26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Agus Eka Cahyadi by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
in Ulasan
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Karya patung Gusti Ngurah Udianata

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan sebatang kayu dan berniat mendapatkan dua buah patung dari sebatang kayu nangka itu. Namun di tangan I Tegalan kayu itu hanya mewujud menjadi satu patung, sesosok bidadari anggun dengan proporsi tubuh ramping dan memanjang mengikuti sulur kayu (Stutterheim, 1934 dalam Rhodius & Darling, 1980: 67). Satu kisah yang penting dalam menyingkap keistimewaan tradisi Seni Patung di Bali.

Jejak Seni Patung di Bali, tersebar menghiasi setiap sudut, relung dan ruang yang ada. Dapat dijumpai di tengah goa, di atas bukit, di bawah rindangnya pohon tua maupun diantara keramaian lalu lintas kota.

Sarkofagus, nekara Pejeng, patung Bethara Pancering Jagat di Trunyan, arca-arca perwujudan di Pura Tegeh Kahuripan maupun Goa Gajah, serta arca atau pratima kayu di banyak tempat suci dan Pura yang disakralkan dan disungsung masyarakat menunjukkan kandungan spirit Seni Patung Bali yang tidak lekang oleh jaman.

Patung ogoh-ogoh berbahan anyaman bambu yang selalu hadir memeriahkan Hari Pengerupukan maupun patung monumental berbahan semen yang terlihat semakin ramai tumbuh menghiasi ruang publik, serta patung perunggu Garuda Wisnu Kencana karya I Nyoman Nuarta berdiri gagah menunjukkan dinamika yang terus bergulir.

Seni Patung Bali melaju dengan gerak dinamis, seirama dengan laju peradaban. Kehadirannya mampu memaknai ruang-ruang sakral maupun memeriahkan ruang-ruang sekuler.

Foto bersama para seniman patung SDI, Tonyraka Gallery dan Rektor ISI Denpasar saat pembukaan pameran.

Seni Patung hadir dengan semarak di tengah-tengah masyarakat Bali, namun perhatian dan literasi terhadapnya cenderung kurang. Hal ini terasa kuat dalam perbincangan di ranah seni modern. Ulasan terhadap Seni Patung sangat terbatas, apalagi jika disandingkan dengan keriuhan pewacanaan terhadap Seni Lukis. Keberadaannya sering dianggap berada di bawah bayang-bayang Seni Lukis. Kesempatan tampil dalam ruang-ruang pameran masih sangat terbatas, serta proses penciptaan karya patung yang komplek, turut mewarnai laju Seni Patung yang terasa tersendat-sendat dalam wacana seni modern di Bali.

Sanggar Dewata Indonesia (SDI) sebagai lokomotif pergerakan seni modern di Indonesia, kini mencoba menyediakan ruang khusus terhadap Seni Patung. Memberikan kesempatan kepada potensi-potensi yang ada untuk mengemuka, menguat serta menjalin kembali kemasyuran Seni Patung Bali melalui serangkaian kegiatan pameran.

Pameran perdana (khusus) Seni Patung ini mengambil tajuk “sekala-skala”, yang merujuk pada upaya penyingkapan, pengungkapan (sekala) seniman dan kecendrungan karya patung yang ada, serta usaha untuk melakukan pencatatan dan pengukuran (skala) terhadap geliat Seni Patung yang ada SDI.

Pameran ini dimaksudkan sebagai pemantik untuk meniupkan spirit yang ada agar kembali bergetar, menyala dan berkobar menggairahkan pewacanaan dalam semesta Seni Patung modern Bali dan Indonesia.

Spirit modernitas Seni Patung Bali tidak lepas dari semangat pembaharuan yang giat terjadi pada masa Pita Maha yang mencatatkan nama-nama maesto Seni Patung modern Bali seperti Cokot, Nyana, Pendet, Tilem, dll. (Adnyana, 2018: 170). Memunculkan mazhab Seni Patung modern di pedesaan seperti, Ubud, Nyuh Kuning, Mas, Blahbatuh, Tegalalang, Sukawati, dll. Modal tradisi yang kental bercumbu dengan atmosfer modern yang dinamis melahirkan ragam keistimewaan Seni Patung pada masa itu.

Hal itu juga tampak terasa terjadi pada geliat Seni Patung dalam tubuh SDI. Merupakan buah dari pergumulan yang mesra, spirit Bali yang ada dalam diri seniman, dengan konsep-konsep anyar yang diperoleh dalam lingkungan akademik (STSRI “ASRI” / ISI Yogyakarta), maupun dalam iklim intern dan ekstern SDI (Bakti Wiyasa, 2013: 53-55). Berbekal jiwa tradisi Bali, dan menempa diri dalam nuansa akademik seni modern, meretaskan pamor Seni Patung yang dinamik dalam tubuh SDI.

Pada kesempatan kali ini, SDI memberikan ruang khusus kepada seniman patung untuk menunjukkan diri dengan ragam karya mereka. Para anggota SDI yang disertakan dalam pameran ini merupakan mereka yang secara akademis memang memilih dan berkecimpung dibidang Seni Patung. Mereka terdiri dari seniman-seniman patung lintas generasi, dari angkatan 80an, 90an, dan 2000an.

Foto: Karya patung I Wayan Gawiartha

Generasi awal para seniman patung SDI, menampakkan kecendrungan, keasyikan menggunakan bahan kayu dan menerapkan teknik pahat. Eksotika dan kemagisan kayu yang demikian kuat dalam tradisi Bali, menghadirkan pengaruh dan energi yang dominan, mendorong lahirnya bentuk-bentuk patung berbahan kayu yang dipresentasikan secara modern. Eksplorasi dan inovasi yang menjadi spirit modernitas, memacu lahirnya karya-karya individu yang berkepribadian.

Karya I Made Cangker dan I Made Supartha, mencoba menawarkan langgam baru dalam Seni Patung modern Bali. Karya I Made Cangker menampakkan persentuhan dengan nuansa suryalisme, menghadirkan suatu susunan bentuk-bentuk geometri, yang mengarahkan benak membayangkan wujud figur-figur abstrak, imajinatif dan mistik.

I Made Supartha menghadirkan karya patung dengan langgam naratif, dikerjakan dengan teknik pahat yang cakap, terwujud atas susunan sejumlah figur yang saling bertalian, berinteraksi menggambarkan suatu kondisi atau adegan dari suatu kisah cerita. Seni bercerita sebagai tradisi tua yang menjiwai kesenian di Bali, oleh I Made Supartha dihadirkan kembali melalui karya patung modern.

I Wayan Suardana “Tulu” tampak membebaskan imajinasinya untuk menyelami potensi rupa yang terkandung dari material kayu. Dia menghasilkan karya yang bertumpu dari alunan energi alam yang tergurat dalam alur material kayu, dan diramu dengan sangat piawai melalui sejumlah sentuhan ornamen yang dipahat untuk memunculkan imaji terpendam.

I Ketut Selamet tampak menikmati penyusunan komposisi yang menyandingkan bidang halus dan berstektur. Kekontrasan ini menjadi komposisi yang saling melengkapi antara objek atau figur dengan guratan-guratan garis repetitif, yang menimbulkan kesan gelombang bergerak atau arus yang mengikat dan membelenggu.

Kekaguman terhadap karakter bahan kayu terus mengalir mewarnai karya-karya di setiap generasi SDI. Mereka menghadirkan karya-karya yang berpijak pada sensibilitas terhadap kandungan pamor dan bentuk alami bahan. Tradisi ini menjadi satu keistimewaan dari Seni Patung modern Bali.

Pande Wayan Mataram menampilkan karya patung yang mencoba melampaui karakter material kayu. Kayu yang terkesan kaku dan datar, dihadirkan dengan bentuk-bentuk geometri yang mencitrakan kesan lentur, lembut atau runcing, dipadukan dengan penampakan sosok atau figur yang merepresentasikan imaji.

Wayan Sukanada menghadirkan karya patung berbahan kayu yang dipadukan dengan sistem mekanis robot. Objek-objek alami yang dipresentasikan dalam karya patungnya menampilkan ekspresi yang seolah-olah ditata melalui suatu struktur mekanis.

Eksplorasi terhadap bahan tampak semakin menguat pada generasi selanjutnya. Bahan resin dan logam menjadi pilihan bahan yang moderat, mampu diolah dalam berbagai capaian rupa yang diinginkan. I Made Sucara cukup menikmati berkreasi dengan bahan ini, melahirkan karya-karya dengan kecendrungan realis dan detail yang tinggi.

I Wayan Upadana menawarkan warna yang lebih variatif dalam geliat Seni Patung modern dalam tubuh SDI. Bahan resin yang cukup pleksibel mengantarnya pada penjelajahan rupa yang tidak terbatas. Karya Upadana, mempertemukan aneka simbol-simbol dan idiom-idiom rupa klasik, modern dan popular dalam suatu konfigurasi yang khas, menggugah dan kritis.

Gusti Ngurah Udianata yang pada awalnya berangkat dari tradisi pahatan kayu, kemudian menemukan keasyikan bergelut dengan anyaman bambu. Tradisi menganyam yang begitu lekat dengan keseharian masyarakat Bali, di mata Udianata tampak begitu potensial untuk dikembangkan dan diterapkan untuk melahirkan karya patung modern. Karya-karyanya memperlihatkan kemegahan melalui kerumitan anyaman dan capaian detail yang mengesankan.

I Wayan Gawiartha tampil dengan gaya presentasi patung yang sangat khas. Menjelajahi aneka bahan yang tidak biasa, seperti karung goni, kain perca, benang hingga tali diolah, dijahit, dirajut menjadi ragam mode busana dan dibekukan dalam gerak dan gestur yang ekspresif. Karyanya menyiratkan nuansa kontemplatif.

I Made Gde Putra, gemar bereksplorasi dengan beragam material. Kayu, logam, karet, kertas, plastik, adalah medium yang memacu gairah untuk berkarya. Patungnya tampil memikat, melalui pemahaman terhadap karakter serta keunggulan artistik bahan yang digunakan. Pilihan terhadap jenis bahan dihadirkan juga untuk menyokong dan menguatkan konsep dan impresi yang ingin diungkapkan.

Foto: Karya patung Gusti Ngurah Udianata

Tradisi Seni Patung di Bali telah membentang jauh, terpaut indah dengan nuansa jaman. Semuanya tersaji berdampingan, bersanding menyemaikan ragam keistimewaan, mengalirkan energi kreativitas yang tak terhingga. Setiap masa mengalirkan kecendrungan karya yang beragam. Hal ini juga terekam melalui geliat Seni Patung dalam tubuh SDI.

Setiap generasi dan seniman menghadirkan presentasi, kecendrungan dan daya pikat yang berbeda, namun jika didalami terasa ada satu alunan jiwa yang bertalian. Seperti alunan kisah I Tegalan kala bertemu dengan Walter Spies, melantunkan tembang rupa sederhana namun mengumandangkan kekokohan jiwa dan spirit yang dinamis, mengalir menggeliat dalam aneka haluan jaman. [T]

Pustaka:

  • Adnyana, I Wayan. 2018. Pita Maha: Gerakan Sosial Seni Lukis Bali Tahun 1930-an. Jakarta: KPG.
  • Bakti Wiyasa, I Made. 2013. “43 Tahun Sanggar Dewata Indonesia Menembus Generasi”, dalam I Gede Arya Sucitra, ed. Narasi Sanggar Dewata Indonesia. Yogyakarta: Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta.
  • Rhodius, Hans, & John Darling. 1980. Walter Spies and Balinese Art. Amsterdam: Tropical Museum.
Tags: Sanggar Dewata Indonesiaseni patungSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rasa Festival Jembrana: Storytelling, Film, Art and Culture

Next Post

Mengenal Lebih Jauh Tokoh Jro Mangku Dalang I Made Persib

Agus Eka Cahyadi

Agus Eka Cahyadi

I Wayan Agus Eka Cahyadi. Lahir di Ubud, 12 Agustus 1984. Dosen FSRD ISI Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails

Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

by Dewa Purwita Sukahet
June 25, 2022
0
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog”  | Catatan Lomba  Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

Dua orang dari 22 peserta lomba melukis Wayang Klasik di Kalangan Ayodya, areal Taman Werdhi Budaya Art Centre, Bali di...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Lebih Jauh Tokoh Jro Mangku Dalang I Made Persib

Mengenal Lebih Jauh Tokoh Jro Mangku Dalang I Made Persib

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co