12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya

Jaswanto by Jaswanto
March 15, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

PUNAKAWAN (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) tinggal di Karang Kadempel. Sedangkan almarhum Kakek tinggal di Karang Binangun. Karang Kadempel dan Karang Binangun memang tak ada hubungan sama sekali. Tapi, orang (laki-laki) Karang Binangun yang seumuran Kakek pasti tahu, atau setidaknya pernah dengar, tentang Dusun Karang Kadempel.

Memang, hampir semua orang Dusun Karang Binangun (generasi kakek)—yang sudah saya cek kepada beberapa orang lain seumurannya dan mereka mengatakan hal yang sama—menyukai wayang. Zaman itu, sekitar tahun ’70 – ’80an, menurut cerita Kakek, di kampung kami, nama Ki Anom Suroto dan Ki Narto Sabdo (tahun itu dunia pedalangan wayang kulit dikuasai oleh dua master tersebut) lebih tenar daripada bintang-bintang film atau musik.

Ki Anom Suroto (satu-satunya dalang yang pernah mentas di lima benua) dengan suluknya itu lebih menarik dan menakjubkan daripada lagu-lagunya si “Raja Dangdut”: Rhoma Irama (selama puncak ketenarannya di tahun 1970-an, ia dijuluki “Raja Dangdut” dengan Grup Soneta-nya.)

Wayang, bagi generasi kakek (orang-orang Karang Binangun tegalan itu), bukan hanya sekadar ditempatkan sebagai hiburan (budaya massa) semata, lebih dari itu, wayang, dengan segala printilan khazanah dan falsafahnya, dipercaya memiliki kekuatan magis-spiritual (dianggap sebagai media pembersihan diri; kadang dari sana lahir cerita-cerita menyeramkan dan banyak yang tak masuk akal.)

Wesi kuning berbentuk wayang Semar itu, misalnya, dari zaman “asu enak” sampai zamannya Jokowi (yang kadang nggak enak) masih dipercaya sebagai jimat yang, selain bertuah-keramat, juga memiliki kekuatan pengasihan: pelet tanpa mantra, pelet tanpa puasa, kelancaran jodoh, pemikat hati, meluluhkan hati sampai antitesisnya: penangkal guna-guna. (Beberapa orang Karang Binangun masih percaya beginian. Selain meminta ke Allah dan percaya Rasulullah, mereka juga meminta harta ke demit Goa Kapa.)

Atau yang menyeramkan: cerita-cerita tentang wayang yang bisa hidup, bergerak sendiri, dan berkelahi di dalam kotak (kakek dan beberapa orang tua lainnya sering menceritakan hal ini kepada kami, anak-anak Karang Binangun waktu itu. Ceritanya, di desa bernama Wolutengah, hidup seorang dalang ruwat. Setiap kali mau pentas, Ki Dalang sering mendengar suara berisik dari dalam kotak tempat ia menyimpan wayang-wayangnya…)

Dan lakon pewayangan seperti “Semar Bangun Kayangan” yang dipercaya keramat oleh orang Karang Binangun, dulu, benar-benar susah untuk dijelaskan, dimengerti, apalagi diterima. Menurut cerita kakek, hanya dalang-dalang tertentu yang sanggup mementaskan lakon tersebut. “Tak banyak dalang yang sanggup,” katanya.

Hal ini jelas berbeda, dalam konteks masa itu, dengan kampungnya Mahfud Ikhwan (yang Pantura), yang dituliskannya dalam esai panjang—dan bagus— “Menjadi Jawa Tanpa Nonton Wayang“. Di sana, tetap dengan gaya sinisnya, sastrawan kondang kelahiran Lamongan itu menulis: “Kakek-nenek dan 0rang-orang tua kami bercerita tentang kisah asal-usul desa, legenda-legenda hutan, anekdot-anekdot tegalan, kisah-kisah hantu (dari yang lucu, aneh, hingga yang mengerikan), dan tentu saja kisah para Nabi, sahabat, dan cerita-cerita hikmah. Tapi, saya tak mengingat sedikit pun soal kisah-kisah dari cerita wayang. Tidak dalam bentuk yang sederhana, apalagi yang lebih rumit dan lebih dalam.”

Esai Mahfud sebenarnya sudah dapat ditebak sejak membaca judulnya. Benar. Dalam esai yang dimuat langgar.co itu, ia mengaku tidak begitu tertarik dengan kisah wayang. Tapi, terutama, katanya, “saya tidak merasa terikat dengannya.” Dan dalam hal ini, Mahfud memang memiliki penjelasan. Sialnya itu bagus.

Tanpa mencoba meremehkan para pemujanya, juga falsifikasi atasnya di belahan Jawa yang lain, tulis Mahfud, untuk konteks desa Pantura macam desa tempat ia tumbuh, dan mungkin (pikir Mahfud) itu bisa diperluas setidaknya untuk kawasan yang memanjang antara di sepanjang Pantai Surabaya sampai Pati (apakah juga Jepara hingga Semarang?), wayang tak pernah melebihi fungsi asalinya: hiburan rakyat. Dengan bahasa yang lebih akademis: budaya massa. Dan dalam hal ini, ia (wayang) kalah bersaing dengan budaya massa yang lain, dan kemudian gagal lolos dari ujian masa. Mungkin karena formatnya yang kurang menarik, mungkin perangkat sosial-budayanya kurang memadai, atau mungkin juga ada penyebab lain.

Sekali lagi, apa yang disampaikan Mahfud dalam esainya tentang orang-orang kampungnya (termasuk dirinya) yang menganggap bahwa wayang hanya sekadar “hiburan rakyat”, orang kampung saya justru menganggapnya lebih dari itu. Wayang, di kampung saya, selain sebagai hiburan (seni) pertunjukkan, juga berfungsi—dan tentu saja dipercaya sampai sekarang—sebagai pembersihan diri (ruwat) dari ancaman Batara Kala (buto).

***

Saya jelaskan secara ngawur. Ruwat atau ruwatan, menurut tafsir bebas saya, bagi masyarakat Jawa merupakan usaha spiritual (seremonial?), yang dipercaya dapat membebaskan roh-roh jahat yang mengancam atau ngendon pada diri seorang yang dianggap sukerta dan sengkala.

Pengaruh wayang ruwatan terhadap masyarakat modern, setidaknya orang di kampung saya, masih relatif kuat. Barangkali orang-orang kampung saya memandang, bahwa masyarakat dan kebudayaan memang satu kesatuan (yang bagian-bagian dan unsur-unsurnya saling terkait antara satu dengan lainnya—sebagai suatu sistem yang bulat.)

Upacara ruwatan di kampung saya menggunakan wayang sebagai media komunikasi dengan kisah yang menyampaikan pesan-pesan penolak-bala (sial). Orang-orang yang lahir dengan kondisi yang dipercaya (akan) membawa malapetaka (sukerta), harus diruwat: anak tunggal (ontang-anting (laki-laki) dan unting-unting (perempuan)), kedana-kedini (dua bersaudara, laki-laki dan perempuan), uger-uger lawang (dua bersaudara, laki-laki semua),  kembang sepasang (dua bersaudara, perempuan semua), gotong mayit (tiga bersaudara, laki-laki semua),  anak kembar, anak lelaki yang diapit oleh dua anak perempuan dan sebagainya.

Atau ibu-ibu yang menanak nasi di dandang, dan dandangnya roboh, kalau tidak mau menjadi lauk makan siang Batara Kala, harus mengundang Dalang Wiji untuk meruwatnya. (Di desa saya ada satu dalang ruwat, namanya Dalang Wiji. Beberapa kali saya mendapati Dalang Wiji meruwat orang-orang di kampung saya.)

Wayang ruwat mengisahkan Batara Guru yang sedang bercakap-cakap dengan pasangannya (yang saya lupa namanya) sembari mengelilingi samudera dengan naik seekor lembu. Hasrat seksual Batara Guru tiba-tiba muncul. Sialnya, istrinya menolak ajakannya untuk bersetubuh. Penolakan itu membuat sperma (kama) Batara Guru jatuh ke tengah samudera. Sperma itu kemudian berubah dan menjelma menjadi raksasa yang dikenal dengan nama Batara Kala.

Batara Kala tumbuh menjadi mahluk jahat (lihat saja gambaran perawakannya dalam wayang: taringnya panjang atas-bawah, mata besar melotot keluar, hidung besar, rambut panjang bergelombang. Sungguh mengerikan.) Dikisahkan, sifat jahat Batara Kala disebabkan oleh hawa nafsu ayahnya yang tidak terkendali. Batara Kala kerap meminta makanan dengan menu utama manusia kepada Batara Guru. Sebagai orangtua, Batara Guru mengizinkan—walaupun dengan syarat: manusia yang dimakan adalah wong sukerta atau orang yang mendapat kesialan. Dari sinilah asal-usul seseorang yang dianggap terkena sial akan menjadi mangsa Batara Kala. (Masyarakat Jawa percaya jika ancaman Batara Kala tersebut dapat dilepaskan melalui tradisi ruwatan.)

Meskipun demikian, Batara Guru tetap khawatir akan jatuhnya banyak korban, sehingga ia mengutus Dewa Wisnu untuk melawan Batara Kala dengan menyamar sebagai dalang. Dewa Wisnu membacakan mantra-mantra (rajah), ajian-ajian—yang sampai sekarang—hanya dipahami oleh para dalang Kandhabuwana/dalang ruwatan/dalang sejati.

Dalang ruwat berbeda dengan dalang pada umumnya. Hal ini pernah dijelaskan oleh almarhum Ki Manteb Sudarsono (dalang kondang “pancen oye” yang belakangan juga membuat mata almarhum kakek saya berbinar dan dadanya berdebar lebih kencang dari biasanya saat mendengar siaran wayangnya di radio.) Ki Manteb, dalam wawancaranya bersama CNN Indonesia, menyampaikan tiga syarat utama menjadi dalang ruwat. Pertama, harus sudah beristri saat meruwat; kedua, dilarang keras berpoligami; dan ketiga, tidak boleh rujuk dengan mantan istri. (Syarat-syarat itu yang membuat Ki Manteb menikah sampai delapan kali.)

“[Syarat] itu dari kakek ke bapak, dari bapak ke saya. Kalau pakem saya seperti ini, kalau dalang lain bisa saja beda pakem,” kata Ki Manteb kepada CNNIndonesia.com (01/12/19).

Jika hendak meruwat, kata Ki Manteb, ia harus menjalani puasa mutih (berpantangan makanan minuman kecuali air putih dan nasi) selama tiga hari. Ada hari-hari tertentu untuk berpuasa, yakni pada Rabu Pon, Kamis Wage dan Jumat Kliwon. Bila dijumlahkan, jarak antara hari-hari tersebut adalah 40, sehingga berpuasa di tiga hari itu sama dengan berpuasa selama 40 hari.

***

Terlepas dari itu semua, sudah dapat ditebak, saya mengenal cerita wayang, khususnya Mahabarata, nyaris untuk pertama kali, dari cerita-cerita kakek. Dari sini saya lumayan bisa mengenali mana yang termasuk Pandawa, mana yang Kurawa, dan bagaimana dua saudara itu terbentuk kemudian saling berperang.

Selain bercerita, menurut pengakuanya, sebelum mampu membeli radio (setelah punya radio kakek lebih sering mendengar siaran wayang daripada menontonnya secara langsung), ia juga sering mengajak saya untuk menonton pertunjukan wayang kulit di kampung, di acara-acara hajatan tetangga. Tetapi, ingatan saya memang rapuh. Saya hanya mengingat dengan jelas, saat kakek mengajak saya menonton pertunjukan wayang kulit di rumah Mbah Sali—apalagi momen saat saya diberi pisang raja entah oleh siapa. Itu pun saya tak ingat siapa dalangnya dan lakon apa yang dimainkan. Saya hanya ingat, pertunjukan itu dipersembahkan untuk anak Mbah Sali yang baru saja disunat. Saya masih sangat kecil waktu itu, belum sekolah.

Sampai sekarang saya (kadang-kadang) masih menonton wayang di Yutub. Bukan karena ingin melakukan penelitian atau aktivitas akademis semacamnya atau yang lebih gawat: memiliki visi untuk melestariakan kesenian wayang atau yang lebih gawat lagi: menjadikan wayang sebagai falsafah hidup. Tidak. Sama sekali tidak. Saya menonton wayang hanya karena kakek, lebih tepatnya: mengenang almarhum kakek.

Ada masa di mana saya sangat merindukan orangtua itu. Ya, saya satu-satunya cucu yang memiliki banyak kenangan dengannya daripada cucu-cucunya yang lain. Memangnya apa yang saya punya sekarang selain kenangan? Tapi, betul, seperti kata Mumu Aloha, Anda segera setuju, bahwa seandainya memang yang kita punya sekarang tinggal kenangan, itu sudah sangat berharga. Itulah sebabnya manusia era digital sekarang keranjingan berfoto, bahkan sampai muncul istilah selfie—memfoto diri sendiri.

Saya sepakat dengan Mumu Aloha bahwa orang tak ingin kehilangan apa yang pernah dialaminya. Kita pernah di sana, kata Mumu, hari ini berada di sini, besok pergi ke mana, dan semua itu akan berlalu, tertimbun waktu. Tapi, kita tak ingin melupakannya. Kita akan menjadikannya cerita masa lalu. Kita akan mengenangnya, suatu saat nanti. Tidak ada yang abadi. Yang kemarin menjadi kenangan hari ini; hari ini menjadi kenangan esok hari; esok hari akan menjadi hari ini, yang kemudian lewat lagi, dan kita kenang esok harinya lagi.

Kenangan tentang kakek yang (paling) melekat adalah wayang. Maka dari itu saya juga menabung untuk dapat membeli komik gemuk Mahabarata R.A Kosasih dan cerita wayang yang ditulis Seno Gumira Ajidarma: Wisanggeni Sang Buronan dan Drupadi. Sedangkan di Yutub, saya bisa menonton pertunjukan wayang Ki Anom Suroto, Ki Enthus Susmono, Ki Manteb, dan Ki Seno Nugroho, semalam suntuk. Lakon-lakon seperti “Semar Bangun Kayangan”, “Petruk Dadi Ratu”, “Wisanggeni Lair”, “Dewa Ruci”, dan tentu saja epos Mahabarata, sudah kenyang saya lahap.

Tetapi, memang harus saya akui, barangkali Mahfud Ikhwan benar, sekali lagi, wayang tak pernah melebihi fungsi asalinya: hiburan rakyat. Dengan bahasa yang lebih akademis: budaya massa.

Dalang (yang oleh Goenawan Mohamad disebut “pencipta ilusi”, “penyair imajis”) memang tak cuma tampil di depan layar dengan tokoh-tokoh imajinernya. Ia juga di depan orang ramai. Kata GM, dalam Catatan Pinggir-nya tentang Ki Manteb Sudarsono di Majalah Tempo, seorang dalang “perlu showmanship, untuk memikat dalam pertunjukan. Ia juga punya janji dengan pemilik uang dan kekuasaan. Di jaman perdagangan sekarang ia dituntut memasarkan diri dan keseniannya, sebagai komoditi yang asyik.”

Akhirnya banyak dalang (terpaksa) menggadaikan pakem. Ki Timbul Hadi Prayitno (saya tahu dari GM dalam catatan pinggirnya: Dalang) pernah menyindir seorang dalang yang agar selalu ditanggap mengisi pementasannya dengan dagelan berpanjang-panjang, hingga “kirik-kirik sing melu nonton ya kepingkel-pingkel”, “anak-anak anjing yang ikut nonton terpingkal-pingkal”. Ada juga dalang yang mentas dengan mempertontonkan para sindennya berjoget di panggung, sambil memangkas pendek satu fragmen Mahabarata karena takut penontonnya bosan. “Ia mengubah wayang kulit jadi seperti sinetron: mengkilap tanpa membekas,” kata GM.

Sejak dulu, menurut GM, dalang memang dalam posisi yang rapuh. Juga di zaman modern, dalang bukan seniman atau cendekiawan yang mandiri.  Ia harus melayani pesanan si empunya acara yang membayar. Dan dengan begitu, pelan atau cepat, dalang akan berhenti menghidupkan imajinasinya sendiri dan   berhenti dari petualangan kreatif.

Akibatnya, pertunjukan wayang akan kehilangan energi totalnya: hanya jadi cerita yang gampang ditebak; jadi dunia verbal yang yang itu-itu-lagi; jadi narasi yang kehilangan hening. Dan, seperti sabda GM, “klise pun tumbuh seperti benalu  pada karya seni; ia mematikan daya cipta. Klise adalah hasil yang selalu siap mengikuti formula—gampang karena mengulang.”

Sepertinya memang sudah lama dunia pewayangan tak digerakkan daya cipta. Kisah Mahabharata dan Ramayana berubah sekadar jadi potongan-potongan melodrama. Sedangkan kita tahu melodrama tak betah dengan kompleksitas kehidupan.

Akhirnya, cerita-cerita wayang hanya menempatkan para Kurawa dalam pihak yang-jahat-dan-pasti- kalah, dan Pandawa pada posisi sebaliknya. Wayang kulit makin tak berdaya membangun sebuah tragedi. Dan untuk itu, bagi saya pribadi, tanpa mencoba meremehkan para pemujanya, juga falsifikasi atasnya, wayang hanya sekadar tentang kenangan saya bersama kakek. Tak lebih. [T]

Wayang Sinema, Tawaran Menarik Dalam Dunia Pewayangan Kini
Sejarah Panjang Kemunculan Wayang
Libur Hari Jumat
Tags: Dalangjawakisah pewayangansastrawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pokok-pokok Pikiran DPRD Buleleng untuk RKPD 2024: Salah satunya, Penurunan NJOP

Next Post

Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co