14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
November 28, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Made Adnyana Ole | Peristiwa Biasa Pada Hari-hari Bahagia

Foto: Jayen Photography

PERISTIWA BIASA PADA HARI-HARI BAHAGIA

Minggu, hari matahari
Kujemur cahaya
Di sela urat daun
Tumbuh-tumbuhan

Senin, hari tumbuh-tumbuhan
Kusimpan serat gizi
Pada jinak atau liar
Tubuh hewan

Selasa, hari hewan
Kutanam budi baik
Tanpa balas dan bunga
Di setiap hati manusia

Rabu, hari budi manusia
Kurawat rasa dan kata cinta
Atas waktu luang
Milik pengetahuan

Kamis, hari pengetahuan
Kupetik segala yang terlihat
Oleh mata di dunia
Kusimpan di dunia maya

Jumat, hari pengetahuan maya
Kuciptakan puisi
Paling suci paling murni
Untuk ayah dan ibu

Sabtu, hari ayah dan ibu
Kupadati diri dengan cahaya kasih
Limpah ruah melebihi cahaya
Matahari

BERKEBUN DALAM RUMAH

Aku tanam pohon api dalam dingin
Kau petik kemudian rasa asin
Dari butir buah yang terbit
begitu saja di tepi kening

“Aku panen!” katamu.

Aku pun mengecup keningmu
Mencecap asin
yang sebentar lagi hilang
menjauh
dari masa tua

Kau tanam pohon api dalam udara
Aku pagut kemudian rasa sepat
Dari buah yang menggantung
Sedemikian rupa di ujung lidah

“Aku dapat!” ujarku

Kau pun memagut lidahku
Seakan menghentikan sepat kata-kata
yang dulu senantiasa lepas
jatuh bagai hujan
di atas kursi ruang keluarga

Aku tanam pohon air dalam panas
Kau petik kemudian rasa asam
Dari beratus-ratus buah yang berkumpul
Seperti sediakala di ujung-ujung jari

“Aku panen raya!” katamu

Aku pun mengisap jari-jarimu
Biar kunikmati sari asam kehidupan
sebelum larut
dalam manis janji-janji
di ceruk kuali

Kau tanam pohon air dalam udara
Aku hirup kemudian rasa hambar
Dari buah yang mengalir
Begitu rupa pada alur napas

“Aku berlimpah!” kataku

Kau pun menghirup napasku
Memberi rupa pada hambar
rupaku rupamu
rupa anak-anak
di meja makan

Aku tanam pohon udara dalam panas
Kau dapatkan kemudian rasa pedas
Dari buah yang terbayang-bayang
Sebegitu nyata dalam perih mata

“Aku dapat tunai!” katamu

Aku pun membasuh matamu
Agar kaulihat dengan sempurna
betapa lumrah segala yang lebih
betapa mewah segala yang kurang
di teras depan

Kau tanam pohon udara dalam dingin
Aku terkesiap disembur rasa pahit
Dari biji buah yang meluncur pesat
Sebegitu pesat pada alir darah di urat nadi

“Aku terima kasih!” kataku

Kau pun mengusap urat nadiku
Merawat rasa pahit sebagai penyembuh
luka di kaki
sakit di hati
nyeri di sekujur rumah

SEORANG ANAK MENGGAMBAR TIGA WUJUD POHON

1.

Pagi hari, si anak dengan kening berkerut
Menggambar pohon segitiga

“Ini pohon muda
Pohon pikiran di kepalamu, Ayah!” kata si anak.

Satu segi, satu pucuk, runcing ke langit
Makin tinggi makin tinggi
Si anak menyambung kertas di bagian atas
Makin panjang makin panjang

Bintang-bintang menyingkir
Mencipta ruang lengang, tembus lurus ke puncak angkasa
Kelelawar hilang sihir. Serangga gigil demam
Sayap kupu-kupu jadi serbuk awan di ketinggian

“Tapi, setinggi apakah pikiran
di kepalamu, Ayah?” tanya si anak.

Kau lewat pada batas, tak akan sampai pada akhir
Pohon tinggi mudah dihitung
Kedalaman akar susah diduga

“Pohon segitiga
Pohon pikiran di kepalamu, Ayah!”

Satu segi, satu pucuk, runcing ke langit
Dua segi dekat pada batang, runduk pada akar
Satu segi menjangkau matahari
Dua segi dijangkau matahari

2.

Siang usai makan, si anak dengan muka mengantuk
Menggambar pohon segi empat

“Ini pohon setengah tua
Pohon tubuh, pohon tubuhmu, Ayah!” kata si anak.

Sisi kiri sisi kanan melebar badan, rimbun mendatar
Sisi atas pun menunduk, sisi bawah menahan beban

Tangkai menjuntai, seribu buah melayang seperti bintang
Kelelawar tidur siang, timbun lemak bergayut di perut
Dan pada lengan cabang, semut berduyun serangga tualang
Kupu-kupu mengibaskan sayap dan seribu ulat tetas
setelah tuntas penyerbukan

Si anak menyambung kertas di pinggir kiri, juga di kanan
Hingga lewat semua warna pada dua ujung tangan

“Setengah tua, setengah usia
Apa yang ditakutkan tubuh
Selain berat pada ketinggian, Ayah?” tanya si anak.

Kau berhenti sebelum tiba pada tuju
Kepala menunduk, kaki menahan beban
Ulat seakan hama, sebelum pasrah jadi kupu-kupu

“Pohon segi empat
Pohon tubuhmu, Ayah!”

Semut serangga menyeberang leluasa
Dari ranting paling kiri ke ranting paling kanan
Dari kaki sebelah kiri ke kaki sebelah kanan

Jangankan melangkah, diam pun kau mulai susah

3.

Malam sebelum ke ranjang, si anak dengan wajah bersih
Menggambar pohon lingkaran

“Ini pohon matang
Pohon ulu hati
Ulu di hatimu, Ayah!” kata si anak

Ia menggambar satu titik
Di tengahnya ada jalin cabang, geliat ranting
Serat batang kuat dan liat inti kayu
Serabut dan tunggang akar. Daun rimbun berlapis
Melingkar serupa bola bumi
Hijau dan penuh

“Sepenuh apakah perasaan-perasaanmu
Yang tersimpan sunyi
Di ulu hati, Ayah?” tanya si anak

Kau tersesat pada titik yang tumbuh. Lingkar pohon
Yang hidup. Bulat belukar. Ular hijau ular pohon
Burung-burung kecil pada ranting. Burung besar di cabang
Iring-iring semut. Kertap serangga dan ulat bulu naik turun batang
Ulat buah pada buah, ulat tanah pada akar
Saling canda, saling mangsa, dengan tanda
dan perasaan yang sama

“Pohon lingkaran
Pohon ulu hatimu, Ayah!”

Kau masuk ke dalam titik
Tak sampai-sampai di kedalaman

_____

KLIK UNTUK BACA PUISI-PUISI LAINNYA

Puisi-puisi Esa Bhaskara | Punggung Udang di Lingkar Piring
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seorang Nelayan Mengambang Sepanjang Sungai Ijo Gading | Cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi

Next Post

Dalang-Dalang Cilik dalam Euforia Hari Wayang Nasional 2021 di Bali

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Dalang-Dalang Cilik dalam Euforia Hari Wayang Nasional 2021 di Bali

Dalang-Dalang Cilik dalam Euforia Hari Wayang Nasional 2021 di Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co