14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
November 28, 2021
in Cerpen
Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen  I Putu Agus Phebi Rosadi

Ilustrasi adalah salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa di Kampus Undiksha Singaraja, Januari 2020

Ini hari pertama aku pindah tugas. Sebagai wartawan harian, sebenarnya aku cukup betah di Jakarta dengan kebisingan kota yang nampak selalu krodit. Tapi seminggu lalu, seorang karib wartawan di Bali memutuskan untuk berhenti hidup menjadi wartawan karena satu dan lain hal. Maka aku diutus menggantikkannya. Dan tentu, aku tak menolak. Pulang ke kampung halaman setelah sekian lama toh bukan dosa.

Sebelum kesibukan kerja melanda, kusempatkan mengunjungi kampung halaman di Jembrana barang sebentar.  Sekiranya dua puluh tahun aku tak menginjakkan kaki di tempat ini. Bertahun-tahun belakangan, kabar tentang kampungku hanya kudengar dari cerita-cerita bapak dan saudaraku. Mereka hanya mengabariku lewat telepon dan surat-surat yang diantar tukang pos.

Aku merindukan Sungai Ijo Gading. Ingin juga kupastikan bahwa aliran sungainya masih jernih dengan riang kecipak ikan. Ingin juga kulihat sampan tertambat anggun di pelabuhan kayu sepanjang bantaran. Dan pada malam hari, sampan-sampan itu akan bertolak ke sepanjang sungai dengan kelip lampu petromak. Sungai ini benar-benar tak pernah berhenti berdenyut bahagia.

 Aku menghampiri jembatan kayu. Satu-satunya jembatan yang membelah sungai ini.  Angin pelan dan sedikit dingin kakiku yang menjuntai. Segalanya memang nampak utuh. Barangkali memang benar yang bapak katakan bahwa mungkin di luar sana, orang tak bisa menemukan sungai yang sama dua kali. Tapi di sini, orang bisa melihat sungai yang sama berkali-kali. Di sungai ini, hampir seperti tak ada yang terjadi. Waktu tak merebut apapun, kecuali usia. Sama seperti yang kubayangkan dari kejauhan. Desir angin dan pasang air menawarkan riak ke hulu ingatan. Membawakan setangkup masa kecil.

Anak-anak bergembira bermandian di bening air di bawah teduh pohon waru. Begitu kokohnya pohon waru itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke tengah sungai membentuk semacam titian. Dahan pohon waru itu dahulu menjadi tumpuan kami untuk bermain dan melompat ke tengah sungai. Aku ingin memotretnya. Dengan kamera yang bergayut di leher, ingin kutangkap khayalan masa kecilku yang hanya sebentar. Sebagian kebahagiaan masa kecilku kemudian kuserahkan kepada Jakarta.  

Bapakku dengan kehidupan pas-pasan tak pernah sanggup menyekolahkanku dari hasil tangkapan ikan sungai yang harganya selalu jatuh di pasaran. Meski demikian, tak sekalipun ia pernah mengeluh perihal keuangan keluarga. Maka dengan cita-cita besar, ia menitip anak semata wayang kepada adiknya di Jakarta.

“Agar hidup tak bernasib sama, pergilah dengan tekad yang kuat, sebab tekad yang lemah, tak akan memberikanmu sesuatu.” Pesan terakhir yang selalu kuingat. “Anak nelayan tak harus jadi nelayan. Ia tentu boleh perpendidikan tinggi, jadi dokter, polisi, atau pengusaha,” katanya. Dan aku tak memilih pilhannya. Aku menemukan pilihanku sendiri: menjadi wartawan.

Dalam ingatanku yang terus susut ke masa kecil, tiba-tiba aku tercengang. Di kejauhan, di sepanjang tanggul sungai banyak orang berlarian seperti melakukan arak-arakan. Di tengah sungai, kulihat sebuah mayat mengambang di air pasang. Dan di belakangnya, seekor buaya mengawal. Ia terus menuju hulu lalu kembali ke hilir. Begitu berulang-ulang bersama air yang perlahan menjelma merah darah. Aku yang belum sempat memotret masa kecilku segera bergegas dan menghampiri kerumunan.

“Ada apa bapak-bapak?”

Tiba-tiba wajah mereka tercengang. Barangkali penampilan dan wajahku asing baginya. Melihat kamera di leherku, salah seorang darinya langsung menduga dan bertanya.

“Wartawan ya?” Aku tak mngiyakan, hanya membalas dengan senyum.

“Pan Putra mati diantar Buaya Gading.” Warga lain kemudian menimpali.

Mendengar nama itu, aku sempat menelan ludah. Terkejut. Tapi aku berusaha tenang dan mengulik informasi lebih jauh. “Dimangsa buaya?” Tanyaku. Diam-diam, dengan kebiasaan kerja, kutekan tombol perekam suara pada gawaiku.

“Ngawur! Saya juga tidak tahu. Yang jelas bukan dimangsa buaya. Tidak mungkin. Buaya itu sahabat kami. Sudah seminggu memang Pan Putra tak pulang ke rumah. Kami sudah melakukan beberapa upaya pencarian, mulai dari menyusur sungai hingga ke semak, mengaturkan sesajen dan memohon petunjuk kepada penunggu sungai, sempat juga bertanya kepada orang pintar. Katanya Pan Putra tak kemana, ia masih di sungai. Tapi kami tak menemukannya. Tapi hari ini mayatnya tiba-tiba mengambang diantar Buaya Gading.”

Ada rasa sakit tiba-tiba menghujam dada ketika seorang warga menceritakan lebih jauh tentang siapa mayat yang mengambang itu. “Dia adalah Pan Putra. Seorang nelayan Sungai Ijo Gading sekaligus tetua kampung yang dihormati. Dia punya anak laki-laki. Tapi sejak kecil pergi dari kampung ini. Barangkali itulah yang membuat Pan Putra mengisi kekosongan seorang ayah dengan berteman dengan sungai. Baginya sungai adalah hidup dan hidup adalah sungai.  Sepanjang hari, kalau tidak ada acara adat,waktu hidupnya ia habiskan bersama sampan dan sungai. Ada saja yang ia kerjakan. Entah itu menanam pohon penahan tebing atau membersihkan sampah.

Ia juga menentang perburuan satu-satunya buaya yang hidup di Sungai Ijo Gading. Buaya yang mengantar kematiannya hari ini. Pan Putra menyebutnya sebagai Buaya Gading, buaya Duwe, milik wong gaib. Sepanjang buaya itu tak menyakiti, maka ia tak perlu diburu. Awalnya warga tak begitu percaya dengan ucapan Pan Putra, tapi melihat apa yang dilakukan Pan Putra membuat penjelasannya terdengar masuk akal. Menghadapi kemunculan Buaya Gading, lelaki yang bertubuh legam itu memang seperti pawang buaya.

Setiap Buaya Gading mengambang dan dirasakan mengancam warga, ia turun tangan. Hanya dengan sebuah tongkat bambu, buaya itu seolah menuruti perintahnya dan menjauhi warga. Kadang juga ia berlaku seperti orang sakti. Ia bersila di atas punggung buaya yang berenang ke hulu dan ke hilir. Dengan adanya keyakinan yang diberikan Pan Putra, akhirnya tak ada warga yang terusik atas keberadaan buaya itu.  Buaya Gading itu  perlahan dibiarkan mendatangi rumah warga. Tak ada yang terusik, bahkan sebaliknya, warga memberinya buah-buahan, sayuran, atau daging sekadarnya yang mereka punya tanpa rasa takut sedikitpun. Mereka memberikan kasih sayang dan merawat buaya itu seperti hewan peliharaan.”  

“Bagi kami,” salah seorang  tua di antara kerumunan itu melanjutkan cerita, “Pan Putra lebih dari sekadar seorang nelayan dan warga Sungai Ijogading. Sebagai tetua kampung, Pan Putra telah membuat hidup kami jauh lebih baik. Ia mengajak kami menanam sayur-mayur sepanjang tanggul sungai. Sayur-mayur yang bisa kami petik kala tangkapan sedikit di musim angin. Pan Putra juga menggagas kelompok perajin miniatur sampan. Sekarang, hidup warga sepanjang sungai ijogading jauh lebih baik.

Pan Putra telah mengubah kampung ini menjadi lebih bahagia. Bagi siapa saja yang sempat menyusuri kampung ini akan terpana melihat emper-emper rumah warga dengan pemandangan ibu-ibu  memoles miniatur sampan kayu dan menyulam jaring di bawah rindang beranda halaman. Ibu-ibu muda menghidangkan teh dan jajan basah dan ibu-ibu tua mengunyah sirih pinang sambil sesekali menyurai handuk yang menyampir di kepala.

Wajah mereka jauh dari murung. Di bulan Agustus, sepanjang Sungai Ijo Gading, Pan Putra selalu menggagas hiburan rakyat dengan keramaian yang kadang tak terkira. Segala macam perlombaan riang gembira digelar. Ada pula menggelar dagangan, mulai dari pasar ikan sampai pasar oleh-oleh khas kampung. Dalam keadaan seperti itu, kampung kami terlihat alangkah makmur dan bahagia.

Tapi, sebagai orang yang dianggap memiliki pengaruh, Pan Putra telah memikul tanggung jawab yang penuh dengan kecemasan. Di bulan-bulan menjelang Pemilihan Bupati seperti sekarang ini, ia kerap didatangi tokoh politik dengan dalih ingin menyumbang uang atau barang. Dan tak jarang, setiap yang datang memikul rasa kecewa. Pan Putra selalu menolak. Dengan tegas, Pan Putra memberitahukan kepada warga agar kampung ini tak pernah terlibat politik.” Berpolitik adalah mendaki curam tebing, sedikit meleset, kita celaka.” Begitu selalu perkataan terelontar dari mulut Pan Putra. Dan seperti sihir, setiap kata yang jatuh dari mulut Pan Putra dituruti senantiasa.

Saban malam, ada saja yang datang ke rumahnya. Ketika tokoh politik tak mempan, maka mereka mengirim preman bertubuh besar. Tapi Pan Putra tak pernah gentar. Ia selalu melindungi kebebasan warga desa dari ikatan politik. Dan para preman yang diutus tokoh politik itu konon tak jarang juga mencelakai bila tak mendapatkan kesepatakan.  

Cara-cara yang dilakukan politik memang sangar dan berlumur dengki. Tapi orang-orang kampung tak pernah mencemaskan Pan Putra. Jangankan berniat mencelakai, biasanya orang yang bertemu dengan Pan Putra untuk pertama kali bahkan kerap takut salah bertutur melihat perawakan dan wibawa di wajahnya.”

Cerita-cerita tentang Pan Putra mungkin masih panjang. Bagaimanapun, mendengarkan cerita-cerita mereka tak akan membuat nyawa lelaki yang terbaring di atas air itu kembali hidup. Langit telah susut dan senja hampir pudar. Burung-burung gagak berdatangan. Mengintip di atas pohon waru. Kicaunya tak beraturan. Mengabarkan kematian. Beberapa burung kecil menimpali. Hinggap di dahan-dahan, kemudian terbang lagi. Kumatikan gawai yang sedari tadi merekam cerita demi cerita tentang Pan Putra. Aku terlanjur bersedih.

Kutinggalkan kerumunan itu. Aku ingin mencari sudut foto terbaik. Aku ingin menangkap moment itu dengan sempurna. Di kejauhan, kerumunan itu yang terus melambai minta dipotret. Ada yang memasang gaya dan senyum sumringah. Aku tak peduli. Kuarahkan kamera ke tengah sungai. Seorang lelaki tua tengadah di atas air. Tak memakai baju. Kulitnya matang diperam cahaya. Dalam keadaan tak bernapas, wajah nelayan itu tetap berusaha tersenyum. Kupikir ini adalah berita pertamaku yang menarik sekaligus menyedihkan. Besok, sebuah koran akan mengabarkan:

SEORANG NELAYAN MENGAMBANG SEPANJANG SUNGAI IJO GADING.

Dan tentu, Tak ada yang perlu tahu, nelayan yang mengambang itu adalah ayahku. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Apa Kehidupan Ada?

Next Post

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co