23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Untuk Apa Kehidupan Ada?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 27, 2021
in Esai
“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

Dasar tulisan sederhana ini adalah sebuah buku berjudul Meretas Jalan Meretaskan Peran yang diterbitkan oleh LKPP [Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan] Peradah Indonesia pada tahun 2004. Lebih tepatnya, yang saya baca adalah Kata Pengantar Editor-nya. Buku ini bukan milik saya, tapi milik Bli Arya Suharja yang namanya tertulis di sampul buku sebagai editor. Asal buku ini perlu saya jelaskan, agar pembaca tahu kalau sebuah buku tidak kehilangan maknanya meski hanya pinjaman.

Lebih-lebih karena buku ini adalah bentuk karunia Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh editor dalam pengantarnya. Karena begitu, sudah kewajiban, buku pinjaman ini harus saya baca dan kembalikan pada saatnya nanti agar saya tidak kena kutuk karena mencuri ‘karunia Tuhan’. Pernyataan editor yang tidak kalah penting lagi untuk dicatat adalah bahwa buku ini merupakan salah satu wujud dharma bhakti bagi kemajuan masyarakat dan negara. Kedua kata itu, dimuat dalam satu teks lontar berjudul Wratti Sasana. Dharma salah satu terjemahannya adalah kewajiban, sedangkan bhakti saya terjemahkan sebagai pengabdian. Atau dengan kata lain: Sewana.

Hidup adalah pengabdian. Itulah core yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Mengapa itu? Tentu karena saya melihat hal ini dalam keseharian. Pertanyaan saya awalnya adalah ‘Untuk apa kehidupan ada?’

Dari penjelasan lontar-lontar tentang penciptaan dunia, saya melihat ada mata rantai yang putus. Selain karena penjelasan yang rumit, tentu karena gagal memahami manfaat dari diciptakannya kehidupan ini oleh sesuatu yang abstrak yang kita sebut Tuhan. Bila benar dunia ini diciptakan oleh Tuhan, saya tidak menemukan jawaban untuk apa Tuhan repot-repot menciptakan dunia dengan segala kemelutnya. Toh, pada akhirnya segala ciptaan ini akan dikembalikan kepada muasalnya. Saya tidak ingin menduga, kalau Tuhan sebenarnya hanya kurang kerjaan. Oleh sebab itu, hipotesa saya atas pertanyaan tadi adalah pengabdian.

Di dalam praktik-praktik ritual, semisal caru, saya melihat banyak hal yang diabdikan. Menurut saya, penghargaan yang setinggi-tingginya harus diberikan kepada binatang-binatang yang dicabut jiwanya untuk pengabdian ini. Binatang-binatang itu adalah ayam, sapi, kerbau, angsa, bebek, anjing, dan sebagainya. Kelengkapan caru yang demikian ialah gambaran caru yang dilakukan di Bali sampai saat ini. Caru paling simple yang saya kenal sampai sekarang adalah caru abrumbunan yang menggunakan seekor ayam. Namun, bila kita sedikit rajin membaca, ada satu caru yang dilakukan tanpa menggunakan binatang.

Caru ini disebut caru skul dinyun. Caru ini berupa nasi yang dimasukkan ke dalam kendi dan ditanak dengan susu. Nantinya, nasi itu akan dimasukkan ke dalam tungku [kunda] sebagai bentuk pemujaan kepada Brahma. Informasi caru skul dinyun bisa kita temukan dalam prasasti Lintakan yang dikeluarkan oleh raja Tulodong pada tahun 841 Saka [919 Masehi]. Informasi lainnya tentang caru tanpa darah, bisa kita temui dalam teks Adi Parwa sebagaimana dijalankan oleh seorang Brahmana yang bernama Jaratkaru. Ini berarti, upacara caru selain menggunakan binatang, juga dapat menggunakan tumbuhan semata. Di dalam sumber-sumber yang kebetulan pernah saya temui, belum ada caru dengan mempersembahkan gambar. Begitulah saya memandang hidup dan kehidupan sementara ini.

Hal lain yang di-highlight oleh editor dalam buku ini, adalah perihal swadharma. Editor mengatakan bahwa “sebagaimana disuratkan dalam Sastra, melaksanakan swadharma, meskipun tidak sempurna, lebih baik dari pada melakukan dharma orang lain dengan sempurna”. Jelaslah Sastra – yang ditulis dengan italic dan huruf kapital – yang dimaksud oleh editor adalah Bhagawadgita, Adiyaya III, sloka ke-35. Kitab yang semasa saya menempuh pendidikan Bahasa dan Sastra Agama, disebut-sebut sebagai kitab Weda yang kelima [Pancama Weda].

Saat diajarkan tentang Pancama Weda, saya tidak bertanya mengapa disebut demikian, bukan karena tidak berani bertanya, tapi karena bodoh. Waktu itu, Bhagawadgita yang saya baca adalah terjemahan yang dikerjakan oleh Agus S. Mantik [2007]. Buku ini sebenarnya berisi ‘cap’ tidak diperdagangkan, karena merupakan bagian dari Program Peningkatan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Pengadaan buku seperti ini barangkali adalah cara Pemerintah melakukan pengabdian. Sekali lagi, pengabdian.

Lanjutan dari sloka ke-35 itu ialah “lebih baik kematian [di dalam memenuhi] kewajiban sendiri, sebab menekuni tugas orang lain sesungguhnya berbahaya” [BG.III.35; hlm.196]. Dengan kata lain, melaksanakan kewajiban sendiri [swadharma] sedemikian pentingnya, meskipun harus mati. Namun, sebelum mati, tugas paling awal adalah mengenali swadharma. Memahami kewajiban sendiri. Bagaimana caranya? Sayangnya, dalam ingatan saya yang sangat samar tentang Bhagawadgita, sepertinya di dalamnya tidak tersedia jawaban.

Oleh sebab itu, saya mencari jawabannya di tempat lain, tepatnya di dalam Sastra yang lain. Dalam geguritan Salampah Laku, IPM Sidemen menyebut guna dusun [ilmu desa]. Hemat saya, yang dimaksudkan adalah ilmu-ilmu yang berlaku atau yang bermanfaat secara praktis di masyarakat. Hal-hal yang dapat digunakan di masyarakat kita jadikan pekerjaan [gina] dengan belajar terlebih dahulu agar mendapatkan pengetahuannya [guna]. Kata kuncinya adalah guna-gina. Meskipun, di dalam alam bawah sadar – orang Bali khususnya – sebenarnya tidak pernah menganggap pengetahuan apapun adalah milik sendiri. Mereka menganggap pengetahuan adalah milik dewa-dewi, sedangkan manusia hanya pelayan [sewaka] yang melayani [sewanam]. Tubuh manusia hanya dipinjam untuk mengalirkan pengetahuan-pengetahuan itu. Sekali lagi, untuk pengabdian.

Terakhir, editor menyatakan harapannya agar dapat “mewujudkan kehidupan bersama yang Indonesiawi, manusiawi, dan dilimpahi karunia Tuhan.” Dua kata yang diakhiri oleh sufiks -wi di depan, menggambarkan negarawan dan kemanusiaan [humanis]. Sedangkan harapan terakhir jelaslah sekali lagi menunjukkan religiusitas, keber-Tuhan-an. Tiga hal yang sebenarnya bisa kita tarik ke dasar Negara.

Tetapi, saya tidak ingin menarik benang merah ini ke arah sana. Saya justru ingin mengulur benang merah ini agar lebih panjang dan bisa ditarik ke segala penjuru oleh para pemikir-pemikir yang terus berjuang mengurai benang merah yang terlanjur kusut ini. Dengan begitu, kita bisa melihat kelindan yang awalnya tidak kelihatan meski samar-samar karena mabelat kelir. Dasar usaha untuk mengurai benang merah yang kusut ini adalah pengabdian. Jñāna yajña, toch?. [T]

Tags: BukufilsafatkehidupanPeradahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Timbang Rasa, Menimbang Puisi dalam Festival Seni Bali Jani 2021

Next Post

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen  I Putu Agus Phebi Rosadi

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co