13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 4, 2019
in Esai
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

Foto-foto: repro/istimewa

Ada 12 naskah drama yang ditulis Bung Karno di Ende-Flores (serta seluruhnya pernah dipentaskan di Ende-Flores) dan beberapa naskah drama yang ditulis di Bengkulu. Naskah-naskah itu seakan lenyap di  tengah kemasyuran SOEKARNO sebagai orator dan pengerak revolusi, pendiri dan proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Soekarno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia), pada 4 Juni 1927. Tujuan partai: Mendirikan Negara

Indonesia Merdeka. Akibatnya: Ia ditangkap 9 Desember 1929.

Setelah dipenjara sekitar 8 bulan, Bung Karno (BK) baru diadili, tepatnya tanggal 18 Agustus 1930. BK dikenai pasal Haatzaai Artikelen pasal 169, 161, 171 dan 153 KUHP. PNI dinyatakan sebagai partai terlarang.

Bebas dari penjara 31 Desember 1931, BK terpilih dengan suara bulat 28 Juli 1928 sebagai ketua Partindo.

Aktivitas politiknya dinilai semakin membahayakan penjajah, BK kembali ditangkap pada 1 Agustus 1933, tanpa diadili, dibuang ke Ende, Flores.

DI ENDE BERJUANG LEWAT TEATER

Masa pengasingan di Ende (14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938), BK didampingi istrinya, Inggit Gunarsih, mertuanya, Amsih, anak angkatnya, Ratna Juami dan guru dari anak angkatnya, Asmara Hadi. Mereka menempati sebuah rumah sederhana di sebuah sudut Kota Ende.

Sekarang rumah kediaman Bung Karno telah dijadikan situs sejarah. Lokasinya di Jalan Perwira Ende, berukuran 12 X 9 meter, di depannya tertulis: ‘Situs, Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende’. Masih terjejak banyak kenangan di sana: Dipan, korsi, meja dan beberapa perabotan rumah tangga semasa BK di sana masih disimpan disana.

Periode pembuangan dan pengucilan politik, seperti diakui Bung Karno dalam biografinya, sebagai periode “pergolakan intelektual” dan “pergolakan spiritual” yang sangat penting.

“Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism”, adalah sebuah tulisan paling menarik untuk memahami gelora muda Bung Karno, ditulis tahun 1926 (dalam kumpulan dua jilid, 630 halaman, “Dibawah Bendera Revolusi”). Di Ende, kota kecil indah bersahaja itu, butir-butir tersebut direnungkan kembali dengan kedalam suasana hening-keterasingan.

Jika berkunjung ke Ende, silahkan tanyakan di mana letak Pohon Sukun, pohon tropis berdaun belah lima, tempat Soekarno merenung. Semua penduduk Ende akan memberitahu tempatnya. Dari titik itu tampak Pelabuhan Ende. Di sanalah diakui BK sebagai ground zero perumusan Pancasila. Warga kota Ende bilang ada kaitan antara lima jari daun pohon Sukun dengan jumlah sila dari Pancasila, sama-sama lima. Di sudut kota itu, pusaran pemikiran tersebut dipercaya terrumuskan menjadi butir-butir Pancasila.

Darah seni Soekarno berdenyut di Ende. Di rumah Soekarno, hingga kini terpajang lukisan Soekarno. Sebuah lukisan berwarna lembut, warna tanah dan warna coklat kayu, ada sosok 3 pemuda bertelanjang dada sembahyang, layaknya pemeluk Hindu Bali, menghadap sebuah altar sembahyang. Sebuah lukisan yang sunyi, sudut hening di depan altar dewa.

Selama di Ende, Soekarno membuat kamar khusus untuk merenung. Sekarang di rumah itu, di salah satu bilik belakangnya, pada kusennya bagian atas tertulis: Kamar Semedi. Di ruang semadi (renungan dan meditasi) itulah diceritakan oleh penduduk sekitarnya sebagai tempat Bung Karno merenung dan bersemadi memasuki kedalaman bathin.

Dalam biografinya, Bung Karno mengakui dalam renungannya di Ende, BK melihat “Brahma, Wisnu, dan Siwa” manunggal.

Rumah yang ditempati beliau itu disewa dari penduduk setempat, selain ditambahi sebuah kamar semadi, BK juga membangun dapur dan kamar kecil di bagian belakangnya. Ada pula sumur di belakang rumah tersebut, biasanya setiap “peziarah” akan mengambil air di sumur tersebut untuk dibasuhkan, mengenang bahwa BK selama 4 tahun (1934-1938) hidup dari air sumur itu.

Di bawah tekanan dan pengawasan Belanda, Bung Karno sempat sangat tertekan dan goyang. Dalam situasi tertekan itulah, tepatnya pada tahun 1934, BK membentuk grup tonil alias teater alias group sandiwara, bernama: TONEEL KLUB KELIMUTU. Nama itu sudah tentu berasal dari nama danau 3 warna yang juga terletak di Kabupaten Ende, Danau Kelimutu. Inilah bagian terindah yang secara mendalam dikenang beberapa warga kota ini: BK menjadi sutradara dan penulis naskah teater selama pengasingan di Ende.

Bung Karno bercerita tentang proses latihan Klub Kelimutu, sebagai berikut:

“Kami hanya mempunyai satu naskah. Karena itu, aku membacakan setiap peran dan para pemainku yang bermain secara sukarela mengingatnya dengan mengulang-ulang. Kalau orang dalam keadaan kecewa, betapapun besarnya rintangan akan dapat disingkirkannya. Inilah salah satu napas kehidupanku. Aku harus menjaganya supaya ia hidup terus.

“Kalau salah seorang tidak dapat memainkan perannya dengan baik, aku melatihnya sampai jauh malam. Aku malahan berbaring berkali-kali di lantai untuk memberi contoh kepada ALI PAMBE, seorang montir mobil, bagaimana memerankan dengan baik seorang yang mati.”

Setiap naskah butuh 40 hari latihan. Teater yang dipimpin BK ini biasanya menggelar pertunjukan di Gedung Imakulata milik Paroki Katedral Ende.

Pastor HUIJTINK SVD, misionaris serta teman diskusi Bung Karno, yang memberi izin penggunaan fasilitas milik Gereja Katolik itu. Juga kursi, bangku, hingga listrik. Uskup Ende menyumbang cat. Karcis dicetak oleh PERCETAKAN ARNOLDUS milik para pastor dan bruder SVD (SOCIETAS VERBI DIVINI).

Riwu Ga alias Riwu Sabu adalah salah satu anggota Toneel Klub Kelimutu serta pelayan setia Bung Karno semasa pembuangan di Flores. Kepada PETER A. ROHI, wartawan senior

asal Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, Riwu Ga (almarhum) suatu hari bercerita sedikit tentang teater pimpinan Bung Karno ini:

“Bung Karno sebagai direktur Toneel Klub Kelimutu. Pendampingnya IBRAHIM H OEMAR SYAH dan DARHAM OTTAH. Di samping orang-orang dari berbagai suku di Nusa Tenggara Timur, ada orang Jawa seperti Atmosudirdjo dan Suminem, istrinya, school opziner Aburtidjo dan seorang guru schakel school bernama Wasirin. Bung Karno juga berhasil menggodok orang-orang Tionghoa menjadi muridnya, antara lain Go Djun Pio, Jo Ho Siu, dan Liek Sin Tek.

“Pak Atmosudirdjo dan istrinya sangat dekat dengan Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasi (istrinya). Dengan demikian, ia juga menjadi adik angkat Ratna Djuami (Omi). Pak Atmo bekerja sebagai mantri ukur di Flores. Jalan di sini belum diaspal. Mobil sedikit, di antaranya beberapa buah milik Silalahi.

“Para pemain tonil terdiri atas berbagai profesi. Ada sopir macam Ali Pambe. Pembantu rumah tangga. Anak sekolah. Bung Karno terpaksa mengajari kami macam-macam untuk bisa menghafal peran masing-masing. Mulai cara mengeja bahasa sampai akting. Perempuan yang ada di klub tidak ikut main. Mereka cuma menyediakan perlengkapan atau tampil di bagian selingan sebagai penyanyi dan penari.

“Biasanya, setiap Ahad, terutama usai latihan atau pementasan, Bung Karno bersama rombongan Teater Kelimutu piknik di luar kota. Wolowona, sekitar lima kilometer dari Ende, adalah tempat favorit mereka. Di sepanjang jalan Bung Karno mengajak mereka menyanyi gembira. Lagunya antara lain NONA MANIS serta lagu-lagu keroncong diiringi ukulele dan cuk”.

PERSONIL TONEEL KLUB KELIMUTU

Pendiri : Ir Soekarno

Sutradara: Ir Soekarno

Penulis naskah : Ir Soekarno

Pementasan : 1934-1938

Anggota:

1. Ibrahim H Umar Sjah         

2. Darham Ottah        

3. Ruslan Ottah          

4. Djae H Mochtar                 

5. Abdul H Adjhar                 

6. Ahmad Polindih                 

7. Madu Rodja                       

8. Pranoto       

9. Atmosudirdjo         

10. Umar Gani           

11. Djae Bara 

12. Nganda Gande                 

13. Djae Gande                      

14. Ali Pambe            

15. Wahab Tandjo Palembang

16. Siku Wasim          

17. Wahit Djari

18. Weru Karara

19. Mansor Saripin     

20. Musa H Umar Sjah          

21. Prangga Kora

22. Ja Ali Ibrahim

23. Go Djun Pio

24. Awu Rodja

25. Jo Ho Siu

26. Alias Batawi

27. Molo Take

28. Wasim Palembang

29. Djafar Penatu        45. Imam

30. Riwu Sabu alias Riwu Ga

31. Lodo Nigi

32. Ndoa Wandu

33. Djamaludin

34. Baa Bahron

35. Da’man

36. Ibu Atmo

37. Ibu Pranoto

38. Suminem

39. Tin Mugda

40. Anang

41. Hamid Anang

42. Abdurrahman Anang

43. Abdurrahman Wani

44. Abdurrahman

45. Imam

DUA BELAS (12) NASKAH DRAMA BUNG KARNO

Ada 12 naskah drama yang ditulis Bung Karno di Ende-Flores (serta keseluruhnya pernah dipentaskan di Ende-Flores) dan beberapa naskah drama yang ditulis di Bengkulu. Naskah-naskah itu seakan lenyap di tengah kemasyuran SOEKARNO sebagai orator dan pengerak revolusi, pendiri dan proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam rak Rumah Bung Karno di Ende, sampai kini, kita melihat bentuk photocopy naskah drama tersebut. Konon, pihak keluarga telah mengambil “aslinya”. Dari para anggota teater Bung Karno di Ende, diketahui naskah drama yang ditulis Bung Karno selama di Ende berjumlah 12 judul, yaitu:

KUTKUTBI

RAHASIA KELIMUTU

AERO DINAMIT

DOKTER SYAITAN

ANAK HARAM JADAH

MAHA IBLIS

AMOEK

SANGHAI RUMBA

GERA ENDE

INDONESIA 1945

RENDO

JULA GUBI

Setelah pembuangan di Ende (14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938), BK dibuang kembali ke Bengkulu, juga selama empat tahun. Di sanalah ia menikahi Fatwamati (1943) yang memberinya lima orang anak; Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputri.

Selama di Bengkulu BK juga membangun kelompok teater. Naskah-naskah yang dimainkan di Bengkulu sebagian dari naskah Ende, tapi ada beberapa naskah baru yang dimainkan di Bengkulu (1938-1942).

Adapun naskah drama karya Bung Karno yang ditulis di Bengkulu, sebagai berikut:

RAINBOW (Poetri kentjana Boelan),

CHUNGKING-DJAKARTA, SI KECIL (Kleine Duimpje),

HANTOE GOENOENG BEONGKEOK

Pada kurun masa itu, konon kabarnya, ada kelompok tonil lain yang terkenal bernama Dardanella, namun naskah mereka tidak seperti naskah-naskah BK; naskah drama Bung Karno dengan sangat sublime menyulut “gerakan pemberontakan”. Seperti diceritakan beberapa anggota tonil yang diasuh dan dipimpin BK, lewat kelompok tonil Bung Karno senantiasa membangkitkan “semangat pembangkangan” terhadap Belanda.

Ada yang menarik tentang penulisan naskah drama INDONESIA 1945. Konon kabarnya ditulis Bung Karno atas pesanan Tuan NATHAN, orang Filipina yang memimpin sandiwara keliling. Drama ini berisi ramalan akan tiba saatnya bangsa Asia bangkit dan memberontak terhadap penjajah kulit putih.

Naskah “Indonesia 1945”, telah menjadi kenyataan: Indonesia merdeka tahun 1945, dan diproklamasikan oleh penulis naskah drama sendiri.

DOKTER SYAITAN ALIAS FRANKENSTEIN

Naskah drama yang berjudul DOKTER SYAITAN, yang ditulis Bung Karno pada 1936, dikabarkan sebagai pementasan yang cukup terkenal kala itu.

Naskah ini berkisah tentang dr Marzuki (peran utamanya) yang mampu menghidupkan orang mati.

Kenapa ada dokter penghidup mayat?

Menurut Bung Karno, naskah ini diilhami oleh Frankenstein, peran utamanya adalah dr Marzuki, seorang Boris Karloff ala Indonesia, yang menghidupkan mayat dengan melakukan transplantasi hati dari orang yang hidup.

Seperti yang dituturkan Bung Karno pada Cindy Adams, pesan moral di balik naskah tersebut adalah: “Tubuh Indonesia yang sudah tidak bernyawa dapat bangkit dan hidup lagi”, bangsa Indonesia akan bangkit dari tidur panjang masa penjajahan.

Dalam Dokter Sjaitan, adegan transplantasi hati dari orang yang hidup menjadi metafora kunci yang sangat menarik. Kita bertanya-tanya apa yang dipikirkan penonton kala itu tentang sebuah transplantasi? Terpikirkah oleh mereka bahwa BK sedang memberi sebuah himbauan “kebangkitan bangsa”?

Sampai kini, adegan transplantasi hati dari orang yang hidup ini masih relevan untuk “dibaca kembali”: Kita telah masuk dalam era (yang kita sebut) kemerdekaan, tapi benarkah kita sudah sepenuhnya siuman?

Kata Bung Karno, “Neokolonialisme menjangkiti negeri ini”.

Bung Karno berulangkali menyebut neokolonialisme dalam pidato-pidatonya. Neokolonialisme, semacam menjadi wabah dan penyakit sosial, yang membuat tubuh bangsa meredup dan meregang nyawa; perlu “dokter” pembangkit gelora dan api kebangsaan.

Jika kita hubungkan keberadaan naskah tersebut dengan kedekatan Bung Karno dengan Dr Tjipto, seorang dokter dan tokoh gerakan kebangsaan yang telah memberi teladan penting dalam perjuangan Bung Karno; bisa jadi tokoh dokter Marzuki dalam naskah itu sebuah “gambaran” teaterikal dari seorang “dokter kebangsaan” Dr Tjipto. Entah kebetulan atau tidak, nama lengkap Dr Tjipto adalah Tjipto Mangoenkoesoemo yang menandung arti “kebangkitan jiwa”. Tjipto berarti pikiran, cipta; Mangoen berarti bangun, bangkit; dan Koesoemo berarti bunga atau kemuliaan jiwa.

Tentang hubungannya dengan Dokter Tjipto, ada sebuah peristiwa penting yang terus dikenang Bung Karno. Suatu hari, sebelum berangkat (dipenjara) Dr Tjipto Mangoenkoesoemo berkirim surat kepada Soekarno, isinya meminta agar: “Bertekun untuk berkorban, berkorban, dan berkorban bagi Indonesia!”

Kata-kata itu terus bergelora di hati Bung Karno, dapat kita jumpai dan rasakan getarnya dalam pidato-pidato dan tulisan-tulisan politik beliau. Demikian juga naskah-naskah drama karya Bung Karno. Getar “amarah” dan gelora bisa kita tangkap dari judul naskah-naskah yang ditulis BK: AMOEK, MAHA IBLIS, AERO DINAMIT, DOKTER SYAITAN, dan ANAK HARAM JADAH.

Di tengah era kemerdekaan, periode pembuangan dan pergulatan BK dalam teater di Ende dan Bengkulu seakan terlupakan begitu saja. Dalam kontek sejarah kebangsaan, periode pembuangan para pendiri bangsa adalah pilar-pilar maha penting pembentukan negara yang sekarang kita kenal sebagai Republik Indonesia.

Dari perjalanan intelektual dan pergulatan dengan dunia kesenian yang dilakoni Soekarno di masa pembuangan tersebut, kita belajar bahwa kesenian, politik dan perjuangan kebangsaan tidak terpisahkan. Politik dan seni saling menggenapi. Dalam seni ada perjuangan.

Di tengah ketertindasan penjajahan Belanda, dalam suasana larangan dan kebuntuan pergerakan, Soekarno memilih jalan teater untuk berbicara pada rakyat dan menjalin akar dan ikatan kekeluargaan. Bung Karno mengakui kesenianlah yang membuat beliau keluar dari tekanan kehidupan politik. Kebuntuan politik bisa diterobos lewat jalan tembus bernama kesenian.

“Jas Merah,” amanat Bung Karno. Jangan sekali-kali melupakan sejarah; termasuk kehidupan berkesenian Bung Karno dimasa pembuangan.

Jika pidato dan tulisan-tulisan Bung Karno disadari sebagai bagian-bagian terpenting dalam sejarah pembentukan NKRI, sudah waktunya “harta karun” naskah-naskah teater BK “dibuka”.

Memang keberadaan naskah-naskah asli itu masih simpang-siur, namun masih mungkin untuk ditelusuri dan diterbitkan.

“Ada salah satu keluarga Bung Karno kesini dan mengambil naskah aslinya,” kata salah seorang penjaga Rumah Soekarno di Ende.

Sembilan tahun sebelum proklamasi, tepatnya tanggal 19 Agustus 1936, naskah DR. SJAITAN yang diilhami oleh Frankenstein itu dipentaskan: Dr Marzuki menghidupkan mayat dengan melakukan transplantasi hati dari orang yang hidup.

Lewat pementasan itu sangat tegas terbaca pesan BK. Untuk kebangkitan dan kebangunan jiwa, kita perlu: Transplantasi hati (nurani)!

DAFTAR BACAAN

Di Bawah Bendera Revolusi (Ir Soekarno)

Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Cindy Adams, edisi revisi diterbitkan Yayasan Bung Karno, 2007)

Menjadi Indonesia (Parakitri T Simbolon, Penerbit Kompas, 2006).

Bung Karno dan Pancasila – Ilham dari Flores untuk Nusantara (Tim Nusa Indah, Penerbit Nusa Indah, 2006)

Bung Karno, Maestro Monte Calo – Kumpulan Naskah Drama Bung Karno Selama Masa Pengasingan di Bengkulu (Agus Setiyanto, Penerbit Ombak, 2006)

Kako Lami Angalai (Peter A Rohi)

Tags: Bung KarnoceritasejarahTeater
Share70TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Kecil dari Liburan di Bondowoso: Dari Bukit Arak-arak Hingga Situs Glingseran

Next Post

Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co