2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
November 9, 2021
in Esai
Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Danarto

Memilih membaca karya-karya Danarto adalah jalan untuk mengenal lebih dekat dengan penulisnya. Danarto adalah seorang yang mampu menyuguhkan cerita dengan berbagai tema, situasi, waktu, kejadian, hingga berbagai tokoh. Dalam buku yang berjudul “Proses Kreatif-Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 1”, Danarto menyebutkan bahwa menulis selalu ada kaitannya dengan ruang dan waktu.

Cerpen-cerpennya seolah menggiring pembaca untuk ikut lebur di dalamnya. Membacanya adalah upaya untuk menyelami pengalaman hidup yang telah dilalui oleh Danarto. Cerita yang dibangun olehnya pun sangat dekat dengan pembaca, itu karena memang sebagian besar karya-karyanya berangkat dari apa yang ia alami.

Lingkat Studi Sastra Denpasar memilih Danarto sebagai bahan diskusi Semenjana (Seri Membincang Jalan Ninja) edisi bulan Oktober 2021. Diskusi ini mencoba membicarakan cerpen-cerpennya, sekaligus mendedah proses kreatifnya yang dilakukan dengan membaca beberapa karyanya maupun sumber lain yang dirasa mewakili. Adapun cerpen-cerpen yang didiskusikan, yaitu: Bengawan Solo, Macan Lapar, dan Telaga Angsa.

Interpretasi Budaya dalam Karya Danarto

Dalam tulisannya yang dikutip di buku “Proses Kreatif-Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 1”, Danarto mengatakan bahwa dirinya adalah penulis yang tidak pernah terikat oleh tempat. Ia hanya menulis segala sesuatu yang ada kaitannya dengan jelmaan ruang-waktu tersebut.

Berangkat dari hal tersebut, ia merasa memiliki ikatan yang kuat dengan kata, kalimat, hingga irama dan tempo membaca pun dipikirkan. Keluwesannya itu membawanya kepada banyak kejadian yang bisa dituangkan lewat cerpennya. Budaya menjadi topik utama yang kerap kali ditonjolkan Danarto dalam cerpen-cerpennya.

Tiga cerpen yang didiskusikan pun mengeksplorasi budaya. Membicarakan budaya adalah membicarakan kebiasaan. Budaya kerap kali disuguhkan dengan cara yang serius. Tapi, Danarto mampu menyuguhkannya dengan cara yang ringan, namun tetap sarat akan pesan moral di dalamnya. Seperti pada kutipan-kutipan berikut :

“Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai-tak seorang pun tahu nama aslinya-yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Itulah jalan spiritualnya.” -Bengawan Solo

“Eko menyarankan supaya John menikah dengan gadis Solo saja. Di samping gemi, nastiti, ngati-ati (irit, terperinci, berhati-hati), putri Solo gaya berjalannya persis macan lapar yang bisa membekukan waktu.” – Macan Lapar

“Saya setuju, Eyang. Cobalah nikmati tari bedoyo. Dalam dandanan kebaya pinjungan, menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Para pujangga menyebutnya “Glatik Nginguk” artinya “Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran “maksir”, tergetar. Mendorong keanggunan Sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Dalam balet, seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang, sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja, cukup sulit, itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Suatu dakwah keindahan tiada tara.” – Telaga Angsa

Tiga kutipan dari tiga cerpen di atas menjadi penguat bahwa dalam karyanya, Danarto memang memiliki ketertarikan yang mendalam soal budaya. Seperti yang ia katakan bahwa saat dirinya memasuki suatu ruang, berdinding atau tidak, terjadilah perubahan di dalam dirinya. Suatu transformasi dan metamorfosa yang berkaitan dengan ruang tersebut—dan ruang tersebut tidak bisa dilepaskan dari yang namanya budaya. Tiga cerpennya pun seolah menegaskan bahwa Danarto mampu membawa konflik cerita dengan berbagai metode.

Cerpen Telaga Angsa, misalnya. Dimulai dengan menghadirkan suasana santai di mana banyak tokoh yang dihadirkan penulis menikmati suasana minum wine setelah pertunjukan. Cerita sedikit tidaknya berubah dengan percakapan satu keluarga dengan dua sudut pandang yang berbeda.

Dalam cerpen ini, Danarto mencoba menyuguhkan perdebatan yang sering kali terjadi di tengah masyarakat, bahkan di tengah keluarga sekali pun. Cara ini tampak berhasil mengundang kegeraman dan senyum pembaca dalam waktu bersamaan—hal tersebut tentu berhasil dihadirkan oleh Danarto melalui tokoh Kakek Zahra yang memiliki pemikiran yang cukup konservatif.

Ihwal Perempuan dalam Karya Danarto

Dalam sastra Indonesia, menjadikan perempuan sebagai topik atau bahkan pelengkap karya bukanlah hal baru, termasuk di dalam karya-karya yang dilahirkan oleh Danarto. Perempuan kerap kali menjadi objek dalam tiap karya sastra. Citra perempuan yang ditampilkan dalam karya sastra pun cenderung mengobjektifikasi perempuan, mulai dari fisik, kebiasaan, hingga menempatkan perempuan hanya pada peran-peran domestik saja. Hal itu juga terlihat dalam cerpen Telaga Angsa, seperti pada kutipan berikut :

“Meski Cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes, kewes, dan sensuous.”

“Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang Macan Lapar. Ketika pinggul kanan mencuat ke samping, pundak kanan tertarik ke belakang, sedang pundak kiri mencuat ke depan. Begitu bergantian. Sungguh cara berjalan yang menggetarkan.”

Pembaca diajak menyoroti perempuan lebih kepada fisik dan kebiasaannya, dalam hal ini cara berjalan seorang perempuan Solo. Penggambaran Danarto terhadap perempuan yang dikejar hanya karena kebiasaan yang seolah-olah hanya dimiliki perempuan tersebut melanggengkan steorotipe perempuan dalam kehidupan sastra di Indonesia. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Y.B. Mangunwijaya, “Perempuan adalah bumi, yang menumbuhkan padi dan singkong, tetapi juga yang akhirnya memeluk jenazah-jenazah manusia yang pernah dikandungnya dan disusuinya.”.

Ruang-Waktu Jelmaan Danarto

Dimensi cerita yang tidak jauh dari keseharian menjadi senjata di setiap tulisan Danarto. Pembaca dapat dengan mudah memahami jalan cerita yang disuguhkan dalam cerpen-cerpennya, lengkap dengan pesan moralnya. Kebiasaannya membuat sketsa—sebuah gambar corat-coret yang menjadi tempat di mana para tokoh yang diciptakannya akan bermunculan dan memainkan perannya.

Menurut Sapardi, Danarto adalah penulis yang tidak peduli pada karakteristik, plot, dan latar. Ceritanya mengalir begitu saja. Ia juga menyebutkan bahwa cerpen-cerpen Danarto seakan-akan lahir dalam suatu keadaan ‘trance’—bukan karena suatu proses kesadaran penuh, di mana penulis menguasai benar dirinya dan tahu ke mana dia akan pergi. Sehingga sangat wajar ketika cerpen-cerpennya memberi banyak hal baru dibanding cerpen-cerpen yang sudah ada sebelumnya.

Dialog-dialog yang dihadirkan oleh Danarto dalam cerpen-cerpennya pun selalu menyiratkan pesan-pesan moral. Hal ini tentu meringankan kerja narator dalam satu cerita. Penggunaan diksi keseharian, cenderung menyesuaikan dengan latar tempat pun memberikan petunjuk pada pembaca, pada kondisi dan situasi seperti apa sang penulis melahirkan karyanya.

Melalui karya-karyanya, Danarto seolah memberi tamparan kepada penulis-penulis muda yang belakangan cenderung mencari inspirasi yang berada jauh dari sekitarnya—karena sejatinya, karya-karya dapat dilahirkan dari peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar kita dengan menambahkan sedikit bumbu lewat daya imajinasi kita.

Lewat karyanya pula, Danarto memberikan pesan tersirat bahwa untuk berkarya tidak perlu mengkhawatirkan bagus tidaknya sebuah karya, karena sejelek apapun karya yang dihasilkan, paling tidak rayap pun masih bersedia untuk membacanya.  [T]

  • Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra

BACA JUGA:

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana
Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Tags: CerpenDanartosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Next Post

Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co