22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
May 5, 2022
in Ulasan
Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Kala Rau When the Sun Got Eaten

Masyarakat Bali  tentu tidak asing dengan cerita rakyat Kala Rau. Pada setiap munculnya gerhana bulan atau gerhana matahari, cerita rakyat itu pasti diceritakan kembali. Karena dalam cerita itu, Kala Rau-lah yang disebutkan menelan matahari sehingga terjadi gerhana.

Cerita itu populer, pada zamannya, mungkin juga sampai saat ini di beberapa pelosok Bali. Dalam cerita rakyat itu, sosok Kala Rau diceritakan sebabagi makhluk menyeramkan, menjadi momok ketakutan. Untuk itulah, pada saat gerhana matahari, ketakutan itu seakan terpelihara dan di masa lalu kadang memaksa warga menutup pintu rapat-rapat ketika gerhana matahari atau gerhana bulan datang.

Cerita rakyat itulah yang menjadi pondasi pertama yang dipasang oleh Medy Mahasena, ke dalam film pendek garapannya. Garapan filmnya berjudul Kala Rau When the Sun Got Eaten, produksi tahun 2021. Film itu diputar di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Jumat 29 April 2022 . Pemutaran itu berkaitan dengan program Minikino Indonesia Raja 2022.

Satu adegan dalam film Kala Rau When the Sun Got Eaten | Foto: Dok Medy Mahasena

Konon Kala Rau adalah makhluk seram yang datang melahap matahari atau bulan. Pada saat bersamaan, muncul ketakutan, Kala Rau juga bisa melahap orang-orang yang keluar rumah sewaktu gerhana muncul. Garapan ini merupakan sebuah tantangan tentunya. Karena Medy mengangkat hal yang bisa dibilang besar dan dekat dengan masyarakat pada zamannya, untuk ukuran film pendek yang ia lahirkan.

Namun, bukan kreativitas sempurna dalam penyutradaraan masa muda namanya, bila tak bersahabat dengan tantangan di dalamnya. Medy Mahesa mengumpulkan banyak cerita dari masyarakat, termasuk dari ibunya sendiri, tentang kengerian, kecekaman serta ketakutan pketika gerhana matahari terjadi pada masa itu. Medy terbilang berhasil menyulam semuanya menjadi film pendek yang menyentuh berbagai sisi.

Film ini mengambil latar tahun 1983 ketika terjadi gerhana matahari yang cukup heboh saat itu. bercerita tentang seorang gadis bernama Sri. Ia kehilangan ayahnya ketika genap berumur 4 tahun. Ia menyimpan segudang pertanyaan tentang ayahnya. Bukan ditinggal mati atau pergi menceraikan ibu Sri. Namun  diceritakan bahwa ayah Sri menghilang ketika gerhana matahari datang. Jujur, kombinasi antara mitos dan narasi yang dihadirkan oleh Medy dalam filmnya bisa dibilang berhasil tersampaikan. Ditambah beberapa long take yang segar, tak sedikit melahirkan humor sedap.

Kenangan Selembut Durian dalam Film Mao Shan Wang – Catatan dari Minikino Film Week 2017

Kala Rau When the Sun Got Eaten adalah tontonan singkat yang lezat, mengalir juga mengejutkan. Seperti dikatakan sebelumnya, film ini menyentuh berbagai sisi. Seperti setiap penonton yang pernah hidup pada masa kepopuleran cerita rakyat tersebut. Pastinya mempunyai nostalgianya sendiri, mengingat masa itu terkurung dalam kengerian mitos yang terpelihara oleh masyarakat. Selain itu, film pendek yang disutradarai oleh Medy Mahasena ini mampu membuka ruang-ruang kritis bagi para penontonnya.

Tak jarang, beberapa teman-teman mengaitkan mitos serta kejadian yang terjadi secara simultan itu, dengan pemerintahan Orde Baru. Bagaimana Orde Baru saat itu mengelola peristiwa gerhana matahari hingga membuat warga larut dalam mitos yang mencekam. Jujur jika mengamati sekuen tengah dari film pendek besutan Medy, memang ada adegan menyorot layar TV yang menampilkan pemberitaan akan terjadinya gerhana matahari, dan pemberitaan itu menyinggung suatu kebijakan pemerintah. Di mana saat itu dibentuk suatu tim yang secara khusus “menangani” peristiwa gerhana itu. Namun secara lengkap, mengamati setiap plot dari film Kala Rau When the Sun Got Eaten, bukan itu tujuan dari struktural narasi yang dihadirkan.

Satu adegan dalam film Kala Rau When the Sun Got Eaten | Foto: Dok Medy Mahasena

Sri, dengan berbagai pertanyaan yang ada dalam benaknya, menanyakan perihal ayahnya kepada seorang tokoh masyarakat di desanya, Pak Agus. Namun dari penceritaan itu, tak ada petunjuk dari Pak Agus yang menjelaskan alasan kenapa ayahnya menghilang. Dalam sekuen itu, alih-alih membeberkan cerita tentang hilangnya sang ayah dari tokoh utama, dan mengikis rasa penasaran penontonnya, Medy, sang sutradara, malah memilih menggiring kita untuk mengenal karakteristik dari Pak Agus.

Hilangnya sang ayah, membuat Sri menghubung-hubungkan kejadian itu dengan Kala Rau. Bahwa siapapun yang masih berada di luar ketika gerhana menelan matahari, mereka akan menjadi korban sang Kala Rau. Pengkombinasian kepercayaan masyarakat terhadap mitos, dengan musibah yang umum terjadi di kehidupan banyak orang, membuat film ini sebetulnya renyah untuk dikonsumsi. Terlebih lagi alurnya yang dinamis serta latar cerita yang kembali ke masa lalu, menjadikan Kala Rau When the Sun Got Eaten sebagai film pendek yang berhasil mengenalkan kultur lampau. Sontak, penonton dapat merasakan kengerian seperti apa yang tengah terjadi di sekitaran masyarakat pada saat itu.

Namun, ada ending yang tak bisa menjawab kebingungan para penonton, soal substansi apa yang sebenarnya dibentuk oleh Medy dalam filmnya. Inilah yang menjadi sebuah masalah. Padahal dalam Kala Rau When the Sun Got Eaten, Medy sedang tidak mendramatisasi persoalan sosial, melainkan menampilkan sesuatu yang misterius, yang dibungkus oleh mitos masyarakat. Dan semua film yang bergenre misterius pastinya mempunyai semacam sinyal untuk sampai ke sebuah pemahaman.

Melihat ending Kala Rau When the Sun Got Eaten, mengingatkan saya tentang ending film In the Mood for Love (2000), garapan sutradara kondang, Wong Kar Wai. Disimpulkan dari sana, Kar Wai setuju bahwa tak semua film misteri atau thriller saja yang memiliki ending yang bersifat plot twist atau surealis. Semua genre dapat diolah bersifat demikian.

Dalam endingnya, Wong Kar Wai benar-benar menghancurkan jutaan hati penonton, memberikan pemahaman tentang sebuah arti melepaskan dan rasa cinta yang sesungguhnya. Tentunya ending tersebut dibangun oleh narasi-narasi yang kuat.

Dalam adegan sebelum ending, Wong Kar Wai menyuguhkan kita sebuah dialog dua arah, antara tokoh utama dan tokoh pendukung. Di sana, sang tokoh utama mengatakan “Orang zaman dulu, ketika menyimpan rahasia dan tak berniat mengungkapkan, mereka pergi ke bukit, mencari pohon lalu melubanginya, kemudian membisikkan rahasianya ke lubang itu, menutupnya dengan lumpur, dan meninggalkan semua rahasianya di sana.” Alhasil, ending dalam film In the Mood for Love itu pun dibuat serupa dengan dialog yang dihadirkan dalam adegan sebelumnya.

Sedangkan ending Kala Rau When the Sun Got Eaten, tak memiliki sebuah tanda atau dialog yang membangunkan kita untuk menarik satu premis terhadap ending. Menampilkan sosok Pak Agus yang memenuhi mulutnya dengan senter, bertepatan dengan munculnya gerhana matahari, sebenarnya membuat saya, mungkin juga para penonton terkejut, dan menduga bahwa ternyata Pak Agus menjelma sebagai Kala Rau.

Namun, tak ada penjelasan tentang gagasan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Medy dalam film pendeknya. Jangan terlalu mudah percaya ke orang lain kah? Atau setiap orang mempunyai sifat yang disembunyikankah? Akhirnya itu membuat penonton tak menggenggam kepuasan terhadap ending yang ada.

Film Pendek “The Umbrella”, Satu Tembakan Untuk Sebuah Kisah

Di samping itu, bagi saya sendiri, Kala Rau When the Sun Got Eaten, sungguh film pendek yang mempesona dari segi sinematiknya, permainan tone serta sisi-sisi pengambilan shot, memanjakan mata para penonton. Terlepas dari itu, saya juga turut mengisi ruang kritis yang diberikan oleh Medy dalam sinemanya. Dan itu saya utarakan dalam tulisan ini.

Sinematografi yang indah dan sejuk, tidak menjamin pemahaman penonton akan sifat kejut dalam ending Kala Rau When the Sun Got Eaten. Ending yang terdapat dalam film tersebut, tidak menjawab penasaran para penonton, sebagaimana tak menjawab pertanyaan yang bergelimang dalam diri Sri. Hal itu tak lain dan tak bukan, dikarenakan kekuatan narasi yang dihadirkan dalam film tersebut kurang memadai, jadinya tak ada yang menjembatani antara pemahaman penonton dan ending yang disajikan.

Namun Medy bukanlah sineas muda yang tertinggal jauh. Film pendek yang digarap olehnya, topik yang diangkat, juga penggabungan mitos dalam sinemanya, meyakinkan saya bahwa Medy adalah sutradara muda yang memiliki karakteristik ke depannya. Mungkin takkan lama, karya-karyanya akan dikenal di mana-mana.[T]

Tags: filmfilm pendekGerhana MatahariKala Rau When the Sun Got Eatenmitos bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Ruang Tamu, Bunyi, dan Arsitektur | Catatan Pascapresentasi Riset Performatif Jakarta Dance Meet Up 2020

Next Post

Anak Air dan Pulau Keramat | Cerpen Satria Aditya

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Anak Air dan Pulau Keramat | Cerpen Satria Aditya

Anak Air dan Pulau Keramat | Cerpen Satria Aditya

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co