6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri

A. Zulfa Muntafa by A. Zulfa Muntafa
June 22, 2021
in Tualang
Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri

Saat matahari mulai terik, kami kembali ke tenda untuk membuat sarapan.

Kami berdua sudah siap berangkat. Persiapan tenda, kompor, matras, dan lain-lain telah kami kemas di tas carrier milik Arifin; hanya tinggal menunggu satu teman kami, Irul. Rencananya kami bertiga akan menaiki Gunung Argo Lasem yang kebetulan juga berada di kota kami sendiri, di Jawa Tengah. Ketinggiannya sekitar 806 mdpl yang mana memang tidak terlalu tinggi, tapi lumayan untuk berlibur barang sebentar dari hiruk-pikuk aktivitas yang melelahkan.

Setelah Irul datang, kami segera bergegas dengan mengendarai dua motor, Irul solo rider dengan motor gede-nya sementara aku dibonceng Arifin menggunakan matic. Di antara kami bertiga, hanya Irul yang belum pernah naik gunung sama sekali sedangkan aku dan Arifin sudah beberapa kali bahkan sempat satu rombongan waktu di Gunung Prau. Sekarang hampir pukul tujuh malam.

Dari rumah Arifin, sebenarnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam hingga sampai di basecamp—karena memang tidak terlalu jauh—tapi saat di jalan kami mampir mencari beberapa barang pritilan dan sempat kebingungan menentukan jalur. Jadilah kami baru tiba di sana sekitar jam sembilan malam. Sampainya di basecamp, kami segera memarkirkan motor dan petugas di situ tiba-tiba saja berujar,

“Jam segini kok baru sampai, Mas?” tanyanya entah sekadar basa-basi atau memberi semacam ‘peringatan’.

“Iya, Mas, tadi sibuk,” jawab Irul sekenanya sambil memasang senyuman nanar.

Mas-mas petugas itu membalas dengan senyum tipis lalu menyodorkan kertas lalu berkata, “Ini karcis parkirnya, Mas.”

Sesudah membayar parkir, kami mampir di masjid desa itu yang kebetulan searah dengan jalur puncak untuk melaksanakan salat Isya’ sembari mengisi air di beberapa botol kosong yang sudah kami bawa sejak awal untuk persediaan di atas nanti.

Kira-kira pukul setengah sepuluh malam, pendakian pun dimulai. Kami berjalan santai dan tidak terlalu ngoyo sambil mengobrolkan hal-hal yang sebetulnya tidak penting—lagi pula hanya untuk mengisi kekosongan. Beruntungnya di sini masih ada sinyal walaupun sedikit sehingga kami sempatkan mendengarkan beberapa lagu agar tidak bosan. Sesekali kami berhenti sejenak beristirahat dan mengisap sebatang-dua batang rokok. Baru setelah dirasa cukup, kami melanjutkan pendakian.

Setelah menempuh kira-kira setengah perjalanan, kami kemudian melihat dua buah makam di tepi jalur pendakian. Kedua makam itu bersebelahan. Kenapa tiba-tiba ada kuburan? pikirku. Dari sini perasaanku mulai tidak enak. Rasanya aku sangat ingin mengeluh dan protes kenapa tidak diberitahu sejak awal kalau ada makam di sini.

Ditambah lagi tampak ayunan lusuh yang menggantung di pohon besar tepat di samping makam itu—yang tentu saja menambah suasananya jadi makin tidak mengenakkan. Namun aku berusaha berpikir positif dan berharap semoga tetap aman-aman saja; tidak terjadi sesuatu yang ‘mengerikan’.

Berpose di Gunung Argo

Kami lantas meneruskan pendakian hingga tidak terasa ternyata sudah sekitar jam dua belas malam dan jalur pendakian mulai curam, pertanda puncak sudah dekat. Jadi kami memutuskan untuk beristirahat agak lama, sekitar 15-20 menit, sembari ngudud dan bersenda-gurau kecil. Sesudahnya, kami kembali melanjutkan perjalanan dan akhirnya kami sampai di puncak sekitar pukul setengah satu dini hari. Dihitung-hitung, perjalanan dari basecamp hingga sampai di puncak menghabiskan waktu 3 jam.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kami pun segera mengambil beberapa gambar menggunakan ponsel kami masing-masing dibantu dengan senter milik Irul yang dibawanya. Maklum saja, malam-malam begini di puncak gunung tentu sangat minim cahaya. Selesai berfoto-foto, kami pun mendirikan tenda.

Kami hanya membawa satu tenda single layer yang sebenarnya untuk kapasitas dua orang tapi kami tempati bertiga. Tak apalah, lagi pula suhunya juga tidak terlalu dingin. Sesudah tendanya jadi, aku bertanya pada dua temanku itu,

“Mau pada buat kopi dulu apa langsung tidur?”

“Tidur aku, Zul. Lempok,” jawab Arifin.

“Kalau mau langsung tidur nggak apa-apa, Rif, aku tak ngopi dulu. Perutku juga lapar. Mau goreng-goreng nugget juga kayaknya seru,” sahut Irul.

Karena belum terlalu capek, aku pun ikut si Irul menyeduh kopi dan menggoreng beberapa potong nugget. Baru setelah kopi dan nugget selesai kami nikmati, segeralah kami tidur dengan niat bangun pagi untuk melihat sunrise.

Sekitar pukul lima pagi, kami bertiga sudah terjaga kemudian bersiap sembahyang Subuh lebih dulu. Baru setelah itu, kami mencari beberapa titik yang kami anggap bagus untuk berfoto-foto lagi. Tampak juga ada beberapa monyet yang bersembunyi di balik pohon-pohon. Dapatlah kami jepretan-jepretan yang lumayan.

Menuju puncak

Saat matahari mulai terik, kami kembali ke tenda untuk membuat sarapan. Sesudah jadi, kami nikmati hasil masakan kami sendiri sambil berbincang-bincang mengobrol ke sana ke mari; tidak jelas juntrungannya. Tapi suasana seperti inilah yang membuat kami betah di gunung. Tenang, damai, dan nyaman. Waktu tiba-tiba menunjukkan sekitar pukul setengah sembilan dan ternyata makanan kami masih tersisa namun tidak ada dari kami yang bersedia menghabiskan. Jadi kami berikan saja pada gerombolan monyet yang sepertinya memang menunggu sisa makanan kami.

Sebenarnya aku juga cukup kaget kalau di sini masih banyak monyet yang berkeliaran. Tapi tidak apa-apa juga. Mereka tidak mengganggu. Kami lalu mengemasi tenda dan membersihkan sampah-sampah. Seperti semboyan petualang, jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak, jangan mengambil apa pun kecuali gambar, jangan membunuh apa pun kecuali waktu. Akhirnya kami pun turun.

Seperti saat naik, kami turun sambil mengobrolkan sesuatu yang receh dan mendengarkan lagu-lagu. Sesekali kami bertemu beberapa warga sana yang sedang mencari pakan untuk ternak mereka.

“Mari, Pak,” kataku ketika berpapasan.

“Iya, Mas, monggo,” jawab mereka dengan senyuman hangat dan khas.

Namun ketika sudah dekat dengan basecamp, Arifin tiba-tiba menegurku,

“Zul!” panggilnya dengan raut wajah serius.

Ada apa si Arifin kok tiba-tiba begitu? tanyaku dalam hati. Belum sempat aku menjawabnya, dia langsung menyodorkan pertanyaan,

“Kamu ingat saat kita terakhir istirahat di jalur yang hampir sampai puncak itu, Zul?”

“Iya. Kenapa, Rif?”

“Semalam itu ada pohon pisang di belakangmu. Daunnya itu bergerak-gerak sendiri lho, Zul, padahal tidak ada angin,” kata Arifin sambil mencontohkan gerakan daun itu dengan tangannya. “Pohon-pohon di sekitarnya juga diam semua,” sambungnya.

“Ah, serius kamu?” sanggahku agak tidak percaya.

“Iya, Zul. Aku semalam juga melihatnya,” sahut Irul menyela.

Seketika kami terdiam dan percakapan kami akhiri sampai situ saja sambil tetap berjalan turun. Berarti benar kata Arifin, gumamku dalam hati. Kata orang-orang, pohon pisang memang salah satu tempat yang disukai pocong. Kalau saja semalam si Arifin langsung memberitahu kami, pasti pendakiannya jadi berantakan. Untung saja dia baru bercerita ketika sudah hampir tiba di bawah. Alhamdulillah. [T]

Rembang,  April 2021.

Tags: Gunung ArgoJawa TengahMendaki Gunungpecinta alamperjalananpetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung Seni Tradisi | Okokan Nangluk Merana di Tanah Lot

Next Post

Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

A. Zulfa Muntafa

A. Zulfa Muntafa

Lahir pada 29 April tahun 2000 di Kemadu—Sulang, Rembang, Jawa Tengah. Beberapa karyanya sudah pernah dimuat di Kompas, tatkala.co, blog Ismaro Tuban, situs Cerpenmu.com, dan beberapa media digital lainnya. Saat ini, penulis berstatus sebagai mahasiswa di program studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo Semarang.

Related Posts

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails
Next Post
Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co