2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Timbang Rasa, Menimbang Puisi dalam Festival Seni Bali Jani 2021

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
November 27, 2021
in Ulasan
Timbang Rasa, Menimbang Puisi dalam Festival Seni Bali Jani 2021

Penyair Wulan dewi Saraswati membaca puisi dalam acara Malam Kata Rupa dan Suara di Festival Seni Bali Jani 2021

Dua lekaki – dua-duanya penyair — duduk dengan gaya yang berbeda. Yang satu, membicarakan puisi dengan agak menggebu, seakan puisi adalah sebuah keyakinan, semacam agama, dan dipercaya telah menyelamatkan seluruh hidupnya.

Lelaki itu Wayan Jengki Sunarta, salah satu penyair top Bali yang puisi-puisinya telah memenuhi banyak ruang sastra di media masa Indonesia dan dibukukan di mana-mana. Jengki, demikian penyair itu kerap dipanggil, bicara puisi dalam acara Timbang Rasa serangkaian Festival Seni Bali Jani III, di Taman Budaya Denpasar, Bali, 31 Oktober 2021.  

Lelaki yang satu lagi adalah Nyoman Wirata. Juga bicara puisi, tapi bicaranya dengan agak perlahan, seakan takut puisi akan menyalahkannya jika ia bicara keliru. Selain menulis puisi, Nyoman Wirata juga pelukis, juga guru yang sudah beberapa tahun lalu pensiun.  

Jengki dan Wirata mewakili dua generasi yang berbeda di dunia puisi. Jengki mulai menulis sejak tahun 1990-an dan Nyoman Wirata tahun 1970-an. Namun keduanya, meski dengan gaya yang berbeda, sama-sama menunjukkan betapa puisi itu amatlah penting dan harus tetap ada dan terus diciptakan.

“Mahaguru penyair Umbu Landu Paranggi, memaknai puisi sebagai kehidupan, dan kehidupan adalah puisi,” kata Jengki.

Pernyataan Umbu itu, kata Jengki, mengandung renungan yang sangat dalam. Puisi adalah ungkapan atau ekspresi kejujuran. Puisi membuka ruang untuk merenungi kehidupan dengan berbagai aspek dan persoalannya. Dalam hal ini, puisi bukan sekadar klangenan atau kecengengan, namun sublimasi untuk merenungi hakikat sang diri dan kehidupan.

Jengki bahkan menganggap puisi sebagai anak rohani. Sebab, puisi memang lahir dari hasil perkawinan perasaan dan pikiran. Kekuatan perasaan dan pikiran setiap orang tentu berbeda-beda. Hal itu berkaitan dengan segala bentuk interaksinya dengan berbagai hal, baik yang berasal dari dalam diri maupun di luar diri. Jelas pula, setiap interaksi melahirkan kenangan dan pengalaman yang berpengaruh pada cara memandang sesuatu, maupun melihat masa depan. “Biasanya puisi lahir di atas landasan kondisi-kondisi seperti ini,” katanya.

Sebagai anak rohani, kata Jengki, tentu puisi memiliki nasibnya masing-masing ketika dilepas ke khalayak yang beragam. Bukan hanya komunitas sastra, atau komunitas seni, namun juga masyarakat luas. Mungkin beragam pujian akan didapat si puisi, mungkin pula aneka kritik, atau bahkan makian atau hinaan. Semua itu adalah resiko yang mesti ditanggung si puisi.

Tugas penyair, lanjut Jengki, menuntun puisi agar lebih “berharga” dan “bermartabat” di hati pembaca, agar mampu “memberi” pada pembaca. Selebihnya, penyair sebagai ibu sekaligus ayah dari si puisi, hanya bisa mendoakan keselamatan anak-anak rohaninya, agar menjadi anak yang baik dan berguna bagi banyak umat manusia.

Agar mampu “memberi” pada pembaca, maka sampaikan puisi pada Festival Seni Bali Jani dan dituntun dalam berbagai program. Dalam festival ini, puisi setidaknya muncul dalam berbagai acara, seperti lomba baca puisi dan lomba musikalisasi, serta yang paling akbar adalah pergelaran Tribute to Umbu yang diisi pembacaan puisi serta alihwahana puisi-puisi Umbu ke dalam berbagai bentuk seni lain.

Puisi juga mendapat tempat yang lumayan besar dalam acara Malam Kata Rupa dan Suara, di mana sejumlah sastrawan dari Bali juga luar Bali membacakan karya-karya mereka di atas panggung. Sejumlah penyair membaca puisi dengan gaya dan teknik pemanggungan yang berbeda-beda. Seperti penyair Angga Wijaya yang cenderung kalem dan membiarkan suara-suara puisi menyelusup halus ke kuping para penonton. Ada juga penyair Wulan Dewi Saraswati yang membaca puisi dipadukan dengan gambar-gambar estitetik yang muncul di layar putih samping panggung.

Dalam pergelaran seni tari kontemporer yang dibawakan oleh Sanggar Bumi Bajra Sandhi, puisi juga menyusup melalui lantunan lamat-lamat yang mengiringi para penari beraksi di atas panggung. Pementasan yang berjudul Tadah Asih itu bisa disebut sebagai bentuk dari puisi tari, atau teater tari dengan paduan puisi.

Artinya, pada Festival Bali Jani ini, puisi juga “dipentaskan”. Dan bisa dibayangkan jika tidak ada puisi dalam Festival Seni Bali Jani, mungkin festival ini dianggap tak akan punya makna apa-apa, bahkan mungkin dianggap tak punya jiwa. Buktinya, kedua penyair, Jengki dan Wirata, yang bicara dalam acara Timbang Rasa itu menempatkan puisi dalam kedudukan yang sangat agung, di masa lalu, di masa kini, maupun di masa yang akan datang.

Pada Festival Seni Bali Jani, puisi lebih banyak memang disampaikan ke pembaca dengan media yang berbeda, seperti teater, musik, tari, juga video. Puisi masuk dalam “kemultimediaan” festival. Puisi bukan hanya memberi warna, melainkan juga memberi roh. Ia hadir kadang tanpa terasa, tapi dinikmati.

Dengan begitu, acara Timbang Rasa yang membahas puisi dengan menampilkan dua penyair dari generasi yang berbeda itu sepertinya memiliki benang merah dengan puisi-puisi yang menyelusup ke dalam berbagai pergelaran seni dalam festival itu.

“Teks (puisi) tak lagi  berada di ruang dengan pintu tertutup!” Begitu kata Nyoman Wirata dalam acara Timbang Rasa itu.

Kata dia, puisi pernah berada di ruang tertutup. Namun kemudian, secara sadar atau tidak sadar, melahirkan agen-agen penyalur makna ke ruang-ruang yang lebih luas. “Seorang dalang menafsir Ramayana dan masyarakat penonton  menerima hasil penafsirannya,” kata Wirata.

Apa yang dikatakan Nyoman Wirata tentang penafsiran itu, terjadi pada seniman-seniman panggung yang “mementaskan” puisi dalam sejumlah pergelaran di Festival Seni Bali Jani. Dan hal itulah yang membuat festival ini menjadi penuh arti dan bergelimang makna.

Tags: Festival Seni Bali JaniPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arya Palguna Jadi Ketua, Meneruskan Sejarah Panjang Sanggar Dewata Indonesia

Next Post

Untuk Apa Kehidupan Ada?

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

Untuk Apa Kehidupan Ada?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co