2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Air dan Pulau Keramat | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
May 7, 2022
in Cerpen
Anak Air dan Pulau Keramat | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna dan Google

Sejak subuh, kakek sibuk menebar jala untuk ikan-ikan yang berenang-renang mengitari jukung. Dengan lampu terang untuk menarik perhatian ikan, suara mesin yang kian mereda dan baju hangat tergantung di tiang panjang yang membentang di atas kepalanya. Tampak juga seorang anak kecil yang tertidur pulas di atas potongan bambu-bambu kecil yang sengaja dibuat membentang, tampaknya untuk beristirahat sejenak dari lelah menabur jala yang kian rapuh.

Matahari kian menerik, dingin sudah mulai memudar, anak kecil itu mulai terbangun dari tidurnya. Ia memandang jauh ke sebuah pulau yang menarik perhatiannya. Kakeknya masih terus menarik dan membuang jala ke laut, hanya beberapa ikan yang ia dapatkan. Anak kecil itu kembali memalingkan pandangannya ke ikan-ikan itu.

“Ini ikan apa, Kek?” tanya lugu anak kecil itu.

“Hanya tongkol!” jawab singkat kakek.

“Lalu yang ada garis kuning itu apa?” tanyanya lagi.

“Itu kakap!” jawab kakek dengan singkat lagi.

“Biasanya kakap itu merah, kenapa ini kuning?”

“Itu kakap ekor kuning, sangat sulit ditangkap pemancing. Hari ini kita beruntung dapat beberapa ikan ini. Jika dijual harganya mahal,” jelas kakek.

Setelah percakapan itu, ia kembali memandang sebuah pulau yang menarik perhatian sebelumnya. Ia terus memandang, rasa penasarannya kembali bergema. Ia ingin bertanya kepada kakek, tapi takut kakek marah karena pertanyaannya yang begitu banyak sejak ia mulai terbangun.

Banyak pertanyaan yang terbesit di kepalanya. Ia ingin sekali mengunjungi pulau itu. Tapi banyak cerita tentang pulau itu yang ia sering dengar dari para nelayan. Sebelum melaut, para nelayan pasti akan berkumpul di pesisir, entah membenahi jukung, jaring dan bersiap untuk kesediaan makanan beberapa hari di laut lepas. Sebelum itu, pastilah mereka akan berbincang entah tentang ikan yang ditangkap kemarin sampai cerita-cerita dari pulau yang katanya tak berpenghuni itu.

Ia sama sekali tidak memalingkan pandangan dari pulau itu sedikitpun. Ia sangat penasaran, apa saja yang ada di pulau itu sebenarnya.

Stasiun | Cerpen Satria Aditya

Tak lama, ia memberanikan diri bertanya kepada kakek. Dengan penuh keyakinan ia memulai percakapan mengenai pulau itu.

“Itu pulau yang sering diceritakan orang-orang, Kek?”

“Iya. Kau jangan sampai mencari tahu atau ingin tahu,” sahut kakek dingin.

“Tapi kenapa? Pulau itu terlihat biasa saja, Kek.” tanyanya lagi.

“Ya, memang terlihat biasa saja. Tapi pulau itu pulau keramat. Entah berapa orang yang sudah menjadi tulang di sana,” tegas kakek sambil memandang pulau itu.

“Pokoknya, kakek melarangmu pergi ke sana. Jika suatu saat kau ingin sekali mencari tahu, tidak akan ada yang berani menghampirimu ke sana,” tegas kakek kembali.

Sejak percakapan itu, ia hanya terdiam. Tapi pikirannya masih saja bergejolak. Entah karena apa. Ia ingin sekali mencari tahu. Akhirnya, ia dan kakek mulai mengangkat jala kembali dengan perlahan. Ini adalah jala terakhir yang ditebar beberapa hari lalu. Setelah selesai mengangkat dan ikan-ikan sudah mulai terkumpul, mereka bergegas kembali ke tepi pantai karena langit tak mulai bersahabat dengan mereka. Di tengah perjalanan, anak itu mencuri pandang ke pulau itu. Ia sangat-sangat penasaran. Apakah memang benar ada sesuatu yang bisa membuat nelayan-nelayan tak kembali dari pulau itu?

Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama

Selang beberapa saat, hujan turun dengan derasnya. Mereka berdua membentangkan terpal agar tak basah karena hujan. Ombak di laut tak bisa menahan amukannya. Semakin lama, ombak selalu ingin menerkam jukung mereka. Anak itu kian panik tetapi masih sibuk menyemimbangkan jukung itu bersama kakeknya. Tenaganya kian habis karena sibuk agar jukung itu tak diterkam ombak. Mereka terombang-ambing di tengah lautan. Kakeknya sejak tadi tak pernah sedetikpun memalingkan matanya dari arah cucunya. Sembari menyeimbangkan jukung itu, kakeknya sesekali memegang cucunya itu agar tak keluar dari jukung.

Satu jam berlalu, mereka masih sibuk melawan ombak. Anak itu sangat ketakutan, kakenya langsung memeluk cucunya. Mereka seperti bisa membayangkan takdirnya.

“Kek, bagaimana kalau kita tidak selamat?” ucap anak itu dengan gemetar.

“Kita akan selamat. Walau hanya ke tempat itu,” kata kakeknya dengan tegas.

“Ke mana, Kek?”

“Diam dan turuti aku. Yang terpenting kita tak mati hari ini!”

Kakeknya itu lantas mengerahkan jukungnya menuju suatu pulau. Pulau yang sangat ditakuti oleh para nelayan. Mereka menuju ke sana dengan sekuat tenaga yang masih dimiliki. Anak itu kemudian sangat ketakutkan karena tahu pulau yang akan dituju itu adalah pulau terlarang di tengah laut. Tak lama, mereka sampai di pulau yang katanya tak pernah ada yang bisa selamat dari sana. Hujan masih turun dengan sangat deras. Mereka lantas menarik jukung itu ke tepi pulau dan mengikatnya di pohon dekat mereka. Terpal di jukung itu dibuat sebagai sebuah tenda di sisi pulau.

Malam kian mencekam dirasakan anak itu. Kakeknya hanya diam sembari memantau sekeliling. Mereka tak berani berkutik sedikitpun. Sesuatu seperti muncul di dekat mereka. ada sebuah api yang mengambang. Banyak sekali. Keramaian mulai menyelimuti di tengah hujan. Anak itu kian takut. Ingin beranjak dari pelukan kakeknya dan berlari menuju suatu tempat yang aman. Tetapi ia tak sanggup. Sangat takut. Hingga kakeknya mengajak untuk berlari ke dalam hutan belantara di pulau itu. Mereka berlari. Seperti tak berujung. Anak itu kian panik, tak sadar ia menangis sesenggukan di tengah mereka berlari.

Kakeknya tak pernah melepas genggaman itu. mereka terus berlari di tengah hutan dengan hujan yang makin deras dan malam yang sangat mengerikan. Kaki mereka sudah terselimuti tanah basah, beberapa binatang menempel di kaki mereka. Mereka sama sekali tak perduli.

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Sekelebat cahaya terlihat di antara celah pepohonan. Mereka merasa lega sedikit walaupun masih merasa ada bahaya yang mengancam. Napas kian tak terkendali, mereka menghampiri cahaya itu. sampai akhirnya, padang rumput yang sangat indah terlihat. Orang-orang yang ada di sana juga sangat ramai. Orang tua bertani, anak-anak kecil berlari, di sungai kecil terlihat orang yang sedang kegirangan bermain air dan juga rumah-rumah yang tertata rapi tidak seperti di desa mereka.

“Ini apa, Kek?” kata anak kecil itu terangsur lelah.

“Aku juga tak tahu. Mungkin ada desa di pulau terpencil ini. Tetapi sangat indah,” ucap kakeknya keheranan.

“Ayo ke sana Kek. Kita minta bantuan ke warga!”

“Ya sudah. Aku juga sudah terlalu lelah berlarian dari tadi!”

Mereka menghampiri salah satu warga. Tetapi mukanya sangat tidak asing bagi kakeknya. Mereka bertanya, tapi tak ada yang menjawab. Seperti tak dihiraukan keadaan mereka. Lantas mereka pergi ke tengah desa, orang-orang di sana sangat dikenali kakeknya. Tetapi saat dipanggil tak ada sama sekali yang menyahut.

Mereka adalah orang yang dikabarkan hilang di pulau ini. Lantas tulang siapa yang pulang ke desa itu? Pikiran kakek itu berkecambuk. Ia lantas memeluk erat cucunya. Air matanya tak habis-habis keluar.

Beberapa hari berlalu, tulang dan potongan kapal mereka ditemukan di tepian pantai yang tak jauh dari desa mereka.

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Next Post

Puisi-puisi Teguh Tri Fauzi | Seperti Perjalanan Isra-Miraj

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Teguh Tri Fauzi | Seperti Perjalanan Isra-Miraj

Puisi-puisi Teguh Tri Fauzi | Seperti Perjalanan Isra-Miraj

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co