12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
November 9, 2021
in Esai
Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Danarto

Memilih membaca karya-karya Danarto adalah jalan untuk mengenal lebih dekat dengan penulisnya. Danarto adalah seorang yang mampu menyuguhkan cerita dengan berbagai tema, situasi, waktu, kejadian, hingga berbagai tokoh. Dalam buku yang berjudul “Proses Kreatif-Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 1”, Danarto menyebutkan bahwa menulis selalu ada kaitannya dengan ruang dan waktu.

Cerpen-cerpennya seolah menggiring pembaca untuk ikut lebur di dalamnya. Membacanya adalah upaya untuk menyelami pengalaman hidup yang telah dilalui oleh Danarto. Cerita yang dibangun olehnya pun sangat dekat dengan pembaca, itu karena memang sebagian besar karya-karyanya berangkat dari apa yang ia alami.

Lingkat Studi Sastra Denpasar memilih Danarto sebagai bahan diskusi Semenjana (Seri Membincang Jalan Ninja) edisi bulan Oktober 2021. Diskusi ini mencoba membicarakan cerpen-cerpennya, sekaligus mendedah proses kreatifnya yang dilakukan dengan membaca beberapa karyanya maupun sumber lain yang dirasa mewakili. Adapun cerpen-cerpen yang didiskusikan, yaitu: Bengawan Solo, Macan Lapar, dan Telaga Angsa.

Interpretasi Budaya dalam Karya Danarto

Dalam tulisannya yang dikutip di buku “Proses Kreatif-Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 1”, Danarto mengatakan bahwa dirinya adalah penulis yang tidak pernah terikat oleh tempat. Ia hanya menulis segala sesuatu yang ada kaitannya dengan jelmaan ruang-waktu tersebut.

Berangkat dari hal tersebut, ia merasa memiliki ikatan yang kuat dengan kata, kalimat, hingga irama dan tempo membaca pun dipikirkan. Keluwesannya itu membawanya kepada banyak kejadian yang bisa dituangkan lewat cerpennya. Budaya menjadi topik utama yang kerap kali ditonjolkan Danarto dalam cerpen-cerpennya.

Tiga cerpen yang didiskusikan pun mengeksplorasi budaya. Membicarakan budaya adalah membicarakan kebiasaan. Budaya kerap kali disuguhkan dengan cara yang serius. Tapi, Danarto mampu menyuguhkannya dengan cara yang ringan, namun tetap sarat akan pesan moral di dalamnya. Seperti pada kutipan-kutipan berikut :

“Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai-tak seorang pun tahu nama aslinya-yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Itulah jalan spiritualnya.” -Bengawan Solo

“Eko menyarankan supaya John menikah dengan gadis Solo saja. Di samping gemi, nastiti, ngati-ati (irit, terperinci, berhati-hati), putri Solo gaya berjalannya persis macan lapar yang bisa membekukan waktu.” – Macan Lapar

“Saya setuju, Eyang. Cobalah nikmati tari bedoyo. Dalam dandanan kebaya pinjungan, menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Para pujangga menyebutnya “Glatik Nginguk” artinya “Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran “maksir”, tergetar. Mendorong keanggunan Sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Dalam balet, seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang, sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja, cukup sulit, itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Suatu dakwah keindahan tiada tara.” – Telaga Angsa

Tiga kutipan dari tiga cerpen di atas menjadi penguat bahwa dalam karyanya, Danarto memang memiliki ketertarikan yang mendalam soal budaya. Seperti yang ia katakan bahwa saat dirinya memasuki suatu ruang, berdinding atau tidak, terjadilah perubahan di dalam dirinya. Suatu transformasi dan metamorfosa yang berkaitan dengan ruang tersebut—dan ruang tersebut tidak bisa dilepaskan dari yang namanya budaya. Tiga cerpennya pun seolah menegaskan bahwa Danarto mampu membawa konflik cerita dengan berbagai metode.

Cerpen Telaga Angsa, misalnya. Dimulai dengan menghadirkan suasana santai di mana banyak tokoh yang dihadirkan penulis menikmati suasana minum wine setelah pertunjukan. Cerita sedikit tidaknya berubah dengan percakapan satu keluarga dengan dua sudut pandang yang berbeda.

Dalam cerpen ini, Danarto mencoba menyuguhkan perdebatan yang sering kali terjadi di tengah masyarakat, bahkan di tengah keluarga sekali pun. Cara ini tampak berhasil mengundang kegeraman dan senyum pembaca dalam waktu bersamaan—hal tersebut tentu berhasil dihadirkan oleh Danarto melalui tokoh Kakek Zahra yang memiliki pemikiran yang cukup konservatif.

Ihwal Perempuan dalam Karya Danarto

Dalam sastra Indonesia, menjadikan perempuan sebagai topik atau bahkan pelengkap karya bukanlah hal baru, termasuk di dalam karya-karya yang dilahirkan oleh Danarto. Perempuan kerap kali menjadi objek dalam tiap karya sastra. Citra perempuan yang ditampilkan dalam karya sastra pun cenderung mengobjektifikasi perempuan, mulai dari fisik, kebiasaan, hingga menempatkan perempuan hanya pada peran-peran domestik saja. Hal itu juga terlihat dalam cerpen Telaga Angsa, seperti pada kutipan berikut :

“Meski Cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes, kewes, dan sensuous.”

“Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang Macan Lapar. Ketika pinggul kanan mencuat ke samping, pundak kanan tertarik ke belakang, sedang pundak kiri mencuat ke depan. Begitu bergantian. Sungguh cara berjalan yang menggetarkan.”

Pembaca diajak menyoroti perempuan lebih kepada fisik dan kebiasaannya, dalam hal ini cara berjalan seorang perempuan Solo. Penggambaran Danarto terhadap perempuan yang dikejar hanya karena kebiasaan yang seolah-olah hanya dimiliki perempuan tersebut melanggengkan steorotipe perempuan dalam kehidupan sastra di Indonesia. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Y.B. Mangunwijaya, “Perempuan adalah bumi, yang menumbuhkan padi dan singkong, tetapi juga yang akhirnya memeluk jenazah-jenazah manusia yang pernah dikandungnya dan disusuinya.”.

Ruang-Waktu Jelmaan Danarto

Dimensi cerita yang tidak jauh dari keseharian menjadi senjata di setiap tulisan Danarto. Pembaca dapat dengan mudah memahami jalan cerita yang disuguhkan dalam cerpen-cerpennya, lengkap dengan pesan moralnya. Kebiasaannya membuat sketsa—sebuah gambar corat-coret yang menjadi tempat di mana para tokoh yang diciptakannya akan bermunculan dan memainkan perannya.

Menurut Sapardi, Danarto adalah penulis yang tidak peduli pada karakteristik, plot, dan latar. Ceritanya mengalir begitu saja. Ia juga menyebutkan bahwa cerpen-cerpen Danarto seakan-akan lahir dalam suatu keadaan ‘trance’—bukan karena suatu proses kesadaran penuh, di mana penulis menguasai benar dirinya dan tahu ke mana dia akan pergi. Sehingga sangat wajar ketika cerpen-cerpennya memberi banyak hal baru dibanding cerpen-cerpen yang sudah ada sebelumnya.

Dialog-dialog yang dihadirkan oleh Danarto dalam cerpen-cerpennya pun selalu menyiratkan pesan-pesan moral. Hal ini tentu meringankan kerja narator dalam satu cerita. Penggunaan diksi keseharian, cenderung menyesuaikan dengan latar tempat pun memberikan petunjuk pada pembaca, pada kondisi dan situasi seperti apa sang penulis melahirkan karyanya.

Melalui karya-karyanya, Danarto seolah memberi tamparan kepada penulis-penulis muda yang belakangan cenderung mencari inspirasi yang berada jauh dari sekitarnya—karena sejatinya, karya-karya dapat dilahirkan dari peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar kita dengan menambahkan sedikit bumbu lewat daya imajinasi kita.

Lewat karyanya pula, Danarto memberikan pesan tersirat bahwa untuk berkarya tidak perlu mengkhawatirkan bagus tidaknya sebuah karya, karena sejelek apapun karya yang dihasilkan, paling tidak rayap pun masih bersedia untuk membacanya.  [T]

  • Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra

BACA JUGA:

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana
Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Tags: CerpenDanartosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Next Post

Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co