12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Ruang Tamu, Bunyi, dan Arsitektur | Catatan Pascapresentasi Riset Performatif Jakarta Dance Meet Up 2020

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
May 5, 2022
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Sekitar dua tahun lalu saya mengikuti sebuah webinar mengenai presentasi proses kreatif dua seniman. Mereka adalah Ferry C. Nugroho dan Theo Nugraha. Ferry adalah seorang koreografer dan penari, lalu Theo seorang seniman yang bermain eksplorasi bunyi, tubuh, dan visual. Waktu itu mereka memaparkan proses kreatif projectnya selama beberapa tahun ke belakang. Melihat presentasi itu, saya melihat hubungan kuat antara karya mereka dengan ruang.

Ferry C. Nugroho: Ruang Tamu dan Ruang Pertemuan Lainnya

Presentasi project Ferry yang bertajuk ‘Living Room: Ruang Pertemuan Antar Personal’. Project yang sudah dibawakan dalam tiga pertunjukan yang berbeda. Mengambil ruang tamu sebagai pintu masuk untuk menelusuri bagaimana sebuah ruang menjadi penghubung, antara ruang privat dengan ruang publik. Antara ruang privat pemilik rumah dengan ruang publik masyarakat. Bukankah ini sangat arsitektur? Mengenai ruang dan sifatnya.

Berbicara mengenai sebuah ruang tamu, ruang tersebut dijadikan sebagai wajah. Wajah yang pertama kali dilihat oleh masyarakat untuk melihat kondisi sebuah keluarga. Bagaimana penyusunan furniturenya? Apa saja yang ada di dalamnya? Semua itu akan mempengaruhi persepsi tamu akan keluarga pemilik rumah. Maka dari itu ruang tamu menjadi sangat penting untuk sebuah keluarga dalam konteks ruang temu. Dan dari ruang tamu pemilik bisa memberikan atau mempengaruhi persepsi tamu dalam membaca sebuah keluarga.

Konsep ruang tamu sebagai ruang pertemuan antara ruang privat dengan ruang publik itulah yang digunakan Ferry dalam konsep tarinya. Jika dalam pertunjukan di mana ruang publiknya? Di mana ruang privatnya? Lalu apa yang menjadi penghubung antara keduanya? Dari presentasinya, saya menangkap bahwa semuanya memiliki ruang privat. Penonton memiliki ruang privatnya sendiri demikian juga dengan pementas yang memiliki ruang privatnya sendiri. Bangku penonton sebagai ruang privat penonton sedangkan, panggung adalah ruang privat pementas. Walaupun sama-sama privat tapi keduanya juga sama-sama publik. Karena semua orang bisa mengaksesnya hanya saja pada waktu tertentu, seperti, ketika penonton duduk dan pementas memulai pentasnya, ruang yang tadinya publik berubah menjadi sebuah ruang privat.

Namun bukan hanya itu saja, bisa saja sebuah gedung pertunjukan dibaca sebagai ruang pertemuan. Di mana koreografer dibayangkan memiliki ruang privatnya sendiri. Kemudian ia menuangkan idenya ke dalam sebuah koreografi dan dipresentasikan kepada publik. Dalam presentasi tersebut ruang privat (koreografer) bertemu dengan ruang publik (penonton). Kita juga bisa membaca si koreografer melalui karya yang dipresentasikannya, sama seperti kita membaca sebuah keluarga melalui ruang tamunya.

Lalu dalam projectnya yang ketiga Ferry mencoba mencari kemungkinan lainnya. Dia menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk mendekatkan batas antara ruang publik dengan ruang privat. Pertanyaan yang biasa hadir dalam percakapan ketika berada pada ruang tamu juga dihadirkan dalam pementasannya. Para penontonnya diminta untuk membuat pertanyaan kepada dirinya. Entah itu pertanyaan untuk dirinya sebagai seorang penari, seorang koreografer, atau Ferry secara pribadi.

Lewat pertanyaan-pertanyaan penonton itulah selanjutnya ia akan membuat sebuah koreografi tari. Bagaimana bisa membuat sebuah koreografi dari pertanyaan-pertanyaan? Bagaimana mungkin itu terjadi? Pada saat itu saya merasa bingung apakah itu mungkin bisa dilakukan? Kalau begitu bagaimana hal itu bisa dilakukan? Akhirnya ia memaparkan bagaimana proses kreatifnya mengubah pertanyaan-pertanyaan menjadi sebuah koreografi tari.

Pertanyaan-pertanyaan yang terhimpun itu ia lihat secara seksama. Lalu dengan pertanyaan itu ia akan membuat kodefikasi pertanyaan melalui simbol-simbol. Simbol berupa persegi, segi tiga, segi lima, lingkaran, dan lain sebagainya. Setiap pertanyaan akan menghasilkan simbol yang berbeda. Kemudian dari simbol, ia menerjemahkannya pada koreografi tari. Pada akhirnya terjawab sudah bagaimana ia membuat sebuah koreografi dari pertanyaan-pertanyaan. Ia meminjam simbol sebagai penghubung antara pertanyaan dengan koreografinya. Pada saat itu saya berpikir bahwa simbol telah menjadi sebuah ruang temu antara ruang privat (koreografi) dengan ruang publik (pertanyaan).

Theo Nugraha: Bunyi Tubuh dan Ruang

Kemudian beralih ke Theo Nugraha seorang seniman yang mengeksplorasi bunyi, tubuh, dan visual dalam projectnya yang bertajuk ‘Tubuh Sensori’. Ia memaparkan beberapa projectnya yang mengenai bunyi-bunyi pada ruang. Projectnya ini ada yang mengenai bunyi-bunyi di ruang publik, seperti bunyi apa saja yang hadir dalam kota. Lalu ada juga projectnya yang begitu privat seperti bunyi yang hadir dalam sebuah rumah dan bunyi yang dihadirkan oleh tubuh manusia.

Projectnya yang mengenai bunyi yang hadir dalam sebuah kota membuat saya tertarik. Ia merekam bunyi apa saja yang hadir. Setelah merekamnya ia lalu membuat beberapa simbol dari bunyi yang sudah direkamnya. Cara kerja yang mirip dengan Ferry bagaimana Theo juga menggunakan simbol sebagai salah satu pisau bedah dalam berkarya. Hasil akhir dari projectnya berupa bunyi itu sendiri dan juga simbol-simbol.

Dalam projectnya mengenai bunyi yang ada di tubuh, ia mengulik bagaimana tubuhnya juga memproduksi bunyi. Mulai dari gerakan-gerakan seperti menepuk, menggaruk, mengendus, memukul, menampar, dan gerakan keseharian lainnya. Semua gerakan tersebut menghasilkan bunyi, tapi bunyi-bunyi itu juga sering luput dari perhatian kita. Dari project ini juga saya sadar bahwa ketika tubuh berada pada ruang yang berbeda, tubuh juga menghasilkan bunyi yang berbeda pula. Misal menggaruk, jika di rumah kita akan leluasa ketika menggaruk, hal itu akan berbeda ketika di ruang umum. Ada gerakan yang diperkecil agar kita tidak malu atau mengganggu orang lain. Meskipun pada akhirnya gerakan yang dilakukan sama yaitu menggaruk, tetapi ada pengecilan atau pembesaran frekuensi gerakan yang terjadi akibat pengaruh dari ruang sekitar. Dengan begitu bunyi yang dihasilkan dalam ruang privat akan berbeda dengan ruang publik.

Bunyi merupakan hal yang penting dalam sebuah ruang atau arsitektur. Tidak hanya sekadar sebuah bangunannya saja yang penting. Biasanya visual mendominasi dalam perancangan bangunan. Tetapi bukan hanya itu yang harus diperhatikan, bagaimana bunyi di suatu ruang juga harus diperhatikan. Tidak hanya bunyi tetapi juga bau dan tekstur juga harus diperhatikan. Ada faktor-faktor lain yang juga sama pentingnya untuk sebuah arsitektur karena dari semua itulah sebuah ruang akan memiliki atmosfirnya sendiri. Atmosfir dimana visual, bunyi, bau, tekstur, dan faktor lainnya akan menghadirkan suasana tertentu bagi siapa saja yang beraktivitas di dalamnya. Semua hal itu harus direncanakan dan dirancang agar lebih optimal dalam mencapai apa yang diinginkan pada sebuah arsitektur.

Contoh sederhana mengenai bunyi pada pasar dan coffee shop. Bebunyian yang hadir dalam coffee shop cenderung tenang untuk mendukung atmosfir bekerja atau mengobrol. Sedangkan bebunyian dalam pasar yang riuh akan aktivitas mendukung proses ekonomi yang terjadi. Begitu juga untuk indra penciuman, peraba, dan perasa yang tentu berbeda pada kedua ruang. Bisa dibayangkan jika satu saja dari faktor indra itu ditukar antara coffee shop dengan pasar, penukaran itu akan mengubah atmosfir dari imaji kita akan ruang tersebut. Misal, bau yang ada di pasar dibawa ke coffee shop, atau sebaliknya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bukan?

Simbol-simbol Ferry, Theo, dan Arsitektur

Selain mengenai kesadaran akan bunyi dan juga elemen lain yang mempengaruhi sebuah ruang. Dalam webinar ini saya juga sadar akan hal lain, bagaimana kedua seniman juga memakai simbol dalam karya-karyanya. Ferry menggunakan simbol sebagai penghubung antara pertanyaan dengan gerak. Dan Theo menggunakan simbol sebagai respon dari bebunyian yang terekam. Dari hasil presentasi itulah saya sadar sebenarnya kerja-kerja penggunaan simbol juga ada dalam dunia arsitektur. Bagaimana seorang arsitek ketika merancang sesuatu juga tidak lepas dari yang namanya simbol. Seperti simbol yang digunakan dalam gambar kerja perancangan. Dalam arsitektur simbol-simbol ini disebut arsiran. Misal arsiran tembok bata yang berupa garis-garis diagonal, juga arsiran urugan tanah yang menggunakan garis vertikal atau urugan pasir yang menggunakan simbol titik-titik. Simbol menjadi alat bantu untuk membahasakan material pada gambar kerja rancangan.

Gambar arsiran pada gambar kerja | Sumber: google.com

Dulu saya tidak sadar, bahwa kerja-kerja saya ketika proses merancang juga bisa saya pakai untuk berkesenian. Saya merasa sangat beruntung ketika menyempatkan waktu untuk ikut webinar itu. Pada akhirnya hal-hal di luarlah yang juga membantu saya untuk menyadari lebih terhadap ilmu arsitektur yang selama ini saya pelajari. Serta melihat bagaimana semua ilmu itu saling berkaitan satu sama lain. Seperti kali itu, ketika ikut webinar dan belajar arsitektur dari seorang koreografer dan seniman bunyi yang membuat saya lebih peka dan sadar akan ilmu arsitektur. Dalam hal ini pertemuan-pertemuan multidisiplin menjadi penting untuk mengasah dan mempertajam penghayatan saya akan sesuatu, baik itu arsitektur juga pada hal-hal lainnya. [T]

Denpasar, 2 Mei 2022

Tags: arsitektur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Agility” dalam Pelayanan Publik, “Myelin” dalam Organisasi

Next Post

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co