15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
in Ulasan
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Penampilan salah satu peserta dalam lomba fragmentari pada Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba yang memilih kisah Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben, sebagai tema garapan. Padahal, sejak awal lomba itu digagas dengan tujuan cukup strategis, yakni untuk memperkenalkan kisah Ibunda Bung Karno itu melalui seni pertunjukan.

Lomba fragmentari itu digelar  Senin-Selasa malam, 27-28 Juni 2022. Peserta yang diundang dan diharapkan ikut adalah SMA/SMK di Buleleng. Namun lacur, dari sekian banyak SMA/SMK di Buleleng, hanya lima yang mendaftar jadi peserta. Kelima SMA/SMK itu adalah SMA N 2 Banjar, SMAN 1 Sukasada, SMAN 3 Singaraja, SMAN 1 Singaraja, dan SMAN 4 Singaraja.

Panitia memberi sejumlah pilihan tema untuk digarap sebagai materi fargmentari.  Tema pilihan itu adalah Nyoman Rai Srimben (Ibunda Bung Karno), Puputan Jagaraga, Perang Banjar, dan Jaya Prana dan Layon Sari.

Yang membuat agak miris, tidak ada satu pun peserta memilih tema Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srimben, sebagai bahan garapan fargmentari. Mereka lebih banyak memilih tema lain.

SMA N 2 Banjar menggarap karya Keris Ki Lebah Pangkung, SMAN 1 Sukasada menggarap  Jayaprana Layonsari, SMAN 3 Singaraja mengagrap Jayaprana Layonsari, SMAN 1 Singaraja menggarap karya berjudul Sura Magada, sekuel dari Perang Banjar, dan SMAN 4 Singaraja juga menggarap Jayaprana Layonsari.

Pertanyaan sekarang, kenapa tak ada satu pun peserta yang memilih tema Nyoman Rai Srimben?  Seorang sumber mengatakan, peserta konon takut menggarap tema Nyoman Rai Srimben karena takut salah.

Jika benar peserta takut menggarap kisah Nyoman Rai Srimben karena alasan takut salah, maka hal itu bisa disebut sebagai kemunduran kreativitas. Seniman Buleleng sejak dulu menunjukkan keberanian dalam mencipta hal-hal baru di dunia kesenian. Tengok bagaimana seniman ukir Buleleng berani membuat ukiran orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang, atau menciptakan ukiran-ukiran mobil di Pura lain di Buleleng.

Gde Manik dikenal sebagai maestro seni karena keberaniannya menciptakan tabuh dan tari-tarian kekebyaran yang berbeda dengan jenis-jenis tarian lain di Bali. Banyak seniman Buleleng punya keberanian besar untuk menciptakan karya-karya baru yang unik. Dalam hal drma gong misalnya, Buleleng cukup berani mengambil kisah yang berbeda dari drama gong yang ada sekitar tahun 1980-an.

Saat itu banyak drama gong mengambil kisah-kisah Panji, namun Drama Gong Puspa Anom Banyuning justru mengambil kisah yang bersala dari Tionghoa, Sam Pek Ing Tay, untuk diramu menjadi kisah drama gong. Dan pada masa itu drama gong Puspa Anom dikenal bukan saja di Bali, namun juga hingga ke Lombok.   

Memperkenalkan Rai Srimben, Ibunda Bung Karno  

Jika tak salah ingat, ide untuk membuat lomba diawali ketika Pemkab Buleleng ingin memperkenalkan Nyoman Rai Srimben yang dikenal sebagai Ibunda Bung Karno, melalui kesenian tradisional maupun kesenian modern.

Apalagi, rumah Nyoman Rai Srimben di Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Singaraja, ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Selain itu, Buleleng juga sudah membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno di wilayah Sukasada.

Nah, pada saat launching RTH Taman Bung Karno diisilah berbagai acara untuk memperkenalkan taman itu sekaligus memperkenalkan sejarah bangsa kepada generasi muda, bahwa Bapak Proklamator RI Ir. Soekarno punya ibu bernama Nyoman Rai Srimben, dan ibunya itu berasal dari Buleleng, tepatnya di Bale Agung.

Saat lanching itu, digagaslah dua lomba. Pertama lomba teater modern untuk siswa SMP dan lomba fragmentari untuk siswa SMA. Lomba teater dan fragmentari itu diwajibkan menampilkan kisah Nyoman Rai Srimben yang menikah dengan Raden Soekemi dan melahirnya anak bernama Soekarno.

Namun entah kenapa, hanya teater modern yang bisa dilangsungkan saat itu. Lomba teater modern berlangsung sukses dengan 14 peserta dan selalu dipenuhi penonton di stage terbuka Taman Bung Karno. Lomba fragmentari ditunda, salah satu penyebabnya mungkin karena tak ada yang mendaftar sebagai peserta.

Lomba fragmentari itu kemudian dilangsungkan pada Bulan Bung Karno dengan hanya lima peserta. Panitia, dengan pertimbangan tertentu, tak mewajibkan peserta untuk mengangkat kisah Nyoman Rai Srimben. Panitia memberikan tema lain juga untuk bisa dipilih. Dan, sebagaimana dikatakan pada awal tulisan ini, tak ada satu pun peserta memilih tema Nyoman Rai Srimben. Padahal, sejak awal lomba itu dimaksudkan untuk memperkenalkan kisah cinta Nyoman Rai Srimben sampai akhirnya melahirkan Sang Proklamator.    

Penampilan yang Menarik

Sesungguhnya, untuk ukuran anak SMA/SMK, lima peserta dalam lomba fragmentari di Taman Bung Karno semuanya tampail menarik. Baik sekaa gong sebagai pengiring, maupun penari di atas pentas, semua menunjukkan kualitas garapan yang bagus.

SMAN 1 Singaraja dan SMAN 4 Singaraja, misalnya, yang tampil pada Selasa malam, mampu membuat penonton terpukau. SMAN 1 yang membawakan kisah Sura Magada berhasil mendedahkan kisah dengan amat apik melalui dramatari di atas panggung. SMAN 4 Singaraja yang membawa kisah Jayaprana Layonsari juga tak kalah menarik. Sejumlah penonton bahkan menonton dengan sangat antusias, tegang dan sedih, setiap adegan ketika Jayaprana diajak ke hutan oleh Patih Saunggaling untuk dibunuh.

Dengan kemampuan anak-anak seperti itu, rasanya tak ada alasan untuk takut untuk mengggarp lakon baru, yakni Kisah Cinta Rai Srimben, Ibunda Bung Karno. Dengan kemampuan penabuh dan penari yang mumpuni seperti itu, sepertinya kisah Nyoman Rai Srimben akan hidup dalam sebuah seni pertunjukan, dan Buleleng akan memiliki satu lagi kisah baru untuk diolah dalam berbagai seni pertunjukan, bahkan suatu saat bisa diperkenalkan dalam ajang yang lebih besar semacam Pesta Kesenian Bali.

Sayangnya, tak ada yang memilih kisah Rai Srimben. Jika benar alasannya karena takut, sesungguhnya siapakah yang takut? Anak-anak yang akan menari dan menabuh, atau penggarap atau pelatihnya, atau gurunya, atau mungkin panitianya? [T]

Tags: Bung KarnoRai SrimbensejarahTaman Bung Karno Buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kegembiraan Remaja Sarimekar-Buleleng Ngebyar Angklung Bilah Kutus di PKB

Next Post

Saksi PKB Sejak 1979: Mie Ayam Racikan ala Parman

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails

Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

by Dewa Purwita Sukahet
June 25, 2022
0
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog”  | Catatan Lomba  Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

Dua orang dari 22 peserta lomba melukis Wayang Klasik di Kalangan Ayodya, areal Taman Werdhi Budaya Art Centre, Bali di...

Read moreDetails
Next Post
Saksi PKB Sejak 1979: Mie Ayam Racikan ala Parman

Saksi PKB Sejak 1979: Mie Ayam Racikan ala Parman

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co