26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog “Emak Gugat”: Sebuah Ekspresi Patologi Sosial

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 16, 2023
in Ulas Pentas
Monolog “Emak Gugat”: Sebuah Ekspresi Patologi Sosial

Dody Yan Masfa saat mementaskan monolog "Emak Gugat" di Rumah Belajar Komunitas Mahima

MISTERIUS. Ia duduk diam menghadap ke barat di kursi itu tanpa memedulikan orang-orang yang datang. Sikapnya sunyi dan serius. Ia mengenakan pakaian perempuan (semacam daster) berwarna kuning dengan motif bunga-bunga dan sebuah senter elektrik besar yang digendongnya seperti bayi. Dan di kakinya itu, terpasang gelang kerincing yang mengingatkan saya dengan penari remong.

Malam itu, Dody Yan Masfa, lelaki sepuh itu, duduk mematung (bersikap misterius) sebelum mengawali pentas monolognya: Emak Gugat, di Rumah Belajar Komunitas Mahima di Jl. Pantai Indah III No.46 Singaraja, Bali, pada 15 Maret 2023.

Monolog Emak Gugat yang sudah dipentaskan sejak tahun 2015 itu, memilih Singaraja sebagai kota ke-29. Kata Dody, setelah dari Singaraja ia akan melanjutkan pementasan di Surabaya dan Solo.

Sebelum pementasan dimulai, penonton, termasuk saya, sempat bingung dan bertanya satu sama lain. “Apakah sudah mulai?” atau “Kapan mulainya?” —karena hampir setengah jam aktor sekaligus sutradara dari Teater Tobong Surabaya itu, masih belum beranjak dari tempat duduknya. Ia tetap diam seribu bahasa, mematung dan sunyi.

Setelah hampir 40 menit, akhirnya ia beranjak dari tempat duduk dan memulai pentasnya dengan terlebih dulu mematikan lampu depan Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Ia menyalakan senter elektrik itu—yang disentrongkan ke wajahnya. Hening. Hanya terdengar gemerincing dari gelang kerincing kakinya saat ia mulai melangkah dan tiba-tiba…ia bersuara seperti orang meracau:

Orang-orang tidak pernah serius dengan kebaikan…

Tidak pernah serius dengan kebenaran…

Kita cuman main-main…

Memperolok zaman…

Memperburuknya dengan kemalasan dan kesombongan…

Ya, saya yakin, setelah Dody mengucapkan kata-kata di atas (kadang sayup-sayup seperti membaca mantra; kadang keras menghentak seperti orator di atas podium), artinya pertunjukan benar-benar sudah di mulai. Penonton tak lagi bingung.

Dody seperti orang keranjingan, menghampiri para penonton dengan tatapan yang aneh. Dan ia kembali bersuara (sekali lagi seperti orang meracau):

Jangan ketawa, Mak…

Jangan menagis, Mak…

Itu kesadaran fakultas…

Kesadaran faktur…

Kesadaran faksimili…

Kesadaran fuck you…

Hening. Ia berjalan menghampiri penonton. Berpindah-pindah. Ia kembali mengulang kata-katanya: Orang-orang tidak pernah serius dengan kebaikan// Tidak pernah serius dengan kebenaran//Kita cuman main-main//Memperolok zaman//Memperburuknya dengan kemalasan dan kesombongan…sambil terisak ia melanjutkan: Jangan ketawa, Mak//Jangan menagis, Mak//Itu kesadaran fakultas//Kesadaran faktur//Kesadaran faksimili//Kesadaran fuck you…

Narasi “orang-orang tidak pernah serius” sampai “kesadaran fuck you” terus diulang sampai pertunjukan selesai—karena memang hanya itu narasi monolognya. Orang-orang tidak pernah serius dengan kebaikan// Tidak pernah serius dengan kebenaran//Kita cuman main-main//Memperolok zaman//Memperburuknya dengan kemalasan dan kesombongan…

Pertunjukan yang berlangsung hampir limabelas menit itu cukup membuat saya tegang. Sebab, apa yang dipentaskan Dody memang benar-benar baru bagi saya.

(Di Singaraja saya pernah beberapa kali menonton teater. Misalnya, untuk menyebut beberapa, pementasan teater Kisah Cinta Nyoman Rai Srimben dari Komunitas Mahima dan Teater Bale Agung (yang dipentaskan di Taman Bung Karno) dan pementasan Orang Asing dari Teater Orok Udayana (yang dipentaskan di Rumah Belajar Komunitas Mahima).) Saya baru kali ini menonton pertunjukan monolog.

Sebuah Ekspresi Patologi Sosial

Setelah pementasan selesai, Kadek Sonia Piscayanti, tuan rumah sekaligus Founder Komunitas Mahima, mendadak menjadi pemandu diskusi. Penulis nahkah sekaligus sutradara “Otonan” itu menyampaikan bahwa pada tahun 1998, Dody pernah pentas di Singaraja, tepatnya di STKIP Singaraja.

“Jadi, Mas Dody ke Mahima juga karena ada ikatan sejarah. Dan penampilannya tadi  membawa warna baru di Komunitas Mahima,” katanya, sebelum meminta Dody Yan Masfa untuk membedah pementasan monolognya.

Dody menjelaskan, monolog Emak Gugat merupakan ruang kehadiran. Katanya, ruang kehadiran emak adalah lingkungan natural yang dikemas seminim mungkin dari kesan artifisial. Ia mengungkapkan bahwa naskah monolog Emak Gugat lahir dari masyarakat Indonesia yang mengalami patologi sosial.

“Emak Gugat lahir dari kegelisahan saya atas budaya meracau, manipulatif, kelainan seksual, dan sadisme yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Emak Gugat memang bercerita tentang seorang ‘emak’ yang sedang meracau atas segala masalah yang menimpa hidupnya seperti misalnya mahalnya pendidikan, dll,” jelas penulis naskah yang aktif berteater sejak tahun 1987 itu sambil terkekeh.

Menurut Dody, emak merupakan analogi dari batin yang gelisah, hadir buat mempertanyakan tentang banyaknya kesadaran yang hilang: kesadaran intelektual, berbudaya, bermasyarakat, kesadaran membangun peradaban. Emak merupakan personilitas yang gagap, namum memiliki hak jawab atas di mana keseriusan kebaikan, kesungguhan kebenaran, orang-orang kebanyakan dimanipulasi oleh kesadaran fakultatif, faktur, faksimili.

“Emak akan hadir dalam ruang dan waktu dengan tiba-tiba. Suaranya, gemerincing kakinya, unpatan dan amarah, tak jarang ratapan oleh sebab himpitan kepahitan terus menerus sepanjang zaman,” katanya.

Narasi dan Daya Ungkap Artistik Tubuh

Monolog yang dibawakan Dody semalam, juga membuat saya berpikir, bahwa untuk melakukan pementasan ternyata tidak harus mempersulit diri dengan biaya, panggung, dan tetek-bengeknya.

Saya memang tidak terlalu paham dunia teater. Tetapi, saya merasa bahwa naskah Emak Gugat, selain sebagai ekspresi patologi sosial, sepertinya juga menegaskan konsep teater Dody sendiri yang anti plot, anti alur, bahkan anti tokoh. Maka dalam pertunjukannya saya hanya melihat rangkaian situasi.

“Saya menganggap bahwa seni teater itu sama dengan melukis—yang bisa dilakukan sendiri,” kata Dody.

Seperti kata R Giryadi dalam Masalah Naskah Teater di Jawa Timur, pilihan penulisan naskah seperti ini memang cukup beralasan. Hal ini terkait dengan konsep teater Dody yang lebih mengedepankan narasi dan daya ungkap artistik tubuh, daripada mengatur plot, alur, dan perwatakan yang terstruktur sesuai dengan dramaturgi. Hal serupa bisa kita lihat pada naskah-naskah karya Brewok AS (Sanggar Suroboyo), Meimura (Teater Ragil), dan Julfikar M Yunus (Teater Jaguar).

Lebih lanjut Giryadi menjelaskan, fenomena tubuh dalam dunia teater di Jawa Timur sudah menggejala sejak tahun 1990-an. Teater telah mengubah teks naskah yang diperankan dari teks yang dibaca, menjadi teks yang dinyatakan. Teater mengubah pembaca, menjadi penonton, perubahan ini sangat radikal.

Menurut Giryadi, di Surabaya, Teater Api Indonesia (Bambang Ginting, alm) menjadi pintu masuk aliran teater tubuh, yang sebelumnya banyak dikenalkan oleh Teater SAE (Jakarta) dengan tokohnya Afrizal Malna dan Budi S Otong.

Dan terakhir, secara umum, banyak pelajaran yang bisa diambil dari monolog Emak Gugat. Misalnya, sebuah refleksi realita kehidupan yang tak selalu berjalan mulus. Atau, dari sebuah perjalanan hidup yang panjang ini, disadari atau tidak, sosok emak-lah yang benar-benar merasakan kegetiran. Ia harus survive sepanjang zaman di tengah persoalan-persoalan kehidupan—yang tidak pasti seperti ini.[T]

Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  
Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia
Monolog “Aku, Istri Munir”: Dari Ingatan Keluarga ke Ingatan Kolektif Bangsa
Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Tags: aktor teatermemotret pentas teaterMonologTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu-ibu di Buleleng Kini Bisa Masak Pakai Cabai dari Banyuwangi

Next Post

Shibiru dari Temanggung Siap Birukan Dunia

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails
Next Post
Shibiru dari Temanggung Siap Birukan Dunia

Shibiru dari Temanggung Siap Birukan Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”
Khas

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co