2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendengar “Haunted Psycho Notes” dari Kanekuro | Dari Kesehatan Mental ke Kesehatan yang Lain

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
June 17, 2021
in Ulasan
Mendengar “Haunted Psycho Notes” dari Kanekuro | Dari Kesehatan Mental ke Kesehatan yang Lain

Kanekuro | Foto Dok Kanekuro

Kanekuro adalah sebuah band bergendre post punk/dark surf. Band ini beranggotakan empat orang truna-truni (dibaca; muda-mudi). Di antaranya ada Andre Tovan sebagai vokal, Gesta di gitar, Hendra Ginting di bass, dan Rio di Drum. Muda-muda ini berdomisili di kota Denpasar, sudah diketahui bahwa Denpasar sebagai ibu kota Bali menjadi pusat sebagai segala bentuk apa pun termasuk pemasaran band.

Kanekuro termasuk sebuah band yang bisa dikatakan membawa warna baru dalam skena band di Denpasar bahkan Bali. Beberapa waktu lalu band ini sempat merilis single keduanya berjudul, “Haunted Psycho Notes”. Dirilis berbarengan dengan musik video di kanal YouTube Skullism Records yang sekaligus menjadi label musik untuk band Kanekuro. Disutradarai oleh Ayu Dian Ningrat. DOP dan Editor oleh Dharma Krisnahardi a.k.a Omen.

Isu Kesehatan Mental

Tapi sebelum sampai di isi, mari telisik sedikit bagaimana sebuah karya selalu berdampingan dengan keresahan-keresahan sang penciptanya. Semisal pada karya single kedua Kanekuro, sang vokalis Andre Tovan mengatakan bagaimana dia tertarik oleh isu kesehatan mental. Isu yang sangat dekat dengan lingkaran dan kehidupan anak muda.

Kanekuro dalam bayangan saya adalah sebuah band yang memang ingin menyentuh ruang-ruang kecil lingkaran tongkrongan di kalangan umurnya. Sebab beberapa lagu-lagu sebelumnya memang tidak terlihat bagaimana Andre sebagai pentolan dalam band Kanekuro, tidak memiliki semacam kecendrungan ingin mendramatisir terlalu berlebih soal tradisi atau budaya tempat tinggalnya sendiri.

Andre malah memilih sedikit keluar dari ranah itu, tapi tidak benar-benar keluar. Masihlah isu yang dibawakan berada pada jalur terpinggir dalam keseharian realitas tempat tinggalnya di Bali. Akhirnya isu itu bersifat lebih luas dan memiliki kesepakatan kolektif yang skalanya lebih luas juga.

Kanekuro termasuk band yang progressive masuk ke panggung-panggung di Denpasar, saya termasuk aktif juga menyaksikan Kanekuro. Saya berusaha mencoba menggunakan perspektif sebagai pendengar dan penikmat musik. Sehingga saat ingin mengulas-pun saya rasa tidak memiliki hak sama sekali berbicara soal gendre atau kualitas segi musik mereka. Sebab jujur saja saya tidak memiliki ketajaman dalam hal itu, saya merasa memiliki kuping yang bersih sebagai pendengar musik. Ya, walaupun naifnya kalimat itu saya katakan hanya untuk menutupi ketidaktahuan saya soal musik.

Akhirnya saya memilih untuk menepi, dan mengambil dimensi lain dalam “Haunted Psycho Notes”. Bahwa saya sangat percaya sebuah karya dapat dibedah dengan lapisan kesekian.

Bagaimana ketika Andre mengambil isu kesehatan mental sebagai dasar fokus dalam karya terbaru bersama bandnya. Yang artinya isu itu hidup dan ada dalam keseharian menjadi hal yang lumrah sekaligus tabu. Ketika saya mencoba mendekati isu itu dan mencari lebih dalam lagi, ternyata kesehatan mental memiliki segala jenis cabang bentuk penyakitnya. Tapi akarnya adalah kesehatan mental itu sendiri. Pengkatagorian yang dibuat oleh ahli kejiwaan mental (psikiater) ternyata juga harus detail dan membaca ulang bagaimana latar belakang dari si pengidap penyakit itu.

Penyakit mental menjadi hal yang rancu pada satu sisi, sebab pada gejala awalnya tidak memberikan tanda-tanda pada fisik. Kadangkala, ini yang menjadikan bagaimana gejala awal orang dengan pengidap gangguan mental dianggap biasa saja, apalagi ditambah ketertutupan pengidap itu sendiri.

Sering menyendiri, membebani diri sendiri dengan pikiran berlebih, sedikit berbicara, pandangan jauh, perasaan yang berubah-ubah adalah segala contoh awal gejala salah satu penyakit mental.

Tapi kemudian bagaimana langkah sebagai pengidap dan orang yang mengetahui mengambil sikap? Sebab pada realitasnya masyarakat masih menganggap jika datang ke psikiater adalah orang yang sudah memiliki gangguan kejiwaan yang sudah akut. Padahal sejatinya belum sampai pada tahap itu, stigma-stigma masyarakat ini yang akhirnya mempengaruhi pengidap semakin parah.

Dan sayangnya lagi bagaimana orang terdekat juga memiliki stigma berlebihan. Padahal tanpa diketahui bahwa gejala-gejala awal itu malah terlahir dari lingkungan kolektif terkecil. Semisal keluarganya dan lingkungan sekitar, yang kemudian disilangkan oleh keadaan yang sedang mengendap dalam dirinya seperti masalah pekerjaan, akademik, religi bahkan percintaan. Persilangan-persilangan tekanan itu yang kemudian memberikan dampak pada kesehatan mental.

Andre pernah mengatakan, “Bahwa di budaya barat sana sesuatu hal yang seperti ini sudah menjadi gaya hidup yang ‘keren’ di kalangan remaja.” Memang, budaya menjadi tolok ukur dalam menilai seberapa krusialnya isu kesehatan mental.

Di negara maju sana kelainan mental dianggap “keren” terlebih misalnya jika pengidapnya adalah idola. Seperti Syd Barret vokalis dari band Pink Floyd, Kurt Cobain – Nirvana, Ian Curtis – Joy Division dan musisi lainnya. Stigma itu menjadikan pemikiran budaya negara maju membentuk sebuah standar kekerenan tersendiri, begitu menurut Andre.

Kalau dipikir-pikir iya juga sih, bagaimana orang di negara maju sana individual itu sudah sangat jelas terlihat. Beda dengan di budaya kita, yang masih perlu adanya kolektifitas bermasyarakat. Saya malah terbayang, ndak ada tuh orang di negara maju kalau lewat depan orang rame nundukin badan sambil bilang “punten”. Sendiri-sendiri aja sudah “ci ci, cang cang”, ruang-ruang ketika sendiri itu yang memicu melunjaknya gangguan mental yang diamini sendiri.

Lirik yang Memang Menghantui

Sepertinya terlalu jauh ngarul-ngidul dari “Haunted Psycho Notes”. Tapi ya memang begitulah sejatinya, kalau dilihat dari judul dan lirik memang sangat haunted (menghantui).

Bahkan saya setelah mendengarkan materi dan sempat ngobrol cerita-cerita sama Andre saya malah terhantui oleh diri sendiri, sebab ada gejala-gejala kecil itu melekat pada saya. Bahkan saya meyakini hal itu ada dalam setiap orang, bagaimana dihantui oleh tekanan sosial sendiri, faktor lingkungan bahkan konteks religius pribadi. Yang memberikan efek agak menakutkan ketika dipikirkan ulang, saya sampai harus memaksakan diri mengalihkannya ke hal lain.

Saya rasa Kanekuro berhasil mengangkat isu itu ke permukaan, bagaimana Kanekuro mengemas itu menjadi sebuah gambaran repetitive yang menakutkan dan terus terulang di telinga secara musikal dan visual. Dengan suara vokal yang mengambang jauh, bass yang kental jauh terdengar, gitar yang nyaring dan ketukan drum yang kuat, seperti memerintahkan tubuh untuk menunduk dan menuruti kemauan pikiran. Walaupun melakukan hal yang sarkas sekalipun kepada tubuh, itu digambarkan oleh Kanekuro menggunakan narasi-narasi seperti potongan tangan, kresek hitam besar berisikan mayat, lalu itu dikonsumsi. Dan teks sarkas lainnya.

Itu adalah hal yang berada pada ruang awang-awang seseorang ketika menghayal terlalu jauh tentang seseorang yang mungkin tidak ia sukai. Biasanya, dia akan berpikir menjadi segala cara untuk mewujudkan hal yang ada dalam pikirannya. Sekali lagi, meskipun itu dalam bentukan yang sarkas dan sangat jauh dari kenyataan.

Kemudian hal yang juga menjadi perhatian dan pertanyaannya, pada waktu bagaimana dan moment seperti apa tempat yang tepat mendengarkan single terbaru dari Kanekuro berjudul “Haunted Psycho Notes” ini? Hahahaa.

Masih tidak terbayang bagaimana dan obrolan apa yang ada dalam tiap proses kreatif band ini. Kalau didengar musik semacam ini walaupun baru dan menarik di telinga, sejatinya sangat jauh pada keseharian telinga orang Bali.

Apakah band ini memang membangun karakter pendengarnya begitu saja, dileburkan begitu saja ke publik? Dan membiarkan hal itu tersaring dengan sendirinya? Atau memang akhirnya pembacaan tentang audiens itu menjadi hal yang harus dipisahkan dari karakter band itu sendiri.

Proses Kreatif dan Catatan-catatan

Saya melihat bahwa band itu tidak bisa muncul ke permukaan dengan begitu saja. Audiens itu juga butuh narasi kecil tentang hal di balik band itu sendiri. Walaupun kesannya terlihat begitu gawat, ya kenyataannya memang begitu. Apalagi, katakanlah, ketika dianggap membawa warna baru dalam skena musik. Narasi-narasi dan ke mana arah band itu harus dibangun seiringan, harus memang ada orang dalam hal itu. Siapa yang merekam dan mencatat bagaimana tiap proses yang telah dilalui salah satu band.

Catatan itu menjadi penting untuk mendatangkan massa dan pendengar yang baru, tulisan dan catatan semacam menjadi jalan pintas pendengar baru untuk menyusul ketertinggalan kepada orang yang sudah lama mengikuti dan merekam jejak sebuah band.

Ya kalau hanya bicara lewat karya saja sih bisa dan sah-sah saja, tapi itu hanya memberikan angin lalu bagi pendengarnya. Tidak ada dialegtika yang terbangun. Saya sangat percaya bahwa tulisan dan catatan menjadi ruang yang sangat pribadi antara yang punya karya dan pendengarnya.

Lewat tulisan dan catatan pendengar menjadi merasa dekat dengan band itu, sebab dia bisa membaca sekilas tentang dapur band yang sedang “membuatnya resah”.

Sikap sebuah band akhirnya memang harus dipaksa untuk dibangun secara professional dari segala apapun. Apalagi ketika sudah bekerja dengan label, yang artinya ruang lingkup band tersebut semakin luas. Itu akan mendatangkan para pendengar yang baru. Dan akan ada pendegar tidak sengaja mendengar bebunyian yang aneh baginya. Tugas sebuah band adalah menjaga antusias dan rasa penasaran pendengarnya.

Mungkin ya segitu saja sih, dari tadi saya nyeloteh seolah sudah paling paham dunia kesehatan mental terus sok menjadi penasehat dalam sebuah kelompok musik. Padahal tadi katanya hanya pendengar dan penikmat musik yang berkuping bersih.

Ya, tapi itulah, bagi saya menghargai dan benar antusias terhadap sebuah band sepertinya menulis adalah cara memberikan feedback kepada band itu sendiri. Gimanain men, aku ndak bisa apa.

Kanggoin ulasan ala-ala curhatan aja. Siapa tau ada yang disetujui, bisa menjadi bahan bakar baru dalam berproses ke depannya. Kalau tidak ada, ya tidak juga bisa dipaksakan.

Jika teman-temab berkenan berikut saya sertakan link video musik Kanekuro – Haunted Psycho Notes, sangat cocok untuk disaksikan terutama untuk kaula muda yang jenuh dengan musik yang begitu-begitu saja. Salam. [T]

Tags: Kanekurokesehatankesehatan jiwamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wa Cening dari Les | Ketekunan & Kesetiaan Sejak Belia pada “Lengis Tanusan”

Next Post

Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri

Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co