2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia

Raihan Robby by Raihan Robby
January 28, 2023
in Ulas Pentas
Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia

Foto-foto Raihan Robby

Pertunjukan BullyBully dari Maas Theater en Dans | Foto: Raihan Robby

Dalam sistem masyarakat kita, dan cara berjalannya sistem itu, seolah menciptakan dunia yang sempit. Dunia yang terdiri hanya berdasarkan dua warna: hitam-putih. Dunia yang ditentukan oleh yang menang, sementara yang kalah menderita. Atau sebaliknya, dunia yang diisi oleh orang-orang kalah untuk menjatuhkan para pemenang. Dunia yang dikaburkan oleh sudut pandang yang harus memilih antara benar dan salah. Dunia yang dijalankan oleh nilai-nilai baik atau buruk.

Seperti halnya kondisi dunia saat ini, perang militer antara Rusia-Ukraina, hingga perang ideologi Kanan-Kiri. Peperangan yang tak menemukan jalan tengah, peperangan yang selalu berselisih dan menimbulkan korban.

Dengan keironian dunia inilah, Maas Theater en Dans menggelar pertunjukan “BullyBully” dalam helatannya ke Indonesia. Pertunjukan ini digelar di beberapa tempat seperti Taman Budaya Jambi, Erasmus Huis Jakarta, Gedung Pertunjukan Jurusan Teater ISI Yogyakarta, hingga Pendhapa Art Space. Pertunjukan yang berlangsung mulai dari 9-19 Januari di berbagai kota itu dipersembahkan oleh Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta, Indonesia.

Jika merujuk pada pamflet, pertunjukan ini dikhususkan untuk keluarga dan anak-anak usia 3 tahun ke atas. Sebuah sentilan terhadap para penonton dewasa yang masih terperosok dalam sempitnya pandangan dualisme itu, dan sebuah upaya dekonstruksi sejak dini kepada anak-anak dalam memandang dunia yang penuh dengan pertengkaran.

Kami, para penonton telah memadati Auditorium Jurusan Teater ISI Yogyakarta sekitar pukul 15.00 WIB, kondisi waktu yang ramah untuk menonton teater bagi keluarga dan anak-anak, meski pertunjukan itu dilaksanakan pada saat week day, antusiasme penonton begitu terasa, terlihat jelas dengan kami mengantre masuk ke dalam gedung pertunjukan.

Para penonton memadati kursi yang telah disediakan, dan untuk membuat pertunjukan lebih intim, beberapa penonton memenuhi serambi panggung yang dapat dengan jelas melihat kedua orang aktor: Pink King (Sanne Bokkers) dan Green King (Sue-Ann Bel)yang telah menyapa kami sebelum pertunjukan dimulai.

Kedua raja itu dengan ramah menyambut kami, mereka melambai, tersenyum, tertawa yang membuat para penonton mendapatkan impresi awal penuh keceriaan. Keceriaan yang benar-benar hadir tak hanya melalui sapaan kedua raja itu, melainkan juga melalui komposisi warna dan bentuk.

Pink King dengan totalitas warna merah muda membalut seluruh tubuhnya, mulai dari sepatu, kostum, hingga buntalan bergelombang dari dada hingga ke leher yang tampak sangat menggemaskan. Belum selesai sampai di situ, kumis yang menempel pada wajah Pink King pun tampak memenuhi bagian atas mulutnya. Menciptakan semacam lanskap komedi dalam benak penonton. Begitu pula yang hadir pada Green King keseluruhan warna pada tubuhnya, benar-benar hijau dengan rambut yang seolah berbentuk simbol cinta.

Para raja itu duduk di atas kedua pilar kekuasaannya masing-masing, mereka dalam bisnis akting yang kecil memang telah menunjukan percikan-percikan pertengkaran. Namun seolah tetap ingin menampilkan kesan keakraban di hadapan para penonton.

Pertunjukan BullyBully dari Maas Theater en Dans | Foto: Raihan Robby

Tak lama, bunyi trompet terdengar. Bunyi trompet yang menandakan dimulai—dan berhentinya—perselisihan di antara mereka. Bunyi trompet yang disusul dengan bunyi jepretan kamera. Saat mendengar bunyi dari trompet dan kamera inilah kedua raja itu seolah berdamai, seolah menampilkan kesan diplomatis dalam lakuan mereka.

Namun, di balik bunyi, dan setelah kepalsuan untuk berpura-pura damai itu, mereka kembali berselisih. Pertengkaran yang dihadirkan pun penuh dengan komikal, permainan dengan mimik wajah yang saling meledek.

Pilar yang semula tempat mereka duduk, perlahan berganti menjadi monumen wajah mereka masing-masing. Yang menarik, untuk menunjukan bagaimana perselisihan itu terbangun, kedua raja tidak menggunakan bahasa verbal. Melainkan dengan gestur tubuh, dengan benda-benda yang memiliki bobot kuasa. Simbolisasi kuasa itu pun dapat berupa apa saja: pengeras suara, pedang, bendera, hingga monumen wajah. Maka, jika semakin besar benda itu, semakin besar pula kuasa dari sang raja, yang tentu raja lainnya tak ingin kalah, baik secara ukuran maupun secara kedinamisan tubuh.

Pertunjukan BullyBully dari Maas Theater en Dans | Foto: Raihan Robby

Lantas panggung dapat berubah menjadi arena battle dance. Para raja dengan kepiawaiannya merespons lagu-lagu yang hadir, lagu-lagu yang seolah berasal dari seluk beluk dunia beserta tariannya. Seperti lagu pop Arab, Afrika, hingga Single Ladies-nya Beyoncé. Penonton bersorak-sorai dan tak henti-hentinya bertepuk tangan melihat battle dance itu.

Semula saya berpikir, peniadaan bahasa verbal menjadi konsepsi yang menarik, setidaknya ini menujukan bahwa teater tak sepenuhnya bergantung pada bahasa, dan para aktor dari Belanda itu tak perlu susah payah untuk menyampaikan gagasan yang mereka bawa melalui Bahasa Indonesia. Sebab para penonton dapat memahami ‘bahasa tubuh’ dari para aktor yang memang telah disusun dengan sangat baik.

Tapi asumsi saya meleset, Maas Theater en Dans tetap menghadirkan bahasa verbal, yang berupa antomim kata “Ya” dan “Tidak”. Ini sungguh strategi yang menarik, setidaknya antonim kata itu dapat menunjukan keberlawanannya sendiri, yang lebih mudah ditangkap oleh penonton. Meski strategi ini agak berlebihan sedikit bagi saya, ketika turut menghadirkan perbendaharaan kata dari bahasa lain. Sehingga transformasi kata “Ya” dan “Tidak” itu dibarengi dengan kata “Sì, Oui, Ja, Yes, Nee, No”, dan sebagainya.

Apa yang dilakukan kedua raja itu, telah dijelaskan berbarengan dengan selebaran pamflet pertunjukan di Instagram. Bahwa adanya benturan kekuatan dunia dengan cara penyampaian level Duplo. Secara sederhana, Duplo dapat berarti dobel atau duplikat. Maka sepanjang pertunjukan yang berdurasi sekitar satu jam itu, bentuk dobel dan duplikat dari dua raja yang seolah-olah mempunyai banyak kemiripan itu pun dipertentangkan. Hanya dipertentangkan, tidak sampai terjadi perusakan.

Perusakan (secara tidak sengaja) dipantik oleh Pink King, saat ia menjatuhkan monumen wajah dari Green King, dan alih-alih memperbaikinya, Pink King justru kabur seolah tak melakukan perusakan itu. Melihat monumen wajahnya dihancurkan, Green King pun akhirnya membalas dendam dengan menghancurkan pula monumen wajah kepunyaan Pink King.

Pertunjukan BullyBully dari Maas Theater en Dans | Foto: Raihan Robby

Untuk menciptakan ending yang bahagia, mendekati akhir pertunjukan dengan dramatisnya mereka berdua seolah merasa bersalah sekaligus merasa saling memiliki. Maka komponen wajah yang telah terburai itu pun mereka susun kembali, namun dengan potongan-potongan monumen wajah yang digabung, sehingga menciptakan konsepsi titik tengah, atau pertemuan yang menyatukan mereka berdua.

Jalan tengah itu pun tak hanya bersatunya komponen monumen wajah kedua raja tersebut, melainkan juga hadirnya sosok bayi berwarna kuning, bayi yang seolah hasil hubungan kedua raja itu. Bayi yang memiliki gen dari kedua raja itu melalui rambut dan kumis yang hadir di wajahnya. Lalu terdengar bunyi trompet, dan seolah didamaikan melalui kehadiran si bayi, kedua raja itu pun tak perlu lagi bersitegang, mereka telah sepenuhnya berdamai.

Pertunjukan yang disutradarai oleh René Geerlings dan pimpinan produksi oleh Djoeke Westdijk ini setidaknya memberikan pandangan yang sering kali luput dalam lakuan masyarakat kita. Bahwa untuk terciptanya sistem dan seluruh komponen masyarakat, kita memerlukan persamaan dan perbedaan.

Kita tak bisa memilih untuk selalu hidup dalam lingkup yang penuh akan kesamaan, sehingga menjadi golongan yang homogen, bahkan di dalam masyarakat homogen sendiri, tiap pemikiran manusianya memiliki perbedaan. Mereka hanya disatukan atau disamakan oleh beberapa faktor seperti etnis, golongan, agama, dan lain-lain.

Pertunjukan BullyBully dari Maas Theater en Dans | Foto: Raihan Robby

Perbedaan terus menerus pun seakan dipenuhi rasa pengap, manusia lantas mencari-cari kesamaan, untuk membangun harmonisasi. Maka jalan tengahnya adalah kita membutuhkan persamaan dan perbedaan itu, bukan untuk sebagai pilihan, melainkan untuk saling mengisi, sehingga menimbulkan berbagai macam warna, yang lagi-lagi tak hanya hitam-putih, atau hijau-pink. Barangkali ada warna lain serupa warna bayi itu, warna kuning. Dan warna-warna lainnya yang menunjukan bahwa dunia tak selalu muram, jika melihat dengan cara pandang yang luas.

Pertunjukan ini, menjadi refleksi bagi keluarga untuk mengajarkan kepada anak usia dini bahwa hidup tak selalu dipenuhi oleh dualisme, bahwa ke depannya, hidup lebih membutuhkan jalan tengah. Jalan tengah yang lebih mementingkan perdamaian, daripada perselisihan. [T]

21 Januari, Jakarta, 2023

[][][]

BACA esai ulasan seni pertunjukan dari penulis Raihan Robby

Monolog “Aku, Istri Munir”: Dari Ingatan Keluarga ke Ingatan Kolektif Bangsa
Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Sejarah Indonesia Modern Sekali Klik — Catatan Mengalami Peristiwa Hal-19: Wajah Pecah Sejarah Indonesia Modern oleh Kalanari Theatre Movement
Tags: ISI Yogyakartaseni pertunjukanTeaterYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semarut | Cerpen Pilar Titiwangsa

Next Post

Hari Arak Bali: Yang Pro Yang Kontra Sama-sama Punya Alasan – Anda Ikut Siapa?

Raihan Robby

Raihan Robby

Lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Hari Arak Bali: Yang Pro Yang Kontra Sama-sama Punya Alasan – Anda Ikut Siapa?

Hari Arak Bali: Yang Pro Yang Kontra Sama-sama Punya Alasan – Anda Ikut Siapa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co