23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Agus Wiratama by Agus Wiratama
November 9, 2021
in Ulasan
Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Pertunjukan “Hal-19: Bali” oleh Kalanari Theatre Movement yang digelar di Art Center, Denpasar pada 1 November 2021,

Setelah pertunjukan “Hal-19: Bali” oleh Kalanari Theatre Movement yang digelar serangkaian Festival Seni Bali Jani di Taman Budaya, Art Center, Denpasar, 1 November 2021, saya sempat bertemu dengan Andika Ananda—salah satu aktor dalam pertunjukan ini—dan ia berkata, “Kuakui, Aktingku tadi buruk,” dan saya ingin segera menampar pipi sendiri. Ia bermain dengan luwes di atas panggung, tubuhnya yang menjadi modal penting seorang aktor tampak sudah bisa ia pegang, sebagaimana ihwal yang biasa dia katakan: “kita (aktor) harus sadar dengan tubuh”.

Tubuh adalah dualitas, ia adalah milik, sekaligus kita sendiri. Tetapi, sebisa mungkin aktor memiliki tubuh, berjarak dengannya—menyadari gerak tubuh keseharian sehingga ketika berada di panggung, aktor tidak gelagapan dengan ketiba-tibaan gerak tubuh yang terkodifikasi. Andika Ananda bermain dengan tubuhnya yang luwes, ritme jalan, gayungan tangan, roll, dan ekspresi dengan proyeksi penonton dalam panggung prosenium di Gedung Ksirarnawa.

Ia berperan seperti Joker, kadang keluar dengan balon terbang dengan tali terikat di leher—seolah ia adalah antagonis pulau Bali—kadang dengan sepeda, kadang sebagai guid, kadang sebagai moderator yang ngobrol dengan pelaku tamu: I Ngurah Suryawan. Tetapi, “Itu akting buruk,” katanya. Lambat laun saya sadar, jika saja akting Andika adalah akting yang jelek, maka banyak aktor yang aktingnya “jelek aja belum”.

Sebuah pertunjukan tentu tidak bisa mengandalkan satu tubuh aktor saja. Kekuatan pertunjukan mesti dirajut dari kemampuan masing-masing aktor dan harus diakui, aktor-aktor Kalanari bagaikan “pendekar yang turun gunung”. Saya ingat, ketika seseorang berkata bahwa aktor harus memiliki pegangan.

Dalam konteks ini, pegangan adalah semacam dasar pijakan aktor, bisa berupa tari, silat, atau hal-hal lain yang menjadi modal dalam bermain peran. Dan, rata-rata aktor Kalanari memiliki pegangan itu: tari, silat, dan sebagainya. Meskipun bentuk-bentuk pijakan itu tidak muncul secara mentah di atas panggung, tetapi tubuh adalah arsip pengalaman, termasuk pijakan itu yang telah ada di sana, sehingga aktor-aktor itu saya sebut “Para pendekar yang turun gunung”.

Pertunjukan “Hal-19: Bali” oleh Kalanari Theatre Movement serangkaian Festival Seni Bali Jani di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Bali, pada 1 November 2021 malam.

Pada adegan awal pertunjukan “Hal-19: Bali”, misalnya, para aktor tersebar di bangku penonton, lampu general menyala; tak ada fokus lampu, dan beberapa pemain mondar-madir dengan kostum warna-warni, ransel, sebatang daun palem, dan wajah yang telah dirias; beberapa di antaranya terlihat sedih, beberapa terlihat sedang bingung mencari sesuatu, dan semua penonton bisa memilih untuk melihat salah satu atau beberapa dari mereka—barangkali tenggelam pada impresi yang muncul dari gerak-gerik mereka. Meskipun lampu general menyala, kostum yang tidak lerlalu mencolok di antara kursi merah penonton, aktor tetap membuat penonton menjadi hening; atau mungkin penonton sedang menduga-duga persebaran para pemain, atau bertanya-tanya, apa yang para aktor itu akan lakukan.

Sepanjang pertunjukan, mereka tampil dengan gerakan yang tampak sederhana. Kesederhanaan gerak ini justru memperlihatkan tubuh para aktor, tubuh-tubuh itu seolah sedang berbicara suatu hal pada penonton. Katakanlah pada satu adegan, ketika para aktor berkumpul, berjalan dengan langkah kecil, dan seseorang dari kerumunan itu memegang perahu yang juga kecil—seolah mereka sedang berlayar dengan kecemasan, kepasrahan—hanya berjalan kecil! Berjalan kecil! Tapi mereka telah berbicara sesuatu dengan komposisi itu: raut wajah cemas, tangan memeluk beberapa barang, dan ransel dan bendera merah.

Simbol-simbol dalam “Hal-19: Bali”

Kesempatan ini adalah kali pertama saya menonton langsung pertunjukan Kalanari Theatre Movement. Pentas Kalanari kali ini digelar serangkaian Festival Bali Jani III 2021. Saya tidak ingin terbebani dengan tafsir. “Kita adalah memahami,” secara sederhana dan serampangan, saya menggunakan pemahaman itu dalam menonton pertunjukan Kalanari, saya melepas segala beban usaha untuk menafsir bentuk pertunjukan.

Pertunjukan “Hal-19: Bali” oleh Kalanari Theatre Movement serangkaian Festival Seni Bali Jani di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Bali, pada 1 November 2021 malam.

Beruntungnya, berbagai simbol yang hadir di panggung membuat saya bisa tetap relaks. Katakanlah pada satu bagian yang menjadi satu adegan paling menghanyutkan saya: para aktor mengambil apel dari ransel mereka, lalu apel digigit dan tangan para aktor pelahan melepas apel, lalu bergerak lembut seperti hendak terbang. Apel tetap menempel di mulut. Lampu biru dan musik sendu mengiringi adegan ini. Dan, saya tidak bisa pergi meski ada satu hal yang harus segera diselesaikan di toilet.

Hingga pertunjukan selesai, saya tak ingin menafsir adegan per adegan. Sialnya, kata Heidegger, kita adalah memahami, dan bukankah keterhanyutan pada adegan adalah satu bentuk “memahami”? Barangkali, simbol-simbol yang mereka tawarkan bisa dituntut lebih dari sekedar keindahan, keterenyuhan, kegetiran, dan segala ketegangan makna atas itu. Tetapi, saya seolah dihentikan untuk melanjutkannya (mungkin enggan?), sebab pertunjukan itu sendiri adalah simbol yang lebih besar: keindahan untuk membicarakan Bali dan hal-hal yang ditulis oleh penulis asing pada buku mereka di halaman 19.

Di satu sisi, beberapa penonton yang saya temui merasa ingin menangis. “Bagian mana?” tanya saya. Dalam hati, saya menduga, jangan-jangan bagian yang sama dengan yang saya alami. Dan, betul, ketika tokoh anak—diperankan oleh Sarinah—menangis ketika diajak merantau ke Kalimantan.

Dialog anak itu sungguh tidak realistis, ia ingin liburan, sebagaimana anak-anak pada umumnya yang ingin plesir, tetapi ketika orang tua (M. Dinu Imansyah sebagai ayah dan Mailani Sumelang sebagai ibu) mengatakan bahwa mereka akan ke Kalimantan untuk menetap di sana, si anak menolak, berbicara layaknya orang dewasa, dan entah apa yang bekerja, adegan itu begitu mengharukan. Anak itu tak mau meninggalkan rumah dengan alasan Merajan baru dibangun. Sulit rasanya menemui anak macam itu—tidak mau pergi lantaran permasalahan yang entah dipahaminya atau tidak—tetapi, tetap saja, air mata tangisan anak itu telah jatuh pada pipi penonton.

Perjudian dan “Hal-19: Bali”

“Hal-19: Bali” serupa perjudian, melihat Bali dari halaman 19 buku-buku yang ditulis oleh orang asing. Perjudian tentunya secara langsung menggandeng resiko: berhasil atau tidak, menang atau kalah.

Pertunjukan “Hal-19: Bali” oleh Kalanari Theatre Movement serangkaian Festival Seni Bali Jani di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Bali, pada 1 November 2021 malam.

Teks-teks dari halaman 19 yang acak itu sengaja tidak dijadikan sebagai narasi utuh, namun ditenun oleh sutradara, yaitu Ibed Surgana Yuga sebagai sebuah refleksi, kritik, introspeksi, serta perluasan pandangan ke ruang-ruang narasi yang membentuk Bali kini, sebagaimana realitas yang merupakan jejaring makna, dan Bali hari ini adalah salah satu titik yang terajut dari jalinan makna; atas peristiwa-peristiwa besar tersebut.

Usaha yang dilakukan Kalanari, seolah ingin menunjukan banyak Bali hari ini dibentuk dari berbagai hal yang pernah dialami. Meskipun, dalam pertunjukan ini disebutkan berbagai tahun-tahun yang menjadi titik penting dalam sejarah Bali, tetapi ada satu hal yang begitu melekat di kepala saya, yaitu perjudian yang dilakukan orang-orang Bali dalam mengikuti program pemerintah yaitu, transmigrasi, di mana sebagian penduduk Bali harus pergi dari tanah kelahiran, meninggalkan merajan, menggandeng kecemasan atau mungkin kesedihan akan nasib yang tidak pasti. [T]

Tags: baliFestival Seni Bali JaniKalanari Theatre MovementTeaterYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Galungan, Ayo Ngelawang Barong Lagi di Ubud

Next Post

Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co