23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semarut | Cerpen Pilar Titiwangsa

Pilar Titiwangsa by Pilar Titiwangsa
January 28, 2023
in Cerpen
Semarut | Cerpen Pilar Titiwangsa

Ilustrasi tatkala.co

SEORANG LAKI-LAKI bertampang mesum bicara komat-kamit di layar kaca. Omongannya panjang dan sembari sesekali melirik kamera, ia tampak berusaha terlihat menyesal. Aku dan Risjad menontonnya dengan tidak serius-serius amat. Alasannya dua : setiap kata yang keluar dari mulut si pria kelihatan dibuat-buat dan eskpresi penyesalannya justru lebih mirip seseorang yang menahan buang air besar. Ia sedang melakukan klarifikasi dan penyangkalan atas tuduhan khalayak ramai tentang pelecehan seksual yang dilakukannya beberapa tahun lalu.

“Saat itu saya sedang mabuk dan benar-benar tidak sadar atas apapun yang saya lakukan,” ujarnya. Pendukungnya—yang sedari tadi  sigap mengoceh di kolom komentar—mengamini alasan si pria dan menyatakan pemakluman.

Aku melongo. Jika alkohol punya akal dan perasaan, tentu ia pun muak menjadi kambing hitam atas segala perilaku tidak senonoh umat manusia. Malahan, jika diingat-ingat, aku tidak kenal siapapun yang pernah menjadi mabuk lalu menggerayangi kemaluan perempuan. Risjad salah satu contoh akuratnya. Saat aku baru mengenal pria ini, sepuluh tahun lalu, ia menenggak minuman keras terlalu banyak dan melantur.

Kala itu, kami dan beberapa kawan menggelar tenda di pinggir sebuah pantai. Usai bermain kartu kira-kira dua puluh tiga ronde, Risjad nampak menatap kekosongan yang membentang seluas lautan di depannya sembari duduk memeluk kedua lutut. Aku yakin, ini bukan karena ia kalah secara konstan dalam keduapuluh tiga ronde tadi. Tiba-tiba, ia meneriakkan nama Tuhan.

Aku memeriksa empat botol kecil minuman keras, dan tentu saja Risjad telah menenggak hampir seluruhnya. Ia mabuk. Namun alih-alih mengajakku berbuat mesum, ia justru mengoceh tak tentu arah soal bagaimana Tuhan telah memberinya karunia kehidupan dan—tentu saja— merenungi perihal nikmat mana lagi yang ia dustakan. Kata-kata yang sangat sulit dipercaya, mengingat selama ini Risjad kerap mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Atheis—atau Agnostik, entahlah salah satu dari itu. Aku selalu kesulitan membedakan antara keduanya.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir Teknik Fisika, ia hanya menyembah dua entitas : Stephen Hawking dan Charles Darwin. Kombinasi yang sangat aneh tentu saja. Namun malam itu, ia berlagak layaknya frater muda yang sudah khatam mempelajari Alkitab dengan tekun seumur hidupnya. Atau memang seperti itukah ia sebenarnya?

Sembari mengawasi Risjad yang sedang berlari bolak-balik dari satu ujung pantai ke ujung lainnya, berkali-kali tanpa henti, aku teringat kata-kata seorang kawan. Saat mabuk, manusia cenderung melepaskan secuil bagian diri yang selama ini sanggup mereka sembunyikan, semata-mata hanya karena kontrol diri yang begitu hebat. Risjad, yang selama itu menolak semua ajaran agama dan menganggap Tuhan hanya halusinasi hebat para nabi dan semua penganut ajaran mereka, ternyata diam-diam berharap punya daya untuk percaya terhadap konsep keesaan. Belakangan, ia mengakui rasa irinya terhadap orang-orang beriman.

“Mereka punya tempat menggantungkan doa dan harapan, aku tidak,” ujarnya sembari merapikan kemeja yang sudah licin setengah mati. Ia tidak menatapku saking malunya. Risjad tersayang, folie à deux memang tidak pernah jadi penjelasan masuk akal untuk memuja Tuhan. Hampir saja kukatakan hal itu tanpa perasaan. Tapi sebagai teman yang baik aku hanya mengangguk mengerti dan persahabatan kami berlanjut hingga sekarang. Tiap kali ia mengajak mabuk-mabuk, aku mengemas sebuah rosario di tas kanvasku. Sekadar berjaga-jaga apabila kembali terjadi pertunjukkan kesalehan yang meledak-ledak.

Tapi aku bukannya tidak punya pengalaman buruk saat berurusan dengan hal-hal yang menimbulkan candu.

Saat mengalami patah hati berat beberapa tahun lalu, aku mengadopsi Aamir, seekor kucing kampung berbadan kekar. Rasa merana tingkat akut yang bercokol di dalam dada kucurahkan pada Aamir. Saat aku dilanda depresi dan enggan makan ataupun keluar kamar, Aamir muncul di jendela dengan seekor ikan bakar utuh yang entah dicurinya dari mana. Makanan lezat itu diletakkannya di dekat kakiku, lalu ia menyorongkan kepala mungilnya ke sana. Membelai tungkaiku dengan rasa yang kuyakini sebagai kasih.

Suatu hari, demi membayar pengabdiannya yang tanpa batas, aku membelikan sejumput catnip. Setelah menghabiskan tumbuhan beraroma aneh itu, Aamir menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. Matanya membulat, lalu mengecil, lalu membulat, dan mengecil lagi. Ia menatap jendela dengan kekosongan yang mencurigakan. Lalu tanpa bisa kucegah, ia tiba-tiba berlari ke jalan raya dan melompat ke hadapan sebuah truk yang tengah melaju kencang. Kucingku mati dengan badan remuk dan bola mata melompat keluar.

Risjad berusaha meyakinkanku bahwa peristiwa bunuh diri ini sama sekali tak ada hubungannya denganku. Tapi aku berani bersumpah demi kura-kura Galapagos dan hal-hal abadi lainnya bahwa sebelum truk itu menyambar tubuh Aamir, ia menatap mataku lekat-lekat seakan ingin berkata : “Aku muak dengan ketololanmu soal asmara”.

Aku menutup mata dalam-dalam dan mengakhiri lamunan absurd soal Aamir. Sementara itu lelaki mesum di layar kaca masih sibuk dengan sederet pembelaan yang, menurutku, justru semakin membuat sisi bajingannnya terang benderang. Di satu poin, ia mengungkit kealpaan si korban untuk segera melapor ke polisi jika memang merasa dilecehkan. Seketika Risjad mendengus jijik.

“Yang benar saja, lapor polisi? Ingat kasus kakek mudamu, Ten?” ujarnya kepadaku.

Aku melirik Risjad sekilas sebelum tersenyum hambar. Aku punya seorang Opung jauh, yang usianya hanya terpaut 20 tahun lebih tua denganku dan dalam satu fase hidupnya pernah berstatus sebagai buronan. Kejahatannya tidak kecil, ia membunuh seorang pria. Hari itu adalah hari terpanas di Bandar Lampung tahun 1982, dan Opung terlibat perkelahian di pasar dengan salah satu preman muda yang menghina ibunya. Duel kelas teri ini mencapai puncaknya saat Opung, yang belum makan apa-apa sejak pagi selain sepotong tempe goreng dingin, mengeluarkan sebilah pisau lipat dan menusuk lawannya di perut bertubi-tubi. Preman muda itu terkapar tanpa nyawa. Seorang kerabat yang menjadi saksi langsung berlari ke kantor polisi terdekat melaporkan kejadian itu.

Diserang panik, Opung mendatangi rumah nenek, paman, kakak, hingga mantan pacarnya untuk mencari suaka. Semua menutup pintu rapat-rapat bagi si pesakitan. Dua jam kemudian Opung nekat naik bis terakhir ke Bakauheni dan lima jam setelahnya, ia sudah berada di Merak.

Polisi datang terlambat. Polisi selalu datang terlambat. Ada jeda dua puluh jam sebelum mereka mulai mencari Opung dan saat itu, si buronan sudah tiba di pedalaman Jawa Tengah tanpa seorang pun tahu keberadaannya. Bagaimana ia membangun kembali seluruh hidupnya dengan keringat dan darah adalah kisah lain. Namun singkat cerita, dua puluh tahun kemudian, Opung menikmati hidup nyaman dengan dua istri dan tujuh anak, menyandang gelar sarjana hukum dari universitas bergengsi, dan –ironis betul—menjabat sebagai Kepala Bagian Perlindungan Hukum sebuah lembaga pemerintahan. Ia bahkan tidak pernah mengganti nama.

Opung tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di Bandar Lampung. Orang tua si preman muda tidak pernah mendapat keadilan. Mereka tidak pernah menyaksikan si pembunuh masuk bui, atau paling tidak mati babak belur setelah ditendangi massa. Dua dekade bukan waktu yang singkat dan seluruh keluarga itu tak sudi lagi percaya pada polisi. Sebuah langkah yang diikuti oleh Risjad bertahun-tahun kemudian saat anjingnya, Bordeaux, hilang diculik penjual tongseng haram dan laporannya ditertawakan polisi setempat. Setelahnya, Risjad mengunci diri di dalam kamar berhari-hari, sebelum dengan lantang mendeklarasikan vendeta pada lapo-lapo asu di seluruh kota. Sejauh ini, ia berhasil menumbangkan dua. Prestasi besar.

Aku melirik ke arah laptop. Si lelaki mesum baru saja mengakhiri pembelaan panjangnya dengan kalimat “Hanya itu yang ingin saya sampaikan, semoga dengan menempuh jalur hukum masalah ini bisa segera diselesaikan”.  Aku mengumpat. Sebuah imaji terbentuk kasar dalam benakku : si mesum keluar sebagai pemenang atas kasus pelecehan yang dibawanya ke meja hijau, dan senyum puas mengembang di wajah itu. Perutku mulas, melilit membayangkan hal ini. Wajah Aamir dan Bordeaux kemudian muncul di hadapanku, berputar-putar, menjadi cair hingga menyatu, lalu menjelma paras renta Opung dan raut tentram yang menghiasinya. [T]

Bogor, Juni 2021

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Abed Ilyas | Ombak Pasang, Di Timur Pulau

Next Post

Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia

Pilar Titiwangsa

Pilar Titiwangsa

Penulis lepas. Tengah singgah di Bogor bersama kucing-kucing.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia

Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co