23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Timbang Rasa, Menimbang Puisi dalam Festival Seni Bali Jani 2021

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
November 27, 2021
in Ulasan
Timbang Rasa, Menimbang Puisi dalam Festival Seni Bali Jani 2021

Penyair Wulan dewi Saraswati membaca puisi dalam acara Malam Kata Rupa dan Suara di Festival Seni Bali Jani 2021

Dua lekaki – dua-duanya penyair — duduk dengan gaya yang berbeda. Yang satu, membicarakan puisi dengan agak menggebu, seakan puisi adalah sebuah keyakinan, semacam agama, dan dipercaya telah menyelamatkan seluruh hidupnya.

Lelaki itu Wayan Jengki Sunarta, salah satu penyair top Bali yang puisi-puisinya telah memenuhi banyak ruang sastra di media masa Indonesia dan dibukukan di mana-mana. Jengki, demikian penyair itu kerap dipanggil, bicara puisi dalam acara Timbang Rasa serangkaian Festival Seni Bali Jani III, di Taman Budaya Denpasar, Bali, 31 Oktober 2021.  

Lelaki yang satu lagi adalah Nyoman Wirata. Juga bicara puisi, tapi bicaranya dengan agak perlahan, seakan takut puisi akan menyalahkannya jika ia bicara keliru. Selain menulis puisi, Nyoman Wirata juga pelukis, juga guru yang sudah beberapa tahun lalu pensiun.  

Jengki dan Wirata mewakili dua generasi yang berbeda di dunia puisi. Jengki mulai menulis sejak tahun 1990-an dan Nyoman Wirata tahun 1970-an. Namun keduanya, meski dengan gaya yang berbeda, sama-sama menunjukkan betapa puisi itu amatlah penting dan harus tetap ada dan terus diciptakan.

“Mahaguru penyair Umbu Landu Paranggi, memaknai puisi sebagai kehidupan, dan kehidupan adalah puisi,” kata Jengki.

Pernyataan Umbu itu, kata Jengki, mengandung renungan yang sangat dalam. Puisi adalah ungkapan atau ekspresi kejujuran. Puisi membuka ruang untuk merenungi kehidupan dengan berbagai aspek dan persoalannya. Dalam hal ini, puisi bukan sekadar klangenan atau kecengengan, namun sublimasi untuk merenungi hakikat sang diri dan kehidupan.

Jengki bahkan menganggap puisi sebagai anak rohani. Sebab, puisi memang lahir dari hasil perkawinan perasaan dan pikiran. Kekuatan perasaan dan pikiran setiap orang tentu berbeda-beda. Hal itu berkaitan dengan segala bentuk interaksinya dengan berbagai hal, baik yang berasal dari dalam diri maupun di luar diri. Jelas pula, setiap interaksi melahirkan kenangan dan pengalaman yang berpengaruh pada cara memandang sesuatu, maupun melihat masa depan. “Biasanya puisi lahir di atas landasan kondisi-kondisi seperti ini,” katanya.

Sebagai anak rohani, kata Jengki, tentu puisi memiliki nasibnya masing-masing ketika dilepas ke khalayak yang beragam. Bukan hanya komunitas sastra, atau komunitas seni, namun juga masyarakat luas. Mungkin beragam pujian akan didapat si puisi, mungkin pula aneka kritik, atau bahkan makian atau hinaan. Semua itu adalah resiko yang mesti ditanggung si puisi.

Tugas penyair, lanjut Jengki, menuntun puisi agar lebih “berharga” dan “bermartabat” di hati pembaca, agar mampu “memberi” pada pembaca. Selebihnya, penyair sebagai ibu sekaligus ayah dari si puisi, hanya bisa mendoakan keselamatan anak-anak rohaninya, agar menjadi anak yang baik dan berguna bagi banyak umat manusia.

Agar mampu “memberi” pada pembaca, maka sampaikan puisi pada Festival Seni Bali Jani dan dituntun dalam berbagai program. Dalam festival ini, puisi setidaknya muncul dalam berbagai acara, seperti lomba baca puisi dan lomba musikalisasi, serta yang paling akbar adalah pergelaran Tribute to Umbu yang diisi pembacaan puisi serta alihwahana puisi-puisi Umbu ke dalam berbagai bentuk seni lain.

Puisi juga mendapat tempat yang lumayan besar dalam acara Malam Kata Rupa dan Suara, di mana sejumlah sastrawan dari Bali juga luar Bali membacakan karya-karya mereka di atas panggung. Sejumlah penyair membaca puisi dengan gaya dan teknik pemanggungan yang berbeda-beda. Seperti penyair Angga Wijaya yang cenderung kalem dan membiarkan suara-suara puisi menyelusup halus ke kuping para penonton. Ada juga penyair Wulan Dewi Saraswati yang membaca puisi dipadukan dengan gambar-gambar estitetik yang muncul di layar putih samping panggung.

Dalam pergelaran seni tari kontemporer yang dibawakan oleh Sanggar Bumi Bajra Sandhi, puisi juga menyusup melalui lantunan lamat-lamat yang mengiringi para penari beraksi di atas panggung. Pementasan yang berjudul Tadah Asih itu bisa disebut sebagai bentuk dari puisi tari, atau teater tari dengan paduan puisi.

Artinya, pada Festival Bali Jani ini, puisi juga “dipentaskan”. Dan bisa dibayangkan jika tidak ada puisi dalam Festival Seni Bali Jani, mungkin festival ini dianggap tak akan punya makna apa-apa, bahkan mungkin dianggap tak punya jiwa. Buktinya, kedua penyair, Jengki dan Wirata, yang bicara dalam acara Timbang Rasa itu menempatkan puisi dalam kedudukan yang sangat agung, di masa lalu, di masa kini, maupun di masa yang akan datang.

Pada Festival Seni Bali Jani, puisi lebih banyak memang disampaikan ke pembaca dengan media yang berbeda, seperti teater, musik, tari, juga video. Puisi masuk dalam “kemultimediaan” festival. Puisi bukan hanya memberi warna, melainkan juga memberi roh. Ia hadir kadang tanpa terasa, tapi dinikmati.

Dengan begitu, acara Timbang Rasa yang membahas puisi dengan menampilkan dua penyair dari generasi yang berbeda itu sepertinya memiliki benang merah dengan puisi-puisi yang menyelusup ke dalam berbagai pergelaran seni dalam festival itu.

“Teks (puisi) tak lagi  berada di ruang dengan pintu tertutup!” Begitu kata Nyoman Wirata dalam acara Timbang Rasa itu.

Kata dia, puisi pernah berada di ruang tertutup. Namun kemudian, secara sadar atau tidak sadar, melahirkan agen-agen penyalur makna ke ruang-ruang yang lebih luas. “Seorang dalang menafsir Ramayana dan masyarakat penonton  menerima hasil penafsirannya,” kata Wirata.

Apa yang dikatakan Nyoman Wirata tentang penafsiran itu, terjadi pada seniman-seniman panggung yang “mementaskan” puisi dalam sejumlah pergelaran di Festival Seni Bali Jani. Dan hal itulah yang membuat festival ini menjadi penuh arti dan bergelimang makna.

Tags: Festival Seni Bali JaniPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arya Palguna Jadi Ketua, Meneruskan Sejarah Panjang Sanggar Dewata Indonesia

Next Post

Untuk Apa Kehidupan Ada?

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

Untuk Apa Kehidupan Ada?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co