19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Libur Hari Jumat

Jaswanto by Jaswanto
March 7, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

AWAL 2000-an, saya pernah merasa sangat jengkel dan iri (dengki) sampai ujung rambut. Sisi antagonis itu seolah memenuhi ruang hati saya yang sempit—dan dengan begitu membuat dada saya terasa sesak.

Sebabnya hanya satu: saya sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) (yang liburnya di hari Jumat.)

Bagi orangtua yang sholeh (tahu agama), hari Jumat, selain dianggap keramat, juga diyakini membawa berbungkus-bungkus keberkahan. (Belakangan saya tahu, dalam kepercayaan Islam, Adam diciptakan, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga, sampai datangnya kiamat, semua itu, terjadi di hari Jumat.)

Tetapi begini, pengetahuan itu gelap bagi seorang anak kelas tiga MI seperti saya. Bagi saya, hari yang diyakini dikabulkannya do’a-do’a itu, justru saya anggap sebagai “kutukan”. Tunggu, jangan emosi dulu! Begini ceritanya–dan ini ada hubungannya dengan teknologi ciptaan orang Skot itu.

Pada akhir ’90-an, Dusun Karang Binangun (dusun tempat ari-ari saya ditanam) heboh karena segelintir warganya mampu membeli penemuan bernama TV (tipi, lidah orang kampung saya menyebut). Di dekat rumah saya, sesamar ingatan, setidaknya ada tiga rumah yang memiliki benda ajaib itu. Rumah pertama memang rumah orang kaya. (Memangnya orang Karang Binangun macam apa yang menganggap kalau Mbah Paji itu orang miskin?). Zaman itu, rumah Mbah Paji–yang besar itu–sudah berlantai semen.

Bagi kami orang tegalan miskin pelosok, rumah tua dengan dinding kayu kokoh dan lantai semen mengkilat itu adalah kemustahilan. (Hanya karena rumah ini orang Karang Binangun terpaksa dan mau membasuh kakinya yang busuk dan pecah-pecah dan memakai terompah.) Dan rumah ini semakin membuat iler kami dlewer sampai lutut setelah benda kotak berisi macam-macam itu nongkrong, bertengger dengan gagah, mewah, angkuh, menantang, di meja tua di ujung ruang tamunya.

Tetapi Mak Resmi bukan orang kaya. Tapi kenyataannya rumahnyalah yang akan saya sebut selanjutnya. Ia dan suaminya berprofesi sebagai buruh migran di kota (yang tak jelas saya ketahui tepatnya di mana). Dan oleh karena itu, ia bisa sedikit mendongakkan kepala karena mampu menaruh TV di rumahnya yang berlantai tanah merah dengan seumbruk rayap di sudut-sudutnya. Sedangkan rumah ketiga, penemuan abad ke-20 yang oleh Mahfud Ikhwan dibilang “penemuan paling disesali ini” mendarat mulus di rumah pemiliki warung kelontong serba ada: Mbah Is.

Dan benar. Karena teknologi inilah, saya menjadi jengkel dan dengki kepada teman-teman saya yang sekolah di sekolah negeri (yang libur di hari Minggu.)

Selanjutnya, layar TV, dalam bilik memori saya, adalah TV milik Sholeh, milik Pak Towi, milik Mbok Kur, milik Mak Mi, dst..

***

Semenjak TV masuk kampung kami, (hampir) setiap malam kampung selalu rame. Anak-anak kecil yang sebelumnya segera ngumpet di balik punggung ibunya sejak sandikala, hampir pukul 9 masih asyik bergerombol bersama biang-biangnya di depan benda menyala dengan dunia mungil di dalamnya itu.

Dengan begitu, secara otomatis, beberapa anak menjadi (sangat) berani pada malam hari. Seolah hantu yang ngendog di gerumbul-gerumbul sintru, di atas pohon kelapa, di pojok jamban tua Mbah Siyan, di bekas rumah pasung Mbah Pasih, dalam bayangan saya, lenyap dengan ratapan yang menyedihkan. (Jika memang benar sungguh malang hantu-hantu itu.)

Ya, siapa yang tahan untuk tidak ikut nimbrung–dan rasan-rasan tetangga–sambil menonton sinetron kolosal macam ‘Tutur Tinular’, ‘Misteri Gunung Merapi’, atau film-film Barry Prima (Jaka Sembung dan Dewi Samudra, Prabu Anglingdarma II: Pemberontakan Batik Madrim,  Tarzan Raja Rimba dst..) atau film impor dari India, Mandarin, hingga Amerika itu secara gratis. (Mengenai film India saya sarankan Anda untuk membaca tulisan-tulisan Mahfud Ikhwan di blog pribadinya yang sangat “nehi”: dushman duniya ka atau di dalam bukunya Aku dan Film India Melawan Dunia [1 dan 2].)

Sebelum TV masuk kampung kami, kata bapak, beberapa orang bahkan nekat jalan kaki dari Karang Binangun, lewat pematang, nyeberang kali jobak (yang tidak ada jembatannya dan terkenal mitos Nyi Blorongnya itu), tembus SDN Margorejo, lurus ke timur menuju lapangan Margomulyo hanya untuk menonton film Barry Prima di layar tancap–itupun bayar. (Baru membayangkannya saja saya sudah dehidrasi.)

Sedangkan TV, yang menyediakan film-film dari yang ketengan sampai yang kutangan, penonton tanpa dipungut biaya seringgit pun.

Waktu itu, sudah barang pasti TV menjadi hiburan berkelas–dan penting–bagi kampung yang penuh stereotipe seperti Karang Binangun. Pasalnya, selain radio, wayang, ketoprak dan ludruk, hiburan kampung yang terisolasi ini hanya tayuban (dengan bintang sindirnya (penari) yang fenomenal, Endang Mursiah─rockstar tayub tahun ’90an—yang kemudian dilanjutkan oleh generasi selanjutnya: Wantikah, Yaya, dan Barsih.). “Budaya massa yang bagi kalangan Islam modernis dijadikan sebagai anasir yang mesti disingkirkan,” kata Mahdud Ikhwan.

Belum selesai dengan euforia  televisi, Karang Binangun kebanjiran teknologi bernama Digital Video Disc (DVD). Berkeping-keping cakram padat (CD) berisi film, lagu dangdut koplo, pop Melayu, ceramah agama (pengajian), langen tayub, banyolan Cak Supali dkk, dan pelawak Kirun dan Bagio.

Di Pasar Sapi (hewan) Kerek (yang menurut bisik-bisik juga dipakai sebagai tempat prostitusi pinggiran pematang sawah), setiap hari Senin, Anda akan dengan mudah mendapatkan kaset-kaset (orang kampung saya menyebut) bajakan lagu-lagu pop Melayu, film, hingga lagu dangdut koplo Pantura dari Om Palapa, Monata, hingga Sera seharga nasi pecel lengkap dengan paha ayam dan telur dadar.

TV, bukan hanya orang dewasa, anak-anak kecil juga tersihir oleh teknologi yang sampai hari ini masih kami bingungkan itu.

Dan Mahfud Ikhwan benar, bahwa televisi adalah bioskop, taman kota, pasar malam, kebun binatang, dan nyaris apa pun hal menyenangkan yang berhak didapatkan oleh seorang anak kecil. Bahkan, kata Mahfud, nyinyiran Neil Postman tentang televisi yang menganggap, untuk tradisi literasi, televisi gunanya hanya dua, yaitu jadi lampu cadangan jika lampu belajarmu mati dan jadi rak tambahan jika rak bukumu penuh, tak kuasa membuat anak-anak Karang Binangun membenci televisi.

Hari-hari anak Karang Binangun semakin berwarna setelah film-film kartun (kebanyakan dari Jepang dan Amerika) menghiasi layar kaca awal 2000-an. Sekali lagi, seperti kata Mahfud, Postman, orang Amerika nyinyir itu, pasti tak tahu apa-apa tentang hubungan rumit seorang bocah dengan benda yang sangat dibutuhkannya namun tak pernah berani dipikirkan untuk termiliki itu.

Film-film kartun juga jagoan seperti Satria Baja Hitam, Ultramen, film-film kungfu Jackie Chan, Bruce Lee, dan film-film Mandarin ketengan lainnya, termasuk film absurd Stephen Chow, kami lahap dengan mata berbinar. (Saya tahu film-film Hollywood busuk dan kungfu Hongkong ketengan dari Pakde Ngatim.)

Tetapi, yang bikin ngenes, hiburan yang selalu berasosiasi dengan frasa atau kata “kesempatan langka”, “mumpung”, “selagi nonton”, itu, hampir selalu diputar pada hari Minggu pagi.

Saya yang sekolah di sekolah NU sejak MI hingga MA selalu mendapat libur hari Jumat. Tapi libur Jumat tak pernah terasa benar-benar libur. Itulah kenapa, dulu saya selalu memendam iri dan jenggel kepada teman-teman yang sekolah negeri yang menikmati libur Minggu yang total dan lapang.

Dan ini yang membuat harga diri saya menjadi gedibal, saya selalu mendapat bully karena tak pernah menonton film anak yang diputar di hari Minggu. Teman-teman saya menganggap saya ketinggalan zaman.

Begitulah ceritanya, TV, dan pengalaman bersamanya, separoh kenangan saya di masa kecil adalah film-film yang terpotong, tak diketahui ending-nya. Dan itu, karena saya libur di hari Jumat—yang bagi orangtua yang sholeh (tahu agama), dianggap keramat, juga diyakini membawa berbungkus-bungkus keberkahan. [T]

Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia
Dari Puisi, Riki Dhamparan Putra Berdiang di Perapian Buya Syafii
Cerita Kecil dari Liburan di Bondowoso: Dari Bukit Arak-arak Hingga Situs Glingseran
Tags: bioskopfilmfilm kartuntelevisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Purnami dan Diva, Siswi SMPN 3 Sukasada, Juara Olimpiade Tingkat Nasional – Berawal dari Medsos

Next Post

Bawaslu dan Pers Sama-sama Berperan dalam Pengawasan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails
Next Post
Bawaslu dan Pers Sama-sama Berperan dalam Pengawasan

Bawaslu dan Pers Sama-sama Berperan dalam Pengawasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co