23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya

Jaswanto by Jaswanto
March 15, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

PUNAKAWAN (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) tinggal di Karang Kadempel. Sedangkan almarhum Kakek tinggal di Karang Binangun. Karang Kadempel dan Karang Binangun memang tak ada hubungan sama sekali. Tapi, orang (laki-laki) Karang Binangun yang seumuran Kakek pasti tahu, atau setidaknya pernah dengar, tentang Dusun Karang Kadempel.

Memang, hampir semua orang Dusun Karang Binangun (generasi kakek)—yang sudah saya cek kepada beberapa orang lain seumurannya dan mereka mengatakan hal yang sama—menyukai wayang. Zaman itu, sekitar tahun ’70 – ’80an, menurut cerita Kakek, di kampung kami, nama Ki Anom Suroto dan Ki Narto Sabdo (tahun itu dunia pedalangan wayang kulit dikuasai oleh dua master tersebut) lebih tenar daripada bintang-bintang film atau musik.

Ki Anom Suroto (satu-satunya dalang yang pernah mentas di lima benua) dengan suluknya itu lebih menarik dan menakjubkan daripada lagu-lagunya si “Raja Dangdut”: Rhoma Irama (selama puncak ketenarannya di tahun 1970-an, ia dijuluki “Raja Dangdut” dengan Grup Soneta-nya.)

Wayang, bagi generasi kakek (orang-orang Karang Binangun tegalan itu), bukan hanya sekadar ditempatkan sebagai hiburan (budaya massa) semata, lebih dari itu, wayang, dengan segala printilan khazanah dan falsafahnya, dipercaya memiliki kekuatan magis-spiritual (dianggap sebagai media pembersihan diri; kadang dari sana lahir cerita-cerita menyeramkan dan banyak yang tak masuk akal.)

Wesi kuning berbentuk wayang Semar itu, misalnya, dari zaman “asu enak” sampai zamannya Jokowi (yang kadang nggak enak) masih dipercaya sebagai jimat yang, selain bertuah-keramat, juga memiliki kekuatan pengasihan: pelet tanpa mantra, pelet tanpa puasa, kelancaran jodoh, pemikat hati, meluluhkan hati sampai antitesisnya: penangkal guna-guna. (Beberapa orang Karang Binangun masih percaya beginian. Selain meminta ke Allah dan percaya Rasulullah, mereka juga meminta harta ke demit Goa Kapa.)

Atau yang menyeramkan: cerita-cerita tentang wayang yang bisa hidup, bergerak sendiri, dan berkelahi di dalam kotak (kakek dan beberapa orang tua lainnya sering menceritakan hal ini kepada kami, anak-anak Karang Binangun waktu itu. Ceritanya, di desa bernama Wolutengah, hidup seorang dalang ruwat. Setiap kali mau pentas, Ki Dalang sering mendengar suara berisik dari dalam kotak tempat ia menyimpan wayang-wayangnya…)

Dan lakon pewayangan seperti “Semar Bangun Kayangan” yang dipercaya keramat oleh orang Karang Binangun, dulu, benar-benar susah untuk dijelaskan, dimengerti, apalagi diterima. Menurut cerita kakek, hanya dalang-dalang tertentu yang sanggup mementaskan lakon tersebut. “Tak banyak dalang yang sanggup,” katanya.

Hal ini jelas berbeda, dalam konteks masa itu, dengan kampungnya Mahfud Ikhwan (yang Pantura), yang dituliskannya dalam esai panjang—dan bagus— “Menjadi Jawa Tanpa Nonton Wayang“. Di sana, tetap dengan gaya sinisnya, sastrawan kondang kelahiran Lamongan itu menulis: “Kakek-nenek dan 0rang-orang tua kami bercerita tentang kisah asal-usul desa, legenda-legenda hutan, anekdot-anekdot tegalan, kisah-kisah hantu (dari yang lucu, aneh, hingga yang mengerikan), dan tentu saja kisah para Nabi, sahabat, dan cerita-cerita hikmah. Tapi, saya tak mengingat sedikit pun soal kisah-kisah dari cerita wayang. Tidak dalam bentuk yang sederhana, apalagi yang lebih rumit dan lebih dalam.”

Esai Mahfud sebenarnya sudah dapat ditebak sejak membaca judulnya. Benar. Dalam esai yang dimuat langgar.co itu, ia mengaku tidak begitu tertarik dengan kisah wayang. Tapi, terutama, katanya, “saya tidak merasa terikat dengannya.” Dan dalam hal ini, Mahfud memang memiliki penjelasan. Sialnya itu bagus.

Tanpa mencoba meremehkan para pemujanya, juga falsifikasi atasnya di belahan Jawa yang lain, tulis Mahfud, untuk konteks desa Pantura macam desa tempat ia tumbuh, dan mungkin (pikir Mahfud) itu bisa diperluas setidaknya untuk kawasan yang memanjang antara di sepanjang Pantai Surabaya sampai Pati (apakah juga Jepara hingga Semarang?), wayang tak pernah melebihi fungsi asalinya: hiburan rakyat. Dengan bahasa yang lebih akademis: budaya massa. Dan dalam hal ini, ia (wayang) kalah bersaing dengan budaya massa yang lain, dan kemudian gagal lolos dari ujian masa. Mungkin karena formatnya yang kurang menarik, mungkin perangkat sosial-budayanya kurang memadai, atau mungkin juga ada penyebab lain.

Sekali lagi, apa yang disampaikan Mahfud dalam esainya tentang orang-orang kampungnya (termasuk dirinya) yang menganggap bahwa wayang hanya sekadar “hiburan rakyat”, orang kampung saya justru menganggapnya lebih dari itu. Wayang, di kampung saya, selain sebagai hiburan (seni) pertunjukkan, juga berfungsi—dan tentu saja dipercaya sampai sekarang—sebagai pembersihan diri (ruwat) dari ancaman Batara Kala (buto).

***

Saya jelaskan secara ngawur. Ruwat atau ruwatan, menurut tafsir bebas saya, bagi masyarakat Jawa merupakan usaha spiritual (seremonial?), yang dipercaya dapat membebaskan roh-roh jahat yang mengancam atau ngendon pada diri seorang yang dianggap sukerta dan sengkala.

Pengaruh wayang ruwatan terhadap masyarakat modern, setidaknya orang di kampung saya, masih relatif kuat. Barangkali orang-orang kampung saya memandang, bahwa masyarakat dan kebudayaan memang satu kesatuan (yang bagian-bagian dan unsur-unsurnya saling terkait antara satu dengan lainnya—sebagai suatu sistem yang bulat.)

Upacara ruwatan di kampung saya menggunakan wayang sebagai media komunikasi dengan kisah yang menyampaikan pesan-pesan penolak-bala (sial). Orang-orang yang lahir dengan kondisi yang dipercaya (akan) membawa malapetaka (sukerta), harus diruwat: anak tunggal (ontang-anting (laki-laki) dan unting-unting (perempuan)), kedana-kedini (dua bersaudara, laki-laki dan perempuan), uger-uger lawang (dua bersaudara, laki-laki semua),  kembang sepasang (dua bersaudara, perempuan semua), gotong mayit (tiga bersaudara, laki-laki semua),  anak kembar, anak lelaki yang diapit oleh dua anak perempuan dan sebagainya.

Atau ibu-ibu yang menanak nasi di dandang, dan dandangnya roboh, kalau tidak mau menjadi lauk makan siang Batara Kala, harus mengundang Dalang Wiji untuk meruwatnya. (Di desa saya ada satu dalang ruwat, namanya Dalang Wiji. Beberapa kali saya mendapati Dalang Wiji meruwat orang-orang di kampung saya.)

Wayang ruwat mengisahkan Batara Guru yang sedang bercakap-cakap dengan pasangannya (yang saya lupa namanya) sembari mengelilingi samudera dengan naik seekor lembu. Hasrat seksual Batara Guru tiba-tiba muncul. Sialnya, istrinya menolak ajakannya untuk bersetubuh. Penolakan itu membuat sperma (kama) Batara Guru jatuh ke tengah samudera. Sperma itu kemudian berubah dan menjelma menjadi raksasa yang dikenal dengan nama Batara Kala.

Batara Kala tumbuh menjadi mahluk jahat (lihat saja gambaran perawakannya dalam wayang: taringnya panjang atas-bawah, mata besar melotot keluar, hidung besar, rambut panjang bergelombang. Sungguh mengerikan.) Dikisahkan, sifat jahat Batara Kala disebabkan oleh hawa nafsu ayahnya yang tidak terkendali. Batara Kala kerap meminta makanan dengan menu utama manusia kepada Batara Guru. Sebagai orangtua, Batara Guru mengizinkan—walaupun dengan syarat: manusia yang dimakan adalah wong sukerta atau orang yang mendapat kesialan. Dari sinilah asal-usul seseorang yang dianggap terkena sial akan menjadi mangsa Batara Kala. (Masyarakat Jawa percaya jika ancaman Batara Kala tersebut dapat dilepaskan melalui tradisi ruwatan.)

Meskipun demikian, Batara Guru tetap khawatir akan jatuhnya banyak korban, sehingga ia mengutus Dewa Wisnu untuk melawan Batara Kala dengan menyamar sebagai dalang. Dewa Wisnu membacakan mantra-mantra (rajah), ajian-ajian—yang sampai sekarang—hanya dipahami oleh para dalang Kandhabuwana/dalang ruwatan/dalang sejati.

Dalang ruwat berbeda dengan dalang pada umumnya. Hal ini pernah dijelaskan oleh almarhum Ki Manteb Sudarsono (dalang kondang “pancen oye” yang belakangan juga membuat mata almarhum kakek saya berbinar dan dadanya berdebar lebih kencang dari biasanya saat mendengar siaran wayangnya di radio.) Ki Manteb, dalam wawancaranya bersama CNN Indonesia, menyampaikan tiga syarat utama menjadi dalang ruwat. Pertama, harus sudah beristri saat meruwat; kedua, dilarang keras berpoligami; dan ketiga, tidak boleh rujuk dengan mantan istri. (Syarat-syarat itu yang membuat Ki Manteb menikah sampai delapan kali.)

“[Syarat] itu dari kakek ke bapak, dari bapak ke saya. Kalau pakem saya seperti ini, kalau dalang lain bisa saja beda pakem,” kata Ki Manteb kepada CNNIndonesia.com (01/12/19).

Jika hendak meruwat, kata Ki Manteb, ia harus menjalani puasa mutih (berpantangan makanan minuman kecuali air putih dan nasi) selama tiga hari. Ada hari-hari tertentu untuk berpuasa, yakni pada Rabu Pon, Kamis Wage dan Jumat Kliwon. Bila dijumlahkan, jarak antara hari-hari tersebut adalah 40, sehingga berpuasa di tiga hari itu sama dengan berpuasa selama 40 hari.

***

Terlepas dari itu semua, sudah dapat ditebak, saya mengenal cerita wayang, khususnya Mahabarata, nyaris untuk pertama kali, dari cerita-cerita kakek. Dari sini saya lumayan bisa mengenali mana yang termasuk Pandawa, mana yang Kurawa, dan bagaimana dua saudara itu terbentuk kemudian saling berperang.

Selain bercerita, menurut pengakuanya, sebelum mampu membeli radio (setelah punya radio kakek lebih sering mendengar siaran wayang daripada menontonnya secara langsung), ia juga sering mengajak saya untuk menonton pertunjukan wayang kulit di kampung, di acara-acara hajatan tetangga. Tetapi, ingatan saya memang rapuh. Saya hanya mengingat dengan jelas, saat kakek mengajak saya menonton pertunjukan wayang kulit di rumah Mbah Sali—apalagi momen saat saya diberi pisang raja entah oleh siapa. Itu pun saya tak ingat siapa dalangnya dan lakon apa yang dimainkan. Saya hanya ingat, pertunjukan itu dipersembahkan untuk anak Mbah Sali yang baru saja disunat. Saya masih sangat kecil waktu itu, belum sekolah.

Sampai sekarang saya (kadang-kadang) masih menonton wayang di Yutub. Bukan karena ingin melakukan penelitian atau aktivitas akademis semacamnya atau yang lebih gawat: memiliki visi untuk melestariakan kesenian wayang atau yang lebih gawat lagi: menjadikan wayang sebagai falsafah hidup. Tidak. Sama sekali tidak. Saya menonton wayang hanya karena kakek, lebih tepatnya: mengenang almarhum kakek.

Ada masa di mana saya sangat merindukan orangtua itu. Ya, saya satu-satunya cucu yang memiliki banyak kenangan dengannya daripada cucu-cucunya yang lain. Memangnya apa yang saya punya sekarang selain kenangan? Tapi, betul, seperti kata Mumu Aloha, Anda segera setuju, bahwa seandainya memang yang kita punya sekarang tinggal kenangan, itu sudah sangat berharga. Itulah sebabnya manusia era digital sekarang keranjingan berfoto, bahkan sampai muncul istilah selfie—memfoto diri sendiri.

Saya sepakat dengan Mumu Aloha bahwa orang tak ingin kehilangan apa yang pernah dialaminya. Kita pernah di sana, kata Mumu, hari ini berada di sini, besok pergi ke mana, dan semua itu akan berlalu, tertimbun waktu. Tapi, kita tak ingin melupakannya. Kita akan menjadikannya cerita masa lalu. Kita akan mengenangnya, suatu saat nanti. Tidak ada yang abadi. Yang kemarin menjadi kenangan hari ini; hari ini menjadi kenangan esok hari; esok hari akan menjadi hari ini, yang kemudian lewat lagi, dan kita kenang esok harinya lagi.

Kenangan tentang kakek yang (paling) melekat adalah wayang. Maka dari itu saya juga menabung untuk dapat membeli komik gemuk Mahabarata R.A Kosasih dan cerita wayang yang ditulis Seno Gumira Ajidarma: Wisanggeni Sang Buronan dan Drupadi. Sedangkan di Yutub, saya bisa menonton pertunjukan wayang Ki Anom Suroto, Ki Enthus Susmono, Ki Manteb, dan Ki Seno Nugroho, semalam suntuk. Lakon-lakon seperti “Semar Bangun Kayangan”, “Petruk Dadi Ratu”, “Wisanggeni Lair”, “Dewa Ruci”, dan tentu saja epos Mahabarata, sudah kenyang saya lahap.

Tetapi, memang harus saya akui, barangkali Mahfud Ikhwan benar, sekali lagi, wayang tak pernah melebihi fungsi asalinya: hiburan rakyat. Dengan bahasa yang lebih akademis: budaya massa.

Dalang (yang oleh Goenawan Mohamad disebut “pencipta ilusi”, “penyair imajis”) memang tak cuma tampil di depan layar dengan tokoh-tokoh imajinernya. Ia juga di depan orang ramai. Kata GM, dalam Catatan Pinggir-nya tentang Ki Manteb Sudarsono di Majalah Tempo, seorang dalang “perlu showmanship, untuk memikat dalam pertunjukan. Ia juga punya janji dengan pemilik uang dan kekuasaan. Di jaman perdagangan sekarang ia dituntut memasarkan diri dan keseniannya, sebagai komoditi yang asyik.”

Akhirnya banyak dalang (terpaksa) menggadaikan pakem. Ki Timbul Hadi Prayitno (saya tahu dari GM dalam catatan pinggirnya: Dalang) pernah menyindir seorang dalang yang agar selalu ditanggap mengisi pementasannya dengan dagelan berpanjang-panjang, hingga “kirik-kirik sing melu nonton ya kepingkel-pingkel”, “anak-anak anjing yang ikut nonton terpingkal-pingkal”. Ada juga dalang yang mentas dengan mempertontonkan para sindennya berjoget di panggung, sambil memangkas pendek satu fragmen Mahabarata karena takut penontonnya bosan. “Ia mengubah wayang kulit jadi seperti sinetron: mengkilap tanpa membekas,” kata GM.

Sejak dulu, menurut GM, dalang memang dalam posisi yang rapuh. Juga di zaman modern, dalang bukan seniman atau cendekiawan yang mandiri.  Ia harus melayani pesanan si empunya acara yang membayar. Dan dengan begitu, pelan atau cepat, dalang akan berhenti menghidupkan imajinasinya sendiri dan   berhenti dari petualangan kreatif.

Akibatnya, pertunjukan wayang akan kehilangan energi totalnya: hanya jadi cerita yang gampang ditebak; jadi dunia verbal yang yang itu-itu-lagi; jadi narasi yang kehilangan hening. Dan, seperti sabda GM, “klise pun tumbuh seperti benalu  pada karya seni; ia mematikan daya cipta. Klise adalah hasil yang selalu siap mengikuti formula—gampang karena mengulang.”

Sepertinya memang sudah lama dunia pewayangan tak digerakkan daya cipta. Kisah Mahabharata dan Ramayana berubah sekadar jadi potongan-potongan melodrama. Sedangkan kita tahu melodrama tak betah dengan kompleksitas kehidupan.

Akhirnya, cerita-cerita wayang hanya menempatkan para Kurawa dalam pihak yang-jahat-dan-pasti- kalah, dan Pandawa pada posisi sebaliknya. Wayang kulit makin tak berdaya membangun sebuah tragedi. Dan untuk itu, bagi saya pribadi, tanpa mencoba meremehkan para pemujanya, juga falsifikasi atasnya, wayang hanya sekadar tentang kenangan saya bersama kakek. Tak lebih. [T]

Wayang Sinema, Tawaran Menarik Dalam Dunia Pewayangan Kini
Sejarah Panjang Kemunculan Wayang
Libur Hari Jumat
Tags: Dalangjawakisah pewayangansastrawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pokok-pokok Pikiran DPRD Buleleng untuk RKPD 2024: Salah satunya, Penurunan NJOP

Next Post

Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co