3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan, Ayo Ngelawang Barong Lagi di Ubud

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
November 9, 2021
in Esai
Galungan,  Ayo Ngelawang Barong Lagi di Ubud

Ngelawang barong di Ubud

Galungan adalah sebuah perayaan agama Hindu di Bali yang jatuh pada Rahina Buda Kliwon Wuku Dunggulan datang setiap 210 hari sekali. Galungan yang dimaknai sebagai perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma jika merujuk pada mitologi Mayadenawa yang dibinasakan oleh Dewa Indra.

Walaupun dalam “kaca mata” lain, Galungan sarat dengan elemen-elemen agraris yang tertuang dalam sara upakara seperti hasil bumi berupa flora (pala bungkah pala gantung) dan fauna (wewalungan). Sebagai contoh hiasan penjor terbuat dari hasil panen sawah dan ladang berupa padi, enau, janur, kelapa dan bambu.

Kemudian, dalam bentuk sarana upakara lain daging babi diolah menjadi sate khas Galungan seperti japit dan kuwung. Lawar sebagai bagian dari upakara dan makanan khas Galungan juga berbahan dasar dari babi, ayam dan bebek. Jika dilihat dari sarana upakara Galungan yang berbahan dari bentuk pertanian dan peternakan, rasanya tidak berlebihan jika Galungan juga sebagai perayaan masa panen atau agraris.

Hari Raya Galungan di Bali khususnya di Ubud selalu dirayakan dengan penuh kekhusyukan dan meriah sejalan dengan konsep perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma dan juga sebagai perayaan syukur terhadap berkah pada hasil panen.

Ubud sebagai daerah kantong budaya di Bali tidak hanya merayakan Galungan dari sisi religius semata, namun juga menghasilkan bentuk-bentuk kesenian. Hal ini sejalan dengan prinsip Agama Hindu di Bali yang memadukan unsur religius dengan seni.

Ngelawang Barong adalah salah satu kesenian yang menjadi ikon dari Hari Raya Galungan. Ngelawang Barong adalah sebuah pertunjukan seni yang disajikan secara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah (lawang) yang lain dengan menarikan barong dengan disertai dengan tabuhan gamelan. Pentas dari rumah kerumah atau lawang ke lawang yang lain kemudian disebut dengan “Ngelawang”.

Ngelawang Barong pada Hari Raya Galungan di Ubud menjadi sebuah tradisi. Sebagian besar pelaku dari Ngelawang Barong ini adalah dari kalangan anak-anak yang lebih dikenal dengan Sekehe Barong. Ubud sendiri memiliki puluhan Sekehe Barong yang terbentuk dari banjar-banjar ataupun sangar-sangar seni. Ngelawang Barong dalam sudut pandang religi diyakini sebagai sebuah media penolak bala juga dalam kaca mata seni menjadi sebuah pendidikan seni itu sendiri.

Ngelawang Barong juga sebagai pendidikan seni khususnya seni karawitan dan tari, anak-anak yang tergabung dalam sekehe barong mendapat pengenalan dasar mengenai seni tabuh (megamel), seni tari (ngigelin barong) dan manajemen seni (pengelolaan sekehe).

Sering kali dalam ngelawang barong, anak-anak belajar secara langsung mengenai tata cara memainkan gamelan secara menyeluruh, menarikan barong dengan bergantian dan secara tidak langsung semua sekehe memiliki peran untuk mengatur program sekehe seperti kemana akan pergi ngelawang?

Bagaimana mengelola hasil ngelawang dan bagaimana cara mengatur sekeha untuk memainkan gamelan dan menarikan barong secara bergantian. Sehingga melalui aktivitas ngelawang barong ini tidak saja untuk menyemarakkan perayaan Hari Raya Galungan namun juga sebagai media pendidikan dan pengenalan seni tabuh (gamelan), tari bahkan manajemen seni.

Hal ini menjadi sebuah tindakan pelestarian seni dan budaya dengan mengkaitkan kepada kegiatan-kegiatan spiritual keagamaan Hindu di Bali.

Ngelawang Barong di Ubud berlangsung dari Galungan hingga menjelang hari Pegatwakan yang merupakan akhir dari rangkaian Hari Raya Galungan. Jenis barong yang ditarikan oleh sekehe barong di Ubud sangat beragam yaitu dari Barong Bangkal (babi), Barong Macan (harimau), Barong Ket/Ketet dan Barong Landung.

Gamelan yang digunakan mulai dari Gamelan Bebatelan, Gong Suling hingga Baleganjur. Penyajiannya dapat disaksikan diseluruh pelosok Ubud dari jalan raya sampai ke pelosok-pelosok gang kecil. Kadang kala dalam satu ruas jalan dapat ditemukan dua sampai tiga sekehe barong dalam waktu yang sama. Hal ini menambah semarak Hari Raya Galungan di Ubud dan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang kebetulan sedang berlibur di Ubud.

Namun semenjak virus Covid-19 merebak dan juga melanda Ubud khususnya aktivitas ngelawang Barong sempat terhenti. Hal ini dikarenakan oleh peraturan protokol kesehatan untuk membatasi mobilitas manusia untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Hal inilah yang menyebabkan ngelawang barong berhenti bergeliat dalam menyemarakkan Galungan, juga terhenti sebagai wadah pencetak potensi-potensi seni tabuh dan tari.

Sudah dua kali perayaan Galungan dilalui tanpa adanya ngelawang barong, terdapat kekhawatiran akan hilangnya tradisi ini akibat deraan pandemi yang tidak kunjung menampakkan waktu selesainya.

Mudah-mudahan Galungan kali ini ngelawang barong sedikit demi sedikit mulai dilakukan lagi seiring dengan penurunan level PPKM yang diberlakukan oleh pemerintah. Hal ini perlu dibangkitkan dengan menyiasati kondisi pandemi ini, agar Ngelawang Barong di Ubud yang sarat akan makna, gagasan dan dampak terhadap kehidupan agama dan seni dapat terus dilestarikan. [T]

Tags: baliBaronghari raya galunganngelawang barongtradisi ngelawangUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

Next Post

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co