23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan, Ayo Ngelawang Barong Lagi di Ubud

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
November 9, 2021
in Esai
Galungan,  Ayo Ngelawang Barong Lagi di Ubud

Ngelawang barong di Ubud

Galungan adalah sebuah perayaan agama Hindu di Bali yang jatuh pada Rahina Buda Kliwon Wuku Dunggulan datang setiap 210 hari sekali. Galungan yang dimaknai sebagai perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma jika merujuk pada mitologi Mayadenawa yang dibinasakan oleh Dewa Indra.

Walaupun dalam “kaca mata” lain, Galungan sarat dengan elemen-elemen agraris yang tertuang dalam sara upakara seperti hasil bumi berupa flora (pala bungkah pala gantung) dan fauna (wewalungan). Sebagai contoh hiasan penjor terbuat dari hasil panen sawah dan ladang berupa padi, enau, janur, kelapa dan bambu.

Kemudian, dalam bentuk sarana upakara lain daging babi diolah menjadi sate khas Galungan seperti japit dan kuwung. Lawar sebagai bagian dari upakara dan makanan khas Galungan juga berbahan dasar dari babi, ayam dan bebek. Jika dilihat dari sarana upakara Galungan yang berbahan dari bentuk pertanian dan peternakan, rasanya tidak berlebihan jika Galungan juga sebagai perayaan masa panen atau agraris.

Hari Raya Galungan di Bali khususnya di Ubud selalu dirayakan dengan penuh kekhusyukan dan meriah sejalan dengan konsep perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma dan juga sebagai perayaan syukur terhadap berkah pada hasil panen.

Ubud sebagai daerah kantong budaya di Bali tidak hanya merayakan Galungan dari sisi religius semata, namun juga menghasilkan bentuk-bentuk kesenian. Hal ini sejalan dengan prinsip Agama Hindu di Bali yang memadukan unsur religius dengan seni.

Ngelawang Barong adalah salah satu kesenian yang menjadi ikon dari Hari Raya Galungan. Ngelawang Barong adalah sebuah pertunjukan seni yang disajikan secara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah (lawang) yang lain dengan menarikan barong dengan disertai dengan tabuhan gamelan. Pentas dari rumah kerumah atau lawang ke lawang yang lain kemudian disebut dengan “Ngelawang”.

Ngelawang Barong pada Hari Raya Galungan di Ubud menjadi sebuah tradisi. Sebagian besar pelaku dari Ngelawang Barong ini adalah dari kalangan anak-anak yang lebih dikenal dengan Sekehe Barong. Ubud sendiri memiliki puluhan Sekehe Barong yang terbentuk dari banjar-banjar ataupun sangar-sangar seni. Ngelawang Barong dalam sudut pandang religi diyakini sebagai sebuah media penolak bala juga dalam kaca mata seni menjadi sebuah pendidikan seni itu sendiri.

Ngelawang Barong juga sebagai pendidikan seni khususnya seni karawitan dan tari, anak-anak yang tergabung dalam sekehe barong mendapat pengenalan dasar mengenai seni tabuh (megamel), seni tari (ngigelin barong) dan manajemen seni (pengelolaan sekehe).

Sering kali dalam ngelawang barong, anak-anak belajar secara langsung mengenai tata cara memainkan gamelan secara menyeluruh, menarikan barong dengan bergantian dan secara tidak langsung semua sekehe memiliki peran untuk mengatur program sekehe seperti kemana akan pergi ngelawang?

Bagaimana mengelola hasil ngelawang dan bagaimana cara mengatur sekeha untuk memainkan gamelan dan menarikan barong secara bergantian. Sehingga melalui aktivitas ngelawang barong ini tidak saja untuk menyemarakkan perayaan Hari Raya Galungan namun juga sebagai media pendidikan dan pengenalan seni tabuh (gamelan), tari bahkan manajemen seni.

Hal ini menjadi sebuah tindakan pelestarian seni dan budaya dengan mengkaitkan kepada kegiatan-kegiatan spiritual keagamaan Hindu di Bali.

Ngelawang Barong di Ubud berlangsung dari Galungan hingga menjelang hari Pegatwakan yang merupakan akhir dari rangkaian Hari Raya Galungan. Jenis barong yang ditarikan oleh sekehe barong di Ubud sangat beragam yaitu dari Barong Bangkal (babi), Barong Macan (harimau), Barong Ket/Ketet dan Barong Landung.

Gamelan yang digunakan mulai dari Gamelan Bebatelan, Gong Suling hingga Baleganjur. Penyajiannya dapat disaksikan diseluruh pelosok Ubud dari jalan raya sampai ke pelosok-pelosok gang kecil. Kadang kala dalam satu ruas jalan dapat ditemukan dua sampai tiga sekehe barong dalam waktu yang sama. Hal ini menambah semarak Hari Raya Galungan di Ubud dan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang kebetulan sedang berlibur di Ubud.

Namun semenjak virus Covid-19 merebak dan juga melanda Ubud khususnya aktivitas ngelawang Barong sempat terhenti. Hal ini dikarenakan oleh peraturan protokol kesehatan untuk membatasi mobilitas manusia untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Hal inilah yang menyebabkan ngelawang barong berhenti bergeliat dalam menyemarakkan Galungan, juga terhenti sebagai wadah pencetak potensi-potensi seni tabuh dan tari.

Sudah dua kali perayaan Galungan dilalui tanpa adanya ngelawang barong, terdapat kekhawatiran akan hilangnya tradisi ini akibat deraan pandemi yang tidak kunjung menampakkan waktu selesainya.

Mudah-mudahan Galungan kali ini ngelawang barong sedikit demi sedikit mulai dilakukan lagi seiring dengan penurunan level PPKM yang diberlakukan oleh pemerintah. Hal ini perlu dibangkitkan dengan menyiasati kondisi pandemi ini, agar Ngelawang Barong di Ubud yang sarat akan makna, gagasan dan dampak terhadap kehidupan agama dan seni dapat terus dilestarikan. [T]

Tags: baliBaronghari raya galunganngelawang barongtradisi ngelawangUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

Next Post

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co