2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
September 29, 2021
in Esai
Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Hamsad Rangkuti

Membaca Hamsad Rangkuti adalah membaca cerita dan gelagat warga yang sesekali banyol dan sekali yang lain penuh kejutan. Hamsad mungkin sekarang cekikikan tertawa dalam kuburnya, ketika mengetahui kita pun tertawa membaca cerpen-cerpennya.

Cerpen-cerpennya seakan lebur dalam lelucon yang mengagetkan. Membacanya adalah membaca upaya kejutan yang dia bangun dengan kesadaran;yang dia dapat dari membubuhkan ulang apa yang dia lihat, dengar dan baca dari surat kabar. Seolah kita berpijak pada kegamangan yang dibangun—kegamangan fakta maupun fiksi.

Lingkar Studi Sastra Denpasar memilih Hamsad Rangkuti sebagai bahan diskusi Semenjana (Seri Membincang Jalan Ninja). Agenda diskusi tersebut adalah membicarakan cerpen-cerpennya sekaligus menilik proses kreatifnya yang dilakukan dengan membaca karya-karyanya maupun sumber lain yang dirasa mewakili.

Adapun cerpen-cerpennya yang didiskusikan yaitu; Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?, Pispot, Gelombang yang Berlabuh, Nyekar, serta Si Lugu dan Si Malin Kundang.

Tinja dalam Semesta Hamsad Rangkuti

Hamsad Rangkuti kerap mengatakan bahwa dirinya memiliki imajinasi liar untuk menuliskan cerita atau yang kerap ia sebut sebagai kebohongan. Imajinasi-imajinasi itu membawanya ke banyak tempat dan banyak hal, termasuk pembicaraan mengenai tinja atau feses pada manusia. Tinja menjadi salah satu tema yang dieksplorasi oleh Hamsad untuk melihat berbagai sudut pandangnya.

Dari lima cerpen yang didiskusikan di pertemuan pertama, Pispot adalah satu cerpennya yang mengeksplorasi tema tinja. Meskipun begitu, Pispot bukanlah satu-satunya cerpen Hamsad yang membicarakan tinja. Dalam Pispot, tinja tak dilihat sebagai sesuatu yang menjijikan—seperti halnya kita membicarakan tinja atau kotoran manusia pada umumnya. Tinja dalam Pispot seolah-olah adalah jari-jari yang menggelitik kita, membuat kita untuk sesekali nyengir atau tergelak menertawainya. Seperti pada kutipan-kutipan berikut ini:

“Semua keterangan itu sudah cukup meyakinkan! Ambil obat pencahar! Pisang dan papaya. Suruh dia mencret seperti burung. Lalu tampung kotorannya!”

Si penjambret meminta pispot baru. Kemudian orang yang membawa alat pengeras suara masuk kembali ke dalam ruangan berkaca dan menyambut pispot yang diulurkan dari balik papan penyekat. Lalu terdengar suara dari dalam pengeras suara:      “Belum juga! Masih sisa-sisa tempe. Ada seperti benang. Kukira ini sumbu singkong rebus!”

Cerpen Gelombang yang Berlabuh, misalnya. Cerpen ini dimulai dengan lambat untuk menuju kisah tokoh. Tempo lambat tercipta dari deskripsi tentang tsunami yang begitu rinci. Dalam konteks ini, pembaca akan dibuat berada di antara: fiksi dan realita. Cara ini tampak memberi efek kenangan, seperti visual menonton film yang menyuguhkan suasana terlebih dahulu tapi dalam membaca cerita yang singkat, bukankah kita tidak punya banyak waktu yang luang untuk mengenang? Hamsad mencoba mengajak pembaca melakukannya. Pada cerpen ini Hamsad Rangkuti tampak lihai menghadirkan berbagai kejutan, baik di awal, tengah, dan akhir. Ia memberi patahan-patahan yang sulit untuk kita tebak. Ia meletakkan patahan di saat pembacanya sedang menikmati momen-momen  tertentu.

“Sudah ingin ke jamban?” katanya

“Dia baru menelannya. Belum. Sebentar lagi, Pak.”           

“Bagus! Kalau dia tidak suka papaya dalam negeri, kita bisa sediakan papaya Bangkok!” Dia tutup pintu kaca itu.

Petugas itu tampak memeriksa isi pispot dengan ranting. Terdengar dia melaporkan apa yang dia lihat di dalam pispot.

“Belum keluar! Baru biji-biji kedelai. Rupanya dia makan tempe!”

Dialog ini terdapat dalam cerpen Pispot, cerita diakhiri dengan cara yang menarik. Pembaca diajak pada pilihan yang tegang, antara kemurahan hati si Saksi untuk minta maaf karena menyesal dan menghentikan taksi agar pikirannya tidak berubah. Sebenarnya, situasi hati si Saksi sangat manusiawi. Sebagai manusia, tokoh itu sangat masuk akal, sebab manusia selalu memiliki pertentangan dalam diri.

Di satu sisi dia kita anggap baik, tapi di sisi lain dia tampak kehilangan empati. Selain itu, dialog satu kata yang diulang-ulang menjadi foreshadow dalam cerita ini. Namun, penanda ini belum bisa membuat pembaca memutuskan sesuatu. “Tidak,” kata si Pencuri, dan dengan kesaksian yang ragu, “tidak” itu pun bermakna ambigu: Saksi ragu, sementara si pelaku takut, takut yang dimiliki setiap orang yang menghadapi bahaya di depannya.

Ikhwal Lain di Kepala

Kemampuan Hamsad memilih diksi yang biasa-biasa saja–yang dekat dengan keseharian kita, membuat kita menikmati setiap ceritanya tanpa pernah dibuat pening memikirkan maksud dan tujuannya. Tak heran jika cerpen-cerpennya dinikmati bahkan hingga anak kelas lima SD[1].

Sapardi menyebut Hamsad seorang pengamat yang cermat. Menggunakan berbagai Teknik penulisan cerita dengan baik, terutama kejutan pada pengulangan dan penutup cerita, menimbulkan suasana mencekam sekaligus menggelikan. Dalam ketegangan, pembaca secara diam-diam dibuat merasakan bahwa peristiwa itu lucu, meski tetap menyiratkan amanat. Segala kenyataan, kebenaran, dan apa yang telah terjadi sungguh-sungguh tidak terduga, kecuali kejutan-kejutan menyegarkan yang tetap terjaga di dalam bingkai[2].

Sosok tokoh jalinan kisahan Hamsad Rangkuti jauh dari pretensi absurd atau surreal sehingga pembaca merasa dekat dengan setiap kejadian dalam karangannya. Mereka tidak terkesan diperalat sang empu cerita. Dengan kata lain, tokohnya dalam plot terlihat leluasa mengekspresikan sikapnya. Cerita dibuat dekat dan bernilai ironi maupun sarkasme. Hal ini mencirikan bacaan yang dihadirkan bersifat reflektif, meresepsi pembaca[3]. Hamsad mencoba mengajak pembacanya untuk melihat realitas sekitar, sedikit mencubit kesadaran pembaca bahwa permasalahan yang kompleks tidak hanya dihadirkan pada ranah-ranah elitis. Tetapi juga hadir di tengah-tengah kehidupan rakyat kecil yang tidak berdaya.

Hamsad kecil adalah seorang pelamun yang parah. Ia menyadari hal ini dan hal ini sempat dituliskannya pada artikel yang ia berikan pada Pamusuk Eneste. Hamsad kecil bisa menghabiskan berjam-jam untuk duduk di pohon dan melamun. Sesekali ia akan pergi menonton pementasan buruh-buruh Jawa untuk menonton ludruk, wayang orang serta wayang kulit. Sesekali ia pun ikut ayahnya yang bekerja sebagai penjaga toko malam. Ayahnya sering bercerita padanya dan ketika ayahnya sedang tidak bercerita, dia akan duduk sedikit menjauh dari ayahnya, berdiam di dalam gelap dan tentu saja—melamun.

Ketika ia beranjak lebih dewasa, sepulang sekolah ia tak langsung pulang. Ia kerap pergi ke kantor Wedana, membaca koran-koran yang terbit di Medan dan berdiri membacanya. Di sinilah ia bertemu dengan Mimbar Umum, sebuah koran yang setiap minggu memuat cerpen-cerpen terjemahan. Mimbar Umum tersebutlah yang menjembataninya sehingga bertemu dengan karya-karya Anton Chekov, Gorky, Hemingway, O. Henry dan lain sebagainya. Karya-karya dari penulis tersebut yang membuatnya tahu bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa mengganggu batinnya meskipun setelah selesai membacanya. Karya-karya penulis itu pun yang ternyata memberinya semangat untuk juga menuliskan cerita, cerita yang dapat mengganggu batin pembacanya.

Karena hidup dalam cerita masa kecil yang dekat dengan rakyat kecil, menjadikan dia tumbuh sebagai penulis yang mengangkat apa-apa yang dekat dengannya. Tema-tema tulisan Hamsad Rangkuti berkelindan antara rakyat kecil yang menderita dan tentang nasib yang tidak kuasa mereka lawan. Seolah-olah ia menjadi bagian dari rakyat kecil tersebut, ia tidak menuliskan kesengsaraan dengan cara bersedih-sedih, namun sebaliknya.

Hamsad menjungkirbalikan penderitaan dengan cara-cara yang tak jarang mengagetkan kita, dengan penyampaian yang tidak bombastis. Seolah ia memiliki segudang cara mengajak kita menertawai kejadian-kejadian yang dialami karakternya. [T]

  • Penulis: Juli Sastrawan

[1] Pamusuk, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang

[2]  Sapardi, “Hamsad Mendongeng”, dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel, op.cit., h. 16-17

[3]  Satmoko Budi Sasonto, “Cerita Pendek, Keberjamakan, Reruntuhkan Menara Gading, Kompas, Minggu, 8 Juni 2003, j. 018.

Tags: CerpenHamsad RangkutiLingkar Studi Sastra DenpasarsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

Next Post

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co