2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri

Komang Adnyana by Komang Adnyana
June 17, 2021
in Esai
Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri

Roberto Mancini, Jhumpa Lahiri | Ilustrasi Nana Partha

Melihat Italia menjadi tim pertama yang mengunci tiket ke babak 16 besar Euro 2020, jadi teringat Jhumpa Lahiri. Entah kenapa. Gli Azzurri, Roberto Mancini, lalu Jhumpa Lahiri. Pengarang Amerika keturunan India, yang kemudian bermukim di Roma.

Baru dua pertandingan, dan memang masih terlalu dini untuk memberi penilaian. Sejauh apa Italia bisa melangkah di turnamen ini? Tak pelak pertanyaan itu muncul. Dua kemenangan impresif di Grup A atas Turki dan Swiss, mencetak masing-masing tiga gol, dan tanpa kebobolan satu pun. Azzurri mulai dilirik, meski ada saja yang masih mencibir. Dua lawan yang mereka hadapi memang seharusnya bisa dikalahkan.

Sebelum turnamen, Italia seolah berada di luar radar tim favorit, di luar Prancis, Portugal, Belgia, bahkan Inggris. Catatan tak lolos ke Piala Dunia 2018 dianggap sebagai puncak regresi kekuatan sepakbola Italia (padahal waktu itu ada negeri kiblat bola lain yang juga tak lolos ke putaran final, yakni Belanda). Tapi ditangan pelatih Roberto Mancini, sejak tiga tahun lalu, rekor penampilan Azzurri terbilang bagus. Tak terkalahkan di 27 pertandingan internasional, dari partai persahabatan hingga laga kualifikasi. Meski sekali lagi, ada juga yang menyoroti, dari keseluruhan tim itu, hanya dua saja yang tergolong tim sulit, Polandia dan Belanda. Sisanya tim medioker yang sudah sepantasnya mereka kalahkan.    

“Kurang intensitas, tenaga dan kecepatan,” komentar Patrick Vieira setelah kemenangan atas Swiss, sebagaimana dikutip Football Italia. Intinya, legenda Prancis, sekaligus mantan gelandang Juventus dan Inter Milan ini masih meragukan peluang Italia untuk melenggang lebih jauh. Mereka belum teruji dengan lawan berat.

Komentar Vieira, semoga tidak ditanggapi sebagai sinisme dan arogansi di tengah status negaranya sebagai tim favorit. Sebuah turnamen, bagaimana pun, membutuhkan daya tahan. Dan Euro kerap menunjukkan, tim yang impresif di awal tak selalu berujung juara, begitu juga sebaliknya skuad yang angin-anginan, justru beruntung.

Ada baiknya mungkin melihat kiprah Mancini. Apa yang dilakukannya, dan kesediaannya untuk membangun sebuah tim baru, sebagaimana pernah dilakukannya di Inter dan Manchester City dulu. Kini, dia menggabungkan pemain berpengalaman dan pemain muda. Ini jelas jauh dari era keemasan Alessandro Del Piero, Andrea Pirlo, Fabio Cannavaro, Paolo Maldini atau Gennaro Gattuso. Para legenda sudah lama berlalu, dan sepakbola Italia, terkhusus Seri A, sudah sering dianggap menurun. Bila hanya berkaca dari seberapa jauh laju klub-klub Seri A di Liga Champions tiap musimnya dan berapa trofi dari kompetisi level Eropa yang bisa diboyong ke daratan negeri Pizza.  

Dalam dua pertandingan ini, mereka menunjukkan kolektivitas. Kuat dan tampil sebagai sebuah kesatuan, cukup cepat dalam pergerakan bola, efisien sekaligus menghibur. Masih perlu ditunggu di pertandingan terakhir babak penyisihan melawan Wales untuk memastikan apakah Italia akan menjadi juara Grup A atau hanya sebagai runner-up alias peringkat kedua. Posisi itu akan menentukan siapa lawan mereka di 16 besar nanti. Jika juara Grup A mereka akan melawan runner-up Grup C, jika menjadi runner-up Grup A, lawannya dari tim runner-up di Grup B.

Prancis, Portugal dan Belgia adalah tim-tim favorit, kata Mancini. Yang pertama juara dunia, yang kedua juara bertahan, dan yang berikutnya adalah tim peringkat satu FIFA. Sementara Italia, banyak diantara pemain-pemain muda mereka sekarang, yang bahkan belum pernah mencicipi tampil di Liga Champions atau pun Liga Eropa. Manuel Locatelli, pemuda 23 tahun, pencetak sepasang gol ke gawang Swiss juga sebenarnya hanyalah gelandang pelapis, pengganti Marco Veratti yang kurang bugar.

Yang dilihat Mancini justru sebaliknya, sebuah ruang untuk berkembang. “Ada tim di turnamen ini yang dalam hal kedewasaan, jauh di atas kami. Namun apa pun bisa terjadi dalam sepakbola. Saya berusaha menjelaskan ide-ide saya kepada para pemain dan sejauh ini mereka tampil sempurna.”  

Di Stadion Olimpico, Roma, Azzurri menggilas Turki dan Swiss masing-masing dengan skor 3-0. Ingat Roma, ingat Mancini, jadi ingat juga dengan Jhumpa Lahiri. Sejak 2011, perempuan penulis ini memilih pindah ke Italia. Memulai kehidupan baru, bahkan memilih cara yang ekstrem untuk menemukan bentuk literasinya. Suara baru. Lewat bahasa yang baru.

Keputusan itu diambil setelah bahasa Inggris mengantarkannya ke panggung sastra internasional. Meraih Pulitzer pada 2000 dengan kumpulan cerpennya Interpreter of Maladies (1999) disusul, satu kumpulan cerpen lain, Unaccustomed Earth dan dua novel The Namesake dan The Lowland. Beberapa penghargaan juga menghampirinya, tetapi persoalan bahasa ternyata sangat personal baginya.

Dia memilih mengenolkan dirinya. Sepenuhnya hanya belajar bahasa Italia, bicara menggunakan bahasa Italia, dan menulis juga hanya dengan bahasa Italia. Bahasa Inggris ditinggalkannya. Bahasa adalah perkara identitas yang membuat hidupnya di persimpangan. Orang tuanya asli Bengali, berbahasa Bengali, sementara dia tumbuh di Amerika, sebagai anak dari orang tua imigran, dengan bahasa Inggris. Perkara identitas ini mengganggunya sejak kecil. Kedua bahasa itu lambat laun disadari tak bisa menjadi suara sesungguhnya bagi dirinya sendiri. Dia seperti terjebak dalam dua kutub identitas yang tak benar-benar dimilikinya.

Sama seperti Italia dan Mancini, Jhumpa Lahiri membangun ulang dirinya sendiri. Memberi kesempatan bagi dirinya untuk memulai lagi dan berkembang. Sekarang, dia seperti tak lagi memiliki kewajiban untuk menuliskan ulang memori berupa “negara yang hilang” yang tanpa sadar diwariskan dari orang tuanya. Perlu waktu lama baginya untuk bisa menerima bahwa tulisannya tak punya tanggung jawab untuk berkutat dengan perkara identitas itu. In Other Words adalah buku pertama yang saya tulis sebagai seseorang yang dewasa, tapi sekaligus dari sisi linguistik, sebagai seorang anak kecil, tulisnya dalam salah satu esainya, Afterword.

In Other Words (2015) adalah kumpulan esai pertama Jhumpa Lahiri, yang aslinya ditulis dalam bahasa Italia, berisi lika-liku seputar kehidupan barunya dan juga suara barunya, yang ditemukannya lewat bahasa. Tiga tahun kemudian, sebuah novel berhasil ditulisnya, judulnya Dome mi trovo, juga dalam bahasa Italia. Itu titik kedatangan sekaligus perpisahan. Beranjak dari sebuah kukurangan, ketiadaan. Saya rasa itu buku yang ragu-ragu, sekaligus juga berani. Tulisnya lagi. Masih tentang buku pertamanya.

Sama seperti Jhumpa Lahiri, yang mengibaratkan perjalanannya dengan bahasa baru seperti sebuah upaya berenang dari satu tepian danau ke tepian lain, Gli Azzuri juga barangkali mesti menunjukkan daya tahannya mengarungi turnamen ini. Sampai di tepian manakah mereka nanti? [T]

___

BACA ARTIKEL EURO 2020 YANG LAIN DARI PENULIS KOMANG ADNYANA

Tags: EURO 2020Gli AzzurriItaliaJhumpa LahiriRoberto Mancinisepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar “Haunted Psycho Notes” dari Kanekuro | Dari Kesehatan Mental ke Kesehatan yang Lain

Next Post

Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas

Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel "Gas" Nanoq da Kansas

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co