24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri

Komang Adnyana by Komang Adnyana
June 17, 2021
in Esai
Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri

Roberto Mancini, Jhumpa Lahiri | Ilustrasi Nana Partha

Melihat Italia menjadi tim pertama yang mengunci tiket ke babak 16 besar Euro 2020, jadi teringat Jhumpa Lahiri. Entah kenapa. Gli Azzurri, Roberto Mancini, lalu Jhumpa Lahiri. Pengarang Amerika keturunan India, yang kemudian bermukim di Roma.

Baru dua pertandingan, dan memang masih terlalu dini untuk memberi penilaian. Sejauh apa Italia bisa melangkah di turnamen ini? Tak pelak pertanyaan itu muncul. Dua kemenangan impresif di Grup A atas Turki dan Swiss, mencetak masing-masing tiga gol, dan tanpa kebobolan satu pun. Azzurri mulai dilirik, meski ada saja yang masih mencibir. Dua lawan yang mereka hadapi memang seharusnya bisa dikalahkan.

Sebelum turnamen, Italia seolah berada di luar radar tim favorit, di luar Prancis, Portugal, Belgia, bahkan Inggris. Catatan tak lolos ke Piala Dunia 2018 dianggap sebagai puncak regresi kekuatan sepakbola Italia (padahal waktu itu ada negeri kiblat bola lain yang juga tak lolos ke putaran final, yakni Belanda). Tapi ditangan pelatih Roberto Mancini, sejak tiga tahun lalu, rekor penampilan Azzurri terbilang bagus. Tak terkalahkan di 27 pertandingan internasional, dari partai persahabatan hingga laga kualifikasi. Meski sekali lagi, ada juga yang menyoroti, dari keseluruhan tim itu, hanya dua saja yang tergolong tim sulit, Polandia dan Belanda. Sisanya tim medioker yang sudah sepantasnya mereka kalahkan.    

“Kurang intensitas, tenaga dan kecepatan,” komentar Patrick Vieira setelah kemenangan atas Swiss, sebagaimana dikutip Football Italia. Intinya, legenda Prancis, sekaligus mantan gelandang Juventus dan Inter Milan ini masih meragukan peluang Italia untuk melenggang lebih jauh. Mereka belum teruji dengan lawan berat.

Komentar Vieira, semoga tidak ditanggapi sebagai sinisme dan arogansi di tengah status negaranya sebagai tim favorit. Sebuah turnamen, bagaimana pun, membutuhkan daya tahan. Dan Euro kerap menunjukkan, tim yang impresif di awal tak selalu berujung juara, begitu juga sebaliknya skuad yang angin-anginan, justru beruntung.

Ada baiknya mungkin melihat kiprah Mancini. Apa yang dilakukannya, dan kesediaannya untuk membangun sebuah tim baru, sebagaimana pernah dilakukannya di Inter dan Manchester City dulu. Kini, dia menggabungkan pemain berpengalaman dan pemain muda. Ini jelas jauh dari era keemasan Alessandro Del Piero, Andrea Pirlo, Fabio Cannavaro, Paolo Maldini atau Gennaro Gattuso. Para legenda sudah lama berlalu, dan sepakbola Italia, terkhusus Seri A, sudah sering dianggap menurun. Bila hanya berkaca dari seberapa jauh laju klub-klub Seri A di Liga Champions tiap musimnya dan berapa trofi dari kompetisi level Eropa yang bisa diboyong ke daratan negeri Pizza.  

Dalam dua pertandingan ini, mereka menunjukkan kolektivitas. Kuat dan tampil sebagai sebuah kesatuan, cukup cepat dalam pergerakan bola, efisien sekaligus menghibur. Masih perlu ditunggu di pertandingan terakhir babak penyisihan melawan Wales untuk memastikan apakah Italia akan menjadi juara Grup A atau hanya sebagai runner-up alias peringkat kedua. Posisi itu akan menentukan siapa lawan mereka di 16 besar nanti. Jika juara Grup A mereka akan melawan runner-up Grup C, jika menjadi runner-up Grup A, lawannya dari tim runner-up di Grup B.

Prancis, Portugal dan Belgia adalah tim-tim favorit, kata Mancini. Yang pertama juara dunia, yang kedua juara bertahan, dan yang berikutnya adalah tim peringkat satu FIFA. Sementara Italia, banyak diantara pemain-pemain muda mereka sekarang, yang bahkan belum pernah mencicipi tampil di Liga Champions atau pun Liga Eropa. Manuel Locatelli, pemuda 23 tahun, pencetak sepasang gol ke gawang Swiss juga sebenarnya hanyalah gelandang pelapis, pengganti Marco Veratti yang kurang bugar.

Yang dilihat Mancini justru sebaliknya, sebuah ruang untuk berkembang. “Ada tim di turnamen ini yang dalam hal kedewasaan, jauh di atas kami. Namun apa pun bisa terjadi dalam sepakbola. Saya berusaha menjelaskan ide-ide saya kepada para pemain dan sejauh ini mereka tampil sempurna.”  

Di Stadion Olimpico, Roma, Azzurri menggilas Turki dan Swiss masing-masing dengan skor 3-0. Ingat Roma, ingat Mancini, jadi ingat juga dengan Jhumpa Lahiri. Sejak 2011, perempuan penulis ini memilih pindah ke Italia. Memulai kehidupan baru, bahkan memilih cara yang ekstrem untuk menemukan bentuk literasinya. Suara baru. Lewat bahasa yang baru.

Keputusan itu diambil setelah bahasa Inggris mengantarkannya ke panggung sastra internasional. Meraih Pulitzer pada 2000 dengan kumpulan cerpennya Interpreter of Maladies (1999) disusul, satu kumpulan cerpen lain, Unaccustomed Earth dan dua novel The Namesake dan The Lowland. Beberapa penghargaan juga menghampirinya, tetapi persoalan bahasa ternyata sangat personal baginya.

Dia memilih mengenolkan dirinya. Sepenuhnya hanya belajar bahasa Italia, bicara menggunakan bahasa Italia, dan menulis juga hanya dengan bahasa Italia. Bahasa Inggris ditinggalkannya. Bahasa adalah perkara identitas yang membuat hidupnya di persimpangan. Orang tuanya asli Bengali, berbahasa Bengali, sementara dia tumbuh di Amerika, sebagai anak dari orang tua imigran, dengan bahasa Inggris. Perkara identitas ini mengganggunya sejak kecil. Kedua bahasa itu lambat laun disadari tak bisa menjadi suara sesungguhnya bagi dirinya sendiri. Dia seperti terjebak dalam dua kutub identitas yang tak benar-benar dimilikinya.

Sama seperti Italia dan Mancini, Jhumpa Lahiri membangun ulang dirinya sendiri. Memberi kesempatan bagi dirinya untuk memulai lagi dan berkembang. Sekarang, dia seperti tak lagi memiliki kewajiban untuk menuliskan ulang memori berupa “negara yang hilang” yang tanpa sadar diwariskan dari orang tuanya. Perlu waktu lama baginya untuk bisa menerima bahwa tulisannya tak punya tanggung jawab untuk berkutat dengan perkara identitas itu. In Other Words adalah buku pertama yang saya tulis sebagai seseorang yang dewasa, tapi sekaligus dari sisi linguistik, sebagai seorang anak kecil, tulisnya dalam salah satu esainya, Afterword.

In Other Words (2015) adalah kumpulan esai pertama Jhumpa Lahiri, yang aslinya ditulis dalam bahasa Italia, berisi lika-liku seputar kehidupan barunya dan juga suara barunya, yang ditemukannya lewat bahasa. Tiga tahun kemudian, sebuah novel berhasil ditulisnya, judulnya Dome mi trovo, juga dalam bahasa Italia. Itu titik kedatangan sekaligus perpisahan. Beranjak dari sebuah kukurangan, ketiadaan. Saya rasa itu buku yang ragu-ragu, sekaligus juga berani. Tulisnya lagi. Masih tentang buku pertamanya.

Sama seperti Jhumpa Lahiri, yang mengibaratkan perjalanannya dengan bahasa baru seperti sebuah upaya berenang dari satu tepian danau ke tepian lain, Gli Azzuri juga barangkali mesti menunjukkan daya tahannya mengarungi turnamen ini. Sampai di tepian manakah mereka nanti? [T]

___

BACA ARTIKEL EURO 2020 YANG LAIN DARI PENULIS KOMANG ADNYANA

Tags: EURO 2020Gli AzzurriItaliaJhumpa LahiriRoberto Mancinisepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar “Haunted Psycho Notes” dari Kanekuro | Dari Kesehatan Mental ke Kesehatan yang Lain

Next Post

Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas

Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel "Gas" Nanoq da Kansas

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co