15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
in Ulasan
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Film Rosetta (1999) | Gambar dari https://www.imdb.com/

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki yang datang dari sepatunya seperti menjelaskan kemarahan dalam benaknya. Mengenakan seragam buruh pabrik berwarna putih, dan shower cap yang putih transparan sampai memperlihatkan sedikit kecemerlangan rambut mudanya, ia memergoki rekannya seraya bertanya dengan nada yang intimidatif :  “Kau bilang aku selalu telat?”, “Benarkah?”, “Kenapa kau bilang dia yang mengatakannya?”. Lalu sang manajer yang ada di tengah kecekcokan itu menjawab “Bukan karena itu kau dipecat.”

Awalan di atas selain membuka tulisan ini juga membuka film Rosetta (1999), buah tangan dua sutradara ulung asal Belgia, Luc & Jean-Pierre Dardenne. Enggan bermuluk-muluk, dua bersaudara itu menampilkan sinema yang jujur tentang bagaimana dunia menampakkan sketsa wajah muram, tak ramah, krisis senyuman (bahkan absen), yang kita dapatkan dalam jurang mata Rosetta. Hadir dengan gaya neorealis, one take yang menakjubkan, dan handheld kamera di sepanjang film. Membuat perwujudan kekacauan serta kekalutan di setiap gerak Rosetta yang ekspresif semakin kentara.

Film Rosetta (1999) sangat jauh dari kata “kebahagiaan”, serta begitu paradoks dari film-film semacamnya, yang selalu saja masih melahirkan wajah baik dunia di tengah-tengah kekejamannya. Film ini tak memberikan ruang bagi kita untuk bernafas sejenak, menghirup makna dari jerih payah sang tokoh utama untuk bisa mengisi perutnya yang kosong melompong. Ditambah lagi keterjepitannya oleh seorang ibu alkoholik, yang siap bercinta dengan lelaki manapun dengan imbalan sebotol Martini, yang harus ia rawat dan beri nafkah.

Akibat ia dipecat dari pekerjaan sebelumnya, di sebuah pabrik, Rosetta harus berjuang lagi untuk menemukan pekerjaan di tengah kecamuk perutya yang bisa kapan saja kambuh. Saban hari, gadis muda itu harus melawan mag yang datang dengan sebutir obat, dan juga dengan cara pribadinya (menggunakan hair dryer di atas perutnya sambil berbaring). Itu salah satu kesulitan dari sekian banyak kesulitan yang ada di kedua bahu gadis muda itu.

Tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Rosetta terpaksa harus menjual semua pakaiannya, dan hanya menyisakan dua baju hangat, satu dengan warna merah mendominasi, satu berwarna hitam dengan garis bordir biru, satu rok mini, dan satu celana panjang, yang akan selalu ia pakai di sepanjang film. Luc & Jean, sang sutradara, menyodorkan dialog-dialog di setiap adegan yang bisa kita catat dengan hitungan jari. Namun itu yang menjadi keyakinan kita para penonton, betapa Luc & Jean, berhasil  menggali perkembangan karakter Rosetta hanya lewat gerak, mata, emosi, bahkan nafas, dan wajah simpati para pemeran pendukung.

Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

Di sini, Luc & Jean seperti menegaskan kembali, bahwa Rosetta (1999) datang kepada kita bukan untuk kita serap sari patinya, atau berlagak bijaksana mengambil makna apa yang terkandung di dalamnya. Begitu jauh dari itu, Luc & Jean lewat Rosetta (1999) hanya meminta kita cukup menguntit pertempuran demi pertempuran seorang gadis muda dengan dunia kejam yang menganiaya dirinya.

Rosetta, gadis cantik yang seharusnya bangun pagi untuk mengenakan seragam sekolah, dan belajar dengan nyaman bersama teman-temannya di kelas. Malah mengakselerasikan dirinya menjadi sosok “ibu & ayah” untuk ibunya sendiri. Gadis itu bangun pagi di sebuah karavan sempit yang ia tempati bersama ibu alkoholiknya (kejam rasanya untuk kita sebut itu adalah tempat tinggal), lalu mengenakan baju hangat, rok mini, stoking panjang, serta tas selempang biru tua, dan pergi menyusuri jalan-jalan besar di bawah langit Belgia yang indah.

Dunia, yang kita rayakan sewaktu kecil dan masa remaja dengan menyenangkan, tertawa lepas, bermain-main dengan teman sana sini, dan suasana harmonis keluarga, nyatanya tak bisa ikut dirayakan juga oleh Rosetta. Gadis itu terjebak dengan bayang-bayang kelaparan, serta ketidakpedulian masyarakat. Dan dalam matanya yang gemetar, begitu yakin bahwa dunia adalah neraka yang sebenarnya. Namun uniknya, ia masih menyimpan cita-cita yang selalu diutarakan sebelum tidur, berharap semua itu akan terjadi suatu hari nanti:

  • Namaku Rosetta
  • Kau mendapatkan pekerjaan
  • Kau mendapatkan teman
  • Kau punya kehidupan normal
  • Kau tak akan gagal
  • Selamat malam

Catatan di atas adalah daftar dari cita-cita Rosetta. Jauh dari bagaimana kita membayangkan cita-cita dalam pikiran kita pada masa remaja. Bahkan kalau kita lihat lagi daftar cita-citanya, itu adalah apa yang sekarang ini kita dapatkan. Tentu aneh ketika melihat catatan di atas adalah bagian dari cita-cita. Namun dalam kehidupan Rosetta, itu lebih berharga dibanding keinginan seorang remaja yang hidup di keluarga kaya menginginkan smartphone edisi baru. Rosetta hanya ingin mendapatkan pekerjaan, mendapatkan teman, ia berkeinginan hidup normal sebagaimana orang-orang seumurannya, dan bisa tertidur pulas dengan nyaman tanpa dihantui pikiran-pikiran ingin makan apa dan ke mana lagi harus mencari pekerjaan esok hari.

Maka tak heran, film Rosetta (1999) mengantongi penghargaan tertinggi, Palme D’or, dalam Festival Cannes 1999 lalu. Mengalahkan kekuatan dari sutradara Spanyol, Pedro Almodovar, lewat film terbaiknya, Todo Sobre Mi Madre. Dan film The Straight Story, karya sutradara kondang, David Lynch. Tak hanya Palme D’or, Film Rosetta (1999) juga ikut memberikan kesempatan bagi sang tokoh utama Emilie Daquenne (Rosetta), yang kala itu masih berumur 18 tahun untuk mengisi ruang kosong di lemari kamarnya, dengan penghargan Aktris Terbaik Festival Cannes 1999.

A Hero (2021) : Sebuah Kabar dari Kebaikan yang Dipertanyakan

Segala macam penghargaan dan komentar positif datang dari para juri untuk cara pengemasan film Rosetta (1999) kepada Luc & Jean, bukan berarti film ini lenyap dari kritik negatif. Sebagian kritikus terkejut karena Rosetta (1999) membawa pulang Palme D’or pada tahun itu. Padahal mereka mengatakan dengan tegas bahwa Rosetta (1999) terlalu pesimistis untuk menjadi sebuah film, dan tidak lugas dalam mencapai klimaks penceritaan. Namun entah kenapa komentar-komentar itu dapat saya kesampingkan, karena kekaguman saya terhadap gaya neorealistik dalam film tersebut, yang bisa dibilang sudah jarang nongol di kaca-kaca perfilman dunia. Dan saya menyetujui serta menganggap langkah juri tepat untuk memberikan penghargaan tertinggi tersebut kepada Rosetta (1999).

Malahan, saya punya komentar yang lain, kritikan pribadi yang saya ingin sampaikan di sini. Dari kacamata saya sendiri, ketika melihat film Rosetta (1999), agak sedikit terganggu dengan beberapa adegan yang tak memiliki kontinuitas cerita dengan jalur utama. Misalnya dalam adegan setiap pulang dari mencari pekerjaan atau sehabis kerja, Rosetta selalu lewat jalur yang memutar, hingga sampai ke hutan semak di belakang taman karavannya, lalu mengganti sepatunya dengan sepasang sepatu bot yang selalu ia simpan di pipa beton berukuran setengah meter.

Tidak hanya kegiatan melewati hutan dan mengambil sepatu bot yang disimpannya di pipa beton berukuran setengah meter. Luc & Jean juga memaksa kita melihat Rosetta menggali tanah di samping karavannya, dan mengambil cacing sebagai umpan. Lalu pergi memancing di sungai yang terletak antara taman karavannya dan hutan semak dengan lakon tergesa-gesa. Anehnya, Bukannya membawa pulang ikan yang didapatkannya, Rosetta malah mencabut kail yang menjerat mulut si ikan lalu melepaskannya lagi ke sungai.

Dan saya menolak untuk mengakui apakah saya mengerti atau tidak dengan adegan-adegan yang telah disebutkan di atas. Karena bagi saya tetap saja adegan yang ditampilkan Luc & Jean tersebut, tidak memiliki kontinuitas cerita yang ‘sangat’ berarti dengan motivasi penceritaan filmnya, yang hanya berkutat di lingkaran kehidupan pahit tokoh utama untuk betahan hidup. Saya lebih suka bila adegan seperti itu tidak ditampilkan, ketimbang mubazir alih-alih sebagai batu loncatan.

Jadi, dari pada menyisakan tanda tanya bagi para penonton, terhadap adegan-adegan yang saya anggap tidak berguna sama sekali. Lebih alangkah bagusnya bila menggali lagi latar belakang sosok ibu yang alkoholik lewat dialog, atau bermain-main dengan ranah psikologis sang tokoh utama. Sehingga lengkap dan terkesan lebih padat rasanya untuk kita para penonton mengetahui, bersimpati, serta lebih merasakan emosi yang bergejolak di kedua pipi merah Rosetta. Namun di luar dari kritik bodoh saya di atas, Rosetta (1999) adalah film yang sangat luar biasa tajam, luar biasa nyata.

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Di sini, saya juga ingin meminta sedikit ruang untuk menyampaikan sedikit juga dari pikiran saya yang sedikit ini (meski nantinya tidak ada yang mempedulikan). Sepanjang ratusan atau mungkin ribuan film yang sudah saya tonton. Saya sangat yakin bahwa keutamaan dalam menciptakan film yang benar-benar baik, adalah terletak pada bagaimana naskah itu diperlakukan dan seberapa kuatnya naskah itu bercerita. Entah dengan dialog yang minim, ataupun dengan dialog yang sangat banyak. Yang terpenting, naskah tersebut jelas arahnya dan tajam perkembangannya. Selebihnya pengemasan yang berbeda dan lain-lain hal.

Sebagai contoh: Quentin Tarantino menciptakan Pulp Fiction dengan berjuta-juta omong kosong di dalamnya, tapi manipulasi terhadap plot yang tercatat di dalam naskah sangatlah kuat dan tak kabur ke mana-mana. Dan apa yang dihasilkan film tersebut? Palme D’or tahun 1994. Nuri Bilge Ceylan lewat Winter Sleep, drama yang membosankan tetapi secara padat menjelaskan kesenjangan sosial dan ketakberdayaan masing-masing kelas. Apa yang didapatkannya? Palme D’or 2014. Dan Rosetta, miskin kata-kata, hampir semua gejolak diwakilkan oleh raut wajah. Apa yang didapatkannya? Palme D’or 1999. Itu alasan kenapa saya sekali lagi yakin bahwa naskah adalah kekuatan untuk melahirkan film yang baik. Bukan sinematografi yang jernih dan memukau, atau CGI yang melempar kita kepada imajinasi, apalagi menggebu-menggebu akan penggunaan artis-artis yang sedang naik daun. [T]

Tags: filmUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cakepung, Seni Vokal Karangasem, Sejarahnya Berkait Erat dengan Suku Sasak Lombok

Next Post

Selama Pesta Kesenian Bali 2022, Gubernur Koster 6 Kali Menonton Gong Kebyar

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails

Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

by Dewa Purwita Sukahet
June 25, 2022
0
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog”  | Catatan Lomba  Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

Dua orang dari 22 peserta lomba melukis Wayang Klasik di Kalangan Ayodya, areal Taman Werdhi Budaya Art Centre, Bali di...

Read moreDetails
Next Post
Selama Pesta Kesenian Bali 2022, Gubernur Koster 6 Kali Menonton Gong Kebyar

Selama Pesta Kesenian Bali 2022, Gubernur Koster 6 Kali Menonton Gong Kebyar

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co