12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Air dan Pulau Keramat | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
May 7, 2022
in Cerpen
Anak Air dan Pulau Keramat | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna dan Google

Sejak subuh, kakek sibuk menebar jala untuk ikan-ikan yang berenang-renang mengitari jukung. Dengan lampu terang untuk menarik perhatian ikan, suara mesin yang kian mereda dan baju hangat tergantung di tiang panjang yang membentang di atas kepalanya. Tampak juga seorang anak kecil yang tertidur pulas di atas potongan bambu-bambu kecil yang sengaja dibuat membentang, tampaknya untuk beristirahat sejenak dari lelah menabur jala yang kian rapuh.

Matahari kian menerik, dingin sudah mulai memudar, anak kecil itu mulai terbangun dari tidurnya. Ia memandang jauh ke sebuah pulau yang menarik perhatiannya. Kakeknya masih terus menarik dan membuang jala ke laut, hanya beberapa ikan yang ia dapatkan. Anak kecil itu kembali memalingkan pandangannya ke ikan-ikan itu.

“Ini ikan apa, Kek?” tanya lugu anak kecil itu.

“Hanya tongkol!” jawab singkat kakek.

“Lalu yang ada garis kuning itu apa?” tanyanya lagi.

“Itu kakap!” jawab kakek dengan singkat lagi.

“Biasanya kakap itu merah, kenapa ini kuning?”

“Itu kakap ekor kuning, sangat sulit ditangkap pemancing. Hari ini kita beruntung dapat beberapa ikan ini. Jika dijual harganya mahal,” jelas kakek.

Setelah percakapan itu, ia kembali memandang sebuah pulau yang menarik perhatian sebelumnya. Ia terus memandang, rasa penasarannya kembali bergema. Ia ingin bertanya kepada kakek, tapi takut kakek marah karena pertanyaannya yang begitu banyak sejak ia mulai terbangun.

Banyak pertanyaan yang terbesit di kepalanya. Ia ingin sekali mengunjungi pulau itu. Tapi banyak cerita tentang pulau itu yang ia sering dengar dari para nelayan. Sebelum melaut, para nelayan pasti akan berkumpul di pesisir, entah membenahi jukung, jaring dan bersiap untuk kesediaan makanan beberapa hari di laut lepas. Sebelum itu, pastilah mereka akan berbincang entah tentang ikan yang ditangkap kemarin sampai cerita-cerita dari pulau yang katanya tak berpenghuni itu.

Ia sama sekali tidak memalingkan pandangan dari pulau itu sedikitpun. Ia sangat penasaran, apa saja yang ada di pulau itu sebenarnya.

Stasiun | Cerpen Satria Aditya

Tak lama, ia memberanikan diri bertanya kepada kakek. Dengan penuh keyakinan ia memulai percakapan mengenai pulau itu.

“Itu pulau yang sering diceritakan orang-orang, Kek?”

“Iya. Kau jangan sampai mencari tahu atau ingin tahu,” sahut kakek dingin.

“Tapi kenapa? Pulau itu terlihat biasa saja, Kek.” tanyanya lagi.

“Ya, memang terlihat biasa saja. Tapi pulau itu pulau keramat. Entah berapa orang yang sudah menjadi tulang di sana,” tegas kakek sambil memandang pulau itu.

“Pokoknya, kakek melarangmu pergi ke sana. Jika suatu saat kau ingin sekali mencari tahu, tidak akan ada yang berani menghampirimu ke sana,” tegas kakek kembali.

Sejak percakapan itu, ia hanya terdiam. Tapi pikirannya masih saja bergejolak. Entah karena apa. Ia ingin sekali mencari tahu. Akhirnya, ia dan kakek mulai mengangkat jala kembali dengan perlahan. Ini adalah jala terakhir yang ditebar beberapa hari lalu. Setelah selesai mengangkat dan ikan-ikan sudah mulai terkumpul, mereka bergegas kembali ke tepi pantai karena langit tak mulai bersahabat dengan mereka. Di tengah perjalanan, anak itu mencuri pandang ke pulau itu. Ia sangat-sangat penasaran. Apakah memang benar ada sesuatu yang bisa membuat nelayan-nelayan tak kembali dari pulau itu?

Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama

Selang beberapa saat, hujan turun dengan derasnya. Mereka berdua membentangkan terpal agar tak basah karena hujan. Ombak di laut tak bisa menahan amukannya. Semakin lama, ombak selalu ingin menerkam jukung mereka. Anak itu kian panik tetapi masih sibuk menyemimbangkan jukung itu bersama kakeknya. Tenaganya kian habis karena sibuk agar jukung itu tak diterkam ombak. Mereka terombang-ambing di tengah lautan. Kakeknya sejak tadi tak pernah sedetikpun memalingkan matanya dari arah cucunya. Sembari menyeimbangkan jukung itu, kakeknya sesekali memegang cucunya itu agar tak keluar dari jukung.

Satu jam berlalu, mereka masih sibuk melawan ombak. Anak itu sangat ketakutan, kakenya langsung memeluk cucunya. Mereka seperti bisa membayangkan takdirnya.

“Kek, bagaimana kalau kita tidak selamat?” ucap anak itu dengan gemetar.

“Kita akan selamat. Walau hanya ke tempat itu,” kata kakeknya dengan tegas.

“Ke mana, Kek?”

“Diam dan turuti aku. Yang terpenting kita tak mati hari ini!”

Kakeknya itu lantas mengerahkan jukungnya menuju suatu pulau. Pulau yang sangat ditakuti oleh para nelayan. Mereka menuju ke sana dengan sekuat tenaga yang masih dimiliki. Anak itu kemudian sangat ketakutkan karena tahu pulau yang akan dituju itu adalah pulau terlarang di tengah laut. Tak lama, mereka sampai di pulau yang katanya tak pernah ada yang bisa selamat dari sana. Hujan masih turun dengan sangat deras. Mereka lantas menarik jukung itu ke tepi pulau dan mengikatnya di pohon dekat mereka. Terpal di jukung itu dibuat sebagai sebuah tenda di sisi pulau.

Malam kian mencekam dirasakan anak itu. Kakeknya hanya diam sembari memantau sekeliling. Mereka tak berani berkutik sedikitpun. Sesuatu seperti muncul di dekat mereka. ada sebuah api yang mengambang. Banyak sekali. Keramaian mulai menyelimuti di tengah hujan. Anak itu kian takut. Ingin beranjak dari pelukan kakeknya dan berlari menuju suatu tempat yang aman. Tetapi ia tak sanggup. Sangat takut. Hingga kakeknya mengajak untuk berlari ke dalam hutan belantara di pulau itu. Mereka berlari. Seperti tak berujung. Anak itu kian panik, tak sadar ia menangis sesenggukan di tengah mereka berlari.

Kakeknya tak pernah melepas genggaman itu. mereka terus berlari di tengah hutan dengan hujan yang makin deras dan malam yang sangat mengerikan. Kaki mereka sudah terselimuti tanah basah, beberapa binatang menempel di kaki mereka. Mereka sama sekali tak perduli.

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Sekelebat cahaya terlihat di antara celah pepohonan. Mereka merasa lega sedikit walaupun masih merasa ada bahaya yang mengancam. Napas kian tak terkendali, mereka menghampiri cahaya itu. sampai akhirnya, padang rumput yang sangat indah terlihat. Orang-orang yang ada di sana juga sangat ramai. Orang tua bertani, anak-anak kecil berlari, di sungai kecil terlihat orang yang sedang kegirangan bermain air dan juga rumah-rumah yang tertata rapi tidak seperti di desa mereka.

“Ini apa, Kek?” kata anak kecil itu terangsur lelah.

“Aku juga tak tahu. Mungkin ada desa di pulau terpencil ini. Tetapi sangat indah,” ucap kakeknya keheranan.

“Ayo ke sana Kek. Kita minta bantuan ke warga!”

“Ya sudah. Aku juga sudah terlalu lelah berlarian dari tadi!”

Mereka menghampiri salah satu warga. Tetapi mukanya sangat tidak asing bagi kakeknya. Mereka bertanya, tapi tak ada yang menjawab. Seperti tak dihiraukan keadaan mereka. Lantas mereka pergi ke tengah desa, orang-orang di sana sangat dikenali kakeknya. Tetapi saat dipanggil tak ada sama sekali yang menyahut.

Mereka adalah orang yang dikabarkan hilang di pulau ini. Lantas tulang siapa yang pulang ke desa itu? Pikiran kakek itu berkecambuk. Ia lantas memeluk erat cucunya. Air matanya tak habis-habis keluar.

Beberapa hari berlalu, tulang dan potongan kapal mereka ditemukan di tepian pantai yang tak jauh dari desa mereka.

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Next Post

Puisi-puisi Teguh Tri Fauzi | Seperti Perjalanan Isra-Miraj

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Teguh Tri Fauzi | Seperti Perjalanan Isra-Miraj

Puisi-puisi Teguh Tri Fauzi | Seperti Perjalanan Isra-Miraj

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co