24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
in Ulasan
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

Cassadaga | Foto: Istimewa

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil dari sebuah film thriller horor yang berjudul sama. Experimental Rock dipilih menjadi pondasi utama dalam eksplorasi musik-musik mereka.

Dengan formasi 4 personil mereka telah mengeluarkan beberapa karya, di antaranya; single berjudul “Black a Man” dan “Stuck In The Wrong Job” pada tahun 2016 silam. Berselang setahun kemudian, pada tahun 2017 mereka kembali merilis sebuah single berjudul “B.L.U.R (Believe Live Is UR’s). Kemudian berlanjut mengeluarkan mini album atau EP bertajuk “Human Stare”, yang diproduksi secara mandiri dan pada momentum ini pula Cassadaga mengadakan “Human Stare Java Tour” tahun 2017 yang digelar di tiga kota Pulau Jawa (Malang, Bandung dan Jakarta).

Tahun 2018 menjadi tahun yang menarik bagi Cassadaga karena pada momen itu mereka mendapat kesempatan melakukan kolaborasi lintas disiplin seni bersama Teater Kalangan dan seniman visual Swoofone, yang dipentaskan di pagelaran ARTJOG (Yogyakarta).

Dari perjalanan panjang selama 2014, akhirnya pada tahun 2019 Cassadaga mulai merekam lagu demi lagu untuk album pertama mereka dengan judul “R.E.D” secara mandiri melakukan home recording. Proses recording ini bisa dikatakan cukup menarik bagi Cassadaga, karena mereka juga memanfaatkan ruang dengan memposisikan alat untuk mendapatkan karakter sound. Kemudian seiring waktu berjalannya perancangan album, saat ini Cassadaga menjadi tiga personil; Arya Oka pada vocal dan gitar, Artha Yoga pada bass, dan Angga Surya pada drum.

Di penghujung bulan Juni 2022, tepatnya tanggal 30 Juni 2022, Cassadaga resmi merilis album pertama yang bertajuk “R.E.D” (Rebirth End Death) dengan format CD, melalui Skullism Records. Album ini merupakan penantian panjang dari proses yang panjang oleh Cassadaga. Mulai dari proses rekaman yang dilakukan secara mandiri (di rumah salah satu personil), dengan alat-alat seadanya dan beberapa eksperimen tata cara perekaman instrument. Hingga penggarapan sampul album yang dilakukan sendiri pula, bermain dengan kain dan eksperimen pewarnaan yang menghasilkan pola-pola pada sampul album yang berbeda antar sampul satu dengan lainnya. Proses pembuatan komposisi dari setiap lagu yang banyak terpengaruh dari band-band modern dan juga nuansa-nuansa musik lokal Bali yang diadaptasikan pada instrumen modern.

Kurang lebih begitu pengenalan singkat yang bisa saya sampaikan untuk mengenal Cassadaga pada permukaan. Mereka berproses kreatif pada ruang yang menarik untuk dibicarakan lebih dalam dan sangat menarik juga untuk didiskusikan. Apalagi bila kita berangkat dari wacana album mereka. Pada ruang tempat mereka tumbuh, arus modernisasi begitu kencang. Denpasar bisa menjadi sebuah tiang utama untuk segala macam aspek untuk mengukur bagaimana Bali secara keseluruhan berkembang. Yang akhirnya secara tidak langsung Denpasar juga menjadi kiblat bagaimana musik “modern” berkembang, naif jika saya misalnya orang yang berdiam dan tinggal di Singaraja mengatakan menutup mata dan telinga bahwa refrensi musik saya murni datang dari wahyu tuhan. Pasti ada pengaruh sosial dan budaya yang berperan dalam perjalanan mengenal musik. Pun demikian jika kasus itu kita pinjam untuk membongkar bagaimana Cassadaga mengutarakan keresahannya ke dalam bentuk album “R.E.D.”.

REIM Space dan Upaya-upaya Membangun Ekosistem Bermusik di Kota Singaraja | Ekosistem Seperti Apa?

“R.E.D (Rebirth . End . Death) adalah judul yang diambil untuk album ini, lagu-lagu pada album ini menceritakan imajinasi para personil Cassadaga tentang Kelahiran Kembali (Reinkarnasi), akhir dari kehidupan, dan kematian, dengan segala pengaruh-pengaruh hal yang mempengaruhi imajinasi tersebut, tentunya pengaruh dasar berasal dari lingkungan religius dan budaya yang kental di Bali.

Pada trek pertama (B.L.U.R) menceritakan tentang kepercayaan diri sebagai seorang manusia ditengah segala macam pergelutan dunia ini yang memiliki banyak sudut pandang, Kemudian kita dibenturkan akan dualisme, perspektif, yang banyak ada pada dunia ini (Welcome to another perception), dapat dikatakan 2 trek ini merupakan prolog dari album.

Pada lagu ketiga megambil topik yang paling penting dari kehidupan kita yakni waktu (All about the time – Kala), di mana seluruh mahkluk di dunia ini memiliki waktunya sendiri dan bagaimana pandangan kita tentang pemanfaatan waktu tersebut.

Juga trek keempat ini berimajinasi tentang akhir dari hidup di dunia ini, dimana kematian menjemput. Sebelum menuju akhir dari proses ini kita akan diingatkan tentang apa yang telah kita lakukan, dan kemudian berlanjut untuk menuju akhir (Wasana) yakni, penebusan dosa (Prayascitta) dengan segala bentuk penebusan yang muncul dalam imaji, dan tak lepas juga dari pengaruh-pengaruh lingkungan.

Namun itu bukan merupakan akhir, karena pada lingkungan di Bali percaya roh dari makhluk yang telah mati akan terlahir kembali, hal ini juga selaras dengan kepercayaan tentang sifat-sifat atma (Roh) di Bali, roh juga merupakan bagian kecil dari alam semesta ini (Bhuvana I).

Kemudian kita akan dihadapkan pada sebuah tirai yang membatasi tahap sebelumnya dan tahap berikutnya (reinkarnasi), kita sudah melalui seluruh alam semesta ini, mulai dari alam nyata dunia ini dan alam setelah kematian (Bhuvana II).

Trek terakhir (Aksara) yang juga memiliki arti tak termusnahkan merupakan epilog dari album ini, menurut kepercayaan akan reinkarnasi (Rebirth) akan selalu berputar dengan siklus yang tak terhentikan.” Begitu mereka menyampaikan gagasan dan wacananya dalam pers rilis yang mereka tuliskan.

Foto: Album R.E.D, Cassadaga

Sebuah keistimewaan tentunya dapat membaca bagaimana musik mereka hadir bukan hanya sebagai hal pengisi waktu luang, tapi ada pola berpikir dan imajiner yang sedang berusaha mereka ciptakan. Dan kemudian mencoba mencari benang merah untuk mereka kaitkan dalam kehidupan sehari-hari dengan apa yang mereka ciptakan, meski terkesan album ini begitu “ketuhanan” sekali tapi patut juga disimak ada apa di balik wacana mereka. Karena saya yang juga memiliki keberjarakan dengan tradisi dan kepercayaan orang hindu Bali, tentu ingin mengetahui lebih bagaimana upaya Cassadaga dalam menyampaikan isi dari album mereka agar menjadi mudah dimengerti.

Sepertinya Cassadaga juga perlu membaca ulang bagaimana ketika karya-karya mereka sampai pada telinga pendengar mereka yang awam dan bahkan asing terhadap pengetahuan keyakinan tradisi Bali. Karena wacana yang mereka bawakan begitu tinggi untuk dibumikan, susah dicerna oleh orang yang sudah memiliki tradisi berpikir oleh lingkungan di luar konteks Bali. Maka penyampaian lain seperti media tulis atau visual sangat berperan penting dalam menolong mereka memperkuat wacana pada album “R.E.D.”.

Saya sempat mengobrol dengan salah satu personil Cassadaga dalam sebuah acara musik yang kebetulan mereka juga ikut meramaikan acara tersebut. Paska acara sedikit iseng mempertanyakan pemilihan judul album, sekilas jika kita artikan “RED” dalam bahasa Inggris berarti merah. Iseng saya bertanya, apakah ada korelasinya antara album ini dengan warna?

Ternyata iya, salah satu personil itu menyampaikan bahwa pemilihan warna merah pun menjadi penguat wacana “ketuhanan” yang mereka angkat. Karena dalam kepercayaan Bali, ada beberapa warna yang dianggap warna “religius”. Seperti warna; merah, putih dan hitam.

Dalam kepercayaan Bali, itu disebut warna Tri Datu kadang digunakan menjadi gelang. Warna itu juga sebagai sebuah simbolik untuk menggambarkan konsep Tri Murti atau kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) sebutan tuhan dalam agama hindu; Dewa Brahma (pencipta) dilambangkan dengan warna merah, Dewa Wisnu (pemelihara) dilambangkan dengan warna hitam, dan Dewa Siwa (pelebur) dilambangkan dengan warna putih.

Saya tidak begitu paham secara keseluruhan bagaimana konsep itu, mohon dikoreksi jika ada kesalahan. Tapi menariknya adalah ada ruang Cassadaga menemukan penguat wacananya. Bagaimana kenyataan itu mereka pinjam untuk menggambarkan isi dari keseluruhan albumnya, bagaimana warna itu mereka pilih kemudian diberi makna lain.

Membaca Rollfast | Ruang yang Abu-Abu pada Operasi;sen(sar)

Ketika saya mengobrol dengan salah satu personilnya, dia juga menyampaikan bahwa judul album memang “R.E.D” sengaja dipilih untuk menguatkan wacananya. Pun dengan performatifitas mereka ketika pentas di atas panggung, Cassadaga memiliki ciri khas yaitu selalu memasang tiga kain berukuran 1,5 meter berbentuk persegi dengan warna merah, putih dan hitam.

Kain itu selalu ditebar di ruang mereka pentas sebagai sebuah simbolik ketuhanan sekaligus karakteristik dalam perform mereka. Mereka selalu memasangnya berubah-ubah, sesuai tempat di mana mereka pentas dan arah mata angin dengan panggung seperti apa. Karena dalam kepercayaan orang hindu, bahwa tiap Dewa memiliki arah mata angin dan warnanya tersendiri. Itu menjadi point lebih membuat mereka untuk menarik untuk disaksikan secara langsung.

Balik pada album mereka, bagi saya pemilihan judul “R.E.D” secara tidak langsung memberi makna yang multitafsir. Bisa diartikan sesuai singkatan yang mereka pilih atau bisa jadi orang menafsirkan sebagai warna merah. Atau mereka memang memilih hal tersebut sama-sama memiliki peran dalam album ini.

Jika benar mereka memilih judul album ini dengan dua makna yang saling berkaitan, maka ini akan menjadi diskusi yang sangat lebar. Album ini bisa menjadi pijakan berangkat untuk Cassadaga bagaimana mengeksplorasi karya mereka ke depan. Bagaimana selanjutnya membaca ulang makna dalam warna lainnya seperti; hitam, putih, kuning atau bahkan pink dalam realitas kehidupan mereka sebagai orang Bali.

Karena hal-hal tradisi tersebut juga begitu dekat dengan tiap personilnya, bagaimana dalam realitasnya sehari-hari selalu melakukan sembahyang atau upacara agama lainnya yang kerap selalu mengggunakan simbolik dan banyak warna.

Bali begitu kental dengan tradisi dan budayanya, tapi bagi teman-teman Cassadaga yang sedang berada pada era globalisasi yang begitu kencang pasti memiliki pertanyaan dan pernyataan soal bagaimana tradisi dan modern berjalan berdampingan. Seperti teman-teman musisi muda di Bali selalu ada cara dalam menyampaikan hal begitu religious untuk dibumikan kembali. Hanya saja hal tersebut memang lumayan sensitif jika tidak dengan pengetahuan pembacaan yang luas dan penyampaian yang matang. Harus ada pertanggung jawaban dan latar belakang yang kuat.

Karena seperti yang saya pikirkan sejauh ini, musik yang diciptakan Cassadaga diselamatkan oleh simbol warna yang mereka pilih. Bagaimana kemudian jika semisalnya pendengar mereka adalah seorang yang buta warna? Orang yang susah dalam membedakan warna, lantas bagaimana Cassadaga menyiasati hal tersebut? Adakah media lain untuk memperkuat wacana-wacana karya mereka selanjutnya?

Karena dalam pembacaan saya, warna memiliki sifat, karakteristik, emosi dan latar belakang yang berbeda. Saya sempat membaca artikel tentang warna dan kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata warna memiliki peran yang sangat penting untuk menggambarkan sesuatu kejadian, bisa menjadi berbagai macam simbolik. Warna juga menjadi salah satu simbolik sifat chakra dalam tubuh manusia.

Bahkan warna berkembang begitu banyak dalam tiap suatu budaya masyarakat. Sesederhana hal yang saya temukan adalah misalnya warna “hijau tentara”, di mata masyarakat Indonesia mungkin saja kita sepakat hijau tentara yang dimaksud adalah hijau gelap mirip seperti lumut di pinggir sungai. Tapi bagaimana jika misal warna “hijau tentara” itu dipakai misalnya di negara Amerika? Menjadi apakah dia?

Hal-hal itu yang kemudian saya tangkap untuk mengulas album “R.E.D” karya teman-teman Cassadaga. Bahwa warna yang disepakati dalam kehidupan tiap masyarakat itu memiliki latar belakang sosial, politik dan budaya yang begitu kompleks.

Mendengar “Haunted Psycho Notes” dari Kanekuro | Dari Kesehatan Mental ke Kesehatan yang Lain

Maka menjadi pertanyaan besar untuk teman-teman Cassadaga, berada pada ruang yang mana album ini berdiri. Sebab jika dibaca ulang, tidak ada makna yang kuat untuk pendengar ambil sebagai titik terang karya ini. Jika membicarakan lirik sebagai teks yang berdiri sendiri, mungkin harus ada pula yang menceritakan tiap proses kehidupan dari lahir sampai reinkarnasi versi kepercayaan hindu Bali.

Atau membicarakan dari segi musik yang mereka coba utrakan lewat dua silang budaya modern dan nuansa musik tradisi Bali yang kuat? Saya rasa itu juga tidak begitu kuat, sebab tidak ada elemen atau alat musik yang menunjukan bahwa itu “Bali banget”.

Album ini seolah berdiri pada ruang yang begitu banyak memiliki pintu, atau bisa jadi album ini juga bisa dipakai sebagai alat untuk mengiris ulang lapisan soal proses hidup dan mati hingga lahir kambali orang Bali. Tapi sekilas jika kita dengarkan tiap lagu dalam album, nuansa Bali-nya memang bisa dirasakan dari melodi yang begitu dekat saya dengar dalam keseharian tradisi musik gambelan Bali. Atau nada-nada pengulangan seperti lagu yang berjudul “Aksara” dalam album ini, hampir sama rasanya ketika saya mendengar musik tradisi yang digunakan untuk upacara keagamaan di Bali.

Maka menarik dinantikan apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Cassadaga? Apakah menjadikan album “R.E.D” sebuah laboraturium untuk membaca ulang bagaimana warna berperan dalam kehidupan masyarakat khusunya Bali. Atau mengambil sikap bahwa hal tersebut hanya kebetulan, dan makna sebenarnya album “R.E.D” ini adalah “Reinkarnasi” dan akan berkutat pada proses hidup dan mati kepercayaan hindu Bali. Atau tetap akan membawa dan menjadikan “R.E.D” sebagai makna multitafsir yang sama-sama kuat?

Tulisan ini-pun, tidak akan memberikan makna atau garis yang tebal untuk kita sepakati bersama menyoal wacana yang telah diutarakan oleh Cassadaga. Tapi satu yang ingin saya sampaikan sebelum tulisan ini saya tutup, “Beli nae kaset mereka, biar makin rajin ngeband wkwk”. Salam! [T]

Tags: balimusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Next Post

Diikuti 76 Regu, Peserta Lomba Gerak Jalan SD Dilepas Wabup Sutjidra

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails

Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

by Dewa Purwita Sukahet
June 25, 2022
0
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog”  | Catatan Lomba  Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

Dua orang dari 22 peserta lomba melukis Wayang Klasik di Kalangan Ayodya, areal Taman Werdhi Budaya Art Centre, Bali di...

Read moreDetails
Next Post
Diikuti 76 Regu, Peserta Lomba Gerak Jalan SD Dilepas Wabup Sutjidra

Diikuti 76 Regu, Peserta Lomba Gerak Jalan SD Dilepas Wabup Sutjidra

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co