22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Ruang Tamu, Bunyi, dan Arsitektur | Catatan Pascapresentasi Riset Performatif Jakarta Dance Meet Up 2020

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
May 5, 2022
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Sekitar dua tahun lalu saya mengikuti sebuah webinar mengenai presentasi proses kreatif dua seniman. Mereka adalah Ferry C. Nugroho dan Theo Nugraha. Ferry adalah seorang koreografer dan penari, lalu Theo seorang seniman yang bermain eksplorasi bunyi, tubuh, dan visual. Waktu itu mereka memaparkan proses kreatif projectnya selama beberapa tahun ke belakang. Melihat presentasi itu, saya melihat hubungan kuat antara karya mereka dengan ruang.

Ferry C. Nugroho: Ruang Tamu dan Ruang Pertemuan Lainnya

Presentasi project Ferry yang bertajuk ‘Living Room: Ruang Pertemuan Antar Personal’. Project yang sudah dibawakan dalam tiga pertunjukan yang berbeda. Mengambil ruang tamu sebagai pintu masuk untuk menelusuri bagaimana sebuah ruang menjadi penghubung, antara ruang privat dengan ruang publik. Antara ruang privat pemilik rumah dengan ruang publik masyarakat. Bukankah ini sangat arsitektur? Mengenai ruang dan sifatnya.

Berbicara mengenai sebuah ruang tamu, ruang tersebut dijadikan sebagai wajah. Wajah yang pertama kali dilihat oleh masyarakat untuk melihat kondisi sebuah keluarga. Bagaimana penyusunan furniturenya? Apa saja yang ada di dalamnya? Semua itu akan mempengaruhi persepsi tamu akan keluarga pemilik rumah. Maka dari itu ruang tamu menjadi sangat penting untuk sebuah keluarga dalam konteks ruang temu. Dan dari ruang tamu pemilik bisa memberikan atau mempengaruhi persepsi tamu dalam membaca sebuah keluarga.

Konsep ruang tamu sebagai ruang pertemuan antara ruang privat dengan ruang publik itulah yang digunakan Ferry dalam konsep tarinya. Jika dalam pertunjukan di mana ruang publiknya? Di mana ruang privatnya? Lalu apa yang menjadi penghubung antara keduanya? Dari presentasinya, saya menangkap bahwa semuanya memiliki ruang privat. Penonton memiliki ruang privatnya sendiri demikian juga dengan pementas yang memiliki ruang privatnya sendiri. Bangku penonton sebagai ruang privat penonton sedangkan, panggung adalah ruang privat pementas. Walaupun sama-sama privat tapi keduanya juga sama-sama publik. Karena semua orang bisa mengaksesnya hanya saja pada waktu tertentu, seperti, ketika penonton duduk dan pementas memulai pentasnya, ruang yang tadinya publik berubah menjadi sebuah ruang privat.

Namun bukan hanya itu saja, bisa saja sebuah gedung pertunjukan dibaca sebagai ruang pertemuan. Di mana koreografer dibayangkan memiliki ruang privatnya sendiri. Kemudian ia menuangkan idenya ke dalam sebuah koreografi dan dipresentasikan kepada publik. Dalam presentasi tersebut ruang privat (koreografer) bertemu dengan ruang publik (penonton). Kita juga bisa membaca si koreografer melalui karya yang dipresentasikannya, sama seperti kita membaca sebuah keluarga melalui ruang tamunya.

Lalu dalam projectnya yang ketiga Ferry mencoba mencari kemungkinan lainnya. Dia menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk mendekatkan batas antara ruang publik dengan ruang privat. Pertanyaan yang biasa hadir dalam percakapan ketika berada pada ruang tamu juga dihadirkan dalam pementasannya. Para penontonnya diminta untuk membuat pertanyaan kepada dirinya. Entah itu pertanyaan untuk dirinya sebagai seorang penari, seorang koreografer, atau Ferry secara pribadi.

Lewat pertanyaan-pertanyaan penonton itulah selanjutnya ia akan membuat sebuah koreografi tari. Bagaimana bisa membuat sebuah koreografi dari pertanyaan-pertanyaan? Bagaimana mungkin itu terjadi? Pada saat itu saya merasa bingung apakah itu mungkin bisa dilakukan? Kalau begitu bagaimana hal itu bisa dilakukan? Akhirnya ia memaparkan bagaimana proses kreatifnya mengubah pertanyaan-pertanyaan menjadi sebuah koreografi tari.

Pertanyaan-pertanyaan yang terhimpun itu ia lihat secara seksama. Lalu dengan pertanyaan itu ia akan membuat kodefikasi pertanyaan melalui simbol-simbol. Simbol berupa persegi, segi tiga, segi lima, lingkaran, dan lain sebagainya. Setiap pertanyaan akan menghasilkan simbol yang berbeda. Kemudian dari simbol, ia menerjemahkannya pada koreografi tari. Pada akhirnya terjawab sudah bagaimana ia membuat sebuah koreografi dari pertanyaan-pertanyaan. Ia meminjam simbol sebagai penghubung antara pertanyaan dengan koreografinya. Pada saat itu saya berpikir bahwa simbol telah menjadi sebuah ruang temu antara ruang privat (koreografi) dengan ruang publik (pertanyaan).

Theo Nugraha: Bunyi Tubuh dan Ruang

Kemudian beralih ke Theo Nugraha seorang seniman yang mengeksplorasi bunyi, tubuh, dan visual dalam projectnya yang bertajuk ‘Tubuh Sensori’. Ia memaparkan beberapa projectnya yang mengenai bunyi-bunyi pada ruang. Projectnya ini ada yang mengenai bunyi-bunyi di ruang publik, seperti bunyi apa saja yang hadir dalam kota. Lalu ada juga projectnya yang begitu privat seperti bunyi yang hadir dalam sebuah rumah dan bunyi yang dihadirkan oleh tubuh manusia.

Projectnya yang mengenai bunyi yang hadir dalam sebuah kota membuat saya tertarik. Ia merekam bunyi apa saja yang hadir. Setelah merekamnya ia lalu membuat beberapa simbol dari bunyi yang sudah direkamnya. Cara kerja yang mirip dengan Ferry bagaimana Theo juga menggunakan simbol sebagai salah satu pisau bedah dalam berkarya. Hasil akhir dari projectnya berupa bunyi itu sendiri dan juga simbol-simbol.

Dalam projectnya mengenai bunyi yang ada di tubuh, ia mengulik bagaimana tubuhnya juga memproduksi bunyi. Mulai dari gerakan-gerakan seperti menepuk, menggaruk, mengendus, memukul, menampar, dan gerakan keseharian lainnya. Semua gerakan tersebut menghasilkan bunyi, tapi bunyi-bunyi itu juga sering luput dari perhatian kita. Dari project ini juga saya sadar bahwa ketika tubuh berada pada ruang yang berbeda, tubuh juga menghasilkan bunyi yang berbeda pula. Misal menggaruk, jika di rumah kita akan leluasa ketika menggaruk, hal itu akan berbeda ketika di ruang umum. Ada gerakan yang diperkecil agar kita tidak malu atau mengganggu orang lain. Meskipun pada akhirnya gerakan yang dilakukan sama yaitu menggaruk, tetapi ada pengecilan atau pembesaran frekuensi gerakan yang terjadi akibat pengaruh dari ruang sekitar. Dengan begitu bunyi yang dihasilkan dalam ruang privat akan berbeda dengan ruang publik.

Bunyi merupakan hal yang penting dalam sebuah ruang atau arsitektur. Tidak hanya sekadar sebuah bangunannya saja yang penting. Biasanya visual mendominasi dalam perancangan bangunan. Tetapi bukan hanya itu yang harus diperhatikan, bagaimana bunyi di suatu ruang juga harus diperhatikan. Tidak hanya bunyi tetapi juga bau dan tekstur juga harus diperhatikan. Ada faktor-faktor lain yang juga sama pentingnya untuk sebuah arsitektur karena dari semua itulah sebuah ruang akan memiliki atmosfirnya sendiri. Atmosfir dimana visual, bunyi, bau, tekstur, dan faktor lainnya akan menghadirkan suasana tertentu bagi siapa saja yang beraktivitas di dalamnya. Semua hal itu harus direncanakan dan dirancang agar lebih optimal dalam mencapai apa yang diinginkan pada sebuah arsitektur.

Contoh sederhana mengenai bunyi pada pasar dan coffee shop. Bebunyian yang hadir dalam coffee shop cenderung tenang untuk mendukung atmosfir bekerja atau mengobrol. Sedangkan bebunyian dalam pasar yang riuh akan aktivitas mendukung proses ekonomi yang terjadi. Begitu juga untuk indra penciuman, peraba, dan perasa yang tentu berbeda pada kedua ruang. Bisa dibayangkan jika satu saja dari faktor indra itu ditukar antara coffee shop dengan pasar, penukaran itu akan mengubah atmosfir dari imaji kita akan ruang tersebut. Misal, bau yang ada di pasar dibawa ke coffee shop, atau sebaliknya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bukan?

Simbol-simbol Ferry, Theo, dan Arsitektur

Selain mengenai kesadaran akan bunyi dan juga elemen lain yang mempengaruhi sebuah ruang. Dalam webinar ini saya juga sadar akan hal lain, bagaimana kedua seniman juga memakai simbol dalam karya-karyanya. Ferry menggunakan simbol sebagai penghubung antara pertanyaan dengan gerak. Dan Theo menggunakan simbol sebagai respon dari bebunyian yang terekam. Dari hasil presentasi itulah saya sadar sebenarnya kerja-kerja penggunaan simbol juga ada dalam dunia arsitektur. Bagaimana seorang arsitek ketika merancang sesuatu juga tidak lepas dari yang namanya simbol. Seperti simbol yang digunakan dalam gambar kerja perancangan. Dalam arsitektur simbol-simbol ini disebut arsiran. Misal arsiran tembok bata yang berupa garis-garis diagonal, juga arsiran urugan tanah yang menggunakan garis vertikal atau urugan pasir yang menggunakan simbol titik-titik. Simbol menjadi alat bantu untuk membahasakan material pada gambar kerja rancangan.

Gambar arsiran pada gambar kerja | Sumber: google.com

Dulu saya tidak sadar, bahwa kerja-kerja saya ketika proses merancang juga bisa saya pakai untuk berkesenian. Saya merasa sangat beruntung ketika menyempatkan waktu untuk ikut webinar itu. Pada akhirnya hal-hal di luarlah yang juga membantu saya untuk menyadari lebih terhadap ilmu arsitektur yang selama ini saya pelajari. Serta melihat bagaimana semua ilmu itu saling berkaitan satu sama lain. Seperti kali itu, ketika ikut webinar dan belajar arsitektur dari seorang koreografer dan seniman bunyi yang membuat saya lebih peka dan sadar akan ilmu arsitektur. Dalam hal ini pertemuan-pertemuan multidisiplin menjadi penting untuk mengasah dan mempertajam penghayatan saya akan sesuatu, baik itu arsitektur juga pada hal-hal lainnya. [T]

Denpasar, 2 Mei 2022

Tags: arsitektur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Agility” dalam Pelayanan Publik, “Myelin” dalam Organisasi

Next Post

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co