14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan, Ayo Ngelawang Barong Lagi di Ubud

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
November 9, 2021
in Esai
Galungan,  Ayo Ngelawang Barong Lagi di Ubud

Ngelawang barong di Ubud

Galungan adalah sebuah perayaan agama Hindu di Bali yang jatuh pada Rahina Buda Kliwon Wuku Dunggulan datang setiap 210 hari sekali. Galungan yang dimaknai sebagai perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma jika merujuk pada mitologi Mayadenawa yang dibinasakan oleh Dewa Indra.

Walaupun dalam “kaca mata” lain, Galungan sarat dengan elemen-elemen agraris yang tertuang dalam sara upakara seperti hasil bumi berupa flora (pala bungkah pala gantung) dan fauna (wewalungan). Sebagai contoh hiasan penjor terbuat dari hasil panen sawah dan ladang berupa padi, enau, janur, kelapa dan bambu.

Kemudian, dalam bentuk sarana upakara lain daging babi diolah menjadi sate khas Galungan seperti japit dan kuwung. Lawar sebagai bagian dari upakara dan makanan khas Galungan juga berbahan dasar dari babi, ayam dan bebek. Jika dilihat dari sarana upakara Galungan yang berbahan dari bentuk pertanian dan peternakan, rasanya tidak berlebihan jika Galungan juga sebagai perayaan masa panen atau agraris.

Hari Raya Galungan di Bali khususnya di Ubud selalu dirayakan dengan penuh kekhusyukan dan meriah sejalan dengan konsep perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma dan juga sebagai perayaan syukur terhadap berkah pada hasil panen.

Ubud sebagai daerah kantong budaya di Bali tidak hanya merayakan Galungan dari sisi religius semata, namun juga menghasilkan bentuk-bentuk kesenian. Hal ini sejalan dengan prinsip Agama Hindu di Bali yang memadukan unsur religius dengan seni.

Ngelawang Barong adalah salah satu kesenian yang menjadi ikon dari Hari Raya Galungan. Ngelawang Barong adalah sebuah pertunjukan seni yang disajikan secara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah (lawang) yang lain dengan menarikan barong dengan disertai dengan tabuhan gamelan. Pentas dari rumah kerumah atau lawang ke lawang yang lain kemudian disebut dengan “Ngelawang”.

Ngelawang Barong pada Hari Raya Galungan di Ubud menjadi sebuah tradisi. Sebagian besar pelaku dari Ngelawang Barong ini adalah dari kalangan anak-anak yang lebih dikenal dengan Sekehe Barong. Ubud sendiri memiliki puluhan Sekehe Barong yang terbentuk dari banjar-banjar ataupun sangar-sangar seni. Ngelawang Barong dalam sudut pandang religi diyakini sebagai sebuah media penolak bala juga dalam kaca mata seni menjadi sebuah pendidikan seni itu sendiri.

Ngelawang Barong juga sebagai pendidikan seni khususnya seni karawitan dan tari, anak-anak yang tergabung dalam sekehe barong mendapat pengenalan dasar mengenai seni tabuh (megamel), seni tari (ngigelin barong) dan manajemen seni (pengelolaan sekehe).

Sering kali dalam ngelawang barong, anak-anak belajar secara langsung mengenai tata cara memainkan gamelan secara menyeluruh, menarikan barong dengan bergantian dan secara tidak langsung semua sekehe memiliki peran untuk mengatur program sekehe seperti kemana akan pergi ngelawang?

Bagaimana mengelola hasil ngelawang dan bagaimana cara mengatur sekeha untuk memainkan gamelan dan menarikan barong secara bergantian. Sehingga melalui aktivitas ngelawang barong ini tidak saja untuk menyemarakkan perayaan Hari Raya Galungan namun juga sebagai media pendidikan dan pengenalan seni tabuh (gamelan), tari bahkan manajemen seni.

Hal ini menjadi sebuah tindakan pelestarian seni dan budaya dengan mengkaitkan kepada kegiatan-kegiatan spiritual keagamaan Hindu di Bali.

Ngelawang Barong di Ubud berlangsung dari Galungan hingga menjelang hari Pegatwakan yang merupakan akhir dari rangkaian Hari Raya Galungan. Jenis barong yang ditarikan oleh sekehe barong di Ubud sangat beragam yaitu dari Barong Bangkal (babi), Barong Macan (harimau), Barong Ket/Ketet dan Barong Landung.

Gamelan yang digunakan mulai dari Gamelan Bebatelan, Gong Suling hingga Baleganjur. Penyajiannya dapat disaksikan diseluruh pelosok Ubud dari jalan raya sampai ke pelosok-pelosok gang kecil. Kadang kala dalam satu ruas jalan dapat ditemukan dua sampai tiga sekehe barong dalam waktu yang sama. Hal ini menambah semarak Hari Raya Galungan di Ubud dan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang kebetulan sedang berlibur di Ubud.

Namun semenjak virus Covid-19 merebak dan juga melanda Ubud khususnya aktivitas ngelawang Barong sempat terhenti. Hal ini dikarenakan oleh peraturan protokol kesehatan untuk membatasi mobilitas manusia untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Hal inilah yang menyebabkan ngelawang barong berhenti bergeliat dalam menyemarakkan Galungan, juga terhenti sebagai wadah pencetak potensi-potensi seni tabuh dan tari.

Sudah dua kali perayaan Galungan dilalui tanpa adanya ngelawang barong, terdapat kekhawatiran akan hilangnya tradisi ini akibat deraan pandemi yang tidak kunjung menampakkan waktu selesainya.

Mudah-mudahan Galungan kali ini ngelawang barong sedikit demi sedikit mulai dilakukan lagi seiring dengan penurunan level PPKM yang diberlakukan oleh pemerintah. Hal ini perlu dibangkitkan dengan menyiasati kondisi pandemi ini, agar Ngelawang Barong di Ubud yang sarat akan makna, gagasan dan dampak terhadap kehidupan agama dan seni dapat terus dilestarikan. [T]

Tags: baliBaronghari raya galunganngelawang barongtradisi ngelawangUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

Next Post

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co