24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
November 9, 2021
in Esai
Membaca Danarto dengan Segala Imajinasinya | Catatan Diskusi Semenjana

Danarto

Memilih membaca karya-karya Danarto adalah jalan untuk mengenal lebih dekat dengan penulisnya. Danarto adalah seorang yang mampu menyuguhkan cerita dengan berbagai tema, situasi, waktu, kejadian, hingga berbagai tokoh. Dalam buku yang berjudul “Proses Kreatif-Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 1”, Danarto menyebutkan bahwa menulis selalu ada kaitannya dengan ruang dan waktu.

Cerpen-cerpennya seolah menggiring pembaca untuk ikut lebur di dalamnya. Membacanya adalah upaya untuk menyelami pengalaman hidup yang telah dilalui oleh Danarto. Cerita yang dibangun olehnya pun sangat dekat dengan pembaca, itu karena memang sebagian besar karya-karyanya berangkat dari apa yang ia alami.

Lingkat Studi Sastra Denpasar memilih Danarto sebagai bahan diskusi Semenjana (Seri Membincang Jalan Ninja) edisi bulan Oktober 2021. Diskusi ini mencoba membicarakan cerpen-cerpennya, sekaligus mendedah proses kreatifnya yang dilakukan dengan membaca beberapa karyanya maupun sumber lain yang dirasa mewakili. Adapun cerpen-cerpen yang didiskusikan, yaitu: Bengawan Solo, Macan Lapar, dan Telaga Angsa.

Interpretasi Budaya dalam Karya Danarto

Dalam tulisannya yang dikutip di buku “Proses Kreatif-Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 1”, Danarto mengatakan bahwa dirinya adalah penulis yang tidak pernah terikat oleh tempat. Ia hanya menulis segala sesuatu yang ada kaitannya dengan jelmaan ruang-waktu tersebut.

Berangkat dari hal tersebut, ia merasa memiliki ikatan yang kuat dengan kata, kalimat, hingga irama dan tempo membaca pun dipikirkan. Keluwesannya itu membawanya kepada banyak kejadian yang bisa dituangkan lewat cerpennya. Budaya menjadi topik utama yang kerap kali ditonjolkan Danarto dalam cerpen-cerpennya.

Tiga cerpen yang didiskusikan pun mengeksplorasi budaya. Membicarakan budaya adalah membicarakan kebiasaan. Budaya kerap kali disuguhkan dengan cara yang serius. Tapi, Danarto mampu menyuguhkannya dengan cara yang ringan, namun tetap sarat akan pesan moral di dalamnya. Seperti pada kutipan-kutipan berikut :

“Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai-tak seorang pun tahu nama aslinya-yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Itulah jalan spiritualnya.” -Bengawan Solo

“Eko menyarankan supaya John menikah dengan gadis Solo saja. Di samping gemi, nastiti, ngati-ati (irit, terperinci, berhati-hati), putri Solo gaya berjalannya persis macan lapar yang bisa membekukan waktu.” – Macan Lapar

“Saya setuju, Eyang. Cobalah nikmati tari bedoyo. Dalam dandanan kebaya pinjungan, menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Para pujangga menyebutnya “Glatik Nginguk” artinya “Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran “maksir”, tergetar. Mendorong keanggunan Sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Dalam balet, seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang, sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja, cukup sulit, itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Suatu dakwah keindahan tiada tara.” – Telaga Angsa

Tiga kutipan dari tiga cerpen di atas menjadi penguat bahwa dalam karyanya, Danarto memang memiliki ketertarikan yang mendalam soal budaya. Seperti yang ia katakan bahwa saat dirinya memasuki suatu ruang, berdinding atau tidak, terjadilah perubahan di dalam dirinya. Suatu transformasi dan metamorfosa yang berkaitan dengan ruang tersebut—dan ruang tersebut tidak bisa dilepaskan dari yang namanya budaya. Tiga cerpennya pun seolah menegaskan bahwa Danarto mampu membawa konflik cerita dengan berbagai metode.

Cerpen Telaga Angsa, misalnya. Dimulai dengan menghadirkan suasana santai di mana banyak tokoh yang dihadirkan penulis menikmati suasana minum wine setelah pertunjukan. Cerita sedikit tidaknya berubah dengan percakapan satu keluarga dengan dua sudut pandang yang berbeda.

Dalam cerpen ini, Danarto mencoba menyuguhkan perdebatan yang sering kali terjadi di tengah masyarakat, bahkan di tengah keluarga sekali pun. Cara ini tampak berhasil mengundang kegeraman dan senyum pembaca dalam waktu bersamaan—hal tersebut tentu berhasil dihadirkan oleh Danarto melalui tokoh Kakek Zahra yang memiliki pemikiran yang cukup konservatif.

Ihwal Perempuan dalam Karya Danarto

Dalam sastra Indonesia, menjadikan perempuan sebagai topik atau bahkan pelengkap karya bukanlah hal baru, termasuk di dalam karya-karya yang dilahirkan oleh Danarto. Perempuan kerap kali menjadi objek dalam tiap karya sastra. Citra perempuan yang ditampilkan dalam karya sastra pun cenderung mengobjektifikasi perempuan, mulai dari fisik, kebiasaan, hingga menempatkan perempuan hanya pada peran-peran domestik saja. Hal itu juga terlihat dalam cerpen Telaga Angsa, seperti pada kutipan berikut :

“Meski Cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes, kewes, dan sensuous.”

“Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang Macan Lapar. Ketika pinggul kanan mencuat ke samping, pundak kanan tertarik ke belakang, sedang pundak kiri mencuat ke depan. Begitu bergantian. Sungguh cara berjalan yang menggetarkan.”

Pembaca diajak menyoroti perempuan lebih kepada fisik dan kebiasaannya, dalam hal ini cara berjalan seorang perempuan Solo. Penggambaran Danarto terhadap perempuan yang dikejar hanya karena kebiasaan yang seolah-olah hanya dimiliki perempuan tersebut melanggengkan steorotipe perempuan dalam kehidupan sastra di Indonesia. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Y.B. Mangunwijaya, “Perempuan adalah bumi, yang menumbuhkan padi dan singkong, tetapi juga yang akhirnya memeluk jenazah-jenazah manusia yang pernah dikandungnya dan disusuinya.”.

Ruang-Waktu Jelmaan Danarto

Dimensi cerita yang tidak jauh dari keseharian menjadi senjata di setiap tulisan Danarto. Pembaca dapat dengan mudah memahami jalan cerita yang disuguhkan dalam cerpen-cerpennya, lengkap dengan pesan moralnya. Kebiasaannya membuat sketsa—sebuah gambar corat-coret yang menjadi tempat di mana para tokoh yang diciptakannya akan bermunculan dan memainkan perannya.

Menurut Sapardi, Danarto adalah penulis yang tidak peduli pada karakteristik, plot, dan latar. Ceritanya mengalir begitu saja. Ia juga menyebutkan bahwa cerpen-cerpen Danarto seakan-akan lahir dalam suatu keadaan ‘trance’—bukan karena suatu proses kesadaran penuh, di mana penulis menguasai benar dirinya dan tahu ke mana dia akan pergi. Sehingga sangat wajar ketika cerpen-cerpennya memberi banyak hal baru dibanding cerpen-cerpen yang sudah ada sebelumnya.

Dialog-dialog yang dihadirkan oleh Danarto dalam cerpen-cerpennya pun selalu menyiratkan pesan-pesan moral. Hal ini tentu meringankan kerja narator dalam satu cerita. Penggunaan diksi keseharian, cenderung menyesuaikan dengan latar tempat pun memberikan petunjuk pada pembaca, pada kondisi dan situasi seperti apa sang penulis melahirkan karyanya.

Melalui karya-karyanya, Danarto seolah memberi tamparan kepada penulis-penulis muda yang belakangan cenderung mencari inspirasi yang berada jauh dari sekitarnya—karena sejatinya, karya-karya dapat dilahirkan dari peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar kita dengan menambahkan sedikit bumbu lewat daya imajinasi kita.

Lewat karyanya pula, Danarto memberikan pesan tersirat bahwa untuk berkarya tidak perlu mengkhawatirkan bagus tidaknya sebuah karya, karena sejelek apapun karya yang dihasilkan, paling tidak rayap pun masih bersedia untuk membacanya.  [T]

  • Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra

BACA JUGA:

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana
Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Tags: CerpenDanartosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar “Akting Buruk” dari Pentas “Hal-19: Bali” Kalanari Theatre Movement

Next Post

Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Poskesdes Desa Tembok Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co