenangan tentang sebatang Pohon Pedang Kayu!”

Pohon Pedang Kayu? Kenangan?

Pot itu kosong, tanpa tanaman. Tak ada batang berduri dengan kelopak mawar yang mengernyit setiap pagi. Tak ada batang lunak bergoyang-goyang dengan kuntum anggrek yang menyapa matahari. Tak ada jamur sekalipun dalam pot itu, apalagi Pohon Pedang Kayu sebagaimana dijeritkan Kakek suatu hari saat cucu-cucunya bermain dengan liar di samping pot kuno itu. Cucunya, seperti si aku yang dungu ini, tentu sangat tak paham bagaimana sebuah pot kosong bisa menyimpan sebuah Pohon Pedang Kayu. Pohon Pedang Kayu? Pohon kayu pedang? Kenangan? Wujudnya pun tak ada yang mengenalinya, meski mungkin hanya bisa dibayangkan.

Jika Pohon Pedang Kayu adanya tersembunyi dalam tanah, bisakah ia tetap hidup meski seluruh batangnya tertimbun tanah? Lihatlah, pot itu hanya berisi tanah kering, benar-benar kering, tak pernah ada yang menyiramnya, tak ada yang pernah menggantinya dengan tanah yang lebih gembur dan subur. Bisakah pohon itu tetap tumbuh, bernapas, bertunas, bercabang, berbunga dan berbuah dengan leluasa tanpa sinar matahari, tanpa udara, tanpa pernah ada yang memandangnya untuk sekadar memberi semangat hidup? Tak begitu sulit menebak jawaban Kakek: hanya Pohon Pedang Kayu yang bisa melakukannya.

Pohon Pedang Kayu? Di mana tempatnya di dalam pot keramik merah pudar itu? Bagaimanakah wujudnya? Kakek tak pernah bercerita dengan rinci tentang pohon yang tak pernah kulihat itu. Lelaki tua yang suka mendongeng kepadaku tentang kisah-kisah persahabatan dan kepahlawanan itu hanya sesekali pernah bercerita tentang asal-usul pot itu yang tentu saja tak bisa dipisahkan dari kisah persahabatan, peperangan dan kepahlawanan di masa lalu. Pot itu diperolehnya dari seorang tentara Jepang setelah terjadinya sebuah perang yang penuh ragu pada jaman penjajahan, dulu. Tapi jangan bayangkan Kakek seorang pejuang. Ia hanya seorang petani kecil, tapi oleh suatu sebab yang tak terduga ia ikut tersesat dalam sebuah bentrok yang tak dimengertinya.

Suatu hari (Kakek sungguh tak ingat angka tahun), sebuah truk melintas di jalan desaku yang masih ditumbuhi rumput liar. Kakek ketika itu baru datang dari sawah bersama segerombolan teman-temannya yang juga petani tulen. Setelah sempat berpapasan dengan Kekek, truk itu tiba-tiba berhenti di sebuah jembatan. Turunlah sepasukan tentara Jepang lengkap dengan senjata laras panjang di tangan. Mereka tampak membuang sesuatu ke sungai. Dan tampaknya barang yang dibuang itu cukup berat sehingga mengharuskan mereka untuk menggotongnya ramai-ramai sebelum mencemplungkannya ke sungai dari atas jembatan.

Setelah tentara itu pergi, dituntun oleh rasa penasaran, Kakek bersama teman-temannya menyerbu ke sungai untuk melihat benda apa gerangan yang dibuang si tentara. Dilihatlah kemudian berbagai benda unik berserakan di antara batu-batu sungai. Sebagian besar benda-benda aneh itu sangat tak akrab dengan mata Kakek, namun ia bisa menyebutkan salah satunya; ban mobil dan mesin jahit. Mereka, Kakek dan teman-temannya, dengan bersemangat memungutnya. Namun beberapa hari kemudian terdengar kabar desaku akan diserbu sepasukan tentara Jepang karena dianggap merampas hasil sitaan perang. Tentu saja, orang-orang di desaku siap siaga. Dengan dibantu sejumlah tentara pribumi, warga di desaku terus berjaga-jaga hingga tiba saatnya tentara Jepang itu datang. Kakekku ikut menyandang bambu runcing. Meski tak terlalu yakin dengan apa yang sedang dilakukannya, tapi Kakek berada di garis depan. Dua pasukan beda kulit itu sempat berhadap-hadapan selayaknya bocah-bocah kampung sedang mencoba-coba untuk berkelahi. Namun perang dibatalkan, ini lucu, karena dalam waktu beberapa lama kedua pihak tak ada yang berani mendahului menyerang. Keragu-raguan untuk perang sangat tampak menyembul dari wajah-wajah kedua anggota pasukan. Dua pasukan itu akhirnya saling bersalaman. Dan entah kenapa beberapa orang dari pasukan Jepang itu, jumlahnya sekitar 10 orang, lantas tinggal di desaku.

Cerita Kakek memang semacam dongeng yang tentu saja tak pernah tercatat dalam sejarah. Tapi selain Kakek, orang-orang tua di desaku menunjukkan keyakinan bahwa mereka tidak sedang mengarang. “Itu peristiwa sesungguhnya yang kebetulan luput dari catatan sejarah,” kata seorang tua, karib Kakek di waktu muda.

Sayangnya, beberapa tahun kemudian, ketika beberapa saudara-saudara Kakek dari Jepang itu sempat beranak-pinak, bahkan ada yang kawin campur dengan perempuan dari desaku, mereka kemudian terusir oleh sejumlah sebab. Sejumlah sebab-musabab yang sama sekali tak dimengerti oleh seluruh orang di desaku, termasuk oleh Kakek. Yang terdengar hanya selentingan kabar, pemerintah di negaraku mengeluarkan kebijakan mengejutkan. Orang asing, seperti dari Tionghoa, Jepang dan India, tak dibolehkan untuk menetap, apalagi melakukan usaha dagang, di kawasan pedesaan yang jauh dari kota. Mereka diultimatum dengan tegas: merapat ke kota atau kembali ke negara asal.

Orang-orang Jepang yang sudah dianggap saudara oleh Kakek itu sebenarnya tak melakukan usaha dagang di desaku. Mereka hanya mengontrak beberapa bidang tanah pertanian yang sebagian kecil dibanguni rumah kayu dan sebagian besar yang lain ditanami berbagai jenis sayur-mayur dan pohon buah. Beberapa dari mereka kumudian ada yang mampu membeli tanah, setelah usaha pertanian mereka maju. Orang desaku menyimpulkan, mereka tampaknya tak begitu berbakat menjadi tentara (terbukti dengan betapa ragu-ragunya mereka menyerang pasukan Kakek dalam perang yang tak terduga sebelumnya), tapi mereka diakui sangat lihai mengolah tanah pertanian. Ini dibuktikan dengan begitu suburnya sayur-mayur dan pohon buah yang mereka tanam di desaku.

Orang-orang di desaku, terutama Kakek, sangat beruntung bisa belajar banyak tentang tata-olah pertanian dari mereka. Kakek senang, penduduk desaku suka. Mereka dianggap pahlawan dalam dunia pertanian. Tapi kebijakan pemerintah dari negara tempat kehidupan desa itu dinaungkan, sungguh, sungguh-sungguh tak bisa diterima oleh orang desa. Kebijakan itu menghancurkan persaudaraan, memporakporandakan persaudaraan. Saudara-saudara Kakek, sahabat-sahabat Kakek, guru-guru Kakek, itu lantas pergi. Tanah yang dikontrak dikembalikan ke pemiliknya, tanah yang terlanjur dibeli diserahkan kembali secara sukarela ke pemiliknya. Mereka pergi, entah ke kota, entah ke negara asal.

Sesungguhnya, setidaknya bagi diriku sendiri, ingatan Kakek tentang peristiwa pada zaman penjajahan adalah sejarah tiada tara melebihi sejarah yang diajarkan di sekolah. Buktinya aku begitu terkenang dengan cerita pendek tentang perang dan persahabatan yang diceritakan Kakek. Sampai akhirnya Kakek meninggal dan mewariskan pot keramik yang (katanya) berisi Pohon Pedang Kayu itu kepada Ayah. “Jagalah pot itu. Tanahnya jangan pernah diganti, pohon langka itu akan mati. Itulah lambang persahabatan abadi antara pohon dan tanah,” kata Kakek. Aku turut mendengarnya.

Aku ikut merawat Pohon Pedang Kayu dalam pot itu. sampai aku besar, sampai Ayah meninggal dan mewariskan pot itu kepadaku. Aku juga harus merawatnya. Kelak aku juga akan mewariskan kepada anakku. Anakku kepada cucuku dan seterusnya. Tapi sampai kapankah pot kuno itu akan diperlakukan seaneh itu? Selama tujuh turunan, lima puluh turunan atau sampai turunan keluarga kami terpencar-pencar atau terputus? Aku tak sudi membayangkannya.

Oleh satu lingkar persahabatan berantai, aku kemudian mengenal sejumlah teman dari Jepang. Zaman sudah berubah. Desaku sudah berubah. Rumahku juga berubah. Bisnis perpelancongan yang menggiurkan telah membuat warna hias yang menopang kehidupan warga desaku berkembang menjadi sangat genit. Rumahku pun, meski aku tak suka, juga disulap menjadi semacam obyek perpelancongan yang terkesan ramah namun menawarkan berbagai ambisi untuk menyedot sebanyak-banyaknya uang dari kantong tamu yang mengunjunginya.

Teman-temanku dari Jepang itu tentu saja bukan tamu. Ia sebenarnya teman dari temanku yang kemudian berteman juga dengan aku. Salah seorang bernama Shio. Ia seorang perempuan petualang yang setiap hari, setiap bulan, waktunya diumbar untuk berjalan dari satu desa ke desa lain, dari satu negara ke negara lain. Minatnya berubah-ubah, bisa tiba-tiba suntuk membenamkan diri dalam penelitian suku pedalaman yang rumit dan penuh teka-teki, tapi kemudian bisa betah bermeditasi berjam-jam di dalam kamar. Ia sempat singgah di rumahku dan menemukan pot warisan Kakek yang di dalamnya konon berisi Pohon Pedang Kayu itu. Awalnya ia melihat pot itu sambil lalu saja, namun beberapa saat kemudian matanya tertancap erat pada lingkar pot dengan pandangan penuh selidik.

“Ini pot kuno! Dari mana kaudapatkan?”

Mata Shio berpaling tiba-tiba dari pot kusam itu ke mataku.

“Pot itu warisan Kakek. Kau suka?”

“Kau akan memberikannya kepadaku?”

“Kalau kau suka!”

“Aku suka, tapi menolak. Bahkan kau tak boleh seenaknya menyerahkan pot itu pada orang lain. Itu lambang suci tentang persahabatan!”

Mimik Shio begitu serius. Jari telunjuk kanan bergoyang di depan matanya seakan memberi peringatan besar untuk keteledoranku. Sejurus kemudian ia membungkuk. Ia mengamati pot itu dengan sangat teliti. Jari telunjuk kanan yang sebelumnya bergoyang di depan matanya kini digunakan untuk menyentuh sisi pot dengan sangat perlahan seakan-akan takut telunjuknya yang putih itu akan menghancurkan lukisan kusam di dinding pot itu.

“Apa isi pot ini?” kata Shio kemudian. Telunjuknya dilepas dari sisi pot dengan sangat-sangat perlahan.

“Kata Kakek, Pohon Pedang Kayu!”

Aku bersiap mendapat sambutan tawa. Namun Shio sama sekali tak tertawa. Gadis yang cukup tinggi untuk ukuran perempuan Asia itu malah semakin terus menorehkan pandangannya ke sekujur pot. Bahkan pandangan matanya semakin tajam seakan-akan menusuk lebih jauh ke dalam pot. Ia tampak merenung sekilas sebelum mengalihkan pandangannya dengan tegas kepadaku.

“Jangan sekali-kali kauhancurkan pot itu, apalagi kaujual. Di dalamnya berisi pohon langka yang tidak sembarangan orang bisa memilikinya. Pohon Pedang Kayu, sebuah tumbuhan unik yang tak mudah untuk dijelaskan, apalagi dilihat dengan mata telanjang. Hanya mata batin terjernihlah yang mampu melihatnya…”

Sesungguhnya Shio bicara begitu banyak. Kalimat-kalimatnya panjang, kata-katanya penuh dengan simbol dan perumpamaan. Sebagian besar kata-kata yang didedahkan di hadapanku itu sangat mirip dengan kata-kata yang dikatakan Kakek kepada Ayah. Aku heran. Bagaimana mungkin Kakek dan Shio, dua orang berbeda bangsa, berbeda usia, berbeda zaman, itu dapat menjelaskan sebuah pot yang konon berisi Pohon Pedang Kayu itu dengan kata-kata bahkan dengan nada yang begitu mirip?

Aku sendiri tak begitu lihai merekam seluruh wejangan Shio, namun aku tetap mencoba merekam segala yang terlontar dari mulutnya dengan harapan suatu saat nanti aku juga bisa menjelaskan dengan seksama kepada tamu-tamu yang datang ke rumahku. Sebagian besar memang bisa kuhapal dengan lekat, namun sebagian besar kata yang kuhapal itu hingga bertahun-tahun kemudian tak pernah kupahami dengan secermat-cermatnya.

Yang membuatku terkaget-kaget kemudian adalah betapa ampuhnya wejangan Shio untuk dikutip sebagai bahan promosi pariwisata rumahku. Setiap tamu yang datang kuberitahu tetang seluk-beluk pot kuno itu, tentang asal-usulnya, tentang isi pot itu, tentang makna dan simbol-simbol yang terkandung di dalamnya. Para pelancong yang datang ke rumahku terkagum-kagum, takjub dan hampir seluruh tamu yang datang ke rumahku menyatakan keinginannya untuk membeli pot itu dengan harga yang benar-benar tak pernah kubayangkan.

“Saya bisa menukarnya dengan sebuah hotel. Anda mau?” kata seorang pelancong dari Eropa yang dikenal memiliki banyak hotel di tepi pulau tempatku tinggal.

Aku menggeleng, aku masih ingat Kakek. Masih ingat kata-kata Shio. Namun ketika banyak tamu lain yang menawarkan uang dalam jumlah yang menggiurkan untuk ukuran orang desa seperti aku, pendirianku goyah. Keinginan untuk memiliki uang sebanyak yang ditawarkan tamu kepadaku masih bisa kubendung, namun  hasrat untuk membongkar pot itu mulai meledak dalam hatiku. Aku ingin tahu, sungguh aku ingin tahu, benda apakah yang ada di dalam pot itu sehingga semua tamu menganggapnya sangat istimewa dan rela melimpahkan uang begitu banyak untuk bisa memilikinya.

Sehingga suatu malam, ketika semua orang sudah tidur, diam-diam kubongkar pot yang konon berisi Pohon Pedang Kayu itu. Aku keluarkan tanahnya dengan sangat hati-hati agar pot keramik merah pudar yang bentuknya mirip cangkir teh kuno itu tidak tergores atau pecah. Dan betapa kecewanya aku. Sampai seluruh tanah dikeluarkan dari dalam pot, aku tak menemukan satu benda pun di dalamnya. Apalagi sebuah benda yang bernama Pohon Pedang Kayu, bahkan satu patahan ranting yang amat kecil pun tak ada. Hanya tanah. Benar-benar hanya tanah.

Buru-buru kumasukkan lagi tanah itu ke dalam pot. Kumasukkan tanah itu dengan seksama. Benar-benar dengam seksama. Sehingga pada pagi harinya pot itu sudah nangkring di tempat semula dengan penampilan yang menurutku tidak berubah dari hari-hari sebelumnya. Dan pagi itu aku bersiap menyambut tamu dengan satu rencana yang kuputuskan dengan bulat: aku akan jual pot itu, toh isinya hanya tanah.

Tapi tamu pertama yang datang tak tertarik denngan pot itu. Ia juga tak tertarik dengan cerita yang kukutip dari Kakek maupun kuputar ulang dari wejangan Shio. Kupikir, mungkin saja tamu itu tamu pertama dan satu-satunya yang memiliki kadar akal sehat yang begitu sempurna. Tapi aku salah. Tamu kedua, tamu ketiga, dan seluruh tamu yang datang ke tempatku sama sekali tak tertarik dengan pot itu. Jangankan mengamati, melirik pun tidak.

“Pot ini sudah ditawar 10 juta euro!” kataku kepada seorang tamu.

“Itu gila!”

“Bahkan ada yang mau tukar dengan hotel bintang lima di sebuah daratan di Eropa plus sejumlah pulau di Amerika!”

“Benar-benar gila! Apa tamu itu tak tahu pot ini hanya berisi tanah?”

Aku tiba-tiba ingin memeluk kaki Kakek dan minta maaf selama 100 turunan… [T]

Singaraja, Denpasar 2006

_____

Baca cerpen lain

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ilham Nuryadi Akbar | Doa di Tengah Hujan

Next Post

Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa

Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co