23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 4, 2019
in Esai
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

Foto-foto: repro/istimewa

Ada 12 naskah drama yang ditulis Bung Karno di Ende-Flores (serta seluruhnya pernah dipentaskan di Ende-Flores) dan beberapa naskah drama yang ditulis di Bengkulu. Naskah-naskah itu seakan lenyap di  tengah kemasyuran SOEKARNO sebagai orator dan pengerak revolusi, pendiri dan proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Soekarno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia), pada 4 Juni 1927. Tujuan partai: Mendirikan Negara

Indonesia Merdeka. Akibatnya: Ia ditangkap 9 Desember 1929.

Setelah dipenjara sekitar 8 bulan, Bung Karno (BK) baru diadili, tepatnya tanggal 18 Agustus 1930. BK dikenai pasal Haatzaai Artikelen pasal 169, 161, 171 dan 153 KUHP. PNI dinyatakan sebagai partai terlarang.

Bebas dari penjara 31 Desember 1931, BK terpilih dengan suara bulat 28 Juli 1928 sebagai ketua Partindo.

Aktivitas politiknya dinilai semakin membahayakan penjajah, BK kembali ditangkap pada 1 Agustus 1933, tanpa diadili, dibuang ke Ende, Flores.

DI ENDE BERJUANG LEWAT TEATER

Masa pengasingan di Ende (14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938), BK didampingi istrinya, Inggit Gunarsih, mertuanya, Amsih, anak angkatnya, Ratna Juami dan guru dari anak angkatnya, Asmara Hadi. Mereka menempati sebuah rumah sederhana di sebuah sudut Kota Ende.

Sekarang rumah kediaman Bung Karno telah dijadikan situs sejarah. Lokasinya di Jalan Perwira Ende, berukuran 12 X 9 meter, di depannya tertulis: ‘Situs, Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende’. Masih terjejak banyak kenangan di sana: Dipan, korsi, meja dan beberapa perabotan rumah tangga semasa BK di sana masih disimpan disana.

Periode pembuangan dan pengucilan politik, seperti diakui Bung Karno dalam biografinya, sebagai periode “pergolakan intelektual” dan “pergolakan spiritual” yang sangat penting.

“Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism”, adalah sebuah tulisan paling menarik untuk memahami gelora muda Bung Karno, ditulis tahun 1926 (dalam kumpulan dua jilid, 630 halaman, “Dibawah Bendera Revolusi”). Di Ende, kota kecil indah bersahaja itu, butir-butir tersebut direnungkan kembali dengan kedalam suasana hening-keterasingan.

Jika berkunjung ke Ende, silahkan tanyakan di mana letak Pohon Sukun, pohon tropis berdaun belah lima, tempat Soekarno merenung. Semua penduduk Ende akan memberitahu tempatnya. Dari titik itu tampak Pelabuhan Ende. Di sanalah diakui BK sebagai ground zero perumusan Pancasila. Warga kota Ende bilang ada kaitan antara lima jari daun pohon Sukun dengan jumlah sila dari Pancasila, sama-sama lima. Di sudut kota itu, pusaran pemikiran tersebut dipercaya terrumuskan menjadi butir-butir Pancasila.

Darah seni Soekarno berdenyut di Ende. Di rumah Soekarno, hingga kini terpajang lukisan Soekarno. Sebuah lukisan berwarna lembut, warna tanah dan warna coklat kayu, ada sosok 3 pemuda bertelanjang dada sembahyang, layaknya pemeluk Hindu Bali, menghadap sebuah altar sembahyang. Sebuah lukisan yang sunyi, sudut hening di depan altar dewa.

Selama di Ende, Soekarno membuat kamar khusus untuk merenung. Sekarang di rumah itu, di salah satu bilik belakangnya, pada kusennya bagian atas tertulis: Kamar Semedi. Di ruang semadi (renungan dan meditasi) itulah diceritakan oleh penduduk sekitarnya sebagai tempat Bung Karno merenung dan bersemadi memasuki kedalaman bathin.

Dalam biografinya, Bung Karno mengakui dalam renungannya di Ende, BK melihat “Brahma, Wisnu, dan Siwa” manunggal.

Rumah yang ditempati beliau itu disewa dari penduduk setempat, selain ditambahi sebuah kamar semadi, BK juga membangun dapur dan kamar kecil di bagian belakangnya. Ada pula sumur di belakang rumah tersebut, biasanya setiap “peziarah” akan mengambil air di sumur tersebut untuk dibasuhkan, mengenang bahwa BK selama 4 tahun (1934-1938) hidup dari air sumur itu.

Di bawah tekanan dan pengawasan Belanda, Bung Karno sempat sangat tertekan dan goyang. Dalam situasi tertekan itulah, tepatnya pada tahun 1934, BK membentuk grup tonil alias teater alias group sandiwara, bernama: TONEEL KLUB KELIMUTU. Nama itu sudah tentu berasal dari nama danau 3 warna yang juga terletak di Kabupaten Ende, Danau Kelimutu. Inilah bagian terindah yang secara mendalam dikenang beberapa warga kota ini: BK menjadi sutradara dan penulis naskah teater selama pengasingan di Ende.

Bung Karno bercerita tentang proses latihan Klub Kelimutu, sebagai berikut:

“Kami hanya mempunyai satu naskah. Karena itu, aku membacakan setiap peran dan para pemainku yang bermain secara sukarela mengingatnya dengan mengulang-ulang. Kalau orang dalam keadaan kecewa, betapapun besarnya rintangan akan dapat disingkirkannya. Inilah salah satu napas kehidupanku. Aku harus menjaganya supaya ia hidup terus.

“Kalau salah seorang tidak dapat memainkan perannya dengan baik, aku melatihnya sampai jauh malam. Aku malahan berbaring berkali-kali di lantai untuk memberi contoh kepada ALI PAMBE, seorang montir mobil, bagaimana memerankan dengan baik seorang yang mati.”

Setiap naskah butuh 40 hari latihan. Teater yang dipimpin BK ini biasanya menggelar pertunjukan di Gedung Imakulata milik Paroki Katedral Ende.

Pastor HUIJTINK SVD, misionaris serta teman diskusi Bung Karno, yang memberi izin penggunaan fasilitas milik Gereja Katolik itu. Juga kursi, bangku, hingga listrik. Uskup Ende menyumbang cat. Karcis dicetak oleh PERCETAKAN ARNOLDUS milik para pastor dan bruder SVD (SOCIETAS VERBI DIVINI).

Riwu Ga alias Riwu Sabu adalah salah satu anggota Toneel Klub Kelimutu serta pelayan setia Bung Karno semasa pembuangan di Flores. Kepada PETER A. ROHI, wartawan senior

asal Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, Riwu Ga (almarhum) suatu hari bercerita sedikit tentang teater pimpinan Bung Karno ini:

“Bung Karno sebagai direktur Toneel Klub Kelimutu. Pendampingnya IBRAHIM H OEMAR SYAH dan DARHAM OTTAH. Di samping orang-orang dari berbagai suku di Nusa Tenggara Timur, ada orang Jawa seperti Atmosudirdjo dan Suminem, istrinya, school opziner Aburtidjo dan seorang guru schakel school bernama Wasirin. Bung Karno juga berhasil menggodok orang-orang Tionghoa menjadi muridnya, antara lain Go Djun Pio, Jo Ho Siu, dan Liek Sin Tek.

“Pak Atmosudirdjo dan istrinya sangat dekat dengan Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasi (istrinya). Dengan demikian, ia juga menjadi adik angkat Ratna Djuami (Omi). Pak Atmo bekerja sebagai mantri ukur di Flores. Jalan di sini belum diaspal. Mobil sedikit, di antaranya beberapa buah milik Silalahi.

“Para pemain tonil terdiri atas berbagai profesi. Ada sopir macam Ali Pambe. Pembantu rumah tangga. Anak sekolah. Bung Karno terpaksa mengajari kami macam-macam untuk bisa menghafal peran masing-masing. Mulai cara mengeja bahasa sampai akting. Perempuan yang ada di klub tidak ikut main. Mereka cuma menyediakan perlengkapan atau tampil di bagian selingan sebagai penyanyi dan penari.

“Biasanya, setiap Ahad, terutama usai latihan atau pementasan, Bung Karno bersama rombongan Teater Kelimutu piknik di luar kota. Wolowona, sekitar lima kilometer dari Ende, adalah tempat favorit mereka. Di sepanjang jalan Bung Karno mengajak mereka menyanyi gembira. Lagunya antara lain NONA MANIS serta lagu-lagu keroncong diiringi ukulele dan cuk”.

PERSONIL TONEEL KLUB KELIMUTU

Pendiri : Ir Soekarno

Sutradara: Ir Soekarno

Penulis naskah : Ir Soekarno

Pementasan : 1934-1938

Anggota:

1. Ibrahim H Umar Sjah         

2. Darham Ottah        

3. Ruslan Ottah          

4. Djae H Mochtar                 

5. Abdul H Adjhar                 

6. Ahmad Polindih                 

7. Madu Rodja                       

8. Pranoto       

9. Atmosudirdjo         

10. Umar Gani           

11. Djae Bara 

12. Nganda Gande                 

13. Djae Gande                      

14. Ali Pambe            

15. Wahab Tandjo Palembang

16. Siku Wasim          

17. Wahit Djari

18. Weru Karara

19. Mansor Saripin     

20. Musa H Umar Sjah          

21. Prangga Kora

22. Ja Ali Ibrahim

23. Go Djun Pio

24. Awu Rodja

25. Jo Ho Siu

26. Alias Batawi

27. Molo Take

28. Wasim Palembang

29. Djafar Penatu        45. Imam

30. Riwu Sabu alias Riwu Ga

31. Lodo Nigi

32. Ndoa Wandu

33. Djamaludin

34. Baa Bahron

35. Da’man

36. Ibu Atmo

37. Ibu Pranoto

38. Suminem

39. Tin Mugda

40. Anang

41. Hamid Anang

42. Abdurrahman Anang

43. Abdurrahman Wani

44. Abdurrahman

45. Imam

DUA BELAS (12) NASKAH DRAMA BUNG KARNO

Ada 12 naskah drama yang ditulis Bung Karno di Ende-Flores (serta keseluruhnya pernah dipentaskan di Ende-Flores) dan beberapa naskah drama yang ditulis di Bengkulu. Naskah-naskah itu seakan lenyap di tengah kemasyuran SOEKARNO sebagai orator dan pengerak revolusi, pendiri dan proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam rak Rumah Bung Karno di Ende, sampai kini, kita melihat bentuk photocopy naskah drama tersebut. Konon, pihak keluarga telah mengambil “aslinya”. Dari para anggota teater Bung Karno di Ende, diketahui naskah drama yang ditulis Bung Karno selama di Ende berjumlah 12 judul, yaitu:

KUTKUTBI

RAHASIA KELIMUTU

AERO DINAMIT

DOKTER SYAITAN

ANAK HARAM JADAH

MAHA IBLIS

AMOEK

SANGHAI RUMBA

GERA ENDE

INDONESIA 1945

RENDO

JULA GUBI

Setelah pembuangan di Ende (14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938), BK dibuang kembali ke Bengkulu, juga selama empat tahun. Di sanalah ia menikahi Fatwamati (1943) yang memberinya lima orang anak; Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputri.

Selama di Bengkulu BK juga membangun kelompok teater. Naskah-naskah yang dimainkan di Bengkulu sebagian dari naskah Ende, tapi ada beberapa naskah baru yang dimainkan di Bengkulu (1938-1942).

Adapun naskah drama karya Bung Karno yang ditulis di Bengkulu, sebagai berikut:

RAINBOW (Poetri kentjana Boelan),

CHUNGKING-DJAKARTA, SI KECIL (Kleine Duimpje),

HANTOE GOENOENG BEONGKEOK

Pada kurun masa itu, konon kabarnya, ada kelompok tonil lain yang terkenal bernama Dardanella, namun naskah mereka tidak seperti naskah-naskah BK; naskah drama Bung Karno dengan sangat sublime menyulut “gerakan pemberontakan”. Seperti diceritakan beberapa anggota tonil yang diasuh dan dipimpin BK, lewat kelompok tonil Bung Karno senantiasa membangkitkan “semangat pembangkangan” terhadap Belanda.

Ada yang menarik tentang penulisan naskah drama INDONESIA 1945. Konon kabarnya ditulis Bung Karno atas pesanan Tuan NATHAN, orang Filipina yang memimpin sandiwara keliling. Drama ini berisi ramalan akan tiba saatnya bangsa Asia bangkit dan memberontak terhadap penjajah kulit putih.

Naskah “Indonesia 1945”, telah menjadi kenyataan: Indonesia merdeka tahun 1945, dan diproklamasikan oleh penulis naskah drama sendiri.

DOKTER SYAITAN ALIAS FRANKENSTEIN

Naskah drama yang berjudul DOKTER SYAITAN, yang ditulis Bung Karno pada 1936, dikabarkan sebagai pementasan yang cukup terkenal kala itu.

Naskah ini berkisah tentang dr Marzuki (peran utamanya) yang mampu menghidupkan orang mati.

Kenapa ada dokter penghidup mayat?

Menurut Bung Karno, naskah ini diilhami oleh Frankenstein, peran utamanya adalah dr Marzuki, seorang Boris Karloff ala Indonesia, yang menghidupkan mayat dengan melakukan transplantasi hati dari orang yang hidup.

Seperti yang dituturkan Bung Karno pada Cindy Adams, pesan moral di balik naskah tersebut adalah: “Tubuh Indonesia yang sudah tidak bernyawa dapat bangkit dan hidup lagi”, bangsa Indonesia akan bangkit dari tidur panjang masa penjajahan.

Dalam Dokter Sjaitan, adegan transplantasi hati dari orang yang hidup menjadi metafora kunci yang sangat menarik. Kita bertanya-tanya apa yang dipikirkan penonton kala itu tentang sebuah transplantasi? Terpikirkah oleh mereka bahwa BK sedang memberi sebuah himbauan “kebangkitan bangsa”?

Sampai kini, adegan transplantasi hati dari orang yang hidup ini masih relevan untuk “dibaca kembali”: Kita telah masuk dalam era (yang kita sebut) kemerdekaan, tapi benarkah kita sudah sepenuhnya siuman?

Kata Bung Karno, “Neokolonialisme menjangkiti negeri ini”.

Bung Karno berulangkali menyebut neokolonialisme dalam pidato-pidatonya. Neokolonialisme, semacam menjadi wabah dan penyakit sosial, yang membuat tubuh bangsa meredup dan meregang nyawa; perlu “dokter” pembangkit gelora dan api kebangsaan.

Jika kita hubungkan keberadaan naskah tersebut dengan kedekatan Bung Karno dengan Dr Tjipto, seorang dokter dan tokoh gerakan kebangsaan yang telah memberi teladan penting dalam perjuangan Bung Karno; bisa jadi tokoh dokter Marzuki dalam naskah itu sebuah “gambaran” teaterikal dari seorang “dokter kebangsaan” Dr Tjipto. Entah kebetulan atau tidak, nama lengkap Dr Tjipto adalah Tjipto Mangoenkoesoemo yang menandung arti “kebangkitan jiwa”. Tjipto berarti pikiran, cipta; Mangoen berarti bangun, bangkit; dan Koesoemo berarti bunga atau kemuliaan jiwa.

Tentang hubungannya dengan Dokter Tjipto, ada sebuah peristiwa penting yang terus dikenang Bung Karno. Suatu hari, sebelum berangkat (dipenjara) Dr Tjipto Mangoenkoesoemo berkirim surat kepada Soekarno, isinya meminta agar: “Bertekun untuk berkorban, berkorban, dan berkorban bagi Indonesia!”

Kata-kata itu terus bergelora di hati Bung Karno, dapat kita jumpai dan rasakan getarnya dalam pidato-pidato dan tulisan-tulisan politik beliau. Demikian juga naskah-naskah drama karya Bung Karno. Getar “amarah” dan gelora bisa kita tangkap dari judul naskah-naskah yang ditulis BK: AMOEK, MAHA IBLIS, AERO DINAMIT, DOKTER SYAITAN, dan ANAK HARAM JADAH.

Di tengah era kemerdekaan, periode pembuangan dan pergulatan BK dalam teater di Ende dan Bengkulu seakan terlupakan begitu saja. Dalam kontek sejarah kebangsaan, periode pembuangan para pendiri bangsa adalah pilar-pilar maha penting pembentukan negara yang sekarang kita kenal sebagai Republik Indonesia.

Dari perjalanan intelektual dan pergulatan dengan dunia kesenian yang dilakoni Soekarno di masa pembuangan tersebut, kita belajar bahwa kesenian, politik dan perjuangan kebangsaan tidak terpisahkan. Politik dan seni saling menggenapi. Dalam seni ada perjuangan.

Di tengah ketertindasan penjajahan Belanda, dalam suasana larangan dan kebuntuan pergerakan, Soekarno memilih jalan teater untuk berbicara pada rakyat dan menjalin akar dan ikatan kekeluargaan. Bung Karno mengakui kesenianlah yang membuat beliau keluar dari tekanan kehidupan politik. Kebuntuan politik bisa diterobos lewat jalan tembus bernama kesenian.

“Jas Merah,” amanat Bung Karno. Jangan sekali-kali melupakan sejarah; termasuk kehidupan berkesenian Bung Karno dimasa pembuangan.

Jika pidato dan tulisan-tulisan Bung Karno disadari sebagai bagian-bagian terpenting dalam sejarah pembentukan NKRI, sudah waktunya “harta karun” naskah-naskah teater BK “dibuka”.

Memang keberadaan naskah-naskah asli itu masih simpang-siur, namun masih mungkin untuk ditelusuri dan diterbitkan.

“Ada salah satu keluarga Bung Karno kesini dan mengambil naskah aslinya,” kata salah seorang penjaga Rumah Soekarno di Ende.

Sembilan tahun sebelum proklamasi, tepatnya tanggal 19 Agustus 1936, naskah DR. SJAITAN yang diilhami oleh Frankenstein itu dipentaskan: Dr Marzuki menghidupkan mayat dengan melakukan transplantasi hati dari orang yang hidup.

Lewat pementasan itu sangat tegas terbaca pesan BK. Untuk kebangkitan dan kebangunan jiwa, kita perlu: Transplantasi hati (nurani)!

DAFTAR BACAAN

Di Bawah Bendera Revolusi (Ir Soekarno)

Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Cindy Adams, edisi revisi diterbitkan Yayasan Bung Karno, 2007)

Menjadi Indonesia (Parakitri T Simbolon, Penerbit Kompas, 2006).

Bung Karno dan Pancasila – Ilham dari Flores untuk Nusantara (Tim Nusa Indah, Penerbit Nusa Indah, 2006)

Bung Karno, Maestro Monte Calo – Kumpulan Naskah Drama Bung Karno Selama Masa Pengasingan di Bengkulu (Agus Setiyanto, Penerbit Ombak, 2006)

Kako Lami Angalai (Peter A Rohi)

Tags: Bung KarnoceritasejarahTeater
Share70TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Kecil dari Liburan di Bondowoso: Dari Bukit Arak-arak Hingga Situs Glingseran

Next Post

Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co