2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Stasiun | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
January 29, 2022
in Cerpen
Stasiun | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Kapan kau akan kembali, Stev?” tanya wanita itu dengan muka masam.

“Entah. Tunggu saja sampai aku kembali, Ann!”

“Jika tidak kembali?” tanya wanita itu kembali.

“Jangan tunggu aku lagi!”

Anna meneteskan air matanya. Ia memeluk erat Stev untuk pertemuan terakhir mereka. Stasiun kala itu sangat ramai. Orang lalu-lalang melewati kedua pasangan itu. Mereka tidak peduli, karena ada yang lebih penting daripada menyaksikan roman picisan anak muda.

Anna menatap wajah kekasihnya dengan linangan air mata. Berbeda dengan Stev, ia bersikap sangat dingin sekali.

Waktu sudah tiba, kereta kekasihnya datang. Pelukan Ann semakin erat. Tak ingin melepas sedikitpun. Tapi kekasihnya itu harus bergegas berangkat. Ia lantas memegang pundak Ann dan mendorongnya sedikit demi sedikit. Ann melawan. Tidak ia lepaskan sedikitpun, tapi apalah arti tenaga Ann untuk bisa selalu memeluk kekasihnya.

Akhirnya pelukan itu terlepas. Tangis Ann semakin menjadi ketika pelukan itu terlepas.

“Aku akan kembali, Ann. Tapi entah kapan!”

“Aku akan menunggumu. Selamanya!” jawab wanita itu.

“Jangan. Pun jika aku kemari lagi, kita tidak akan bisa menyatu!” ucap kekasihnya itu sembari mebalikkan badannya.

“Aku akan selalu menunggu, Stev!”

“Aku pergi, Ann. Jaga dirimu. Aku akan kembali pada waktunya tiba!”

Sejak itu, Ann selalu menunggu di stasiun. Setiap hari. Ia berdiri sedemikian rupa dan memandang setiap laki-laki yang turun dari kereta.

Ann mengenal Stev pada suatu hari yang kacau. Malam hari di kota Koln, Ann sedang berjalan di lorong kecil, di antara dua buah gedung. Ia membawa barang belanjaan yang banyak sekali saat itu. Tetapi mendadak, di ujung lorong itu sebuah truk berhenti. Ann terkejut dan untungnya langsung dapat bersembunyi di sela gedung saat itu.

Dentuman peluru membabi buta malam hari itu. Ann masih bersembunyi di lorong gelap itu dengan ketakutan yang luar biasa. Ledakan di mana-mana. Gedung di depannya mulai hancur karena sebuah ledakan. Ann semakin ketakutan kala ada tapak kaki yang mulai berlarian dari ujung lorong ke ujung lainnya. Sangat banyak. Mereka berteriak, suara dentuman dan peluru masih sangat terdengar jelas. Ann semakin ketakutan. Ia memeluk erat barang belanjaannya dan meringkuk di celah gedung itu agar tidak ada yang tahu bahwa ia ada di sana.

Beberapa saat kemudian, Ann sudah tak sanggup lagi untuk bertahan di sana. Wajahnya pucat layu, nafasnya mulai pendek dan tenaganya sudah mulai habis untuk bertahan di sana. Tak lama, seorang pria bersenjata melihat Ann yang sudah lemas di celah gedung itu. Saat itu juga Anna ditolong dan dibawa ke tempat yang lebih aman untuk bersembunyi saat itu.

Keesokan harinya, Ann terbangun. Ia sangat terkejut ketika baru terbangun ada di tempat yang sama sekali tak ia kenal. Ia lantas melihat seseorang pria tertidur sembari memeluk senjata. Ann terkejut dan berteriak keras. Akhirnya, pria itu bangun dan menutup mulut Ann. Mereka berdua sama-sama panik.

“Dimana aku? Dan kau siapa?” tanya Ann.

“Hela napasmu dulu. Akan aku katakan siapa aku saat kau sudah tenang,” ucap pria itu dengan berbisik.

Pria itu lantas beranjak dari tempat tidur Ann, membuat secangkir teh dan memberikannya pada Ann. Ia saat itu sangat ketakutan. Tapi dengan melihat gelagat pria itu sepertinya Ann mulai terbiasa.

“Kau sudah tenang?” tanya pria itu.

“Sudah lebih baik. Jadi, siapa kau sebenarnya dan ada di mana aku saat ini?” tanya Ann kembali

“Pertama, aku Stev. Kedua, kau berada di kota kecil bernama Laix. Pertanyaanmu sudah semua aku jawab. Jadi, aku akan membuat sarapan!”

“Kenapa jauh sekali? Ada apa dengan tempatku?” tanya Ann kembali kebingungan.

Stev belum menjawab. Ia menuju dapur dan mulai memasak. Sembari menghela napas untuk menjawab pertanyaan Ann.

“Ini adalah tempat yang lumayan aman saat ini. Tempatmu sudah rata dengan tanah. Hanya sedikit gedung yang ada di sana. Jika kau ingin kembali, aku persilakan. Tapi, di sana ada banyak orang bersenjata yang siap menembak tubuhmu kapan saja,” jawab dingin Stev.

Anna termanggu mendengar jawaban Stev. Ia juga menghela napas dan bergegas mencuci mukanya.

“Oh ya. Aku Ann, tidak sopan rasanya saat berada di rumah orang lain aku tidak meperkenalkan diri!”

“Ya. Kamar mandi ada di selatan sana!”

Setelah kejadian dan perkenalan itu, Ann mendapatkan tempat untuk tinggal sementara waktu. Ia juga semakin erat menjalin hubungan dengan Stev. Ann menjalani harinya seperti biasa. Tapi, masih ada saja kenangan-kenangan buruk saat kejadian hari itu. Ia terus memikirkan keluarga dan teman-temannya. Padahal, sekutu tidak akan berani untuk menyerang kotanya. Ini aneh. Dan Ann masih terbawa kekhawatiran jika Stev kembali ke medan pertempuran lagi.

Tahun berikutnya, ada surat yang ditujukan untuk Stev. Setelah Stev tahu tentang isi surat itu ia bergegas mengemas beberapa pakaiannya dan menitipkan surat pada Ann. Ia cepat-cepat menuju stasiun saat itu.

Di tengah perjalanan menuju stasiun, Stev tak sengaja bertemu dengan Ann. Ia panik, karena kepergiannya sebenarnya harus disembunyikan dari Ann. Tapi, ia tak bisa mengelak lagi. Untuk beberapa saat tatapan Stev dan Ann mulai erat kala itu.

“Mau kemana?” tanya Ann kebingungan.

“Pergi jauh. Tidak tahu akan ke mana!” jawab Stev dingin.

“Tapi kenapa terburu-buru?”

“Hanya tidak ingin kau khawatir!”

Ann menitikkan air mata pada pertemuan itu. Hal yang ia khawatirkan sejak dulu akhirnya terjadi. Ia harus ditinggalkan oleh kekasihnya tidak tau dalam waktu berapa lama dan ia pun tak tahu kekasihnya itu akan pulang atau tidak.

Stev lantas memeluk Ann. Pelukan perpisahan untuk sementara waktu. Ia sangat berat untuk meninggalkan Ann sendiri. Tak tahu juga akan selamat atau tidak nantinya.

“Sudahlah, aku akan kembali. Kembali memelukmu dan menikmati sore di halaman depan seperti biasa,” ucap Stev di tengah pelukan erat itu.

“Tapi aku takut kau tidak akan kembali memenuhi janjimu,” ucap Ann sembari terisak dalam pelukan Stev.

“Aku akan kembali. Aku buat sepucuk surat. Ingat Ann, surat itu kau buka setelah aku kembali!”

“Jika kau tidak kembali?”

“Aku akan pulang. Kita berdua berharap tidak ada lagi peperangan di masa depan. Dan sudah tugasku untuk menjadikan dunia ini damai kembali.”

“Aku akan menunggu. Sampai kapanpun, Stev”

“Ya, tunggu aku. Aku mencintaimu Ann!”

Mereka berdua melepaskan pelukan itu. Meluapkan ciuman perpisahan untuk terakhir kalinya. Ann masih terisak dan Stev harus dengan langkah yang berat meniggalkan Ann.

Stev pergi, beranjak dari pelukan Ann menuju stasiun. Di sana, semua prajurit sudah menunggu untuk berangkat memenuhi tugasnya. Meninggalkan kekasih, istri dan keluarganya.

Beberapa tahun kemudian, Stev tak juga kembali. Ann selalu menunggu. Hingga akhirnya ia tak bisa lagi menghiraukan surat itu. Penggalan kata dari surat yang paling diingat Ann adalah “Saat aku tidak juga kembali, tunggu aku di stasiun”.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mettarini | Aku Mencumbu Waktu

Next Post

Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co