2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
November 28, 2021
in Cerpen
Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen  I Putu Agus Phebi Rosadi

Ilustrasi adalah salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa di Kampus Undiksha Singaraja, Januari 2020

Ini hari pertama aku pindah tugas. Sebagai wartawan harian, sebenarnya aku cukup betah di Jakarta dengan kebisingan kota yang nampak selalu krodit. Tapi seminggu lalu, seorang karib wartawan di Bali memutuskan untuk berhenti hidup menjadi wartawan karena satu dan lain hal. Maka aku diutus menggantikkannya. Dan tentu, aku tak menolak. Pulang ke kampung halaman setelah sekian lama toh bukan dosa.

Sebelum kesibukan kerja melanda, kusempatkan mengunjungi kampung halaman di Jembrana barang sebentar.  Sekiranya dua puluh tahun aku tak menginjakkan kaki di tempat ini. Bertahun-tahun belakangan, kabar tentang kampungku hanya kudengar dari cerita-cerita bapak dan saudaraku. Mereka hanya mengabariku lewat telepon dan surat-surat yang diantar tukang pos.

Aku merindukan Sungai Ijo Gading. Ingin juga kupastikan bahwa aliran sungainya masih jernih dengan riang kecipak ikan. Ingin juga kulihat sampan tertambat anggun di pelabuhan kayu sepanjang bantaran. Dan pada malam hari, sampan-sampan itu akan bertolak ke sepanjang sungai dengan kelip lampu petromak. Sungai ini benar-benar tak pernah berhenti berdenyut bahagia.

 Aku menghampiri jembatan kayu. Satu-satunya jembatan yang membelah sungai ini.  Angin pelan dan sedikit dingin kakiku yang menjuntai. Segalanya memang nampak utuh. Barangkali memang benar yang bapak katakan bahwa mungkin di luar sana, orang tak bisa menemukan sungai yang sama dua kali. Tapi di sini, orang bisa melihat sungai yang sama berkali-kali. Di sungai ini, hampir seperti tak ada yang terjadi. Waktu tak merebut apapun, kecuali usia. Sama seperti yang kubayangkan dari kejauhan. Desir angin dan pasang air menawarkan riak ke hulu ingatan. Membawakan setangkup masa kecil.

Anak-anak bergembira bermandian di bening air di bawah teduh pohon waru. Begitu kokohnya pohon waru itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke tengah sungai membentuk semacam titian. Dahan pohon waru itu dahulu menjadi tumpuan kami untuk bermain dan melompat ke tengah sungai. Aku ingin memotretnya. Dengan kamera yang bergayut di leher, ingin kutangkap khayalan masa kecilku yang hanya sebentar. Sebagian kebahagiaan masa kecilku kemudian kuserahkan kepada Jakarta.  

Bapakku dengan kehidupan pas-pasan tak pernah sanggup menyekolahkanku dari hasil tangkapan ikan sungai yang harganya selalu jatuh di pasaran. Meski demikian, tak sekalipun ia pernah mengeluh perihal keuangan keluarga. Maka dengan cita-cita besar, ia menitip anak semata wayang kepada adiknya di Jakarta.

“Agar hidup tak bernasib sama, pergilah dengan tekad yang kuat, sebab tekad yang lemah, tak akan memberikanmu sesuatu.” Pesan terakhir yang selalu kuingat. “Anak nelayan tak harus jadi nelayan. Ia tentu boleh perpendidikan tinggi, jadi dokter, polisi, atau pengusaha,” katanya. Dan aku tak memilih pilhannya. Aku menemukan pilihanku sendiri: menjadi wartawan.

Dalam ingatanku yang terus susut ke masa kecil, tiba-tiba aku tercengang. Di kejauhan, di sepanjang tanggul sungai banyak orang berlarian seperti melakukan arak-arakan. Di tengah sungai, kulihat sebuah mayat mengambang di air pasang. Dan di belakangnya, seekor buaya mengawal. Ia terus menuju hulu lalu kembali ke hilir. Begitu berulang-ulang bersama air yang perlahan menjelma merah darah. Aku yang belum sempat memotret masa kecilku segera bergegas dan menghampiri kerumunan.

“Ada apa bapak-bapak?”

Tiba-tiba wajah mereka tercengang. Barangkali penampilan dan wajahku asing baginya. Melihat kamera di leherku, salah seorang darinya langsung menduga dan bertanya.

“Wartawan ya?” Aku tak mngiyakan, hanya membalas dengan senyum.

“Pan Putra mati diantar Buaya Gading.” Warga lain kemudian menimpali.

Mendengar nama itu, aku sempat menelan ludah. Terkejut. Tapi aku berusaha tenang dan mengulik informasi lebih jauh. “Dimangsa buaya?” Tanyaku. Diam-diam, dengan kebiasaan kerja, kutekan tombol perekam suara pada gawaiku.

“Ngawur! Saya juga tidak tahu. Yang jelas bukan dimangsa buaya. Tidak mungkin. Buaya itu sahabat kami. Sudah seminggu memang Pan Putra tak pulang ke rumah. Kami sudah melakukan beberapa upaya pencarian, mulai dari menyusur sungai hingga ke semak, mengaturkan sesajen dan memohon petunjuk kepada penunggu sungai, sempat juga bertanya kepada orang pintar. Katanya Pan Putra tak kemana, ia masih di sungai. Tapi kami tak menemukannya. Tapi hari ini mayatnya tiba-tiba mengambang diantar Buaya Gading.”

Ada rasa sakit tiba-tiba menghujam dada ketika seorang warga menceritakan lebih jauh tentang siapa mayat yang mengambang itu. “Dia adalah Pan Putra. Seorang nelayan Sungai Ijo Gading sekaligus tetua kampung yang dihormati. Dia punya anak laki-laki. Tapi sejak kecil pergi dari kampung ini. Barangkali itulah yang membuat Pan Putra mengisi kekosongan seorang ayah dengan berteman dengan sungai. Baginya sungai adalah hidup dan hidup adalah sungai.  Sepanjang hari, kalau tidak ada acara adat,waktu hidupnya ia habiskan bersama sampan dan sungai. Ada saja yang ia kerjakan. Entah itu menanam pohon penahan tebing atau membersihkan sampah.

Ia juga menentang perburuan satu-satunya buaya yang hidup di Sungai Ijo Gading. Buaya yang mengantar kematiannya hari ini. Pan Putra menyebutnya sebagai Buaya Gading, buaya Duwe, milik wong gaib. Sepanjang buaya itu tak menyakiti, maka ia tak perlu diburu. Awalnya warga tak begitu percaya dengan ucapan Pan Putra, tapi melihat apa yang dilakukan Pan Putra membuat penjelasannya terdengar masuk akal. Menghadapi kemunculan Buaya Gading, lelaki yang bertubuh legam itu memang seperti pawang buaya.

Setiap Buaya Gading mengambang dan dirasakan mengancam warga, ia turun tangan. Hanya dengan sebuah tongkat bambu, buaya itu seolah menuruti perintahnya dan menjauhi warga. Kadang juga ia berlaku seperti orang sakti. Ia bersila di atas punggung buaya yang berenang ke hulu dan ke hilir. Dengan adanya keyakinan yang diberikan Pan Putra, akhirnya tak ada warga yang terusik atas keberadaan buaya itu.  Buaya Gading itu  perlahan dibiarkan mendatangi rumah warga. Tak ada yang terusik, bahkan sebaliknya, warga memberinya buah-buahan, sayuran, atau daging sekadarnya yang mereka punya tanpa rasa takut sedikitpun. Mereka memberikan kasih sayang dan merawat buaya itu seperti hewan peliharaan.”  

“Bagi kami,” salah seorang  tua di antara kerumunan itu melanjutkan cerita, “Pan Putra lebih dari sekadar seorang nelayan dan warga Sungai Ijogading. Sebagai tetua kampung, Pan Putra telah membuat hidup kami jauh lebih baik. Ia mengajak kami menanam sayur-mayur sepanjang tanggul sungai. Sayur-mayur yang bisa kami petik kala tangkapan sedikit di musim angin. Pan Putra juga menggagas kelompok perajin miniatur sampan. Sekarang, hidup warga sepanjang sungai ijogading jauh lebih baik.

Pan Putra telah mengubah kampung ini menjadi lebih bahagia. Bagi siapa saja yang sempat menyusuri kampung ini akan terpana melihat emper-emper rumah warga dengan pemandangan ibu-ibu  memoles miniatur sampan kayu dan menyulam jaring di bawah rindang beranda halaman. Ibu-ibu muda menghidangkan teh dan jajan basah dan ibu-ibu tua mengunyah sirih pinang sambil sesekali menyurai handuk yang menyampir di kepala.

Wajah mereka jauh dari murung. Di bulan Agustus, sepanjang Sungai Ijo Gading, Pan Putra selalu menggagas hiburan rakyat dengan keramaian yang kadang tak terkira. Segala macam perlombaan riang gembira digelar. Ada pula menggelar dagangan, mulai dari pasar ikan sampai pasar oleh-oleh khas kampung. Dalam keadaan seperti itu, kampung kami terlihat alangkah makmur dan bahagia.

Tapi, sebagai orang yang dianggap memiliki pengaruh, Pan Putra telah memikul tanggung jawab yang penuh dengan kecemasan. Di bulan-bulan menjelang Pemilihan Bupati seperti sekarang ini, ia kerap didatangi tokoh politik dengan dalih ingin menyumbang uang atau barang. Dan tak jarang, setiap yang datang memikul rasa kecewa. Pan Putra selalu menolak. Dengan tegas, Pan Putra memberitahukan kepada warga agar kampung ini tak pernah terlibat politik.” Berpolitik adalah mendaki curam tebing, sedikit meleset, kita celaka.” Begitu selalu perkataan terelontar dari mulut Pan Putra. Dan seperti sihir, setiap kata yang jatuh dari mulut Pan Putra dituruti senantiasa.

Saban malam, ada saja yang datang ke rumahnya. Ketika tokoh politik tak mempan, maka mereka mengirim preman bertubuh besar. Tapi Pan Putra tak pernah gentar. Ia selalu melindungi kebebasan warga desa dari ikatan politik. Dan para preman yang diutus tokoh politik itu konon tak jarang juga mencelakai bila tak mendapatkan kesepatakan.  

Cara-cara yang dilakukan politik memang sangar dan berlumur dengki. Tapi orang-orang kampung tak pernah mencemaskan Pan Putra. Jangankan berniat mencelakai, biasanya orang yang bertemu dengan Pan Putra untuk pertama kali bahkan kerap takut salah bertutur melihat perawakan dan wibawa di wajahnya.”

Cerita-cerita tentang Pan Putra mungkin masih panjang. Bagaimanapun, mendengarkan cerita-cerita mereka tak akan membuat nyawa lelaki yang terbaring di atas air itu kembali hidup. Langit telah susut dan senja hampir pudar. Burung-burung gagak berdatangan. Mengintip di atas pohon waru. Kicaunya tak beraturan. Mengabarkan kematian. Beberapa burung kecil menimpali. Hinggap di dahan-dahan, kemudian terbang lagi. Kumatikan gawai yang sedari tadi merekam cerita demi cerita tentang Pan Putra. Aku terlanjur bersedih.

Kutinggalkan kerumunan itu. Aku ingin mencari sudut foto terbaik. Aku ingin menangkap moment itu dengan sempurna. Di kejauhan, kerumunan itu yang terus melambai minta dipotret. Ada yang memasang gaya dan senyum sumringah. Aku tak peduli. Kuarahkan kamera ke tengah sungai. Seorang lelaki tua tengadah di atas air. Tak memakai baju. Kulitnya matang diperam cahaya. Dalam keadaan tak bernapas, wajah nelayan itu tetap berusaha tersenyum. Kupikir ini adalah berita pertamaku yang menarik sekaligus menyedihkan. Besok, sebuah koran akan mengabarkan:

SEORANG NELAYAN MENGAMBANG SEPANJANG SUNGAI IJO GADING.

Dan tentu, Tak ada yang perlu tahu, nelayan yang mengambang itu adalah ayahku. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Apa Kehidupan Ada?

Next Post

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co