12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Pedang Kayu | Cerpen Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
September 24, 2022
in Cerpen, Pilihan Editor
Pohon Pedang Kayu | Cerpen Made Adnyana Ole

Ilustrasi tatkala.co

Dalam sebuah perang yang penuh ragu
Persahabatan kadang muncul tak terduga
dan abadi…

SELAIN mewariskan puisi pendek tentang perang dan persahabatan, Kakek juga mewariskan sebuah pot bunga kepada Ayah, sebelum akhirnya lelaki renta itu menghabiskan napasnya dengan sangat rela. Sebuah pot keramik merah pudar, bentuknya mirip cangkir teh kuno, hanya ukurannya agak besar, tanpa gagang, tanpa lukisan bunga di sisi luarnya. Pada sisi pot yang agak cekung hanya samar-samar terlihat bekas gambar seekor naga, warnanya mungkin keemasan. Kepala naga itu meringkuk, seperti bersembunyi pada cekungan dinding pot, namun ekornya yang panjang melingkar, meliuk-liuk sedemikian hidup dan membelit pinggang pot dengan anggun.

“Awas, pot itu tak boleh pecah. Di dalamnya tersimpan seribu kenangan tentang sebatang Pohon Pedang Kayu!”

Pohon Pedang Kayu? Kenangan?

Pot itu kosong, tanpa tanaman. Tak ada batang berduri dengan kelopak mawar yang mengernyit setiap pagi. Tak ada batang lunak bergoyang-goyang dengan kuntum anggrek yang menyapa matahari. Tak ada jamur sekalipun dalam pot itu, apalagi Pohon Pedang Kayu sebagaimana dijeritkan Kakek suatu hari saat cucu-cucunya bermain dengan liar di samping pot kuno itu. Cucunya, seperti si aku yang dungu ini, tentu sangat tak paham bagaimana sebuah pot kosong bisa menyimpan sebuah Pohon Pedang Kayu. Pohon Pedang Kayu? Pohon kayu pedang? Kenangan? Wujudnya pun tak ada yang mengenalinya, meski mungkin hanya bisa dibayangkan.

Jika Pohon Pedang Kayu adanya tersembunyi dalam tanah, bisakah ia tetap hidup meski seluruh batangnya tertimbun tanah? Lihatlah, pot itu hanya berisi tanah kering, benar-benar kering, tak pernah ada yang menyiramnya, tak ada yang pernah menggantinya dengan tanah yang lebih gembur dan subur. Bisakah pohon itu tetap tumbuh, bernapas, bertunas, bercabang, berbunga dan berbuah dengan leluasa tanpa sinar matahari, tanpa udara, tanpa pernah ada yang memandangnya untuk sekadar memberi semangat hidup? Tak begitu sulit menebak jawaban Kakek: hanya Pohon Pedang Kayu yang bisa melakukannya.

Pohon Pedang Kayu? Di mana tempatnya di dalam pot keramik merah pudar itu? Bagaimanakah wujudnya? Kakek tak pernah bercerita dengan rinci tentang pohon yang tak pernah kulihat itu. Lelaki tua yang suka mendongeng kepadaku tentang kisah-kisah persahabatan dan kepahlawanan itu hanya sesekali pernah bercerita tentang asal-usul pot itu yang tentu saja tak bisa dipisahkan dari kisah persahabatan, peperangan dan kepahlawanan di masa lalu. Pot itu diperolehnya dari seorang tentara Jepang setelah terjadinya sebuah perang yang penuh ragu pada jaman penjajahan, dulu. Tapi jangan bayangkan Kakek seorang pejuang. Ia hanya seorang petani kecil, tapi oleh suatu sebab yang tak terduga ia ikut tersesat dalam sebuah bentrok yang tak dimengertinya.

Suatu hari (Kakek sungguh tak ingat angka tahun), sebuah truk melintas di jalan desaku yang masih ditumbuhi rumput liar. Kakek ketika itu baru datang dari sawah bersama segerombolan teman-temannya yang juga petani tulen. Setelah sempat berpapasan dengan Kekek, truk itu tiba-tiba berhenti di sebuah jembatan. Turunlah sepasukan tentara Jepang lengkap dengan senjata laras panjang di tangan. Mereka tampak membuang sesuatu ke sungai. Dan tampaknya barang yang dibuang itu cukup berat sehingga mengharuskan mereka untuk menggotongnya ramai-ramai sebelum mencemplungkannya ke sungai dari atas jembatan.

Setelah tentara itu pergi, dituntun oleh rasa penasaran, Kakek bersama teman-temannya menyerbu ke sungai untuk melihat benda apa gerangan yang dibuang si tentara. Dilihatlah kemudian berbagai benda unik berserakan di antara batu-batu sungai. Sebagian besar benda-benda aneh itu sangat tak akrab dengan mata Kakek, namun ia bisa menyebutkan salah satunya; ban mobil dan mesin jahit. Mereka, Kakek dan teman-temannya, dengan bersemangat memungutnya. Namun beberapa hari kemudian terdengar kabar desaku akan diserbu sepasukan tentara Jepang karena dianggap merampas hasil sitaan perang. Tentu saja, orang-orang di desaku siap siaga. Dengan dibantu sejumlah tentara pribumi, warga di desaku terus berjaga-jaga hingga tiba saatnya tentara Jepang itu datang. Kakekku ikut menyandang bambu runcing. Meski tak terlalu yakin dengan apa yang sedang dilakukannya, tapi Kakek berada di garis depan. Dua pasukan beda kulit itu sempat berhadap-hadapan selayaknya bocah-bocah kampung sedang mencoba-coba untuk berkelahi. Namun perang dibatalkan, ini lucu, karena dalam waktu beberapa lama kedua pihak tak ada yang berani mendahului menyerang. Keragu-raguan untuk perang sangat tampak menyembul dari wajah-wajah kedua anggota pasukan. Dua pasukan itu akhirnya saling bersalaman. Dan entah kenapa beberapa orang dari pasukan Jepang itu, jumlahnya sekitar 10 orang, lantas tinggal di desaku.

Cerita Kakek memang semacam dongeng yang tentu saja tak pernah tercatat dalam sejarah. Tapi selain Kakek, orang-orang tua di desaku menunjukkan keyakinan bahwa mereka tidak sedang mengarang. “Itu peristiwa sesungguhnya yang kebetulan luput dari catatan sejarah,” kata seorang tua, karib Kakek di waktu muda.

Sayangnya, beberapa tahun kemudian, ketika beberapa saudara-saudara Kakek dari Jepang itu sempat beranak-pinak, bahkan ada yang kawin campur dengan perempuan dari desaku, mereka kemudian terusir oleh sejumlah sebab. Sejumlah sebab-musabab yang sama sekali tak dimengerti oleh seluruh orang di desaku, termasuk oleh Kakek. Yang terdengar hanya selentingan kabar, pemerintah di negaraku mengeluarkan kebijakan mengejutkan. Orang asing, seperti dari Tionghoa, Jepang dan India, tak dibolehkan untuk menetap, apalagi melakukan usaha dagang, di kawasan pedesaan yang jauh dari kota. Mereka diultimatum dengan tegas: merapat ke kota atau kembali ke negara asal.

Orang-orang Jepang yang sudah dianggap saudara oleh Kakek itu sebenarnya tak melakukan usaha dagang di desaku. Mereka hanya mengontrak beberapa bidang tanah pertanian yang sebagian kecil dibanguni rumah kayu dan sebagian besar yang lain ditanami berbagai jenis sayur-mayur dan pohon buah. Beberapa dari mereka kumudian ada yang mampu membeli tanah, setelah usaha pertanian mereka maju. Orang desaku menyimpulkan, mereka tampaknya tak begitu berbakat menjadi tentara (terbukti dengan betapa ragu-ragunya mereka menyerang pasukan Kakek dalam perang yang tak terduga sebelumnya), tapi mereka diakui sangat lihai mengolah tanah pertanian. Ini dibuktikan dengan begitu suburnya sayur-mayur dan pohon buah yang mereka tanam di desaku.

Orang-orang di desaku, terutama Kakek, sangat beruntung bisa belajar banyak tentang tata-olah pertanian dari mereka. Kakek senang, penduduk desaku suka. Mereka dianggap pahlawan dalam dunia pertanian. Tapi kebijakan pemerintah dari negara tempat kehidupan desa itu dinaungkan, sungguh, sungguh-sungguh tak bisa diterima oleh orang desa. Kebijakan itu menghancurkan persaudaraan, memporakporandakan persaudaraan. Saudara-saudara Kakek, sahabat-sahabat Kakek, guru-guru Kakek, itu lantas pergi. Tanah yang dikontrak dikembalikan ke pemiliknya, tanah yang terlanjur dibeli diserahkan kembali secara sukarela ke pemiliknya. Mereka pergi, entah ke kota, entah ke negara asal.

Sesungguhnya, setidaknya bagi diriku sendiri, ingatan Kakek tentang peristiwa pada zaman penjajahan adalah sejarah tiada tara melebihi sejarah yang diajarkan di sekolah. Buktinya aku begitu terkenang dengan cerita pendek tentang perang dan persahabatan yang diceritakan Kakek. Sampai akhirnya Kakek meninggal dan mewariskan pot keramik yang (katanya) berisi Pohon Pedang Kayu itu kepada Ayah. “Jagalah pot itu. Tanahnya jangan pernah diganti, pohon langka itu akan mati. Itulah lambang persahabatan abadi antara pohon dan tanah,” kata Kakek. Aku turut mendengarnya.

Aku ikut merawat Pohon Pedang Kayu dalam pot itu. sampai aku besar, sampai Ayah meninggal dan mewariskan pot itu kepadaku. Aku juga harus merawatnya. Kelak aku juga akan mewariskan kepada anakku. Anakku kepada cucuku dan seterusnya. Tapi sampai kapankah pot kuno itu akan diperlakukan seaneh itu? Selama tujuh turunan, lima puluh turunan atau sampai turunan keluarga kami terpencar-pencar atau terputus? Aku tak sudi membayangkannya.

Oleh satu lingkar persahabatan berantai, aku kemudian mengenal sejumlah teman dari Jepang. Zaman sudah berubah. Desaku sudah berubah. Rumahku juga berubah. Bisnis perpelancongan yang menggiurkan telah membuat warna hias yang menopang kehidupan warga desaku berkembang menjadi sangat genit. Rumahku pun, meski aku tak suka, juga disulap menjadi semacam obyek perpelancongan yang terkesan ramah namun menawarkan berbagai ambisi untuk menyedot sebanyak-banyaknya uang dari kantong tamu yang mengunjunginya.

Teman-temanku dari Jepang itu tentu saja bukan tamu. Ia sebenarnya teman dari temanku yang kemudian berteman juga dengan aku. Salah seorang bernama Shio. Ia seorang perempuan petualang yang setiap hari, setiap bulan, waktunya diumbar untuk berjalan dari satu desa ke desa lain, dari satu negara ke negara lain. Minatnya berubah-ubah, bisa tiba-tiba suntuk membenamkan diri dalam penelitian suku pedalaman yang rumit dan penuh teka-teki, tapi kemudian bisa betah bermeditasi berjam-jam di dalam kamar. Ia sempat singgah di rumahku dan menemukan pot warisan Kakek yang di dalamnya konon berisi Pohon Pedang Kayu itu. Awalnya ia melihat pot itu sambil lalu saja, namun beberapa saat kemudian matanya tertancap erat pada lingkar pot dengan pandangan penuh selidik.

“Ini pot kuno! Dari mana kaudapatkan?”

Mata Shio berpaling tiba-tiba dari pot kusam itu ke mataku.

“Pot itu warisan Kakek. Kau suka?”

“Kau akan memberikannya kepadaku?”

“Kalau kau suka!”

“Aku suka, tapi menolak. Bahkan kau tak boleh seenaknya menyerahkan pot itu pada orang lain. Itu lambang suci tentang persahabatan!”

Mimik Shio begitu serius. Jari telunjuk kanan bergoyang di depan matanya seakan memberi peringatan besar untuk keteledoranku. Sejurus kemudian ia membungkuk. Ia mengamati pot itu dengan sangat teliti. Jari telunjuk kanan yang sebelumnya bergoyang di depan matanya kini digunakan untuk menyentuh sisi pot dengan sangat perlahan seakan-akan takut telunjuknya yang putih itu akan menghancurkan lukisan kusam di dinding pot itu.

“Apa isi pot ini?” kata Shio kemudian. Telunjuknya dilepas dari sisi pot dengan sangat-sangat perlahan.

“Kata Kakek, Pohon Pedang Kayu!”

Aku bersiap mendapat sambutan tawa. Namun Shio sama sekali tak tertawa. Gadis yang cukup tinggi untuk ukuran perempuan Asia itu malah semakin terus menorehkan pandangannya ke sekujur pot. Bahkan pandangan matanya semakin tajam seakan-akan menusuk lebih jauh ke dalam pot. Ia tampak merenung sekilas sebelum mengalihkan pandangannya dengan tegas kepadaku.

“Jangan sekali-kali kauhancurkan pot itu, apalagi kaujual. Di dalamnya berisi pohon langka yang tidak sembarangan orang bisa memilikinya. Pohon Pedang Kayu, sebuah tumbuhan unik yang tak mudah untuk dijelaskan, apalagi dilihat dengan mata telanjang. Hanya mata batin terjernihlah yang mampu melihatnya…”

Sesungguhnya Shio bicara begitu banyak. Kalimat-kalimatnya panjang, kata-katanya penuh dengan simbol dan perumpamaan. Sebagian besar kata-kata yang didedahkan di hadapanku itu sangat mirip dengan kata-kata yang dikatakan Kakek kepada Ayah. Aku heran. Bagaimana mungkin Kakek dan Shio, dua orang berbeda bangsa, berbeda usia, berbeda zaman, itu dapat menjelaskan sebuah pot yang konon berisi Pohon Pedang Kayu itu dengan kata-kata bahkan dengan nada yang begitu mirip?

Aku sendiri tak begitu lihai merekam seluruh wejangan Shio, namun aku tetap mencoba merekam segala yang terlontar dari mulutnya dengan harapan suatu saat nanti aku juga bisa menjelaskan dengan seksama kepada tamu-tamu yang datang ke rumahku. Sebagian besar memang bisa kuhapal dengan lekat, namun sebagian besar kata yang kuhapal itu hingga bertahun-tahun kemudian tak pernah kupahami dengan secermat-cermatnya.

Yang membuatku terkaget-kaget kemudian adalah betapa ampuhnya wejangan Shio untuk dikutip sebagai bahan promosi pariwisata rumahku. Setiap tamu yang datang kuberitahu tetang seluk-beluk pot kuno itu, tentang asal-usulnya, tentang isi pot itu, tentang makna dan simbol-simbol yang terkandung di dalamnya. Para pelancong yang datang ke rumahku terkagum-kagum, takjub dan hampir seluruh tamu yang datang ke rumahku menyatakan keinginannya untuk membeli pot itu dengan harga yang benar-benar tak pernah kubayangkan.

“Saya bisa menukarnya dengan sebuah hotel. Anda mau?” kata seorang pelancong dari Eropa yang dikenal memiliki banyak hotel di tepi pulau tempatku tinggal.

Aku menggeleng, aku masih ingat Kakek. Masih ingat kata-kata Shio. Namun ketika banyak tamu lain yang menawarkan uang dalam jumlah yang menggiurkan untuk ukuran orang desa seperti aku, pendirianku goyah. Keinginan untuk memiliki uang sebanyak yang ditawarkan tamu kepadaku masih bisa kubendung, namun  hasrat untuk membongkar pot itu mulai meledak dalam hatiku. Aku ingin tahu, sungguh aku ingin tahu, benda apakah yang ada di dalam pot itu sehingga semua tamu menganggapnya sangat istimewa dan rela melimpahkan uang begitu banyak untuk bisa memilikinya.

Sehingga suatu malam, ketika semua orang sudah tidur, diam-diam kubongkar pot yang konon berisi Pohon Pedang Kayu itu. Aku keluarkan tanahnya dengan sangat hati-hati agar pot keramik merah pudar yang bentuknya mirip cangkir teh kuno itu tidak tergores atau pecah. Dan betapa kecewanya aku. Sampai seluruh tanah dikeluarkan dari dalam pot, aku tak menemukan satu benda pun di dalamnya. Apalagi sebuah benda yang bernama Pohon Pedang Kayu, bahkan satu patahan ranting yang amat kecil pun tak ada. Hanya tanah. Benar-benar hanya tanah.

Buru-buru kumasukkan lagi tanah itu ke dalam pot. Kumasukkan tanah itu dengan seksama. Benar-benar dengam seksama. Sehingga pada pagi harinya pot itu sudah nangkring di tempat semula dengan penampilan yang menurutku tidak berubah dari hari-hari sebelumnya. Dan pagi itu aku bersiap menyambut tamu dengan satu rencana yang kuputuskan dengan bulat: aku akan jual pot itu, toh isinya hanya tanah.

Tapi tamu pertama yang datang tak tertarik denngan pot itu. Ia juga tak tertarik dengan cerita yang kukutip dari Kakek maupun kuputar ulang dari wejangan Shio. Kupikir, mungkin saja tamu itu tamu pertama dan satu-satunya yang memiliki kadar akal sehat yang begitu sempurna. Tapi aku salah. Tamu kedua, tamu ketiga, dan seluruh tamu yang datang ke tempatku sama sekali tak tertarik dengan pot itu. Jangankan mengamati, melirik pun tidak.

“Pot ini sudah ditawar 10 juta euro!” kataku kepada seorang tamu.

“Itu gila!”

“Bahkan ada yang mau tukar dengan hotel bintang lima di sebuah daratan di Eropa plus sejumlah pulau di Amerika!”

“Benar-benar gila! Apa tamu itu tak tahu pot ini hanya berisi tanah?”

Aku tiba-tiba ingin memeluk kaki Kakek dan minta maaf selama 100 turunan… [T]

Singaraja, Denpasar 2006

_____

Baca cerpen lain

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ilham Nuryadi Akbar | Doa di Tengah Hujan

Next Post

Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa

Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co