2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Untuk Apa Kehidupan Ada?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 27, 2021
in Esai
“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

Dasar tulisan sederhana ini adalah sebuah buku berjudul Meretas Jalan Meretaskan Peran yang diterbitkan oleh LKPP [Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan] Peradah Indonesia pada tahun 2004. Lebih tepatnya, yang saya baca adalah Kata Pengantar Editor-nya. Buku ini bukan milik saya, tapi milik Bli Arya Suharja yang namanya tertulis di sampul buku sebagai editor. Asal buku ini perlu saya jelaskan, agar pembaca tahu kalau sebuah buku tidak kehilangan maknanya meski hanya pinjaman.

Lebih-lebih karena buku ini adalah bentuk karunia Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh editor dalam pengantarnya. Karena begitu, sudah kewajiban, buku pinjaman ini harus saya baca dan kembalikan pada saatnya nanti agar saya tidak kena kutuk karena mencuri ‘karunia Tuhan’. Pernyataan editor yang tidak kalah penting lagi untuk dicatat adalah bahwa buku ini merupakan salah satu wujud dharma bhakti bagi kemajuan masyarakat dan negara. Kedua kata itu, dimuat dalam satu teks lontar berjudul Wratti Sasana. Dharma salah satu terjemahannya adalah kewajiban, sedangkan bhakti saya terjemahkan sebagai pengabdian. Atau dengan kata lain: Sewana.

Hidup adalah pengabdian. Itulah core yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Mengapa itu? Tentu karena saya melihat hal ini dalam keseharian. Pertanyaan saya awalnya adalah ‘Untuk apa kehidupan ada?’

Dari penjelasan lontar-lontar tentang penciptaan dunia, saya melihat ada mata rantai yang putus. Selain karena penjelasan yang rumit, tentu karena gagal memahami manfaat dari diciptakannya kehidupan ini oleh sesuatu yang abstrak yang kita sebut Tuhan. Bila benar dunia ini diciptakan oleh Tuhan, saya tidak menemukan jawaban untuk apa Tuhan repot-repot menciptakan dunia dengan segala kemelutnya. Toh, pada akhirnya segala ciptaan ini akan dikembalikan kepada muasalnya. Saya tidak ingin menduga, kalau Tuhan sebenarnya hanya kurang kerjaan. Oleh sebab itu, hipotesa saya atas pertanyaan tadi adalah pengabdian.

Di dalam praktik-praktik ritual, semisal caru, saya melihat banyak hal yang diabdikan. Menurut saya, penghargaan yang setinggi-tingginya harus diberikan kepada binatang-binatang yang dicabut jiwanya untuk pengabdian ini. Binatang-binatang itu adalah ayam, sapi, kerbau, angsa, bebek, anjing, dan sebagainya. Kelengkapan caru yang demikian ialah gambaran caru yang dilakukan di Bali sampai saat ini. Caru paling simple yang saya kenal sampai sekarang adalah caru abrumbunan yang menggunakan seekor ayam. Namun, bila kita sedikit rajin membaca, ada satu caru yang dilakukan tanpa menggunakan binatang.

Caru ini disebut caru skul dinyun. Caru ini berupa nasi yang dimasukkan ke dalam kendi dan ditanak dengan susu. Nantinya, nasi itu akan dimasukkan ke dalam tungku [kunda] sebagai bentuk pemujaan kepada Brahma. Informasi caru skul dinyun bisa kita temukan dalam prasasti Lintakan yang dikeluarkan oleh raja Tulodong pada tahun 841 Saka [919 Masehi]. Informasi lainnya tentang caru tanpa darah, bisa kita temui dalam teks Adi Parwa sebagaimana dijalankan oleh seorang Brahmana yang bernama Jaratkaru. Ini berarti, upacara caru selain menggunakan binatang, juga dapat menggunakan tumbuhan semata. Di dalam sumber-sumber yang kebetulan pernah saya temui, belum ada caru dengan mempersembahkan gambar. Begitulah saya memandang hidup dan kehidupan sementara ini.

Hal lain yang di-highlight oleh editor dalam buku ini, adalah perihal swadharma. Editor mengatakan bahwa “sebagaimana disuratkan dalam Sastra, melaksanakan swadharma, meskipun tidak sempurna, lebih baik dari pada melakukan dharma orang lain dengan sempurna”. Jelaslah Sastra – yang ditulis dengan italic dan huruf kapital – yang dimaksud oleh editor adalah Bhagawadgita, Adiyaya III, sloka ke-35. Kitab yang semasa saya menempuh pendidikan Bahasa dan Sastra Agama, disebut-sebut sebagai kitab Weda yang kelima [Pancama Weda].

Saat diajarkan tentang Pancama Weda, saya tidak bertanya mengapa disebut demikian, bukan karena tidak berani bertanya, tapi karena bodoh. Waktu itu, Bhagawadgita yang saya baca adalah terjemahan yang dikerjakan oleh Agus S. Mantik [2007]. Buku ini sebenarnya berisi ‘cap’ tidak diperdagangkan, karena merupakan bagian dari Program Peningkatan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Pengadaan buku seperti ini barangkali adalah cara Pemerintah melakukan pengabdian. Sekali lagi, pengabdian.

Lanjutan dari sloka ke-35 itu ialah “lebih baik kematian [di dalam memenuhi] kewajiban sendiri, sebab menekuni tugas orang lain sesungguhnya berbahaya” [BG.III.35; hlm.196]. Dengan kata lain, melaksanakan kewajiban sendiri [swadharma] sedemikian pentingnya, meskipun harus mati. Namun, sebelum mati, tugas paling awal adalah mengenali swadharma. Memahami kewajiban sendiri. Bagaimana caranya? Sayangnya, dalam ingatan saya yang sangat samar tentang Bhagawadgita, sepertinya di dalamnya tidak tersedia jawaban.

Oleh sebab itu, saya mencari jawabannya di tempat lain, tepatnya di dalam Sastra yang lain. Dalam geguritan Salampah Laku, IPM Sidemen menyebut guna dusun [ilmu desa]. Hemat saya, yang dimaksudkan adalah ilmu-ilmu yang berlaku atau yang bermanfaat secara praktis di masyarakat. Hal-hal yang dapat digunakan di masyarakat kita jadikan pekerjaan [gina] dengan belajar terlebih dahulu agar mendapatkan pengetahuannya [guna]. Kata kuncinya adalah guna-gina. Meskipun, di dalam alam bawah sadar – orang Bali khususnya – sebenarnya tidak pernah menganggap pengetahuan apapun adalah milik sendiri. Mereka menganggap pengetahuan adalah milik dewa-dewi, sedangkan manusia hanya pelayan [sewaka] yang melayani [sewanam]. Tubuh manusia hanya dipinjam untuk mengalirkan pengetahuan-pengetahuan itu. Sekali lagi, untuk pengabdian.

Terakhir, editor menyatakan harapannya agar dapat “mewujudkan kehidupan bersama yang Indonesiawi, manusiawi, dan dilimpahi karunia Tuhan.” Dua kata yang diakhiri oleh sufiks -wi di depan, menggambarkan negarawan dan kemanusiaan [humanis]. Sedangkan harapan terakhir jelaslah sekali lagi menunjukkan religiusitas, keber-Tuhan-an. Tiga hal yang sebenarnya bisa kita tarik ke dasar Negara.

Tetapi, saya tidak ingin menarik benang merah ini ke arah sana. Saya justru ingin mengulur benang merah ini agar lebih panjang dan bisa ditarik ke segala penjuru oleh para pemikir-pemikir yang terus berjuang mengurai benang merah yang terlanjur kusut ini. Dengan begitu, kita bisa melihat kelindan yang awalnya tidak kelihatan meski samar-samar karena mabelat kelir. Dasar usaha untuk mengurai benang merah yang kusut ini adalah pengabdian. Jñāna yajña, toch?. [T]

Tags: BukufilsafatkehidupanPeradahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Timbang Rasa, Menimbang Puisi dalam Festival Seni Bali Jani 2021

Next Post

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen  I Putu Agus Phebi Rosadi

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co