23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Untuk Apa Kehidupan Ada?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 27, 2021
in Esai
“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

Dasar tulisan sederhana ini adalah sebuah buku berjudul Meretas Jalan Meretaskan Peran yang diterbitkan oleh LKPP [Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan] Peradah Indonesia pada tahun 2004. Lebih tepatnya, yang saya baca adalah Kata Pengantar Editor-nya. Buku ini bukan milik saya, tapi milik Bli Arya Suharja yang namanya tertulis di sampul buku sebagai editor. Asal buku ini perlu saya jelaskan, agar pembaca tahu kalau sebuah buku tidak kehilangan maknanya meski hanya pinjaman.

Lebih-lebih karena buku ini adalah bentuk karunia Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh editor dalam pengantarnya. Karena begitu, sudah kewajiban, buku pinjaman ini harus saya baca dan kembalikan pada saatnya nanti agar saya tidak kena kutuk karena mencuri ‘karunia Tuhan’. Pernyataan editor yang tidak kalah penting lagi untuk dicatat adalah bahwa buku ini merupakan salah satu wujud dharma bhakti bagi kemajuan masyarakat dan negara. Kedua kata itu, dimuat dalam satu teks lontar berjudul Wratti Sasana. Dharma salah satu terjemahannya adalah kewajiban, sedangkan bhakti saya terjemahkan sebagai pengabdian. Atau dengan kata lain: Sewana.

Hidup adalah pengabdian. Itulah core yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Mengapa itu? Tentu karena saya melihat hal ini dalam keseharian. Pertanyaan saya awalnya adalah ‘Untuk apa kehidupan ada?’

Dari penjelasan lontar-lontar tentang penciptaan dunia, saya melihat ada mata rantai yang putus. Selain karena penjelasan yang rumit, tentu karena gagal memahami manfaat dari diciptakannya kehidupan ini oleh sesuatu yang abstrak yang kita sebut Tuhan. Bila benar dunia ini diciptakan oleh Tuhan, saya tidak menemukan jawaban untuk apa Tuhan repot-repot menciptakan dunia dengan segala kemelutnya. Toh, pada akhirnya segala ciptaan ini akan dikembalikan kepada muasalnya. Saya tidak ingin menduga, kalau Tuhan sebenarnya hanya kurang kerjaan. Oleh sebab itu, hipotesa saya atas pertanyaan tadi adalah pengabdian.

Di dalam praktik-praktik ritual, semisal caru, saya melihat banyak hal yang diabdikan. Menurut saya, penghargaan yang setinggi-tingginya harus diberikan kepada binatang-binatang yang dicabut jiwanya untuk pengabdian ini. Binatang-binatang itu adalah ayam, sapi, kerbau, angsa, bebek, anjing, dan sebagainya. Kelengkapan caru yang demikian ialah gambaran caru yang dilakukan di Bali sampai saat ini. Caru paling simple yang saya kenal sampai sekarang adalah caru abrumbunan yang menggunakan seekor ayam. Namun, bila kita sedikit rajin membaca, ada satu caru yang dilakukan tanpa menggunakan binatang.

Caru ini disebut caru skul dinyun. Caru ini berupa nasi yang dimasukkan ke dalam kendi dan ditanak dengan susu. Nantinya, nasi itu akan dimasukkan ke dalam tungku [kunda] sebagai bentuk pemujaan kepada Brahma. Informasi caru skul dinyun bisa kita temukan dalam prasasti Lintakan yang dikeluarkan oleh raja Tulodong pada tahun 841 Saka [919 Masehi]. Informasi lainnya tentang caru tanpa darah, bisa kita temui dalam teks Adi Parwa sebagaimana dijalankan oleh seorang Brahmana yang bernama Jaratkaru. Ini berarti, upacara caru selain menggunakan binatang, juga dapat menggunakan tumbuhan semata. Di dalam sumber-sumber yang kebetulan pernah saya temui, belum ada caru dengan mempersembahkan gambar. Begitulah saya memandang hidup dan kehidupan sementara ini.

Hal lain yang di-highlight oleh editor dalam buku ini, adalah perihal swadharma. Editor mengatakan bahwa “sebagaimana disuratkan dalam Sastra, melaksanakan swadharma, meskipun tidak sempurna, lebih baik dari pada melakukan dharma orang lain dengan sempurna”. Jelaslah Sastra – yang ditulis dengan italic dan huruf kapital – yang dimaksud oleh editor adalah Bhagawadgita, Adiyaya III, sloka ke-35. Kitab yang semasa saya menempuh pendidikan Bahasa dan Sastra Agama, disebut-sebut sebagai kitab Weda yang kelima [Pancama Weda].

Saat diajarkan tentang Pancama Weda, saya tidak bertanya mengapa disebut demikian, bukan karena tidak berani bertanya, tapi karena bodoh. Waktu itu, Bhagawadgita yang saya baca adalah terjemahan yang dikerjakan oleh Agus S. Mantik [2007]. Buku ini sebenarnya berisi ‘cap’ tidak diperdagangkan, karena merupakan bagian dari Program Peningkatan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Pengadaan buku seperti ini barangkali adalah cara Pemerintah melakukan pengabdian. Sekali lagi, pengabdian.

Lanjutan dari sloka ke-35 itu ialah “lebih baik kematian [di dalam memenuhi] kewajiban sendiri, sebab menekuni tugas orang lain sesungguhnya berbahaya” [BG.III.35; hlm.196]. Dengan kata lain, melaksanakan kewajiban sendiri [swadharma] sedemikian pentingnya, meskipun harus mati. Namun, sebelum mati, tugas paling awal adalah mengenali swadharma. Memahami kewajiban sendiri. Bagaimana caranya? Sayangnya, dalam ingatan saya yang sangat samar tentang Bhagawadgita, sepertinya di dalamnya tidak tersedia jawaban.

Oleh sebab itu, saya mencari jawabannya di tempat lain, tepatnya di dalam Sastra yang lain. Dalam geguritan Salampah Laku, IPM Sidemen menyebut guna dusun [ilmu desa]. Hemat saya, yang dimaksudkan adalah ilmu-ilmu yang berlaku atau yang bermanfaat secara praktis di masyarakat. Hal-hal yang dapat digunakan di masyarakat kita jadikan pekerjaan [gina] dengan belajar terlebih dahulu agar mendapatkan pengetahuannya [guna]. Kata kuncinya adalah guna-gina. Meskipun, di dalam alam bawah sadar – orang Bali khususnya – sebenarnya tidak pernah menganggap pengetahuan apapun adalah milik sendiri. Mereka menganggap pengetahuan adalah milik dewa-dewi, sedangkan manusia hanya pelayan [sewaka] yang melayani [sewanam]. Tubuh manusia hanya dipinjam untuk mengalirkan pengetahuan-pengetahuan itu. Sekali lagi, untuk pengabdian.

Terakhir, editor menyatakan harapannya agar dapat “mewujudkan kehidupan bersama yang Indonesiawi, manusiawi, dan dilimpahi karunia Tuhan.” Dua kata yang diakhiri oleh sufiks -wi di depan, menggambarkan negarawan dan kemanusiaan [humanis]. Sedangkan harapan terakhir jelaslah sekali lagi menunjukkan religiusitas, keber-Tuhan-an. Tiga hal yang sebenarnya bisa kita tarik ke dasar Negara.

Tetapi, saya tidak ingin menarik benang merah ini ke arah sana. Saya justru ingin mengulur benang merah ini agar lebih panjang dan bisa ditarik ke segala penjuru oleh para pemikir-pemikir yang terus berjuang mengurai benang merah yang terlanjur kusut ini. Dengan begitu, kita bisa melihat kelindan yang awalnya tidak kelihatan meski samar-samar karena mabelat kelir. Dasar usaha untuk mengurai benang merah yang kusut ini adalah pengabdian. Jñāna yajña, toch?. [T]

Tags: BukufilsafatkehidupanPeradahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Timbang Rasa, Menimbang Puisi dalam Festival Seni Bali Jani 2021

Next Post

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen  I Putu Agus Phebi Rosadi

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co