4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
in Ulasan
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok, Tejakula, Buleleng, Bali, saat perayaan HUT ke-77 Kemerdekaan RI

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni Dewa Komang Yudi. Pak Mekel, begitu biasanya ia dipanggil (Mekel, singkatan dari Perbekel), menghubungi saya   via WA tepat H-10 hari peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-77.

Malam itu sungguh menjadi dilema karena dengan nada begitu lugas dan penuh keyakinan Pak Mekel menjelaskan idenya untuk menggarap sebuah drama pada malam peringatan HUT Kemerdekaan Ri di desanya.  Di sisi lain Pak Mekel menyampaikan kalau warga desa yang akan menjadi aktornya tidak pernah mengenal panggung pertunjukan.

Siap Pak Mekel, seru saya sembari meyakinkan diri.

Setelah diskusi singkat itu, saya mengklakulasi waktu yang tersisa dan membuat skenario  kemungkinan yang bisa ditawarkan. Singkatnya proses terjadi dalam 5 kali pertemuan sampai pentas.

Menegangkan? Ya pasti, dua hari sebelum pentas baru tergarap 2 babak dari 4 diskenario.

Tapi dalam hati selalu saya meyakinkan diri agar lebih tenang,  melihat semangat warga desa, anak-anak, PKK dan karang taruna yang ikut andil latihan sampai tengah malam, saya semakin tergerak.

Huhhh.. begitu saya menghela nafas panjang di akhir pertunjukan tangan saya julurkan untuk salaman dengan tangan tangguhnya Pak Mekel. Selamat saya ucap kepada Pak Mekel, dan kepada semua aktor yang terlibat di panggung dan di belakang panggung.

Malam itu saya melihat betapa berartinya proses yang mereka lalui sehingga membuat mereka bahagia. Yang paling penting saya selalu melirik ke arah penonton dan sungguh takjub, karena begitu antusiasnya warga desa menonton, ya mereka menonton dengan bijak hampir 50 menit pertunjukan drama itu berlangsung.

Di akhir, kami pun menikmati suguhan makan malam nasi babi guling yang dibungkus daun pisang yang cantik, bungkus nasi yang jarang dilihat diperkotaan.

Merawat Denyut Kehidupan

Sebuah perayaan yang sederhana tampilannya, tetapi  ada vibrasi besar yang membuat warga desa begitu antusiasnya datang  ke Balai  Desa untuk merayakan Hari Kemerdekaan dan melihat “hiburan” di panggung desa. warga desa datang mengantarkan anak-anaknya untuk pentas tari, musik, fashion show, bernyanyi dan mementaskan lakon drama sederhana.

Tak luput perhatian juga peran karang taruna desa yang mempersembahkan beberapa lagu yang popular di kalangannya, beberapa dari mereka pun sibuk di belakang panggung  menyiapkan acara. Tidak kalah juga para pedagang di pinggir dekat tembok-tembok yang mengelilingi balai desa telah menjajakan dagangan ikut merayakan hari kemerdekaan.

Melihat aktivitas di Desa Tembok sambil menikmati suguhan malam itu, saya sempatkan cerita tentang Pak Halim HD namanya, beliau seorang budayawan Solo pernah berkata bahwa dahulu pada era reformasi desa adalah panggung tempat hidupnya kesenian-kesenian rakyat, balai desa (balai banjar) adalah studionya para seniman kala itu. Seluruh aktivitas budaya hidup dan menghidupi di banjar.

Kita masih ingat juga sejarah mencatat bagiamana Gede Manik mencipta tari fenomenal Trunajaya dan Wayan Mardana dengan tari Wiranjaya, keduannya menghidupi seni  di desa-desa  atau dikenal sebagai seni sesebunan.Saya juga ceritakan pegalaman bagaimana Taiwan melihat Indonesia Menjaga Tradisi dengan mengundang rombongan seni Tradisi Jawa dan Bali untuk tampil di Taiwan pada tahun 2017.  Artinya bahwa identitas Nusantara ini terbangun dan terawat sudah dari lapisan terdalam namanya banjar/desa baik dalam  kegiatan upacara agama, ritual persembahan atau perayaan.

Drama Puputan Jagaraga yang dipersembahkan oleh Desa Tembok sesungguhnya mampu menghidupkan kembali peristiwa budaya yang sudah terwariskan oleh para leluhur dengan membangun aktivitas budaya di desa melalui pasraman dan karang taruna. Drama yang mengisahkan perjuangan prajurit Buleleng yang dipimpin Patih Gusti Ketut Jelantik melawan tentara Belanda yang sungguh heroik.

Walaupun kalah dalam peperangan, tetapi perjuangan Gusti Ketut Jelantik sampai detik akhirpun denyut kehidupan itu masih berdetak, menjalar seperti akar menghidupi semangat juang Jro Jempiring bersama para istri prajurit yang ditinggal para suami.

Foto bersama Pak Mekel Desa Tembok, aktor Jenderal Michiel, Kodir dan Prajurit Belanda | Dokumentasi Nengah Juliawan

Pergerakan Bermakna

Secara garap adegan dan visual artistik, sajian Drama Puputan Jagaraga ini digarap dengan sangat sederhana, bahkan seluruh aktor hanya menggunakan pakian seadanya tanpa sewa. Tapi itu bukan masasalah, karena visual adegan cukup didukung dengan penggunaan lampu LED yang dapat memberi penguatan suasana dan kekuatan sound sistem yang cukup membuat penonton mendengarkan setiap kata para aktor.

Dengan latar Cerita Puputan Jagaraga, garapan ini memiliki identitas kuat yang selalu hadir dalam kehidupan masyarakat Buleleng pada umumnya.  Kehidupan masyarakat dikemas dengan adegan genjek, metajen, dan pedagang. Tidak lupa pada dialog pedagang diselipkan sosialisasi program desa tentang Puskesdes dan Bus Sekolah yang dapat diakses bayar dengan membawa sampah plastik oleh seluruh masyarakat.

Dalam adegan juga menekankan peran sosok Jempiring yang membantu Jelantik menyusun strategi Perang Supit Urang yang semat memukul mundur 250 orang pasukan Belanda pada perang pertama.

Bagi saya pentas itu sudah berakhir, yang masih terus hidup adalah makna setelah proses latihan. Sebuah proses latihan natural yang dilakukan rutin selama 4 hari adalah pergerakan penuh makna, tentang mereka mengontrol emosi, tentang menjalin kerjasama (menyamakan frekuensi), tentang menghargai waktu, tentang profesionalitas kerja.

Apabila ini menjadi rutinitas, temasuk di Desa Tembok, menurut saya seni akan berperan untuk memanusiakan manusia dan akan lahir pergerakan bermakna yang selalu menjadi inspirasi desa lainnya.

Dengan begitu saya yakin ini adalah pergerakan yang bermakna. Kenapa? Ya jawaban versi saya, karena mereka “berani” mencoba. Sebuah garapan yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, bisa jadi dikatakan matah, ajum-ajuman dan umpatn lain bagi mereka yang tidak mampu melakukan pergerakan itu. Atau dikatakan sensasi saat pandemi. Entahlah, tapi saya melihat ini sangat sederhana.

Proses begitu cepat, tapi hasilnya saya saksikan tidak seperti mie instan yang cepat membuat saya lapar. Ini seperti saya menyantap ikan bakar dipinggir pelabuhan Sangsit. Aroma dan nikmatnya masih saya bahwa sampai ke rumah. Masih saya ceritakan dengan istri betapa saya terkagum melihat pemainnya sangat total tertawa, marah atau sedih. 

“Happy is Free” adalah kata yang saya catat, karena saya meyakini dengan sering-sering happy akan meningkatkan imun tubuh. Salah satu momen megenjekan sambil menari bersama ngibingin joged menunjukan begitu bahagianya mereka tanpa beban.  Semoga mereka yang pentas benar-benar meningkat imunnya. 

Ini adalah keberanian Kapten kapal dan ABKnya kapal yang diberi nama Desa Tembok dapat menciptakan sebuah tontonan yang bergizi saat perayaan Hari Kemerdekaan.

Di akhir pertunjukan kamera silih berganti membidik serunya moment itu, kemudian saya lihat jarum jam sudah pukul 11.00 WITA, cerita dengan Pak Mekel harus dilanjutkan lain waktu.

 Sungguh nikmat malam itu, kamipun  kembali ke kota Singaraja menunaikan pekerjaan esok harinya… MERDEKA… Tancep Kayonan. [T]

Tags: Desa TembokDramaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Armand Maulana: “Bangkitkan Sanfest, Munculkan Energi, Ayo Lompat!”

Next Post

Mari Memandang Pencoretan Bandara Bali Utara dengan Perspektif Lain

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails

Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

by Dewa Purwita Sukahet
June 25, 2022
0
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog”  | Catatan Lomba  Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

Dua orang dari 22 peserta lomba melukis Wayang Klasik di Kalangan Ayodya, areal Taman Werdhi Budaya Art Centre, Bali di...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Mari Memandang Pencoretan Bandara Bali Utara dengan Perspektif Lain

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co