2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

REIM Space dan Upaya-upaya Membangun Ekosistem Bermusik di Kota Singaraja | Ekosistem Seperti Apa?

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
March 10, 2022
in Khas
REIM Space dan Upaya-upaya Membangun Ekosistem Bermusik di Kota Singaraja | Ekosistem Seperti Apa?

Acara launching video musik yang digarap oleh “REIM Space” di Homebro Coffee Bar, Singaraja. [Foto-foto: Ardha Premana]

Selasa 8 Maret 2022 ada acara launching video musik yang digarap oleh “REIM Space” di Homebro Coffee Bar, Singaraja.  Acara itu bertajuk “Break”.

REIM membangun agenda acaranya dengan dinamis, tidak hanya sekadar launching dan pemutaran musik video semata. Setelah menonton musik video secara bersama-sama, acara dilanjutkan dengan talkshow tentang video musik “Break”.

Ada pula showcase dari REIM Space. Acara berjalan begitu intim. Saya sangat beruntung ada di tempat itu.

REIM Space merupakan sebuah wadah atau ruang berbasis komunitas. Komunitas ini terbentuk atas dasar rasa peduli dari Kadek Agus Sutika Utama Putra terhadap minat bermusik dalam kalangan muda-mudi di kota Singaraja.

Kadek Agus bisa disebut sebagai salah satu founder dari REIM Space.  Bagi dia, berdirinya REIM Space ini bertujuan untuk membentuk kesadaran dasar dalam membangun ekosistem bermusik terutama di kota Singaraja.

Foto-foto oleh Ardha Premana

Ketika menyaksikan bersama musik video yang digarap oleh teman-teman REIM, saya sebagai penikmat musik , meski penikmat yang begitu awam, tentu  sangat menikmati tontonan itu.

Saya melihat bagaimana setiap detik bagian demi bagian video musik yang digarap full set hanya dalam satu gedung dengan lampu warna itu. Tidak ada adegan di luar ruangan, hanya satu ruang yang mereka maksimalkan kegunaannya.

Dengan alunan musik yang tidak begitu menghentak ala rock alternatife dan alunan lirik rap/hip-hop, ini adalah salah satu musik yang begitu segar untuk diperbincangkan atau sekalipun diperdebatkan dalam ranah musik hari ini.

“Break”, bagi mereka adalah sebuah prosess beristirahat sejenak tidaklah sebuah kesalahan, tapi saya percaya bahwa kita memiliki tafsir berbeda-beda tentang istirahat.

Tapi yang menarik adalah bagaimana obrolan-obrolan yang terjadi paska menyaksikan bersama musik video tersebut. Pada sesi talkshow, ada enam pembicara dari teman-teman REIM. Mereka adalah  Kadek Agus Sutika Utama Putra, Rizal a.k.a Murai Rustle, Agus Putra Wijaya, Gilang Ramadhan, Nova Ariana dan Satya Dharma. Serta ada teman-teman REIM Space lainnya dan kawan-kawan di luar komunitas yang hadir.

Pada sesi talkshow saya banyak menangkap kenyataan bahwa REIM diciptakan bukan hanya sebagai sebuah komunitas, tapi jauh lebih dalam lagi. REIM merupakan sebuah ruang tumbuh dan menjadi tukar tangkap gagasan lintas generasi. Bagaimana senioritas tidak hanya kita anggap sebagai sebuah sikap eksploitatif terhadap yang lebih junior.

Foto-foto oleh Ardha Premana

Dalam ruang lingkup REIM, lintas generasi adalah salah satu landasan utama dalam pergerakan mereka sebab titik utama mereka bergerak adalah mencari muda-mudi yang ingin menancapkan tombak di kesenian. Entah kesenian apapun itu. Termasuk misalnya menulis, bermusik, video visual atapun audio.

REIM berusaha mencari bibit-bibit muda untuk terus bersemangat menghidupkan REIM yang nantinya bisa berdampak keluar komunitas termasuk untuk daerahnya sendiri. Begitu kira-kira harapan besarnya.

Tapi pada kenyataannya tentu jalan setapak membangun ekosistem kreatif tidak semudah itu, ada banyak terjal ketika jalan itu dibentangkan. Termasuk dalam menafsirkan makna ekosistem ketika bermusik. 

Bagi saya menciptakan sebuah ekosistem begitu banyak perangkat yang mesti disambungkan satu sama lainnya. Misalnya pendidikan bermusik, produksi musik, cara penjualan musik, penciptaan ide dan gagasan bermusik termasuk yang paling krusial adalah arsip dan dokumentasi musik.

Foto-foto oleh Ardha Premana

Bagi saya ada banyak hal yang mesti dibangun ketika membicarakan ekosistem, tapi REIM sangat menyederhanakan bahwa sebenarnya yang ingin dibangun dalam sebuah kerja ekosistem yang mereka maksud adalah membangun dan memperbanyak SDM yang memperkuat industri kreatif di daerah tempat mereka tumbuh.

Talkshow berjalan begitu sederhana, tidak ada obrolan-obrolan yang berat untuk ditangkap dan dicerna. Termasuk misalnya cerita di balik proses tiap teman-teman yang ikut dalam penggarapan musik video “Break” tersebut.

 Ternyata banyak cerita unik selama proses, bagaimana ketika banyak anak muda yang ikut serta di dalamnya dengan energi yang begitu besar. Banyak ide-ide yang bermunculan, tapi Kadek Agus sebagai founder dapat mengambil langkah tepat untuk menyusun ide-ide mereka menjadi satu karya.

Meski begitu, tetap masih banyak kendala yang didapati oleh komunitas kecil, yang masih tertatih-tatih membangun komunitasnya.  Misalnya, betapa susahnya mengakses kebutuhan untuk penggarapan. Dengan keuangan yang tidak begitu besar maka mereka mengambil banyak upaya lain untuk menambal ketidakmasimalan, misalnya menggunakan akses pertemanan. Banyak alat dan teman di luar komunitas yang membantu mereka dalam proses editing misalnya.

Talkshow mengalir begitu searah. Meskipun tidak ada sesi tanya jawab, saya merasa cukup dengan karya yang dibuat dengan obrolan yang santai. Tapi salah satu teman-teman yang datang bernama Kardian Narayana atau yang biasa akrab dipanggil Cotecx, memaparkan kembali bagaimana ekosistem itu ketika ingin dibangun.

Cotecx mempertanyakan ulang ekosistem manakah yang ingin dibangun? Apakah ekosistem untuk pertumbuhan komunitas dan anggotanya? Atau ekosistem musik sebagai sebuah industri kreatif?

Meskipun banyak pertanyaan-pertanyaan yang saya rasa mengganjal di pikiran saya dan teman-teman yang lain. Tapi pertanyaan dan keresahan-keresahan itu bisa saya tanyakan kembali setelah talkshow itu selesai.

Foto-foto oleh Ardha Premana

Setelah talkshow saya banyak berbincang dengan Kadek Agus selagu founder REIM, bahwa REIM adalah sebuah komunitas regenerasi yang banyak anggota datang begitu saja dan pergi begitu saja. Mereka mendapati seleksi alamnya masing-masing, kemudian mereka yang masih bertahan melakukan dan membangun REIM secara bersamaan.

Meskipun misalnya Kadek Agus sadar bahwa masalah-masalah di daerah Singaraja juga cukup kompleks, terutama ketika membicarakan sebuah industri kreatif di ranah musik. Apalagi misalnya ada isu bahwa mereka yang sudah jadi-lah yang bisa menduduki panggung unjuk karya, dan akhirnya mereka yang muda-muda keburu putus asa sebelum ingin mencoba membuat garapan music.

Karena saya tumbuh berkesenian di Denpasar, saya tidak merasakan hal itu. Karena di Denpasar begitu banyak ruang bebas akses yang bisa kita jadikan sebagai ruang persentasi karya, meskipun misalnya karya yang dibuat begitu eksperimental.

Saya baru menyadari bahwa ruang persentasi di Singaraja memang cukup minim. Dan juga bagaimana setiap komunitas yang ada itu belum saling mengenal dekat. Masih ada cara berpikir bahwa misalnya komunitas literasi tidak ada korelasinya dengan komunitas musik, atau lain sebagainya.

Foto-foto oleh Ardha Premana

Banyak hal yang dibicarakan di luar talkshow dan lebih cair, karena saya rasa kami memiliki keresahan yang sama dengan teman-teman REIM meskipun latar belakang saya berbeda. Misal saya yang tumbuh dari komunitas teater, Bli Cotecx yang bergerak di bidang perfilman.

Ada banyak kemungkinan sebenarnya ketika kita bertemu dan membicarakan tentang ekosistem kreatif di Singaraja. Ya, tapi begitu, kita perlu antusias dan semangat yang lebih ketimbang di kota besar seperti di Denpasar.

 Jika di Denpasar kita kebingungan untuk menghadiri acara kesenian yang mana. Di Singaraja justru terbalik, di mana ada kesenian? Pertanyaan itu mungkin bisa jadi pemicu dan kenyataan yang pahit sebagai orang yang biasa hidup dalam hiruk pikuk keramaian kesenian. Alih-alih ingin membesarkan diri, sedangkan ruangnya saja tidak ada.

Saya rasa PR kita bersama adalah bukan membuat karya yang bagus, tapi membuat acara yang banyak dan semakin berkualitas. Bukan yang hanya gradak-gruduk kemudian selesai.[T]

Tags: industri kreatifkomunitaskreatifitasmusikSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satu Per Satu Tempat Isoter Ditutup, Setiap Hari Vaksin Digencarkan

Next Post

Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera

Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co