2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Kecil dari Liburan di Bondowoso: Dari Bukit Arak-arak Hingga Situs Glingseran

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
April 3, 2019
in Tualang
Cerita Kecil dari Liburan di Bondowoso: Dari Bukit Arak-arak Hingga Situs Glingseran

Pesona alam Bukit Arak-Arak, Bondowoso (Dokumentasi: Mochamad Rifa’i)

Baru kusadari. Ternyata saya punya tempat untuk bercerita. Mencurahkan isi hatiku. Berbagi pengalaman, berbagi kesederhanaan. Semua saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Salah satunya tulisan amatiranku ini. Entah kapan saya mulai tertarik dengan dunia menulis. Dan terkadang saya bingung. Saya suka menulis tapi tidak tahu dimana genre menulisku. Kemudian setelah saya membaca salah satu buku yang ku pinjam dari teman tetangga kost, saya mempunyai gairah untuk menulis.

Buku itu berjudul “TE-WE (Travel Writer)” karya Gol A Gong. Buku yang sederhana, namun mampu membawa pembaca mengikuti alur cerita. Seakan pembaca perlahan digiring bagaimana mudahnya untuk menulis. Tidak usah bingung-bingung, ketika kamu berpergian itupun bisa kamu ceritakan dalam bentuk tulisan. Luar biasa. Sangat mudah bukan? Itu yang bisa saya petik dari buku itu.

Itulah salah satu alasan kenapa saya tertarik menceritakan perjalananku di liburan Nyepi yaitu Kamis, 8 Maret 2019.

Ini adalah kali ketiga saya merasakan suasana Nyepi selama tinggal di Bali. Bagiku itu adalah pengalaman yang luar biasa, karena dapat merasakan dan menikmati suasana Nyepi. Namun Nyepi kali ini saya memilih untuk meninggalkan Bali sejenak. Bukan karena saya terasa kesepian, yang jelas karena ada suatu alasan.

Dua hari sebelum menjelang Nyepi, saya dan beberapa temanku memutuskan untuk melakukan perjalanan ke sebuah kota yang ada di Jawa Timur. Tepatnya di kota Bodowoso. Selasa, sekitar pukul 17.00 WITA, saya, Jaswanto, dan Zainul Fikri, Alaudin, Achmad Chalim, dan Faruq Hasan berangkat menuju pelabuhan Gilimanuk. Mereka semua berpasang-pasangan kecuali saya dan Faruq menyetir motor sendiri.

Beberapa jam kemudian kami memutuskan untuk makan malam di warteg dekat pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Nasi pecel dicampur sambel lalapan. Nikmat sekali. Setelah makan malam, kami berpisah dengan ketiga teman yaitu Achmad Chalim, Alaudin, dan Faruq. Mereka memang bertujuan untuk pulang ke Banyuwangi. Sedangkan saya, Zainul Fikri, dan Jaswanto melanjutkan perjalanan kami menuju Bondowoso.

            Malam itu pengalaman pertamaku menyusuri jalan di sepanjang Alas Baluran. Sangat panjang ternyata. Namun saya tidak tahu persis berapa panjangnya, sebab saya tak pernah mengukurnya. Hahaha.

            Sepanjang perjalanan itu kami saling bergantian nyetir. Apabila salah satu dari kami bertiga merasa lelah, maka kami mau tidak mau harus ganti posisi nyetir motornya. Memang itu sudah kesepakatan kami di awal.  

Apa yang kamu pikirkan jika mendengar kota Bondowoso? Tape Bondowoso? Ya, benar sekali. Namun selain terkenal dengan kota tape, Bondowos juga memiliki segudang cerita tentunya. Penasaran? Baca tulisan ini sampai tuntas!

Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso adalah tujuan kami. Saya menghela nafas panjang. Karena Jaswanto mengatakan bahwa rumah Taufik sudah dekat lagi. Karena saya sudah tidak sabar untuk meluruskan badanku. Masak badan diluruskan? Apalah itu namanya, saya kira kamu tahu maksdunya. Pantatku panas. Saya juga sudah benar-benar tidak bisa menahan mataku. Seakan terdapat lem yang merekat.

Iya, itulah alasanku pergi ke Bondowoso. Yaitu bersilaturahmi ke rumah Taufik tetangga kostku.

Sepanjang perjalanan menuju kampung, banyak terdapat pemakaman. Itu hal biasa. Justru yang membuatku bertanya-tanya, mengapa banyak orang malam-malam di kuburan? Itu saya temui tidak hanya dalam satu tempat saja. Kalau tidak salah sekitar tiga pemakaman terdapat orang-orang berkumpul dan terdapat lampu sebagai penerangnya. Ada apakah itu?

Rabu, sekitar pukul 02.00 WIB, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kedatangan kami disambut hangat oleh keluarga Taufik. Kami dipersilahkan untuk masuk. Bersalaman sekaligus berkenalan dengan keluarga baru. Ada mbak Titin kakak perempuan, dan ada Cak Yasit suami mbak Titin, jadi sebagai kakak iparnya Taufik.

Kami berbincang-bincang sejenak sembari menunggu Taufik pulang. Kemudian saya bertanya kepada mbak Titin, “kemana Taufik pergi, Mbak?”

Mbak Titin menjawab, “Oh… anu, ada tetangga habis meninggal dan Taufik sepertinya sedang di kuburan sekarang, Dik”

“Baru dikuburkan sekarang Mbak?” Zainul Fikri menimbrung.

 “Ndak… kemarin, cuma orang sini kalau ada orang meninggal kuburannya harus dijagain sampai lima belas hari,” mbak Titin menjelaskan.

Okkay fix, saya sekarang paham. Jadi saya dapat menyimpulkan bahwa sepanjang perjalanan memasuki kampung ini terdapat banyak orang di pemakaman, ternyata mereka sedang menjaga kuburan tersebut. Itu pertanda bahwa ada orang yang baru meninggal.

Kepercayaan warga setempat bahwa jika orang yang baru meninggal lalu dikuburkan, kemudian jika kuburannya tidak dijagain hingga lima belas hari akan terjadi sesuatu pada kuburan tersebut. Sebuah makhluk halus bernama godong akan mencari dan menggali kuburan jenazah yang baru dikuburkan sebelum lewat limabelas hari. Katanya makhluk tersebut sejenis hewan setengah manusia. Ah, agak sedikit susah dijelaskan.

Namun warga sekitar menyakini bahwa mahkluk tersebut benar adanya, dan sukanya mencari jenazah yang baru dikuburkan sebelum lewat limabelas hari. Oleh sebab itu, orang-orang bersedia menjaga menjaga kuburan malam-malam sampai lima belas hari. Bahkan beberapa orang tersebut ada yang dibayar oleh keluarga yang bersangkutan, tapi tidak tahu berapa. Yang jelas penjaga kuburan limabelas hari ini tidak gratis. Mungkin barangkali juga ada yang ikhlas membantu tanpa harus dibayar.

Tak lama kemudian Taufik datang bersama seorang teman. Kehebohan pun terjadi. Padahal kalau tidak salah hari itu sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Kami berbincang-bincang ngalor ngidul. Tapi saya sudah tak sanggup lagi melawan kantukku. Ku putuskan untuk berbaring dan kemudian tidur.

Saya tidur sangat nyenyak, begitupun teman-teman yang lain. Ternyata setelah ku lirik jam di gawaiku jam menunjukkan sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Sontak saya terbangun.

Saya merasakan suasana desa yang benar-benar masih alami. Suara kicau  burung dipagi hari, sumur yang masih tradisional, kran air yang masih agak langka kebanyakan hanya di masjid saya menemukan banyak kran air. Sisanya hanya warga tertentu yang memiliki kran air sendiri. Selain itu masih banyak orang-orang yang mencuci baju di sungai, mandi di sungai, bahkan orang sekitar masih jarang yang memiliki kamar mandi di dalam. Mereka masih banyak menggunakan jamban. Benar-benar masih suasana desa. Ini mengingatkanku pada jaman sebelum saya sekolah TK dulu.


Bukit Arak-Arak, memiliki udara yang sejuk dengan pemandangan yang sangat indah. (Dokumentasi: Mochamad Rifa’i)

Dan yang paling saya suka dari desa ini adalah udaranya. Sejuk. Karena desa ini terbilang daerah pegunungan. Ya, seperti ala-ala Bedugul gitu. Hehehe. Tapi benar, kok, udaranya sangat sejuk. Bahkan matahari jarang menampakkan diri.

Tak hanya itu saja. Ternyata di desa Glingseran ini terdapat sesuatu yang luar biasa. Sebuah peninggalan sejarah, yaitu sarkofagus terpampang nyata di desa ini. Bahkan tempat ini dijaga oleh juru pelihara Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.

Untuk menuju ke sana harus jalan kaki melewati sebuah ladang-ladang sekitar lebih kurang 200 meter. Karena memang peninggalan sejarah ini terdapat di tengah ladang masyarakat.

Benar. Sebuah situs sarkofagus dari peninggalan jaman megalitikhum terdapat di Desa Glingseran. Kami memasuki ladang jagung. Batu-batu tersebut terdapat di tengah ladang jagung. Karena pas kami berkunjung di sana, warga sekitar lagi musim menanam jagung.

Batu petama terlihat setengah permukaan saja. Masih belum memperlihatkan ciri-ciri peninggalan sejarah. Hanya terlihat seperti bongkahan batu besar hitam yang sudah lapuk dimakan usia.


Sarkofagus yang pertama yang terdapat tidak jauh dari jalan akses menuju ke Situs Bersejarah Glingseran (Dokumentasi: Taufikur Rahman)

Baru setelah beberapa meter dari batu pertama terdapat batu yang besar. Panjangnya sekitar 3 meteran. Batu yang kedua ini sepertinya terbelah. Karena terlihat kedua sisi batu ditengahnya terdapat jarak yang sedikit terpisah. Namun dalam batu itu dalamnya terdapat seperti bidang ruang. Sarkofagus ini fungsinya sebagai keranda yang terbuat dari batu besar berbentuk lesung atau palung yang terdapat tutup di atasnya.

Saya membayangkan, orang jaman dulu ternyata sudah memiliki pemikiran dan teknologi yang hebat. Bayangkan saja, peralatan apa yang mereka gunakan untuk memahat batu sebesar itu? Hebat bukan? Jelas, luar biasa.

Menginjak batu yang ketiga. Hampir sama bentuknya. Seperti batu yang ke dua. Namun batu yang ketiga ini ukurannya yang agak sedikit kecil dibandingkan batu yang kedua. Dari ketiga batu tersebut yang memiliki ukuran paling kecil adalah batu yang pertama.


Zainul Fikri mengabadikan momen di Sarkofagus yang kedua (Dokumentasi: Taufikur Rahman)

Jadi, dari batu-batu inilah saya bisa menemukan hal baru. Bahwa Indonesia kaya akan sejarah. Tapi sayang, ketika kami ke sana tidak terdapat sebuah papan informasi yang menandakan tulisan singkat batu ini. Namun kata salah satu teman kami asal Desa Glingseran, dulunya pernah terdapat papan informmasi yang berisikan deskripsi dari masung-masing batu. Namun kini sudah tidak ada jejaknya. Rusak ataukah bagaimana, ia mengatakan juga kurang tahu.

  Kabupaten Bondowoso menjadikan Desa Glingseran sebagi objek tujuan wisata sejarah purbakala. Meskipun mengandalkan situs sejarah sarkofagus sebagai daya tarik wisata, pada kenyataanya pemerintah setempat masih kurang memerhatikan akses jalan menuju ke tempat tersebut.

Situs ini sangat cocok sebagai sarana edukasi. Selain itu bagi anak Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) sangat cocok sebagai objek tujuan jelajah. Karena melewati ladang-ladang yang berundak. Penasaran dan tertantang ingin tahu seperti apa situs sejarahnya? Datang langsung ke Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso. [T]

Tags: alamBondowosojawaJawa TimurPariwisata
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Tubuh

Next Post

12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

Mochamad Rifa’i

Mochamad Rifa’i

Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co