25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
September 29, 2021
in Esai
Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Hamsad Rangkuti

Membaca Hamsad Rangkuti adalah membaca cerita dan gelagat warga yang sesekali banyol dan sekali yang lain penuh kejutan. Hamsad mungkin sekarang cekikikan tertawa dalam kuburnya, ketika mengetahui kita pun tertawa membaca cerpen-cerpennya.

Cerpen-cerpennya seakan lebur dalam lelucon yang mengagetkan. Membacanya adalah membaca upaya kejutan yang dia bangun dengan kesadaran;yang dia dapat dari membubuhkan ulang apa yang dia lihat, dengar dan baca dari surat kabar. Seolah kita berpijak pada kegamangan yang dibangun—kegamangan fakta maupun fiksi.

Lingkar Studi Sastra Denpasar memilih Hamsad Rangkuti sebagai bahan diskusi Semenjana (Seri Membincang Jalan Ninja). Agenda diskusi tersebut adalah membicarakan cerpen-cerpennya sekaligus menilik proses kreatifnya yang dilakukan dengan membaca karya-karyanya maupun sumber lain yang dirasa mewakili.

Adapun cerpen-cerpennya yang didiskusikan yaitu; Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?, Pispot, Gelombang yang Berlabuh, Nyekar, serta Si Lugu dan Si Malin Kundang.

Tinja dalam Semesta Hamsad Rangkuti

Hamsad Rangkuti kerap mengatakan bahwa dirinya memiliki imajinasi liar untuk menuliskan cerita atau yang kerap ia sebut sebagai kebohongan. Imajinasi-imajinasi itu membawanya ke banyak tempat dan banyak hal, termasuk pembicaraan mengenai tinja atau feses pada manusia. Tinja menjadi salah satu tema yang dieksplorasi oleh Hamsad untuk melihat berbagai sudut pandangnya.

Dari lima cerpen yang didiskusikan di pertemuan pertama, Pispot adalah satu cerpennya yang mengeksplorasi tema tinja. Meskipun begitu, Pispot bukanlah satu-satunya cerpen Hamsad yang membicarakan tinja. Dalam Pispot, tinja tak dilihat sebagai sesuatu yang menjijikan—seperti halnya kita membicarakan tinja atau kotoran manusia pada umumnya. Tinja dalam Pispot seolah-olah adalah jari-jari yang menggelitik kita, membuat kita untuk sesekali nyengir atau tergelak menertawainya. Seperti pada kutipan-kutipan berikut ini:

“Semua keterangan itu sudah cukup meyakinkan! Ambil obat pencahar! Pisang dan papaya. Suruh dia mencret seperti burung. Lalu tampung kotorannya!”

Si penjambret meminta pispot baru. Kemudian orang yang membawa alat pengeras suara masuk kembali ke dalam ruangan berkaca dan menyambut pispot yang diulurkan dari balik papan penyekat. Lalu terdengar suara dari dalam pengeras suara:      “Belum juga! Masih sisa-sisa tempe. Ada seperti benang. Kukira ini sumbu singkong rebus!”

Cerpen Gelombang yang Berlabuh, misalnya. Cerpen ini dimulai dengan lambat untuk menuju kisah tokoh. Tempo lambat tercipta dari deskripsi tentang tsunami yang begitu rinci. Dalam konteks ini, pembaca akan dibuat berada di antara: fiksi dan realita. Cara ini tampak memberi efek kenangan, seperti visual menonton film yang menyuguhkan suasana terlebih dahulu tapi dalam membaca cerita yang singkat, bukankah kita tidak punya banyak waktu yang luang untuk mengenang? Hamsad mencoba mengajak pembaca melakukannya. Pada cerpen ini Hamsad Rangkuti tampak lihai menghadirkan berbagai kejutan, baik di awal, tengah, dan akhir. Ia memberi patahan-patahan yang sulit untuk kita tebak. Ia meletakkan patahan di saat pembacanya sedang menikmati momen-momen  tertentu.

“Sudah ingin ke jamban?” katanya

“Dia baru menelannya. Belum. Sebentar lagi, Pak.”           

“Bagus! Kalau dia tidak suka papaya dalam negeri, kita bisa sediakan papaya Bangkok!” Dia tutup pintu kaca itu.

Petugas itu tampak memeriksa isi pispot dengan ranting. Terdengar dia melaporkan apa yang dia lihat di dalam pispot.

“Belum keluar! Baru biji-biji kedelai. Rupanya dia makan tempe!”

Dialog ini terdapat dalam cerpen Pispot, cerita diakhiri dengan cara yang menarik. Pembaca diajak pada pilihan yang tegang, antara kemurahan hati si Saksi untuk minta maaf karena menyesal dan menghentikan taksi agar pikirannya tidak berubah. Sebenarnya, situasi hati si Saksi sangat manusiawi. Sebagai manusia, tokoh itu sangat masuk akal, sebab manusia selalu memiliki pertentangan dalam diri.

Di satu sisi dia kita anggap baik, tapi di sisi lain dia tampak kehilangan empati. Selain itu, dialog satu kata yang diulang-ulang menjadi foreshadow dalam cerita ini. Namun, penanda ini belum bisa membuat pembaca memutuskan sesuatu. “Tidak,” kata si Pencuri, dan dengan kesaksian yang ragu, “tidak” itu pun bermakna ambigu: Saksi ragu, sementara si pelaku takut, takut yang dimiliki setiap orang yang menghadapi bahaya di depannya.

Ikhwal Lain di Kepala

Kemampuan Hamsad memilih diksi yang biasa-biasa saja–yang dekat dengan keseharian kita, membuat kita menikmati setiap ceritanya tanpa pernah dibuat pening memikirkan maksud dan tujuannya. Tak heran jika cerpen-cerpennya dinikmati bahkan hingga anak kelas lima SD[1].

Sapardi menyebut Hamsad seorang pengamat yang cermat. Menggunakan berbagai Teknik penulisan cerita dengan baik, terutama kejutan pada pengulangan dan penutup cerita, menimbulkan suasana mencekam sekaligus menggelikan. Dalam ketegangan, pembaca secara diam-diam dibuat merasakan bahwa peristiwa itu lucu, meski tetap menyiratkan amanat. Segala kenyataan, kebenaran, dan apa yang telah terjadi sungguh-sungguh tidak terduga, kecuali kejutan-kejutan menyegarkan yang tetap terjaga di dalam bingkai[2].

Sosok tokoh jalinan kisahan Hamsad Rangkuti jauh dari pretensi absurd atau surreal sehingga pembaca merasa dekat dengan setiap kejadian dalam karangannya. Mereka tidak terkesan diperalat sang empu cerita. Dengan kata lain, tokohnya dalam plot terlihat leluasa mengekspresikan sikapnya. Cerita dibuat dekat dan bernilai ironi maupun sarkasme. Hal ini mencirikan bacaan yang dihadirkan bersifat reflektif, meresepsi pembaca[3]. Hamsad mencoba mengajak pembacanya untuk melihat realitas sekitar, sedikit mencubit kesadaran pembaca bahwa permasalahan yang kompleks tidak hanya dihadirkan pada ranah-ranah elitis. Tetapi juga hadir di tengah-tengah kehidupan rakyat kecil yang tidak berdaya.

Hamsad kecil adalah seorang pelamun yang parah. Ia menyadari hal ini dan hal ini sempat dituliskannya pada artikel yang ia berikan pada Pamusuk Eneste. Hamsad kecil bisa menghabiskan berjam-jam untuk duduk di pohon dan melamun. Sesekali ia akan pergi menonton pementasan buruh-buruh Jawa untuk menonton ludruk, wayang orang serta wayang kulit. Sesekali ia pun ikut ayahnya yang bekerja sebagai penjaga toko malam. Ayahnya sering bercerita padanya dan ketika ayahnya sedang tidak bercerita, dia akan duduk sedikit menjauh dari ayahnya, berdiam di dalam gelap dan tentu saja—melamun.

Ketika ia beranjak lebih dewasa, sepulang sekolah ia tak langsung pulang. Ia kerap pergi ke kantor Wedana, membaca koran-koran yang terbit di Medan dan berdiri membacanya. Di sinilah ia bertemu dengan Mimbar Umum, sebuah koran yang setiap minggu memuat cerpen-cerpen terjemahan. Mimbar Umum tersebutlah yang menjembataninya sehingga bertemu dengan karya-karya Anton Chekov, Gorky, Hemingway, O. Henry dan lain sebagainya. Karya-karya dari penulis tersebut yang membuatnya tahu bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa mengganggu batinnya meskipun setelah selesai membacanya. Karya-karya penulis itu pun yang ternyata memberinya semangat untuk juga menuliskan cerita, cerita yang dapat mengganggu batin pembacanya.

Karena hidup dalam cerita masa kecil yang dekat dengan rakyat kecil, menjadikan dia tumbuh sebagai penulis yang mengangkat apa-apa yang dekat dengannya. Tema-tema tulisan Hamsad Rangkuti berkelindan antara rakyat kecil yang menderita dan tentang nasib yang tidak kuasa mereka lawan. Seolah-olah ia menjadi bagian dari rakyat kecil tersebut, ia tidak menuliskan kesengsaraan dengan cara bersedih-sedih, namun sebaliknya.

Hamsad menjungkirbalikan penderitaan dengan cara-cara yang tak jarang mengagetkan kita, dengan penyampaian yang tidak bombastis. Seolah ia memiliki segudang cara mengajak kita menertawai kejadian-kejadian yang dialami karakternya. [T]

  • Penulis: Juli Sastrawan

[1] Pamusuk, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang

[2]  Sapardi, “Hamsad Mendongeng”, dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel, op.cit., h. 16-17

[3]  Satmoko Budi Sasonto, “Cerita Pendek, Keberjamakan, Reruntuhkan Menara Gading, Kompas, Minggu, 8 Juni 2003, j. 018.

Tags: CerpenHamsad RangkutiLingkar Studi Sastra DenpasarsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

Next Post

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co