2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
November 28, 2021
in Cerpen
Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen  I Putu Agus Phebi Rosadi

Ilustrasi adalah salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa di Kampus Undiksha Singaraja, Januari 2020

Ini hari pertama aku pindah tugas. Sebagai wartawan harian, sebenarnya aku cukup betah di Jakarta dengan kebisingan kota yang nampak selalu krodit. Tapi seminggu lalu, seorang karib wartawan di Bali memutuskan untuk berhenti hidup menjadi wartawan karena satu dan lain hal. Maka aku diutus menggantikkannya. Dan tentu, aku tak menolak. Pulang ke kampung halaman setelah sekian lama toh bukan dosa.

Sebelum kesibukan kerja melanda, kusempatkan mengunjungi kampung halaman di Jembrana barang sebentar.  Sekiranya dua puluh tahun aku tak menginjakkan kaki di tempat ini. Bertahun-tahun belakangan, kabar tentang kampungku hanya kudengar dari cerita-cerita bapak dan saudaraku. Mereka hanya mengabariku lewat telepon dan surat-surat yang diantar tukang pos.

Aku merindukan Sungai Ijo Gading. Ingin juga kupastikan bahwa aliran sungainya masih jernih dengan riang kecipak ikan. Ingin juga kulihat sampan tertambat anggun di pelabuhan kayu sepanjang bantaran. Dan pada malam hari, sampan-sampan itu akan bertolak ke sepanjang sungai dengan kelip lampu petromak. Sungai ini benar-benar tak pernah berhenti berdenyut bahagia.

 Aku menghampiri jembatan kayu. Satu-satunya jembatan yang membelah sungai ini.  Angin pelan dan sedikit dingin kakiku yang menjuntai. Segalanya memang nampak utuh. Barangkali memang benar yang bapak katakan bahwa mungkin di luar sana, orang tak bisa menemukan sungai yang sama dua kali. Tapi di sini, orang bisa melihat sungai yang sama berkali-kali. Di sungai ini, hampir seperti tak ada yang terjadi. Waktu tak merebut apapun, kecuali usia. Sama seperti yang kubayangkan dari kejauhan. Desir angin dan pasang air menawarkan riak ke hulu ingatan. Membawakan setangkup masa kecil.

Anak-anak bergembira bermandian di bening air di bawah teduh pohon waru. Begitu kokohnya pohon waru itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke tengah sungai membentuk semacam titian. Dahan pohon waru itu dahulu menjadi tumpuan kami untuk bermain dan melompat ke tengah sungai. Aku ingin memotretnya. Dengan kamera yang bergayut di leher, ingin kutangkap khayalan masa kecilku yang hanya sebentar. Sebagian kebahagiaan masa kecilku kemudian kuserahkan kepada Jakarta.  

Bapakku dengan kehidupan pas-pasan tak pernah sanggup menyekolahkanku dari hasil tangkapan ikan sungai yang harganya selalu jatuh di pasaran. Meski demikian, tak sekalipun ia pernah mengeluh perihal keuangan keluarga. Maka dengan cita-cita besar, ia menitip anak semata wayang kepada adiknya di Jakarta.

“Agar hidup tak bernasib sama, pergilah dengan tekad yang kuat, sebab tekad yang lemah, tak akan memberikanmu sesuatu.” Pesan terakhir yang selalu kuingat. “Anak nelayan tak harus jadi nelayan. Ia tentu boleh perpendidikan tinggi, jadi dokter, polisi, atau pengusaha,” katanya. Dan aku tak memilih pilhannya. Aku menemukan pilihanku sendiri: menjadi wartawan.

Dalam ingatanku yang terus susut ke masa kecil, tiba-tiba aku tercengang. Di kejauhan, di sepanjang tanggul sungai banyak orang berlarian seperti melakukan arak-arakan. Di tengah sungai, kulihat sebuah mayat mengambang di air pasang. Dan di belakangnya, seekor buaya mengawal. Ia terus menuju hulu lalu kembali ke hilir. Begitu berulang-ulang bersama air yang perlahan menjelma merah darah. Aku yang belum sempat memotret masa kecilku segera bergegas dan menghampiri kerumunan.

“Ada apa bapak-bapak?”

Tiba-tiba wajah mereka tercengang. Barangkali penampilan dan wajahku asing baginya. Melihat kamera di leherku, salah seorang darinya langsung menduga dan bertanya.

“Wartawan ya?” Aku tak mngiyakan, hanya membalas dengan senyum.

“Pan Putra mati diantar Buaya Gading.” Warga lain kemudian menimpali.

Mendengar nama itu, aku sempat menelan ludah. Terkejut. Tapi aku berusaha tenang dan mengulik informasi lebih jauh. “Dimangsa buaya?” Tanyaku. Diam-diam, dengan kebiasaan kerja, kutekan tombol perekam suara pada gawaiku.

“Ngawur! Saya juga tidak tahu. Yang jelas bukan dimangsa buaya. Tidak mungkin. Buaya itu sahabat kami. Sudah seminggu memang Pan Putra tak pulang ke rumah. Kami sudah melakukan beberapa upaya pencarian, mulai dari menyusur sungai hingga ke semak, mengaturkan sesajen dan memohon petunjuk kepada penunggu sungai, sempat juga bertanya kepada orang pintar. Katanya Pan Putra tak kemana, ia masih di sungai. Tapi kami tak menemukannya. Tapi hari ini mayatnya tiba-tiba mengambang diantar Buaya Gading.”

Ada rasa sakit tiba-tiba menghujam dada ketika seorang warga menceritakan lebih jauh tentang siapa mayat yang mengambang itu. “Dia adalah Pan Putra. Seorang nelayan Sungai Ijo Gading sekaligus tetua kampung yang dihormati. Dia punya anak laki-laki. Tapi sejak kecil pergi dari kampung ini. Barangkali itulah yang membuat Pan Putra mengisi kekosongan seorang ayah dengan berteman dengan sungai. Baginya sungai adalah hidup dan hidup adalah sungai.  Sepanjang hari, kalau tidak ada acara adat,waktu hidupnya ia habiskan bersama sampan dan sungai. Ada saja yang ia kerjakan. Entah itu menanam pohon penahan tebing atau membersihkan sampah.

Ia juga menentang perburuan satu-satunya buaya yang hidup di Sungai Ijo Gading. Buaya yang mengantar kematiannya hari ini. Pan Putra menyebutnya sebagai Buaya Gading, buaya Duwe, milik wong gaib. Sepanjang buaya itu tak menyakiti, maka ia tak perlu diburu. Awalnya warga tak begitu percaya dengan ucapan Pan Putra, tapi melihat apa yang dilakukan Pan Putra membuat penjelasannya terdengar masuk akal. Menghadapi kemunculan Buaya Gading, lelaki yang bertubuh legam itu memang seperti pawang buaya.

Setiap Buaya Gading mengambang dan dirasakan mengancam warga, ia turun tangan. Hanya dengan sebuah tongkat bambu, buaya itu seolah menuruti perintahnya dan menjauhi warga. Kadang juga ia berlaku seperti orang sakti. Ia bersila di atas punggung buaya yang berenang ke hulu dan ke hilir. Dengan adanya keyakinan yang diberikan Pan Putra, akhirnya tak ada warga yang terusik atas keberadaan buaya itu.  Buaya Gading itu  perlahan dibiarkan mendatangi rumah warga. Tak ada yang terusik, bahkan sebaliknya, warga memberinya buah-buahan, sayuran, atau daging sekadarnya yang mereka punya tanpa rasa takut sedikitpun. Mereka memberikan kasih sayang dan merawat buaya itu seperti hewan peliharaan.”  

“Bagi kami,” salah seorang  tua di antara kerumunan itu melanjutkan cerita, “Pan Putra lebih dari sekadar seorang nelayan dan warga Sungai Ijogading. Sebagai tetua kampung, Pan Putra telah membuat hidup kami jauh lebih baik. Ia mengajak kami menanam sayur-mayur sepanjang tanggul sungai. Sayur-mayur yang bisa kami petik kala tangkapan sedikit di musim angin. Pan Putra juga menggagas kelompok perajin miniatur sampan. Sekarang, hidup warga sepanjang sungai ijogading jauh lebih baik.

Pan Putra telah mengubah kampung ini menjadi lebih bahagia. Bagi siapa saja yang sempat menyusuri kampung ini akan terpana melihat emper-emper rumah warga dengan pemandangan ibu-ibu  memoles miniatur sampan kayu dan menyulam jaring di bawah rindang beranda halaman. Ibu-ibu muda menghidangkan teh dan jajan basah dan ibu-ibu tua mengunyah sirih pinang sambil sesekali menyurai handuk yang menyampir di kepala.

Wajah mereka jauh dari murung. Di bulan Agustus, sepanjang Sungai Ijo Gading, Pan Putra selalu menggagas hiburan rakyat dengan keramaian yang kadang tak terkira. Segala macam perlombaan riang gembira digelar. Ada pula menggelar dagangan, mulai dari pasar ikan sampai pasar oleh-oleh khas kampung. Dalam keadaan seperti itu, kampung kami terlihat alangkah makmur dan bahagia.

Tapi, sebagai orang yang dianggap memiliki pengaruh, Pan Putra telah memikul tanggung jawab yang penuh dengan kecemasan. Di bulan-bulan menjelang Pemilihan Bupati seperti sekarang ini, ia kerap didatangi tokoh politik dengan dalih ingin menyumbang uang atau barang. Dan tak jarang, setiap yang datang memikul rasa kecewa. Pan Putra selalu menolak. Dengan tegas, Pan Putra memberitahukan kepada warga agar kampung ini tak pernah terlibat politik.” Berpolitik adalah mendaki curam tebing, sedikit meleset, kita celaka.” Begitu selalu perkataan terelontar dari mulut Pan Putra. Dan seperti sihir, setiap kata yang jatuh dari mulut Pan Putra dituruti senantiasa.

Saban malam, ada saja yang datang ke rumahnya. Ketika tokoh politik tak mempan, maka mereka mengirim preman bertubuh besar. Tapi Pan Putra tak pernah gentar. Ia selalu melindungi kebebasan warga desa dari ikatan politik. Dan para preman yang diutus tokoh politik itu konon tak jarang juga mencelakai bila tak mendapatkan kesepatakan.  

Cara-cara yang dilakukan politik memang sangar dan berlumur dengki. Tapi orang-orang kampung tak pernah mencemaskan Pan Putra. Jangankan berniat mencelakai, biasanya orang yang bertemu dengan Pan Putra untuk pertama kali bahkan kerap takut salah bertutur melihat perawakan dan wibawa di wajahnya.”

Cerita-cerita tentang Pan Putra mungkin masih panjang. Bagaimanapun, mendengarkan cerita-cerita mereka tak akan membuat nyawa lelaki yang terbaring di atas air itu kembali hidup. Langit telah susut dan senja hampir pudar. Burung-burung gagak berdatangan. Mengintip di atas pohon waru. Kicaunya tak beraturan. Mengabarkan kematian. Beberapa burung kecil menimpali. Hinggap di dahan-dahan, kemudian terbang lagi. Kumatikan gawai yang sedari tadi merekam cerita demi cerita tentang Pan Putra. Aku terlanjur bersedih.

Kutinggalkan kerumunan itu. Aku ingin mencari sudut foto terbaik. Aku ingin menangkap moment itu dengan sempurna. Di kejauhan, kerumunan itu yang terus melambai minta dipotret. Ada yang memasang gaya dan senyum sumringah. Aku tak peduli. Kuarahkan kamera ke tengah sungai. Seorang lelaki tua tengadah di atas air. Tak memakai baju. Kulitnya matang diperam cahaya. Dalam keadaan tak bernapas, wajah nelayan itu tetap berusaha tersenyum. Kupikir ini adalah berita pertamaku yang menarik sekaligus menyedihkan. Besok, sebuah koran akan mengabarkan:

SEORANG NELAYAN MENGAMBANG SEPANJANG SUNGAI IJO GADING.

Dan tentu, Tak ada yang perlu tahu, nelayan yang mengambang itu adalah ayahku. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Apa Kehidupan Ada?

Next Post

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co